Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

Appendiks disebut juga umbai cacing, istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat
awam adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah sekum. Organ
yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan.
Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah
komplikasi yang umumnya berbahaya.

Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang
dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun,
setelah itu menurun. Insidens pada laki -laki dan perempuan umumnya sebanding,
kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens lelaki lebih tinggi.





2

BAB II
APPENDISITIS

I. Anatomi Appendiks
Appendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjang 10 cm (antara 3-15 cm), Lebar 0,3
0,7 cm dan berpangkal di caecum.Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian
distal. Pada bayi, appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah
ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens appendisitis pada usia ini. Pada
appendiks terdapat tiga tanea coli yaitu taenia libera, taenia colica, dan taenia omentum yang menyatu
dipersambungan sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks
Pada 65% kasus, appendiks terletak intraperitoneal, keadaan ini memungkinkan apendiks
bergerak dan ruang geraknya tergantung pada panjang mesoapendiks sebagai penggantungnya. Pada
kasus yang lainnya apendiks terletak intraperitoneal yaitu di belakang caecum, di belakang kolon
asendens atau tepi lateral kolon asendens. Posisi apendiks tersering adalah retrocaecal (di belakang
sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di depan
usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%. Gejala klinis appendisitis sangat
tergantung dari letak apendiks

Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringan limfoid. Jaringan
limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar dua minggu setelah lahir, jumlahnya meningkat
selama pubertas sampai puncaknya berjumlah sekitar 200 folikel antara usia 12-20 tahun dan menetap
saat dewasa. Setelah itu, mengalami atropi dan menghilang pada usia 60 tahun.

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika
superior dari arteri appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X.
Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus.

Appendiks diperdarahi oleh arteri appendikularis yang merupakan cabang dari bagian bawah
arteri ileocolica. Arteri appendiks termasuk end artery, sehingga bila terjadi penyumbatan pada arteri
misalnya trombosis pada infeksi ini maka appendiks mengalami ganggren.
(1)


3

II. Fisiologi Appendiks
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam
lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya
berperan pada patogenesis appendisitis.

Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue)
yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah IgA. Imunoglobulin ini sangat
efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Tetapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi
sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfoid di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan
jumlahnya di saluran cerna dan seluruh tubuh.
(1)

III. Appendisitis
A. Definisi/ Pendahuluan
Appendisitis adalah inflamasi pada appendiks vermiformis (inflamasi pada permukaan dalam
dari appendiks vermiformis yang dapat menyebar ke bagian lain).
(1,2)

Appendisitis dapat dibagi atas dua bagian yaitu.
a. Apendisitis Akut : jarang ditemui pada anak dibawah 5 tahun dan orang tua
diatas 50 tahun. Apendicitis akut dapat dibagi atas tiga bagian :
1. Apendicitis acut focalik atau segmentalis
Terjadi pada bagian distal yang meradang seluruh rongga
apendiks sepertiga distal berisi nanah.
2. Apendicitis acut purulenta diffusa
Pembentukan nanah yang berlebihan jika radangnya lebih hebat
dan dapat terjadi mikrosis dan pembusukan yang disebut
appendicitis gangrenous. Pada appendicitis gangrenous dapat
terjadi perfulasi akibat mikrosis kedalam rongga perut dan
mengakibatkan peritonitis.

4

3. Apendicitis acut traumatic.
Disebabkan oleh karena trauma karena kecelakaan pada operasi
didapatkan tampak lapisan eksudat dalam rongga maupun
permukaan.
b. Appendisitis kronik.
Appendicitis kronik dibagi atas dua bagian antara lain :
1. Appendicitis cronik focalis
Secara mikroskopis nampak fibrosis setempat yang melingkar,
sehingga dapat menyebabkan stenosis.
2. Appendicitis cronik obliterative
Terjadi fibrosis yang luas sepanjang appendiks pada jaringan sub
mukosa dan sub serosa, sehingga terjadi obliterasi (hilangnya
lumen) terutama dibagian distal dengan menghilangnya selaput
lender pada bagian tersebut
B. Epidemiology
Appendisitis merupakan salah satu dari kasus bedah emergensi yang tersering. Appendisitis
juga merupakan penyebab nyeri perut tersering. Insidens dari kasus appendisitis adalah berkisar 10
kasus per 100.000 penduduk. Insidens dari kasus appendisitis telah semakin berkurang sejak tahun
1940, hal ini karena kesadaran dalam mengkonsumsi makanan yang berserat.

Terdapat variasi geografis dalam hal insidens appendisitis, dimana negara-negara di Asia dan
Afrika memiliki insidens dari appendisitis yang relatif rendah dibandingkan dengan negara barat hal
ini disebabkan karena pola makan yang umumnya tinggi serat, namun frekuensi kasus appendisitis di
negara barat sudah semakin berkurang karena kesadaran dalam mengkonsumsi makanan tinggi serat,
dimana makanan tinggi serat dapat mengurangi viskositas feces, mengurangi lamanya transit fecal di
usus dan mengurangi insidens terbentuknya fecalit.

Pada kasus appendisitis laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan dengan
perbandingan 3:2 pada usia remaja dan dewasa muda, sedangkan pada usia dewasa perbandingan laki-
laki dan perempuan adalah 1,4:1 dan insidens dari appendictomy adalah sama antara laki-laki dan
perempuan.
5


Kasus appendisitis jarang terjadi pada usia dibawah 2 tahun dan diatas 65 tahun, dan usia
dengan prevalensi terbanyak adalah 8-14 tahun.
(1,2,3,4)

C. Etiologi
a. Peranan Obstruksi
Pada kasus appendisitis akut obstruksi lumen merupakan etiology dominan, dan penyebab
obstruksi lumen appendiks yang tersering adalah fecalith terutama pada orang dewasa, hiperplasia
jaringan limfoid (inflammatory bowel disease/IBD, Chrons disease dan infeksigastroenteritis)
merupakan penyebab obstruksi lumen tersering pada anak-anak/ dewasa muda. Selain fecalith dan
hiperplasia jaringan limfoid penyebab obstruksi lumen appendiks yang lain adalah tumor
appendiks, parasit intestinal (misalnya Ascaris Lumbricoides) dan penyebab yang jarang adalah
benda asing misalnya sayuran maupun biji buah-buahan.

b. Peranan Diet
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan
intracaecal yang berakibat sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora
normal colon.
Semuanya ini akan mempermudah timbulnya appendisitis. Diet memainkan peran utama pada
pembentukan sifat feses, yang mana penting pada pembentukan fekalit. Kejadian appendisitis
jarang di negara yang sedang berkembang, dimana diet dengan tinggi serat dan konsistensi feses
lebih lembek. Kolitis, divertikulitis dan karsinoma kolon adalah penyakit yang sering terjadi di
daerah dengan diet rendah serat dan menghasilkan feses dengan konsistensi keras.
(1,3,4,5)
D. Mikrobiologi
Populasi bakteri pada appendiks yang normal sama dengan populasi bakteri pada colon yang
normal. Organisme utama yang terdapat pada appendiks yang normal, appendisitis akut maupun
appendisitis perforasi adalah Escherichia coli (E-coli) dan Bacteroides fragilis, walaupun pada
appendisitis akut umumnya disebabkan infeksi polimikrobial dan dapat disebabkan oleh berbagai
variasi bakteri baik yang bersifat faluktatif anaerob maupun yang bersifat anaerob.
(3)


Tabel. Organisme penyebab tersering dari appendisitis akut.
Aerob dan Fakuktatif Anaerob Anaerob
Gram negatif bacillus Gram negatif bacillus
6

Aerob dan Fakuktatif Anaerob Anaerob
Escherichia coli Bacteroides fragilis
Pseudomonas aeruginosa Other Bcteroidess sp
Klebsiella sp Fusobacterium sp
Gram-positif coccus Gram-positif coccus
Streptococcus anginosus peptostreptococcus sp
Other Streptococcus sp Gram-positif bacillus
Enterococcus sp Clostridium sp

E. Patofisiology
Appendisitis terjadi karena adanya sumbatan lumen appendiks oleh hiperplasia kelenjar limfe,
fekolit, benda asing, striktur akibat peradagan sebelumnya atau tumor yang menyebabkan mukus
yang diproduksi oleh mukosa menumpuk dan mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut
makin banyak namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Dengan adanya tekanan yang meningkat, drainase
saluran limfe terganggu sehingga terjadi oedem appendiks dan apabila disertai infeksi oleh
kuman/bakteri akan menyebabkan ulserasi mukosa appendiks, yang disebut fase akut fokal
appendisitis dengan gejala nyeri pada ulu hati yang disertai mual dan muntah.

Bila sekresi mukus berlanjut dan tekanan intralumen terus meningkat, dapat terjadi sumbatan
vena yang mengakibatkan terjadinya oedem, trombosis dan iskemia serta bakteri akan menembus
dinding appendiks. Peradangan yang timbul akan mengenai peritoneum setempat. Fase ini disebut
fase akut supuratif appendisitis dengan gejala nyeri di daerah perut kanan bawah (titik Mc Burney).

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti
dengan gangren. Fase ini disebut appendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh ini pecah
maka akan terjadi appendisitis perforasi.

Bila semua proses diatas berjalan tidak terlalu cepat, maka pada saat terjadi peradangan
omentum dan usus akan bergerak ke arah appendiks dan melokalisasi peradangan dengan
membentuk infiltrat appendikularis. Peradangan appendiks tersebut dapat menjadi abses
(appendicular abcess) apabila tidak diterapi.

Perforasi pada anak-anak mudah terjadi, karena omentum lebih pendek, appendiks lebih
panjang, dinding lebih tipis dan daya tubuh yang masih kurang maka memudahkan terjadinya
perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena daya tahan tubuh yang
7

menurun, gangguan pembuluh darah/arteriosclerosis, serta perubahan anatomi aappendiks berupa
penyempitan lumen.

Obsruksi lumen appendiks akan menghambat sekresi appendiks sehingga terjadi peningkatan
tekanan intralumen yang merangsang saraf aferen nyeri visceral yang menghasilkan nyeri tumpul,
merata di abdomen tengah atau epigatrium. Distensi appendiks juga merangsang peristaltik
sehingga kolik juga bisa menyertai nyeri visceral pada permulaan appendisitis. Distensi appendiks
selain disebabkan oleh sekresi appendiks sendiri, juga disebabkan oleh pertumbuhan kuman yang
cepat pada lumen appendiks yang menyebabkan proses peradangan di mukosa.
Proses appendisitis dimulai di mukosa yang kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding
appendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses
radang dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk
massa periappendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah apendisitis infiltrat. Didalamnya
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang kemudian dapat mengalami perforasi. Jika tidak
terbentuk abses maka apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan
mengurai diri secara lambat.

Closed-loop obstruction akan menimbulkan sumbatan proksimal sedangkan sekresi masih
terus berlangsung. Hal ini akan menyebabkan terjadinya distensi. Lumen appendiks bervolume
0,1 mL. Jika lumen appendiks terisi sebanyak 0,5 ml maka akan menaikkan tekanan intralumen
60 cmH
2
O. Distensi tersebut akan menstimulasi ujung serabut saraf aferen viseral sehingga akan
timbul rasa nyeri yang tidak jelas asalnya, tumpul, dan difus pada abdomen tengah dan dibawah
epigastrium. Distensi akan terus berlanjut karena sekresi mukosa yang terus berlangsung dan
adanya multiplikasi bakteri appendiks.

Peningkatan tekanan intraorgan akan meningkatkan tekanan vena. Hal ini menyebabkan
aliran darah vena tersumbat, sedangkan aliran darah arteri terus berlangsung, akibatnya terjadi
kongestif vaskular. Distensi yang terjadi akan menimbulkan refleks mual dan muntah serta nyeri
viseral difus akan semakin hebat.

Proses inflamasi lambat laun melibatkan serosa appendiks dan peritoneum parietale pada
regio tersebut sehingga nyeri dirasa berpindah ke kanan bawah. Pada distensi yang hebat, daerah
dengan suplai darah terburuk akan lebih menderita sehingga akan terjadi infark. Distensi, invasi
bakteri, kelainan vaksular dan infark dapat menyebabkan terjadinya perforasi. Akan tetapi, proses
tersebut tidak selalu terjadi, pada beberapa kasus dapat sembuh spontan.

8

Infeksi di mukosa

Infeksi ke seluruh lapisan apendiks
(24-48 jam pertama)

Pertahanan tubuh baik Pertahanan tubuh jelek

Omentum, usus halus, adneksa
bergerak menutupi appendiks

Apendisitis infiltrat Abses


Pertahanan tubuh baik Pertahanan tubuh jelek Nekrosis


Sembuh Perforasi


Peritonitis

Appendisitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan infeksi pada appendiks. Beberapa
keadaan yang dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan lumen appendiks oleh
mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk ke appendiks yang berasal dari
caecum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut fekalit.

Adanya obstruksi berakibat mukus yang diproduksi tidak dapat keluar dan tertimbun di dalam
lumen appendiks. Obstruksi lumen appendiks disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia
jaringan limfoid submukosa. Proses selanjutnya invasi kuman ke dinding appendiks sehingga terjadi
proses infeksi. Tubuh melakukan perlawanan dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap
kuman-kuman tersebut. Proses ini dinamakan inflamasi.
9

Jika proses infeksi dan inflamasi ini menyebar sampai dinding appendiks, appendiks dapat
ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut akan menyebar mengenai abdomen, sehingga akan
terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi kuman sampai ke organ pelvis, maka tuba fallopi dan
ovarium dapat ikut terinfeksi dan mengakibatkan obstruksi pada salurannya sehingga dapat terjadi
infertilitas. Bila terjadi invasi kuman, tubuh akan membatasi proses tersebut dengan menutup
appendiks dengan omentum, usus halus atau adneksa, sehingga terbentuk massa periappendikular. Di
dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Appendiks
yang ruptur juga dapat menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah sehingga terjadi septikemia.
7


Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan di sekitarnya, yang akan
menimbulkan keluhan berulang pada perut kanan bawah, dan jika suatu saat terjadi peradangan akut
lagi maka dinyatakan sebagai eksaserbasi akut.
(1,2,4,5,7,8)


F. Manifestasi klinis
a. Gejala Klinis
Gejala Appendisitis akuta umumnya timbul kurang dari 36 jam, dimulai dengan nyeri perut
yang didahului anoreksia.
12,13
Gejala utama Appendisitis akuta adalah nyeri perut. Awalnya, nyeri
dirasakan difus terpusat di epigastrium, lalu menetap, kadang disertai kram yang hilang timbul.
Durasi nyeri berkisar antara 1-12 jam, dengan rata-rata 4-6 jam. Nyeri yang menetap ini umumnya
terlokalisasi di RLQ. Variasi dari lokasi anatomi Appendix berpengaruh terhadap lokasi nyeri,
sebagai contoh; Appendix yang panjang dengan ujungnya yang inflamasi di LLQ menyebabkan
nyeri di daerah tersebut, Appendix di daerah pelvis menyebabkan nyeri suprapubis, retroileal
Appendix dapat menyebabkan nyeri testicular.
(1,2,3,7,8)



Umumnya, pasien mengalami demam saat terjadi inflamasi Appendix, biasanya suhu naik
hingga 38
o
C. Tetapi pada keadaan perforasi, suhu tubuh meningkat hingga > 39
o
C. Anoreksia
hampir selalu menyertai Appendicitis. Pada 75% pasien dijumpai muntah yang umumnya hanya
terjadi satu atau dua kali saja. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan ileus. Umumnya, urutan
munculnya gejala Appendicitis adalah anoreksia, diikuti nyeri perut dan muntah. Bila muntah
mendahului nyeri perut, maka diagnosis Appendicitis diragukan.

Muntah yang timbul sebelum
nyeri abdomen mengarah pada diagnosis gastroenteritis.

Sebagian besar pasien mengalami obstipasi pada awal nyeri perut dan banyak pasien yang
merasa nyeri berkurang setelah buang air besar. Diare timbul pada beberapa pasien terutama anak-
anak.

Diare dapat timbul setelah terjadinya perforasi Appendix.
(2,3,8,10)
10

Tabel 1. Gejala Appendisitis akuta
( 9)

Gejala*


Frekuensi (%)

Nyeri perut 100
Anorexia 100
Mual 90
Muntah 75
Nyeri berpindah 50
Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah
kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian demam yang tidak terlalu
tinggi)
50
*-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam

Skor Alvarado
Semua penderita dengan suspek Appendisitis akuta dibuat skor Alvarado dan diklasifikasikan
menjadi 2 kelompok yaitu; skor <6 dan skor >6. Selanjutnya ditentukan apakah akan dilakukan
Appendectomy. Setelah Appendectomy, dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix
dan hasil PA diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu radang akut dan bukan radang akut
.(10)
Gejala Klinik Value
Gejala Adanya migrasi nyeri 1
Anoreksia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri RLQ 2
Nyeri lepas 1
Febris 1
Lab Leukositosis 2
Shift to the left 1
Total poin 10
11

Tabel 2. Alvarado scale untuk membantu menegakkan diagnosis.
(3)


Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit, bila skor >6 maka tindakan bedah
sebaiknya dilakukan.

Gejala Appendicitis yang terjadi pada anak dapat bervariasi, mulai dari yang menunjukkan
kesan sakit ringan hingga anak yang tampak lesu, dehidrasi, nyeri lokal pada perut kanan bawah,
bayi yang tampak sepsis. Pasien dengan peritonitis difus biasanya bernafas mengorok. Pada
beberapa kasus yang meragukan, pasien dapat diobservasi dulu selama 6 jam. Pada penderita
Appendicitis biasanya menunjukkan peningkatan nyeri dan tanda inflamasi yang khas.
12,13

Pada pemeriksaan fisik, perubahan suara bising usus berhubungan dengan tingkat inflamasi
pada Appendix. Hampir semua pasien merasa nyeri pada nyeri lokal di titik Mc Burneys. Tetapi
pasien dengan Appendix retrocaecal menunjukkan gejala lokal yang minimal. Adanya psoas sign,
obturator sign, dan Rovsings sign bersifat konfirmasi dibanding diagnostik. Pemeriksaan rectal
toucher juga bersifat konfirmasi dibanding diagnostik, khususnya pada pasien dengan pelvis
abscess karena ruptur Appendix.


Diagnosis Appendicitis sulit dilakukan pada pasien yang terlalu muda atau terlalu tua. Pada
kedua kelompok tersebut, diagnosis biasanya sering terlambat sehingga Appendicitisnya telah
mengalami perforasi. Pada awal perjalanan penyakit pada bayi, hanya dijumpai gejala letargi,
irritabilitas, dan anoreksia. Selanjutnya, muncul gejala muntah, demam, dan nyeri.
(2,9,10)

b. Tanda Klinis
Penderita Appendicitis umumnya lebih menyukai sikap jongkok pada paha kanan, karena
pada sikap itu Caecum tertekan sehingga isi Caecum berkurang. Hal tersebut akan mengurangi
tekanan ke arah Appendix sehingga nyeri perut berkurang.
Appendix umumnya terletak di sekitar McBurney. Namun perlu diingat bahwa letak anatomis
Appendix sebenarnya dapat pada semua titik, 360
o
mengelilingi pangkal Caecum. Appendicitis
letak retrocaecal dapat diketahui dari adanya nyeri di antara costa 12 dan spina iliaca posterior
superior. Appendicitis letak pelvis dapat menyebabkan nyeri rectal.
(6)
Secara teori, peradangan akut Appendix dapat dicurigai dengan adanya nyeri pada
pemeriksaan rektum (Rectal toucher). Namun, pemeriksaan ini tidak spesifik untuk Appendicitis.
Jika tanda-tanda Appendicitis lain telah positif, maka pemeriksaan rectal toucher tidak diperlukan
lagi.
6
12

Secara klinis, dikenal beberapa manuver diagnostik:
(10)

Rovsings sign
Jika LLQ ditekan, maka terasa nyeri di RLQ. Hal ini menggambarkan iritasi peritoneum. Sering
positif pada Appendicitis namun tidak spesifik.
Psoas sign
Pasien berbaring pada sisi kiri, tangan kanan pemeriksa memegang lutut pasien dan tangan kiri
menstabilkan panggulnya. Kemudian tungkai kanan pasien digerakkan dalam arah
anteroposterior. Nyeri pada manuver ini menggambarkan kekakuan musculus psoas kanan akibat
refleks atau iritasi langsung yang berasal dari peradangan Appendix. Manuver ini tidak
bermanfaat bila telah terjadi rigiditas abdomen.
Obturator sign
Pasien terlentang, tangan kanan pemeriksa berpegangan pada telapak kaki kanan pasien
sedangkan tangan kiri di sendi lututnya. Kemudian pemeriksa memposisikan sendi lutut pasien
dalam posisi fleksi dan articulatio coxae dalam posisi endorotasi kemudian eksorotasi. Tes ini
positif jika pasien merasa nyeri di hipogastrium saat eksorotasi. Nyeri pada manuver ini
menunjukkan adanya perforasi Appendix, abscess lokal, iritasi M. Obturatorius oleh Appendicitis
letak retrocaecal, atau adanya hernia obturatoria.
Blumbergs sign (nyeri lepas kontralateral)
Pemeriksa menekan di LLQ kemudian melepaskannya. Manuver ini dikatakan positif bila pada
saat dilepaskan, pasien merasakan nyeri di RLQ.
Wahls sign
Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri pada saat dilakukan perkusi di RLQ,
dan terdapat penurunan peristaltik di segitiga Scherren pada auskultasi.
Baldwins test
Manuver ini dikatakan positif bila pasien merasakan nyeri di flank saat tungkai kanannya ditekuk.
Defence musculare
Defence musculare bersifat lokal sesuai letak Appendix.
Nyeri pada daerah cavum Douglasi
Nyeri pada daerah cavum Douglasi terjadi bila sudah ada abscess di cavum Douglasi atau
Appendicitis letak pelvis.
Nyeri pada pemeriksaan rectal toucher pada saat penekanan di sisi lateral
13

Dunphys sign (nyeri ketika batuk)

G. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah
Leukositosis ringan berkisar antara 10.000-18.000/ mm
3
, biasanya didapatkan pada keadaan
akut, Appendisitis tanpa komplikasi dan sering disertai predominan polimorfonuklear sedang. Jika
hitung jenis sel darah putih normal tidak ditemukan shift to the left pergeseran ke kiri, diagnosis
Appendisitis akut harus dipertimbangkan. Jarang hitung jenis sel darah putih lebih dari 18.000/
mm
3
pada Appendicitis tanpa komplikasi. Hitung jenis sel darah putih di atas jumlah tersebut
meningkatkan kemungkinan terjadinya perforasi Appendix dengan atau tanpa abscess.
Marker Inflammasi
CRP (C-Reactive Protein) adalah suatu reaktan fase akut yang disintesis oleh hati sebagai
respon terhadap infeksi bakteri. Jumlah dalam serum mulai meningkat antara 6-12 jam inflamasi
jaringan. CRP merupakan marker inflamasi yang berguna dalam diagnosis appendisitis, namun
kurang spesifik dan sulit untuk membedakan lokasi infeksi.
Kadar CRP yang lebih tinggi dari 1mg/dl sering ditemukan pada pasien appendisitis, tapi
kadar CRP yang sangat tinggi pada pasien appendisitis menunjukan telah terjadi appendisitis
gangrenosa, terutama bila disertai leukositosis dan neutrofilia. CRP pada kasus appendisitis
memiliki nilai sensitifitas berkisar 95-96,6%.

Triple skrining leukosit, hitung jenis dan CRP
Kombinasi 3 tes yaitu adanya peningkatan CRP 8 mcg/mL, hitung leukosit 11000, dan
persentase neutrofil 75% memiliki sensitivitas 86%, dan spesifisitas 90.7%.

Urinalisa
Pemeriksaan urine bermanfaat untuk menyingkirkan diagnosis infeksi dari saluran kemih.
Walaupun dapat ditemukan beberapa leukosit atau eritrosit dari iritasi Urethra atau Vesica
urinaria seperti yang diakibatkan oleh inflamasi Appendix akibat hubungan anatomi antara
appendiks dan ureter kanan, namu pada keadaan dimana terjadi pyuria yang berat harus dicurigai
adanya infeksi pada saluran kemih

Urinary B-HCG
Pada wanita pemeriksaan beta-human chorionic gonadotropin (B-HCG) penting untuk
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik dini.
(2,34,7,10)

14

b. Pemeriksaan Radiologis
1. Foto Polos Abdomen
Digunakan untuk melihat adanya appendikolith/ fekalith pada pasien dengan gejala
appendisitis. Adanya appendikolith/ fecalith merupakan kecurigaan yang besar adanya
appendisitis namun appendikolith hanya ditemukan pada kurang dari 10% kasus appendisitis.
Selain itu, dapat dilihat tanda-tanda peritonitis. Kebanyakan kasus appendisitis akut
didiagnosa tanpa memperlihatkan kelainan radiologi. Foto polos bisa memperlihatkan
densitas jaringan lunak dalam kuadran kanan bawah, bayangan psoas kanan abnormal, gas
dalam lumen appendiks dan ileus lebih menonjol. Foto pada keadaan berbaring bermanfaat
dalam mengevaluasi keadaan-keadaan patologi yang meniru appendisitis akut.




2. Barium enema
Barium enema adalah suatu pemeriksaan X-Ray dengan cara memasukkan barium
(kontras) ke colon melalui anus. Barium enema membantu dalam diagnosa appendisitis,
namun pada era CT-scan dan USG peran barium enema dalam mendiagnosis appendisitis
sudah mulai tergantikan.
Pada pengisian penuh pada appendiks dan tidak terdapat perubahan pada mukosa lumen
appendiks bisa menyingkirkan kemungkinan appendisitis, tetapi jika terdapat tanda
patognomonik appendisitis pada barium enema seperti gambaran 3 terbalik, appendiks yang
tidak terisi, adanya massa dimedial dan bawah lumen caecum yang mempengaruhi
irregularitas lumen appendiks maka diagnosa bisa ditegakkan.

3. Appendikogram
Untuk lihat apendisitis kronis


15

4. Ultrasonografi Abdomen/ USG Abdomen
USG merupakan modalitas utama yang digunakan dalam pemeriksaan appendisitis
karena lebih aman/ bebas radiasi dibandingkan dengan CT-scan, pemeriksaan CT-scan baru
digunakan apabila dengan USG hasilnya adalah negatif dan masih tidak dapat meningkirkan
kemunkinan appendisitis maka dilakukan pemeriksaan CT-scan.

Ultrasonogram showing longitudinal section (arrows) of inflamed appendix.

(Tampak atas) ultrasound pada bagian kanan bawah perut (tampak kiri, noncompress/tidak
ada kepadatan; tampak kanan, compresses/adanya kepadatan) menunjukan dinding yang tebal,
struktur noncompresibel tubular (inflamasi apendiks) dengan bayangan apendikolith (tanda
panah)
16

(Tampak bawah) gambar longitudinal ultrasound yang menunjukan dinding yang tebal dari
inflamasi apendiks dan apendikolith (tanda panah) serta pengumpulan cairan periappendiceal.
5. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan
komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses. CT-Scan mempunyai sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%, serta akurasi 94-100%. CT-Scan sangat
baik untuk mendeteksi apendiks dengan abses atau flegmon.
(1,7,9,10)









Computed
tomographic scan showing cross-section of inflamed appendix (A) with
appendicolith (a)
6








Computed tomographic
scan showing enlarged and inflamed appendix (A)
6
extending from the cecum (C).







17

Perbandingan pemeriksaan penunjanng appendisitis akut

Ultrasonografi CT-Scan
Sensitivitas 85% 90 - 100%
Spesifisitas 92% 95 - 97%
Akurasi 90 - 94% 94 - 100%
Keuntungan



Aman Lebih akurat
Relatif tidak mahal Mengidentifikasi abses dan flegmon
lebih baik
Dapat mendignosis kelainan lain
pada wanita
Mengidentifikasi apendiks normal lebih
baik
Baik untuk anak-anak
Kerugian


Tergantung operator Mahal
Sulit secara tehnik Radiasi ion
Nyeri Kontras
Sulit di RS daerah Sulit di RS daerah

H. Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari Appendisitis akutapada dasarnya adalah diagnosis dari akut abdomen. Hal
ini karena manifestasi klinik yang tidak spesifik untuk suatu penyakit tetapi spesifik untuk suatu
gangguan fisiologi atau gangguan fungsi. Jadi pada dasarnya gambaran klinis yang identik dapat
diperoleh dari berbagai proses akut di dalam atau di sekitar cavum peritoneum yang mengakibatkan
perubahan yang sama seperti Appendisitis akut.
Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi operasi, namun pada umumnya proses-
proses penyakit yang diagnosisnya sering dikacaukan oleh Appendicitis sebagian besar juga
merupakan masalah pembedahan atau tidak akan menjadi lebih buruk dengan pembedahan.
Diagnosis banding Appendicitis tergantung dari 3 faktor utama: lokasi anatomi dari inflamasi
Appendix, tingkatan dari proses dari yang simple sampai yang perforasi, serta umur dan jenis kelamin
pasien.




18

1. Adenitis Mesenterica Acuta
Diagnosis penyakit ini seringkali dikacaukan oleh Appendicitis acuta pada anak-anak. Hampir
selalu ditemukan infeksi saluran pernafasan atas, tetapi sekarang ini telah menurun. Nyeri
biasanya kurang atau bisa lebih difus dan rasa sakit tidak dapat ditentukan lokasinya secara tepat
seperti pada Appendicitis. Observasi selama beberapa jam bila ada kemungkinan diagnosis
Adenitis mesenterica, karena Adenitis mesenterica adalah penyakit yang self limited. Namun jika
meragukan, satu-satunya jalan adalah operasi segera.
2. Gastroenteritis akut
Penyakit ini sangat umum pada anak-anak tapi biasanya mudah dibedakan dengan
Appendicitis. Gastroentritis karena virus merupakan salah satu infeksi akut self limited dari
berbagai macam sebab, yang ditandai dengan adanya diare, mual, dan muntah. Nyeri
hiperperistaltik abdomen mendahului terjadinya diare. Hasil pemeriksaan laboratorium biasanya
normal.
3. Penyakit urogenital pada laki-laki.
Penyakit urogenital pada laki-laki harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding
Appendicitis, termasuk diantaranya torsio testis, epididimitis akut, karena nyeri epigastrik dapat
muncul sebagai gejala lokal pada awal penyakit ini, Vesikulitis seminalis dapat juga menyerupai
Appendicitis namun dapat dibedakan dengan adanya pembesaran dan nyeri Vesikula seminalis
pada waktu pemeriksaan Rectal toucher.
4. Diverticulitis Meckel
Penyakit ini menimbulkan gambaran klinis yang sangat mirip Appendicitis acuta. Perbedaan
preoperatif hanyalah secara teoritis dan tidak penting karena Diverticulitis Meckel dihubungkan
dengan komplikasi yang sama seperti Appendicitis dan memerlukan terapi yang sama yaitu
operasi segera.
5. Intususseption
Sangat berlawanan dengan Diverticulitis Meckel, sangat penting untuk membedakan
Intususseption dari Appendicitis acuta karena terapinya sangat berbeda. Umur pasien sangat
penting, Appendicitis sangat jarang dibawah umur 2 tahun, sedangkan Intususseption idiopatik
hampir semuanya terjadi di bawah umur 2 tahun. Pasien biasanya mengeluarkan tinja yang
berdarah dan berlendir. Massa berbentuk sosis dapat teraba di RLQ. Terapi yang dipilih pada
intususseption bila tidak ada tanda-tanda peritonitis adalah barium enema, sedangkan terapi
pemberian barium enema pada pasien Appendicitis acuta sangat berbahaya.
19

6. Chrons enteritis
Manifestasi enteritis regional berupa demam, nyeri RLQ, perih, dan leukositosis sering
dikelirukan sebagai Appendicitis. Selain itu, terdapat diare dan anorexia. Mual dan muntah yang
jarang, dapat mengarahkan diagnosis kepada enteritis namun tidak menyingkirkan diagnosis
Appendicitis acuta.
7. Perforasi ulkus peptikum
Gejala perforasi ulkus peptikum menyerupai Appendicitis jika cairan gastroduodenal
mengalir ke bawah di daerah caecal. Jika perforasi secara spontan menutup, gejala nyeri abdomen
bagian atas menjadi minimal.
8. Epiploic appendagitis
Epiploic appendagitis mungkin disebabkan oleh infark Colon sekunder dari torsi Colon.
Gejala dapat minimal atau terjadi gejala abdomen yang dapat berlangsung hingga beberapa hari.
Pasien tidak tampak sakit, jarang terjadi mual dan muntah, dan nafsu makan tidak berubah.
Terdapat nyeri tekan pada daerah yang terkena. Pada 25% kasus, nyeri berlangsung terus menerus
hingga epiploic appendage yang mengalami infark dioperasi.
9. Infeksi saluran kencing
Pyelonephritis acuta, terutama yang terletak di sisi kanan dapat menyerupai Appendicitis
acuta letak retroileal. Rasa dingin, nyeri costo vertebra kanan, dan terutama pemeriksaan urine
biasanya cukup untuk membedakan keduanya.
10. Batu Urethra
Bila calculus tersangkut dekat Appendix dapat dikelirukan dengan Appendicitis retrocaecal.
Nyeri alih ke daerah labia, scrotum atau penis, hematuria, dan atau tanpa demam atau leukositosis
mendukung adanya batu. Pyelografi dapat memperkuat diagnosis.
11. Peritonitis Primer
Peritonitis primer jarang menyerupai Appendicitis acuta simplex namun dapat ditemukan
gambaran yang sangat mirip dengan peritonitis difus sekunder yang disebabkan oleh ruptur
Appendix. Diagnosis ditegakkan dengan aspirasi peritoneal. Bila ditemukan bakteri coccus pada
pewarnaan Gram, peritonitis tersebut adalah peritonitis primer dan terapinya adalah obatobatan.
Bila ditemukan bermacammacam bakteri, peritonitis tersebut adalah peritonitis sekunder.

20

12. Purpura HenochSchonlein
Sindrom ini biasanya terjadi 2-3 minggu setelah infeksi Streptococcus. Nyeri abdomen
merupakan gejala yang paling menonjol, namun nyeri sendi, purpura dan nephritis juga hampir
selalu ditemukan.
13. Yersiniosis
Infeksi Yersinia menyebabkan berbagai macam gejala klinik, termasuk adenitis mesenterica,
ileitis, colitis dan Appendicitis acuta. Umumnya infeksinya ringan dan self limited, namun pada
beberapa dapat terjadi sepsis sistemik yang umumnnya sangat fatal bila tidak diobati. Kecurigaan
pada diagnosis preoperatif tidak boleh menunda operasi, karena secara klinis Appendicitis yang
disebabkan oleh Yersinia tidak dapat dibedakan dengan Appendicitis oleh sebab lainnya. Sekitar
5% dari kasus Appendicitis acuta disebabkan oleh infeksi Yersinia.
14. Kelainankelainan ginekologi
Umumnya kesalahan diagnosis Appendicitis acuta tertinggi pada wanita dewasa muda
disebabkan oleh kelainankelainan ginekologi. Angka rata-rata Appendectomy yang dilakukan
pada Appendix normal yang pernah dilaporkan adalah 32%45% pada wanita usia 1545 tahun.
Penyakitpenyakit organ reproduksi pada wanita sering dikelirukan sebagai Appendicitis, dengan
urutan yang tersering adalah PID, ruptur folikel de Graaf, kista atau tumor ovarium, endometriosis
dan ruptur kehamilan ektopik. Laparoskopi mempunyai peranan penting dalam menentukan
diagnosis.
Pelvic Inflammatory Disease (PID)
Infeksi ini biasanya bilateral tapi bila yang terkena adalah tuba sebelah kanan dapat
menyerupai Appendicitis. Mual dan muntah hampir selalu terjadi pada pasien Appendicitis. Pada
pasien PID hanya sekitar separuhnya.
Ruptur Folikel de Graaf
Ovulasi sering mengakibatkan keluarnya darah dan cairan folikuler serta nyeri yang ringan
pada abdomen bagian bawah. Bila cairan sangat banyak dan berasal dari ovarium kanan, dapat
dikelirukan dengan Appendicitis. Nyeri dan nyeri tekan agak difus. Leucositosis dan demam
minimal atau tidak ada. Karena nyeri ini terjadi pada pertengahan siklus menstruasi, sering
disebut mittelschmerz.
(2,4,6)

21

I. Komplikasi
Appendisitis akut purulenta
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah yang disertai edema, menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombus. Hal ini akan
memperberat iskemik dan edema pada appendiks. Bakteri yang dalam normal terdapat di
daerah ini berinvasi ke dalam dinding, menimbulkan infeksi serosa, sehingga serosa jadi
suram, karena dilapisi eksudat dan fibrin. Karena infeksi akan terbentuk nanah terjadi
peritonitis lokal.
(2)

Ditandai dengan adanya rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan,nyeri lepas di
titik McBurney, adanya defence muskular dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan
defence muskular dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis
umum, seperti demam tinggi. Bila perforasi terjadi, leukosit akan pergi ke jaringan-jaringan
yang meradang

tersebut, maka mungkin kadar leukosit di dalam darah dapat turun, sebab
belum sempatnya tubuh merespon kebutuhan leukosit yang tiba-tiba meninggi. Namun
setelah tubuh sempat merespon kebutuhan ini maka jumlah leukosit akan meninggi di dalam
darah tepi. Appendisitis akut purulenta ini kebanyakan terjadi karena adanya obstruksi.
Appendiks dan mesoappendiks edema, hiperemi, dan di dalam lumen terdapat eksudat
fibrinopurulen.
(4)

Appendisitis akut gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu terutama
bagian antemesentrial yang peredarannya paling minimal, hingga terjadi infark dan gangren.
1
Tampak appendiks edema, hiperemis, dengan gangren pada bagian tertentu, dinding
appendiks berwama ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendiksitis akut
gangrenosa ini bisa terdapat mikroperforasi.


Perforasi appendiks

Perforasi appendiks pada kasus appendisitis akut tidak dapat diprediksi, bisa terjadi pada
kasus mana saja. Adanya fekalit, umur, dan keterlambatan diagnosis merupakan faktor yang
yang berperanan dalam terjadinya perforasi appendiks. Tindakan yang aman dalam
menghindari perforasi pada kasus appendisitis akut adalah appendektomi segera. Walaupun
begitu kasus perforasi appendiks masih sering terjadi. Penggunaan antibiotik untuk
menghindari/menunda terapi operatif pada kasus appendisitis karena obstruksi sangat
berbahaya dan merupakan usaha yang tidak dapat diterima.
22

Obstruksi yang tidak hilang pada lumen apendiks menyebabkan gangren dan perforasi
appendiks yang telah terisi pus sehingga terjadi peritonitis umum. Lokasi perforasi hampir
selalu di bagian distal dari sumbatan fekalit. Jika proses pendindingan tidak sempurna pada
saat terjadi perforasi appendiks, maka akan terjadi penyebaran kontaminasi ke kuadran kanan
bawah, rongga pelvis melalui gravitasi, ruang subhepatik kanan dan secara sentrifugal ke
seluruh abdomen.
(3)

Kejadian yang lebih berbahaya pada peritonitis umum karena perforasi appendiks adalah
terjadinya ruptur abses organ intraabdominal karena kontaminasi dari perforasi appendiks.
Kejadian perforasi appendiks diprediksi antara 15-30% dimana kejadiannya lebih
signifikan pada pasien anak dan geriatrik. 60% perforasi pada penderita diatas usia 60 tahun.
Faktor yang mempengaruhi tingginya insiden perforasi pada orang tua adalah gejalanya yang
samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi berupa penyempitan appendiks,
arteriosklerosis. Insiden tinggi pada anak disebabkan oleh dinding appendiks yang masih tipis,
anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang diagnosis, proses pendinginan yang
kurang sempurna akibat perforasi yang berlangsung cepat dan omentum yang belum
berkembang.


Diagnosa biasanya tidak sulit setelah perforasi terjadi. Pasien tampak sakit berat, tanda-
tanda toksik, dehidrasi dan kembung, nyeri kuadran kanan bawah bertambah parah dan
menyebar ke daerah yang lebih luas.
Pada pemeriksaan fisis lebih jelas setelah perforasi terjadi. Nyeri yang terlokalisasi pada
daerah appendiks menyebar ke seluruh kuadran kanan bawah atau ke seluruh rongga
abdomen. Nyeri tekan dan kekakuan dinding abdomen meluas sebanding dengan luas
peritonitis. Seperti pada appendisitis akut hasil pemeriksaan fisik tergantung letak appendiks,
sebagai contoh pada perforasi appendiks pelvis hanya terdapat massa yang nyeri pada
pemeriksaan rectal toucher. Distensi abdomen dan ileus paralitik sebanding dengan tingkat
keparahan dan durasi proses inflamasi di rongga abdomen. Demam dan nadi juga sebanding
dengan proses inflamasi, suhu meningkat kira-kira menjadi 39C pada peritonitis lokal dan
sering meningkat menjadi 40C pada peritonitis umum. Leukositosis sering meningkat
menjadi 20.000-30.000/mm
3
dengan predominan sel PMN dan pergeseran ke kiri yang jelas.


Perforasi appendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan
demam tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut, perut menjadi tegang dan
kembung, nyeri tekan dan defence muskuler di seluruh perut mungkin dengan punctum
maksimum di regio iliaka kanan, peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus
paralitik.
23

Abses peritoneum biasa terjadi bilamana pus yang menyebar bisa dilokalisasi di suatu
tempat, paling sering di rongga pelvis dan subdiafragma. Adanya massa intraabdomen yang
nyeri disertai demam harus dicurigai abses. USG dapat membantu mendeteksi adanya
kantong nanah. Abses subdiafragma harus dibedakan dengan abses hati, pneumonia basal atau
efusi pleura. USG dan foto Rontgen dada akan membantu membedakannya.
(1,2,3,4,6,7)
Massa periappendikuler
Perforasi yang terjadi pada daerah ganggren sehingga nanah dan produksi infeksi
mengalir ke dalam rongga perut dan menyebabkan peritonitis generalisata serta abses
sekunder. Bila mekanisme pertahanan tubuh cukup baik, tubuh berusaha melokalisir tempat
infeksi tersebut dengan cara membentuk walling off oleh omentum, usus halus, sekum,
kolon dan peritoneum, yaitu membentuk gumpalan masa phlegmon yang melekat erat satu
dengan yang lainnya. Dalam keadaan ini tubuh berhasil melokalisir daerah infeksi secara
sempurna.
Massa appendiks terjadi bila appendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Pada massa appendikuler yang
pendinginannya belum sempurna dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga peritoneum
jika perforasi diikuti oleh peritonitis purulenta generalisata. Oleh sebab itu massa
periappendikuler yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah hal tersebut.
Pada anak selalu dipersiapkan untuk operasi dalam 2-3 hari. Pasien dewasa dengan
massa periappendikuler yang mengalami pendinginan sempurna, dianjurkan untuk dirawat
dahulu dan diberi antibiotika sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya
peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periappendikuler hilang, dan leukosit normal
penderita boleh pulang dan apendektomi dapat dikerjakan pada 2-3 bulan kemudian agar
perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses
appendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri dan
teraba pembengkakan massa serta bertambahnya leukosit.
Riwayat klasik appendisitis akut diikuti dengan adanya massa dan nyeri di regio iliaka
kanan dan disertai demam mengarahkan ke diagnosis massa atau abses periappendikuler.
Kadang sulit dibedakan dengan karsinoma caecum, penyakit Crohn, dan amuba. Kunci
diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas.
Appendiktomi direncanakan pada infiltrat periappendikuler tanpa pus yang telah
ditenangkan. Sebelumnya pasien diberikan antibiotika kombinasi yang aktif terhadap kuman
aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, sekitar 6-8 minggu dilakukan appendektomi.
24

Pada anak kecil dan wanita hamil dan penderita usia lanjut jika secara konservatif tidak
membaik atau berkembang menjadi abses dapat dipertimbangkan untuk membatalkan
tindakan bedah.
(1,3,6,8)
Abses periappendikuler
Bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah, akan timbul di fossa iliaka kanan lateral
dekat caecum, retrocaecal dan pelvis. Mengandung pus yang sangat banyak dan berbau.

Abses appendiks ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri
dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.
(1,2,3)

IV. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta yaitu
(1,2,3,6,7)
1. Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau
septikemia.
2. Puasakan pasien, jangan berikan apapun per oral
3. Pemberian obat-obatan analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah.
4. Pemberian antibiotika i.v. pada pasien yang menjalani laparotomi.
5. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia subur dan didapatkan beta-
hCG positif secara kualitatif.
Bila dilakukan pembedahan, terapi pada pembedahan meliputi; antibiotika profilaksis harus
diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut, digunakan single dose dipilih antibiotika yang
bisa melawan bakteri anaerob.







25

Teknik operasi Appendectomy
(1,2,6,8):

a. Open Appendectomy
1. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
2. Dibuat sayatan kulit:
Horizontal Oblique

3. Dibuat sayatan otot, ada dua cara:
a. Pararectal/ Paramedian
Sayatan/ incisi pada vaginae tendinae M. rectus abdominis lalu otot disisihkan ke medial.
Fascia diklem sampai saat penutupan vagina M. rectus abdominis karena fascianya ada 2
agar tidak tertinggal pada waktu penjahitan. Bila yang terjahit hanya satu lapis fascia
saja, dapat terjadi hernia cicatricalis.



b. Mc Burney/ Wechselschnitt/ muscle splitting
Sayatan berubah-ubah sesuai serabut otot.
2 lapis

M.rectus abd.
sayatan
M.rectus abd.
ditarik ke medial

26

1) Incisi apponeurosis M. Obliquus abdominis externus dari lateral atas ke medial
bawah.


Keterangan gambar:
Satu incisi kulit yang rapi dibuat dengan perut mata pisau. Incisi kedua mengenai
jaringan subkutan sampai ke fascia M. Obliquus abdominis externus.
2) Splitting M. Obliquus abdominis internus dari medial atas ke lateral bawah.

Keterangan gambar:
Dari tepi sarung rektus, fascia tipis M. obliquus internus diincisi searah dengan
seratnya ke arah lateral.
3) Splitting M. transversus abdominis arah horizontal.


27

Keterangan gambar:
Pada saat menarik M. obliquus internus hendaklah berhati-hati agar tak terjadi trauma
jaringan. Dapat ditambahkan, bahwa N. iliohipogastricus dan pembuluh yang
memperdarahinya terletak di sebelah lateral di antara M. obliquus externus dan
internus. Tarikan yang terlalu keras akan merobek pembuluh dan membahayakan
saraf.
4. Peritoneum dibuka.

Keterangan gambar:
Kasa Laparatomi dipasang pada semua jaringan subkutan yang terpapar. Peritoneum sering
nampak meradang, menggambarkan proses yang ada di bawahnya. Secuil peritoneum angkat
dengan pinset. Yang nampak di sini ialah pinset jaringan De Bakey. Asisten juga mengangkat
dengan cara yang sama pada sisi di sebelah dokter bedah. Dokter bedah melepaskan pinset,
memasang lagi sampai dia yakin bahwa hanya peritoneum yang diangkat.

5. Caecum dicari kemudian dikeluarkan kemudian taenia libera ditelusuri untuk mencari
Appendix. Setelah Appendix ditemukan, Appendix diklem dengan klem Babcock dengan
arah selalu ke atas (untuk mencegah kontaminasi ke jaringan sekitarnya).
Appendix dibebaskan dari mesoappendix dengan cara:
Mesoappenddix ditembus dengan sonde kocher dan pada kedua sisinya, diklem, kemudian
dipotong di antara 2 ikatan.
28


Keterangan gambar:
Appendix dengan hati-hati diangkat agar mesenteriumnya teregang. Klem Babcock
melingkari appenddix dan satu klem dimasukkan lewat mesenterium seperti pada gambar.
Cara lainnya ialah dengan mengklem ujung bebas mesenterium di bawah ujung appenddix.
Appendix tak boleh terlalu banyak diraba dan dipegang agar tidak menyebarkan kontaminasi.

6. Appendix di klem pada basis (supaya terbentuk alur sehingga ikatan jadi lebih kuat karena
mukosa terputus sambil membuang fecalith ke arah Caecum). Klem dipindahkan sedikit ke
distal, lalu bekas klem yang pertama diikat dengan benang yang diabsorbsi (supaya bisa lepas
sehingga tidak terbentuk rongga dan bila terbentuk pus akan masuk ke dalam Caecum).


7. Appendix dipotong di antara ikatan dan klem, puntung diberi betadine.
29



8. Perawatan puntung Appendix dapat dilakukan dengan cara:
a. Dibuat jahitan tabak sak pada Caecum, puntung Appendix diinversikan ke dalam
Caecum. Tabak sak dapat ditambah dengan jahitan Z.
b. Puntung dijahit saja dengan benang yang tidak diabsorbsi. Resiko kontaminasi dan
adhesi.
c. Bila prosedur a+b tidak dapat dilaksanakan, misalnya bila puntung rapuh, dapat
dilakukan penjahitan 2 lapis seperti pada perforasi usus.


9. Bila no.7 tidak dapat dilakukan, maka Appendix dipotong dulu, baru dilepaskan dan
mesenteriolumnya (retrograde).
10. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.

b. Laparoscopic Appendectomy
Laparoscopy dapat dipakai sebagai sarana diagnosis dan terapeutik untuk pasien dengan nyeri
akut abdomen dan suspek Appendicitis acuta. Laparoscopy sangat berguna untuk pemeriksaan wanita
dengan keluhan abdomen bagian bawah. Dengan menggunakan laparoscope akan mudah
membedakan penyakit akut ginekologi dari Appendicitis acuta.
1)

30


Gambar 3.10. Posisi operasi Laparoscopic Appendectomy

2.9 komplikasi post operasi
1. Fistel berfaeces Appendicitis gangrenosa, maupun fistel tak berfaeces; karena benda asing,
tuberculosis, Aktinomikosis.
2. Hernia cicatricalis.
3. Ileus
4. Perdarahan dari traktus digestivus: kebanyakan terjadi 2427 jam setelah Appendectomy,
kadangkadang setelah 1014 hari. Sumbernya adalah echymosis dan erosi kecil pada gaster
dan jejunum, mungkin karena emboli retrograd dari sistem porta ke dalam vena di gaster/
duodenum.
(1,3,8)






31

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC. 2005: 639-43.
2. Lally KP, Cox CS, Andrassy RJ, Appendix. In: Sabiston Texbook of Surgery. 17th edition.
Ed:Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Philadelphia: Elsevier
Saunders. 2004: 1381-93
3. Jaffe BM, Berger DH. The Appendix. In: Schwartzs Principles of Surgery Volume 2. 8th
edition. Ed: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE.
New York: McGraw Hill Companies Inc. 2005:1119-34
4. Way LW. Appendix. In: Current Surgical Diagnosis & Treatment. 11 edition. Ed:Way
LW. Doherty GM. Boston: McGraw Hill. 2003:668-72
5. Human Anatomy 205. Retrieved at January 20
th
2013 From: http://www
.talkorigins.org/faqs/vestiges/vermiform_Appendix.jpg
6. Ellis H, Nathanson LK. Appendix and Appendectomy. In : Maingots Abdominal
Operations Vol II. 10th edition. Ed: Zinner Mj, Schwartz SI, Ellis H, Ashley SW,
McFadden DW. Singapore: McGraw Hill Co. 2001: 1191-222
7 Soybel DI. Appedix In: Surgery Basic Science and Clinical Evidence Vol 1. Ed: Norton
JA, Bollinger RR, Chang AE, Lowry SF, Mulvihill SJ, Pass HI, Thompson RW. New
York: Springer Verlag Inc. 2000: 647-62
8 Prinz RA, Madura JA. Appendicitis and Appendiceal Abscess. In: Mastery of Surgery
Vol II. 4th edition. Ed: Baker RJ, Fiscer JE. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins.
2001: 1466-78
9 Hardin DM. Acute Appendicitis: Review and Update. American Academy of Family
Physician News and Publication. 1999;60: 2027-34. Retrieved at January 20
th
2013.
From: http://www.aafp.org/afp/991101ap/2027.html
10. Owen TD, Williams H, Stiff G, Jenkinson LR, Rees BI. Evaluation of the Alvarado score
in acute Appendicitis. Retrieved at January 20
th
2013. From:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/picrender.fcgi?artid=1294889&blobtype=pdf