Anda di halaman 1dari 33

Dilianty Anugerah Mana

NIM 102011366 D4

Penyakit Menular
ISPA
Diare
Penyakit TBC
Penyakit Kulit
Gizi Buruk
Frekuensi
Sporadis
Endemis
Kejadian Luar Biasa (KLB)
Wabah
Distribusi
Who
When
Where




Segitiga Epidemiologi

Suatu penyakit dapat berpindah dari satu orang ke orang
yang lain karena tiga faktor berikut:
Penyebab penyakit (agent)
Pejamu (host)
Cara penularan (route of transmission)

ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian
bawah
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari
Mikroorganisme yang berada diudara akan masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernafasan dan menimbulkan infeksi
ISPA masih merupakan masalah kesehatan karena setiap anak diperkirakan
mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
Dari seluruh kematian balita, proporsi ISPA mencakup 20%-30%
Menurut (WHO), penyakit diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali
atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau
tinja yang berdarah.
Penyakit ini paling sering dijumpai pada anak balita, terutama pada 3 tahun
pertama kehidupan, di mana seorang anak bisa mengalami 1-3 episode
diare berat
Adanya faktor lingkungan dan perilaku sebagai penyebab utama tingginya
angka kesakitan diare
penyakit menular yang bersifat menahun disebabkan
oleh Mycrobacterium tuberculocis, yang merupakan
Genus Mycrobacterium.
Pada tingkat awal TB paru hanya dapat diketahui malalui tuberculin
test (untuk balita), ditemukan Mycobacterium tuberculosis dalam
dahak
gejala-gejala: batuk, batuk berdarah, sesak nafas, nyeri dalam dada,
demam, keringat pada malam hari, berat badan menurun
Penularan TB dikenal melalui udara, terutama pada udara tertutup
seperti udara dalam rumah yang pengap dan lembab
salah satu jenis penyakit menular yang banyak sekali
jenisnya, dan mudah menular dari satu orang ke orang lain.
Penularan yang paling sering terjadi adalah melalui kontak
langsung atau menggunakan barang yang juga dipakai
oleh penderita, contohnya handuk, baju, dll. Contoh : cacar
air, kudis, panu, scabies, dll.
Penyakit kurang kalori dan protein (KKP) berat: marasmus,
kwashiorkor, marasmus-kwashiorkor.
Pada anak: sangat kurus, berat badan <60% bb ideal
menurut umur
Pada dewasa: oedema (pd daerah kaki) atau honger
oedema (HO)
Identifikasi
masalah
Prioritas
masalah
Perencanaan
Pelaksanaan
Evaluasi
1. Menetapkan Prioritas Masalah
Teknik Skoring (Matrix)





Teknik Non-skoring: Brain strorming, Delphi technique, Delbeq
technique

















2. Menentukan Prioritas Jalan Keluar








3. Uji Lapangan
4. Penyusunan Rencana Kerja
5. Pelaksanaan Evaluasi menetapkan prioritas masalah



Kriteria
Matrix
Efektif
Magnitude
Importancy
Vulnerability
Efisien Cost (biaya)
Berdasarkan penyakit utama yang terjadi di puskesmas kecamatan T, program yang
dilakukan puskesmas adalah:
ISPA
Imunisasi u/ mencegah kematian pneumonia akibat komplikasi penyakit campak dan
pertusis
Upaya perbaikan gizi u/ mengurangi malnutrisi, def vit A
Program KIA yg menangani ibu dan bayi BBLR
Program penyehatan lingkungan pemukiman (PLP), menangani masalah polusi di dalam
maupun di luar rumah
Penyakit TBC
Penemuan penderita (aktif/pasif)
Pemeriksaan Laboratorium
Pengobatan
Tindak lanjut


Diare
- penemuan penderita
- pengobatan dan rehidrasi
- penyuluhan kesehatan
- pengamatan dan penanggulangan KLB
Penyakit Kulit
- penemuan penderita (aktif/pasif)
-pengobatan
- penyuluhan kebersihan lingkungan, personal higienis
- penyuluhan rumah sehat

Gizi buruk
Program usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK)
Penyuluhan gizi masyarakat
Pelayanan gizi melalui posyandu
Peningkatan pemanfaatan tanaman pekarangan
Penanggulangan KKP pada balita
Penanggulangan KKP pada balita
Penanggulangan gangguan akibat kekurangan iodium
Penanggulangan anemia gizi (anemia def. zat besi)
Indikator Dampak
Insidens penyakit menular meningkat/menurun
Indikator Keluaran
Cakupan imunisasi
Indikator Proses
Indikator Masukan
Tenaga, sarana, dana
Diukur melalui indeks potensi tatanan sehat (IPTS)
Indikator:
Tersedianya sarana air bersih
Tersedianya jamban yang saniter
Adanya larangan merokok
Tersedianya tempat sampah

Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)








Indeks Potensi Seluarga Sehat (IPKS)

Upaya perbaikan gizi:
posyandu, kadarzi, panti
pemulihan gizi

Upaya KIA:
Posyandu, polindes, bina
keluarga balita (BKB)
Upaya Kesling:
pokmair, DPKL
Upaya pengobatan:
posyandu, pos obat desa
(POD)
UKBM
Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat ini berkaitan dengan 5 upaya kesehatan wajib,
yaitu:
Promosi kesehatan (promkes)
Kesehatan lingkungan (kesling)
Kesehatan ibu dan anak (KIA) termasuk keluarga berencana (KB)
Pemberantasan penyakit menular
Perbaikan gizi
Pelayanan Kesehatan Perorangan
Upaya Promosi Kesehatan (Health Promotion)
Upaya Proteksi Kesehatan
Upaya diagnosis dini dan tindakan segera
Upaya pencegahan akibat buruk
Upaya pemulihan kesehatan


Sasaran: faktor penyebab, lingkungan, dan pejamu
Penyebab: menurunkan pengaruh serendah mungkin (desinfeksi,
sterilisasi, penyemprotan insektisida)memutus rantai penularan
Lingkungan: perbaikan lingkungan fisik, yaitu sarana air bersih,
sanitasi lingkungan dan perumahan
Pejamu: perbaikan status gizi, status kesehatan, pemberian
imunisasi
Sasaran: penderita/dianggap menderita (suspect) dan terancam
menderita
Tujuan: diagnosis dini dan pengobatan tepat (mencegah meluasnya
penyakit/timbulnya wabah & proses penyakit lebih lanjut/akibat
samping dan komplikasi)
Usaha: pencarian penderita, pemberian kemoprofilaksis
(prepatogenesis/pathogenesis penyakit tertentu)

Sasaran: penderita penyakit tertentu
Tujuan: mencegah jangan sampai mengalami cacat dan
bertambah parahnya penyakit juga kematian dan rehabilitasi
(pengembalian kondisi fisik/medis, mental/psikologis dan
social).

pengamatan yang dilakukan secara terus-menerus
untuk mencari dan mengumpulkan data tentang
penyakit dan menganalisa data itu sehingga dapat
diambil tindakan.

Pengumpulan data
Pengolahan, analisis, interpretasi
Penyebarluasan informasi (diseminasi)


Untuk mengumpulkan data epidemiologi, diperlukan indikator
agar dapat ditentukan batasan masalah dari kasus yang
akan dicari. Jenis indikator:
Indikator morbidity, mortality, disability (insidens, prevalensi, CFR,dll)
Indikator faktor resiko penyakit: RR dan OR
Indikator hasil laboratorium
Indikator program: input, proses, output, outcome

Kejadian yang meningkat dari suatu penyakit pada sautu hari, atau pada
suatu minggu, dan pada suatu bulan dengan cepat dapat segera diketahui,
untuk selanjutnya diadakan penyelidikan lebih lanjut akan kemungkinan
terjadinya permulaan suatu KLB/wabah
Apabila dari hasil penyelidikan ternyata ditemukan kemungkinan timbulnya
suatu wabah, perlu segera (maksimum 1x24 jam) dilaporkan kepada Dinas
Kesehatan Dati II untuk mendapatkan bantuan dalam mengadakan
penyelidikan epidemiologi dan tindakan penanggulangan seperlunya.

Dengan diketahui jumlah jiwa per desa dan angka kematian kasar
crude death rate) nasional, dapat dihitung kematian rata-rata per
desa per minggu dan kematian rata-rata per kecamatan per minggu.
Untuk mengadakan penyelidikan langsung mendatangi
desa/kelurahan untuk menemui kepala desa/kelurahan, menanyakan
kebenaran dari laporan tersebut. Jika benar, dapat ditanyakan lebih
lanjut kemungkinan penyebabnya, apakah angka kematian akibat
penyakit yang tergolong KLB/wabah.

Timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok
penduduk dalam kurun waktu tertentu.
Kriteria KLB:
Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal di
suatu daerah.
Adanya peningkatan kejadian kesakitan/kematian dua kalin(2 x) atau lebih
dibandingkan jumlah kesakitan/kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu
sebelumnya (jam, hari, minggu) tergantung dari jenis penyakitnya.
Adanya peningkatan kejadian kesakitan secara terus-menerus selama 3 kurun
waktu (jam, hari, minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya.

Masalah kesehatan masyarakat diidentifikasi melalui pendekatan epidemiologi
berdasarkan segitiga epidemilogi, yaitu host, agent, dan lingkungan. Masalah
penyakit menular dipengaruhi oleh status gizi buruk yang terjadi. Sehingga ada
keterkaitan yang erat antara status gizi dengan angka penyakit menular atau
infeksi. Di sisi lain faktor lingkungan juga ikut berperan dalam menciptakan
angka kejadian penyakit. Berdasarkan hal tersebut disusun program puskesmas
sesuai prioritas masalah. Kemudian untuk penyelesaian masalah tersebut
diperlukan suatu manajemen puskesmas yang efektif dan efisien agar dapat
melakukan segenap program yang telah disusun untuk pelayanan kesehatan
masyarakat.