Anda di halaman 1dari 19

1

BAB 1
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Perkembangan nasional disektor industri sekarang ini berkembang semakin pesat sejalan
dengan kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi ini telah mendorong meningkatnya
penggunaan mesin-mesin, peralatan kerja dengan teknologi ini telah mendorong meningkatnya
penggunaan mesin-mesin, peralatan kerja dengan teknologi modren dan bahan-bahan kimia
dalam proses produksi. Di satu pihak perkembangan industri ini memberikan dampak yang
positif dengan terciptanya lapangan pekerjaan yang lebih luas. Namun, akibat percepatan proses
industrialisasi dengan sendirinya akan memperbesar resikonya bahaya yang terkandung dalam
industri, timbulnya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan potensi kecelakaan kerja semakin besar.
K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan lingkungankerja yang aman, sehat
dan sejahtera, bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta bebas pencemaran
lingkungan yang bertujuan agar produktivitas meningkat sesuai Undang-undang No. 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja. Seperti kita ketahui bahwa kecelakaan kerja bukan hanya
menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material bagi pekerja dan pengusaha tetapi dapat
juga mengganggu proses produksi secara menyeluruh dan merusak lingkungan yang akhirnya
berdampak kepada masyarakat luas. Karena itu perlu dilakukan upaya yang nyata untuk
mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara
maksimal.
Sedangkan Kesehatan Kerja sendiri mempunyai pengertian spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial, dengan usaha-usaha
promotif, preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang
diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit
umum.
Higiene perusahaan sendiri adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang
dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif dan kuantitatif
dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk
dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta lebih lanjut pencegahan agar pekerja
dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat bahaya kerja serta dimungkinkan
mengecap derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Soeripto, Ir., DIH., 1992).

2

Pada tanggal 19 Desember 2013, kami telah melakukan kunjungan ke PT. MARTINA
BERTO TBK yang bergerak didalam industri kosmetik.
Dalam kunjungan tersebut kami mendapatkan beberapa hal yang menjadi pusat perhatian
kami yang berkaitan dengan higiene dan penerapannya di tempat kerja sehingga dapat
bermanfaat bagi bidang keilmuan kami. Dan bersama ini kami juga mengucapkan terima kasih
atas perkenaan dan arahan yang telah diberikan oleh PT. MARTINA BERTO TBK.

II. DASAR HUKUM
1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
2. UU RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
3. UU No. 3 Tahun 1969 Tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 Mengetahui Higiene
dalam Perniagaan dan Kantor-kantor.
4. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan Kebersihan
Serta Penerangan dalam Tempat Kerja.
5. Permennakertrans No.13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Kimia di Tempat Kerja.
6. Kepmen RI No. 187/MEN/1999 Tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
7. Permen Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta
Penerangan dalam Tempat Kerja.

III. PROFIL PERUSAHAAN
PT. Martina Berto Tbk merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1977 oleh Dr HC.
Martha Tilaar, (alm) Pranata Bernard, dan Theresa Bu Harsini Setiady. Perusahaan ini berlokasi
di Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri Pulogadung. Perusahaan ini bergerak di bidang
barang kosmetik, obat tradisional (jamu) dan pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan
kecantikan dan barang-barang obat tradisional. Selain itu, perusahaan memiliki dukungan dari
kegiatan bisnis yang dilakukan oleh anak perusahaannya, PT Cedefindo, yang merupakan
kosmetik manufaktur kontrak atau makloon dengan kering, semi-padat, cairan, dan aerosol.
Pada tahun 1981 perusahaan ini mendirikan pabrik di kawasan industri Pulogadung dengan
partnership Grup Kalbe. Setelah dua tahun kemudian, mendirikan pabrik keduanya PT. Sari
Ayu Indonesia untuk mendukung distribusin kosmetik.
Dari tahun 1988 - 1995 mereka melakukan konsolidasi dari beberapa bisnis yang diperoleh oleh
Martha Tilaar Group menjadi PT. Martina Berto.
Pada tahun 1999 PT. Martino Berto resmi menjadi perusahaan keluarga Martha Tilaar.

3

Tahun 2006 - 2008 meluncurkan produk dalam keindahan dan segmen perawatan
pribadi. Jaringan ekspornya semakin meluas ke pasar Eropa (Yunani dan Ukraina) dan
Asia (Jepang, Hongkong, dan Taiwan).
Tahun 2010, meluncurkan toko ritel baru. Martha Tilaar Shop (MTS), di luar Indonesia
untuk meraih pangsa pasar Internasional.
Pada tahun 1996 menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat
ISO 9001. Tahun 2000 menjadi satusatunya pendiri UN Global Compact dari Asia,
mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat GMP: CPKB (Cara Produksi Kosmetika yang
Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik). Tahun 2008 mendapatkan
penghargaan Most Admired Enterprise in ASEANdari ASEAN Business Forum dibidang
Inovation.

VISI DAN MISI PERUSAHAAN

Visi :
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan kecantikan dan industri
spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui teknologi modern, penelitian dan
pengembangan untuk mengoptimalkan nilai tambah kepada konsumen dan stakeholder lainnya.

Misi :
Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk perawatan
kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar kualitas internasional untuk
memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai segmen pasar dengan portofolio yang sehat
mampu mencapai peringkat tiga besar di setiap segmen di Indonesia.
Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua pelanggan dalam
proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan perdagangan;
Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang berkelanjutan;
Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten dan
produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan;
Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem, dan teknologi di
seluruh organisasi dan unit bisnis;
Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk kepentingan
semua stakeholder;

4

Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk dia pemegang saham;
Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal dengan fokus
jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus jangka panjang di pasar global
dengan produk yang dipilih dan merek.
Saat ini PT. Martina Berto merupakan perusahaan kosmetik yang menguasai pangsa pasar 95%
di Indonesia dan 4-5% pangsa pasar luar negeri.

HASIL USAHA
1. Segment A Plus
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, PAC Martha Tilaar, Martha Tilaar Solutions, Jamu Garden
Martha Tilaar
2. Segment A
Biokos Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar
3. Segment B
Sariayu Tilaar Martha, Martha Tilaar Caring Colours, Belia Martha Tilaar
4. Segment C
Mirabella, Cempaka,Pesona, Martina. Currently, Pesona and Martina products have been
sold in Malaysia through direct selling.

JUMLAH TENAGA KERJA

Jumlah pekerja dibagian manufacturing sebanyak 5000 orang pekerja. Perusahaan ini,
telah berhasil memperoleh beberapa sertifikat dibidang K3 antara lain ISO 9001, ISO 14001 dan
sertifikat GMP (Good Manufacturing Processing): CPKB (Cara Produksi Kosmetika yang Baik)
dan CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik).
Jam kerja pegawai dibagi menjadi 3 shift utama. Tenaga kerja di PT Martina Berto TBK
dilindungi oleh asuransi JAMSOSTEK. Dalam menangani kasus emergensi perusahaan
bekerjasama dengan RS Antam, RS Jayakarta dan RS Persahabatan.

PELAKSANAAN K3 DI PERUSAHAAN
K3 adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman,
sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta bebas
pencemaran lingkungan yang bertujuan agar produktivitas meningkat sesuai Undang-undang
No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Seperti kita ketahui bahwa kecelakaan kerja

5

bukan hanya menimbulkan korban jiwa maupun kerugian material bagi pekerja dan pengusaha
tetapi dapat juga mengganggu proses produksi secara menyeluruh dan merusak lingkungan yang
akhirnya berdampak kepada masyarakat luas. Karena itu perlu dilakukan upaya yang nyata
untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
secara maksimal.
Kesehatan Kerja sendiri mempunyai pengertian spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial, dengan usaha-usaha
promotif, preventif & kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang
diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit
umum.
Higiene Perusahaan merupakan salah satu faktor yang memegang peran penting untuk
menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan bebas dari PAK. Higiene perusahaan
sendiri adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang dengan mengadakan
penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif & kuantitatif dalam lingkungan
kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan
korektif kepada lingkungan tersebut serta lebih lanjut pencegahan agar pekerja dan masyarakat
sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat bahaya kerja serta dimungkinkan mengecap
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Soeripto, Ir., DIH., 1992).
Pada tanggal 19 Desember 2013, kami telah melakukan kunjungan ke PT MARTINA
BERTO Tbk yang bergerak di dalam industri kosmetik.
Dalam kunjungan tersebut kami mendapatkan beberapa hal yang menjadi pusat perhatian
kami yang berkaitan dengan higiene dan penerapannya di tempat kerja sehingga dapat
bermanfaat bagi bidang keilmuan kami. Dan bersama ini kami juga mengucapkan terima kasih
atas perkenaan dan arahan yang telah diberikan oleh PT. MARTINA BERTO Tbk.

IV. ALUR PRODUKSI

V. LANDASAN TEORI

A. DEFINISI
Higiene Perusahaan sendiri adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang
dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif & kuantitatif
dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk

6

dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta lebih lanjut pencegahan agar pekerja
dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat bahaya kerja serta dimungkinkan
mengecap derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Soeripto, Ir., DIH., 1992).
Berdasarkan peraturan Menteri perburuhan No.7 Tahun 1964 tentang syarat kesehatan,
kebersihan serta penerangan di tempat kerja ada beberapa hal yang menjadi ruang lingkup
hygiene industry diantaranya adalah:
1. Penyediaan air
2. Tempat kerja
3. Dapur,kamar makan dan alat keperluan makan
4. Perlengkapan fasilitas sanitasi
5. Pembuangan dan pengendalian limbah

B. FAKTOR BAHAYA DI LINGKUNGAN KERJA
1. Faktor Fisik
a. Suara Bising
Bising adalah bunyi yang tidak disukai, mengganggu dan menjengkelakan maupun
merusak pendengaran dan terkadang hal ini sangat individual (Eyaanoer, 1997)
menurut Kepmenaker No.Kep-51/MEN/1999, untuk kebisingan dengan intensitas
85dB., maka pekerja terpajan selama 8 jam sehari, kebisingan dengan intensitas 88
dB maka pekerja dapat terpajan selama 4 jam sehari dengan demikian setiap
kenaikan 3 dB maka waktu pemajanannya berkurang setengahnya. Telingan
manusia hanya mampu mendengar frekuensi antara 16-20.000 Hz.
1) Jenis-jenis kebisingan :
a. Kebisingan kontinyu dengan frekuensi yang luas (steady state, wide
band noise). Misalnya suara kipas angin, dapur pijar dll.
b. Kebisingan kontinyu dengan spektrum kebisingan sempit (steadt
state, narrow band noise). Misalnya gergaji sekuler, katup gas, dll.
c. Kebisingan terputus-putus (intermitten). Misalnya: lalu lintas pesawat
terbang.
d. Kebisingan impulsif/impact (impulsive noise), misalnya: pukulan,
tembakan bedil atau meriam dan ledakan.
e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan.
2) Akibat paparan kebisingan.

7

Terpapar kebisingan terdiri dari 85dB selama 8 jam dan 40 jam seminggu
maka menimbulkan penurunan atau kehilangan fungsi pendengaran yang
dapat terjadi secara sementara atau permanen.
3) Pengukuran kebisingan
Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan alat sound level
meter. Alat ini mengukur kebisingan antara 30-130dB dan frekuensi dari
20-20.000Hz.

b. Pencahayaan.
Pencahayaan yang baik memungkinkan pekerja bisa melihat objek yang dikerjakan
dengan jelas, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Intensitas cahaya dapat
diukur dengan Luxmeter.
Sifat-sifat pencahayaan
1. Pembagian iluminasi pada lapangan penglihatan sesuai jenis pekerjaan.
2. Pencegahan kesilauan.arah sinar
3. Warna
4. Panas cahaya.
Pengaruh pencahayaan yang kurang terhadap kesehatan
1. Iritasi, mata berair dan mata merah.
2. Penglihatan ganda
3. Sakitkepala
4. Ketajaman mata menurun.
5. Akomodasi dan konvergensi menurun.

c. Iklim dan suhu.
Respon fisiologis akan tampak jelas pada pekerja dengan iklim panas. Saridewi
(2002) menyatakan bahwa perbedaan peningkatan tekanan darah yang signifikan
pada tenaga kerja seblum atau sesudah terpapar panas yang memperburuk kondisi
tenaga kerja. Sistem termoregulasi pada hipotalamus akan merespon dengan
beberapa mekanisme kontrol seperti konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi
dengan tujuan untuk mempertahankan suhu tbuh sekitara 36-37 derajat celcius.
Namun apabila paparan dibiarkan terus menrus akan menyebabkan kelelahan dan
akan menyebabkan timbulnya efek heat stress (ErwinD 2004).

8

Menteri Tenaga Kerja RI mengeluarkan standar NAB untuk lingkungan fisik
tertentu di lingkungan kerja yang salah satunya adalah NAB iklim kerja dengan
menggunakan indeks suhu bola basah (ISBB) diadopsi dari Wet Bulb Globe
Temperature Index (WBGTI) dikeluarkan oleh ACGIH.
NAB menurut pasal 2 KEP-51/MEN/1999 untuk suhu di tempat kerja adalah sbb:
Jika perbandingan kerja 75% dan istirahat 25% untuk pekerja ringan dalam
8 jam sehari adalah 30 derajat celcius., sedang 26,7 derajat celsius dan berat
25 derajat celsius.
Jika perbandingan kerja 50% dan istirahat 50% untuk pekerja ringan dalam
8 jam sehari adalah 31,4 derajat celcius., sedang 29,4 derajat celsius dan
berat 27,9 derajat celsius.
Jika perbandingan kerja 25% dan istirahat 75% untuk pekerja ringan dalam
8 jam sehari adalah 32,2 derajat celcius., sedang 31,1 derajat celsius dan
berat 30 derajat celsius.

d. Getaran
Ada dua macam getaran yaitu: getaran seluruh badan dan getaran lengan/tangan (
handaram). Getaran seluruh tubuh adalah getaran yang bisa melalui kaki ( tempat
berdiri) atau melalui tempat duduk. Getaran ini terjadi biasa pada alat pengangkut
eperti truk dan traktor. Sedangkan getaran lengan-tangan adalah getaran yang
terjadi melalui lengan dan tangan, misalnya pada gerinda, bor tangan, dan gergaji
listrik.

Tiga aspek penting pada getaran :
Level(m/dr2)
Frekuensi (Hz)
Lama pemarapan (jam)
Efek getaran :
Hand and arm vibration pada frekuensi 8-1000Hz dapat menyebabkan
white finger serta kelainan otot rangka.
Whole body vibration menyebabkan getaran pada ala-alat dalam sehingga
dapat menyebabkan gejala sakit dada, LBP, dan gangg.penglihatan
Pada frekuensi rendah dapat menyebabkan sea sickness.

9

Pengukuran getaran :
Pengukuran getaran dilakukan dengan menggunakan vibration acceleration
meter.

e. Radiasi
Jenis radiasi dapat dibedakan menjadi
1. Radiasi pengion: alpha, beta, gamma, sinar X dan neutron.
2. Radiasi non pengion: UV, IR, ultrasound dan mikorowave.

Pengaruh radiasi terhadap kesehatan:
1. Efek stokastik: tergantung frekuensi tingkat keparahan tidak tergantung
dosis. Contoh : karsinogen, teratogen, mutagen.
2. Efek nonstokastik: tegrantung frekuensi dan dosis. Cth: katarak, kerusakan
nonmalignan kulit.
Alat untuk mengukur tingkat radiasi adalah survei meter dan dosimeter personal.

2. Faktor Kimia
a. Bahan-bahan kimia:
Fume (asap) :
Partikel-partikel zat padat yang terjadi oleh karena dari bentuk gas yang
biasanya sesudah penguapan benda padat yang dipijarkan.
Gas :
Bentuk wujud yang tidak mempunyai bentuk bangunan sendiri,
melainkan mengisi ruang tertutup pada keadaan suhu dan tekanan normal.
Uap:
Bentuk gas dari zat-zat yang dalan keadaan biasa dberbentuk zat padat
atau zat lain yang dapat dikembalikan pada tingkat wujud semula.
Kabut
Debu

b. Efek-efek bahan kimia
Iritasi
Reaksi alergi: flour, garlic powder.

10

Asfiksia
Cancer
Efek sistemik: otak ,peripheral nervous sytem, pembentukan sel darah,
ginjal, paru
Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, juga dapat menyebabkan resiko
keselamatan kerja berupa kebakaran dan peledakan, akibat dari bahan
kimia yang mudah tebakar dan meledak seerti pelaruh organik atau gas-
gas yang kontak dengan sumber api.

c. Pengukuran.
Pengukuran faktor kimia di urara mengunakan media yaitu: gas detektor
yang prinsip kerjanya adalah detektor tersebut akan menghisap baha-bahan
kimia di udara, dan kemudian bereraksi dengan reagen yang sudah tesedria
di dalam tabung detektor sehingga dapat diketahui nilai kualitas dan
kuantitas.
Pengambilan sampel debu dilakukan secara impingmen, yaitu: filtrasi,
presipitasi, sedimentasi, dan segala kombinasinya, alatnya disebut
imprengen, prinsipa kerjanya adalah debu dihisap dan mengalami
imprengemen dan sejumlah debu dihitung di bawah mikroskop.

d. Nilai ambang batas.
NAB faktor kimia diatur berdasarkan surat edaran No.SE 01/MEN/1997
tentang NAB faktor kimia di udara lingkungan kerja.
Kategori nilai ambang batas:
1. NAB rata-rata selama jam kerja.
2. NAB pemaparan singkat.
3. NAB tertinggi

3. Biologis
Potensi bahaya yang mungkin terjadi di ling.kerja yang disebabkan oleh adanya
mikroorganisme sebagai penyebab dari proses produksi.
Bahaya biologi meliputi :
Infeksi akut dan kronis

11

Parasit
Produk toksik.
Reaksi alergi terhadap tanaman dan hewan.
Irritan.

Klasifikasi faktor biologis meliputi :
1. Mikroorganisme dan toksinnya. Contoh: virus, bakteri dan produknya
2. Arthropoda. Contoh: crustacea
3. Alergen dan toksik tanaman
4. Reaksi yang ditimbulkan: dermatitis alergi, asma
5. Protein alergen dari hewan vertebrata
6. Reaksi alergi yang ditimbulkan melaui urin, feses, rambut dan saliva.

Cara masuk biological agents ke dalam tubuh melalui:
1. Inhalasi
2. Ingesti
3. Kontak kulit
4. Kontak dengan mata, hidung, dan mulut

4. Pengendalian
1. Pemberian label dan simbol pada wadah untuk bahan yang berisikan tentang: nama
bahan kimia, resiko yang ditimbulkan, jalan masuknya ke tubuh, efek paparan, cara
penggunaan yang aman dan pertolongan pertama keracunan.
2. Memiliki MSDS, yaitu semua informasi mengenai suatu bahan kimia yang dibuat
oleh seuatu perusahaan, berisikan antara lain.: kandungan/komposisi, sifat fisik dan
kmia, cara pengankutan dan penyimpanan, informasi APD sesuai NAB, efek
terhadap kesehatan, gejala keracunan, pertolongan pertama keracunana, alamat dan
nomer telepon pabrik pembuat atau distributor.
3. Memiliki petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia yang mempunyai kewajiban ,
melakukan identifikasi bahaya melaksanakan prosedur kerja aman,
penganggulangan keadaan darurat dan mengembankan pengetahuan K3 di bidang
kimia.



12

BAB II
TINJAUAN TEORITIK

A. PELAKSANAAN
- Tanggal dan waktu : 19 Mei 2014, 10.00 12.00 WIB
- Lokasi pengamatan : Lantai 2 bagian produksi PT Martina Berto Tbk
- Dokumen pengamatan : tidak diperkenankan mengambil dokumentasi





























13

BAB III
HASIL PENGAMATAN

A. Faktor Bahaya Fisika
1. Bising
Secara umum keadaan faktor kebisingan tidak dapat dievaluasi dengan baik karena
keterbatasan ruang gerak. Pada pengamatan kami, terdapat bising dari mesin AC
yang terletak di luar ruangan pekerja.
2. Penerangan
Sumber penerangan berasal dari sumber sinar matahari dan sumber buatan (lampu).
Sumber sinar matahari melalui sebagian atap gedung yang dibuat tembus cahaya,
luas tiap ruangan kerja dalam proses produksi bervariasi dari 4 x 4m, 4 x 8m. Di
tempat ini terdapat dinding kaca tembus pandang sepanjang ruangan, pintu kaca
sebagai pintu masuk. Penerangan buatan menggunakan lampu neon berwarna putih.
Pada ruangan ini digunakan warna putih terang pada dinding dan langit-langit.
Secara umum penerangan cukup baik, menerangi daerah kerja secara merata dan
tenaga kerja secara cermat.
3. Iklim Kerja
Suhu ruangan tidak dapat kami amati. Sumber panas berasal dari mesin. Untuk
mengurangi panas sudah terdapat kipas angin dan AC yang bekerja dengan baik.
Bagi tenaga kerja disediakan air minum.
4. Getaran
Berdasarkan pengamatan kami tidak ada sumber getaran.
5. Radiasi
Tidak ditemukan permasalahan dengan radiasi.

B. Faktor Bahaya Biologi
Pada saat dilakukan pengamatan, tidak ditemukan permasalahan yang berkaitan dengan
faktor biologi.

C. Faktor Bahaya Kimia
Ditemukan bahan-bahan kimia di tempat penyimpanan sementara yang berada di
lapangan terbuka yang berada dalam gedung.


14


D. Kebersihan (Higiene Perusahaan) / Faktor Lingkungan
Daerah kerja tampak bersih. Di luar ruangan kerja terdapat 2 ruang wastafel terbuka
yang luas, dilengkapi dengan petunjuk cuci tangan, cermin, sabun cair, tisu, tempat
sampah. Di lingkungan kerja terdapat banyak toilet yang cukup untuk seluruh tenaga
kerja perusahaan. Dalam hal sanitasi makanan tidak diketahui sumber dan cara
pengelolaan makanan tersebut, namun pada pengamatan mengenai konsumsi untuk para
pekerja didapatkan dari catering, begitu pula dengan penyediaan air minum.

E. Petugas Higiene Industri
Pada pengamatan kelompok kami terdapat peraturan yang mengharuskan bagi seluruh
tenaga kerja untuk melakukan cuci tangan, penggunaan sarung tangan karet, masker
debu biasa dan nursing cap di tempat kerja (dirty prevention) sebelum melakukan
aktivitas kerja. Dalam hal ini tidak terdapat personal higiene yang kurang baik, karena
setiap tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di setiap ruangan selalu menerapkan
peraturan tersebut. Namun dalam hal ini kami menemukan masker yang telah dicuci
dijemur dilantai bawah dekat tumpukan barang-barang. Tenaga kebersihan cleaning
sevice kami amati aktif bekerja dan cukup baik untuk menjaga kebersihan lingkungan
kerja.

F. Pengolahan Limbah
Terdapat tempat pengolahan limbah di tempat terbuka dalam area perusahaan.
Pengolahan limbah cair pada perusahaan tersebut secara biologi, tempat pengolahan
mengeluarkan bau yang menyebar di sekitar area tersebut. Hasil akhir dari pengolahan
limbah dikirim ke PT. PPLI (Persadha Pamunah Limbah Industri).










15


BAB IV
PEMECAHAN MASALAH


No Unit Kerja Permasalahan Penanganan Saran
1 Bahan Kimia Bahan kimia diletakkan
dilapangan terbuka dalam
area gedung perusahaan
Memindahkan
bahan kimia ke
dalam ruangan
penyimpanan
Jika ruangan
penyimpanan
penuh bahan kimia
yang dilapangan
sebaiknya ditutup
rapat
2 Personal
Higiene
Masker yang sudah
digunakan dicuci dan
dijemur ditempat yang
berada bersama tumpukan
barang-barang
Menyediakan
tempat jemuran
khusus yang
terpisah dari
tumpukan
barang-barang
Jika memungkinkan
masker dicuci di
laundry
3 Pengolahan
limbah
Bau yang ditimbulkan
menyebar di sekitar area
limbah
Area pengolahan
limbah dibuat
tertutup dengan
exhaust fan
Memindahkan area
pengolahan limbah
dengan jarak yang
lebih jauh
















16

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap pembuatan
kosmetik. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personalia, bangunan, peralatan,
dan perlengkapan,bahan produksi serta wadahnya, dan setiap hal yang dapat merupakan
sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran hendaklah dihilangkan melalui
program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.
Secara umum penatalaksanaan sistem K3 di PT.Martina Berto Tbk dari penilaian
higiene industri sudah berjalan cukup baik. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu di
evaluasi lebih lanjut dikarenakan kurangnya data yang diperoleh dari beberapa faktor
dibawah ini:
a. Faktor Fisik
1. Bising
Tidak dapat dievaluasi lebih lanjut karena keterbatasan data dan waktu.
2. Penerangan
Tidak ditemukan permasalahan.
3. Iklim Kerja
Tidak ditemukan permasalahan.
4. Getaran
Tidak dapat dievaluasi karena keterbatasan data dan waktu.
5. Radiasi
Tidak dapat dievaluasi karena keterbatasn data dan waktu.
b. Faktor Kimia
Terdapat bahan kimia di ruang terbuka.
c. Faktor Biologi
Pada saat dilakukan pengamatan, tidak ditemukan permasalahan yang berkaitan
dengan faktor biologi.
d. Kebersihan
Daerah kerja tampak bersih.
e. Petugas Higiene Industri
Masker dicuci dan dijemur ditempat yang ada tumpukan barang-barang.


17

f. Pengolahan Limbah
Tempat pengolahan limbah mengeluarkan bau yang mencemari lingkungan.


B. SARAN
Perlunya profil perusahaan yang dapat diakses oleh tim P2K3 sehingga hal yang
berkaitan dengan higiene perusahaan dapat dievaluasi dengan lebih baik.
Perlu adanya upaya program promosi kesehatan secara berkala untuk tenaga kerja
perusahaan
Pada tempat area pengolahan limbah sebaiknya jauh dari lingkungan kerja agar
limbah dapat dikelola dengan baik dan tidak mencemari lingkungan sekitar kerja.
























18







19