Anda di halaman 1dari 10

15 PENGERTIAN KOMUNIKASI

DARI
BERBAGAI PERSPEKTIF




Sandy Alvisabil 210 110 120 344
M.Galuh Ilham 210 110 120 355
Diana R. Fransisca 210 110 120 478

Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran
SAT 2014
Perspektif
PERSPEKTIF MEKANISTIS
Perspektif mekanistis komunikasi manusia menekankan pada unsure fisik komunikasi,
penyampaian dan penerimaan arus pesan seperti ban berjalan di antara sumber / para
penerimanya.semua fungsi penting dari komunikasi terjadi pada saluran, lokus, perspektif
mekanistis. Mekanisme merupakan perspektif yang paling sering dianut oleh para ahlo yang
minat utamanya bukan pada komunikasi manusia, misalnya, para ahli psikologi sosial, para
ahli antropologi, para spesialis dalam manajemen perusahaan, dan sejenisnya. Namun
begitu, jejak perspektif mekanistis merasuki sejumlah besar penelitian komunikasi.
Walaupun sebagian terbesar para komunikologis akan menolak menyebut diri
mereka sebagai penganut mekanistis, namun begitu, banyak diantara mereka yang masih
mempergunakan berbagai unsure konseptual atau teoritis mekanisme dalam mengarahkan
jalan pikiran dan usaha usaha penelitian mereka.
Sekalipun ada kesalahan yang dituduhkan, bersifat antihumanis, perspektif mekanistis
merupakan perspektif yang telah tersebar luas, mudah dipakai, dan bernilai untuk meninjau
hubungan di antara variable komunikasi manusia. Ia masih tetap hanya sebuah perspektif, di
antara berbagai yang ada, sebagai suatu kerangka untuk mengorganisasi secara konseptual
dan memahami proses komunikasi manusia.
Sebagai peneliti komunikasi manusia, kita perlu memahami mekanisme sebagai suatu
perspektid unntuk memahami komunikasi manusia. Ia bukan satu satunya perspektif, ia
pun tidak salah. Selama orang mempergunakan mekanisme untuk memahami fenomena
komunikasi, kita perlu memahaminya.









MODEL MEKANISTIS
Erving Goffman (1969:IX), ahli sosiologi memandang komunikasi sebagai saluran yang
terorganisasikan secara sosial untuk menyampaikan informasi dan melanjutkan lebih jauh
dengan mengatakan bahwa komunikasi hanya secara nyata dan dititikberatkan
pemakaiannya pada mekanistis saja.
Dengan perkataan lain lagi, perspektif komunikasi yang dianut oleh sebagai besar orang,
termasuk orang awam maupun para ahli, berisi dosis mekanisme yang kuat. Ia mudah
dipergunakan bagi pembentangan secara visual dalam bentuk model yang cukup terdiri dari
kertas dan pensil saja, yang jelas berkat penekanannya yang ada padanya atas sifat
spasialnya.

Model Mekanistis Komunikasi Manusia
Proses saling tukar menukar pesan itu dilukiskan dalam Gambar 1 sebagai suatu saluran
anti kontinu. Pada kenyataannya, orang dapat memvisualisasikan saluran alur kontinu.
Pada kenyataannya, orang dapat memvisualisasikan saluran itu sebagai semacam ban
berjalan (corveroy belt) yang selalu dan secara simultan berjalan antara kedua sumber /
penerima, yang berperan sebagai tenaga penggerak dalam analogi ban berjalan. Dan pesan
mengalir terus melalui saluran ban berjalan dalam suatu alur yang divisualisasikan pada tiap
titik pada saluran itu daripada hanya kedua titik sebagai terpapar dalam Gambar 1.
Jika kita memakai analogi ban berjalan, titik asal di mana proses penyampaian penerimaan
mulai menjadi kurang penting dan kurang dapat dibedakan saat prose situ terus berjalan.
Karena itulah, membedakan satu komunikatif sebagai sumbernya dan yang lain sebagai si
penerimanya menjadi tidak hanya tidak mungkin akan tetapi juga tidak berarti. Namun
demikian, penyampaian dan penerimaan pesan tetap merupakan suatu yang penting dan
sentral dari model mekanistis itu.

Model Jaga Gerbang (Gate Keeping)
Istilah penjaga gerbang ini tampaknya berasal dari penjabaran teori medan Kurt Lewin
(1951) dalam ilmu sosisl dan mengemukakan fungsinya sebagaimana yang tertar pada istilah
itu sendiri. Fungsi penjaga gerbang itu terdapat pada saluran atara sumber dan penerima
dan berperan sebagai perantara keduanya.
Gambar 2 memperlihatkan fungsi penjaga gerbang tersebut dalam komunikasi manusia
dalam usaha model arus pesan sederhana yang terdiri dari tiga unsur. Biasanya rantai ini
dapat diperluas menjadi empat, lima, atau lebih komunikator, masing masing dari mereka
akan berfungsi sebagai penjaga gerbang kecuali bagi sumber/penerima yang pertama dan
terakhir dalam rangaian tersebut.
Penjaga gerbang berfungsi menerima informasi dari suatu sumber dan merelai informasi
tersebut kepada seorang penerima. Fungsi jaga gerbang ini dapat pula bekerja dalam dua
arah. Konsep penjaga gerbang ini mungkin kita kenal dalam pengertian sebagai rangkaian
informasi atau desas desus (rumors) yang disebarkan ke seluruh sistem sosial yang
bersangkutan.

PERSPEKTIF PSIKOLOGIS
Perspektif psikologis tentang komunikasi memfokuskan perhatiannya pada individu si
komunikator / penafsir baik secara teoritis maupun empiris. Secara lebih spesifik lagi, yang
menjadi fokus utama dari komunikasi adalah mekanisme internal penerimaan dan
pengolahan informasi. Fokus ini telah menimbulkan orientasi komunikasi manusia yang
terpusat pada si penerima. Walaupun bidang psikologis sebenarnya yang dipinja, perspektif
ini masih tidak jelas, unsure unsure perantara dari behaviorisme S-O-R dan psikologi
kognitif, khususnya teori keseimbangan, cenderung untuk mendominasi usaha penelitian
para ilmuan komunikasi yang mempergunakan perpektif psikologis.
Perspektif psikologis tidaklah merupakan perspektif yang menyatu secara manunggal dalam
pengkajian komunikasi. Sebaliknya, dalam kerangka perspektif ini terdapat pendekatan
metodelogis, konsep yang dipakai, serta definisi operasinal yang digunakan, yang amat
beranekaragam. Sampai pada tingkat tertentu, ketidaksamaan ini mencerminkan sebagian
besar kekalutan yang terdapat di dalam disiplin psikologi. Sudah tentu, penekanan pada
filter konseptual yang berupa black box itu (seperti misalnya sikap, persepsi, keyakinan dan
keinginan) telah mempercepat timbulnya arah yang berlainan ini.
Hendaknya juga telah menjadi jelas bahwa banyak dari penteorian, pembuatan model, dan
penelitian dalam kommunikasi tidak menerapkan perpektif psikologis dalam bentuknya
yang murni, pada kenyataannya, bagian terbesar dari penelitian tentang dan sekitar
komunikasi barangkali merupakan pencampuran unsure mekanistis dan psikologis, mungkin
dengan penekanan yang lebih besar pada aspek psikologisnya.
Seandainya kita menghitung suara semua anggota Speech Communication Association and
International Communication Assiciation, misalnya, kita barangkali akan mengidentifikasikan
diri mereka sebagai penganut sejenis perspektif psikologis. Menurut Khun, paradigm yang
paling popular di dalam suatu bidang ilmu adalah paradigm sebenarnya dari ilmu tersebut,
yang paling terkenal dan digemari secara khas. Dengan sendirinya, setiap peneliti
komunikasi yang seruis harus betul betul mengenal dan mengetahui perspektif psikologis.



Teori Peramalan Respon
Tujuan penjelasan S-R berpusat pada peramalan, dan peramalan berpusat pada respons.
Sebenarnya respon dianggap sebagai perulaku yang dapat secara langsung diamatai, dan
penjelasan psikolologi berusaha menghubungkan, yakni menjelaskan perilaku dalam artian
stimuli dan keadaan internal. Memang jelas bahwa respons tidak dapat diramalkan semata
mata dalam arti sifat fisik stimulus. Respons lebih dapat diuntungkan dengan keadaan
internal yang diaktifkan oleh psikologis.
Untuk dapat memahami penjelasan yang didasarkan secara psikologis ada satu factor
respons perilaku yang perlu diketahui. Sejarah kondisi stimulus sebelumnya yang telah
dihadapi oleh organism penting diketahui untuk meramalkan perilaku, bilai situasi stimulus
tertentu diketahui. Dengan perkataan lain, keadaan internal organism berisi anasir stimulasi
yang terdahulu, yang mempengaruhi repsons dalam situasi berkutnya yang dinilainya sama.
Jika stimulasi smuala mempengaruhi respons kepada kondisi stimulus tertentu, maka
setidak tidaknya beberapa unsure dari keadaan antara internal itu sendiri merupakan
produk atau respons pada pengalaman stimulus terdahulu.

Model Psikologi Komunikasi Manusia
Orientasi S-R cukup menonjol dalam perspektif psikologis tentang komunikasi manusia.
Pertama, perspektif ini menganggap bahwa manusia baerada dalam suatu medan stimulus,
yang secara bebas disebut sebagai suatu lingkungan informasi. Di sekililing setiap orang
terdapat arus stimuli yang hamper tidak terbatas jumlahnya (Gambar 3), semuanya dapat
diproses melalui organ organ indra penerima, yakni penglihatan, pendenngaran,
perabaan, perabaan, penciuman, dan rasa. Dalam pengertian, semua stimulus ini bersaing
unntuk diterima karena banyaknya sehingga jumlahnya melebihi kaoasitas manusia untuk
menerima mengolahnya.
Sudah tentu, manusia yang sedang berkomunikasi tidak hanya menerima stimuli akan tetapi
iapun menghasilkan stimuli. Sama sebagaimana halnya dengan konsep sumber/penerima
dalam model mekanistis, dalam model psikologis manusia ditandai sebagai mahhluk yang
memiliki seorang komunikator/penafsir stimuli informasional.

PERPEKTIF INTERAKSIONAL
Walaupun asal mula perspektif interaksional komunikasi manusia dapat ditelusuri sampai ke
filsafat eksistensialisme dan bahkan ke Socrates, sumbernya yang khusus dan komprehensif
dari perspektif ini secara langsung ataupun tidak langsung adalah interaksionalisme simbolis
dalam sosiologi. Mead dan Blumer telah bertindak sebagai sumber sumber utama bagi
filsafat dasarnya, yang melandasi model interaksional komunikasi manusia. Secara khusus
lagi, arah perkembangan dalam masyarakat ilmiah komunikasi manusia yang
memperlakukan komunikasi sebagai dialog adalah adanya indikasi yang terang sekali daru
oendekatan interaksional pada studio komunikasi manusia.
Popularitas interkasionalisme berasal sebagian dari reaksi humanistis tergadao mekanisme
dan psikologisme. Akan tetapi, yang lebih penting lagi, adalah pemberian penekanan yang
manusiawi pada diri sebagai unsure pokok perpektif interaksional. Tetapi daripada
memandang diri hanya sebagai internalisasi pengalaman indivisual, interaksional lebih
menerangkan perkembangan diri melalui proses penunjukan diri di mana individu dapat
bergerak ke luar dari diri dan melibatkan dirinya dalam introspeksi dari sudut pandangan
orang lain.
Dengan cara yang sama, individu dapat melibatkan dirinya dalam pengambilan peran dan
mendefinisikan diri maupun orang lain dari sudut pandang orang lain. Fenomena
pengambilan peran inilah yang memungkinkan adanya pengembangan diri semata mata
sebagai proses sosial dalam proses introspeksi ataupun ekstrospeksi. Oleh karena, hanya
melalui interaksi sosial, diri atau hubungan dapat dikembangkan. Dan pengambilan peran
tidak hanya merupakan unsure sentral dari perspektif interaksional, akan tetapi juga
merupakan unsur yang unik.
Perpektif interaksional menekankan tindakan yang bersifat simbolis dalam suatu
perkembangan yang bersifat proses dari komunikasi manusia. Penekanannya pada tindakan
memungkinkan pengambilan peran untuk mengembangkan tindakan bersama atau
mempersatukan tindakan individu dengan tindakan individu individu yang lain untuk
membentuk kolektivitas. Tindakan bersama dari kolektivitas itu mencerminkan tidak hanya
pengelompokan sosial akan tetapi juga adanya oersaan kebersamaan ataupun keadaan
timbale balik dari individu individu yang bersangkutan, yang dilukiskan dalam model
sebagai kesearahan orientasi individu individu terhadap diri orang lain, dan objek.
Barangkali implikasi yang paling penting dari perspektif interaksional bagi studio komunikasi
manusia adalah adanya penyempurnaan pemberian penekanan pada metodologi penelitian.
Implikasinya yang pertama mencakup pemahaman yang disempurnakan tentang peran yang
akan dijalankan oleh peneliti. Daripada hanya digambarkan sebagai seorang pengamat yang
sifatnya berat sebelah, tidak bias, dan tidak tertarik atau fenomena empiris, peneliti
interaksional menjalankan peranannya sebagai seorang pengamat partisipan dalam
pelaksanaan penelitiannyta. Ia melibatkan dirinya dalam pengambilan peran agar dapat
menemukan sudut pandangan para subjek penelitian. Dari sudut pandang mereka, peneliti
mengoperasionalkan konsep dan menjalankan observasi empirisnya, akan tetapi, validasi
konsep penelitiannya bergeser dari criteria eksternal ke sudut pandangan para subjek
penelitian itu sendiri.
Perpektif interaksional dengan jelas merupakan sumber yang menarik oergatuab irabf dakan
oebfertuab vagwa ua verada dalam tahap perkembangan yang kontinu. Dalam artian
sebagai revolusi yang masih belum tuntas setiap penemuan penelitian secara relative
bersifat baru dan mengarah ke banyak arah yang baru. Penelitian yang kontemporer
mencerminkan jiwa penelitian yang sesungguhnya dalam artian bahwa para peneliti tidak
terlalu banyak melibatkan diri dalam pengukuhan atau verifikasi hipotesis, akan tetapi lebih
banyak berusaha menemukan bagaimana hipotesis itu seharusnya. Penelitian interaksional
masih harus banyak memberikan jawaban pada masalah ataupun masih harus menghasilkan
banyak jawaban. Ia telah menimbulkan banyak masalah baru yang sebelumnya masih belum
diketahui sebagai masalah bagi penelitian.
Pada sisi lain, penelitian interaksional kurang memiliki arah atau fokus dalam upaya
upayanya. Para peneliti harus masih harus mengembangakan metodologi baru yang
diperlukan bagi panduan interaksional / dialogis dan, sebagai gantinya, bukan mencoba
dengan paksa mencocokan masalah penelitian interaksional ke dalam metodologi tradional
khususnya yang bersikap psikologis. Oleh karenanya, para peneliti yang didorong faham
interaksionalisme juga belum mengembangkan fokus bersama tentang variable apa yang
paling penting, konsep apa yang perlu dikembangkan atau dikaji, dan kea rah mana usaha
mereka itu selauaknya diarahkan. Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa penelitian yang
terprogramkan, yang menghasilkan kumulasi hasil penelitian tidak menandai penelitian
komunikasi dalam paradigm interaksional.
Sebagai akibatnya, sebagian anggota masyarakat ilmiah cenderung memandang rendah
perspektif interaksional. Sudah tentu itu hak mereka dan bahkan kewajiban mereka untuk
memandang pengkajian disiplin ilmu dengan kewaspadaan yang kritis. Namun, sayangnya,
banyak dari kritik itu didasarkan pada criteria criteria yang salah --- metodelogi
metodelogi yang lain atau yang belum dikenal, yang tidak mereflesikan pendekatan yang
lebih tradisional dalam melakukan penelitian. Argumen argumen seperti sinonim yakni,
mengkritik satu paradigma dari sudut pandangan yang lain benar benar menyesarkan dan
tidak sesuai dengan jiwa penelitian ilmiah. Tidak akan membanyak kemanapun.
Secara relative persepktif interaksional masih baru bagi disiplin komunikasi manusia. Nilai
sesungguhnya yang diperlihatkan masih harus direalisasikan. Potensi bagi wawasan baru
dalam proses komunikasi manusia luar biasa. Dalam satu hal, tinjuan interaksional dialogis
tentang komunikasi manusia sedang dalam masa bulan madu. Ia hanya dapat diwvaluasi
atas dasar potensinya. Kita harus memgambil sikap menunggu dan melihat. Pada waktu ini,
pendekatan bersikap revolusioner dan berbeda sekali. Apa yang akan terjadi dalam 20 tahun
yang akan datang akan memperlihatkan nilai perspekstif itu kepada masyarakat ilmiah
secara langsung dapat dilihat kualitasnya dari penemuan penelitiannya. Dalam situasi
apapun, apapun yang terjadi apakah makin meningkat kepopulerannya dan makin penting
penelitiannya, atau hilangnya interaksional memberikan pandangan humanistis yang segar
pada komunikasi manusia.

Model Interaksional Komunikasi Manusia
Untuk melukiskan model inteaksional tentang komunikasi manusia dalam gambar
berdimensi dua bukanlah pekerjaan yang mudah. Meskipun gambar 4 dianggap dapat
mencerminkan model interaksional, dalam banyak hal ia dapat memberikan gambaran yang
salah. Pertama tama, model itu mengemukakan adanya pemisahanan diri, orang lain, dan
objek, yang realitasnya, orientasi terhadap ketiganya bersifat simultan dan tidak terpisahkan
lebih merupakan orientasigestalt, masing masing mempengaruhi oleh yang lainnya.
Model inipun sebagai yang tergambarkan, menggambarkan kemangunggalan yang
unidimensional dari diri, oranglain, objek, dan konteks cultural, yang jelas tidak
mencerminkan realitas. Model ini juga tidak memungkinkan secara jelas menggambarkan
tindakan, yang merupakan sine qua non dari perspektif interaksional.
Dengan kata lain, gambar 4 dapat merupakan gambar model interaksional, akan tetapi
gambar lazimnya tergantung pada pembatas kertas yang berdimensi dua tinggi dan lebar.
Sebagaimana model model yang dikemukakan dalam pembadahasan yang terdahulu,
beberapa perpektif tidaklah mudah untuk disesuaikan pada konsep model komunikasi
sebagai lukisan dalam bentuk gambar.

Tempat (Lokus) Pengambilan Peran
Umumnya, perspektif interaksional di bidang komunikasi manusia merupakan reaksi
humanistis terhadap mekanisme dan asumsi yang menyertainya tentanng kelineran yang
terletak dalam saluran. Perpektif psikologis faham behaviorisme S-O-R-R sebenarnya tidak
teralalu mengecewakan seperti mekanisme, akan tetapi model pelazimanan yang tesirat
dalam faham behaviorisme membuat perspektif ini tidak dapat diterima dalam filsafat
humanistis. Kedua perspektif itu terkandung di dalamnya kelinearan factor factor kuasi
kausal yang menentukan mekanistis atau psikologis, sampai pada batas batas tertentu,
individu menjadi korban dari pengaruh eksternal.







PERSPEKTIF PRAGMATIS
Perspektif pragmatis komunikasi manusia adalah yang paling berbeda dalam arti asal mula
filosofisnya dan asumsi fundamental yang melandasinya. Tampaknya, pada prinsipnya, ia
merupakan alternatif bagi perspektif mekanistis dan psikologis, dengan fokusnya pada
urutan perilaku yang sedang berlangsung dalam ruang lingkup filosofis dan metodelogis
teori sistem umum dan teori informasi.
Penekanannya pada urutan interaksi yang sedang berjalan, yang membatasi dan
mendefinisikan sistem sosial, merupakan pemindahan dari penekanan perpektif
interaksional pada pengambilan peran yang diinternalkan. Meskipun demikian, pemberian
penekanan pada perilaku interaktif, sekalipun penjelasan kejadiannya itu berbeda,
merupakan penekanan yang sama bagi perspektif pragmatis dan interaksional.
Yang fundamental bagi setiap studi komunikasi manusia yang serius dalam perspektif
pragmatis adalah daftar kategori yang menyatakan fungsi yang dilakukan oleh komunikasi
manusia dan yang memungkinkan tindakan komunikatif untuk diulang kembali pada saat
yang berlainan. Langkah berikutnya dalam memahami komunikasi manusia adalah
mengorganisasikan urutan yang sedang berlangsung ke dalam kelompok kelompok
karakteristik sehingga peristiwa itu cocok satu sama lainnya dalam suatu pola yang dapat
ditafsirkan. Urutan itu diberi cara penggunaannya berkat keterbatasan yang diberikan pada
pilihan interaktif; yakni, makin redundan urutan itu, makin banyak struktur yang
diperlihatkan oleh pola interaksi (dan, karenanya, sistem sosial komunikasi itu).
Penelitian dalam perspektif pragmatis masih sangat baru dan masih agak jarang. Banyak
penelitian berpusat pada setting interpersonal dan kelompok, walaupun perpektif itu dapat
diterapkan kepada setiap tingkat sistemis, termasuk komunikasi organisasi dan massa.
Penelitian pragmatis dalam komunikasi manusia mencerminkan pertumbuhan yang pesat
dari sistem kategori untuk menganalisa fungsi komunikatif dan lebih mencerminkan
perhatian yang khusus dan unik dari setiap peneliti daripada sekedar suatu pengkajian
paradigmatic yang jelas tegas tentang fenomena komunikatif yang dilaksanakan oleh
sebagian besar masyarakat.
Perspektif pragmatis komunikasi dari perspektif pragmatis sama saja dengan
memperbaharui secara drastic pola pikiran yang semuyla tentang komunikasi. Sebagai
contoh, mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai melakukan suatu (seperti misalnya
mengirimkan atau dikenal dan konsisten dengan cara kita berpikir yang konvensional
tentang proses komunikasi. Akan tetapi untuk mengkonseptualisasikan komunikasi sebagai
suatu tindakan partisipasi atau memasuki suatu sistem komunikasi ataupun hubungan
memerlukan goncangan pada cara berpikir kita yang tradisional. Meskipun demikian,
kemampuan untuk mengenal cara kita berpikir dan menggunakan berbagai perspektif
merupakan suatu tanda seorang yang terpelajar, dan kemampuan untuk
mengkonseptualisasikan, adalah isyarat adanya pemahaman yang meningkat.

Model Pragmatis Komunikasi Manusia
Perspektif pragmatis jelas sulit untuk dilukiskan dalam model komunikasi yang berbentuk
gambar. Setelah betul betul mengetahui bahwa kompleksitas waktu lebih relevan bagi
perspektif pragmatis daripada kompleksitas ruang. Gambar 6 menunjukkan penggambaran
fenomena komunikatif yang ditinjau dari perpektif pragmatis. Tetapi, sekalipun kita tahu
bahwa perpektif interaksional tidak dapat disesuaikan dnegan konsep yang dicontohkan
dalam gambar, perspektif pragmatis bahkan lebih tidak dapat lagi. Beberapa perspektif
memang lebih mudah untuk diuraikan dalam model yang berbentuk gambar daripada
perspektif yang lainnya.

Komponen komponen Khas
Komunikasi dalam perspektif pragmatis dimulai dengan perilaku orang orang yang terlibat
dalam komunikasi. Karena itu, satuan komunikasi yang paling fundamental adalah tindak
perilaku atau tindak yang dijalankan secara verbal atau nonverbal oleh seorang peserta
dalam peristiwa komunikatif.
Tindak itu lalu dikategorikan ke dalam berbagai fungsi yang dilaksanakan komunikasi. Tetapi
tidak ada suatu daftar kategori fungsional pun yang dapat diterima secara luas di kalangan
para anggota masyarakat ilmiah sebagai daftar fungsi yang dianggap memadai. Namun
minat yang unik dan tujuan tujuan penelitian dari eneliti itu sendiri. Sekalipun demikian,
tindak yang dilakukan oleh komunikan diklasifikasikan ke dalam kategori fungsional dan
karenanya dapat diulang kembali.