Anda di halaman 1dari 7

Artikel :

Hukum Positif Untuk Antisipasi Cyberporn *

Boom situs cabul! Pornografi di dunia maya lewat internet (cyberporn) terus
berkembang. Karena dikhawatirkan "merusak" moral anak muda, cyberporn
diatasi dengan memberlakukan hukum tertulis (hukum positif). Namun. Hal ini
tidak mudah dilakukan karena butuh keberanian dan banyak kendala. Apa
saja kendalanya?

Banyak yang berpendapat, hukum selalu tertinggal dalam mengikuti


perkembangan teknologi yang saat ini termanifestasikan dalam media
internet. Pendapat tersebut mungkin ada benarnya jika kita melihatnya hanya
dari sisi teknologi saja. Padahal dalam menyikapi fenomena tersebut harus
dilihat dari berbagai segi. Kesan ini membawa implikasi pada perilaku
pengguna (penyedia jasa dan pemakai) internet yang akhir-akhir ini
cenderung mengalami "penyimpangan" dan tidak "mematuhi" norma yang
berlaku di dalam masyarakat. Cyberporn sebagai salah satu feature di
internet memberikan kemudahan untuk memperoleh gambar, cerita, dan film.

Berdasarkan laporan terakhir yang dikeluarkan oleh American Demographics


Magazine menunjukkan adanya peningkatan keberadaan situs porno di
internet. Data itu diperoleh dari sextracker.com. Jumlah situs dewasa yang
menyediakan pornografi meningkat dari 22.100 pada 1997 menjadi 280.300
pada 2000 atau melonjak 10 kali lebih dalam kurun tiga tahun!.

Keadaan ini membuat semakin banyaknya "tempat wisata" yang dapat


dikunjungi oleh para pecandu situs cabul. Selain itu, memang bisnis di bidang
ini cukup menjanjikan. Ini terbukti dengan tingginya transaksi di Amerika yang
hampir bernilai AS$1,4 miliar pada 1998. Dapat dibayangkan berapa
merosotnya moral bangsa bila cyberporn terus dibiarkan "mengobok-ngobok"
generasi muda.
Dengan kemajuan teknologi saat ini, keberadaan cyberporn mestinya dapat
dibendung. Namun, harus pula dipikirkan cara lain yang bersifat preventif.
Dalam hal ini, harus dibuat suatu prakondisi terhadap komunitas di internet
untuk mematuhi hukum yang ada, baik tertulis ataupun tidak tertulis.

Tiga perspektif
Tidak bekerjanya hukum dalam menghadapi cyberporn, salah satunya karena
sempitnya kita memandang fenomena cyberporn tersebut. Pendekatan yang
dilakukan selama ini masih bersifat teknis dan sektoral. Padahal seharusnya
tidak demikian halnya. Sudah saatnya cyberporn ini ditinjau dari tiga
prespektif, yaitu, teknologi (technic), bisnis (bussiness), dan masyarakat
(sosio). Bila kita hanya memandang dari sisi teknologi dan bisnis, selamanya
hukum tidak akan dapat bekerja efektif dalam mengatasi gejala yang timbul di
dalam masyarakat. Memberlakukan suatu ketentuan hukum, tidak terlepas
dari keadaan masyarakat (keadaan sosial) setempat. Belum lagi adanya
hukum tertulis tidak menyebabkan kejahatan dalam internet, termasuk
pornografi, menjadi tidak "tersentuh" oleh hukum.

Harus diingat bahwa hukum tidak selalu tercermin dalam keputusan


penguasa (peraturan), tapi dapat berupa kesepakatan yang terjalin selama
koneksi internet berlangsung. Kendalanya, memang "kesepakatan" tadi tidak
memiliki kekuatan memaksa dan memuat sanksi pidana. Bagi pelanggarnya
atau pelakunya, sulit dimintakan pertanggung-jawaban secara pidana jika
hanya berlandaskan pada norma belaka.

Memberlakukan hukum tertulis (hukum positif) dalam kasus pelanggaran


internet, khususnya cyberporn ini, dapat berpijak pada kaidah yang ada di
dalam masyarakat itu sendiri. Siapa yang menyangkal bahwa cyberporn itu
tidak melanggar moral dan etika. Satu dari lima responden mengatakan
bahwa pornografi di internet (cyberporn) melanggar rasa kesusilaan. Setelah
itu, baru kita lihat peraturan lokal (hukum positif) yang berkaitan dengan
pornografi. Internet menjadikan dunia tanpa batas dan menjadikan ruang dan
waktu bukanlah kendala dalam berhubungan satu dengan yang lain. Timbul
satu masalah, hukum mana yang akan diberlakukan atas tindak pidana di
internet. Pasalnya, setiap negara mempunyai ketentuan yang berbeda.

Hukum yang berlaku


Tidaklah sederhana menerapkan aturan hukum terhadap pelaku yang terlibat
dalam cyberporn. Hal ini mengingat internet bersifat lintas batas wilayah.
Banyak pihak yang bersinggungan satu dengan yang lain dan ini akan
menyulitkan dalam proses pemeriksaan di pengadilan. Karena itu, harus
dicari solusi agar pelaku yang terlibat dalam cyberporn dapat dihadirkan ke
meja hijau. Maraknya situs-situs porno tersebut sebenarnya telah
"mengganggu" kesusilaan dunia internasional. Di Amerika misalnya, sudah
ada beberapa organisasi non-pemerintah (NGO) yang melakukan upaya guna
membendung pemekaran cyberporn. Kita melihat bahwa pornografi ini
bersinggungan dengan dengan peraturan (hukum) di mana situs porno itu
dapat diakses.

Hukum mana yang berlaku sebenarnya tidaklah sesulit seperti yang


berlangsung selama ini. Ambil contoh di Indonesia, pondokputri adalah salah
satu situs yang menyediakan gambar dan cerita porno. Untuk melihat
peraturan atau hukum mana yang berlaku, dapat memulainya dengan
menelusuri status kepemilikan dari situs tersebut. Kemudian setelah diketahui
pemiliknya, dapat ditelusuri status kewarganegaraannya. Meskipun situs
porno tersebut di-hosting di luar negeri, hal ini tidaklah kemudian
membebaskan pelaku dari tanggung jawab pidana. Status kepemilikan yang
berujung pada status kewarganegaraan tentunya tidak dapat dilepaskan
dalam pergaulan sehari-hari. Artinya, status kewarganegaraan melekat di
manapun orang itu berada.

Sedikit ilustrasi, seorang Badu yang berkebangsaan Indonesia ditemukan


sebagai pemilik situs porno. Nah, di manapun Badu berada, yang
bersangkutan tetap terikat (tunduk) pada hukum negaranya. Dalam hukum
pidana, status penundukan ini dikenal dengan prinsip nasionalitas aktif.
Pada Pasal 5 KUHP dijelaskan, pelaku tindak pidana adalah orang Indonesia
yang melakukan tindak pidana di luar Indonesia. Maka terhadap pelaku,
dapat ditarik dengan mengunakan hukum pidana kita. Memang dalam pasal
tersebut, disyaratkan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana di
negara lain.

Dari ilustrasi di atas dapat diterapkan juga untuk situs yang lainnya. Dapat
ditarik kesimpulan bahwa pelaku yang terlibat dalam penyajian gambar,
cerita, film porno dalam cyberporn ini dapat dijatuhi hukuman pidana sesuai
dengan ketentuan yang berlaku (hukum positif) sesuai dengan status
kewarganegaraan dari pemilik perusahaan itu berada. Kemudian juga
dimungkinkan bagi warga asing yang melakukan tindak pidana di wilayah
Indonesia untuk dipidana dengan menggunakan hukum pidana Indonesia. Hal
ini sesuai dengan prinsip nasionalitas pasif.

Yang harus dilakukan jika kita ingin menggunakan hukum Indonesia untuk
menjaring pelaku luar negeri adalah melakukan perjanjian ektradisi dengan
negara asal pelaku. Pasalnya, dalam proses penyelidikan dan penyidikan,
cyberporn tidaklah bisa dilakukan sendirian dan perlu dilakukan koordinasi
dengan interpol, FBI, dan yang lainnya.

Sulit diterapkan
Namun pada prakteknya, prinsip-prinsip di atas sulit untuk diterapkan. Hal ini
mengingat masih sedikitnya sumber daya di bidang hukum yang memahami
masalah teknologi informasi, khususnya mengenai investigasi terhadap tindak
pidana dengan menggunakan internet. Cyberporn adalah satu dari sekian
banyak kejahatan yang sampai saat ini sulit untuk "dipagari". Pemberantasan
atau pembatasan ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan
mengefektifkan (mengoptimalkan) peraturan hukum yang ada dengan
melakukan penafsiran atas ketentuan yang ada di dalam KUHP.

Kedua, dengan mengefektifkan fungsi keluarga dalam memberikan


pemahaman/pendidikan seks agar lebih terarah. Cara kedua tidak akan
dibahas lebih lanjut. Yang terpenting adalah bagaimana agar hukum
(peraturan) yang ada berjalan optimal. Keberlakuan hukum dalam masyarakat
tentunya tidak terlepas dari masyarakat itu sendiri (sosiologis), terutama
bagaimana masyarakat memandang cyberporn itu sendiri. Ada pendapat
yang mengatakan bahwa semuanya biarlah masyarakat yang menentukan.
Baik dan buruk, melanggar susila ataupun tidak, masyarakatlah yang
menentukan mengenai kriteria tersebut.

Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Forester Research pada awal
tahun 90-an, hampir 80% lalu lintas internet selalu mengarah ke situs-situs
dewasa (porno). Dari survei tersebut menunjukkan masyarakat internet begitu
"menikmati" hadirnya situs-situs dewasa tersebut.

Keinginan untuk mematuhi dan menerapkan peraturan bergantung kepada


masyarakat. Masyarakat bertindak sebagai subyek yang berperan untuk
membentuk (rekayasa) hukum. Hukum dibuat dan dipatuhi oleh masyarakat
berdasarkan apa yang dianggap "baik" oleh masyarakat. Secara filosofis, apa
yang dianggap "baik" tadi tercerminkan di dalam pergaulan kehidupan sehari-
hari dan direduksi sebagai apa yang akan dipatuhi sebagai aturan.
Masih dalam kerangka keberlakukan hukum, secara yuridis layaknya
pembentukan hukum tidak terlepas dari apa yang diinginkan dan apa yang
dicita-citakan oleh masyarakat. Hukum tidak akan menjadi hukum yang mati
karena telah sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dan apa yang di
cita-citakan oleh masyarakat. Tiga syarat keberlakukan hukum (sosiologis,
filosofis, yuridis) tadi dapat dijadikan satu acuan dalam memberlakuan
(menerapkan) hukum positif yang ada, terutama dalam memagari cyberporn
agar situs internet dimanfaatkan untuk hal yang lebih baik.

Butuh keberanian
Mengefektifkan hukum (hukum positif) bukan langkah yang mudah karena
untuk itu dibutuhkan keberanian. Keberanian di sini berkaitan dengan cara
menafsirkan peraturan perundang-undangan yang ada. Karena disadari,
memang menafsirkan undang-undang bukanlah pekerjaan yang sederhana.
Menerapkan peraturan (materil) terhadap suatu peristiwa yang belum atau
tidak dikenal sebelumnya dibutuhkan suatu penafsiran atas undang-undang
yang ada. Dengan menafsirkan cyberporn layaknya pornografi yang dikenal
dalam dunia nyata, peraturan yang berkaitan dengan pornografi dapat
digunakan untuk menjerat pelaku tindak pidana ini.

Mungkin terkesan dipaksakan, tetapi apa mau di kata cyberporn telah menjadi
bagian dari kehidupan sehari-hari bagi komunitas internet dan
perkembangannya saat ini terlihat sangat memprihatinkan.
Ada doktrin dalam hukum pidana yang mengatakan: "tiada pidana tanpa
suatu kesalahan" (azas legalitas). Tidak ada peristiwa pidana jika di dalam
undang-undang tidak menyebutkan kesalahan terlebih dahulu, sering menjadi
"pagar" bagi penegak hukum kita untuk menerapkan aturan. Padahal jika kita
menilik pada azas yang lain, seorang hakim tidak boleh menolak suatu
perkara dengan alasan tidak ada peraturannya. Di sini terjadi kontradiksi, satu
sisi undang-undang melarang adanya penafsiran, tetapi di sisi lain hakim
dibebani untuk "membuat" aturan.

Artinya di sini, tidak berjalannya ketentuan hukum (hukum positif) dalam


"memagari" cyberporn bukan disebabkan oleh lemahnya peraturan yang ada.
Tidak bekerjanya peraturan (hukum) yang ada dikarenakan tidak adanya
keberanian untuk menerapkan peraturan yang ada. Padahal bila kita lihat
dalam kehidupan nyata, banyak peraturan yang mengatur masalah
pornografi, misalkan UU HAM, UU Pers, dan KUHP Sebagai penegasan,
cyberporn bukanlah sosok yang kebal hukum. Pelakunya tetap dapat
dipidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hukum positif yang ada tetap akan berlaku efektif jika penegak hukum berani
melakukan "modifikasi" hukum. Perkembangan teknologi tidaklah menjadikan
hukum yang ada tidak bekerja. Cyberporn hanya ekses dari perkembangan
teknologi itu sendiri. Tidak ada yang berubah, kecuali media
penyampaiannya. Subtansinya tetaplah sama, pornografi.

*) Tulisan ini ditulis oleh Rapin Mudiardjo, S.H. (Legal Director ICT Watch). Dapat dihubungi
melalui e-mail rapin@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh situs HukumOnline.com, 9
Mei 2001. Tulisan ini bebas untuk dikutip, diperbanyak atau didistribusikan kembali, asal tetap
menyebutkan/menuliskan sumber/pemilik aslinya.