Anda di halaman 1dari 14

1

Evaluasi dan Perbandingan Medikamen White Mineral Trioxide Aggregate dan


Formokresol dalam Pulpotomi Gigi Sulung: Penelitian Klinis dan Radiografi

Abstrak
Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengevaluasi dan tujuan kedua
penelitian ini untuk membandingkan keberhasilan penggunaan medikamen white
mineral trioxide aggregate (MTA) dibandingkan dengan formokresol (FC) secara
klinis dan radiografi untuk pulpotomi gigi sulung.
Bahan dan Metode: Total sebanyak 100 gigi dipilih untuk pulpotomi; sebanyak 50 di
antaranya menjalani pulpotomi FC dan 50 gigi menjalani pulpotomi dengan white
MTA. Di antara 100 gigig yang dirawat (43 FC dan 40 MTA) dapat digunakan di
akhir bulan ke-24 untuk dilakukan evaluasi. Sebanyak 4 kegagalan ditemukan dalam
kelompom FC dalam evaluasi bulann pertama dan tidak diamati kegagalan dalam
kelompok white MTA. Sebuah analisis statistik dilakukan untuk mengevaluasi
kisaran keberhasilan penelitian secara keseluruhan dan kisaran keberhasilan
medikamen individual. Kisaran keberhasilan keseluruhan penelitian adalah 95%,
kisaran keberhasilan kelompok FC adalah 90,48% dan kisaran keberhasilan
kelompok MTA adalah 100%.
Hasil: MTA memberikan hasil yang lebih baik sebagai medikamen pulpotomi
dibandingkan dengan FC. Keberhasilan superior yang didapatkan dalam penelitian ini
sama seperti yang didapatkan dalam penelitian lain yang disebutkan dalam literatur.
Simpulan: MTA nampak menjadi sebuah medikamen pulootomi menjanjikan untuk
digunakan di masa mendatang.

Kata kunci: Formokresol, gigi sulung, pulpotomi, medikamen pulpotomi, mineral
trioxide aggregate, kisaran keberhasilan, white mineral trioxide aggregate.



2

Pendahuluan
Pulpotomi dideskripsikan sebagai pengambilan bagian koronal pulpa dentin
secara keseluruhan dan diikuti dengan penempatan dressing atau medikamen yang
sesuai untuk meningkatkan penyembuhan dan mempertahankan vitalitas gigi.
1,2

Istilah dressing atau medikamen yang tepattelah menghasilkan sebuah
perdebatan dalam prosedur pulpotomi. Sejumlah medikamen telah diteliti untuk
mengetahui pengaruh medikamen tersebut pada pulpa yang diamputasi. Formokresol
(FC) selama bertahun-tahun telah menjadi medikamen utama untuk prosedur
pulpotomi karena FC memiliki hasil yang sangat baik dan konsisten sampai sekarang
sejak pertama kali digunakan sekitar 100 tahun lau.
2-5
Walaupun FC memiliki kisaran
keberhasilan yang tinggi dan merupakan sebuah baku emas dalam pulpotomi, sebuah
perubahan substansial telah terjadi dari penggunaan medikamen ini karena 2 alasan
utama. (1) FC sendiri merupakan sebuah iritan jaringan ikat yang menyebabkan
devitalisasi pulpa radikuler vital, dan (2) permasalahan mengenai efek sistemik
seperti toksisitas, mutagenisitas, karsinogenisitas, dan antigenisitas.
5-6
Kedua
pendukung dan oposisi telah memperdebatkan penggunaan formokresol selama
beberapa tahun.
5-12
Di samping efek sistemik formokresol, devitalisasi pulpa
radikuler yang disebabkan oleh formokresol tidak dapat dibuktikan. Karena tujuan
perawatan dengan sebuah agen pulpotomi ideal adalah untuk mempertahankan
vitalitas pulpa, pencarian untuk agen pulpotomi ideal telah dimulai.
4
Dalam
tahapan ini, sejumlah bahan regeneratif seperti trikalsium fosfat, hidroksiapatit,
mineral trioxide aggregate (MTA), bone morphogenetic protein, dan sejumlah bahan
lain telah dibuat, diteliti, dan digunakan selama bertahun-tahun. Penelitian tersebut
hanya telah menghasilkan hasil yang bervariasi dan tidak memadai.
13-17
Baru-baru ini,
MTA sedang banyak dibahas karena karakteristik bioaktif MTA yang sangat baik dan
kemampuan MTA untuk menginduksi pembentukan jaringan keras. Pencarian
literatur spesifik mengenai MTA telah menegaskan karakteristik biologis unik dari
MTA.
18,19


3


Penelitian juga telah melaporkan mengenai penggunaan MTA sebagai
medikamen pulpotomi. Penelitian komparatif yang membandingkan MTA dengan
medikamen lain telah menunjukkan hasil yang baik.
20-27
Oleh karena itu, sebuah
usaha dibuat untuk meneliti keberhasilan MTA sebagai medikamen pulpotomi dan
untuk membandingkan MTA dengan FC.

Bahan dan Metode
Sebuah sertifikat izin untuk melakukan penelitian didapatkan dari komite etik
institusi. Pasien dipilih dari departemen rawat jalan, Dr. R. Ahmed Dental College
and Hospital, India. Pasien yang dipilih berasal dari kelompok usia yang berkisar dari
3 dan 7 tahun. Riwayat kesehatan secara mendatail didapatkan dari anak dan
pengasuh yang menyertai; lalu, dilanjutkan dengan pemeriksaan klinis dan radiografi
secara mendetail. Gigi diperiksa untuk mengetahui kesesuaian untuk menjalani
perawatan pulpotomi (Tabel 1).
25,27,28
Prosedur perawatan, manfaat,
ketidaknyamanan, dan risiko dijelaskan secara mendetail pada pengasuh dan
pernyataan persetujuan mereka didapatkan.

Tabel 1. Kriteria pemilihan gigi
Rasa sakit, jika ada, tidak spontan atau persisten,
Gigi dapat direstorasi,
Gigi bebas dari pulpitis radikuler,
Gigi, paling kurang, harus memiliki dua pertiga panjang akar,
Gigi tidak mengalami resorpsi internal,
Kehilangan tulang inter-radikuler tidak diamati,
Tidak diamati abses atau fistula



4

Desain uji
Gigi dimasukkan secara acak di antara kedua kelompok. Jika anak yang sama
membutuhkan pulpotomi pada lebih dari 1 gigi, maka gigi kedua akan diberikan agen
berbeda untuk menilai keberhasilan interkelompok.

Prosedur klinis
Setelah dilakukan anestesi dan isolasi menggunakan rubber dam secara
memadai; akses kavitas secara memadai dilakukan dan; pulpakoronal diamputasi
secara hati-hati sampai orifisum saluran akar menggunakan sharp spoon excavator.
Perdarahan setelah amputasi dinilai untuk mengetahui kesesuaian untuk dapat
melanjutkan prosedur pulpotomi. Setelah itu, salah satu dari kedua medikamen
ditempatkan. Campura MTA (Branco Blanco White Angelus, Londrina, PR, Brazil)
didapatkan melalui pencampuran powder dengan liquid daripabrik dengan rasio 3:1
untuk mendapatkan konsistensi sandy dan diaplikasikan di atas orifisium pulpa,
diikuti dengan penempatan cotton pellet lembab di atas MTA selama 15 menit (sesuai
penuntun pabrik). Sebagai alternatif, Cotton pellet yang direndam dengan
formocresol (Formoacresol, Pharmadent remedies Pvt. Limited., Gujarat, India;
Komposisi Formalin 20% v/v [B.P.], Cresol 32% v/v (I.P), Glycerine-q.s. [I.P.])
ditempatkan di atas pulpa selama 5 menit. Kavitas akses direstorasi dengan zinc oxide
eugenol. Lau, gigi direstorasi dengan stainless steel crown dan/atau glass ionomer
dan silver amalgam. Evaluasi klinis dan radiografi dilakukan 1 hari setelah
perawatan, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan evaluasi 1 dan 2 tahun, dan hasil
pengamatan dicatat (Tabel 2).
25,27,28
Jika sebuah kegagalan terjadi selama periode
pemantauan, maka perawatan yang memadai dilakukan dan akan dipantau.




5

Tabel 2. Kriteria yang digunakan selama pemantauan untuk menilai
keberhasilan/kegagalan

Evaluasi klinis dilakukan untuk mengamati
Riwayat rasa sakit, jika ada,
Nyeri sewaktu dipalpasi/perkusi,
Mobilitas patologis,
Pembengkakan intra atau ekstraoral,
Sinus intra atau ekstraoral
Evaluasi radiografi dilakukan untuk mengamati
Integritas lamina dura,
Ada atau tidaknya radiolusensi di apikal atau area bifurkasi gigi,
Resorpsi akar internal atau eksternal patologis,
Obliterasi kanal pulpa,
Pembentukan dentin bridge

Hasil dan Observasi
Total sebanyak 66 pasien dipilih untuk penelitian, sehingga mendapatkan 100
gigi. Di antara 100, sebanyak 50 gigi mendapatkan pulpotomi FC dan 50 gigi
mendapatkan perawatan pulpotomi MTA (Tabel 3). Setelah evaluasi berdasarkan
periode waktu yang telah ditentukan, di akhir tahun ke-2, sebanyak 82 gigi dari 100
gigi yang mendapatkan perawatan (di antaranya 50-8 = 42 gigi dalam kelompok FC
dan 50-10 = 40 gigi dalam kelompok MTA) tetap ada untuk menjalani pemantauan
(Tabel 4). Dalam kelompok MTA, kegagalan tidak diamati terjadi. Sebanyak 4
kegagalan diamati dalam kelompok FC dalam periode evaluasi 1 bulan (Tabel 5 dan
6). Untuk perbandingan keberhasilan di antara kelompok secara statistik, uji deviasi
standar normal diadopsi dalam penelitian.

6

Tabel 3. Distribusi jumlah gigi dalam berbagai kelompok
Medikamen Jumlah total gigi Persentase gigi
FC 50 gigi 50
MTA 50 gigi 50

Tabel 4. Total gigi yang tersedia untuk pemantauan setelah 2 tahun
Atrisi ukuran sampel Gigi yang tersedia setelah
2 tahun
Gigi yang tidak ada
sewaktu dilakukan
evaluasi
Gigi total 100-18=82 18
FC 50-8=42 8
MTA 50-10=40 10

Tabel 5. Distribusi total keberhasilan dan kegagalan yang didapatkan untuk kedua
teknik di bulan pertama, ketiga, keenam, dan 1 dan 2 tahun
Waktu
dibandingk
an dengan
keberhasila
n
perawatan
Bulan pertama Bulan ketiga Bulan keenam 1 dan 2 tahun
F
C
MT
A
Tot
al
F
C
MT
A
Tot
al
F
C
MT
A
Tot
al
F
C
MT
A
Tot
al
Yang
dinilai
42 40 82 38 40 78 38 40 78 38 40 78
Keberhasil
an
38 40 78 38 40 78 38 40 78 38 40 78
Kegagalan 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0


7





Tabel 6. Distribusi kegagalan yang dinilai tiap kunjungan
Kriteria
kegagal
an
Bulan pertama Bulan ketiga Bulan keenam 1 dan 2 tahun
Klinis Radiologis Klinis Radiologis Klinis Radiologis Klinis Radiologis
FC 0 4 0 0 0 0 0 0
MTA 0 0 0 0 0 0 0 0
Total 0 4 0 0 0 0 0 0

Kisaran keberhasilan penelitian secara keseluruhan
Sebanyak 4 perawatan mengalami kegagalan dari total 82 gigi (gigi yang
berhasil sebanyak 78). Kisaran keberhasilan keseluruhan adalah 95% yang tergolong
sangat signifikan dengan Z = 16,6, nilai 0,1% (p < 0,001).

Kisaran keberhasilan dalam kelompok MTA
Di antara 40 gigi, tidak diamati kegagalan (keberhasilan pada 40 gigi).
Kisaran keberhasilan sebesar 100%.

Kisaran keberhasilan dalam kelompok FC
Sebanyak 4 gigi dari 42 gigi (keberhasilan pada 38 gigi) mengalami
kegagalan. Kisaran keberhasilan dalam kelompok ini adalah 90,48% yang tergolong
signifikan dengan Z = 2,08, nilai 5% (p < 0,05). Secara keseluruhan, kegagalan pada
4 gigi diamati dalam periode evaluasi 1 bulan. Karena tidak diamati kegagalan dalam
bulan ke-3, ke-6, 1 tahun, dan 2 tahun, kegagalan yang terjadi di bulan pertama
kembali dikategorikan signifikan.
8


Perbandingan kisaran keberhasilan di antara MTA dan FC
Kisaran keberhasilan MTA adalah 100% dibandingkan dengan keberhasilan
90,48% dalam kelompok FC. Hasil ini menunjukkan MTA memberikan hasil yang
lebih baik dibandingkan kelompok FC.

Pembahasan
Selama abad ke-20, sebuah usaha penelitian kedokteran gigi secara signifikan
telah dilakukan untuk mendapatkan prosedur perawatan dan medikamen yang lebih
baik untuk permasalahan pulpa. Usaha tersebut telah menghasilkan sejumlah
kontroversi dan perdebatan karena pendukung dari bahan dan metode spesifik
berusaha untuk menegaskan kebenaran teknik yang mereka dukung. Kontroversi
tersebut masih tetap terjadi bahkan di abad ke-21 ini walaupun telah terdapat
perkembangan sains yang jauh lebih mutakhir. Identifikasi kandungan dan teknik
amalgamasi untuk menghasilkan penyembuhan pulpa masih membutuhkan penelitian
lebih lanjut.
Dalam konteks penelitian ini, terdapat sejumlah fakta yang menunjukkan FC
dapat menghasilkan hasil klinis yang sangat baik sebagai agen pulpotomi. MTA,
sebuah bahan yang relatif baru, masih membutuhkan sebuah penelitian klinis yang
memadai; oleh karena itu, sebuah penelitian dilakukan untuk menguji apakah MTA
dapat menghasilkan hasil yang sama atau lebih baik dibandingkan dengan FC.
Sejumlah peneliti telah menyatakan metode histologis sebagai uji yang lebih
baik untuk memperkirakan penyembuhan pulpa, dan diikuti oleh metode radiografi
dan klinis.
29-31
Namun demikian, dalam penelitian ini, seluruh gigi telah diberikan
perlakuan untuk mempertahankan fungsi gigi tersebut dalam rongga mulut; oleh
karena itu, tidak satupun gigi tersebut dapat diekstraksi dan dimasukkan ke
pemeriksaan histologis. Oleh karena itu, penelitian ini hanya menggunakan evaluasi
klinis dan radiografi.
9

Sebanyak 100 gigi dirawat dengan prosedur pulpotomi dengan 82 gigi
(sebanyak 42 dalam kelompok FC dan 40 dalam kelompok MTA) tetap dapat
dipantau dalam evaluasi tahun ke-2 (Tabel 3 dan 4).

Evaluasi keberhasilan dalam kelompok MTA
Tidak diamati kegagalan dalam kelompok ini selama periode evaluasi 2 tahun.
Kisaran keberhasilan MTA adalah 100% (Tabel 5 dan 6).
20-27
Kisaran keberhasilan
yang lebih baik dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dalam
literatur (Tabel 7). Kisaran keberhasilan MTA yang lebih baik dapat diakibatkan oleh
biokompatibilitas, kemampuan seal, pembentukan dentin bridge evaluasi yang
dimiliki.

Tabel 7. Kisaran keberhasilan pulpotomi MTA yang didapatkan oleh berbagai
peneliti
Tahun Penelitian Periode waktu Bahan % Kisaran
keberhasilan
2001 Eidelman 6-30 bulan MTA hijau >90
2006 Morato 6 bulan MTA putih 100
2006 Percinoto 1 tahun MTA hijau 95
2006 Morato 42 bulan MTA putih 100
2007 Moretti 1 tahun MTA putih berhasil

Evaluasi keberhasilan dan kegagalan dalam kelompok FC
Sebanyak 4 kegagalan yang terjadi dari 42 gigi dalam kelompok selama
periode evaluasi 2 tahun (Tabel 5 dan 6). Kisaran keberhasilan adalah 90,48%.
Kisaran keberhasilan sejalan dengan kisaran keberhasilan yang diamati dalam
literatur (Tabel 8).
32,33
Alasan kegagalan yang memungkinkan berhubungan dengan
efek fiksatif reversible FC dan pH larutan yang rendah. Seluruh kegagalan telah
10

terjadi dalam bulan pertama. Hasil pengamatan signifikan ini sejalan dengan sejumlah
penelitian lain yang juga mendapatkan proporsi kegagalan yang sama selama
beberapa bulan pertama setelah prosedur pulpotomi FC.
32-34


Tabel 8. Kisaran keberhasilan pulpotomi FC yang didapatkan oleh berbagai peneliti
Tahun Peneliti Jumlah gigi Kisaran keberhasilan
%
Histologis
%
Radiologis
% Klinis
1965 Berger 31 82 97 100
1966 Beaver 60 97 100
1975 Rolling dan
Thylstrup
3 bulan
36 bulan


98


91
70


91
70
1978 Magnusson 84
56

20
62 100
1981 Fuks dan
Bismtein
70 65 94
1983 Garcia-
Godoy
45 96 96

Alasan kedua diperkirakan faktor lain selain medikamen yang memainkan
peranan dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam kelompok FC
dibandingkan kelompok MTA selama penelitian.
Secara umum, inflamasi radikuler yang tidak terdiagnosis sebelum perawatan,
keberadaan bakteri dalam pulpa radikuler, kegagalan untuk melakukan isolasi yang
baik, amputasi traumatik pulpa koronal, pengambilan pulpa koronal yang tidak
sempurna merupakan faktor utama untuk kegagalan perawatan pulpotomi dalam
11

sejumlah literatur ilmiah.
29,32,33
Namun demikian, dalam penelitian ini, hubungan
faktor tersebut tidak diamati karena gigi dimasukkan secara acak ke salah satu
kelompok dan prosedur yang sama digunakan untuk prosedur tersebut.
Penelitian sebelumnya telah melaporkan efek negatif penggunaan zinc oxide
eugenol sebagai sebuah base setelah pulpotomi.
35-37
Penelitian tersebut menunjukkan
eugenol yang tidak mengalami setting dapat menyebabkan inflamasi pulpa. Karena
kemampuan seal yang lebih baik, MTA dapat berfungsi sebagai sealer yang baik dan
mencegah efek yang tidak diinginkan dari eugenol bebas di pulpa. Sebaliknya, pulpa
yang dirawat dengan FC tidak memamiliki kemampuan seal ini.
Sejumlah kecil peneliti telah menyatakan jenis dan waktu prosedur restoratif
setelah pulpotomi memiliki sebuah pengaruh dalam kisaran keberhasilan
(kontaminasi pulpa akibat kebocoran mikro).
36-41
Dalam penelitian, sejumlah besar
direstorasi dengan stainless steel crown dan hanya sejumlah kecil yang direstorasi
dengan silver amalgam, komposit, dan glass ionomer. Stainless steel crown um
diberikan selama bulan pertama dan ketiga setelah prosedur pulpotomi. Namun
demikian, dalam penelitian ini, kegagalan tidak bergantung pada waktu dan jenis
restorasi setelah pulpotomi yang digunakan. Medikamen itu sendiri lebih berperan
untuk kegagalan yang dialami daripada jenis dan waktu penempatan restorasi.
Kisaran keberhasilan keseluruhan penelitian adalah 95%. Kisaran
keberhasilan sejalan dengan penelitian komparatif lain (Tabel 9).
42-47
Kisaran
keberhasilan yang tinggi dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan kriteria dan
teknik yang memadai.
Hasil menunjukkan MTA merupakan medikamen pulpotomi yang lebih baik
dibandingkan FC pada gigi sulung.




12

Tabel 9. Penelitian komparatif di antara FC dan MTA yang telah dilakukan oleh
sejumlah peneliti
Tahun Penelitian Periode waktu Bahan % Kisaran
keberhasilan
2004 Agamy 1 tahun FC
MTA hijau
MTA putih
90
100
84.2
2004 Jabbarifar 1 tahun FC
MTA
90.2
93.7
2005 Holan 4-74 bulan FC
MTA hijau
83
97
2005 Eidelman 6-30 bulan FC
MTA hijau
94.11
100
2005 Najat Farsi 2 tahun FC

MTA
98.6-klinis
86.8-radiologis
100
2010 Hugar dan
Deshpande
3 tahun FC
MTA
100
100
2011 Godhi 1 tahun FC

MTA

100-klinis
88-radiologis
100-klinis
96-radiologis
2011 Srinivasan
dan Jayanti
1 tahun FC

MTA

91.3-klinis
90-radiologis
100-klinis
100-radiologis
2011 Erdem 24 bulan FC

96-klinis dan
radiologis
13

MTA

88-klinis dan
radiologis
2012 Sushynski 6-24 bulan FC




MTA
MTA
menunjukkan
hasil yg lebih
baik dibawah
statistik
Analisa
2012 Airen 6-24 bulan FC

MTA

85-klinis
88.6-radiologis
97-klinis
54.3 radiologis
2012 Fernandez 24 bulan FC



MTA
menunjukkan
hasil yg lebih
baik dibawah
statistik
Analisa
2013 Mettlach 42 bulan FC



MTA
menunjukkan
hasil yg lebih
baik dibawah
statistik
Analisa

Simpulan
Walaupun pencarian alternatif yang lebih baik harus dilakukan, pentin untuk
kembali menekankan keberhasilan FC yang didapatkan selama 100 tahun. Sebelum
klinisi mengeliminasi FC secara keseluruhan dari bahan yang digunakan, alternatif
harus dibuktikan secara klinis dan histologis apakah memiliki tingkat keberhasilan
14

yang lebih baik dibandingkan FC. Dalam konteks ini, MTA nampak menjadi
alternatif yang menjanjikan.