Anda di halaman 1dari 17

BANGUNAN DIATAS

SALURAN AIR
PELANGGARAN ATURAN MENGENAI SUMBER DAYA
AIR
LATAR BELAKANG
AIR MERUPAKAN SALAH SATU ZAT YANG PALING DIBUTUHKAN OLEH
MANUSIA DALAM PROSES KEHIDUPAN SETELAH UDARA, BAIK
SECARA KUALITAS MAUPUN KUANTITAS. TANPA AIR, MANUSIA AKAN
MENGALAMI BERBAGAI KESUKARAN DAN KENDALA DALAM
MENJALANKAN KEHIDUPAN. AIR YANG DIMAKSUD DALAM KONTEKS
INI ADALAH AIR TAWAR, KARENA HANYA AIR TAWAR (AIR BERSIH)
YANG AKAN DAPAT SECARA LANGSUNG DIPAKAI DALAM
MENUNJANGKEHIDUPAN MASYARAKAT/MANUSIA
(EKONOMI/KESEJATERAANNYA) DAN KESEHATANNYA.
DISAMPING MEMEGANG PERANAN SANGAT PENTING DALAM
KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN, SUMBERDAYA AIR APABILA TIDAK
DIKELOLA DAN DIPERGUNAKAN DENGAN BAIK (TEPAT) MAKA AKAN
MENGAKIBATKAN BEBERAPA PERMASALAHAN DALAM KEHIDUPAN
MASYARAKAT. MISALNYA, TERJADINYA BANJIR PADA MUSIM HUJAN
SERTA BERKEMBANGNYA PENYAKIT PADA MUSIM KEMARAU YANG
DISEBABKAN OLEH MENURUNNYA KUALITAS DAN KUANTITAS AIR
SEPERTI MUNTABER, DIARE, DBD, GATAL-GATAL DAN LAIN-LAIN.
DASAR PERATURAN
MELIHAT DARI KENYATAAN PENTINGNYA PENGELOLAAN
SUMBER DAYA AIR, PEMERINTAH DALAM HAL INI MELALUI
UU NO 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR,
MENGATUR LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS DAN STRATEGIS
GUNA MENANGGULANGI PERMASALAHAN YANG MUNGKIN
MUNCUL AKIBAT SUMBER DAYA AIR.


UU NO 7 TAHUN 2004
PASAL 51
PASAL 52
PASAL 53
PASAL 51
PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR DILAKUKAN SECARA MENYELURUH
YANG MENCAKUP UPAYA PENCEGAHAN, PENANGGULANGAN, DAN
PEMULIHAN.
PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT
(1)
DIUTAMAKAN PADA UPAYA PENCEGAHAN MELALUI PERENCANAAN
PENGENDALIAN
DAYA RUSAK AIR YANG DISUSUN SECARA TERPADU DAN MENYELURUH
DALAM POLA
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR.
PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT
(1)
DISELENGGARAKAN DENGAN MELIBATKAN MASYARAKAT.
PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT
(1) MENJADI
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH, PEMERINTAH DAERAH, SERTA
PENGELOLA SUMBER
DAYA AIR WILAYAH SUNGAI DAN MASYARAKAT.

PASAL 52
SETIAP ORANG ATAU BADAN USAHA DILARANG
MELAKUKAN KEGIATAN YANG DAPAT
MENGAKIBATKAN TERJADINYA DAYA RUSAK AIR.
PASAL 53
PENCEGAHAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 51 AYAT (1)
DILAKUKAN BAIK MELALUI KEGIATAN FISIK DAN/ATAU NONFISIK
MAUPUN MELALUI PENYEIMBANGAN HULU DAN HILIR WILAYAH
SUNGAI.
PENCEGAHAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT (1) LEBIH
DIUTAMAKAN PADA KEGIATAN NONFISIK.
PILIHAN KEGIATAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD PADA AYAT (1)
DITENTUKAN OLEH PENGELOLA SUMBER DAYA AIR YANG
BERSANGKUTAN.
KETENTUAN MENGENAI PENCEGAHAN KERUSAKAN DAN
BENCANA AKIBAT DAYA RUSAK AIR DIATUR LEBIH LANJUT DENGAN
PERATURAN PEMERINTAH.

INTERPRETASI UU NO 7 TAHUN
2004 PASAL 51
PASAL 51

Daya rusak air adalah
kemampuan air dan
aliran air dalam
mengubah tataran
ekonomi, sosial, dan
budaya masyarakat
menuju arah negatif.
Daya Rusak Air
Perlu dikendalikan
Pencegahan, Penanggulangan,
dan pemulihan
Pemerintah dan Masyarakat
INTERPRETASI UU NO 7 TAHUN
2004 PASAL 52
Larangan
kegiatan yang
dapat
mengakibatkan
terjadinya daya
rusak air
Ada
konsekuensi
Adanya
batasan
kegiatan yang
jelas
Ada perijinan
dalam kegiatan
pembangunan
INTERPRETASI UU NO 7 TAHUN
2004 PASAL 53
FISIK
NON
FISIK
Pencegahan
daya rusak air
MASALAH TERKAIT UU NO 7
TAHUN 2004
PADA SELASA (7/2/14), KOMISI C DPRD KOTA JAMBI TURUN KE
LAPANGAN UNTUK MENGECEK PEMBANGUNAN RUKO DI JALAN
LINGKAR BARAT KELURAHAN BAGAN PETE, KECAMATAN KOTA
BARU JAMBI. PEMBANGUNAN RUKO LEBIH DARI 15 PINTU
TERSEBUT DIDUGA TELAH MENYALAHI ATURAN.
KOTA JAMBI (KOTA JAMBI) - DPRD KOTA JAMBI MENEGASKAN
JIKA BANGUNAN DI ATAS FASILITAS UMUM ( FASUM) SEPERTI
YANG TERJADI DI ATAS DRAINASE JALAN SOEKARNO- HATTA
THEHOK HARUS DIBONGKAR. PASALNYA, RUKO ITU DIBANGUN
DI ATAS DRAINASE. JIKA TIDAK, MAKA KE DEPANNYA TIDAK
MENUTUP KEMUNGKINAN HAL YANG SAMA AKAN TERULANG
LAGI.
SAAT DITEMUI OLEH SEJUMLAH WARTAWAN,
PENGAWAS LAPANGAN PEMBANGUNAN RUKO TERSEBUT
MENGAKU SUDAH MENDAPAT PERIZINAN SECARA RESMI.
AKAN TETAPI, KETUA KOMISI C DPRD KOTA JAMBI,
JUNEDI SINGARIMBUN MEMINTA AGAR DUA DARI
TUJUHBELAS PINTU RUKO YANG DIBANGUN DI JALAN
LINGKAR BARAT KELURAHAN BAGAN PETE, KECAMATAN
KOTA BARU DIBONGKAR. "TADI SUDAH KITA CEK. BANGUNAN
ITU DIDIRIKAN DI ATAS SUNGAI ATAU DRAINASE, DAN ITU
JELAS MENYALAHI ATURAN, MAKANYA HARUS DIBONGKAR,
UCAPNYA KEPADA SR28.

AGAR TIDAK TIMBUL PERMASALAHAN DI WAKTU MENDATANG,
JUNEDI MENEGASKAN, "YANG DUA [PINTU] HARUS DIBONGKAR, YAKNI
YANG ADA DI ATAS SUNGAI. DRAINASE TIDAK BOLEH ADA BANGUNAN.
JIKA INI DIBIARKAN, MAKA KEDEPANNYA AKAN ADA BANYAK RUKO DI
JAMBI INI YANG AKAN MENIRU SECARA KELIRU. SOAL SIAPA YANG
MEMBERI IZIN, AKAN KITA TINDAK LANJUTI, AKAN KITA PANGGIL INSTANSI
MANA YANG MEMBERIKAN IZIN ITU.
JUNEDI MENAMBAHKAN, BILA PIHAK YANG MEMBANGUN RUKO
TERSEBUT TIDAK MAU MEMBONGKAR, MAKA PIHAK DEWAN AKAN
MEMINTA BANTUAN SATPOL PP ATAU INSTANSI TERKAIT UNTUK
MELAKUKAN PEMBONGKARAN. "PILIHANNYA CUMA DUA, BONGKAR
SENDIRI ATAU PEMERINTAH KOTA YANG AKAN MEMBONGKAR,"
TANDASNYA.
TERKAIT TUNTUTAN PEMILIK YANG AKAN MEMBAWA KE PTUN,
JAWAB EDI ITU MERUPAKAN HAK SEBAGAI WARGA NEGARA." SILAHKAN
SAJA YANG PUNYA RUKO MELAKUKAN UPAYA HUKUM KE PTUN ATAS
PEMKOT JAMBI JIKA RUKO ITU DI BONGKAR. HAL ITU MERUPAKAN HAK
DIA SEBAGAI WARGA NEGARA, NAMUN DARI SISI PERATURAN DAERAH,
MAKA HAL ITU JUGA MERUPAKAN PELANGGARAN," TUTUPNYA .

SUMBER : AKTUAL.COM
KAJIAN MASALAH MELALUI UU
NO 7 TAHUN 2004
ADA 2 PERSOALAN YANG PERLU MENJADI SOROTAN :
PEMBUATAN BANGUNAN DIATAS SALURAN DRAINASE/SUNGAI JELAS
MENYALAHI ATURAN, KARENA DIKHAWATIRKAN MAMPU MEMPENGARUHI
ALIRAN AIR. HAL INI TELAH DIATUR OLEH UU NO 7 TAHUN 2004 PASAL 52.
SETIAP ORANG ATAU BADAN USAHA DILARANG MELAKUKAN KEGIATAN
YANG DAPAT
MENGAKIBATKAN TERJADINYA DAYA RUSAK AIR.
PEMBERIAN IZIN BANGUNAN RUKO ARTINYA TERDAPAT
KEKURANGTEGASAN DARI PIHAK BERWENANG. KARENA PERSETURUAN
INI BISA DICEGAH APABILA SEDARI AWAL PIHAK TERKAIT MELAKUKAN
KEBIJAKAN PREVENTIF DENGAN CARA PENCEGAHAN NON FISIK SESUAI
DENGAN PASAL 53 AYAT 2. PENCEGAHAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD
PADA AYAT (1) LEBIH DIUTAMAKAN PADA KEGIATAN NONFISIK