Anda di halaman 1dari 25

Gapai Syurga Dengan Ilmu

Rabu, 12 Maret 2014


Hukum Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi
setiap muslim. Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda :

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi
setiap muslim (HR. Ibnu Majah, shahih)
Kewajibannya:
Ain
KIfayah
Kedudukan Ilmu
Allah telah memerintahkan kepada kita
untuk mengawali amalan dengan
mengetahui ilmunya terlebih dahulu.


Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya
tiada sesembahan yang berhak disembah
selain Allah dan mohonlah ampunan bagi
dosamu (QS. Muhammad: 19).
Bahaya Jahil Ilmu Agama
1. Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan
membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya
jadi tidak sah.
Muadz bin Jabal berkata,


Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di
belakang setelah adanya ilmu.
2. Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut
jauh dari tuntunan Rasul, akhirnya amalan itu jadi sia-sia
dan tertolak.


Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran
kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim
3. Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan
maslahat yang akan dihasilkan.

Keutamaan Menuntut Ilmu 1

[ : 18 ]
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. [Ali Imraan : 18]
Keutamaan Menuntut Ilmu 2

[ : 114 ]
Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad)
tambahkanlah ilmu kepadaku. [Thaaha : 114]

[ : 28 ]
Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada
Allah diantara para hamba-Nya adalah para
ulama. [Faathir : 28]

Keutamaan Menuntut Ilmu 3


Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah
kebaikan, niscana akan difahamkan tentang
urusan agamanya. (HR Muawiyah)


Apabila manusia telah meninggal dunia maka
terputuslah semua amalannya kecuali tiga
amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan
dia. [HR. Muslim]. Yasin: 12

Keutamaan Menuntut Ilmu 4



Keutamaan Menuntut Ilmu 4
Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka mencari
ilmu maka Allah akan tunjukkan baginya salah satu jalan
dari jalan-jalan menuju ke surga. Sesungguhnya malaikat
meletakan syap-sayap mereka sebagai bentuk keridhaan
terhadap penuntut ilmu.Sesungguhnya semua yang ada di
langit dan di bumi meminta ampun untuk seorang yang
berilmu sampai ikan yang ada di air. Sesungguhnya
keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan ahli
ibadah sebagaimana keutamaan bulan purnama terhadap
semua bintang. Dan sesungguhnya para ulama adalah
pewaris para Nabi, dan sesungguhnya mereka tidaklah
mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mewariskan
ilmu. Barangsiapa yang mengambil bagian ilmu maka
sungguh dia telah mengambil bagian yang berharga.
(HR Abu Dawud)
Keutamaan Menuntut Ilmu 5


Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang
mempelajari Al Quran dan mengajarkannya. (HR
Bukhari)


Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum
dengan Al Quran dan menurunkan derajat kaum yang
lain dengannya. (HR Muslim)


Ya Allah sesungguhnya saya minta kepada Engkau ilmu
yang bermanfaat, rizqi yang baik dan amalan yang
diterima.

Ilmu Dipelajari untuk Diamalkan
Ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya sekedar
menambah wawasan dan kepintaran, apalagi jika
diniatkan untuk membodoh-bodohi orang lain.
Malik bin Dinar berkata Barangsiapa yang mencari
ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus
memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang
mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu
hanya sebagai kebanggaan (kesombongan) (Hilyatul
Auliya, 2: 378).
Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan
tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya
semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari
ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan
membuatnya semakin sombong (berbangga diri).

Ilmu Dipelajari untuk Diamalkan
Ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya sekedar
menambah wawasan dan kepintaran, apalagi jika
diniatkan untuk membodoh-bodohi orang lain.
Malik bin Dinar berkata Barangsiapa yang mencari
ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus
memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang
mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu
hanya sebagai kebanggaan (kesombongan) (Hilyatul
Auliya, 2: 378).
Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan
tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya
semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari
ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan
membuatnya semakin sombong (berbangga diri).

Ilmu Dipelajari untuk Diamalkan
Dan jangan lupa, ilmu itu akan disucikan dengan amal.
Jika engkau mengamalkan apa yang telah engkau ilmui,
maka Allah Taala akan menambahkan ilmu bagimu.
Sebagaimana peribahasa orang arab Orang yang
mengamalkan apa yang telah ia ilmui, maka Allah akan
mewarisinya ilmu yang belum ia ilmui. Peribahasa ini
dibenarkan oleh firman Allah Taala yang artinya:

Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan membuatmu
berilmu. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu
[Al Baqarah: 272]
Akibat tidak mengamalkan Ilmu


Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat
besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-
apa yang tidak kamu kerjakan. (As Shaaf:2-3).
Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang
di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para
pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan
tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnyaKelak akan
datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya
sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-
Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi
mengabaikan hukum-hukumnya. (Imam Malik, Al-
Muwaththa, II/44).
3 Golongan Manusia
Dari sisi keilmuan dan pengamalan terhadap ilmu, manusia
terbagi menjadi 3 jenis:
Jenis yang pertama yaitu orang yang berilmu dan
mengamalkan ilmunya. Mereka ini adalah orang-orang
yang diberi petunjuk oleh Allah untuk menempuh shiratal
mustaqim. Dan merekalah teman yang terbaik.
Jenis yang kedua yaitu orang yang berilmu namun tidak
mengamalkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang
dimurkai oleh Allah, semisal orang-orang Yahudi dan
pengikut mereka.
Jenis yang ketiga yaitu orang yang beramal tanpa ilmu.
Mereka ini adalah orang-orang yang sesat, semisal
orang-orang Nashrani dan para pengikut mereka.
3 Golongan Manusia
Ketiga jenis manusia ini tercakup dalam surat Al Fatihah
yang senantiasa kita baca setiap rakat dalam shalat
kita,yang artinya: Ya Rabb, tunjukkanlah kami jalan yang
lurus. Yaitu jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang
yang Engkau beri nimat, bukan jalannya orang yang
Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang
sesat [Al Fatihah: 6 - 7].
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Firman
Allah Taala (yang artinya) bukan jalannya orang yang
Engkau murkai dan bukan jalannya orang-orang yang
sesat, yang dimaksud orang yang dimurkai di sini adalah
para ulama yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Dan
orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang
beramal tanpa ilmu. Apapun yang pertama, adalah sifat
Yahudi. Dan yang kedua adalah sifat Nashrani.
Adab-Adab Penuntut Ilmu
1. Ikhlas
Tanda Ikhlas dalam menuntut Ilmu:
Membuahkan ilmu yang bermanfaat
Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah utus diriku dengan membawa
keduanya sebagaimana permisalan hujan lebat yang membasahi bumi.
Diantara tanah yang diguyur air hujan, ada tanah yang subur, yang
menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan
yang lebat (HR. Bukhari)
Mengamalkan ilmu Tidak akan bergeser dua telapak kaki
hamba di hari kiamat sampai ia ditanya,(salah satunya) tentang ilmunya,
apa yang sudah dia amalkan? (HR. Tirmidzi)
Terus memperbaiki niat
Semakin tunduk dan takut kepada Allah Fatir: 28
Membenci pujian dan ketenaran
Semakin Tawadhu dihadapan manusia
Adab-Adab Penuntut Ilmu
2. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
bagian besar dan berharga dari ilmu tidak akan diraih
kecuali dengan kesungguhan. Adapun sifat malas dan
lemah hanya akan menghalangi seseorang dari
mendapatkan ilmu.
Oleh karena itu seorang penuntut ilmu handaknya
mengerahkan segala upaya untuk memaksa jiwanya
dalam meraih ilmu.
Sebagaimana firman Allah taala : Dan orang-orang
yang bersungguh-sungguh dijalan Kami nisacaya Kami
akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat
baik. [Al Ankabut : 69]
Adab-Adab Penuntut Ilmu
3. Meminta pertolongan kepada Allah taala.
Rasulullah setiap hari setelah selesai shalat subuh
berdoa:


Ya Allah sesungguhnya saya minta kepada Engkau ilmu
yang bermanfaat, rizqi yang baik dan amalan yang
diterima.
Seorang penuntut ilmu hendaknya selalau beristianah
kepada Allah, meminta pertolongan dan taufiq
kepadaNya. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan
keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. [An Nur :
21] Dalam ayat yang lain Dia juga berfirman [Al Hujurat
: 7 ]
Adab-Adab Penuntut Ilmu
4. Mengamalkan ilmu
Karena tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk
diamalkan. Ali radhiyallahu anhu berkata : Ilmu akan
mengajak pemiliknya untuk beramal, jika dia penuhi
ajakan tersebut ilmunya akan tetap ada, namun jika tidak
maka ilmunya akan hilang.
Adapun jika yang dialakukan hanya mengumpulkan ilmu
namun berpaling dari beramal, maka ilmunya akan
menjadi mencelakannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW


Al Quran bisa menjadi penolong bagimu atau justru bisa
mencelakakanmu.
Menjadi penolongmu jika Engkau mengamalkannya, dan
mencelakakanmu jika Engkau tidak mengamalkannya.
Adab-Adab Penuntut Ilmu
5. Mendakwahkan ilmu.
Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk maka
baginya pahala sebagaimana pahala orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun juga.
Maka setiap kali ada orang yang mengambil manfaat dari
ilmunya maka akan dicatat pahala baginya. Tidak
diragukan bahwa ini menunjukkan akan keutamaan
mengajarkan ilmu dan memberi manfaat kepada
manusia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda
: Allah memberikan petunjuk kepada satu orang
disebabkan karena kamu, maka hal itu lebih baik dari
pada onta merah (harta yang paling mahal).
. [Al Ashr :1-3]
Nasihat Sahabat Nabi
Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Pelajarilah
oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena
Allah adalah khasy-yah; mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya
dan mengulangnya adalah tasbiih; membahasnya adalah jihad;
mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah
shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan
diri kepada Allah; karena ilmu itu menjelaskan perkara yang halal
dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah, dan ilmu itu
sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani
di saat berada di tempat yang asing; dan yang akan mengajak
bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang akan menunjuki kita di
saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah
dengan sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan
menghiasainya di tengah-tengah sahabat-sahabatnya.

Nasihat Sahabat Nabi
Sesungguhnya ilmu adalah yang akan menghidupkan hati
dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari
berbagai kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan
mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik dan derajat-
derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.
Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya
menyamai shalat malam; dengan ilmu akan tersambunglah
tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal
sehingga terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah
pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah pengikutnya,
ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang
berbahagia; sedangkan orang-orang yang celaka akan
terhalang darinya." (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-
Imam Abul Hasan Al-Mawardiy)


Nasihat Sahabat Nabi
Dari 'Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan
dia mempunyai dosa-dosa seperti gunung Tihamah, akan tetapi
apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu dengan
menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali
kepada Rabbnya dan bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya
dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena itu, janganlah
kalian meninggalkan majelisnya para ulama." (Miftaah Daaris
Sa'aadah, karya Al-Imam Ibnul Qayyim, 1/77)
Dan beliau juga berkata: "Wahai manusia, wajib atas kalian untuk
berilmu (mempelajari dan mengamalkannya), karena sesungguhnya
Allah Ta'ala mempunyai selendang yang Dia cintai. Maka
barangsiapa yang mempelajari satu bab dari ilmu, Allah akan
selendangkan dia dengan selendang-Nya. Apabila dia terjatuh pada
suatu dosa hendaklah meminta ampun kepada-Nya, supaya Dia
tidak melepaskan selendang-Nya tersebut sampai dia meninggal."