Anda di halaman 1dari 11

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-1


P PE EN ND DA AH HU UL LU UA AN N



1.1. LATAR BELAKANG
Sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah
daerah mempunyai kewenangan yang lebih besar di dalam pelaksanaan pembangunan dan
pengelolaan sumber daya yang tersedia di wilayahnya dengan tetap memelihara dan menjaga
keseimbangan ekosistemdan kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku termasuk
juga di dalamnya mengenai penataan ruang. Wewenang pemerintah daerah dalam hal penataan
ruang adalah menyelenggarakan penataan ruang daerahnya yang didalamnya terdapat unsur
perencanaan, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sedangkan wewenang
Pemerintah Pusat adalah dalamhal pengaturan penataan ruang dan berperan dalammem-fasilitasi
(pembinaan dan bantuan teknis) penataan ruang daerah dan melakukan bentuk pengawasan dan
pengendalian tata ruang dalamskala nasional.

Sebagai upaya dalammenterpadukan programpembangunan dan pengelolaan sumber daya alam
sehingga tercipta suatu pembangunan yang berkelanjutan, pemerintah daerah mempunyai kewajiban
untuk menyusun suatu rencana tata ruang yang dapat menjadi acuan/ pegangan dalam
pembangunan wilayah. Produk rencana tata ruang tersebut harus dapat menjadi pedoman dalam
pelaksanaan pembangunan daerah dan telah menjadi hasil kesepakatan semua stakeholders di
daerah. Namun dalam kenyataannya, banyak produk tata ruang belum sepenuhnya dapat
diimplementasikan dalam pelaksanaan pembangunan sektoral dan pembangunan wilayah karena
beberapa faktor seperti:
adanya perubahan kebijakan daerah yang sangat mendasar,
proses penyusunannya tidak melalui prosedur dan komitmen yang lengkap,
data dan informasi yang dipergunakan tidak lengkap,
perumusan muatan rencana tidak sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku,
produk rencana tata ruang belum disahkan menjadi suatu peraturan yang mengikat bagi
seluruh pelaku pembangunan, dan lain sebagainya.
Berbagai permasalahan tersebut sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pembangunan di daerah
serta berpengaruh juga pada kurang minatnya investor untuk mengembangkan kegiatannya karena
tidak ada jaminan kepastian hukumrencana tata ruang untuk dapat dijadikan pedoman pembangunan
daerah. Dampak yang timbul adalah tidak terpadunya pembangunan dan tumpang tindihnya
pemanfaatan ruang yang mengakibatkan timbulnya dampak negatif perkembangan wilayah seperti
munculnya kawasan kumuh, kemacetan lalu lintas, banjir longsor, perambahan hutan, dan
sebagainya.

Penataan Ruang perlu dijadikan pedoman dalammempercepat pembangunan ekonomi daerah serta
mendayagunakan sumber daya alam secara seimbang. Program penataan ruang diarahkan untuk
(1) meningkatkan penyelenggaraan kegiatan perencanaan tata ruang yang efektif, transparan dan
partisipatif, (2) mengembangkan penyelenggaraan kegiatan pemanfaatan ruang yang tertib
berdasarkan rencana tata, dan (3) meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menjamin
efektifitas dan efisiensi kegiatan pembangunan secara berkelanjutan.

Kedudukan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) terhadap kebijakan pembangunan yaitu
RTRW tersebut digunakan sebagai acuan pemerintah daerah dalam pelaksanaan kegiatan
pembangunan suatu wilayah, proses perijinan dan sebagai acuan pengendalian pemanfaatan ruang.
Penyusunan RTRW dilakukan berdasarkan prosedur yang telah sesuai ketentuan dan pedoman. Oleh
karena itu RTRW sangat berperan dalamkegiatan pembangunan suatu daerah.
Sesuai dengan Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Pedoman
Penyusunan RTRW Kota, rencana tata ruang dirumuskan secara berjenjang mulai dari tingkat
yang sangat umum sampai tingkat yang sangat rinci. Mengingat rencana tata ruang merupakan
matra keruangan dari rencana pembangunan daerah dan bagian dari pembangunan nasional,
keempat tingkatan (RTRW Nasional, RTRW Provinsi, dan RTRW Kota/ Kabupaten) mempunyai
hubungan keterkaitan satu sama lain serta dijaga konsistensinya baik dari segi substansi
maupun operasionalisasinya.
Pelaksanaan kegiatan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Ambon mengacu kepada :
a. Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
b. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
c. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
d. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitrian Peta
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-2

e. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
f. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 tentang
Standar Pelayanan Minimal untuk Permukiman
g. Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota.
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Partisipasi
Masyarakat.
i. Peraturan Menteri Pekerjaan UmumNomor 17/PRT/M/2009 tentang Pedoman Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota

Dalam menjalankan penataan ruang di daerah, Pemerintah Daerah merupakan pelaku yang
utama dalam melaksanakan penataan ruang daerah yang tentunya sangat tergantung dari
kemampuan aparatnya. Dengan diberlakukannya otonomi daerah yang luas menuntut
pergeseran pengertian terhadap aspek pembinaan oleh Pemerintah Pusat terhadap Pemerintah
Daerah serta menuntut Pemerintah Pusat untuk memfasilitasi penyelenggaraan penataan ruang
oleh Pemerintah Daerah dengan menumbuhkan serta mengembangkan kemampuan melalui
pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan dan supervisi yang semuanya dilakukan tanpa
mengandung unsur pemaksaan yang melanggar keotonomian Pemerintah Daerah. Hal ini
sejalan pula dengan amanat UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang
menyatakan bahwa pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan aparatur pemerintah dan
masyarakat di bidang penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang oleh instansi yang diberi tugas dalampenataan ruang.


1.2 AZAS, TUJUAN, SASARAN DAN MANFAAT RTRW KOTA AMBON
1.2.1 Azas RTRW Kota Ambon.
Pada hakekatnya dalam penyusunan RTRW Kota Ambon menggunakan azas- azas :
keterpaduaan; keserasian/keselarasan dan keseimbangan;keberlanjutan,;kebetrdayagunaan
dan keberhasilgunaan; keterbukaan; kebersamaan dan kemitraan; perlindungan kepentingan
umum; kepastian hukumdan keadilan serta akuntabilitas.

1.2.2. Maksud dan Tujuan RTRW Kota Ambon
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Ambon dimaksudkan untuk memberikan arah dan
pedoman bagi pelaksanaan pembangunan Kota Ambon selama dua puluh tahun kedepan.
Sedangkan tujuan RTRW Kota Ambon adalah :
1. Mewujudkan ruang wilayah Kota Ambon yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan
dengan memperhatikan RTRW Provinsi Maluku dan RTRW Nasional.
2. Mewujudkan peran dan kedudukan Kota Ambon sebagai Kota J asa di Kawasan Timur
Indonesia.
3. Mewujudkan Kota Ambon sesuai kondisi dan karaktersitik wilayahnya sebagai waterfront
city dan ecocity untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

1.2.3. Sasaran RTRW Kota Ambon
Sasaran RTRW Kota Ambon adalah:
Tersusunnya tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kota Ambon.
Tersusunnya rencana struktur dan pola ruang wilayah Kota Ambon
Tersusunnya kawasan strategis kota yang terdiri dari wilayah darat dan laut
Tersusunnya arahan pemanfaatan ruang dan indikasi programutama untuk jangka waktu
lima tahunan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

1.2.4. Manfaat RTRW Kota Ambon
RTRW Kota Ambon ini diharapkan setidaknya dapat menghasilkan manfaat sebagai berikut ;
Sebagai bahan acuan pemerintah daerah dalampelaksanaan kegiatan pembangunan
Sebagai acuan bagi pemerintah daerah di dalamproses perijinan.
Sebagai acuan pengendalian pemanfaatan ruang.
Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan serta keserasian
antar sektor.

1.3 RUANG LINGKUP
Ruang lingkup ini meliputi ruang lingkup wilayah yang berisi tentang cakupan wilayah perencanaan
beserta batasan-batasan wilayahnya serta ruang lingkup materi yang berisi tentang cakupan kegiatan
pekerjaan yang akan dikerjakan konsultan dalam menysun Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Ambon.

1.3.1. Ruang Lingkup RTRW Kota Ambon
Ruang lingkup pekerjaan adalah penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang
memuat :
1. Azas, tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah darat maupun laut
2. Rencana Struktur ruang wilayah Kota Ambon yang meliputi Satuan Wilayah Pengembangan
(SWP), SistemPusat Pelayanan kegiatan Kota dan Sistemjaringan prasrana
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-3

3. Rencana Pola Ruang Wilayah kota yang meliputi Kawasan Lindung Kota Ambon dan
kawasan Budidaya Kota Ambon, baik darat maupun laut
4. Recana Kawasan Strategis yang meliputi kawasan strategis ditinjau dari kepentingan
ekonomi, kepentingan sosial budaya dan kepentingan lingkungan hidup.
5. Arahan pemanfaatan ruang wlayah kota yang berisi indikasi program utama jangka
menengah lima tahunan
6. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kota yang berisi ketentuan umum
peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan
sanksi

1.3.2. Ruang Lingkup Wilayah
Kota Ambon terletak di Pulau Ambon yang berada pada posisi geografis 3
o
- 4
o
Lintang Selatan
dan 128
o
- 129
o
Bujur Timur. Kota Ambon mencakup wilayah seluas 377 km dengan luas
wilayah daratan 359,45 km
2
yang membujur di sepanjang pantai mengelilingi perairan Teluk
Ambon dan Teluk Dalam. Secara administratif Kota Ambon berbatasan dengan :

Sebelah Barat : Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah
Sebelah Utara : Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah
Sebelah Timur : Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah
Sebelah Selatan : Laut Banda

Secara administratif Kota Ambon berada di Provinsi Maluku dan berdasarkan Peraturan Daerah
Kota Ambon No. 2 Tahun 2006, Kota Ambon terdiri dari 5 Kecamatan yaitu; Kecamatan
Nusaniwe, Kecamatan Sirimau, Kecamatan Leitimur Selatan, Kecamatan Teluk Baguala, dan
Kecamatan Teluk Ambon yang meliputi 20 Kelurahan , 23 Negeri dan 7 Desa.



























































RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-4


























































































Gambar 1.1.
PETA BATAS ADMINISTRASI
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-5

1.4 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA AMBON
1.4.1 Visi dan Misi Pembangunan Kota Ambon
Visi pembangunan Kota Ambon telah disepakati dalamdokumen RPJ P 2026 yaitu :

TERWUJUDNYA TATA KEHIDUPAN MANUSIA AMBON YANG MANIS, DEMOKRATIS,
DAN MANDIRI SECARA BERKELANJUTAN

Visi pembangunan tersebut dijabarkan dalammisi pembangunan berikut :
1. Misi pertama, mewujudkan tata kehidupan manusia Ambon yang manis dalam arti
mewujudkan stabilitas sosial dan keamanan dalam suasana kemajemukan dan
demokratis, bertumpu pada nilai-nilai budaya lokal serta ketaatan terhadap hukum dan
HAM.
2. Misi ke-dua, mewujudkan tata kehidupan manusia Ambon yang demokratis dalam arti
mewujudkan stabilitas kehidupan politik dan pemerintahan yang demokratis, partisipatif,
dinamis dan akuntabel dengan tetap menjunjung tinggi hukumdan HAM.
3. Misi ke-tiga, mewujudkan tata kehidupan manusia Ambon yang mandiri dalam arti
mewujudkan kemampuan ekonomi yang maju, moderen, merata, berdaya saing tinggi,
bertumpu pada pemanfaatan sumberdaya sesuai dengan keunggulan spasial dan potensi
lokal, serta didukung oleh infrastruktur yang memadai demi terciptanya kesejahteraan
masyarakat secara berkelanjutan.
4. Misi ke-empat terkait dengan misi ke 3, perwujudan arah pembangunan berkelanjutan,
yaitu : mengembangkan Kota Ambon sebagai waterfront city dengan makna khusus
pengembangan Kota Ambon juga mempertanggung-jawabkan kondisi & kualitas
lingkungan perairan/ teluk sebagai satu kesatuan; dalamhal ini memanfaatkan potensi
wilayah pesisir dan perairan secara ekonomis dan sosial, juga menjaga kelestarian alam
lingkungan pesisir dan perairan tersebut secara berkelanjutan.

Dengan mengacu pada Visi dan Misi pembangunan Kota Ambon tersebut maka tujuan
penataan ruang Kota Ambon adalah :
Mewujudkan Kota Ambon yang dapat mewadahi berbagai aktivitas masyarakat untuk sosial,
ekonomi dan kehidupan budaya dengan dukungan tata ruang dan infrastruktur yang
memadai dalam arti memberi kenyamanan, keamanan, dan dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat;
Meningkatkan keterpaduan pemanfaatan ruang daratan dan perairan/ teluk secara
harmonis;
Meningkatkan pengendalian pemanfaatan ruang Kota Ambon dalamrangka perlindungan
fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan
ruang;
Dengan tujuan umum ini maka dapat disusun langkah selanjutnya yaitu penetapan dan
perumusan kebijakan dan strategi pembangunan tata ruang Kota Ambon termasuk kebijakan
dan strategi pengembangan struktur ruang dan pola pemanfatan ruang kota.

1.4.2 Penetapan Fungsi dan Peran Kota Ambon
Peran dan fungsi Kota Ambon dirangkumdari berbagai kebijakan dan arahan pembangunan
Kota Ambon dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Sebagai Pusat Kegiatan Nasional/ PKN yang diharapkan mampu memberikan pelayanan
kegiatan sosial ekonomi dan keuangan skala internasional dan nasional/ provinsi; sebagai
simpul utama jaringan transportasi nasional dan lintas daerah; sebagai pintu gerbang ke
kawasan internasional.
2. Sebagai Kota Orde - I dalam lingkup wilayah Provinsi Maluku dan pusat WP Maluku
Tengah, Kota Ambon diharapkan dapat memberikan pelayanan perkotaan langsung dan
tidak langsung kepada seluruh wilayah provinsi dan khususnya Wilayah Pengembangan/
WP secara hirarkis melalui kemudahan interaksi antar pusat-pusat. Dengan demikian
diharapkan Kota Ambon dapat berfungsi menjadi pusat penjalar pertumbuhan dan
perkembangan ke wilayah hinterlannya.
3. Kota Ambon berfungsi internal sebagai tempat berlangsungnya kegiatan permukiman
penduduk, sebagai tempat dan lokasi pengembangan kegiatan pelayanan dalam hal
pemerintahan kota, kegiatan perdagangan, jasa, transportasi pelayanan lokal dan antar
kawasan, pelayanan kegiatan pendidikan, kesehatan dan sosial lainnya. Selain itu fungsi
eksternal adalah : sebagai pusat pemerintahan wilayah Provinsi Maluku yang
mengkoordinasikan kegiatan pemerintahan wilayah provinsi, sebagai pusat Wilayah
Pelayanan juga berfungsi sebagai pusat penjalar pertumbuhan dan perkembangan untuk
wilayah hinterland, wilayah pengembangan (WP) dan provinsi.
4. Terkait dengan isu pembangunan regional yang berpengaruh di antaranya pengembangan
sektor kelautan, perikanan dan wisata bahari di wilayah Maluku dan sekitarnya, maka Kota
Ambon berfungsi sebagai salah satu pusat pengembangan kegiatan tersebut.
Untuk sub sektor pariwisata maka Kota Ambon dapat berfungsi sebagai satu pusat
akomodasi dan pelayanan wisata dari seluruh pengembangan sentra-sentra wisata.
Dalamhal ini Kota Ambon berfungsi sebagai salah satu sentra pengembangan wisata
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-6

yang bersama dengan sentra lain dikembangkan dalam satu perencanaan dan
pembangunan terpadu, sehingga untuk kepentingan dunia pariwisata, Maluku
menawarkan paket-paket wisata yang sudah ditata dengan pola saling melengkapi
antara kota besar kota kecil, pantai, laut, pulau-pulau kecil, wisata budaya, sejarah,
dan dengan pilihan yang tersebar lengkap dengan pusat akomodasinya. Bahkan
dapat pula dikembangkan paket aktivitas wisata terkait dengan aktivitas penangkapan
ikan/ pemancingan dsb.
Untuk sub sektor perikanan maka Kota Ambon berperan sebagai pusat pemasaran
dan ekspor hasil laut ke provinsi lain dan ke Negara-negara importir. Pusat
pengolahan/ industri hasil-hasil komoditi laut dapat dikembangkan di beberapa sentra
lain tersebar sesuai potensi lokasi dan SDM setempat sehingga mendorong
berkembangnya perekonomian lokal dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

5. Terkait dengan potensi dan kendala fisik pengembangan Kota Ambon, maka fungsi yang
diemban Kota Ambon terutama adalah sebagai pusat kegiatan jasa perhubungan,
keuangan dan jasa lain terkait dengan peran pelabuhan internasional Yos Sudarso.

Dalam hal ini perlu seleksi dan mengurangi beberapa fungsi yang memungkinkan
dikembangkan di pusat-pusat lain di sekitarnya sehingga sekaligus ada upaya dan
pengembangan wilayah sekitar; Salah satu kriteria seleksi adalah kebutuhan ruang dan
potensi pencemaran.
Diharapkan pengembangan fungsi kegiatan ekonomi di Kota Ambon dapat membatasi
kegiatan yang potensi merusak lingkungan, yang membutuhkan ruang/ lahan luas, dan banyak
menarik perkembangan kegiatan lain serta migrasi tenaga kerja, akan tetapi kurang
memberikan nilai jual.
Sebaliknya dikembangkan fungsi kegiatan ekonomi yang memiliki keterkaitan tinggi dengan
peran pelabuhan internasional Yos Sudarso; telah pula berkembang rencana pengembangan
kawasan bisnis transit di kawasan pelabuhan.
Fungsi-fungsi kegiatan ekonomi yang dikembangkan diantaranya adalah :
pusat aktivitas kepelabuhan/ perhubungan & jasa pelayanan angkutan laut skala besar;
pusat jasa keuangan;
pusat informasi pasar/ ekspor-impor;
pusat pendidikan dan riset kelautan/ perikanan;
pusat bisnis kerjasama kelautan dan pariwisata (pelatihan, promosi, pengadaan jasa
konsultasi, kajian, jasa wisata/ tour, bantuan hukum dll).

Fungsi kegiatan lain yang sudah berkembang saat ini akan tetap dipertahankan diantaranya:
pusat pemerintahan provinsi dan kota
pusat perdagangan regional dan lokal
pusat pendidikan tinggi
pusat jasa angkutan lokal antar kota jarak dekat
pusat jasa, restoran dan hotel
pertanian (termasuk perkebunan dan perikanan)

Fungsi kegiatan yang dibatasi di Kota Ambon adalah :
kegiatan industri pengolahan skala besar/ menengah
kegiatan pertambangan

1.4.3 Kebijakan Pengembangan Ruang Kota
Sebagai arahan penyusunan rencana tata ruang dan pembangunan kota maka kebijakan dasar
pengembangan ruang Kota Ambon untuk 20 tahun kedepan diperlukan mengingat :
1. perkembangan wilayah Kota Ambon hingga saat ini yang menunjukkan perluasan hingga
mengarah ke perbukitan;
2. masih lemahnya pola pengendalian perkembangan wilayah kota secara konsisten di
Indonesia;
3. diketahui wilayah Kota Ambon memiliki karakteristik fisik yang rentan terhadap erosi dan
longsor terutama pada kelerangan sekitar 15% ke atas;
4. keterbatasan wilayah layak bangun di Kota Ambon yaitu hanya sekitar 17% luas wilayah
kota keseluruhan.
Dengan pertimbangan tersebut maka kebijakan dasar pengembangan ruang kota Ambon perlu
disusun dan seyogyanya disepakati oleh seluruh jajaran pemerintahan daerah/ pengelola
pembangunan Kota Ambon serta stakeholder terkait sehingga perencanaan tata ruang kota
mudah dipahami dan diaplikasikan juga pengendalian pembangunan akan memiliki landasan
yang jelas.



RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-7

Kondisi dan potensi Kota Ambon sebagai pertimbangan perumusan Kebijakan :
1. Perkembangan di kawasan pusat kota meluas untuk permukiman dan fasilitas ke arah
selatan dan juga kegiatan jasa komersial yang berkembang di sepanjang jalur utama,
menunjukkan adanya kepadatan dan kejenuhan.
2. Potensi perkembangan kawasan Passo, yang potensi tumbuh sebagai pusat
perdagangan kedua di Kota Ambon.
3. Kesesuaian lahan, sifat dan kondisi fisik lahan yang rawan erosi, morfologi kota yang
berbukit dan bergunung menjadi pokok pertimbangan.
4. Keterbatasan lahan layak bangun Kota Ambon tidak memungkinkan perluasan dan
pengembangan semua sektor kegiatan baik skala besar menengah dan kecil, dan perlu
penetapan prioritas pengembangan sektor andalan dan sektor strategis.

Skenario pengembangan kota pada umumnya adalah dengan pengembangan yang bersifat
ekstensif atau diperluas dengan penambahan ruang terbangun kota ke arah wilayah yang belum
terbangun, dan pengembangan yang bersifat intensif dengan penambahan jumlah lantai
bangunan serta revitalisasi kawasan/ perbaikan lingkungan untuk optimasi pemanfaatan lahan.

Manfaat kebijakan dan perencanaan tata ruang kota diantaranya sebagai pedoman untuk
mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan perkembangan antar kawasan serta
keserasian antar sektor; juga untuk pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah
dan masyarakat.

Berikut ini adalah Kebijakan Dasar Pengembangan Ruang Kota Ambon yang disusun
sebagai landasan perencanaan untuk meningkatkan keterpaduan, keseimbangan
perkembangan, dan keserasian antar sektor dan antar kawasan :
1. Berdasarkan analisis kondisi lahan dan kesesuaian lahan serta kebutuhan mengakomodir
perkembangan aktivitas sosial ekonomi Kota Ambon, maka Kota Ambon akan
mengembangkan ruang-ruang kota secara selektif dengan memperhatikan fungsi kawasan.
2. Pengembangan intensif diarahkan pada bagian kota yang sudah berkembang sekarang
dengan tetap dibatasi; dan pengembangan ekstensif/ meluas hanya dapat dilaksanakan
pada kawasan yang layak sesuai hasil analisis kesesuaian lahan.
3. Pengaruh dari kondisi geografis, topografi dan morfologi kota yang terbentuk atas unsur
gunung, perbukitan, dataran yang relatif sempit dan pantai maka perkembangan Kota
Ambon yang linier mengikuti garis pantai dari Laha sampai dengan Latuhalat dengan lebar
ke arah daratan disesuaikan dengan kemiringan sesuai standar, adalah pola
pengembangan ruang kota yang masih tetap akan dipertahankan.
4. Pengembangan ruang Kota Ambon termasuk upaya pembangunan kawasan baru,
revitalisasi kawasan terbangun yang ada, penataan ruang daratan dan juga wilayah
perairan/ teluk, serta pengendalian kawasan-kawasan disesuaikan dengan fungsi kawasan.

Struktur Ruang menurut Undang-Undang 26 Tahun 2007 adalah susunan pusat-pusat
permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
Dengan demikian struktur ruang wilayah kota adalah sistem pusat pelayanan perkotaan di
wilayah kota dan sistem jaringan prasarana wilayah kota yang mendukung hubungan antar
pusat pusat tersebut.

Definisi lain menjelaskan struktur ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk rona
lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural
berhubungan satu dengan lainnya membentuk susunan yang unik meliputi hirarki pusat
pelayanan, hirarki prasarana jalan seperti jalan arteri - kolektor - lokal dsb. Di Kota Ambon
terbentuk susunan pusat-pusat kegiatan dengan perbedaan fungsi dan membentuk satuan
pengembangan dengan pusat orientasi tertentu. Pusat-pusat kegiatan fungsional ini dengan
permukiman disekitarnya membentuk kesatuan kawasan dan umumnya berorientasi kearah
jalan Arteri sebagai prasarana penghubung antar pusat. Khususnya kawasan pusat kota
berkembang lebih pesat sehingga tumbuh menjadi pusat utama. Berdasar kecenderungan
perkembangan ini dibentuk Satuan Wilayah Pengembangan/ SWP dan susunan pusat-pusat
pelayanan kota.

Pengembangan struktur ruang Kota Ambon bertujuan untuk :
1. Membentuk orientasi pelayanan kota agar lebih merata dan berjenjang.
2. Efisiensi penggunaan lahan dan efektifitas penggunaan sarana dan prasarana
3. Antisipasi perkembangan kota

Kawasan Pusat Kota Ambon hingga saat ini memiliki intensitas kegiatan yang tertinggi dan
menjadi kawasan yang ramai dikunjungi baik pendatang, pekerja, dan warga yang berbelanja,
dengan demikian menyangkut pemanfaatan lahan kota, kawasan ini dapat dikategorikan
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-8

kawasan komersial dengan penggunaan lahan campuran; dari sistem pusat-pusat pelayanan
kota kawasan ini berperan sebagai sentra primer atau pusat utama kota.

Di kawasan Pusat Kota Ambon terdapat kawasan pelabuhan yang sibuk, dan saat ini Pelabuhan
di Kota Ambon cukup banyak yaitu : pelabuhan laut Yos Sudarso untuk pelayaran nasional dan
internasional, pelabuhan laut Slamet Riyadi untuk pelayaran perintis dan lokal, juga terdapat
beberapa pelabuhan khusus.

Fungsi yang berkembang di kawasan Pusat Kota, di luar kawasan pelabuhan adalah
perkantoran pemerintahan provinsi dan kota, perdagangan, pasar dengan dilengkapi pertokoan
Ambon Plaza sebagai sentra aktivitas perbelanjaan warga masyarakat, dan secara linier juga
tumbuh berbagai jenis toko, dan kegiatan jasa seperti percetakan, rumah makan, hotel, bengkel
serta berbagai fasilitas.

Kawasan Pusat Kota telah berkembang sebagai pusat pelayanan utama kota dengan kegiatan
komersial dan berbaur dengan kawasan permukiman dan fasilitas. Di samping pusat utama
tersebut dapat diidentifikasi pula beberapa pemusatan kegiatan sebagai sentra kegiatan seperti :
sentra kegiatan di Passo, sentra kegiatan di Laha, sentra kegiatan di Poka. Masing-masing
sentra tersebut memiliki dominasi kegiatan yang berbeda, juga mengarah pada fungsi kawasan
yang spesifik.

Dengan memahami kecenderungan perkembangan Kota Ambon saat ini di mana kawasan
Pusat Kota memiliki keterbatasan untuk terus dikembangkan dan berperan sebagai pusat
pengelompokkan berbagai aktivitas komersial berbaur dengan permukiman dan fasilitas, maka
dirasakan kepadatan, kejenuhan, bahkan kesemrawutan dan kesulitan pengaturan.

Di samping itu dirasa ada kebutuhan untuk pemisahan fungsi dan rute angkutan dalam kota
dengan angkutan regional. Maka solusi yang sudah dirumuskan terkait dengan penataan
kegiatan, penataan pusat-pusat dan strategis untuk pengaturan rute angkutan umum, yaitu
dengan pengembangan terminal regional di Passo serta pengembangan kawasan Passo
sebagai pusat kota kedua.

Dengan demikian perlu dikembangkan struktur ruang untuk Kota Ambon hingga 20 tahun
mendatang. Pertimbangan pengembangan struktur ruang Kota Ambon adalah : perkembangan
Kota Ambon dan kebutuhan penataan kembali pusat-pusat akibat kejenuhan pusat utama di
Kawasan Pusat Kota, dan adanya potensi strategis pengembangan sentra primer di Passo,
serta belumterakomodir kawasan perairan dalamsistempusat-pusat pelayanan kota.

Pusat/ sentra kegiatan yang telah berkembang telah diidentifikasi dan diarahkan sebagai sentra
sekunder/ tersier membentuk 7 satuan wilayah, dan berorientasi pada 4 sentra/ pusat SWP
sebagai sentra dengan satuan wilayah pengembangan yang akan menjadi landasan
pembangunan Kota Ambon.
Sejalan dengan kebijakan Tata Ruang Wilayah Nasionan dan Kebijakan Tata Ruang Wilayah
Provinsi Maluku serta memperhatikan pembentukan struktur ruang Kota Ambon tersebut maka
kebijakan dan strategi pengembangan Struktur Ruang Kota Ambon diarahkan pada perwujudan
Kota Ambon sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN), peningkatan akses pelayanan perkotaan
dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhirarkhi dan peningkatan kulaitas
dan jangkaan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi dan sumber
daya air, yang terpadu dan merata diseluruh wilayah Kota Ambon.
Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut bagi peningkatan akses pelayanan perkotaan
dan pertumbuhan ekonomi wilayah , maka disusun strategi pengembangan struktur ruang sbb :
1. Mempertahankan keterkaitan antar kawasan perkotaan , antara kawasan perkotaan dan
kawasan perdesaan serta antara kawasan perkotaan dan wilayah sekitarnya.
2. Mengembangka pusat pertumbuhan baru dikawasan yang belum terlayani oleh pusat
pertumbuhan.
3. Mengendalikan perkembangan KOTA Ambon sebagai water front city dan eco city.
4. Mendorong kawaasn perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih efektif dalam
pengembangan wilayah disekitarnya.

1.5 KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH KOTA AMBON
Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kota Ambon meliputi kebijakan dan strategi
pengembangan Struktur Ruang, Pola Ruang dan Kawasan Strategis Wilayah kota Ambon.

1.5.1. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang
a. Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang meliputi :
1. Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah
yang merata dan berhierarki
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-9

2. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
telekomuikasi, energi dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah
Kota Ambon.
b. Strategi Pengembangan Struktur Ruang
Untuk peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah
yang merata dan berhierarki meliputi:
1. Mempertahankan keterkaitan antar sub pusat pelayanan kota, serta dengan wilayah di
sekitarnya
2. Mendorong perkembangan sub-sub pusat pelayanan eksisting agar lebih optimal dalam
mendukung perkembangan kawasan.
3. Mengembangkan sub-sub pusat pelayanan baru di kawasan yang belumterlayani oleh
pusat pelayanan.
Untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi,
telekomunikasi, energi, dan sumber daya air serta prasarana perkotaan yang terpadu dan
merata di seluruh wilayah Kota Ambon meliputi:
1. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana transportasi
2. Mengembangkan jaringan prasarana transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas
antar kawasan dan antar wilayah
3. Mengembangkan kapasitas pelayanan energi listrik hingga mencapai pusat-pusat
lingkungan dengan memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal
4. Mengembangkan sumber daya air untuk melindungi, memanfaatkan, dan
mengendalikan sumber daya air
5. Mengembangkan pelayanan jaringan telekomunikasi sesuai dengan arah
pengembangan kota, terutama di kawasan yang terpencil atau belumterlayani
6. Mengembangkan kapasitas pelayanan air minum hingga mencapai pusat-pusat
pelayanan lingkungan
7. Mengembangkan kapasitas pelayanan persampahan hingga mencapai wilayah yang
belumterlayani dan mengamankan kawasan perairan Teluk Ambon
8. Mengembangkan sistem jaringan drainase untuk mengendalikan genangan air dan
banjir
9. Mengembangkan sistempembuangan air limbah di setiap kawasan dan mengamankan
kawasan perairan Teluk Ambon
10. Mengembangkan prasarana pejalan kaki pada wilayah yang mempunyai bangkitan lalu
lintas yang tinggi
11. Mengembangkan jalur evakuasi bencana pada wilayah yang rawan bencana.
1.5.2. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang
Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan secara terus menerus sampai masa berlaku
perencanaan ini berakhir, untuk memastikan bahwa perencanaan tata ruang dan pelaksanaan
pemanfaatan ruang telah berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dengan
kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang dapat diketahui dan sekaligus dapat dihindarkan
kemungkinan terjadinya penyimpangan fungsi ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang, serta dapat mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat
terwujud. Pengendalian pembangunan perlu dilakukan karena adanya kemungkinan terjadi konflik
antara kawasan lindung dengan kawasan budidaya dan atau antara kawasan budidaya dengan
kawasan budidaya lainnya. Kasus-kasus yang dapat menjadi permasalahan, antara lain, adalah
konflik antara:
Rencana dengan status/ usaha tanah;
Rencana dengan proyek-proyek pembangunan;
Rencana dengan penggunaan tanah yang sedang berlangsung.
Sejalan dengan itu perlu dibuat kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang untuk kawasan
lindung dan kawasan budidaya sebagai berikut :
1.5.2.1. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Lindung
Dengan berpedoman pada Keppres Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung serta dengan memperhatikan kondisi dan permasalahan kawasan lindung Kota
Ambon saat ini , maka ditetapkan kebijakan pengembangan kawasan lindung Kota Ambon
untuk jangka waktu perencanaan 20 tahun kedepan yaiitu melakukan berbagai upaya
pemeliharaan bagi terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta melakukan berbagai
upaya pencegahan dampak negatif sebagai akibat dari kegiatan manusia yang dapat
menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.
Untuk mengimplemtasikan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung Kota Ambon
adalah sebagai berikut :
Kebijakan Pengembangan Kawasan Lindung meliputi :
a. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
b. penetapan kawasan perlindungan setempat, ruang terbuka hijau, kawasan pelestarian
alam, kawasan rawan bencana, kawasan lindung geologi, dan kawasan lindung lainnya.




RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-10

Strategi pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lindung hidup, meliputi:
a. membatasi kegiatan-kegiatan yang dapat mengganggu pelestarian lingkungan hidup;
b. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun sebagai
akibat pengembangan kegiatan budi daya, dalamrangka mewujudkan dan memelihara
keseimbangan ekosistemwilayah;
c. mengarahkan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung untuk menjaga fungsi lindung
dan menjaga keberlanjutan pembangunan kota jangka panjang.

Strategi penetapan kawasan perlindungan setempat, ruang terbuka hijau, kawasan pelestarian
alam, kawasan rawan bencana, kawasan lindung geologi, dan kawasan lindung lainnya,
meliputi:
a. menentukan batas-batas kawasan yang harus ditetapkan sebagai kawasan perlindungan
setempat, ruang terbuka hijau, kawasan pelestarian alam, kawasan rawan bencana,
kawasan lindung geologi, dan kawasan lindung lainnya;
b. mengarahkan pemanfaatan ruang pada kawasan perlindungan setempat, ruang terbuka
hijau, kawasan pelestarian alam, kawasan rawan bencana, kawasan lindung geologi, dan
kawasan lindung lainnya dengan peraturan zonasi;
c. menyusun ketentuan insentif dan disinsentif, ketentuan perizinan serta sanksi terhadap
pelanggaran pemanfaatan ruang pada kawasan perlindungan setempat, ruang terbuka
hijau, kawasan pelestarian alam, kawasan rawan bencana, kawasan lindung geologi, dan
kawasan lindung lainnya

2. Kebijakan dan Strategi pengembangan kawasan Budidaya
Sebagai suatu kawasan yang berada di luar kawasan lindung , kawasan budi daya
berdasarkan kondisi fisiknya dan potensi sumber daya alamnya dianggap dapat dan perlu
dimanfaatkan/ dibudidayakan bagi kepentingan produksi maupun bagi pemenuhan kebutuhan
perumahan. Sejalan dengan itu Kebijakan Pengembangan Kawasan budi daya diarahkan pada
upaya perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budi daya
serta pengendalian pengembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan
daya tampung lingkungan.
Untuk mengimplemtasikan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan Budidaya Kota Ambon
adalah sebagai berikut :
Kebijakan pengembangan kawasan budidaya meliputi:
2.5. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya;
2.6. pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung
dan daya tampung lingkungan.

Strategi perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya meliputi:
a. menetapkan kegiatan-kegiatan yang bernilai strategis untuk mewujudkan fungsi Kota Ambon
sebagai kota jasa, pusat pemerintahan provinsi, pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat
wisata dan pusat sejarah.
b. Mengembangkan potensi sumber daya pesisir pantai dan teluk Ambon guna mewujudkan
Ambon Waterfront City dan Ecocity bagi pembangunan berkelanjutan.
c. mengembangkan kegiatan-kegiatan perkotaan modern dengan berlandaskan nilai-nilai budaya
Ambon.
d. mengembangkan kegiatan-kegiatan unggulan pada masing-masing Pusat Kota dan Sub Kota
untuk mendorong perkembangan fungsi masing-masing pusat dengan memperhatikan
keterkaitan Gugus Pulau Ambon-Lease
e. mendorong perkembangan kawasan pinggiran kota dengan mengembangkan kegiatan-
kegiatan yang memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih tinggi dan dapat memberikan nilai
tambah ekonomi
f. mengembangkan ruang yang aman dan nyaman terhadap bencana.

Strategi untuk mewujudkan pengendalian kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan
daya tampung lingkungan, meliputi:
a. membatasi perkembangan kegiatan budidaya terbangun di kawasan rawan bencana untuk
meminimalkan potensi kerugian akibat bencana
b. mengembangkan perkotaan pulau kecil dengan mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara
vertikal dan kompak
c. membatasi perkembangan kawasan terbangun di sekitar kawasan cagar budaya untuk
mempertahankan nilai-nilai sejarah Kota Ambon
d. membatasi perkembangan kawasan terbangun di sekitar kawasan mata air dan wilayah
tangkapan air untuk menjaga ketersediaan sumber air baku
e. mengembangkan kegiatan budi daya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau kecil
f. mengembangkan ruang terbuka hijau paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan
kota.



RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA AMBON TAHUN 2011 -2031

I PENDAHULUAN 1-11

1.5.3. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis

Sebagai suatu kawasan atau wilayah yang diprioritas penataan ruangnya karena memilik pengaruh
penting danstrategis dalam lingkup Kota Ambon terhadap beberapa aspek yaitu ekonomi, sosial
budaya dan lingkungan, maka kawasan strategis ini perlu ditetapkan kebijakan dan strategi
pengembangannya.
Dalam kaiatan itu kebijakan pengembangan kawasan strategi Kota Ambon diarahkan pada upaya
pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam mengembangkan perekonomian kota dan
mampui bersaing pada skala nasional maupun internasional, pelestarian dan peningkatan kehidupan
sosial budaya, serta pelesdtarian peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup guna
mempertahankan dan meningkattkan keseimbangan ekosistim, melestarikan keanekaragaman hayati
, perlindungan kawasan, keunikan bentang alamdan pengembangan kawasan riset dan wisata ilmiah.
Untuk mengimplemetasikan kebijakan tersebut maka kebijakan dan strategis pengembangan
kawasan Strategis meliputi :
a. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalampengembangan perekonomian Kota
Ambon yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalamperekonomian nasional, maupun
internasional dengan memanfaatkan teknologi tinggi maupun tepat guna
b. pelestarian dan peningkatan kehidupan sosial dan budaya
c. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan
dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati,
mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, dan melestarikan keunikan
bentang alam, serta pengembangan kawasan riset dan wisata ilmiah.
Strategi pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalampengembangan perekonomian Kota
Ambon, meliputi:
a. mengembangkan pusat pertumbuhan berbasiskan sumber daya alamdan kegiatan budi daya
unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah
b. mengelola dampak negatif kegiatan budidaya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan
hidup dan efisiensi kawasan
c. mengintensifkan promosi peluang investasi
d. meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana kegiatan ekonomi
e. mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan melalui keterkaitan dari
pemanfaatan sumber daya alamdan/atau teknologi tinggi.
Strategi pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya , meliputi:
a. melestarikan situs warisan budaya Ambon
b. mendorong pengembangan kawasan wisata dan sejarah
c. mengembangkan kegiatan pariwisata budaya dan sejarah.
Strategi pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, meliputi:
a. Penetapkan kawasan strategis berfungsi lindung
b. Mengembangkan kegiatan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan Kota Ambon yang
dapat berfungsi sebagai penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan
budidaya terbangun
c. Merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak pemanfaatan ruang yang
berkembang di dalamdan di sekitar kawasan.
d. Melestarikan keaslian fisik serta mempertahankan keseimbangan ekosistemnya;
e. Meningkatkan jasa lingkungan (kepariwisataan ilmiah)
f. Melestarikan keberlanjutan lingkungan hidup.