Anda di halaman 1dari 7

2.

2 Diabetes mellitus (DM)


2.2.1 Definisi DM
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia kronis yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
defek kinerja insulin, atau kedua-duanya Diabetes mellitus terjadi jika insulin
yang tersedia tidak mampu mempertahankan kadar gula darah tetap normal atau
sel tidak mampu memberikan respon yang baik terhadap insulin yang tersedia.
Gejala DM meliputi poliuria (frekuensi berkemih meningkat), polidipsia (banyak
minum), penurunan berat badan, kadang-kadang polifagia (banyak makan), dan
penglihatan kabur. Komplikasi jangka panjang diabetes meliputi retinopati,
nefropati, neuropati perifer, neuropati otonom, selain itu pada pasien DM
diketahui terjadi peningkatan insiden ateroskelosis kardiovaskuler, arteri perifer
dan penyakit serebrovaskular. (ADA 2010).
2.2.2Komplikasi DM
Komplikasi-komplikasi diabetes mellitus dapat dibagi menjadi dua kategori:
a. Komplikasi Metabolik Akut, misal Seperti ketoasidosis diabetik dan
hipoglikemia.
b. Komplikasi-komplikasi Vaskular Jangka Panjang, melibatkan pembuluh-
pembuluh kecil (mikroangiopati) dan pembuluh-pembuluh sedang dan
besar (makroangiopati). Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes
yang menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik),
glomerulus ginjal (nefropati diabetik), otot-otot dan kulit. Makroangiopati
diabetik mempunyai gambaran histopatologik berupa arteriosklerosis
(Price dan Wilson, 1995).
2.2.3Penanganan DM
2.2.3.1 Farmakologis
Penatalaksanaan DM terdiri dari terapi non farmakologis yang meliputi
perubahan gaya hidup dengan meningkatkan aktivitas jasmani dan pengaturan
pola diet, serta terapi farmakologis berupa pemberian obat antidiabetes oral dan
atau injeksi insulin. Terapi farmakologis ini sebaiknya dipilih apabila terapi
nonfarmakologis telah dilakukan tetapi tidak dapat mengendalikan kadar glukosa
darah sebagaimana yang diharapkan (Yunir dan Soebardi, 2007). Terapi
farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk injeksi.
1. Obat hipoglikemik oral
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan:
a. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonylurea dan glinid
b. Peningkat sensitivitas terhadap insulin: metformin dan tiazolidindion
c. Penghambat gluconeogenesis: metformin
d. Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa
e. DPPIV Inhibitor

Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi
insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien
dengan berat badan normal dan kurang.
Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea,
dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama.
Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam
benzoat) dan Nateglinid (derivate fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan
cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui
hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial.
Tiazolidindion
Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator
Activated Receptor Gamma (PPARg), suatu reseptor inti di sel otot dan sel
lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin
dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga
meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion
dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas IIV karena
dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati.
Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan
pemantauan faal hati secara berkala.
Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Metformin
dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum
kreatinin >1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan
hipoksemia (misalnya penyakit serebrovaskular, sepsis, renjatan, gagal
jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk
mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah
makan. Selain itu harus diperhatikan bahwa pemberian metformin secara
titrasi pada awal penggunaan akan memudahkan dokter untuk memantau
efek samping obat tersebut.
Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus,
sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah
makan. Acarbosetidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek
samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan latulens.
DPP-IV inhibitor
Glucagon-like peptide-1 (GLP1) merupakan suatu hormone peptida
yang dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. Peptida ini disekresi oleh sel
mukosa usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan.
GLP1 merupakan perangsang kuat penglepasan insulin dan sekaligus
sebagai penghambat sekresi glukagon. Namun demikian, secara cepat
GLP1 diubah oleh enzim dipeptidyl peptidase4 (DPP4), menjadi metabolit
GLP1(9,36) amide yang tidak aktif. Sekresi GLP1 menurun pada DM tipe
2, sehingga upaya yang ditujukan untuk meningkatkan GLP1 bentuk aktif
merupakan hal rasional dalam pengobatan DM tipe 2. Peningkatan
konsentrasi GLP1dapat dicapai dengan pemberian obat yang menghambat
kinerja enzim DPP4 (penghambat DPP4), atau memberikan hormon asli
atau analognya (analog incretin=GLP1 agonis). Berbagai obat yang masuk
golongan DPP4 inhibitor, mampu menghambat kerja DPP4 sehingga
GLP1 tetap dalam konsentrasiyang tinggi dalam bentuk aktif dan mampu
merangsang pelepasan insulin serta menghambat pelepasan glukagon.

2. Injeksi
a. Insulin
Secara fisiologissekresi insulin terdiri dari sekresi basal dan sekresi
prandial. Terapi insulin diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin
yang fisiologis. Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya
hiperglikemi pada keadaan puasa, sedangkan defisiensi insulin prandial
mengakibatkan hiperglikemi setelah makan. Terapi insulin sebagai
subsitusi ditujukan untuk koreksi terhadap defisiensi yang terjadi.
b. Agonis GLP1/ incretin mimetic
Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP1 merupakan pendekatan
baru untuk pengobatan DM. Agonis GLP1 dapat bekerja sebagai
perangsang peng lepasan insulin yang tidak menimbulkan hipoglikemia
ataupun peningkatan berat badan yang biasanya terjadi pada pengobatan
dengan insulin ataupun sulfonilurea. Agonis GLP1 bahkan mungkin
menurunkan berat badan. Efek agonis GLP1 yang lain adalah menghambat
penglepasan glukagon yang diketahui berperan pada proses
glukoneogenesis.

2.2.6.1 Herbal
Tumbuhan obat terbukti merupakan salah satu sumber bagi bahan baku
obat anti diabetes mellitus karena diantara tumbuhan tersebut memiliki
senyawa-senyawa yang berkhasiat sebagai anti diabetes mellitus. Diantara
250.000 spesies tumbuhan obat di seluruh dunia diperkirakan banyak yang
mengandung senyawa anti diabetes mellitus yang belum diketemukan
(Fidzaro, 2010). Senyawa anti diabetes mellitus yang berasal dari tumbuhan
obat diantaranya christinin A, xanthone, bellidifolin, thysanolacton, TAP
(suatu polisakarida asam) dan lain-lain (suharmiati, 2003), Alkaloid, (slagel
M., 2002). Flavonoid, (Rohman dan Riyanto, 2004).
Menurut Shane (2001) bahan alam yang dapat digunakan untuk menurunkan
kadar gula darah seperti dilaporkan oleh diantaranya adalah Gymnema, Fenugreek,
Bitter Melon, Gingseng, Nopal,Aloe, Bilberry, Milk Thistle dan Ginko Biloba.
Sedangkan menurut Widyowati (1990), beberapa jenis tanaman yang telah
digunakan sebagai bahan pengobatan diabetes mellitus yaitu: bawang putih (Allium
Sativa L), babakan pule (Alstonia scholaris L), daun sambiloto (Andgraphis
paniculata Nees), belimbing (Averrhoa bilimbi L), daun mimba (Azadirachta indica
A. Juss ), tapak dara (Chatarantus roseus G.don), ubi jalar (Ipomea batatas Poir),
petai cina (Leucaena leucephala de Witt), bidara upas (Meremia mammosa), pare
(Momordica charantia L), mengkudu (Morinda citrifolia L), kumis kucing
(Orthosiphonstamineus Benth), ciplukan (Physalis minima L), mahoni (Swietenia
macrophylla King), the (Camellia sinesis (L) kuntze), duwet (Syzigium cumini (L)
Skeels).
2.3 Suku Tengger
2.3.1 Keadaan Geografis
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) ditetapkan menjadi
kawasan taman nasional sejak Oktober 1982 berdasarkan Surat Pernyataan Menteri
Pertanian Nomor 736/Mentan/X/1982. Kawasan ini ditetapkan sebagai taman
nasional karena memiliki potensi kekayaan alam yang tidak saja besar namun juga
unik. Kekayaan alam tersebut berupa fenomena Kaldera Tengger dengan lautan
pasir yang luas, pemandangan alam dan atraksi geologis Gunung Bromo dan Gunung
Semeru (Hidayat et al., 2007). Jumlah luas keseluruhan TN-BTS ialah 50.273,30 ha,
didalamnya terdapat pegunungan, dan juga terdapat 4 buah danau (ranu) masing-
masing : Ranu Pani (1 ha), Ranu Regulo (0,75 ha), Ranu Kumbolo (14 ha) dan Ranu
Darungan (0,5 ha), (Dephut, 2009a).
TN-BTS terletak pada 7
0
54-8
0
13 LS dan 112
0
51-113
0
04 BT. Adapun
kondisi fisik wilayah tersebut terletak pada ketinggian 750-3.676 m dari permukaan
laut (dpl). Gunung Bromo menjulang dengan ketinggian 2.392 m dpl dan Gunung
Semeru dengan ketinggian 3.676 m dpl. Kondisi tanah adalah regosol dan litosol, dan
warna tanah kelabu, coklat, coklat kekuning-kuningan sampai putih dan suhu udara
antara 3
0
C sampai 20
0
C (Sudiro, 2001). Keadaan topografi bervariasi dari
bergelombang dengan lereng yang landai sampai berbukit bahkan bergunung
dengan derajat kemiringan yang tegak dengan curah hujan rata-rata 6.604
mm/tahun dan memiliki tipe ekosistem sub montana dan sub alphin dengan pohon-
pohon yang besar dan tinggi berusia ratusan tahun (Dephut, 2009a).
Suku Tengger berada di TN-BTS dan merupakan suku asli yang beragama
Hindu (Dephut, 2009a). Wilayah yang dimasukkan ke dalam Desa Tengger
yaitu desa-desa dalam wilayah 4 kabupaten yang mayoritas penduduknya
beragama Hindu dan masih memegang teguh adat-istiadat Tengger, dan desa-
desa yang dimaksud yaitu Ngadas, Jetak, Wonotoro, Ngadirejo, dan Ngadisari
(Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo), Ledokombo, Pandansari, dan
Wonokerso (Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo), Tosari, Wonokitri,
Sedaeng, Ngadiwono, Podokoyo (Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan),
Keduwung (Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan), Ngadas (Kecamatan
Poncokusumo, Kabupaten Malang), dan Argosari serta Ranu Pani (Kecamatan
Senduro, Kabupaten Lumajang) (Sutarto,