Anda di halaman 1dari 9

Nama : Apriyansyah Dahlan

NPM : 230110100012
Lamun
A. Fungsi Ekosistem Lamun
Pada dasarnya ekosistem lamun memiliki fungsi yang hampir sama dengan ekosistem
lain di perairan seperti ekosistem terumbu karang ataupun ekosistem mangrove, seperti sebagai
habitat bagi beberapa organism laut, juga tempat perlindungan dan persembunyian dari predator.
`Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut
dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting
dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil
penelitian diketahui bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan
ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang (Thayer et al.
1975).
Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan
tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai
daerah asuhan, padang pengembalaan dan makan dari berbagai jenis ikan herbivora dan ikan
ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak,
sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat
menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar
permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah
erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-
elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae
epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu
ekosistem bahari yang produktif. ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara
lain:
Menstabilkan dan menahan sedimensedimen yang dibawa melalui I tekanantekanan dari arus
dan gelombang.
Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan
sedimentasi.
Memberikan perlindungan terhadap hewanhewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang
lamun.
Daundaun sangat membantu organisme-organisme epifit.
Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara modern.
Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
Digunakan untuk kompos dan pupuk
Cerutu dan mainan anak-anak
Dianyam menjadi keranjang
Tumpukan untuk pematang
Mengisi kasur
Ada yang dimakan
Dibuat jaring ikan
Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
Penyaring limbah
Stabilizator pantai
Bahan untuk pabrik kertas
Makanan
Obat-obatan
Sumber bahan kimia.


B. Kerusakan Ekosistem Lamun
Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di perairan yang cukup rentan terhadap
perubahan yang terjadi. Sehingga mudah mengalami kerusakan. Ekosistem lamun juga sering
dijumpai berdampingan atau saling tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu
karang. Bahkan terdapat interkoneksi antar ketiganya, dimana ekspor dan impor energi dan
materi terjadi diantara ketiganya. Ada ikan jenis-jenis tertentu dapat berenang melintas batas dari
satu ekosistem ke ekosistem lainnya.
Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh
berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000
km2, tetapi diperkirakan kini telah menyusut sebanyak 30 40 %. Kerusakan ekosistem lamun
antara lain karena reklamasi dan pembangunan fisik di garis pantai, pencemaran, penangkapan
ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing).
Pembangunan pelabuhan dan industri di Teluk Banten misalnya, telah melenyapkan ratusan
hektar padang lamun. Tutupan lamun di Pulau Pari ( DKI Jakarta) telah berkurang sebanyak 25
% dari tahun 1999 hingga 2004.
Kerusakan lamun juga dapat disebabkan oleh natural stress dan anthrogenik stress.
Kerusakan-kerusakan ekosistem lamun yang disebabkan oleh natural stress biasanya disebabkan
oleh gunung meletus, tsunami, kompetisi dan predasi. Dan anthrogenik stress bisa disebabkan :
Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar matahari).
Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuk tambak memupuk tambak).
Water polution (logam berat dan minyak).
Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihan dan cara penangkapannya yang merusak).
C. Akar Masalah Pengelolaan
Merujuk pada gangguan atau kerusakan padang lamun seperti disebut diatas, maka
perlulah diidentifikasi akar masalahnya. Padadasarnya manusia tidak dapat mengontrol dan
mengelola fenomena alam seperti tsunami, gempa, siklon. Kita hanya bisa elakukan mitigasi atau
pengaulangan akiibat yang ditimbulkannya. Di samping itu alam mempunyai ketahanan
(reilience) da mekanismenya sendiri untuk memulihkan dirinya dari gangguan sampai batas
terentu.
Dalam pengelolaanpadang lamun, yang terpenting adalah mengenali terlebih dahulu akar
masalah rusaknya padag lamun yang pada dasarnya bersumber pada perilaku manusia yang
merusaknya. Berdasarkan acuan tersebut maka akar masalah terjadinya kerusakan padang lamun
dapat dikenali sebagai berikut:
1. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lamun dan perannya dalam lingkungan.
2. Kemiskinan masyakarat
3. Keserakahan mengeksploitasi sumbernya lautan
4. Kebijakan pengelolaan yang tak jelas
5. Kelemahan perundangan
6. Penegak hukum yang lemah

D. Pengelolaan Ekosisem Lamun
Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks untuk
dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap segenap
pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya kegiatan ini
dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun demikian, sifat
akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana keperpihakan kepada masyarakat yang
sangat rentan terhadap sumberdaya alam diberikan porsi yang lebih besar.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai
komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi
masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara pandang
masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).
Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks
pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem padang lamun adalah pengelolaan berbasis
masyakaratak (Community Based Management). Raharjo (1996) mengemukakan bahwa
pengeloaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam
mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.. Dalam konteks ini pula perlu diperhatikan
mengenai karakteristik lokal dari masayakarakat di suatu kawasan. Sering dikatakan bahwa salah
satu faktor penyebab kerusakan sumber daya alam pesisir adalah dekstrusi masayakarakat untuk
memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata
pencaharian yang tujuannya adalah untuk mangurangi tekanan terhadap sumberdaya pesisir
termasuk lamun di kawasan tersebut.
E. Pengelolaan Berwawas Lingkungan.
Dalam perencanaan pembangunan pada suatu sistem ekologi pesisir dan laut yang
berimplikasi pada perencanaan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu diperhatikan kaidah-kaidah
ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang merugikan bagi
kelangsungan pembangunan itu sendiri secara menyeluruh. Perencanaan dan pengelolaan
sumberdaya alam pesisir dan laut perlu dipertimbangkan secara cermat dan terpadu dalam setiap
perencanaan pembangunan, agar dapat dicapai suatu pengembangan lingkungan hidup di pesisir
dan laut dalam lingkungan pembangunan.
F. Pengelolaan Berbasis Masyarakat.
Menurut definisi, pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat adalah suatu strategi
untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimanan pusat pengambilan
keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan di suatu daerah terletak atau
berada di tangan organisasi-organisasi dalam masyarakat di daerah tersebut (Carter, 1996).
Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat (community-base management) dapat
didefinisikan sebagai proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada
masyarakat untuk mengelola sumberdaya lautnya, dengan terlebih dahulu mendefinisikan
kebutuhan, keinginan, dan tujuan serta aspirasinya (Nikijuluw, 2002; Dahuri, 2003).
Pengelolaan berbasis masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah co-
management(pengelolaan bersama), yakni pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat
bersama-sama dengan pemerintah setempat, yang bertujuan untuk melibatkan masyarakat lokal
secara aktif dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan. Pengelolaan
berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan untuk
memperbaiki kualitas hidupnya sendiri dan mampu mengelola sumberdaya mereka dengan baik,
sehingga yang dibutuhkan hanyalah dukungan untuk mengelola dan menyadarkan masyarakat
dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara berkelanjutan untuk memenuhi
kebutuhannya. Kegiatan pengelolaan berbasis masyarakat saat ini menunjukkan bahwa
masyarakat masih membutuhkan dukungan dan persetujuan dari pemerintah setempat dalam hal
pengambilan keputusan. Demikian pula dalam pelaksanaan suatu kegiatan, dukungan pemerintah
masih memegang peranan penting dalam memberikan pengarahan, bantuan teknis, dan merestui
kegiatan yang sudah disepakati bersama. Sebaliknya, bila tidak ada dukungan partisipasi
masyarakat terhadap program yang sudah direncanakan oleh pemerintah, maka hasilnya tidak
akan optimal. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dan pemerintah setempat secara bersama-
sama sangatlah penting sejak awal kegiatan.
Konsep pengelolaan yang mampu menampung banyak kepentingan, baik kepentingan
masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative
Management (Pomeroy dan Williams, 1994). Dalam konsep Cooperative Management, ada dua
pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (goverment centralized
management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (community based management).
Dalam konsep ini masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-sama dengan pemerintah
dan stakeholderslainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Masyarakat
lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam, sehingga praktek-praktek
pengelolaan sumberdaya alam yang masih dilakukan oleh masyarakat lokal secara langsung
menjadi bibit dari penerapan konsep tersebut. Tidak ada pengelolaan sumberdaya alam yang
berhasil dengan baik tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal sebagai pengguna dari
sumberdaya alam tersebut.
Menurut Dahuri (2003) mengatakan bahwa ada dua komponen penting keberhasilan
pengelolaan berbasis masyarakat, yaitu: (1) konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu
pemerintah, masyarakat pesisir, dan peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya), dan (2)
pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung
jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat.
Konsep pengelolaan berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif (Carter, 1996),
yaitu: (1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, (2)
mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik, (3) ampu
meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis, (4) responsif dan adaptif terhadap perubahan
kondisi sosial dan lingkungan lokal, (5) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh
anggota masyarakat yang ada, (6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen, dan (7)
masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.
Pengelolaan ekosistem padang lamun pada dasarnya adalah suatu proses pengontrolan
tindakan manusia agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan
mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan
sumberdaya ekosistem padang lamun yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan
sumberdaya padang lamun tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus dilakukan secara
terpadu oleh beberapa instansi terkait. Kegagalan pengelolaan sumberdaya ekosistem padang
lamun ini, pada umumnya disebabkan oleh masyarakat pesisir tidak pernah dilibatkan, mereka
cenderung hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak pernah sebagai subyek dalam program-
program pembangunan di wilayahnya. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi masa
bodoh atau kesadaran dan partisipasi mereka terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya
menjadi sangat rendah. Agar pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini tidak
mengalami kegagalan, maka masyarakat pesisir harus dilibatkan.
Dalam pengelolaan ekosistem padang lamun berbasis masyarakat ini, yang dimaksud
dengan masyarakat adalah semua komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tak
langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem padang lamun, diantaranya adalah
masyarakat lokal, LSM, swasta, Perguruan Tinggi dan kalangan peneliti lainnya. Pengelolaan
sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakt dapat diartikan sebagai suatu strategi
untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu
dengan memperhatikan aspek ekonomi dan ekologi. Dalam konteks pengelolaan sumberdaya
ekosistem padang lamun berbasis masyarakat, kedua komponen masyarakat dan pemerintah
sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan berbasis masyarakat harus mampu memecahkan dua persoalan utama, yaitu:
(1) masalah sumberdaya hayati (misalnya, tangkap lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak
ramah lingkungan, kerusakan ekosistem dan konflik antara nelayan tradisional dan industri
perikanan modern), dan (2) masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan sumberdaya
hayati laut (misalnya, berkurangnya daerah padang lamun sebagai daerah pembesaran
sumberdaya perikanan, penurunan kualitas air, pencemaran).
G. Pendekatan Kebijakan
Perumusan kebijaksanaan pengelolaan ekosistem padang lamun memerlukan suatu
pendekatan yang dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan melalui pendekatan
keterpaduan. Pendekatan kebijakan ini mengacu kepada pendekatan pengelolaan wilayah pesisir
dan lautan secara terpadu, yaitu pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa
lingkungan yang ada di wilayah pesisir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penilaian
menyeluruh, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, serta merencanakan kegiatan
pembangunan. Pengelolaan ekosistem padang lamun secara terpadu mencakup empat aspek,
yaitu: (1) keterpaduan wilayah/ekologis; (2) keterpaduan sektoral; (3) keterpaduan disiplin ilmu;
dan (4) keterpaduan stakeholders (pemakai).
H. Rehabilitasi Pdang Lamun
Merujuk pada kenyataan bahwa padang lamun mendapat tekanan gangguaun utama dari
aktivitas manusia maka untuk merehabilitasinya dapat dilakukan melalui dua pendekatan: yakni ;
1) Rehabiltasi lunak (soft Rehabilitation), dan 2) rehabilitasi keras(Hard Rehabilitation)

a) Rehabilitasi lunak
Rehabilitasi lunak berkenan dengan penanggulangan akar masalah, dengan asumsi jika
akar masalah dapat diatasi, maka alam akan mempunyai kesempatan untuk merehabilitasidirinya
sendiri secara alami. Rehabilitasi lunak lebih menekankan pada pengendalian perilaku manusia.
Rehabilitasi lunak mencakup hal-hal sebagai berikut:
1) Kebijakan dan strategi pengelolaan. Dalam pengelolaan lingkungan diperlukan kebijakan
dan strategi yan jelas untuk menjadi acuan pelaksanaan oleh para pemangku kepentingan ( stake
holdes).
2) Penyadaran masyarakat (Public awareness). Penyadaran masyarakat dapa dilaksanakan
dengan berbagai pendekatan.
3) Pendidikan. Pendidikan mengenai lingkungan termasuk pentingnya melestarikan lingkungan
padang lamun. Pendidikan dapat disampaikan lewat jalan pendidikan formal dan non-formal.
4) Pengembangan riset. Riset diperlukan untukmendapatkan informasi yang akurat untuk
mendasari pengambilan Keputusan dalam pengelolaan lingkungan.
5) Mata pencaharian yang alternatif. Perlu dikembangkan berbagai kegiatan untuk
mengembangkan mata pencarian alternatif yang ramah lingkungan yang dapat dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera akan lebih mudah diajak
untuk menghargai dan melindungi lingkungan.
6) Pengikut sertaan masyarakat. Pertisipasi masyrakat dalam berbagai kegiatan
lingkungan apat memberi motivasi yang lebih kuat dan lebih menjamin keberlanjutanya. Kegiaan
bersih pantai dan pengelolaan sampah misalnya merupakan bagian dari kegiatan ini.
7) Pengembangan Daerah Pelindungan Padang Lamun (segrass sanctuary) berbasis
masyarakat. Daerah perlidungan padang lamun merupakan bank sumberdaya yang dapat lebih
menjamin ketersediaan sumberdaya ikan dalam jangka panjang.
8) Peraturan perundangan. Pengembangan peraturan perundangan perlu dikembangkan dan
dilaksanakan dengan tidak meninggalkan kepentingan masyarakat luas. Keberadaan hukum adat,
serta kebiasaan masyarakat lokal perlu dihargai dan dikembangkan.
9) Penegakan huku secara konsisten. Segala peraturan perundangan tidak akan ada dimankan bila
tidak ada ditegakan secara konsisten. Lembaga-lembaga yang terkait dengan penegakan hukum
perlu diperkuat, termasuk lembaga-lembaga adat.
b) Rehabilitasi Keras
Rehabiltsi keras menyangkut kegiatan langsung perbaikan lingkungan dilapangan. Ini dapat
dilaksanakan misalnya dengan rehabilitasi lingkungan atau dengan transplantasi lamun
dilingkungan yang perlu direhabilitasi. Kegiatan transplantasi lamun di Indonesia belum
berkembang luas. Berbagai percobaan transplantasi lamun telah dilaksanakanoleh Pusat
Penelitian Oseanografi LIPIdomics yang masih dalam taraf awal. Pengembangan transplantasi
lamun telah dilaksanakan diluar negeri dengan berbagai tingkat keberhasilan.



DAPUS
http://himnasurai2012.blogspot.com/2012/06/pengelolaan-padang-lamun.html
Himnasurai
Ini adalah blog Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (Himnasurai),
Universitas Antakusuma Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah..