Anda di halaman 1dari 13

Sejarah Perkembangan dan Pemahaman Tentang Fasisme

Oleh : Daniel Maringan Tua





Fasisme merupakan pengorganisasian pemerintahan dan masyarkat totaliter
oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat nasoinalis, rasionalis, militeris dan
imperialis. Dalam hal ini fasisme dikenal sebagai kontradiksi sosialisme yang
terjadi di Negara-negara industry (maju), berbeda dengan komunisme yang
banyak berkembang di negara-negara sedang berkembang ataupun terbelakang.
Dinegara eropa, Italia merupakan Negara pertama yang menjadi fasis (1922)
menyusul Jerman tahun 1933, lalu Spanyol melalui perang saudara yang pecah
pada tahun 1936. Di asia Jepang berubah menjadi fasis dalam tahun 1930-an
melalui perubahan secara perlahan kea rah lembaga-lembaga yang totaliter setelah
menyimpang dari warisan budaya asli. Sebagaimana diketahui bersama bahwa
fasisme muncul dan berkembang di Negara-negarag yang relatif makmur dan
secara teknologi lebih maju seperti Jerman, dan eropa dan Jepang di asia. Kalu
komunis pada umunya produk masyarakat-masyarakat pra-demokrasi dan pra-
industri, maka fasisme merupakan produk dari masyarakat-masyarakat pasca-
demokrasi (post-democratic), dan pasca industri (post-industrial). Kondisi lain
untuk pertumbuhan fasisme adalah pencapaian tingkat atau tahap tertentu dalam
perkembangan industri.
Ada dua titik temu antara fasisme dengan tingkat industrialisasi yang relatif
maju. Pertama, aksi diperolehnya aksi terror dengan propoganda dan memerlukan
banyak pengaturan secara teknologis dan teknologi know-know. Kedua sebagai
suatu sistem mobilisasi permanen untuk keperluan perang ( permanent mobile
zation for war), fasisme tidak mungkin berhasil tanpa keahlian dan sumber-
sumber daya industri yang maju. Dalam setiap masyarakat industri muncul
ketegangan ketegangan sosial dan ekonomi. Ada dua kemungkinan
penaggulangan ketegangan yaitu, cara liberal dan paksa. Negara fasisme pada
dasarnya mengingkari adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam
masyarakat ( karena benci terhadap keseragaman yang dipaksakaan oleh Negara.
Perbedaan antara komunisme dan fasisme dapat dirumuskan sebgai berikut (
dengan sedikit lebih menyederhanakan ): komunisme adalah cara paksa untuk
mengindustrialisasikan masyarakat terbelakangan; fasisme adalah cara paksa
untuk mengatasi konflik-konflik dalam masyarakat industri maju. Dari segi latar
belakang sosialnya fasisme menarik minat dua kelompok,k yakni pertama sistem
itu menarik sekelompok kecil industriawan (industrialist) dan tuan tanah
(landowners) yang bersedia membiayai gerakan-gerakan fasisme dengan harapan
bahwa sistem itu dapat melenyapkan serikat-serikat buruh bebas.
Sumber dukungan utama yang kedua bagi fasisme dana secara kuantitas
sangat penting datang dari klas menengah bawah ( lower minddle clas ), terutama
di kalangan pegawai negeri ( salaried group). Dengan cara inilah fasisme
memanfaatkan berbagai kecemburuan dan ketakutan para pegawai negeri melalui
aksi propoganda melawan perusahan besar dan buruh besar. Karena jarang
perbedaan satatus ekonomi di antara para buruh biasa dan pegawai kantor terus
melebar maka para pegawai kantor semakin takut kehilangan apa yang dianggap
sebagai statusnya yang sah dalam masyarakat. Keadaan ini bisa mendorong
mereka beralih pada fasisme yang menjanjikan untuk mengendalikan serikat-
serikat buruh. Kelompok sosial lain yang sangat rentan terhadap propaganda
fasisme adalah militer. Misalanya pada awaka Nasisme di Jerman, kelompok
militer secara terbuka mendukung Hitler atau mempertahankan sikap netral yang
setia. Meskipun fasisme sendiri bukan merupakan akabit langsung atau tidak
terelakan dari depresi ekonomi, seperti yang dikatakan dalam teori komunis
marxis. Pada masa depresi masa ketakutan dan frustasi muncul merusak
kepercayaan orang pada proses demokrasi. Dimana kepercayaan orang pada
metode-metode yang rasional menjadi lemah, di sanalah fasisme meraih
keuntungan.
Industrialisasi dan urbanisasi telah melenyapkan dan sering merusak nilai-
nilai tradisonal, dan biasa tidak menawarkan niali-nilai baru sebagai penganti.
Kehilangan arah hidup dan kebingungan sebagai akibat dari industrialisasi, ini
merupakan latar belakang social dan psikologis dari fasisme dan usianya untuk
memperbaharui cara hidup lama pra-industri Negara moderen. Tetapi yang
menyangkut latar belakang psikologis yang implicit, fasisme mencari dalam
semua kelompok social kesamaan-kesamaan yang pokok, yaitu, frustasi,
kemarahan, dan perasaan tidak aman. Karena sikap-sikap sosial dan psikologis
ini bukan merupakan monopoli satu kelompok atau kelas sosial saja, maka
fasisme berhasil menarik massa secara besar-besaran di berbagai Negara.
Petunjuk kearah pemahaman fasisme terletak pada kekuatan dan tradisi
masyarakatnya. Di Jerman, Italia, Jepang, tardisi otoritarisme sudah menjadi
tradisi yang terjadi berabad-abad, sehingga muncul rezim fasisme merupakan hal
yang biasa dengan cara hidup otoriter. Maka jalan menuju otoritarianisme hanya
tinggal setapak lagi. Dalam hal ini muncul kediktatoran secara politik yang
ditandai dengan munculnya pemimpin yang mengebu-gebu meraih kekuasan dan
memiliki hasrat yang kuat untuk mendominasi.
Namun demikian antara sang diktator dan fasisme juga di pengaruhi iklim
suatu masyarakat. Ada kalanya iklim suatu Negara lebih muda menerima
kediktatoran di bandingkan Negara lainnya. Adanya gerakan masa yang otoriter
dalam fasisme justru di tentukan oleh hasrat banyak orang untuk memasrakan diri
dengan setia. Hal ini tentu tidak dapat di amati dari sudut pandang rasional.
Sistem totaliter, entah komunis atau fasisme, menarik minat orang-orang yang
selalu mencari bentuk hubungan orang tua dan anak yang memberi rasa aman
melalui ketergantungan. Sikap ketergantungan dan kepatuhan dalam masyarakat
totaliter komunis atau fasisme, memberikan kepada seorang rasa aman yang
dibutuhkannya. Fasisme disini ibarat memanfaatkan kondisi psikologis kepatuhan
sang anak kepada orang tuanya dengan kepatuhan maka sang anak akan
berlindung karena memiliki tempat bergantung. Fasisme juga memiliki ciri untuk
menyusaikan diri dengan praktek kuno yang suda ada. Mementingkan status dan
kekuatan pengaruh, kesetiaan kelompok, kedisplinan dan kepatuhan. Hal ini
menyatu dalam menbentuk karakter fasisme, sehingga sebagai suatu kesatuan,
mereka hanya patut pada perintah tanpa harus mempersoalkan apa dan bagaimana.
Sebagai cara mempertahankan kesatuan, fasisme juga menciptakan musuh-musuh
yang nyata maupun imajiner. Jerman memusuhi yahudi, karena yahudi diangkap
ras yang rendah. Memusuhi kaum komunis leberalis-kapital. Karena mereka
bukan bangsa Arya atau indo-Jerman.
Jika mereka merasa kuat tidak sekedar berteori, maka kaum fasisme mulai
menunjukkan sifat imperalismenya mereka menjanjikan kemenangan dalam
permusuhan dengan bangsa lain. Kaum fasisme senantiasa ingin menunjukan
bahwa mereka lebih unggul dari bangsa atau Negara lain manapun. Apabila
fasisme kalah, maka sang pemimpin fasis akan menjadi korban kehancuran
rezimnya sendiri. Sejarah mencatat nasib tragis Mussolini yang ditembak dan
digantung oleh rakyatnya sendiri, setelah sebelumnya Italia mengumumkan
kekalahanya dalam perang, nasib Hitler mungkin sedikit lebih baik, karena ia mati
terhormat tanpa harus tunduk kepada musuhnya. Penafsiaran dari sudut psikologi
mengenai totalitarisme fasis maupun komunisme sangat bermanfaat bagi
masyarakat yang kebudayaannya tidak bersifat otoriter, dimana diperlukan
keberanian pribadi yang cukup untuk melepaskan diri atau menyimpang dari pola
kehidupan masyarakat umum yang makrotis.
Meskipun fasisme tampak seperti komunisme yang merupakan gerakan yang
dapat timbul dimana-mana, tetapi fasisme tidak memiliki pernyataan yang
mengikat tentang prinsip-prinsip yang dimiliki oleh komunis. Apalagi saat ini
tidak ada lagi Negara yang mendalangi persekongkolan fasis sedunia. Setalah
rezim Nazi ( 1933-1945 ) Jerman menjadi Negara fasisme yang paling kuat dan
fasisme dunia sebagian besar dibina, dibiayai dan ilhami oleh otak dan uang
bangsa Jerman. Sejak kekalahan Negara-negara poros fasis seperti Jerman.
Jepang, Italia, dalam perang dunia ke-II tidak pernah muncul lagi Negara fasis
yang berpengaruh. Tidak adanya peryataan tentang prinsip-prinsip fasis yang
mengikat dan diakui secara universal bukanlah dalam pengertian yang mutlak
dalam arti tidak ada sama sekali. Dalam bukunya Mein Kampf (1925-1927),
Hitler mewariskan yang dapat dipercaya menuju alam pemikirannya. Mussolini,
dalam bukunya Doctrine of Fascism (1932) meninggalkan sebuah fasisme model
Italia. Fasisme Italia menjadi model gerakan seluruh dunia kerena wawasannya
jauh lebih luas. Meskipun tidak ada manifesto fasis dengan otoritas yang tidak
dapat diperdebatkan oleh kelompok fasis sendiri. Ada beberapa unsur pokok
dalam pandangan fasisme yaitu:
1) Ketidak percayaan kepada keampuhan nalar, mungkin ini merupakan
ciri fasisme yang paling menonjol, tradisi rasional dunia barat berasal
dari yunani kuno dan merupakan unsur pokok dalam kebudayaan dan
pandangan barat, fasisme menolak tradisi peradaban barat ini dengan
terang-terangan bersikap anti rasional. Dalam urusan-urusan
kemanusiaan fasisme tidak mengandalkan akal dan nalar, tetapi
mengutamakan unsur-unsur dalam diri yang irasional, sentimental,
dan tak terkendali.
2) Pengingkaran persamaan derajat kemanusiaan, adalah ciri umum
terdapat dalam gerakan atau Negara fasis. Masyarakat fasis tidak
hanya menerima kenyataan mengenai ketidaksamaan derajat manusia,
tetapi malah melangkah lebih jauh lagi dengan menjadikan
ketidaksamaan itu sebagai idealisme.
3) Kode fasisme tentang prilaku menekan kekerasan dan kebohongan,
dalam semua bentuk hubungan antara manusia, di dalam Negara dan
antar bangsa. Dinegara-negara yang memiliki pemerintahan yang
demokratis, politik merupakan mekanisme yang berfungsi untuk
menyelesaikan konflik-konflik social secara damai. Sebaliknya dalam
pandangan fasisme politik dicirikan oleh hubungan kawan dan lawan.
4) Pemerintah oleh kelompok elit merupakan prinsip yang secara terbuka
dipertentangkan oleh kelompok fasis dimana-mana dengan apa yang
mereka sebut kekeliruan demokrasi. Prinsip kepemimpinan, fasis
mengungkapkan bentuk yang ekstrim dari konsep elit. Di dalam
konsep itu tercermin penekanan yang irasonal dalam politik fasis.
Pemimpi selalu dianggap benar, dan mendapat wahyu dan
kemampuan mistik yang misterius.
5) Totaliterisme, dalam sebuah bentuk hubungan antara manusia
mencirikan fasisme sebagai suatu pandangan hidup dan bukan hanya
sekedar sistem pemerintahan. Fasisme bersifat totaliter, karena
digunakannnya kekuasaan dan kekerasan pada semua bentuk
hubungan masyarakat, entah itu hubungan politik atau bukan.
6) Realisme dan Imperealisme, mengungkapkan kedua ciri dasar fasis
yaitu ketidaksamaan martabat manusia dan kekerasan yang diterapkan
pada masyarakat bangsa-bangsa. Menurut doktrin fasis, dalam suatu
Negara elit lebih unggul dari kelompok massa oleh karena itu dapat
memaksa kehendaknya dengan kekerasaan kepada rakyat. Dan
sebaliknya dalam pergaulan antar bangsa, bangsa elit unggul dari pada
bangsa-bangsa lainnya dan mempunyai hak untuk memerintah
mereka.
7) Menentang hukum dan ketertiban internasioanl, atau perang
merupakan konsekuensi logis dari keyakinan fasis pada
ketidaksamaan martabat manusia, kekerasan, elitisme, rasialisme, dan
imprialisme. Sementara kaum non-fasis ( kecuali kelompok fasis yang
tidak dapat bertahan ) melihat perang sebagai suatu kenyataan yang
tragis dan harus dihapuskan, maka kaum fasis mengangkat derajat
perang ketingkat idelaisme.

Negara korporasi ( the corporate state ) merupakan prinsip prinsip fasis
dalam menata dan mengawasi perekonomian. Fasis dibagi atas asosiasi modal dan
tenaga kerja yang di awasi oleh Negara, dan setiap asosiasi mendapat monopoli
dalam usaha dan kegiatannya. Di sebabkan kerana Negara yang partai tunggal ini
merupakan penengah atau perujuk dari konflik antara modal dan tenaga kerja.
Ada dua asumsi yang mendasari filsafat Negara korporasi. pertama, seorang
warga Negara ( kecuali sekelompok elit penguasa ) tidak boleh terlibat dalam
kegiatan politik, tetapi hanya menjalankan fungsi sebagai buruh, pengusaha,
petani, dokter, atau pengacara. Kedua, para elit penguasa dianggap memahami
penting yang mempengaruhi seluruh anggota masyarakat.
Konsepsi tentang demokrasi disini dikatakan menolak pendekatan korporatis
terhadap organisasi ekonomi dan politik. Ada beberapa alasan yaitu: pertama,
tidak selalu mudah untuk memisahkan aspek ekonomi dan politik. Kedua, teori
demokrasi menegaskan bahwa hanya pemakai sepatu yang merasakan cekraman
itu. Pandangan fasis bersikeras bahwa pemasak haruslah menjadi satu-satunya
penilai pemasak, dan penilai itu harus dipaksakan kepada tamu, bila dengan
kekerasan. Pada dasarnya demokrasi menolak anggapan fasis bahwa anggota
kelas tertentu lebih unggul dalam membuat pertimbangan dari pada anggota
masyarakat lainnya, sehingga Negara atas dasar itu mereka sendiri menjadi
penguasa Negara. Dari aspek politik, fasisme mewujudkan Negara yang
menganut sistem partai tunggal yang dilengkapi dengan dinas polisi rahasia dan
kamp kosentrasi, sedangkan dari segi ekonomi dan social fasisme menerapkan
korporatisme. Kalau dalam bidang politik fasisme menggantikan konsep pokok
tentang kebebasan individu dengan kekuasaan Negara yang tidak terbatas, maka
dalam bidang ekonomi fasisme menolak perekonomian kemakmuran bebas, entah
itu kapitalis, sosialis, atau sistem yang menempuh jalan tengah. Tujuan Negara
korporasi adalah menjamin kekuasaan Negara bukan kesejahteraan individu.
Untuk mencapai pengawasan yang lebih sempurna, pemerintahan fasis
membentuk perusahaan ( corporation) yang merupakan badan administratif
dalam industri tertentu yang dirancang untuk mempersatukan dan mengawasi
sendikat para buruh dan majikan dalam industri tersebut.
Perusahan fasis Italia merupakan badan pemerintahan, sementara perusahan
bisnis yang tipikal merupakan suatu kegiatan perekonomian dengan tanggung
jawab yang terbatas, dimiliki warga Negara secara perorangan, dan terlibat dalam
kegiatan bisnis. Tetapi yang penting dari semua itu menurut Mussolini Negara
korporasi adalah partai tunggal, pemerintahan yang totaliter dengan situasi
ketegangan yang ideal (storng ideal tension ).
Sebagaimana diketahui bersama bahwa sejarah rezim fasis Jerman, Italia,
dan Jepang pada dasarnya hancur karena kekalahan militer yang di alaminya
dalam perang dunia ke-II. Namun ada satu rezim yang tidak mengalami nasib
serupa , yaitu Spanyol dibawah Franco. Frangko naik ke panggung kekausaan
selama perang saudara yang berlangsung selama 30 tahun, perang saudara di
Spanyol pecah pada tahun 1936 ketika Franco dan beberapa jenderal berhaluan
nasionalis memberontak melawan pemerintah republik Spanyol yang telah berdiri
sejak tahun 1931. Para jenderal itu sejak awal mendapat dukungan yang kuat dari
dua kekuatan lain yang anti republik. Peluang untuk timbulnya
pemberontakan Spanyol muncul ketika pemerintah republik semakin tidak mampu
menjaga ketertiban dalam menghadapi pertikaian yang meningkat dan sering
dengan tindakan kekerasan antara berbagai kelempok utama dalam masyarakat.
Salah satu sumber konfliknya yaitu, regionalisme ( semangat kedaerahan), seperti
tuntutan beberapa propinsi terutama Catalonia dibagian timur laut dan Bacque
diwilayah utara bagian tengah untuk memperoleh otonomi yang lebih luas dari
pemerintah pusat Spanyol.
Sumber konflik yang kedua adalah masalah krekalisme yang merupakan
masalah pemecahan lama di Spanyol. Gereja Katolik telah menjadi pendukung
yang gigi monarki Spanyol, dan sikap kelompok-kelompok katolik yang
terorganisir terhadap Republik bermacam-macam. Sumber konflik yang ketiga
masalah ekonomi, seperti berbagai masalah besar yang belum terpecahkan dalam
bidang pertanian maupun industri. Dalam tahun 1930 Spanyol merupakan Negara
agraris, tetapi pertanian mengalami kemacetan dan tidak berkembang di tangan
para pemilik tanah yang lebih banyak bersikap sebagai raja-raja feodal dari pada
sebagai tuan tanah yang moderen. Dalam waktu itu, di wilayah industri Spanyol
yang baru berkembang konflik timbul karena dua keadaan khusus, yaitu pengaruh
depresi yang melanda dunia dan kekautan kelompok yang anarkis yang semakin
meningkat. Tidak seperti kaum sosialis atau komunis yang bertujuan untuk meraih
kekuasaan dengan mengambil alih control atas lembaga-lembaga pemerintahan,
dengan cara demokrasi atau cara revolusi, kaum anarkis Spanyol bertujuan untuk
mencapai penguasa langsung atas pertanian dan pabrik oleh para buruh yang
bekerja di sana. Di samping itu kaum anarkis menggunakan cara atau taktik
tersendiri dalam melaksanakan perjuangannya yang revolusioner yaitu melalui
pemogokan politik secara teratur, yang mengarah kepada pemogokan umum yang
melumpuhkan perekonomian dan tindakan kekerasan secara sporadis.
Tatkala wibawa atau pengaruh republic semakin merosot, kelompok sayap
kiri maupun sayap kanan menjadi semakin terpolorisasi, karena terpecah-pecah
lantaran persoalan yang pokok seperti, separatisme, klerikalisme dan sosialisme.
Sebelum pemilihan tahun 1936, merupakan pemilihan anggota badan legislative
dalam masa republik Spanyol, kekuatan oposisi mengelo- mpok kedalam dua blok
utama yaitu Front Rakyat yang mendukung Republik, dan Front Nasional yang
terhimpun dari musuh-musuhnya. Dipihak lain, Front rakyat membentuk koalisi
longgar yang terdiri dari kelompok liberal yang moderat, kaum sosialis demokrat (
yang terpecah lagi kedalam berbagai kelompok yang bersaing ), yaitu kelompok
komunis para pengikut Trotsky dan kelompok anarkis. Negara terjerumus dalam
kerusuhan yang parah. Pada tangal 17 Juli 1936 para jendral kembali bereaksi atas
pertimbangan sendiri untuk mengamankan persatuan dan kebesaran bangsa
Spanyol. Perang suadara yang terjadi kemudian memakan waktu 3 tahun yang
penuh pertumpahan darah dan membawa kehancuran. Justru awal mula perang
suadara itu tidak hanya terbatas pada hanya orang Spanyol tetapi juga melibatkan
pemerintah, tentara, dan warga Negara dari Negara besar. Perang suadara Spanyol
merupakan salah satu awal yang menyedihkan yang membuka jalan menuju
perang dunia ke-II. Perang Spanyol menjadi batu ujian bagi keyakinan-keyakinan
politik.
Konon ceritanya hal tersebut disebabkan karena mendapat pengaruh dari
pemimpin komunis yang berapi-api La Pasionari kelompok republik
mengunakan semboyan Non Parason, yang artinya mereka harus kalah. Franco
yang memaklumkan dirinya sebagai El Caudillo atau pemimpin mulai
mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan menimbulkan pertumpahan darah di
kalangan musuh-mussuhnya. Negara baru atau revolusi nasional yang
dicanangkan mengundang kemiringan dengan Fascimo Mussolini, dan sosialisme
nasional Hitler. Demi mempertahankan konsepsinya semua bentuk oposisi politik
dilarang dan ditindas, perekonomian diatur dalam struktur korporatis yang
diabadikan untuk tujuan politik Franco, serikat buruh diganti dengan organisasi
gabungan (syndical organization ) yang dipimpin oleh kaum Falagis yang aktif
dan menjadi satu-satunya induk organisasi semua buruh.
Namun demikian, sejak awal mula ada perbedaan yang mendasar antara
Franco dengan rekan diktatornya. Franco secara efektif memanfaatkan kelompok
Falangis, baik ideologinya sebagai doktrin untuk revolusi nasional yang
dipimpinnya maupun para anggotanya yang militan sebagai manejer bagi Negara
baru yang didirikannya. Selama dasawarsa pertama masa pemerintahan Franco,
dari tahun 1939 -1950, ciri atau pengaruh Falangis yang khas sangat menonjol.
Dalam hal ini Franco dianggap sebagai pembaharuan yang progresif dalam
pembangunan ekonomi Spanyol. Namun ternyata menjelang tahun 1950
pendapatan per -kapita belum juga berhasil menyamai tingkat sebelum perang.
Kenyataan ini menunjukan bahwa korporatisme fasis Franco tidak berhasil
menunjang pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi tahun 1950 membawa pengaruh politik dalam tahun
1960 dengan terjadi berbagai pemogokan dan protes masa. Betapapun menonjol
gejala oposisi, namum mereka tidak pernah memperoleh peluang yang nyata
untuk menyingkirkan kediktatoran Franco. Rezim ini sendiri telah mendapat
kekuatan yang baru. Didalam negeri kemakmuran telah meningkat dukungan
kepada rezim Franco di kalangan kelas menengah dan kelas sebagai kelompok
social utama yang menikmati keuntungan dari kemajuan ekonomi. Pakta Madrid
yang secara resmi mengakhiri keterasingan Spanyol, ditandatangani tahun 1953,
Yang membawa perubahan besar bagi Spanyol. Naiknyan Juan Carlos ke
panggung kekuasaan menandai suatu era baru bagi Spanyol. Ada berbagai
masalah yang menyangkut pribadi Juan Carlos. Ia merupakan pengganti yang
ditunjuk oleh Franco sendiri, mengenyam pendidikan di dalam negeri di bawah
pengarahan Franco, dan dapat dukungan dari kelompok sayap kanan tradisional.
Peranan politik kelompok sayap kiri juga diliputi ketidakpastian. Pemberontakan
dan ekstrimisme kelompok sayap kiri telah memberikan andil yang menentukan
dalam meruntuhkan republik Spanyol. Sikap kelompok sayap kanan juga
merupakan masalah tersendiri. Sampai akhir hayatnya Franco tetap mendapat
dukungan yang luas dari rakyat. Termasuk kedalam kelompok sayap kanan ini
adalah kelompok militer, industriawan, anggota movimmiento (partai politik
Franco) unsur-unsur konservatif dalam gereja, kelompok veteran pejuang
nasionalisme melawan kekuatan republik.
Dalam waktu 6 bulan juan Franco merasa siap untuk melangkah lebih pasti
menuju demokratisasi. Dalam bulan juli 1976 ia mengangkat seseorang perdana
menteri, Adolfo Suarez, bekas pejabat gerakan nasional yang memiliki
pandangan yang bersifat liberal. Suarez juga menjadi penasehat politik yang
mendapat kepercayaan dari raja. Dengan dukungan raja Suarez mulai
mendapatkan perombakan struktur politik peninggalan Franco. Pada tanggal 15
juli 1977 untuk pertama kali dalam jangka waktu 40 tahun rakyat Spanyol menuju
ke tempat pemungutan suara dalam suatu proses pemilihan yang bebas untuk
memilih wakil mereka dalam cortez. 80% dari mereka yang mempunyai hak pilih
menggunakan hak pilihnya itu. Salah satu masalah yang paling mendesak adalah
separitisme. Partai-partai politik yang mewakili klaim regionalis orang Catalonia
dan Basque telah memenangkan 9 kursi dalam badan perwakilan yang baru.
Masalah jangka pendek yang paling sulit adalah dalam bidang ekonomi.
Kecerahan ekonomi dalam tahun 1950-an dan 1960-an berubah menjadi situasi
yang merepotkan dalam tahun 1970-an. Spanyol juga mengalami pengaruh dari
kemorosotan ekonomi yang melanda seluruh Eropa Barat. Kebijaksanaan-
kebijaksanaan Juan Carlos dan pemerintahan yang baru ini hampir tidak dapat
memuaskan semua pihak.
Selama masa peralihan ini muncul gejala-gejala akan timbul kembali
tindakan-tindakan yang ekstrim yang sebelumnya telah meruntuhkan republic
sebagai pemogokan-pemogokan yang berlatar belakang politik. Bagaimana pun
juga, perbedaan keadaan internal yang sangat menonjol antara tahun 1931dan
1975-an berkaitan dengan perubahan sifat masyarakat Spanyol itu sendiri. Kalau
pada tahun 1930-an secara sosial dan ekonomi Spanyol masi terbelakangan
dengan sikap menantang kalangan elit-elit.
Sebelum tahun 1970-an suatu generasi telah tampil di tengah-tengah
berlangsungnya proses industrialisasi, saling ketergantungan internasional, dan
liberalisasi politik. Mungkin kesadaran tentang kenyataan yang fundamental di
kalangan jumlah orang Spanyol yang semakin bertambah, baik pada kelomok
sayap kiri maupun kelompok sayap kangan, merupakan perbedaan yang paling
penting dan menggugah antara republik masa lalu dan demokrasi yang baru.
Monarki Spanyol moderen yang demokrasi juga menemukan dirinya dalam
lingkungan internasional yang jauh berbeda. Prospek demokrasi Spanyol
mengembirakan telah diperkuat sejak berkuasanya raja Juan Carlos, meski terjadi
ganguan sporadis oleh kaum kelompok ekstrim. Ancaman yang paling serius pada
rezim baru ini terjadi pada tahun 1982. Bukti atau penegasan lebih menyakinkan
mengenai legitiamasi yang semakin kenyal bagi demokrasi Spanyol, terungkap
dalam peristiwa peralihan kekuasaan secara damai kepada pemerintah sosial
menyusul pemilihan badan perwakilan yang diadakan pada tahun 1983. Peristiwa
ini munculkan situasi yang sebetulnya bisa memancing konfrontasi senjata antara
kelompok sayap kiri dan kelompok sayap kanan, tetapi ternyata peralihan
kekuasaan diterima sebagai suatu perubahan yang normal dalam kondisi
kehidupan yang demokratis.
Dalam uraian maka dapat diketahui bahwa paham Fasisme merupakan
sebuah paham politik yang menjunjung kekuasaan dan kekuatan
absolut tanpa adanya demokrasi itu sendiri. Dalam paham ini, nasionalisme yang
sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Sementara itu di Jerman, juga
muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu
Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena
yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi
bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya
nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih
rendah. dasar dari fasisme, kita menemukan sebuah sistem etika yang sama sekali
bertolak belakang dengan kebajikan yang terdapat di dalam agama, seperti cinta,
kasih sayang, belas kasih, kerendahan hati, kerjasama, dan merasa cukup dengan
apa yang dimiliki.
Namun, fasisme merupakan sekolah pemikiran yang menyusun
kebalikannya, dan, di bawah pengaruh Darwinisme, menggambarkan dirinya
sebagai suatu pendekatan yang rasional dan ilmiah. Kekejaman, yang
senantiasa dikutuk oleh agama, dipuji dan disucikan secara sistematis oleh
fasisme. Ideologi yang kejam dan bengis ini telah menjadi akar dari aksi-aksi
pembunuhan etnik yang dilakukan Hitler, penaklukan-penaklukan Mussolini yang
zalim, kebiadaban yang tak berperikemanusiaan. Ideologi fasis memainkan
peranan, tidak hanya dalam bentuk kekerasan oleh negara, sebagaimana
disebutkan di atas, tetapi juga dalam contoh-contoh sehari-hari. Penikaman,
pemukulan, atau pembunuhan karena kesalah pahaman sederhana adalah produk
dari budaya yang memandang dan menggambarkan kekerasan sebagai sebentuk
kepahlawanan. Sumber dari mentalitas ini adalah pengaruh gagasan perjuangan
untuk bertahan hidup, yang suatu ketika dinyatakan oleh ideolog-ideolog
semacam Darwin dan Nietzsche. Penyebab penyakit ini adalah tiadanya agama
pada orang-orang ini. Mereka mungkin saja menyatakan diri sebagai religius jika
ditanya, tetapi mereka tidak mempunyai gambaran sedikit pun tentang keindahan
dan kemuliaan yang dilimpahkan agama kepada manusia. Dan untuk alasan yang
sama, obat bagi penyakit ini adalah agar manusia mempelajari arti sebenarnya dari
moralitas itu sendiri, dan dalam usaha untuk memahami pemikiran dan hidupnya
secara langsung akan dipengaruhi oleh faktor psikologis dan persepsi
Referensi :
Ebenstein William dan Edwin Fogelman, isme-isme Dewasa ini. Jakarta Erlangga
1987.

Deliar Noer. Pemikiran Politik di Negeri Barat. Jakarta Rajawali, 1982