Anda di halaman 1dari 39
i
i

LAPORAN LENGKAP PRAKTEK LAPANG

KONSERVASI SUMBERDAYA PERAIRAN

Laporan ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan pada Mata Kuliah Konservasi Sumberdaya Perairan

OLEH :

KELOMPOK 9

MUH. UJUD ZAM UHUD

I1A511011

HARIANTO

I1A1110

ENDRIK SAPUTRA

I1A111009

SABARUDIN

I1A111045

ENDRIK SAPUTRA I1A111009 SABARUDIN I1A111045 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN JURUSAN PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

JURUSAN PERIKANAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2014

i
i

Judul

ii
ii

HALAMAN PENGESAHAN

: Laporan Lengkap Praktek Lapang Konservasi Sumberdaya Perairan

Laporan Lengkap : Sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Pada Mata Kuliah Konservasi Sumberdaya Perairan

Kelompok

:

9 (Sembilan)

Program Studi

:

1. Agrobisnis Perikanan

2. Manajemen Sumberdaya Perairan

Laporan Lengkap ini

Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh :

Koordinator Asisten

La Ode Mansyur, S.Pi, M.Si NIP. 19820218 201012 1 001

Asisten Pembimbing

Arwan Arif Rahman NIM. I1A4 10 001

Mengetahui

Koordinator Dosen Mata Kuliah,

Dr. Ir. Andi Irwan Nur, MES NIP. 19691028 199403 1 003

Kendari,

Juni

2014

ii

iii
iii

Tanggal Pengesahan

KATA PENGANTAR

iii Tanggal Pengesahan KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas izin-Nya, praktikan

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas izin-Nya, praktikan dapat menyelesaikan Laporan Lengkap Praktek Lapang Konservasi Sumberdaya Perairan. Laporan lengkap ini disusun sebagai salah satu syarat untuk lulus pada mata kuliah Konservasi Sumberdaya Perairan. Praktikan menyadari bahwa terwujudnya laporan lengkap ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, maka melalui kesempatan ini praktikan menyampaikan terima kasih kepada Asisten Pembimbing dan Teman-teman sekalian. Dalam penulisan laporan lengkap Konservasi Sumberdaya Perairan ini, praktikan menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan yang praktikan miliki. Oleh karena itu, segala koreksi dan saran kearah perbaikan sangat praktikan harapkan guna penyempurnaan laporan lengkap praktek lapang Konservasi Sumberdaya Perairan. Akhir kata, praktikan mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan kepada praktikan dan semoga laporan lengkap Konservasi Sumberdaya Perairan ini dapat bermanfaat sebagaimana yang diharapkan.

Kendari, Juni 2014

iii

Penulis

DAFTAR ISI

iv
iv

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …

……………………………………………

1

B. Tujuan

………………

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebijakan-Kebijakan Tentang Konservasi Sumberdaya Perairan

5

B. Kawasan Konservasi di Indonesia

7

C. Bentuk-Bentuk Konservasi

…………………… ……………

10

D. Strategi Pengelolaan Terumbu Karang

13

E. Teknologi Transplantasi Terumbu Karang Buatan……………

15

F. Jenis-Jenis Terumbu Karang …………………………………

17

III. METODOLOGI PRAKTEK

A. Waktu dan Tempat………………………………………………

23

B. Alat dan Bahan…………………………………………………

23

C. Praktek DiLapangan……………………………………………

23

D. Profil Kelompok………………………………………………

24

IV. PEMBAHASAN

A. Pemilihan Lokasi ……………………………………………….

25

B. Pembuatan Rak Transplantasi……………………………………

26

C. Proses Transplantasi……………………………………………

26

D. Taging

………………………………………

29

V. PENUTUP

A. Simpulan …………… ……………………………………

31

B. Saran ………………… ……………………………………

31

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

iv

DAFTAR TABEL

Tabel

1. Persentasi Habitat Penting yang Telah Dilindungi di Setiap Ekoregion

2. Alat dan Bahan yang digunakan beserta kegunaannya

v

v
v

Halaman

7

23

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1 Daerah Konservasi yang ada di Indonesia

vi

vi
vi

Halaman

9

Lampiran

Dokumentasi Kegiatan (Photo-Photo)

vii
vii
Lampiran Dokumentasi Kegiatan (Photo-Photo) vii vii
Lampiran Dokumentasi Kegiatan (Photo-Photo) vii vii

vii

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dunia berdiri di atas pengurasan

sumberdaya alam (minyak bumi, batu bara, emas, nikel, tembaga, kayu, perak).

Sebagian besar sumber daya tersebut merupakan sumberdaya yang tidak

terbaharukan. Ekstraksi dan eksploitasi terhadap sumber daya alam telah sampai

pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Senge (2008) menguraikan bahwa saat

ini lebih dari 50 juta manusia setiap tahun bermigrasi ke kota-kota. Sumber-

sumber perekoniman tradisional di desa telah hancur. Kondisi lingkungan,

khususnya lahan dan perikanan, terdegradasi. Hal ini menyebabkan ketimpangan

ketimpangan dalam distribusi sumberdaya dan sekaligus dalam ”gaya hidup”

antara penduduk kota dan desa. Indonesia sedang mengalami masalah ini dan

akan terus berakumulasi di masa depan.

Lebih jelas mengenai ketimpangan tersebut di atas, kita menyimak bukti-

bukti yang dipaparkan James Martin melalui bukunya The Meaning of the 21

Century (2007). Ia menyatakan bahwa 7% penduduk dunia mengkonsumsi 80%

energi yang tersedia. Bila kita hitung, konsumsi energi, air, dan sumberdaya alam

lainnya satu orang di negara maju setara dengan konsumsi 140 orang Afganistan

atau Ethiopia. James Martin menguraikan ada tiga macam penyebab kehancuran

sumberdaya alam: penurunan kuantitas sumberdaya alam, pertumbuhan penduduk,

dan pola konsumsi. Amerika adalah negara yang memberi kontribusi tertinggi

bagi pelepasan gas carbon dioksida di atmosfer. Pernyataan James Martin tersebut

2

mungkin dapat mengkonfirmasi adanya asumsi determinan mengenai ledakan

penduduk dan batas-batas pembangunan sejak tahun 1970-an.

Perairan Indonesia yang luasnya 5,1 juta km2, termasuk Zona Ekonomi

Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,7 juta km2 memiliki keanekaragaman hayati yang

tinggi. Salah satu keanekaragaman hayati yang hidup di laut adalah terumbu

karang. Jumlah jenis karang batu (hard coral) di Indonesia tercatat sebanyak 590

jenis, yang didominasi oleh karang dari genus Acropora (91 jenis), Montipora (29

jenis) dan Porites (14 jenis) (Direktur Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam

2007).

Namun selama setengah abad terakhir, kualitas terumbu karang (coral reef)

di pulau-pulau kecil Indonesia telah turun hingga 50%. Tercatat antara tahun

1989-2000, keberadaan terumbu karang dengan tutupan karang hidup sebesar

telah menurun dari 36% menjadi 29% (Hari Sutanta, 2006).

Kerusakan ini lebih banyak disebabkan karena aktivitas manusia. Secara

umum ada dua jenis aktivitas manusia yang memicu kerusakan terumbu karang.

Pertama, pengambilan ikan secara berlebih. Kedua, pengambilan ikan dengan

cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Pengambilan ikan dengan menggunakan

bom dan sianida masih sering terjadi di Indonesia. Sebagai akibat kerusakan

terumbu karang, terjadi abrasi atau pengikisan garis pantai secara serius. Pada saat

yang sama, memburuknya abrasi juga menyebabkan kerusakan karang dalam

luasan yang cukup besar.

Dalam upaya menanggulangi masalah tersebut khususnya dalam rangka

memulihkan kembali fungsi dan peranan ekosistem terumbu karang sebagai

3

habitat biota laut, perlu segera diambil tindakan nyata untuk menjaga kelestarian

ekosistem karang melalui upaya rehabilitasi sumber daya karang yang sudah

mengalami kerusakan. Salah satu upaya tersebut dapat dilakukan melalui

transplantasi karang.

Pelaksanaan Transplantasi karang telah banyak dipraktekkan di berbagai

pulau di Indonesia. Akan tetapi biasanya transplantasi dilakukan dengan

meletakkan sejenis kerangka barang, misalnya kerangka kapal. Mobil, dll yang

nantinya diharapkan akan menjadi tempat tinggal baru bagi ikan.

Terumbu Karang merupakan salah satu sumberdaya alam pesisir yang ada

di Maluku Utara yang penyebarannya tersebar luas dan belum mendapat perhatian

serius tentang permasalahan didalamnya terutama yang terdapat di perairan pantai

sulamadaha. Perairan pantai Sulamadaha yang terdapat di kota Ternate termasuk

salah satu tempat wisata bahari yang memiliki terumbu karang yang sangat indah

dan menarik. Namun sangat disayangkan. Terumbu karang yang terdapat disekitar

perairan tersebut terancam rusak. Dalam upaya pelestarian dan pengembangan

pantai sulamadaha sebagai tempat wisata bahari maka perlu segera diambil

tindakan nyata untuk menjaga kelestarian ekosistem karang melalui upaya

rehabilitasi sumberdaya karang, salah satu upaya tersebut dapat dilakukan melalui

teknologi transplantasi karang sehingga kelestarian dari ekosistem karang dapat

terjaga.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dipandang perlu untuk melakukan

praktek lapang konservasi sumberdaya perairan khususnya tentang transplantasi

terumbu karang.

4

B. Tujuan

Tujuan dari praktek lapangan konservasi ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana tahapan-tahapan dalam transplantasi karang

2. Untuk mengetahui jenis-jenis terumbu karang yang akan di transplantasi.

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebijakan-Kebijakan Tentang Konservasi Sumberdaya Perairan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya

Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Undang-undang ini mengatur semua aspek yang

berkaitan dengan konservasi, baik ruang maupun sumber daya alamnya,

sebagaimana ditegaskan dalam Bagian Penjelasan-nya, bahwa Undang-undang ini

bertujuan: “Untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan,

pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya,

serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar

dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan

mutu kehidupan manusia”. Pasal 1 angka 7: ”Satwa liar adalah semua binatang

yang hidup di darat , dan atau di air, dan atau di udara yang masih mempunyai

sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia”.

Penjelasan Pasal 1 angka 7: ”Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian

satwa liar, tetapi termasuk di dalam pengertian satwa”. Pengertian konservasi

menurut undang-undang ini adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang

pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan

persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas

keanekaragaman dan nilainya. Konservasi dilakukan melalui kegiatan : (a)

perlindungan sistem penyangga kehidupan ; (b) pengawetan keanekaragaman

jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan (c) pemanfaatan secara

6

Undang – Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Undang-

Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan memuat ketentuan mengenai

konservasi di kawasan hutan. Pasal 1 angka 2 undang-undang ini menyatakan

bahwa yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa

hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan

dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat

dipisahkan. Selanjutnya Pasal 7 menyatakan bahwa hutan konservasi sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a terdiri dari: (a) kawasan hutan suaka

alam, (b) kawasan hutan pelestarian alam, dan (c) taman buru. Walaupun

ketentuan konservasi ini masih berorientasi daratan namun prinsipprinsip

pengaturan mengenai konservasi secara analogi dimungkinkan untuk diterapkan

untuk kawasan konservasi di perairan, khususnya untuk memberikan

perlindungan hukum terhadap ekosistem yang menjadi habitat satwa langka.

Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Sepanjang

berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi sebagai suatu kesatuan

ekosistem, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan mengatur

penetapan status hukum kawasan lautnya. Secara khusus undang-undang ini

memberikan wewenang kepada Menteri untuk menetapkan status suatu bagian

laut tertentu sebagai kawasan Suaka Alam Perairan, Taman Nasional Perairan,

Taman Wisata Perairan, atau Suaka Perikanan. Penetapan status kawasan-

kawasan laut tersebut bertujuan untuk melindungi dan melestarikan sumber-

sumber kekayaan\ alam hayati dan ekosistemnya.

7

B. Kawasan Konservasi di Indonesia

Dikaji dari perspektif perlindungan terhadap habitat penting (critical

habitats), hasil gap analysis tahun 2010 terhadap kawasan koservasi di Indonesia

menyimpulkan bahwa ekosistem terumbu karang Indonesia mencakup luasan 3,29

juta ha, mangrove 3,45 juta ha, dan luasan padang lamun 1,76 juta ha. Dari luasan

tersebut, saat ini Indonesia telah melakukan perlindungan dengan menjadi bagian

wilayah konservasi terhadap 22,7% terumbu karang (747.190 ha), 22,0%

mangrove (758.472 ha), dan 17,0% padang lamun (304.866 ha). Pencapaian

perlindungan terhadap habitat penting di tiap-tiap ekoregion disajikan pada Tabel

1 di bawah ini.

Tabel 1. Persentasi Habitat Penting yang Telah Dilindungi di Setiap Ekoregion

Habitat Penting yang Telah Dilindungi di Setiap Ekoregion Berdasarkan Tabel di atas, maka perlu diupayakan

Berdasarkan Tabel di atas, maka perlu diupayakan pengembangan

KKP/KKP3K di ekoregion-ekoregion yang saat ini masih belum memenuhi target,

terutama di ekoregion Halmahera. Di ekoregion ini belum ada perlindungan

terhadap habitat penting, baik mangrove, terumbu karang maupun padang lamun.

Menurut Bohnsack et al. (2000), melindungi sekitar 20 - 30% luasan terumbu

8

karang telah terbukti dapat mendukung keberlanjutan ekosistem terumbu karang.

Sedangkan PISCO (2002) mensinyalir bahwa manfaat optimal dari pengelolaan

KKP melalui spill-over dan produksi larva akan meningkat pada perlindungan

terhadap 20-30% luasan habitat penting. Setelah melewati 20-30%, KKP menjadi

sangat luas, sehingga akan menurunkan produksi perikanan karena menyempitnya

daerah penangkapan bagi masyarakat. Pendapat Bohnsack hanya terfokus pada

ekosistem,sedangkan PISCO hanya berorientasi pada hasil penangkapan ikan.

Menilik luasan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil

di Indonesia yang telah mencapai 15,7 juta hektar, tentu masih dibutuhkan

pengembangan sekitar 4,3 juta ha lagi Kawasan Konservasi Perairan sampai

dengan 8 tahun mendatang. Kajian untuk memetakan rencana pengembangan

Kawasan Konservasi Perairan sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah

telah dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat keanekaragaman hayati

wilayah perairan Indonesia, dan hasilnya telah dipublikasikan, dengan judul

“Penetapan Prioritas Geografi untuk Konservasi keanekaragaman Hayati Laut di

Indonesia” merupakan hasil kajian dalam menentukan wilayah-wilayah prioritas

untuk pengembangan Kawasan Konservasi Perairan di masa yang akan datang.

Buku tersebut merupakan hasil pemikiran para ahli kelautan dalam dan luar negeri

untuk mengetahui wilayah-wilayah prioritas berdasarkan pada kriteria ekologi

yang mencakup 3 aspek yaitu: (a) Ketidaktergantikan (irreplaceability) yang

mencakup tingkat endemisme, keunikan taksonomi, keberadaan spesies langka

yang berkaitan dengan keanekaragaman spesies dan habitat terumbu karang, ikan

karang, padang lamun, dan mangrove; (b) kerentanan terhadap perubahan dan

9

gangguan alam; dan (c) keterwakilan habitat dalam wilayah perencanaan. Ada 12

wilayah bioekoregion yang dirangking keanekaragaman hayatinya, batas-batas

ekoregion peringkat 1 (Papua, prioritas konservasi teratas) sampai ekoregion

peringkat 12 (Selat Malaka, prioritas konservasi paling rendah), seperti gambar

berikut.

prioritas konservasi paling rendah), seperti gambar berikut. Gambar 1. Daerah Konservasi yang ada di Indonesia

Gambar 1. Daerah Konservasi yang ada di Indonesia

Pengelolaan efektif kawasan konservasi perairan merupakan target utama

dalam pengembangan kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau

kecil.Metode evaluasi efektifitas pengelolaan kawasan konservasi di wilayah

pesisir dan pulau-pulau kecil (E-KKP3K) sedang dikembangkan oleh kementerian

kelautan dan perikanan. Evaluasi efektivitas tersebut secara ringkas memuat

tingkat keefektifan pengelolaan dari berbagai aspek, meliputi: tahapan

pengelolaan, aspek ekologis, aspek sosial ekonomi dan budaya, dan aspek

penatakelolaan kawasan konservasi perairan. Secara ringkas, terdapat lima level

(tingkat) pengelolaan, yaitu: MERAH: (Level 1), merupakan kawasan konservasi

telah diinisiasi, dievaluasi dengan Pencadangan (SK); KUNING: (Level 2)

kawasan konservasi didirikan, tersedia: lembaga pengelola, zonasi&manajemen

10

plan; HIJAU (Level 3); kawasan konservasi dikelola minimum, tersedia : lembaga

pengelola, zonasi&manajemen plan, penguatan Kelembagaan dan SDM,

Infrastruktur dan peralatan, upaya-upaya pokok pengelolaan KKP/KKP3K; BIRU

(Level 4), kawasan konservasi dikelola optimum, pengelolaan KKP/KKP3K telah

berjalan baik; dan EMAS: (Level 5) kawasan konservasi mandiri, pengelolaan

KKP/KKP3K telah berjalan baik dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Perangkat E-KKP3K dapat digunakan untuk melakukan evaluasi atau penilaian

terhadap efektivitas pengelolaan kawasan konservasi yang meliputi kawasan

konservasi perairan dan kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau

kecil di Indonesia. E-KKP3K tingkat makro digunakan oleh Kementerian

Kelautan dan Perikanan untuk melihat sebaran meruang (spatial) tingkat

pengelolaan semua kawasan konservasi perairan yang ada di Indonesia, sementara

E-KKP3K tingkat mikro dapat digunakan untuk melakukan swa-evaluasi terhadap

kinerja pengelolaan suatu kawasan konservasi perairan sekaligus membuat

perencanaan untuk meningkatkan kinerja.

C. Bentuk-Bentuk Konservasi

1. Konservasi Tingkat Genetik

Dalam satu spesies tumbuhan atau hewan bisa terdapat variasi genetik,

sehingga menimbulkan perbedaan yang jelas. Manusia meskipun satu spesies

(Homo sapiens), tapi ada orang kulit putih, Negro, Melayu, Mandarin, dan lainnya.

Macan Tutul dan Kumbang sama-sama spesies Panthera pardus. Bahkan sering

kakak beradik yang satu tutul yang lain hitam. Variasi genetik misalnya terlihat

11

pada jagung. Ada berbagai bentuk, ukuran dan warna jagung: jagung Metro,

jagung Kuning, jagung Merah. Contoh lain adalah padi. Kita mengenal ribuan

varietas padi, walaupun padi itu hanya satu spesies (Oriza sativa). Variasi

genetika merupakan sumber daya pokok yang penting untuk menciptakan varietas

unggul tanaman pertanian baru. Karena itu istilahnya “sumberdaya genetika

tanaman”. Indonesia menawarkan berbagai sumberdaya genetika tanaman dan

binatang yang sangat berharga guna pemanfaatan saat ini atau di masa mendatang.

Sedikitnya 6.000 spesies flora dan fauna asli Indonesia dimanfaatkan sehari-hari

oleh orang Indonesia untuk makanan, obat, pewarna, dll.

Pembentukan genetik suatu individu tidak statis. Selalu berubah akibat

faktor internal dan eksternal. Keragaman materi genetik memungkinkan terjadi

seleksi alam. Umumnya, kian besar populasi suatu spesies kian besar

keanekaragaman genetiknya, sehingga makin kecil kemungkinannya punah.

2. Konservasi Tingkat Spesies

Sangat mengherankan, para cendikiawan lebih tahu berapa banyak bintang

di galaksi daripada jumlah spesies makhluk hidup di bumi. Hingga kini baru 1,7

juata spesies teridentifikasi, dari jumlah seluruh spesies yang diperkirakan 5-100

juta. Kelompok makhluk hidup yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah

serangga dan mikroorganisme. Sekalipun demikian masih saja ada anggapan,

bahwa hanya organisme besar seperti tanaman berbunga, mamalia dan vertebrata

lain, yang mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung. Padahal

mikroorganisme, termasuk alga, bakteri, jamur, protozoa dan virus, vital perannya

bagi kehidupan di bumi. Contohnya, tak akan ada terumbu karang jika tak ada

12

alga. Terganggunya keseimbangan mikroorganisme tanah, dapat menyebabkan

kualitas kehidupan di tanah merosot, hingga mengakibatkan perubahan besar pada

ekosistem.

Suatu wilayah yang memiliki banyak spesies satwa dan tumbuhan,

keragaman spesiesnya lebi besar, dibandingkan wilayah yang hanya memiliki

sedikit spesies yang menonjol. Pulau dengan 2 spesies burung dan 1 spesies kadal,

lebih besar keragamannya daripada pulau dengan 3 spesies burung tanpa kadal.

Indonesia sangat kaya spesies. Walau luasnya Cuma 1,3% luas daratan dunia,

Indonesia memiliki sekitar 17% jumlah spesies di dunia. Paling tidak negara kita

memiliki 11% spesies tumbuhan berbunga, 12% spesies mamalia, 15% spesies

amphibi dan reptilia, 17% spesies burung, dan 37% spesies ikan dunia. Kekayaan

dunia serangga kita terwakili oleh 666 spesies capung dan 122 spesies kupu-kupu.

Spesies didefinisikan secara biologis dan morfologis. Secara biologis, spesies

adalah Sekelompok individu yang berpotensi untuk ber-reproduksi diantara

mereka, dan tidak mampu ber-reproduksi dengan kelompok lain. Sedangkan

secara morfologis, spesies adalah Sekelompok individu yang mempunyai karakter

morfologi, fisiologi atau biokimia berbeda dengan kelompok lain. Ancaman bagi

spesies adalah kepunahan. Suatu spesies dikatakan punah ketika tidak ada satu

pun individu dari spesies itu yang masih hidup di dunia. Terdapat berbagai

tingkatan kepunahan, yaitu :

- Punah dalam skala global : jika beberapa individu hanya dijumpai di

dalam kurungan atau pada situasi yang diatur oleh manusia, dikatakan

telah punah di alam.

13

- Punah dalam skala lokal (extirpated) : jika tidak ditemukan di tempat

mereka dulu berada tetapi masih ditemukan di tempat lain di alam

- Punah secara ekologi : jika terdapat dalam jumlah yang sedemikian sedikit

sehingga efeknya pada spesies lain di dalam komunitas dapat diabaikan

- Kepunahan yang terutang (extinction debt) : hilangnya spesies di masa

depan akibat kegiatan manusia pada saat ini

Diperkirakan pada masa lampau telah terjadi 5 kali episode kepunahan

massal. Kepunahan massal terbesar diperkirakan terjadi pada akhir jaman permian,

250 juta tahun lalu. Diperkirakan 77%-96% dari seluruh biota laut punah ketika

ada gangguan besar seperti letusan vulkanik serentak atau tabrakan dengan

asteroid yang menimulkan prubahan dramatik pada iklim bumi sehingga banyak

spesies mengalami kepunahan. Kepunahan sesungguhnya merupakan fenomena

alamiah, namun mengapa hilangnya spesies menjadi masalah? Pengurangan atau

penambahan spesies secara efektif ditentukan oleh laju kepunahan dan laju

spesiasi. Spesiasi adalah proses yang lambat. Selama laju spesiasi sama atau leih

cepat daripada laju kepunahan maka keanekaragaman hayati akan tetap konstan

atau bertambah. Pada periode geologi yang lalu hilangnya spesies diimbangi atau

dilampaui oleh evolusi dan pembentukan spesies baru. Saat ini tingkat kepunahan

mencapai 100-1000 kali dari tingkat kepunahan. Disebabkan oleh aktivitas

manusia. Kepunahan saat ini disebut kepunahan keenam.

D. Strategi Pengelolaan Terumbu Karang

Suatu pengelolaan yang baik adalah yang memikirkan generasi mendatang

untuk dapat juga menikmati sumberdaya yang sekarang ada. Dengan demikian

14

dalam pengelolaan terumbu karang haruslah mempertimbangkan hal sebagai

berikut 1) : Pertama, melestarikan, melindungi, mengembangkan, memperbaiki

dan meningkatkan kondisi atau kualitas terumbu karang dan sumberdaya yang

terkandung di dalamnya bagi kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta

memikirkan generasi mendatang. Kedua, mendorong dan membantu pemerintah

daerah untuk menyusun dan melaksanakan program-program pengelolaan sesuai

dengan karakteristik wilayah dan masyarakat setempat serta memenuhi standar

yang ditetapkan secara nasional berdasarkan pertimbanganpertimbangan daerah

yang menjaga antara upaya ekploitasi dan upaya pelestarian lingkungan. Ketiga,

mendorong kesadaran, partisipasi dan kerjasama/kemitraan dari masyarakat,

pemerintah daerah, antar daerah dan antar instansi dalam perencanaan dan

pelaksanaan pengelolaan terumbu karang (Santoso, A. D dan Kardono. 2008).

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dalam pengelolaan terumbu

karang diperlukan strategi sebagai berikut:

1. Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung bergantung

pada pengelolaan terumbu karang :

a. Mengembangkan mata pencaharian alternatif yang bersifat

berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

b. Meningkatkan penyuluhan dan menumbuhkembangkan keadaan

masyarakat akan tanggung jawab dalam pengelolaan sumberdaya

terumbu karang dan ekosistem nya melalui bimbingan, pendidik an

dan penyuluhan tentang ekosistem terumbu karang.

15

c. Memberikan hak dan kepastian hukum untuk mengelola terumbu

karang bagi mereka yang memilikikemampuan.

2. Mengurangi laku degradasi kondisi terumbu karang yang ada saat ini :

a. Mengidentifikasi dan mencegah penyebab kerusakan terumbu karang

secara dini.

b. Mengembangkan program penyuluhan konservasi terumbu karang dan

mengembangkan berbagai alternatif mata pencaharian bagi masyarakat

local yang memanfatakannya.

c. Meningkatkan efektifitas penegakan hukum terhadap berbagai

kegiatan yang dilarang oleh hukum seperti pemboman dan

penangkapan ikan dengan Cyanide.

3. Mengelola terumbu karang berdasarkan karakteristik ekosistem, potensi,

pemanfaatan dan status hukumnya:

a. Mengidentifikasi potensi terumbu karang dan pemanfaatannya.

b. Menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian

lingkungan.

E. Teknologi Transplantasi Terumbu Karang Buatan

a. Terumbu karang buatan

Metode sederhana ini adalah dengan menengelamkan struktur bangunan di

dasar laut agar dapat berfungsi seperti terumbu karang alami sebagai tempat

berlindung ikan. Dalam jangka waktu tertentu, struktur yang dibuat dengan

berbagai bahan seperti struktur beton berbentuk kubah dan piramida, selanjutnya

membantu tumbuhnya terumbu karang alami di lokasi tersebut. Dengan demikian,

16

fungsinya sebagai tempat ikan mencari makan, serta tempat memijah dan

berkembang biak berbagai biota laut dapat terwujud (Suharsono, 1998).

b. Pencangkokan

Metode ini dikenal dengan transplantasi. Dengan memotong karang hidup,

lalu ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan diharapkan dapat

mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak dan dapat pula dipakai

untuk membangun daerah terumbu karang baru yang sebelumnya tidak ada. Bibit

karang yang sering digunakan pada uji coba transplantasi ini adalah dari genus

Acropora yang terdiri dari A tenuis, A austera, A formosa, A hyacinthus, A

divaricata, A nasuta, A yongei, A aspera, A digitifera, A valida, dan A glauca.

persen. Hal tersebut diperkirakan karena spesiesspesies tersebut memiliki cabang

yang kecil dan mudah rapuh. Berdasarkan per tambahan tinggi masing-masing

karang tersebut, setelah berumur satu bulan pertambahan tinggi terbesar dialami

oleh Acropora yongei (rata-rata 0,4 cm), sedangkan pertambahan tinggi terkecil

dialami Acropora digitifera, yakni 0,1 cm.

c. Mineral Accretion

Metode ini dikembangkan oleh Thomas J. Goreau and Wolf Hilbertz

seorang ahli biologi dari AS 2). Mereka mengkaitkan terumbu karang pada

bronjong-bronjong kawat baja yang dialiri listrik DC (direct current) dengan

voltage rendah. Aliran listrik yang mengalir melalui kawat baja tesebutdiharapkan

dapat merangsang percepatan pertumbuhan karang. Hasil dari transplantasi model

ini ternyata lebih cepat 3-5 kali dibanding cara transplantasi cara biasa.

17

F. Jenis-Jenis Terumbu Karang

Karang memiliki variasi bentuk pertumbuhan koloni yang berkaitan dengan

kondisi lingkungan perairan. Berbagai jenis bentuk pertumbuhan karang

dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, hydrodinamis (gelombang dan arus),

ketersediaan bahan makanan, sedimen, subareal exposure dan faktor genetik.

Berdasarkan bentuk pertumbuhannya karang batu terbagi atas karang Acropora

dan non-Acropora (English et.al., 1994). Perbedaan Acropora dengan non-

Acropora terletak pada struktur skeletonnya. Acropora memiliki bagian yang

disebut axial koralit dan radial koralit, sedangkan non-Acropora hanya memiliki

radial koralit.

Hard Coral adalah hewan karang yang membentuk kerangka kapur hasil

penumpukan oleh jutaan koloni polyp. Terdapat sebanyak sekitar 500 species

karang menyebar di daerah Indo-Pacific, dengan 70 % nya terdapat di Indonesia,

yang umumnya berbentuk koloni dan ada beberapa yang hidup soliter seperti

famili Fungiidae. Genus Acropora merupakan jenis yang melimpah di habitat

karang.

Karang lunak atau Soft Corals merupakan karang yang penting dan terkenal

hidup di habitat karang. Beberapa diantaranya tumbuh dengan cepat dan

merupakan taman bunga liar 10 ~ 30 m di bawah permukaan laut. Strukturnya

menyerupai karang keras (Hard corals) yaitu terdiri dari koloni polyp yang

mengumpulkan makanan berbentuk plankton. Soft corals tidak membentuk

kerangka kapur yang keras. Tubuhnya berbentuk jaringan lunak ditunjang oleh

matriks partikel mikroskopis disebut sclerites. Bentuk, ukuran dan ornamen

18

sclerites merupakan parameter yang berguna untuk mengidentifikasi jenis-

jenisnya.

Menurut Suharsono (1996), Genus karang yang umum terdapat di Indonesia

antara lain meliputi :

1. Genus Acropora ( Familia Acroporidae )

Genus Acropora memiliki jumlah jenis (species) terbanyak dibandingkan

genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih

dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang

dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap

sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan.

Karakteristik bentuk rangka kapur genus Acropora antara lain :

- Koloni biasanya bercabang, jarang sekali menempel ataupun submasif.

- Koralit dua tipe, yaitu : axial dan radial.

- Septa umumnya mempunyai dua lingkaran.

- Columella tidak ada.

- Dinding koralit dan Coenosteum rapuh.

- Tentakel umumnya keluar pada malam hari

2. Genus Montipora ( Familia Acroporidae )

Genus Montipora sering ditemukan mendominasi suatu daerah. Sangat

tergantung pada kejernihan suatu perairan. Biasanya berada pada perairan dangkal

berkaitan dengan intensitas cahaya yang diperolehnya dengan bentuk koloni

berupa lembaran.

Karakteristik bentuk rangka kapur genus Montipora antara lain :

19

- Bentuk koloni bervariasi, ada yang submasif, laminar, menempel ataupun

bercabang.

- Ukuran koralit umumnya kecil.

- Septa umumnya memiliki dua lingkaran dengan bagian ujung (gigi)

muncul keluar. Apabila disentuh maka akan terasa tajam.

- Tidak memiliki Columella.

- Dinding koralit dan Coenosteum keropos. Coenosteum memiliki beberapa

tipe: Papillea bila Coenosteum lebih kecil dibandingkan dengan ukuran

koralit, dan tuberculea jika sebaliknya. Apabila berkelompok mengelilingi

koralit disebut thecal papillae dan juga ada thecal tuberculae.

- Tentakel umumnya keluar pada malam hari

3. Genus Pocillopora ( Familia Pocilloporidae)

Karakteristik bentuk rangka kapur genus Montipora antara lain :

- Koloni umumnya berbentuk submasif, bercabang, ataupun bercabang

dengan bentuk pipih.

- Koloni ditutupi dengan verrucae.

- Koralit cekung ke dalam pada verrucae.

- Koralit mungkin tidak memiliki struktur dalam atau memiliki columella

yang kurang berkembang.

- Memilki dua lingkaran septa yang tidak sama.

- Coenesteum biasanya ditutupi oleh granules (butiran).

- Tentakel umumya keluar pada malam hari.

20

- Genus Pocillopora merupakan satu-satunya genus karang yang memiliki

verrucae. Hal tersebut menjadi ciri khas yang membedakannya dengan

genus-genus karang yang lain

4. Genus Seriatopora ( Familia Pocilloporidae )

Karakteristik bentuk rangka kapur genus Montipora antara lain :

- Ciri khas koloninya berbentuk compact bushes dengan cabang yang halus.

- Koralit tersusun rapi sepanjang cabang.

- Koralit sebagian besar tenggelam dan struktur internal tidak begitu

berkembang kecuali columella.

- Septa umumnya berjumlah satu.

- Coenosteum ditutupi oleh spinules (duri-duri) yang halus

5. Genus Favia (Familia Faviidae)

Karakteristik bentuk rangka kapur genus Favia antara lain :

- Bentuk koloni umumnya submasif, flat atau dome-shaped.

- Koralit sebagian besar monocentric (satu colomella dalam satu corallite)

dan plocoid.

- Memperbanyak koralit melalui pembelahan intratentacular.

- Tentakel umumnya keluar pada malam hari

6. Genus Favites ( Familia Faviidae )

Struktur rangka kapur genus favia mirip dengan genus favites tapi dapat

dibedakan dengan perbedaan tipe koralit karang. Tipe koralit Favites tergolong

ceroid, sedangkan tipe koralit tergolong plocoid. Karakteristik bentuk rangka

kapur genus Favites antara lain :

21

- Bentuk koloni umumnya masif, flat atau dome-shaped

- Koloni berbentuk monocentric dan ceroid, beberapa berbentuk subplocoid.

- Pada koloni karang ini antara dua koralit dibatasi oleh satu dinding koralit

(Johan, 2003)

7. Genus Porites (Familia Poritidae)

Genus Porites ini mirip dengan genus Montipora dan Stylaraea, namun

memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan antara porites dengan Montipora ialah

bahwa Porites memilki bentuk pertumbuhan yang lebih beragam, koralit pada

Porites lebih besar, kokoh dan tidak ada elaborate thecal perpanjangan dinding

koralit. Genus Montipora memiliki dua tipe coenosteum, yaitu reticulum papillae

dan tubercuae. Selain itu, Porites memiliki koralit yang umumnya selalu terlihat

septanya, sementara montipora hanya memilki perpanjangan gigi septa yang

menonjol keluar sehingga terasa runcing dan kasar bila disentuh. Karakteristik

bentuk rangka kapur genus Porites antara lain :

- Bentuk koloni ada yang flat, masif dan bercabang.

- Koloni yang masif berbentuk bulat ataupun setengah bulat. Koloni masif

yang kecil akan terlihat berbentuk seperti helm, dengan diameter dapat

mencapai lebih dari 5 meter.

- Koralit berukuran kecil, cekung ke dalam (terbenam) pada badan koloni

dengan lebar Calice kurang dari 2 mm.

- Tentakel umumnya keluar pada malam hari

8. Genus Goniopora (Familia Poritidae)

Karakteristik bentuk rangka kapur genus Goniopora antara lain :

22

- Bentuk koloni columnar, masif dan encrusting.

- Koralit tebal tapi kadang keropos dan calice memiliki septa yang kokoh

dan memiliki columella.

- Polip genus Goniopora berukuran panjang dan keluar baik pada malam

hari maupun siang hari.

- Polip genus Goniopora memiliki 24 tentakel

23

III. METODOLOGI PRAKTEK

A. Waktu Dan Tempat

Praktek Lapang Konservasi Sumberdaya Perairan ini dilaksanakan pada

Hari Minggu tanggal 25 Mei 2014 pukul 08.00 Wita sampai selesai pukul 13.00

Wita. Praktek ini bertempat di Desa Tononggeu, Kecamatan Abeli, Kota Kendari,

Provinsi Sulawesi Tenggara.

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada saat praktek lapang Konservasi

Sumberdaya Perairan adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Alat dan bahan Beserta Kegunaannya yang digunakan pada saat Praktek Lapang Konservasi Sumberdaya Perairan.

 

No

Alat dan Bahan

Kegunaan

 

Alat

 

1

Alat tulis

Untuk alat menulis

2

Buku

Sebagai alat menulis hasil wawancara Untuk dokumentasi praktikum

3

Kamera Bahan

1

Bibit karang lunak

Sebagai objek pengamatan

C.

Praktek Dilapangan

 

Kegiatan yang dilakukan di lapangan pada saat praktek lapang ini adalah :

1. Mensurvei dan mengenali lokasi kegiatan konservasi dengan melihat

sekeliling lokasi dilakukannya transplantasi.

24

3.

Melakukan wawancara kepada pemilik atau penanggung jawab atas lokasi

konservasi tersebut,

4.

Mencatat semua hasil wawancara yang telah di lakukan dan

5.

Melakukan dokumentasi kegiatan praktek lapang.

D.

Profil Kelompok

Kelompok 9 (Sembilan) merupakan kelompok praktek lapang konservasi

sumberdaya perairan yang beranggotakan 4 orang yang terdiri dari dua program

studi yaitu MSP dan Agrobisnis Perikanan.

- Muhammad Ujud Zam Uhud : I1A511011

- Endrik Saputra

: I1A111009

- Sabarudin

: I1A111045

- Harianto

:

25

IV. PEMBAHASAN

A. Pemilihan Lokasi

Usulan inisiatif calon kawasan konservasi perairan dapat diajukan oleh

orang perseorangan, kelompok masyarakat, lembaga penelitian, lembaga

pendidikan, lembaga pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat. Pengajuan

usulan insiatif calon kawasan konservasi perairan sebaiknya dilengkapi dengan

hasil kajian awal dan peta lokasi, dan disampaikan kepada Menteri Kelautan dan

Perikanan atau kepala daerah di level propinsi (Gubernur) atau kabupaten/kota

(Bupati atau Walikota).

Penetapan kawasan konservasi yang dilakukan hendaknya memikirkan

beberapa aspek menyangkut ekosistem yg perlu dilindungi. Karena yang menjadi

objek adalah terumbu karang, maka pemilihan lokasi konservasi haruslah

ditempat yang sesuai dengan habitat-habitat dari jenis terumbu karang tersebut.

Lokasinya juga harus melihat dan mempertimbangkan tentang faktor oseanografi,

kualitas air dan lingkungan kehidupan masyarakat.

Untuk memudahkan dalam menentukan lokasi yang tepat dalam mengelola

kawasan menjadi kawasan konservasi maka tekhnologi GPS dan Google Eart

dapat digunakan. Kembali pada pentingnya suatu kawasan konservasi maka

kawasan tersebut mesti harus dikontrol dan di beri tanda agar masyarakat tidak

melakukan kerusakan-kerusakan sehingga kegiatan konservasi tidak terbilang

percuma. Berdasarkan hasil wawancara, kawasan konservasi yang dipilih oleh

salah satu perusahaan yang peduli terhadap ekosistem terumbu karang memilih

untuk mengkonservasi di sekitaran teluk kendari. Hal ini didasari karena

26

ekosistem teumbu karang yang ada di sekitar teluk kendari sebagian besar telah

rusak.

B. Pembuatan Rak Transplantasi

Sebelum membuat rak transplantasi maka hendaknya membuat substrat

tempat dilekatkannya potongan-potongan karang. Substrat di buat dengan adonan

semen dan dicetak dengan ukuran yang disesuaikan dengan jenis karang.

Rak transplantasi yang umum terbuat dari rangka besi yang dicat anti karat

yang tertutupi dengan jaring yang di ikat secara kuat dan rapi. Rangka yang ideal

berukuran 110 x 100 cm berbentuk segi empat dan pada bagian ujung-ujung/sudut

segi empat tersebut terdapat kaki-kaki tegak lurus masing-masing sepanjang 50

cm. Dibagian atasnya di tutupi dengan jaring tempat mengikat substrat karang

yang berjumlah kurang lebih 12 buah, pada setiap substrat diikat bibit karang,

dimana jarak masing-masing bibit kurang lebih 25 cm.

C. Proses Transplantasi

Setelah semua persiapan-persiapan transplantasi telah selesai maka langkah

selanjutnya adalah melakukan proses transplantasi. Langkah-lankahnya adalah

sebagai berikut.

1. Pengambilan Bibit Karang

Jenis karang yang digunakan dalam kegiatan transplantasi, yaitu jenis

karang yang hidup dan tersedia di masing-masing lokasi kegiatan. Berdasarkan

data inventarisasi DKP (2002) beberapa alternatif jenis karang tersebut antara lain :

27

Acrophora tenuis; A. formosa; A. hyancinthus; A, difaricata; A. nasuta; A. yongei;

A. digitifera; dan A.glauca.

Pelaksanaan kegiatan transplantasi karang baik untuk pemulihan kembali

terumbu karang yang telah rusak, untuk pemanfaatan terumbu karang secara

lestari (perdagangan karang hias), untuk pengembangan wisata bahari maupun

untuk menunjang kegiatan kegiatan penelitian selalu diawali dengan pembuatan

media pembibitan transplantasi karang/nursery ground. Kemudian dilanjutkan

dengan penyediaan bibit, dan diakhiri dengan penebaran anakan hasil

transplantasi.

Perbedaan dari setiap kegiatan transplantasi terutama terletak pada jenis

bibit yang dipakai. Jenis bibit yang dipakai untuk transplantasi perdagangan

karang hias dipilih dari jenis-jenis karang yang masuk dalam daftar perdagangan

karang hias. Untuk wisata bahari, jenis bibit yang dipakai berasal dari jenis-jenis

yang memiliki penampilan warna dan bentuk yang indah serta aman disentuh

(tidak menimbulkan gatal atau luka). Untuk pemulihan kembali lokasi terumbu

karang yang telah rusak / rehabilitasi karang, jenis bibit yang dipakai dipilih dari

jenis - jenis yang terancam punah dilokasi tersebut, pernah hidup di lokasi

tersebut, dan tersedia sumber bibit yang memadai. Kegiatan transplantasi karang

yang ditujukan untuk menunjang kegiatan kegiatan penelitian, sumber bibitnya

disesuaikan dengan jenis-jenis karang yang akan diteliti. bahaya dan pada kategori

bahaya-katastropik mencapai < 50. Selanjutnya Lalamentik (1991) menyatakan

bahwa banyak tipe sedimen yang muncul pada dan sekitar terumbu karang,

28

termasuk didalamnya hancuran karang yang kasar, berbagai tipe pasir dan lumpur

yang halus.

2. Penempelan/Transplantasi Karang

Penyediaan bibit karang dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan

beberapa hal yaitu Sistem perwakilan plot koloni diambil tidak lebih 1/8 bagian

dari plot koloni; tidak merusak koloni; sesuai dengan MSY (potensi) di

alam/lokasi; pengangkutan bibit dilakukan di dalam air dan dilaksanakan secara

hati-hati; diambil dari lokasi yang berdekatan dengan lokasi penempatan media

pembibitan; mempunyai kedalaman perairan yang sama dengan kedalaman

penempatan media pembibitan; dipilih dari jenis karang yang sehat dan

mempunyai pertumbuhan cepat. Sedangkan cara pemotongan bibit karang

dilakukan dengan memperhatikan hal-hal seperti Bibit karang dipotong dari induk

yang besar, sehat dan mempunyai pertumbuhan yang cepat; bibit dipotong dengan

panjang lebih kurang 7 cm dengan menggunakan alat pemotong karang yang

sesuai; bibit diambil pada bagian tunas atau bagian termuda dari induk; volume

pengambilan bibit dari induk tidak boleh melebihi 1/8 bagian dari bagian induk

sehingga tidak mengganggu pertumbuhan induk.

Pada pengikatan bibit pada substrat, perlu diperhatikan pengikatan bibit

dilakukan didalam air, dengan harapan karang yang ditransplantasi tidak/sedikit

mengalami stres). Pada pengikatan, bibit diikat seerat mungkin dengan

menggunakan tali pancing atau klem plastik. Bagian bawah bibit menempel pada

substrat dengan posisi tegak terikat erat dengan patok substrat.

29

Batu karang bisa terkena stress juga karena dia termasuk hewan. Untuk

mengurangi stress, karang yang akan ditransplantasi dilepaskan secara hati-hati

dan ditempatkan dalam wadah plastik berlubang serta proses pengangkutan

dilakukan di dalam air. Sebaiknya operasi ini hanya menghabiskan waktu kurang

lebih 30 menit setiap tumpukan karang yang akan dipindahkan. Beberapa teknik

untuk melekatkan karang yang ditransplantasi adalah semen, lem plastik, penjepit

baja, dan kabel listrik plastik.

3. Penempatan/Deploy Rak

Peletakkan/penenggelaman substrat yang sudah diikatkan bibit ke perairan

laut. Sebelumnya, harus dilakukan terlebih dahulu calon lokasi pengambilan bibit

karang dan lokasi peletakkan substrat. Usahakan jangan sampai terlalu jauh,

untuk mempermudah pengangkutan (transportasi bibit). Lokasi pengambilan bibit

karang dan peletakkan bibit kondisi kualitas airnya harus relatif sama dan jangan

sampai terlalu mencolok perbedaannya.

Untuk menghindari terjadinya kerusakan bibit dan untuk memudahkan

dalam meletakan rak transplantasi maka lokasi yang dipilih hendaknya memiliki

substrat yang relatif rata dan arus yang tidak terlalu kencang.

D. Tagging

Tagging yaitu proses pemberian tanda pada substrat terumbu karang yang

telah dilakukan tahap transplantasi sebelumnya. Setelah substrat dirasa sudah

benar-benar kering, maka tahap selanjutnya adalah pemasangan tagging pada

masing-masing substrat. Pemasangan ini dilakukan untuk mempermudah

monitoring nantinya, bisa diketahui bibit yang berada disubstrat mana saja yang

30

pertumbuhannya baik, kurang baik, rusak, dan lain sebagainya. Selain itu manfaat

taging apabila karang hias ini di pasarkan maka tagging diperlukan untuk

melegalkan proses pemasaran karang hias, sebab dalam kertas tagging akan

memuat kode produksi, tanggal produksidan perusaan yang memproduksi karang

hias tersebut.

Pemasangan ini dilakukan dengan cara mengelem taging (yang sudah

dilaminating, agar tidak basah dan rusak) pada substrat, untuk menambah daya

kuat maka bias ditambak dengan memakunya secara perlahan dengan paku ukuran

kecil.

31

A. Simpulan

V. PENUTUP

Simpulan yang dapat diberikan berdasarkan pembahasan tersebut adalah

sebagai berikut:

1. Metode tansplantasi karang hias terdiri dari beberapa tahapan yaitu

pengambilan bibit, pembuatan rak transplantasi, pembuatan substrat,

penempelan karang, taging jika diperlukan dan peletakan pada lokasi

kawasan ekosistem terumbu karang.

2. Jenis-jenis karang yang dapat di transplantasi umumnya terdiri dari 8

genus yaitu : Genus Acropora, Genus Montipora. Genus Pocillopora,

Genus Seriatopora, Genus Favia, Genus Favites, Genus Porites, Genus

Goniopora

B. Saran

Saran praktikan untuk praktek berikutnya sebaiknya praktikan lebih di

libatkan dalam proses transplantasi karang hias agar makna praktek dapat

dirasakan oleh masing-masing praktikan.

32

DAFTAR PUSTAKA

English, S., Wilkinson, C., Baker,V,. 1994. Survey Manual For Tropical Marine Resources. ASEAN – Australia Marine Science Project Living Coastal Resources. Australia. Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut: suatu pendekatan ekologis. Penerbit :

Gramedia. Jakarta. Suharsono. 1996. Jenis-jenis Karang yang Umum dijumpai di Perairan Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Proyek Penelitian dan Pengembangan Daerah Pantai, Jakarta Suharsono. 2006. Buku Petunjuk Metode Penilaian Kondisi Terumbu Karang. Pusat penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

PISCO (2002 Bohnsack et al. (2000 Hari Sutanta, 2006 . Senge (2008 , A. D dan Kardono. 2008 Suharsono, 1998

Johan, 2003