Anda di halaman 1dari 30
1
1
  • A. Latar Belakang

I.

PENDAHULUAN

1 A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia membentang sejauh 5000 km dari Sumatra di bagian barat

Indonesia membentang sejauh 5000 km dari Sumatra di bagian barat hingga Irian Jaya di bagian timur. Indonesia merupakan negara archipelago (nusantara) terbesar di dunia dengan luas teritorial daratan dan lautan kira-kira 7,7 juta km2, terdiri atas 17.500 pulau dengan garis pantai lebih dari 81.000 km. Hanya Kanada yang memiliki garis pantai yang lebih panjang dan itupun sebagian besar terkepung es, dengan begitu Indonesia memiliki garis pantai aktif yang potensial secara ekonomis yang terbesar di dunia. Hampir 75% dari wilayah terdiri dari perairan pesisir dan lautan termasuk 3,1 juta km2 lautan teritorial dan archipelago serta 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) (Parry, 1996). Di Indonesia perkiraan luas mangrove sangat beragam. Menurut Giesen (1993) menyebutkan luas mangrove di Indonesia 2,5 juta hektar. Hutan mangrove sebagai salah satu sumberdaya alam yang potensial telah lama diusahakan. Pada mulanya bentuk pemanfaatan oleh masyarakat pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya antara lain dengan penebangan hutan mangrove untuk memperoleh kayu bakar, arang, daun-daun untuk atap rumah dan sebagainya; serta penangkapan ikan, udang dan jenis-jenis biota air lainnya. Dan perkembangan selanjutnya pemanfaatan ini berkembang ke arah bentuk pengusahaan yang bersifat komersial dan dilakukan secara besar-besaran, baik dalam bentuk pengusahaan hutan bakau yang dilakukan pada areal hutan yang tetap dengan pola yang teratur oleh perusahaan perkayuan maupun untuk usaha pertambakan yang makin bertambah meluas. Disamping itu dengan adanya

2

pertambahan penduduk yang main meningkat, bentuk pemanfaatan tidak saja dilakukan terhadap hasil yang diperoleh dari hutan tersebut, tetapi malah berkembang ke bentuk pemanfaatan lahannya sendiri untuk usaha-usaha lainnya seperti untuk pertanian, perkebunan dan pemukiman. Dengan semakin lajunya pemanfaatan hutan mangrove yang terkait pada berbagai sektor usaha, maka segala bentuk pemanfaatan ini kemudian diatur dan dikelola secara sektoral (departemental). Pada saat ini penataan mangrove belum dilakukan secara keseluruhan. Selain itu adalah demografi belum terkendali dan dinamika hutannya sendiri belum diungkapkan secara, maka sampai sekarang kegiatan-kegiatan yang ada masih berjalan sendiri-sendiri baik yang dilakukan oleh instansi yang berkepentingan maupun oleh masyarakat terutama penduduk yang berdekatan dengan kawasan hutan mangrove. Ketidak-tahuan akan nilai ekosistem hutan mangrove disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu : (1) kebanyakan barang dan jasa yang dihasilkan oleh ekosistem mangrove tidak diperdagangkan di pasar, sehingga tidak memiliki nilai yang dapat diamati, dan (2) beberapa dari barang dan jasa tersebut berada jauh dari ekosistem mangrove sehingga penghargaan terhadap barang dan jasa tersebut sering dianggap tidak ada kaitannya dengan mangrove (misalnya produktivitas perairan hasil dari kontribusi mangrove, yang menyebabkan banyaknya ikan, udang, kepiting, moluska disuatu wilayah perairan pantai yang jauh dari hutan mangrove seperti di laut Kwandang, Gorontalo)

3

Berdasaran latar belakang tersebut maka dianggap perlu untuk melakukan praktek lapang ekonomi sumberdaya dan lingkungan untuk mengetahui nilai valuasi ekonomi dari ekosistem mangrove.

  • B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan di adakannya praktek lapang yaitu untuk mengetahui jenis-jenis mangrove dan jenis-jenis organisme yang berasosiasi pada ekosistem hutan mengrove serta untuk mengetahui nilai ekonomi dari manfaat langsung ekosistem mangrove di Teluk Kendari. Sedangkan manfaatnya dari praktek lapang ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi tantang kawasan ekosistem mangrove bagi yang membutuhkan, masukan bagi para pengambil kebijakan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya hutan mangrove.

4
4

II. TINJAUAN PUSTAKA

  • A. Ekosistem Mangrove

Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae,1968 dalam Supriharyono, 2000). Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ekosistem Mangrove Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu

Gambar 1. Hutan Mangrove Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove

5

meliputi pohon pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000). Ekosistem mangrove merupakan ekoton (daerah peralihan) yang unik, yang menghubungkan kehidupan biota daratan dan laut. Fungsi ekologis ekosistem mangrove sangat khas dan kedudukannya tidak terganti oleh ekosistem lainnya. Misalnya, secara fisik hutan mangrove berfungsi menjaga stabilitas lahan pantai yang didudukinya dan mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan. Secara biologis, hutan mangrove mempertahankan fungsi dan kekhasan ekosistem pantai, termasuk kehidupan biotanya. Misalnya: sebagai tempat pencarian pakan, pemijahan, asuhan berbagai jenis ikan, udang dan biota air lainnya; tempat bersarang berbagai jenis burung; dan habitat berbagai jenis fauna. Secara ekonomis, hutan mangrove merupakan penyedia bahan bakar dan bahan baku industri (Nugroho, Setiawan dan Harianto, 1991). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup

6

dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000). Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty, 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe tanah.

  • B. Zonasi Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove menduduki lahan pantai zona pasang surut, di laguna, estuaria, dan endapan lumpur yang datar. Ekosistem ini bersifat kompleks dan dinamis namun labil. Kompleks, karena di dalam hutan mangrove dan perairan/tanah di bawahnya merupakan habitat berbagai satwa dan biota perairan. Dinamis, karena hutan mangrove dapat terus berkembang serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh. Labil, karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali (Nugroho, Setiawan dan Harianto, 1991). Vegetasi mangrove biasanya tumbuh di habitat mangrove membentuk zonasi mulai dari daerah yang paling dekat dengan laut sampai dengan daerah

7

yang dekat dengan daratan. Pada kawasan delta atau muara sungai, biasanya vegetasi mangrove tumbuh subur pada areal yang luas dan membentuk zonasi vegetasi yang jelas. Sedangkan pada daerah pantai yang lurus, biasanya vegetasi mangrove tumbuh membentuk sabuk hijau/green belt dengan komposisi yang hampir seragam (Nirarita, dkk, 1996).

7 yang dekat dengan daratan. Pada kawasan delta atau muara sungai, biasanya vegetasi mangrove tumbuh subur

Gambar 2. Zonasi ekosistem mangrove Identifikasi zonasi didasarkan pada jenis mangrove atau kelompok jenis mangrove dan dinamakan sesuai dengan jenis vegetasi yang dominan, yang

tumbuh pada areal tertentu. Beberapa faktor penting yang dianggap paling berperan dalam pembentukan zonasi mangrove antara lain sebagai berikut :

  • a. pasang surut air laut yang secara langsung mengontrol ketinggian muka air dan salinitas air serta tanah

  • b. tipe tanah yang berkorelasi langsung dengan aerase, draenase dan tinggi muka air

  • c. kadar garam air dan tanah

  • d. cahaya yang berkorelasi langsung dengan daya tumbuh semaian

  • e. pasokan dan aliran air tawar Secara umum, zona yang paling dekat dengan laut (berhadapan langsung dengan laut) didominasi oleh jenis-jenis Avicennia dan Sonneratia. Sedangkan

8

zona pertengahan biasanya didominasi oleh jenis-jenis Rhizopora dan kadang juga ditemui jenis Bruguiera. Zona yang paling dekat dengan daratan biasanya didominasi oleh jenis-jenis Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus dan Lumnitzera. Menurut Giesen dkk (1997), zonasi yang paling umum dijumpai ada empat macam, yaitu :

  • a. The Exposed Mangrove (zona terluar, paling dekat dengan laut). Secara umum zona ini didominasi oleh Sonneratia alba, Avicennia alba dan Avicennia marina

  • b. Central Mangrove (zona pertengahan antara lat dan darat). Secara umum zona ini didominasi oleh jenis-jenis Rhizopora, kadang juga ditemui jenis- jenis Bruguiera

  • c. The Rear Mangrove (back mangrove, landward mangrove, areal yang paling dekat dengan daratan). Zona ini biasanya tergenangi oleh pasang tinggi saja. Seringkali didominasi oleh jenis-jenis Bruguiera, Lumnitzera, Xylocarpus dan Pandanus sp

  • d. Brackish Stream Mangrove (aliran sungai dekat mangrove yang berair payau). Pada zona ini sering dijumpai komunitas Nypa frutican dan kadang dijumpai Sonneratia caseolaris serta Xylocarpus granatum.

  • C. Fungsi Dan Manfaat Ekosistem Mangrove

Hutan mangrove atau bakau merupakan salah satu ekosistem yang banyak dijumpai di muara sungai, daerah pasang surut maupun pantai yang mempunyai peran yang sangat penting pada daerah tersebut. Beberapa fungsi penting dari

9

hutan mangrove adalah sebagai pelindung alami yang efektif untuk menahan erosi pantai, untuk menunjang keseimbangan habitat pantai, mensuplai makanan dan kayu bakar untuk penduduk sekitar, dan merupakan salah satu faktor kunci dalam fenomena pemanasan global (global warming) (Horise dkk, 2004). Sebagaiman telah dijelaskan pada bagian pendahuluan, ekosistem hutan mangrove bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998) :

  • 1. Fungsi ekologis : pelindung garis pantai dari abrasi, mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan, mencegah intrusi air laut ke daratan, tempat berpijah aneka biota laut, tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga, sebagai pengatur iklim mikro.

  • 2. Fungsi ekonomis : penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang,

bahan bangunan, bahan makanan, obat-obatan), penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna), penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung, pariwisata, penelitian, dan pendidikan. Hutan mangrove mempunyai multifungsi yaitu fungsi hayati, fungsi fisik dan fungsi kimiawi. Sebagai penyumbang kesuburan perairan sudah tidak bisa disangkal lagi karena kawasan hutan mangrove merupakan perangkap nutrisi dan bahan organik yang terbawa aliran sungai dan rawa. Bahan organik mengalami penghancuran oleh fauna hutan mangrove dan selanjutnya proses dekomposisi oleh jasad renik menjadi berbagai senyawa yang lebih sederhana. Bersama dengan

10

nutrisi yang dibawa sungai, bahan tersebut diserap oleh tumbuh-tumbuhan (Suwelo dan Manan, 1986). Secara fisik, hutan mangrove mempunyai peranan sebagai benteng atau pelindung bagi pantai dari serangan angin, arus dan ombak dari laut. Hutan mangrove dapat diandalkan sebagai benteng pertahanan terhadap ombak yang dapat merusak pantai dan daratan pada keseluruhannya (Abdullah, 1984).

  • D. Organisme Yang Berasosiasi Dengan Ekosistem Mangrove

Selain tumbuhan, banyak jenis binatang yang berasosiasi dengan mangrove, baik di lantai hutan, melekat pada tumbuhan mangrove dan ada pula beberapa jenis binatang yang hanya sebagian dari daur hidupnya membutuhkan lingkungan mangrove. Jenis ini terutama Crustaceae, Mollusca dan ikan. Hal ini menunjukkan pentingnya mangrove bagi kehidupan binatang (Atmawidjaja,

1997).

Produksi ikan dan udang di perairan laut sangat bergantung dengan produksi serasah yang dihasilkan oleh hutan mangrove (Coto et al., 1986). Kelompok moluska ekonomis juga sering ditemukan berasosiasi dengan tumbuhan penyusun hutan mangrove. Selain ikan, udang, dan moluska, biota yang juga banyak ditemukan di perairan pantai mangrove adalah cacing laut (polychaeta). Polychaeta secara ekologi berperan penting sebagai makanan hewan dasar seperti ikan dan udang (Bruno et al., 1998). Pada ekosistem terumbu karang, polychaeta turut menyumbang kalsium karbonat (CaCO3). Spesies tertentu seperti

11

Capitella capitata dapat digunakan sebagai indicator pencemaran perairan (Poclington dan Wells, 1992).

  • E. Teori Valuasi Ekonomi Sumberdaya

Menurut Marx (1883, dalam Suparmoko, 2006), selama sumberdaya alam itu belum dicampuri oleh tenaga manusia, maka sumberdaya alam itu tidak

mempunyai nilai. Sebaliknya, menurut para ahli ekonomi klasik segala sesuatu yang dapat dijualbelikan pasti mempunyai nilai. Dalam hal ini ”nilai” dibedakan dengan ”harga”, ”harga” selalu dikaitkan dengan jumlah rupiah yang harus

dibayarkan untuk memperoleh suatu barang, sedangkan nilai suatu barang tidak selalu dikaitkan dengan jumlah rupiah tetapi termasuk manfaat dari barang tersebut bagi masyarakat secara keseluruhan. Atas dasar pemikiran tersebut terjadi kecenderungan pengambilan berlebihan dan pemborosan sumberdaya. Kemudian Davis dan Johnson (1987) mengklasifikasikan nilai berdasarkan cara penilaian atau penentuan besar nilai dilakukan, yaitu : (a) nilai pasar, yaitu nilai yang ditetapkan melalui transaksi pasar, (b) nilai kegunaan, yaitu nilai yang diperoleh dari penggunaan sumberdaya tersebut oleh individu tertentu, dan (c) nilai social yaitu nilai yang ditetapkan melalui peraturan, hukum, ataupun perwakilan masyarakat. Sedangkan Pearce (1992 dalam Munasinghe, 1993) membuat klasifikasi nilai manfaat yang menggambarkan Nilai Ekonomi Total (Total

Economic Value) berdasarkan cara atau proses manfaat tersebut diperoleh. Nilai ekonomi (economic value) dari suatu barang atau jasa diukur dengan menjumlahkan kehendak untuk membayar (willingness to pay) dari banyak individu terhadap barang atau jasa yang dimaksud. Pada gilirannya, kehendak

12

untuk membayar merefleksikan preferensi individu untuk suatu barang yang dipertanyakan. Jadi dengan demikian, valuasi ekonomi dalam konteks lingkungan hidup adalah tentang pengukuran preferensi dari masyarakat untuk lingkungan hidup yang baik dibandingkan terhadap lingkungan hidup yang jelek. Valuasi merupakan fundamental untuk pemikiran pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Hal yang sangat penting untuk dimengerti adalah, apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan valuasi ekonomi. Hasil dari valuasi dinyatakan dalam nilai uang (money tems) sebagai cara dalam mencari preference revelation, misalnya dengan menanyakan "apakah masyarakat berkehendak untuk membayar?". Lebih lanjut dinyatakan bahwa penggunaan nilai uang memungkinkan membandingkan antara "nilai lingkungan hidup (environmental values)" dan "nilai pembangunan (development values)" (Cserge, 1994).

  • F. Metode Valuasi Ekonomi

Valuasi ekonomi adalah suatu upaya untuk memberikan nilai kauntitif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan terlepas dari apakah nilai pasar tersedia atau tidak (Fuazi, 1999).

1. Vegetasi

Pengambilan contoh untuk analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan transek garis (line transec). Tahapan dalam mengambil data transek yaitu menarik meteran ke arah laut dengan posisi awal yang telah diberi tanda (patok atau pengecatan pohon dan menentukan blok (petak contoh/petak ukur) di

13

sebelah kiri dan kanan garis transek berbentuk bujursangkar dengan ukuran 10 x

10 m untuk pengamatan fase pohonn (Fahrudin 1996).

  • 2. Metode Pengolahan dan Analisis Data Analisis Volume Tegakan

Analisis volume tegakan dilakukan untuk mengetahui besar dari volume

kayu mangrove yang ada. Untuk mendapatkan volume kayu, maka harus

diketahui terlebih dahulu nilai dari tinggi dan juga keliling lingkaran setinggi dada

(1,3 m) pohon yang menjadi sampel. Data yang diperoleh dimasukkan dalam data

sheet.

No

Jenis

Diameter

Tinggi

Volume

Mangrove

(cm)

(m)

Kayu (m3)

1

       

2

       

Dalam Santoso (2005) volume kayu mangrove ini didapat dengan

menggunakan persamaan:

V = (Lbd x

t

)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

(1)

Dimana:

V

= Volume

 

Lbd = luas bidang dasar {[(diameter/100) x 0.5] 2} x 3.14

T

= tinggi (m)

Π

=

3,14

Analisis volume tegakan yang didapat ini akan menggambarkan kondisi

dari hutan mangrove pada tiap hektar. Selain itu juga dapat dijadikan perhitungan

awal dari nilai ekonomi potensi kayu mangrove. Nilai tegakan dapat diketahui

14

dengan menghitung kubikasi kayu yang dihasilkan, dikalikan dengan harga jual

tiap m3 dikalikan dengan luasan kemudian dikurangi dengan biaya operasional

(Ridwansyah 2007).

  • 3. Indeks Nilai Penting

Kondisi ekologis hutan mangrove dapat diketahui dengan menggunakan

beberapa jenis perhitungan, yaitu kerapatan jenis, frekuensi jenis, luas area

enutupan, dan Indeks Nilai Penting (INP) dari tiap jenis. Untuk mencari nilai INP

digunakan tiga perhitungan, yaitu nilai kerapatan tiap jenis, nilai frekuensi tiap

jenis, dan nilai dari penutupan tiap jenis.

Kerapatan jenis (Di) adalah jumlah tegakan jenis i dalam suatu area.

Persamaan untuk mencari kerapatan jenis adalah:

Di = ni /

A

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.(2)

Dimana:

 

Di

= Kerapatan jenis ke i

Ni

= Jumlah total tegakan dari jenis ke - i

A

= Luas total area pengambilan contoh

Setelah nilai dari kerapatan jenis ini didapat, langkah selanjutnya adalah

mencari nilai dari kerapatan relatif jenis (RDi). Kerapatan relatifjenis adalah

perbandingan antara jumlah tegakan jenis i (ni) dan jumlah total tegakan seluruh

jenis (Σn), dengan persamaan:

RDi = (ni / Σn) x 100

. . . . . . .. .. ..... . . . . . . . . .

(3)

Penutupan jenis (Ci) adalah luas penutupan jenis i dalam suatu area.

persamaan dari penutupan jenis adalah:

15

Ci = ΣBA / A

.

.

.

.

.

.

.

.

...

.

.

.

.

.

.(4)

Dimana:

BA

=

π DBH2/A; (π = 3,14)

 

DBH

= diameter batang pohon jenis ke i

 

DBH

= CBH/π; CBH adalah lingkar pohon setinggi dada

A

= luas total area pengambilan contoh

Setelah nil penutupan relatif jenis (RCi). Nilai penutupan relatif jenis

adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i (Ci) dan luas total area

penutupan untuk seluruh jenis (ΣC), dengan persamaan:

RCi = ( Ci / ΣC ) x 100

. . . . . . . ... . ... . . . . . . .

(5)

Nilai yang terakhir yaitu nilai frekuensi tiap jenis. Frekuensi jenis sendiri

merupakan peluang ditemukannya jenis i dalam petak contoh / plot yang diamati:

Fi = Pi

/ ΣP

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

..

.

.

.

.

.

.

.

...

.

.

.

.

. . . .

.(6)

Dimana, Fi adalah frekuensi jenis i, Pi adalah jumlah petak contoh / plot

dimana ditemukan jenis i. Sedangkan P adalah jumlah total petak contoh/plot.

Setelah nilainya didapat, selanjutnya adalah menghitung nilai frekuensi relatif

jenis yang merupakan perbandingan antara frekuensi jenis I (Fi) dan jumlah

frekuensi untuk seluruh jenis (ΣF):

RFi = (Fi / ΣF) x 100)

. . .. . . . . . ... . . .......

.. . .

(7)

Indeks nilai penting adalah jumlah nilai kerapatan jenis (RDi), frekuensi

relatif jenis (RFi), dan penutupan relatif jenis (RCi).

INP

=

RDi + RFi +

RCi. . . .. . . . ..... . .. . . .. . . .

.(8)

16

Nilai penting ini untuk memberikan suatu gambaran mengenai pengaruh

atau peranan suatu jenis mangrove dalam ekosistem tersebut. Indeks nilai penting

emiliki kisaran antara 0-300. (Santoso, 2005).

  • 3. Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove

Murut Ridwansyah M, 2007. Penilaian ekonomi sumberdaya mangrove

dilakukan dengan menggunakan dua tahap pendekatan:

  • 1. Identifikasi manfaat dan fungsi-fungsi sumberdaya hutan mangrove.

  • 2. Kuantifikasi seluruh manfaat dan fungsi ke dalam nilai uang

  • 1. Identifikasi Manfaat dan Fungsi yang terkait dengan Hutan Mangrove

Menurt Pardede B, 2005. Nilai ekonomi suatu sumberdaya hutan

mangrove dibagi menjadi nilai penggunaan dan nilai non penggunaan. Nilai

penggunaan dibagi menjadi dua, yaitu nilai langsung dan nilai tidak langsung.

Nilai non penggunaan dibagi menjadi tiga, yang meliputi nilai manfaat pilihan,

nilai manfat keberadaan, dan manfaat pewarisan.

  • a. Nilai manfaat langsung (direct use value) Nilai manfaat langsung adalah nilai yang dihasilkan dari pemanfaatan secara

langsung dari suatu sumberdaya. Manfaat langsung bisa diartikan manfaat yang

dapat dikonsumsi. Nilai manfaat langsung hutan mangrove dihitung dengan

persamaan:

DUV = Σ DUVi

.

..

.

..

.

.

.

.

.

.

.

.

.(8)

Dimana:

DUV

= Direct use value

17

DUV 1 = manfaat kayu DUV 2 = manfaat penangkapan ikan DUV 3 = manfaat pengambilan daun nipah DUV 4 = manfaat penangkapan kepiting

  • b. Nilai manfaat tidak langsung (indirect use value)

Manfaat tidak langsung adalah nilai manfaat dari suatu sumberdaya

(mangrove) yang dimanfaatkan secara tidak langsung oleh masyarakat. Manfaat

tidak langsung hutan mangrove dapat berupa manfaat fisik yaitu sebagai penahan

abrasi air laut. Penilaian hutan mangrove secara fisik dapat diestimasi dengan

fungsi hutan mangrove sebagai penahan abrasi.

  • A. Manfaat pilihan (option value)

Manfaat pilihan untuk hutan mangrove biasanya menggunakan metode

benefit ransfer, yaitu dengan cara menilai perkiraan benefit dari tempat lain

(dimana sumberdaya tersedia) lalu benefit tersebut ditransfer untuk memperoleh

perkiraan yang kasar mengenai manfaat dari lingkungan.

Metode tersebut didekati dengan cara menghitung besarnya nilai

keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem mangrove tersebut. Menurut Rui

tenbeek (1991) dalam Fahrudin (1996), hutan mangrove Indonesia mempunyai

nilai biodiversity sebesar US$1,500 per km2. Nilai ini dapat dipakai di seluruh

hutan mangrove yang ada di Indonesia apabila ekosistem hutan mangrovenya

secara ekologis penting dan tetap dipelihara secara alami. Nilai manfaat pilihan ini

diperoleh dengan persamaan:

OV = US$15 per ha x luas hutan mangrove

. ... .

(9)

Dimana: OV = option value

18

  • 2. Kuantifikasi Manfaat ke dalam Nilai Uang

Setelah seluruh manfaat dapat diidentifikasi, selanjutnya adalah

mengkuantifikasi seluruh manfaat ke dalam nilai uang dengan beberapa nilai

yaitu:

  • a. Nilai pasar

Pendekatan nilai pasar ini digunakan untuk menghitung nilai ekonomi dari

komoditaskomoditas yang langsung dapat dimanfaatkan dari sumberdaya

mangrove.

  • b. Harga tidak langsung Pendekatan ini digunakan untuk menilai manfaat tidak langsung dari hutan

mangrove.

  • c. Contingent value method Pendekatan CVM digunakan untuk menghitung nilai dari suatu sumberdaya yang tidak dijual di pasaran, contohnya nilai keberadaan.

  • d. Nilai manfaat ekonomi total Nilai manfaat total dari hutan mangrove merupakan penjumlahan seluruh nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan dikuantifikasikan. Nilai manfaat total tersebut menggunakan persamaan:

TEV = DV + IV + OV + EV

(11)

Dimana:

TEV

= Total economic value

DV

= Nilai manfaat langsung

IV

= Nilai manfaat tidak langsung

OV

= Nilai manfaat pilihan

EV

= Nilai manfaat keberadaan

19
19

III. METODE PRAKTEK

  • A. Waktu dan tempat

Praktek lapang ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 26 Mei 2013,

pukul 10.00 12.00 WITA, bertempat di Ekosistem Hutan Mangrove, Teluk

Kendari.

  • B. Alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktik lapang Ekonomi

Sumberdaya dan Lingkungan dapat dilihat pada Tabel 1 adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Alat dan Bahan Serta Kegunaanya pada praktek lapang Ekonomi Sember

daya dan Lingkungan.

No.

Alat dan bahan

Satuan

Kegunaan

  • 1. Alat

 
 

-

Meteran

m

Sebagai alat pengukuran

-

Tali rafia

-

Sebagai batasan transek

-

Alat tulis menulis

-

Untuk mencatat hasil pengamatan

-

Patok

Batang

Sebagai penanda petakan.

-

Kantong plastik

-

Sebagai tempat menyimpan organisme yang ditemukan

-

Kamera

-

Untuk pengambilan dekumentasi

  • 2. Bahan

 
 

-

Mangrove

-

Sebagai objek pengamatan

-

Burungo

-

Sebagai objek pengamatan

-

Kalandue

-

Sebagai objek pengamatan

C.

Prosedur kerja

 

Prosedur kerja pada praktikum lapang Ekonomi Sumber Daya dan

Lingkungan ini adalah sebagai berikut:

  • 1. Membuat transek kuadrat 10 x 10 m untuk pengukuran tegakan mangrove

  • 2. Dalam transek 10 x 10 m dibuat plot 1 x 1 m sebanyak 3 plot yang diletakan secara acak untuk pengamatan organisme

20

  • 3. Untuk transek 10 x 10 m dilakukan pengamatan volume pohon mangrove, jumlah tegakan dan tinggi.

  • 4. Untik plot 1 x 1 m, mengidentifikasi jumlah dan jenis organisme.

  • 5. Menganalisis hasil pengukuran.

D.

Analisis Data

  • 1. Kepadatan

Kepadatan organisme dihitung dengan menggunakan rumus persamaan

kepadatan menurut Beligen (2004),

Dimana :

K = kepadatan (individu/hektar) Ni = Jumlah individu ke i A = Luas total (hekta)

  • 2. Volume tegakan pohon berdiri

Analisis volume tegakan dilakukan untuk mengetahui besar dari volume

kayu

mangrove, digunakan persamaan sebagai berikut:

Untuk mencari diameter tengah digunakan persamaan diatas

Dimana :

  • V = Volume tegakan pohon (m 3 )

  • d = Diameter tengah (m)

h = tinggi pohon (m)

21

3. Valuasi ekonomi

Valuasi

ekonomi

hutan

mangrove

dapat

dihitung

dengan

persamaan

sebagai berikut:

 

EV = P.Q Dimana :

P

= Harga

Q = kuantitas

 
22
22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  • A. Gambaran Umum Lokasi

Wilayah pantai Teluk Kendari mempunyai morfologi yang beragam yaitu

permukiman penduduk di bagian utara, pertambakan di bagian selatan, dan

ekosistem mangrove di bagian barat. Kerapatan mangrove pada wilayah ini relatif

tipis (20 hingga 100 meter) dan bahkan pada lokasi tertentu ada yang sudah hilang

sama sekali sebagai akibat konversi menjadi tambak secara total.

Perairan Teluk Kendari yang terletak di tengah kota Kendari diperkirakan

memiliki luas ± 10,84 km 2 dan memiliki panjang garis pantai ± 35,85 km. Secara geografis Teluk Kendari berada pada posisi 3 o 58’3”–4 o 3’11’’LS membentang ke sebelah timur 122 o 32’’–122 o 36’’BT dengan batasan wilayah :

  • 1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kendari dan Kendari Barat

  • 2. Sebelah timur berbatasan dengan Bungkutoko

  • 3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Poasia dan Kecamatan Abeli

  • 4. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Kambu.

22 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Wilayah pantai Teluk Kendari mempunyai morfologi yang

Gambar 3. Hutan Mangrove Perairan Teluk Kendari diperkirakan memiliki luas ±10,84 km 2 1.084

hektar berbentuk pantai melingkar dan melebar ke arah daratan yang ada di bagian

23

barat sedangkan mulut teluk menyempit dan menghadap perairan Laut Banda.

Pada bagian mulut teluk terdapat pulau kecil Bungkutoko, sehingga bentuk

perairan Teluk Kendari menjadi relatif tertutup.

  • B. Hasil Pengamatan

Jenis-jenis mangrove dan organisme yang di temukan di teluk kendari

pada ekosistem mangrove dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data pengamatan pada ekosistem mangrove

No

Jenis

Jumlah

  • 1 Mangrove

Apiculata

12

  • 2 Organisme

Burungo (Telescopium telescopium)

12

Kalndue (Polymesoda sp.)

7

Tabel 3. Hasil pengamatan volume dan diameter pohon mangrove

No

Jenis

Keliling

Diameter

Tinggi

Volume

Mangrove

(cm)

(m)

Kayu (m3)

  • 1 R. apiculata pohon 1

74 cm

0,23 m

11

m

0,05 m 3

3

  • 2 R. apiculata pohon

2

64 cm

0,20 m

10,5 m

0,23 m

  • 3 R. apiculata pohon

3

69 cm

0,21 m

13

m

0,28 m 3

  • 4 R. apiculata pohon

4

34 cm

0,10 m

10

m

0,06 m 3

  • 5 R. apiculata pohon

5

7

cm

0,22 m

3

m

0,08 m 3

  • 6 R. apiculata pohon

6

12 cm

0,04 m

4

m

0,002 m 3

  • 7 R. apiculata pohon

7

55 cm

0,17 m

9

m

0,14 m 3

  • 8 R. apiculata pohon

8

38 cm

0,12 m

6

m

0,04 m 3

  • 9 R. apiculata pohon

9

42 cm

0,13 m

6,5

m

0,06 m 3

  • 10 R. apiculata pohon 10

24 cm

0,08 m

5

m

0,016 m 3

  • 11 R. apiculata pohon 11

73 cm

0,29 m

10

m

0,27 m 3

  • 12 R. apiculata pohon 12

34 cm

0,11 m

5,5

m

0,036 m 3

Total volume pohon mangrove = 0,05 + 0,23 + 0,28 + 0,06 + 0,08 + 0,002 + 0,14

+ 0,04 + 0,06 + 0,016 + 0,27 + 0,036 (m 3 ) = 1,264 m 3

24

Tabel 4. Data kepadatan organisme pada ekosistem Mangrove

No Organisme

Kepadatan

  • 1 Burungo (Telescopium telescopium)

40000 ekor/ha

  • 2 Kalandue (Polymesoda sp.)

23333,33 ekor/ha

Tabel 5. Nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove di teluk kendari

No

Jenis Valuasi

Jumlah

Satuan

Harga/satuan

Nilai Valuasi

Ekonomi

(20 Ha)

Kayu bakar

  • 1 2528

m 3

1.500.000

3.792.000.000

  • 2 Burungo

800.000

Liter

15.000

48.000.000

 

(Telescopium

telescopium)

  • 3 Kalandue

466.660

Liter

15.000

55.999.200

 

(Polymesoda sp.)

 

Total

Rp 9.439.920.000

C. Pembahasan

Pada hakekatnya dalam perhitungan nilai valuasi suatu sumberdaya

maupun jasa selalu dibandingkan dengan nilai kegunaan atau manfaat sumberdaya

atau jasa tersebut, dan penilaian tersebut selalu dinyatakan dalam nilai nominal

uang. Sebaliknya nilai nominal uang yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu

transaksi sumberdaya dan jasa membutuhkan pernyataan yang membandingkan

kedua hal tersebut antara nilai pakai dan nominal yang sesuai. Hal ini sesuai

dengan pernyataan baderan (2013) yang menyatakan bahwa Pada prinsipnya

valuasi ekonomi bertujuan untuk memberikan nilai ekonomi kepada sumberdaya

yang digunakan sesuai dengan nilai riil dari sudut pandang masyarakat. Dengan

demikian dalam melakukan valuasi ekonomi perlu diketahui sejauh mana adanya

bias antara harga yang terjadi dengan nilai riil yang seharusnya ditetapkan dari

sumberdaya yang digunakan tersebut.

Praktek lapang ekonomi sumberdaya dan lingkungan dilakukan dengan

menghitung nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove salah satunya dengan

25

melihat manfaat langsung ekosistem mangrove seperti manfaat kayu bakar,

manfaat burungo, dan manfaat kalandue hal ini sesuai dengan pernyataan bengen

(2001) yang menyatakan bahwa Nilai manfaat langsung adalah nilai yang

dihasilkan dari pemanfaatan secara langsung dari suatu sumberdaya. Manfaat

langsung bisa diartikan manfaat yang dapat dikonsumsi.

Praktek lapang ekonomi sumberdaya dan lingkungan kali ini untuk

menentukan nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove maka perlu diketahui

beberapa asumsi yaitu luas ekosistem mangrove teluk kendari 20 Ha, harga kayu

bakar Rp 1.500.000/m 3 , harga burungo Rp 15.000/liter, harga kalandue

Rp 15.000/liter.

  • 1. Manfaat Kayu Bakar

Manfaat mangrove sebagai kayu bakar telah dirasakan oleh hampir

sebagian besar masyarakat yang tinggal disekitar teluk kendari. Hal tersebut dapat

dilihat pada aktifitas masyarakat yang memanfaatkan potongan-potongan pohon

mangrove yang kering dijadikan sebagai kayu bakar. Selain itu nilai jual kayu

bakar yang cukup mahal menjadikan masyarakat disekitar teluk kendari untuk

menjual kayu bakar dari potongan pohon mangrove tersebut.

Nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove sebagai kayu bakar dapat

dihitung dengan beberapa tahapan metode dengan memulai menghitung

kepadatan pohon mangrove dalam transek 10x10m dengan asumsi bahwa luas

ekosistem mangrove teluk kendari 20 Ha. Hasil perhitungan kepadatan pohon

mangrove dalam transek 10x10m didapatkan sebanyak 12 pohon mangrove jenis

26

R.apiculata. Maka kepadatan pohon mangrove dalam luas area teluk kendari

tersebut diperkirakan sebanyak 1200 pohon.

Pada praktek kali ini diasumsikan bahwa untuk menghitung valuasi

ekonomi mangrove maka ditentukan nilai jual kayu bakar sebesar Rp

1.500.000/m 3 dengan luas area 20 Ha. volume tegakan pohon mangrove

menentukan nilai manfaat kayu bakar, nilai volume tersebut dapat dilihat pada

tabel 3. Total volume tegakan pohon mangrove pada daerah sampel (transek

10x10m) adalah 1,264 m 3 dengan hasil pengukuran dalam sampel tersebut

sehingga didapatkan volume pohon mangrove dalam area teluk kendari siktar

2528 m 3 , jadi nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove sebagai kayu bakar

adalah hasil perkalian antara jumlah volume pohon mangrove (kuantitas) dengan

harga persatuan kayu bakar atau 2528m 3 x Rp 1.500.000 = Rp 3.792.000.000,00.

Melihat besarnya nilai valuasi dari manfaat langsung ekosistem mangrove

sebagai kayu bakar maka penting ekosistem mangrove terus dijaga keberadaannya

sehingga dapat dijadikan sebagai mata pencaharian masyarakat sekitar teluk

kendari. Ada dua kemungkinan pandangan masyarakat yang memanfaatkan pohon

mangrove menjadi kayu bakar sebagai mata pencaharian utama, yang pertama

kemungkinan masyarakat mengambil kayu mangrove secara liar atau tanpa

memikirkan keberlangsungan ekosistem didalamnya sehingga ekosistem

mangrove menjadi rusak dan tidak seimbang. Kemungkinan kedua yaitu

masyarakat menjadi prihatin dan lebih menghargai keberadaan ekosistem

mangrove karena memiliki nilai manfaat yang tinggi sehingga bergerak untuk

melestarikan dan menanam kembali ekosistem yang telah rusak.

27

Kemungkinan negative dari pandangan tersebut dapat dihindari apabila

ada sosialisasi yang bersifat membangun ekosistem wilayah pesisir, dan membuat

kebijakan tentang daerah konservasi hutan mangrove.

  • 2. M \ anfaat Burungo

Pada praktek lapang ekonomi sumberdaya dan lingkungan didapatkan

beberapa jenis organism yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove seperti

burung (Teleskopium teleskopium) dan kalandue (Polimesoda sp.) yang

merupakan golongan filum moluska. Hal inisesuai dengan pernyataan

Atmawidjaja (1997), yang menyatakan bahwa Selain tumbuhan, banyak jenis

binatang yang berasosiasi dengan mangrove, baik di lantai hutan, melekat pada

tumbuhan mangrove dan ada pula beberapa jenis binatang yang hanya sebagian

dari daur hidupnya membutuhkan lingkungan mangrove. Jenis ini terutama

Crustaceae, Mollusca dan ikan. Hal ini menunjukkan pentingnya mangrove bagi

kehidupan binatang.

Burongo adalah organisme invertebrate yang sebagian besar hidupnya

tinggal di daerah substrat lumpur berpasir utamanya di daerah ekosistem

mangrove. Hal ini sesuai dengan pernyataan Setyono, (2006), yang menyatakan

bahwa Kerang dan siput ada yang membenamkan diri di dalam pasir dan lumpur,

bersembunyi di balik batu, kayu dan akar tanaman laut, ada yang menempel

pada batu dan tonggak kayu, dan ada yang bebas merayap di permukaan

habitat.

Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal burungo namun dengan

sebutan nama yang berbeda-beda tiap daerah, hal ini dikarenakan nilai

28

ekonomis burungo menjadi penting ketika burungo diubah menjadi makanan

yang enak dan bergizi. Selain itu, kulit burungo dapat dijadikan sebagai

perhiasan yang unik. Nilai-nilai tersebut akan menjadi tinggi ketika

sumberdaya manusia yang mengolahnya tersedia dengan cukup ilmu. Selain

manfaat tersebut masih banyak manfaat-manfaat yang didapat dari burungo.

Untuk memastikan nilai dari keberadaan burungo dalam ekosistem

mangrove maka perlu dilakukan perhitungan nilai valuasi ekonomi ekosistem

mangrove pada manfaat burungo. Perhitungan yang dilakukan sama dengan

perhitungan valuasi pohon mangrove sebagai kayu bakar yaitu perkalian antara

jumlah burungo yang dinyatakan dalam asumsi 20 Ha dengan harga burungo

perliter. Sebelum dilakukan perkalian tersebut maka terlebih dahulu

mengkonversi jumlah kalandue dalam satuan liter. Didapatkan hasil 466.660

ekor burungo dalam 20 Ha dan jumlah burongo perliter 125 ekor. Maka

konversi jumlah burungo dalam satuan liter sebesar 3733,28 liter. Hasil

tersebut dikali dengan harga burungo perliter yaitu 3733,28 x Rp 15.000 =

Rp 55.999.200. dari hasil tersebut maka jelas keberadaan burungo dalam

ekosistem mangrove menjadi penting untuk terus dilestarikan sehingga

menjadi kesempatan bisnis untuk masyarakat Indonesia pada umumnya.

Manfaat langsungnya pun dapat dirasakan dari nilai gizi yang terkandung

dalam burungo sangat tinggi hal ini sesuai dengan pernyataan Romimohtarto,

(2005), yang menyatakan bahwa Pada umumnya filum Mollusca mempunyai

peranan yang sangat penting bagi manusia yaitu sebagai sumber makanan dan

protein hewani, misalnya pada berbagai jenis kerang, tiram, cumi-cumi, siput

29

darat atau bekicot. Cangkang dari moluska dapat dijadikan sebagai industri

kerajinan yaitu sebagai perhiasan, aksesoris dan bahan industri lainnya, dan

disamping itu cangkang dari berbaga jeojiaQ-0nis kerang, keong, siput yang telah

mati bisa dijadikan serbuk makanan yang dihancurkan kemudian dicampur

dengan makanan.

  • 3. Manfaat kalandue

Seperti halnya kayu bakar dan burungo, kanlandue juga merupakan

salah satu manfaat langsung dari perhitungan nilai valuasi ekonomi ekosistem

mangrove. Tehknik perhitungannya juga tidak jauh berbeda dengan nilai

manfaat kayu bakar dan manfaat burungo yanitu dengan mengalikan antara

kuantitas/ jumlah yang telah dikonversi kedalam satuan liter dalam 20 ha dikali

dengan harga kalandue perliter.

Nilai valuasi kalandue dan nilai valuasi organisme lainnya bukanlah

merupakan nilai yang pasti, melainkan nilai yang menghampiri nilai rillnya

sehingga tidak bisa disimpulkan perbandingan antara nilai kalandue disuatu

tempat dengan nilai kalandue di daerah lainnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh

kecepatan rekruitmen dan nilai pasar kalandue itu sendiri.

30
30

V. SIMPULAN DAN SARAN

  • A. Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka praktikan dapat berikan

kesimpulan sebagai berikut :

  • 1. Hasil identifikasi organisme pada ekosistem mangrove terdiri dari kalandue (Polimesoda sp.) sebanyak 12 ekor dan burungo (Telescopium- telescopium) sebanyak 7 ekor.

  • 2. Jenis mangrove berdasarkan hasil identifikasi dilihat dari karakteristik pohonnya termaksud jenis R. apicullata

  • 3. Manfaat valuasi ekonomi ekosistem mangrove terdiri dari manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat langsung seperti manfaat kayu bakar, manfaat burungo dan manfaat kalandue.

  • 4. Nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove yaitu nilai manfaat kayu bakar sebesar Rp 3.792.000.000, manfaat burungo Rp 48.000.000, manfaat Rp 55.999.200, sehingga didapat total nilai valuasi ekosistem mangrove diteluk kendari Rp 9.439.920.000

  • B. Saran

Pada praktek ekonomi sumberdaya dan lingkungan berikutnya sebaiknya

terlebih dahulu dilakukan asistensi dan pemberian panduan praktek lapang

ekonomi sumberdaya dan lingkungan agar praktek dan pembuatan laporan dapat

berjalan dengan lancer.