Anda di halaman 1dari 10

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

OLEH
ARY WARDANA SIREGAR
NPM : B1A012045




UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS HUKUM
TAHUN 2014







1. Mengapa diperlukan Undang-Undang mengatur pemberantasan,
pencegahan, dan penanggulangan tindak pidana : Korupsi, Pencucian
Uang, Perdagangan Orang, dan Terorisme.
2. Bagaimana cara mengefektifkan Undang-Undang yang mengatur
Pemberantasan, Pencegahan dan penanggulangan tindak pidana : Korupsi,
Pencucian Uang, Perdagangan Orang, dan Terorisme.


Jawaban :

Pertanyaan No. 1

Pada pertanyaan tersebut saya akan lebih fokus kepada Tindak Pidana
Pencucian Uang. Mengutip pendapat dari Mardjono Reksodiputro, sebagian
masyarakat Indonesia mengartikan kejahatan sebagai pelanggaran atas hukum
pidana, baik dalam undang-undang pidana maupun dalam perundang-undangan
administrasi yang bersanksi pidana. Dengan persepsi yang demikian itu, berarti
kejahatan mendahului hukum. Maksudnya, suatu perbuatan yang dianggap sangat
merugikan masyarakat kemudian muncul hukum pidana yang bertujuan
melindungi kepentingan masyarakat. Selain itu, ada pula yang mengartikan suatu
perbuatan tertentu sebagai kejahatan karena hukum yang menyatakan demikian.
Di sini, bahwa hukum yang mendahului kejahatan. Maksudnya belum tentu
hukum pidana melindungi kepentingan masyarakat secara keselurahan karena,
dapat saja, hukum pidana hanya melindungi kepentingannya dengan
menggunakan tertentu.
1

Berkaitan dengan Tindak Pidana Pencucian Uang saya sependapat dengan
pernyataan pertama apa yang dikemukakan oleh Mardjono Reksodiputro diatas
bahwa kejahatan mendahului hukum. Hal ini sesuai dengan teori dari cicero Ubi

1
Abdullah Arif, Money Laundering Tindak Pidana Pencucian Uang, Jember: Bayumedia
Publishing, 2003, halaman 4
Ius Ubi Societa, yaitu hukum tercipta karena adanya masyarakat. Hukum
berkembang sesuai dengan perkembangan di masyarakat begitu juga dengan
aspek kejahatannya. Semakin berkembang pengetahuan dan teknologi maka
kejahatan semakin berkembang dalam masyarakat, ada ungkapan : kejahatan itu
tua dalam usia, tapi muda dalam berita. Artinya, sejak dulu hingga sekarang orang
selalu membicarakan kejahatan, mulai dari yang sederhana (kejahatan biasa)
sampai yang sulit pembuktiannya. Bahkan, dalam sejarahnya, kejahatan sudah ada
sejak Nabi Adam.
2

Diperlukannya Undang-Undang yang mengatur Tindak Pidana Pencucian
(money laundering) adalah tidak hanya sekadar masalah internal Indonesia yang
menyebabkan kerugian bagi negara dalam jumlah yang besar, tapi juga
merupakan masalah dunia internasional. Oleh karena itu berbagai konferensi telah
diadakan dalam upaya membahas cara-cara atau metode yang sebaiknya
digunakan untuk mencegah dan memberantas jenis kejahatan tersebut.
PBB telah melakukan beberapa kongres dibidang kejahatan, antara lain
pada Kongres PBB ke-5 tentang the Prevention of Crime and the Teatment of
Offenders yang diselenggarakan di Jenewa mulia tanggal 1 sampai dengan 12
September 1975 telah memfokuskan pembicaraan mengenai crime as business at
the national and transnational levels yang meliputi organized crime, white collar
crime, dan coruption. Crime as business itu diakui sebagai ancaman yang serius
terhadap masyarakat dan ekonomi nasional dibandingkan dengan bentuk
kejahatan tradisional.
3

Apa yang telah dibicarakan dalam Kongres PBB tersebut, pada dasarnya,
merupakan respon atas perkembangan kejahatan, baik dalam skala nasional
maupun transnasional, termasuk kejahatan ekonomi yang menjadikan bank atau
non bank sebagai sarana untuk melakukan kejahatan pencucian uang.
Tindak Pidana Pencucian Uang telah tergolong dalam kelompok kegiatan
organisasi-organisasi kejahatan transnasional. Kejahatan tersebut sangat
memprihatinkan masyarakat internasional. Adanya keprihatinan tersebut, tentunya

2
Ibid.,halaman 1
3
Ibid.,halaman 6
sangat beralasan, sebab apabila dikaitkan dengan ancaman atau akibat yang
ditimbulkannya sangat dahsyat (insidious). Kejahatan tersebut dapat mengancam
berbagai segi atau bidang, baik keamanan, stabilitas nasional maupun
internasional, dan merupakan ancaman utama (frontak attack) terhadap kekuasaan
politik dan legislatif, dan ancaman bagi kewibawaaan negara. Disamping itu,
kejahatan tersebut juga mengganggu dan mengacaukan lembaga-lembaga sosial
dan ekonomi, menyebabkan loggarnya penegakan proses demokrasi, merusak
pembangunan dan menyelewengkan hasil-hasil yang sudah dicapai,
mengorbankan penduduk, mempergunakan kesempatan atas kelengahan manusia
sebagai sasarannya.
4

Secara yuridis pun mengenai dibentuknya Undang-Undang tersebut telah
tercantum dalam konsideran Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang, antara lain adalah sebagai berikut
5
:
a. Bahwa kejahatan yang menghasilkan harta kekayaan dalam jumlah
yang besar semakin meningkat, baik kejahatan yang dilakukan dalam
batas wilayah Negara Republik Indonesia maupun yang melintasi bats
wilayah negara;
b. Bahwa asal-usul harta kekayaan yang merupakan hasil dari kejahatan
tersebut, disembunyikan atau disamarkan dengan berbagai cara yang
dikenal sebagai pencucian uang;
c. Bahwa perbuatan pencucian uang harus dicegah dan diberantas agar
intensitas kejahatan yang menghasilkan atau melibatkan harta
kekayaan yang jumlahnya besar dapat diminimalisasi sehingga
stabilitas perekonomian nasional dan keamanan negara terjaga;
d. Bahwa pencucian uang bukan hanya saja merupakan kejahatan
nasional tetapi juga kejahatan transnasional, oleh karena itu harus
diberantas, antara lain dengan cara melakukan kerja sama regional atau
internasional melalui forum bilateral atau multilateral;

4
Ibid.,halaman 7
5
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a, huruf b, huruf c, huruf d perlu membentuk undang-undang Tindak
Pidana Pencucian Uang.

Selain itu terdapat juga dalam konsideran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang huruf a
adalah :

bahwa tindak pidana Pencucian Uang tidak hanya mengancam
stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan, tetapi juga
dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini, ada beberapa sebab mengapa Indonesia segera
memiliki Undang-Undang yang mengatur larangan melakukan pencucian uang,
yaitu
6
:
a. Pencucian uang atau money laundering memungkinkan para penjahat atau
organisasi kejahatan untuk dapat memperluas kegiatan operasinya, hal ini
akan meningkatkan biaya penegakan hukum untuk memberantasnya;
b. Meningkatnya kegiatan kejahatan yang berupa perdagangan narkoba dapat
meningkatkan biaya perawatan serta pengobatan kesehatan bagi para
korban atau para pecandu narkoba, yang notabene biaya tersebut pada
akhirnya menjadi beban negara yang memperoleh dana untuk pembiayaan
itu dari pajak yang dibayar oleh masyarakat;
c. Kegiatan pencucian uang atau money laundering mempunyai potensi
untuk merongrong masyarakat keuangan sebagai akibat demikian besarnya
jumlah uang yang terlibat dalam kegiatan tersebut, di samping itu potensi
untuk melakukan korupsi meningkat bersamaan dengan peredaran jumlah
uang haram yang sangat besar;

6
Sutan Remy Sjahdeni, Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, halaman 1
d. Pencucian (laundering) mengurangi pendapatan pemerintah dari pajak dan
secara tidak langsung merugikan para pembayar pajak yang jujur dan
mengurangi kesempatan kerja yang sah;
e. Mudahnya uang masuk ke suatu negara telah menarik unsur yang tidak
diinginkan melalui perbatasan negara tersebut, menurunkan tingkat
kualitas hidup, dan meningkatkan kwkhawatiran terhadap keamanan
nasional negara yang bersangkutan.

Dari uraian diatas jelas bahwa Tindak Pidana Pencucian Uang menjadi
Kejahatan Luar Biasa (extraordinary crime) yang sangat meresahkan masyarakat
di seluruh belahan dunia, meskipun terkadang sebagian masyarakat khususnya
Indonesia masih ada yang belum sadar bahwa akibat dari Tindak Pidana
Pencucian tersebut sangat luas sekali.


Pertanyaan No. 2

Berkaitan dengan bagaimana mengefektifkan Undang-Undang Tindak
Pidana Pencucian Uang tersebut menurut saya adalah tinggal masalah karakter
individu, peran stakeholder dan masyarakat. Untuk masalah bagaimana aturan
menyikapi tindak pidana pencucian uang tersebut telah mengalami perbaikan-
perbaikan dengan tujuan meminimalisir bahkan menghilangkan tindak pidana
pencucian uang, hal ini terbukti Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang
mengalami perubahan dari UU No. 15 Tahun 2002 diubah menjadi UU No. 25
Tahun 2003 dan kemudian disempurnakan lagi demi kepentingan penegakan
hukum dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian
uang dalam UU No. 8 Tahun 2010.
Kebutuhan adanya suatu undang-undang yang tegas tentang tindak pidana
pencucian uang memang sudah sangat mendesak. Sebelum lahirnya Undang-
Undang yang mengatur Tindak Pidana Pencucian Uang Indonesia telah masuk
dalam kelompok NCCTs yang diberikan oleh Financial Action Task Force Money
Laundering (FATF) bagi negara-negara yang dinilai menjadi surganya money
laundering. Sementara menunggu terbentuknya undang-undang yang mengatur
tentang tindak pidana pencucian uang, Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan
Bank Indonesia Nomor 3/23/PBI/2001. Prinsip itu merupakan upaya untuk
mencegah industri perbankan yang digunakan sebagai sarana atau sasaran
kejahatan, baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung oleh
pelaku kejahatan pencucian uang.
7

Dari pernyataan diatas bahwa dalam aspek aturan pokok maupun aturan
pendukung lainnya sudah berupaya se-ideal mungkin untuk mencegah,
menanggulangi dan memberantas tindak pidana tersebut. Kemudian seperti yang
saya ungkapkan pada paragraf pertama ialah dalam masalah pengefektifan
undang-undang tindak pidana pencucian uang tersebut erat kaitannya dengan
karakter individu, peran stakeholder dan masyarakatnya. Masalah bangsa
Indonesia bukan murni (Pure) aturan atau hukumnya yang tidak ideal melainkan
bagaimana aparatue penegak hukumnya yang bermasalah. Percuma aturan yang
dibuat sedemikian rupa tanpa pelaksanaan yang konsisten dalam diri karakter
penegak hukum.
Seperti contoh kasus anggota Badan Anggaran DPR RI Wa Ode Nurhayati
adalah kasus yang pertama kali ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
selain dengan UU Tipikor juga dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang.
Namun, jaksa penuntut umum (JPU) mendakwa Wa Ode dengan tuntutan 14
tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsidair enam bulan kurungan dan majelis
hakim menjatuhkan putusan kepada terdakwa dengan pidana penjara enam tahun
dan denda Rp500 juta subsidair enam bulan kurungan. Hakim seolah-olah tidak
serius melakukan pembuktian pada kasus tersebut. Memang dalam penjatuhan
dalam hukuman merupakan wewenang hakim dan interpretasinya sendiri, tetapi
ingat bahwa kerangka berpikir utamanya adalah memberantas Tindak Pidana
Pencucian Uang di Indonesia ini.

7
Abdullah Arif, Op.Cit, halaman 93
Selain itu para stakeholder yang lainnya, seperti PPATK (Pusat Pelaporan
dan Analisis Transaksi Keuangan) dan PJK (Penyedia Jasa Keuangan) harus ikut
bekerjasama dengan aparat penegak hukum lainnya dalam memerangi tindak
pidana pencucian uang tersebut. Sebagaimana telah tercantum dalam UU No. 8
Tahun 2010 bagian kedua mulai dari pasal 39 dan seterusnya mengenai tuga,
fungsi dan wewenang dari PPATK, jangan sampai karakter PPATK yang
independen tersebut tidak bisa mereka jaga dalam memerangi tindak pidana
pencucian uang.
Aparat penegak hukum juga harus dilandaskan pada asas strict liability
dalam memeriksa suatu perkara, bahwa untuk tindak pidana tertentu undang-
undang dapat menentukan seseorang dapat dipidana semata-mata karena telah
dipenuhinya unsur-unsur tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan adanya
kesalahan. Menurut Packer, issue strict liability atau pertanggungjawaban tanpa
kesalahan merupakan suatu pengembangan yang penting dalam hukum pidana,
baik melalui pengundangan oleh pembentuk undang-undang atau melalui
interpretasi oleh pengadilan untuk melarang perbuatan tertentu tanpa
memperhatikan kesalahan seseorang.
8
Hal ini bertujuan supaya aparat penegak
hukum serius dalam memeriksa, mengadili dan memutuskan terhadap tindak
pidana yang luar biasa akibatnya tersebut, jangan disepelehkan oleh penegak
hukum yang carut-marut di era sekarang ini.
Menurut Peter Gillies, pertanggungjawaban pidana dikatakan menjadi
strict apabila perbuatan yang telah dilakukan tidak lagi memperhatikan adanya
kesalahan seseorang. Karena itu, seseorang dapat dipertanggungjawabkan,
meskipun yang bersangkutan tidak melakukan kesalahan, seperti adanya unsur
kesengajaan (consisting in intention). Lebih lanjut, gillies menuliskan bahwa
konsep strict liability tersebut disusun sebagai perkecualian terhadap asas comon
law. Karena, berdasarkan doktrin common law, suatu kejahatan
mensyaratkanadanya mens rea pada hampir semua kasus sebagai dasar untuk
menjatuhkan pidana (criminal liability).
9


8
Ibid, halaman 102
9
Ibid, halaman 103
Langkah selanjutnya dalam memberantas tindak pidana pencucian uang
adalah partisipasi dari publik. Menurut saya, selama ini kita lupa bahwa rakyat
adalah suara tuhan, suatu kekuatan yang tertinggi dalam suatu tatanan negara
demokrasi. Dalam kaitannya dengan hal ini adalah mewujudkan suatu bentuk
pengetahuan sekaligus sebagai suatu bentuk sosialisasi akan partisipasinya
masyarakat Indonesia terhadap Undang-Undang Tindak Pidana Khusus, fokusnya
adalah UU Tindak Pidana Pencucian Uang di semua kalangan masyarakat. Perlu
disadari bahwa mayoritas masyrakat acuh tak acuh dengan problematika seperti
ini, karena mereka secara tidak langsung merasakan akibat dari pelanggaran
kejahatan yang luar biasa ini. Ada suatu ungkapan bahwa adanya pelanggaran
atau tidak terhadap bangsa ini, tidak akan merubah nasib kami ini adalah
sebagian bentuk ungkapan rakyat kita yang acuh tak acuh, pragmatis dan bahkan
tidak mengerti dengan masalah tersebut. Bentuk sosialisasi adalah suatu pencarian
solusi dan membuka mata wawasan pada masyarakat Indonesia khususnya Wong
Cilik untuk tidak mudah dibohongi oleh para pejabat kita yang krisis moral.
Hubungan Internasional atau hubungan bilateral maupun multilateral
adalah salah satu bentuk kerjasama dalam membasmi dan memerangi tindak
pidana yang ruang lingkupnya transnasional. Perlu disadari bagi stakeholder kita
bahwa memasukkan unsur asing dalam suatu penyelesaian patut diperhitungkan
aspek positif dan negatifnya, Indonesia yang menganut sistem devisa bebas yang
diakui pula oleh Dana Moneter Internasional (IMF), yang berarti Indonesia
memasuki era komitmen jangka panjang kepada dunia Internasional bahwa tidak
ada pembatasan dalam lalu lintas pembayaran maupun transfer devisa. Namun,
komitmen tersebut membawa akibat yang luas dalam dalam sistem devisa
nasional, terutama dalam menghadapi para spekulan yang memiliki sumber-
sumber keuangan, baik yang bersih maupun yang haram dan selalu ingin mencoba
kemampuan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui operasi
pasar terbuka.
Jadi, dengan dianutnya sistem devisa bebas, ada kaitannya dengan
keterbatasan dana bagi pembiayaan pembangunan. Karena itu, pemerintah
menerapkan kebijakan yang bertujuan mengundang investor asing untuk
menanamkan modalnya di Indonesia. Dalam kondisi demikian, tidak menutup
kemungkinan terjadinya pencucian uang di Indonesia. Akibatnya, hal itu perlu
mendapat perhatian karena di banyak negara perbuatan pencucian uang telah
dikategorikan sebagai suatu tindak pidana.
Jangan pernah melakukan hubungan dengan negara lain dengan alasan
bahwa takut akan dikucilkan dengan negara lain dalam hal kerjasama tindak
pidana tertentu. Yang perlu diketahui juga bahwa yang mengerti akan
permasalahan suatu bangsa adalah bangsa/masyarakat itu sendiri bukan bangsa
lain.