Anda di halaman 1dari 53

Skenario B Blok XIX Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Blok Tumbuh Kembang dan Geriatri merupakan blok XIX pada semester 6 dari
Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus Seorang bayi laki-laki lahir di
RSMP dengan tindakan Sectio Caesaria dari seorang ibu Ira, G
2
P
1
A
0
hamil 32 minggu
dengan menderita PEB. Ibu Ira masuk Rumah Sakit karena sakit kepala hebat dan
dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 180/100 mmHg dan
pemeriksaan laboratorium ditemukan proteinuria +3. Sudah dilakukan tatalaksana
pemberian MgSO4 tapi tidak ada perbaikan sehingga diputuskan untuk dilakukan
tindakan operaasi terminasikehamilan. Selama hamil ibu Ira menderita darah tinggi.
Bayi lahir tidak langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4 dan 5 menit
adalah 8.

1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :
Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari system
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.
Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis
dan pembelajaran diskusi kelompok.
Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.









Skenario B Blok XIX Page 2

BAB II
PEMBAHASAN

Tutor : dr. Prima Mayasari Sp.M
Moderator : Irvandra Afren
Sekretaris Meja : Maya Agustin
Sekretaris Papan : Reza Tiara Putri
Waktu : Selasa, 24 juni 2014
Kamis, 26 juni 2014
Rule tutorial : 1. Ponsel dalam keadaan nonaktif atau diam
2. Tidak boleh membawa makanan dan minuman
3. Angkat tangan bila ingin mengajukan pendapat
4. Izin terlebih dahulu bila ingin keluar masuk ruangan

SKENARIO B BLOK XIX
Seorang bayi laki-laki lahir di RSMP dengan tindakan sectio caesaria dari seorang ibu
Ira, G
2
P
1
A
0
hamil 32 minggu dengan menderita PEB. Ibu Ira masuk Rumah Sakit karena
sakit kepala hebat dan dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 180/100 mmHg
dan pemeriksaan laboratorium ditemukan proteinuria +3. Sudah dilakukan tatalaksana
pemberian MgSO4 tapi tidak ada perbaikan sehingga diputuskan untuk dilakukan tindakan
operaasi terminasikehamilan. Selama hamil ibu Ira menderita darah tinggi. Bayi lahir tidak
langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4 dan 5 menit adalah 8.
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: PB: 42 cm, BBL 1800 g, LK: 30 cm
Vital sign : RR 70 x/menit, T 36,6 C, HR 150 X/menit
Pemeriksaan khusus:
Kepala : hidung: nafas cuping hidung (+), merintih (grunting) (+), sianosis(-)
Thorax : retraksi dindingdada (+) epigastrium, suprasternal.
Jantung : bunyi jantung I dan II normal, bising tidak ada
Skenario B Blok XIX Page 3

Paru : vesikuler menurun, ronchi tidak ada
Ekstremitas: hipotoni, tidak ada kelainan kongenital.
I. Klarifikasi istilah
1. Sectio caesaria
Kelahiran janin lewat insisi menembus dinding abdomen dan uterus.
2. PEB
Keadaan kehamilan pada ibu hamil ditandai hipertensi berat, edema dan
proteinuria.
3. Hipotoni
Penurunan tonus otot rangka
4. Terminasi
Penghentian kehamilan.
5. Proteinuria
Adanya protein dalam urin
6. Sianosis
Perubahan warna kulit dan membran mukosa kebiruan akibat konsentrasi
hemoglobin yang menurun.
7. Ronchi
Bunyi mengorok pada tenggorokan atau tabung bronkial terjadi karena
obstruksi parsial.
8. Vesikuler
Memiliki frekuensi bunyi rendah seperti bunyi nafas normal seperti ventilasi.
9. Retraksi
Tindakan menarik kembali atau keadaan tertarik.

II. Identifikasi Masalah
1. Seorang bayi laki-laki lahir di RSMP dengan tindakan Sectio Caesaria dari
seorang ibu Ira, G2P2A0 hamil 32 minggu dengan menderita PEB.
2. Ibu Ira masuk Rumah Sakit karena sakit kepala hebat dan dilakukan
pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 180/100 mmHg dan pemeriksaan
laboratorium ditemukan proteinuria +3. Sudah dilakukan tatalaksana
pemberian MgSO4 tapi tidak ada perbaikan sehingga diputuskan untuk
Skenario B Blok XIX Page 4

dilakukan tindakan operaasi terminasikehamilan. Selama hamil ibu Ira
menderita darah tinggi.
3. Bayi lahir tidak langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4 dan 5
menit adalah 8.
4. Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: PB: 42 cm, BBL 1800 g, LK: 30 cm
Vital sign : RR 70 x/menit, T 36,6 C, HR 150 X/menit
Pemeriksaan khusus:
Kepala : hidung: nafas cuping hidung (+), merintih (grunting) (+), sianosis(-)
Thorax : retraksi dindingdada (+) epigastrium, suprasternal.
Jantung : bunyi jantung I dan II normal, bising tidak ada
Paru : vesikuler menurun, ronchi tidak ada
Ekstremitas: hipotoni, tidak ada kelainan kongenital.
III. Analisis Masalah
1. Seorang bayi laki-laki lahir di RSMP dengan tindakan Sectio Caesaria
dari seorang ibu Ira, G2P2A0 hamil 32 minggu dengan menderita PEB.
a. Bagaimana embriologi janin usia 32 minggu?
Jawab:
Perkembangan fungsi organ janin
Usia
Gestasi
Organ
6


7
8


9


13-16

Pembentukan hidung, dagu, palatum, dan tonjolan paru.
Jari-jari telah berbentuk, namun masih tergenggam.
Jantung telah terbentuk penuh
Mata tampak pada muka. Pembentukan alis dan lidah.
Mirip bentuk manusia, mulai pembentukan genitalia
eksterna. Sirkulasi melalui tali pusat dimulai. Tulang
mulai terbentuk.
Kepala meliputi separuh besar janin, terbentuk muka
janin; kelopak mata terbentuk namun tak akan membuka
sampai 28 minggu.
Janin berukuran 15 cm. ini merupakan awal dari trimester
ke- II. Kulit janin masih transparan, telah mulai tumbuh
Skenario B Blok XIX Page 5





17-24


25-28




29-32


33-36


38-40

lanugo (rambut janin). Janin bergerak aktif, yaitu
menghisap dan menelan air ketuban. Telah terbentuk
mekonium (faeses) dalam usus. Jantung berdenyut 120-
150 x/menit
Komponen mata terbentuk penuh, juga sedikit jari.
Seluruh tubuh diliputi verniks (?lemak). janin mempunyai
reflex.
Saat ini disebut permulaan trimester ke-III, di mana
terdapat perkembangan otak yang cepat. System saraf
mengendalikan gerakan dan fungsi tubuh, mata sudah
membuka. Kelangsungan hidup pada periode ini sangat
sulit bila lahir.
Bila bayi dilahirkan, ada kemungkinan untuk hidup (50-
70%). Tulang telah terbentuk sempurna, gerakan napas
telah regular, suhu relatifstabil.
Berat bayi 1500-2500 gram. Bulu kulit janin (lanugo)
mulai berkurang, pada saat 35 minggu paru telah matur.
Janin akan dapat hidup tanpa kesulitan.
Sejak 38 minggu kehamilan disebut aterm, di mana bayi
akan meliputi seluruh uterus. Air ketuban mulai
berkurang, tetapi masih dalam batas normal
Sumber : ilmu kebidanan edisi keempat

b. Bagaimana Fisiologi kehamilan?
Jawab:
1. Pembuahan
2. Nidasi
3. Plasentasi
Untuk terjadi suatu kehamilan harus ada spermatozoa, ovum,
pembuahan ovum (konsepsi), dan nidasi (implantasi) hasil konsepsi.
Ovum yang dilepas oleh ovarium disapu oleh mikrofilamen-
mikrofilamen fimbria infundibulum tuba kearah ostium tuba
abdominalis, dan disalurkan terus kearah medial. Kemudian jutaan
Skenario B Blok XIX Page 6

spermatozoa ditumpahkan diforniks vagina dan disekitar porsio pada
waktu koitus. Hanya beberapa ratus ribu spermatozoa dapat terus ke
kavum uteri dan tuba, dan hanya beberapa ratus spermatozoa dapat
sampai ke bagian ampula tuba dimana spermatozoa dapat memasuki
ovum yang telah siap untuk dibuahi, dan hanya satu spermatozoa yang
mempunyai kemampuan (kapasitasi) untuk membuahi. Pada
spermatozoa ditemukan peningkatan konsentrasi DNA dinukleus, dan
kaputnya lebih mudah menembus dinding ovum oleh karena diduga
dapat melepaskan hialuronidase (Sarwono, 2008).
Fertilisasi (pembuahan) adalah penyatuan ovum (oosit
sekunder) dan spermatozoa yang biasanya berlangsung diampula tuba.
Fertilisasi meliputi penetrasi spermatozoa ke dalam ovum, fusi
spermatozoa dan ovum, diakhiri dengan fusi materi genetik. Hanya
satu spermatozoa yang telah mengalami proses kapasitasi mampu
melakukan penetrasi membran sel ovum. Untuk mencapai ovum,
sperma harus melewati korona radiata (lapisan sel diluar ovum) dan
zona pelusida (suatu bentuk glikoprotein ekstraselular), yaitu lapisan
yang menutupi dan mencegah ovum mengalami fertilisasi lebih dari
satu spermatozoa. Spermatozoa yang telah masuk ke vitelus
kehilangan membran nukleusnya, yang tinggal hanya pronukleusnya,
sedangkan ekor spermatozoa dan mitokondrianya berdegenerasi. Itulah
sebabnya seluruh mitokondria pada manusia berasal dari ibu
(maternal). Masuknya spermatozoa kedalam vitelus membangkitkan
nukleus ovum yang masih dalam metafase untuk proses pembelahan
selanjutnya (pembelahan mieosis kedua) sesudah anafase kemudian
timbul telofase dan benda kutub (polar body) kedua menuju ruang
perivitelina. Ovum sekarang hanya mempunyai pronukleus yang
haploid. Pronukleus spermatozoa juga telah mengandung jumlah
kromosom yang haploid (Sarwono, 2008).
Kedua pronukleus saling mendekati dan bersatu membentuk
zigot yang terdiri atas bahan genetik dari perempuan dan laki-laki.
Pada manusia terdapat 46 kromosom, ialah 44 kromosom otosom dan
2 kromosom kelamin; pada seorang laki-laki satu X dan satu Y.
Skenario B Blok XIX Page 7

sesudah pembelahan kematangan, maka ovum matang mempunyai 22
kromosom otosom serta 1 kromosom X. Zigot sebagai hasil
pembuahan yang memiliki 44 kromosom otosom serta 2 kromosom X
akan tumbuh sebagai janin perempuan, sedangkan yang memiliki 44
kromosom otosom serta 1 kromosom X dan 1 kromosom Y akan
tumbuh sebagai janin laki-laki. Dalam beberapa jam setelah
pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat
berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat
asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi,
pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar, dan
selama tiga hari berbentuk suatu kelompok sel yang sama besarnya.
Hasil konsepsi berada dalam stadium morula. Energi untuk
pembelahan ini diperoleh dari vitelus, sehingga volume vitelus makin
berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula. Dengan demikian, zona
pelisida tetap utuh, atau dengan kata lain, besarnya hasil konsepsi tetap
utuh.
Dalam ukuran yang sama ini hasil konsepsi disalurkan terus ke
pars ismika dan pars interstisial tuba (bagia-bagian tuba yang sempit)
dan terus disalurkan kearah kavum uteri oleh arus serta getaran silia
pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. Selanjutnya pada hari
keempat hasil konsepsi mencapai stadium blastula yang disebut
blastokista, suatu bentuk yang dibagian luarnya adalah trofoblas dan
dibagian dalamnya disebut massa inner cell ini berkembang menjadi
janin dan trofoblas akan berkembang menjadi plasenta. Dengan
demikian, blastokista diselubungi oleh suatu simpai yang disebut
trofoblas. Trofoblas ini sangat kritis untuk keberhasilan kehamilan
terkait dengan keberhasilan nidasi (implantasi), produksi hormon
kehamilan, proteksi imunitas bagi janin, peningkatan aliran darah
maternal ke dalam plasenta, dan kelahiran bayi. Sejak tropoblas
terbentuk, produksi hormon human chorionic gonadotropin (hCG)
dimulai, suatu hormon yang memastikan bahwa endometrium akan
menerima (resesif) dalam proses implantasi embrio (Sarwono, 2008).
Skenario B Blok XIX Page 8

Setelah proses implantasi selesai, maka pada tahap selanjutnya
akan terbentuk amnion dan cairan amnion. Amnion pada kehamilan
aterm berupa sebuah membran yang kuat dan ulet tetapi lentur.
Amnion adalah membran janin paling dalam dan berdampingan
dengan cairan amnion. Amnion manusia pertama kali dapat
diidentifikasi sekitar hari ke-7 atau ke-8 perkembangan mudigah.
Secara jelas telah diketahui bahwa amnion tidak sekedar membran
avaskular yang berfungsi menampung cairan amnion. Membran ini
aktif secara metabolis, terlihat dalam transpor air dan zat terlarut untuk
mempertahankan homeostatis cairan amnion, dan menghasilkan
berbagai senyawa bioaktif menarik, termasuk peptida vasoaktif, faktor
pertumbuhan dan sitoin (Cunningham, 2006).
Pada awal kehamilan, cairan amnion adalah suatu ultrafiltrat
plasma ibu. Pada awal trimester kedua, cairan ini terutama terdiri dari
cairan ekstrasel yang berdifusi melalui kulit janin sehingga
mencerminkan komposisi plasma janin. Volume cairan amnion pada
setiap minggu gestasi cukup berbeda-beda. Secara umum, volume
cairan meningkat 10 ml perminggu pada minggu ke-8 dan meningkat
sampai 60 ml perminggu pada minggu ke-21, dan kemudian berkurang
secara bertahap hingga kembali ke kondisi mantap pada minggu ke-33.
Dengan demikian, volume cairan biasanya meningkat dari 50 ml pada
minggu ke-12 menjadi 400 ml pada pertengahan kehamilan dan 1000
ml pada kehamilan aterm (Cunningham, 2006).
Cairan yang normalnya jernih dan menumpuk di dalam rongga
amnion ini akan meningkat jumlahnya seiring dengan perkembangan
kehamilan sampai menjelang aterm, saat terjadi penurunan volume
cairan amnion pada banyak kehamilan normal. Cairan amnion ini
berfungsi sebagai bantalan bagi janin, yang kemungkinan
perkembangan sistem muskuloskletal dan melindungi pertahanan suhu
dan memiliki fungsi nutrisi yang minimal (Cunningham, 2006).


Skenario B Blok XIX Page 9

c. Apa saja indikasi tindakan Sectio Caesaria?
Jawab:
Indikasi medis
a) Power
Yang memungkinkan dilakukan operasi Caesar, misalnya daya
mengejan lemah, ibu berpenyakit jantung atau penyakit menahun lain
yang mempengaruhi tenaga
b) Passanger
Diantaranya, anak terlalu besar, anak dengan kelainan letak lintang,
primigravida diatas 35 tahun dengan letak sungsang, anak tertekan
terlalu lama pada PAP, dan anak menderita fetal distress syndrome
(denyaut jantung janin kacau dan melemah).
c) Passage
Panggul sempit, trauma persalinan serius pada jalan lahir atau pada
anak, adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa menular pada
anak.

Indikasi ibu
a) Usia
Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usiasekitar 35 tahun,
memiliki resiko melahirkan dengan operasi. Apalagi wanita dengan
usia 40 tahun ke atas. Pada usia ini, biasanya seseorang memiliki
penyakit yang berisiko misalnya tekanan darah tinggi, penyakit
jantung,DM, dan preeclampsia.
b) Tulang panggul : ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan
ukuran lingkarkepala janin yang menyebabkan ibu tidak bisa
melahirkan secara alamiah (spontan)
c) Persalinan sebelumnya dengan section caesarea
d) Factor hambatanjalan lahir
e) Kelainan kontraksi rahim
f) Ketuban pecah dini
g) Rasa takut kesakitan

Skenario B Blok XIX Page 10

Indikasi janin
a) Ancaman gawat janin (fetal distress)
b) Bayi besar (makrosemia)
c) Letak sungsang
d) Factor plasenta ( plasenta previa, solution plasenta, plasenta accrete)
e) Kelainan tali pusat(prolapsus tali pusat, telilit tali pusat)
Kontraindikasi
a) Janin mati / dalam keadaan kritis
b) Janin lahir, ibu mengalami infeksi yang luas
c) Fasilitas medis kurang memadahi/ kurangnya kemampuan dokter
bedah(Unimus, 2012).
Indikasi
Berdasarkan waktu dan pentingnya dilakukan sectio caesarea, maka
dikelompokkan 4 kategori (Edmonds,2007) :
1. Kategori 1 atau emergency
Dilakukan sesegera mungkin untuk menyelamatkan ibu atau janin.
Contohnya abrupsio plasenta, atau penyakit parah janin lainnya.
2. Kategori 2 atau urgent
Dilakukan segera karena adanya penyulit namun tidak terlalu
mengancam jiwa ibu ataupun janinnya. Contohnya distosia.
3. Kategori 3 atau scheduled
Tidak terdapat penyulit.
4. Kategori 4 atau elective
Dilakukan sesuai keinginan dan kesiapan tim operasi.
Dari literatur lainnya, yaitu Impey dan Child (2008), hanya
mengelompokkan 2 kategori, yaitu emergency dan elective
Caesarean section. Disebut emergency apabila adanya
abnormalitas pada power atau tidak adekuatnya kontraksi uterus.
Passenger bila malaposisi ataupun malapresentasi. Serta
Skenario B Blok XIX Page 11

Passage bila ukuran panggul sempit atau adanya kelainan
anatomi.

d. Makna status paritas G
2
P
1
A
0
?
Jawab:
Gravid : 2
Partus : 1
Abortus : 0
Maknanya berarti Os telah hamil 2 kali, melahirkan satu kali, dan tidak
pernah mengalami abortus.

e. Apa hubungan status dan usia kehamilan dengan PEB?
Jawab:
Hubungan status paritas dengan PEB tidak ada, karena factor risiko PEB
yaitu:
1) Primigravida, primipaternitas
2) Hiperplasentosis
3) Umur yang ekstrim
4) Riwayat keluarga pernah preeclampsia/eklampsia
5) Penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
Status G
2
P
1
A
0
: Pada primigravida terjadi :
1) Pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta
yang belum sempurna.
2) Terjadi kompleks imun humoral dan aktivasi komplemen.
3) Pembentukan HLA-G menurun
Karena ketiga hal inilah yang menyebabkan terjadinya
preeklampsi pada primigravida, yang terjadi berdasarkan teori
imunologik antara ibu dan janin (Prawirohardjo, Sarwono. 2010).

Faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan :
1. Primigravida, primipaternitas
2. Hiperplasentosis, misalnya : mola hidatidosa, kehamilan
multiple, diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar.
Skenario B Blok XIX Page 12

3. Umur yang ekstrim
4. Riwayat keluarga pernah preeclampsia/eklampsia
5. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada
sebelum hamil
6. Obesitas (Prawirohardjo, Sarwono. 2012).

Usia kehamilan : preeclampsia adalah hipertensi yang timbul
setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria.
(Prawirohardjo, Sarwono. 2012). Pada kasus usia kehamilan ibu Ira
adalah 32 minggu, maka ada kemungkinan mengalami
preeclampsia.
Hubungan usia kehamilan 32 minggu dengan PEB adalah bahwa PEB
merupakan factor predisposisi / factor risiko terjadinya persalinan
preterm (persalinan premature 20-37 minggu)
Kondisi selama kehamilan yang berisiko terjadinya persalinan preterm
adalah:
Janin dan plasenta
- Perdarahan trimester awal
- Perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa
previa)
- Ketuban pecah dini
- Pertumbuhan janin terhambat
- Cacat bawaan janin
- Kehamilan ganda / gemeli
- Polihidramnion
Ibu
- Penyakit berat pada ibu
- Diabetes mellitus
- Preeclampsia/hipertensi
- Infeksi saluran kemih / genital / intrauterine
- Penyakit infeksi dengan demam
- Kelainan bentuk uterus/ serviks
Skenario B Blok XIX Page 13

f. Apa penyebab PEB?
Jawab:
Faktor-faktor yang dianggap penting mencakup:
- Implantasi plasenta disertai trofoblastik abnormal pada pembuluh
darah uterus
- Toleransi imunologis yang bersifat maladaptive di antara jaringan
maternal, paternal (plasental), dan fetal
- Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskular atau
inflamatorik yang terjadi pada kehamilan normal
- Faktor genetic, termasuk gen predisposisi yang diwariskan, serta
pengaruh epigenetic.
- Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pada preeklampsia dan eklampsia didapatkan kerusakan pada
endotel vaskuler, sehingga sekresi vasodilatator prostasiklin oleh
sel-sel endotelial plasenta berkurang, sedangkan pada kehamilan
normal, prostasiklin meningkat. Sekresi tromboksan oleh trombosit
bertambah sehingga timbul vasokonstriksi generalisata dan sekresi
aldosteron menurun.
- Peran Faktor Imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama karena pada
kehamilan pertama terjadi pembentukan blocking antibodies
terhadap antigen plasenta tidak sempurna. Pada preeklampsia
terjadi kompleks imun humoral dan aktivasi komplemen. Hal ini
dapat diikuti dengan terjadinya pembentukan proteinuria.
- Peran Faktor Genetik
Preeklampsia hanya terjadi pada manusia. Preeklampsia meningkat
pada anak dari ibu yang menderita preeklampsia.
- Iskemik dari uterus.
Terjadi karena penurunan aliran darah di uterus
- Defisiensi kalsium.
Diketahui bahwa kalsium berfungsi membantu mempertahankan
vasodilatasi dari pembuluh darah (Joanne, 2006).


Skenario B Blok XIX Page 14

- Disfungsi dan aktivasi dari endotelial.
Kerusakan sel endotel vaskuler maternal memiliki peranan penting
dalam patogenesis terjadinya preeklampsia. Fibronektin dilepaskan
oleh sel endotel yang mengalami kerusakan dan meningkat secara
signifikan dalam darah wanita hamil dengan preeklampsia.
Kenaikan kadar fibronektin sudah dimulai pada trimester pertama
kehamilan dan kadar fibronektin akan meningkat sesuai dengan
kemajuan kehamilan (Drajat koerniawan)

g. Apa dampak PEB pada ibu dan bayi?
Jawab:
Dampak preeclampsia pada janin adalah :
- Intrauterine growth restriction dan oligohidramnion
- Kenaikan morbiditas dan mortalitas janin secara tidak langsung
akibat Intrauterine growth restriction, prematuritas,
ologihidramnion dan solusio plasenta.

Pada ibu dapat menyebabkan perubahan system dan organ pada
preeklampsia
- Volume plasma : penurunan plasma (hipovolemia / oleh sebab yang
tidak jelas)
- Hipertensi
- fungsi ginjal (perubahan fungsi ginjal dan proteinuria, asam urat
serum meningkat, kreatinin dalam plasma meningkat, oliguria dan
anuria)
- Tekanan osmotic koloid plasma / tekanan onkotik makin menurun
karena kebocoran protein dan peningkatana permeabilitas vascular.
- Ganguuan koagulasi
- Viskositas darah meningkat meningkatnya resistensi perifer dan
menurunnya aliran darah ke organ.
- Edema
- Hepar (vasospasme, iskemia, dan perdarahan) : nekrosis sel hepar
dan dapat menimbulkan rupture hepar.
Skenario B Blok XIX Page 15

- Neurologik : vasogenik edema (hiperperfusi), gangguan visus
(spasme arteri retina dan edema retina), edema serebri, vasospasme
serebri dan iskemia serebri kejang eklamptik, perdarahan
intracranial.

h. Bagaimana Mekanisme PEB?
Jawab:
HLA-G di desidua daerah plasenta invasi sel-sel trofoblas pada
lapisan otot a. spiralis dan jaringan matriks sekitarnya lapisan otot a.
spiralis menjadi kaku dan keras dilatasi dan distensi dari lumen a.
spiralis a. spiralis relatif vasokonstriksi kegagalan remodeling a.
spiralis aliran darah uteroplasenta hipoksia dan iskemia plasenta
oksidan / radikal bebas (radikal hidroksil) pengubahan asam lemak
tak jenuh menjadi peroksida lemak peredaran peroksida lemak dalam
aliran darah sel endotel terpapar oleh peroksida lemak kerusakan
membran sel, nukleus dan protein sel endotel disfungsi endotel
prostasiklin (PGE
2
) dan tromboksan (TXA
2
) sedangkan terjadi
kehilangan daya refrakter terhadap bahan vasopresor (endotelin)
kepekaan pembuluh darah terhadap bahan vasopresor vasokonstriksi
tekanan darah tinggi (hipertensi)

i. Apa Makna bayi lahir dengan sectio caesaria dengan usia kehamilan
32 minggu dari ibu PEB?
Jawab:
Maknanya terjadi persalinan premature.

2. Ibu Ira masuk Rumah Sakit karena sakit kepala hebat dan dilakukan
pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 180/100 mmHg dan
pemeriksaan laboratorium ditemukan proteinuria +3. Sudah dilakukan
tatalaksana pemberian MgSO4 tapi tidak ada perbaikan sehingga
diputuskan untuk dilakukan tindakan operasi terminasi kehamilan.
Selama hamil ibu Ira menderita darah tinggi.
Skenario B Blok XIX Page 16


a. Apa interpretasi TD dan proteinuria?
Jawab:
tekanan darah 180/100 mmHg dan pemeriksaan laboratorium
ditemukan proteinuria +3 maknanya mengalami preeclampsia
berat.
vasospasme arteriol sehingga peringatan awal yang paling bisa
diandalkan adalah peningkatan tekanan darah.
Proteinuria pada preeklamsia dapat diterangkan berdasarkan
konstriksi arteriol aferen dengan peningkatan permeabilitas
glomerulus terhadap protein.

b. Apa pengaruh pemberian MgSO
4
terhadap janin?
Jawab:
Bayi baru lahir ibu yang mendapat pengobatan magnesium sulfat
kemungkinan akan mengalami hipermagnesemia dengan gejala gagal
napas, refleks yang menurun dan gejala perut kembung (akibat
hipermagnesemia menekan fungsi otot polos usus sehingga
menyebabkan ileus). Oleh sebab itu pada bayi baru lahir tersebut sejak
menit pertama sampai 1 jam setelah lahir harus diamati :
1) Tangis, apakah menangis lemah atau tidak ada tangisan
2) Refleks, apakah lemah atau menurun
3) Pernapasan, apakah perlu dilakukan resusitasi atau perlu
bantuan pernapasan dengan alat resusitasi

c. Apa makna telah diberi MgSO
4
tidak ada perbaikan?
Jawab:
Magnesium sulfat menghambat atau menurunkan kadar asetilkolin
pada rangsangan serat saraf dengan menghambat transmisi
neuromuskuler. Transmisi neuromuskuler membutuhkan kalsium pada
sinaps. Pada pemberian magnesium sulfat, magnesium akan menggeser
kalsium, sehingga aliran rangsangan tidak terjadi ( terjadi kompetitif
inhibition antara ion kalsium dan ion magnesium). Kadar kalsium yang
Skenario B Blok XIX Page 17

tinggi dalam darah dapat menghambat kerja magnesium sulfat
(Prawirohardjo, Sarwono. 2012)
Tatalaksana PEB berdasarkan sikap terhadap kehamilannya
meliputi :
a) Aktif : bila umur kehamilan >37 minggu; artinya kehamilan
diakhiri setelah mendapat terapi medikamentosa untuk
stabilisasi ibu
b) Konservatif : bila umur kehamilan < 37 minggu; artinya
kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil memberikan
terapi medikamentosa (MgSO4), bila dalam waktu > 24 jam
tidak ada perbaikan berarti terjadi kegagalan pengobatan.
Pada kasus ini tidak terjadi perbaikan setelah diberikan
MgSO4 menandakan kegagalan pengobatan dan merupakan indikasi
untuk dilakukannya terminasi kehamilan
(Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI, 2010)
d. Apa saja Indikasi terminasi pada kehamilan?
Jawab:
Indikasi ibu
a) Kegagalan terapimedikamentosa
- Setelah 6 jam sejak dimulai pengobatan medikamentosa terjadi
kenaikan darah yang persisten
- Setelah 24 jam sejak dimulainya pengobatan medikamentosa terjadi
kenaikan darah desakan darah yang persisten
b) Tanda dan gejala impending eklampsia
c) Gangguan fungsi hepar
d) Gangguan fungsi ginjal
e) Dicurigai terjadinya solitio plasenta
f) Timbulnya onset partus, ketuban pecah dini, pendarahan
Indikasi janin
a) Umur kehamilan 37 minggu
b) IUGR berat berdasarkan pemeriksaan USG
Skenario B Blok XIX Page 18

c) NST nonreaktiv dan profil biofisik abnormal
d) Timbulnya oligohidramnion
Indikasi laboratorium
Thrombositopenia progresif, yang menjurus ke sindrom HELLP.

e. Bagaimana Mekanisme keluhan Tekanan darah 180/100 mmHg,
proteinuria dan sakit kepala?
Jawab:
tekanan darah tinggi :
HLA-G di desidua daerah plasenta invasi sel-sel trofoblas
pada lapisan otot a. spiralis dan jaringan matriks sekitarnya
lapisan otot a. spiralis menjadi kaku dan keras dilatasi dan
distensi dari lumen a. spiralis a. spiralis relatif vasokonstriksi
kegagalan remodeling a. spiralis aliran darah uteroplasenta
hipoksia dan iskemia plasenta oksidan / radikal bebas
(radikal hidroksil) pengubahan asam lemak tak jenuh menjadi
peroksida lemak peredaran peroksida lemak dalam aliran darah
sel endotel terpapar oleh peroksida lemak kerusakan
membran sel, nukleus dan protein sel endotel disfungsi endotel
prostasiklin (PGE
2
) dan tromboksan (TXA
2
) sedangkan
terjadi kehilangan daya refrakter terhadap bahan vasopresor
(endotelin) kepekaan pembuluh darah terhadap bahan
vasopresor vasokonstriksi tekanan darah tinggi
(hipertensi)
sakit kepala :
Vasokontriksi sistemik suplai darah ke otak menurun
hipoksia sakit kepala
proteinuria :
Vasokontriksi kerusakan endotel kapiler glomelurus
peningkatan permebilitas kapiler glomelurus dan sel-sel
podosit ikut melebar molekul-molekul kecil (protein dan
Skenario B Blok XIX Page 19

albumin) lolos dari filtrasi hipoalbuminemia dan
proteinuria
Tidak adanya invasi trofoblast pada lapisan otot a. spiralis
dan jaringan matriks sekitarnya Lapisan otot tetap kaku
dan keras Lumen tidak distensi dan dilatasi A.
Spiralis relatif bervasokonstriksi Kegagalan remodelling
a. spiralis Aliran darah uteroplasenta Hipoksia dan
iskemia plasenta Menghasilkan oksidan (radikal
hidroksil) Merusak membran sel, nukleus, dan protein
sel endotel Disfungsi endotel Perubahan sel endotel
kapiler glomerulus permeabilitas kapiler
Proteinuria

f. Bagaimana Indikasi, kontraindikasi, efek samping, farmakokinetik
dan farmakodinamik dari mgso4? (farmakologi)
Jawab:
Jawab:
Indikasi MgSO4
1) Merelakskan otot, antikonvulsan digunakan pada
preeklamsi dan eklamsi
2) Inhibisi persalinan premature
3) Pengobatan toksemia dan eklamsi
Kontraindikasi MgSO4
Alergi terhadap produk magnesium, penyekat jantung,
kerusakan miokardium, nyeri abdomen, mual, muntah, atau gejala
lain berupa apendisitis. Terdapat resiko toksisitas magnesium pada
neonates jika magnesium sulfat digunakan dalam persalinan dan
pelahiran
Farmakologi
Absorbsi dan ekskresi
Seorang dewasa membutuhkan magnesium 20-40 meq/hari
dimana hanya 1/3 bagian diserap dibagian proksimal usus halus
melalui suatu proses aktif yang berhubungan erat dengan sistem
Skenario B Blok XIX Page 20

transport kalsium. Bila penyerapan magnesium kurang akan
menyebabkan penyerapan kalsium meningkat dan sebaliknya.
Garam magnesium sedikit sekali diserap oleh saluran
pencernaan. Pemberian magnesium parenteral segera
didistribusikan ke cairan ekstrasel, sebagian ketulang dan
sebagian lagi segera melewati plasenta. Ekskresi magnesium
terutama melalui ginjal, sedikit melalui penapasan, air susu ibu,
saliva dan diserap kembali melalui tubulus ginjal bagian
proksimal. Bila kadar magnesium dalam darah meningkat maka
penyerapan ditubulus ginjal menurun, sedangkan clearence
ginjal meningkat dan sebaliknya. Peningkatan kadar
magnesium dalam darah dapat disebabkan karena pemberian
yang berlebihan atau terlalu lama dan karena terhambatnya
ekskresi melalui ginjal akibat adanya insufisiensi atau
kerusakan ginjal
.

Pada preeklampsia dan eklampsia terjadi spasme pada
seluruh pembuluh darah sehingga aliran darah ke ginjal
berkurang yang menyebabkan GFR dan produksi urine
berkurang. Oleh karena itu mudah terjadi peninggian kadar
magnesium dalam darah
.

Ekskresi melalui ginjal meningkat selama pemberian
glukosa, amonium klorida, furosemide, asam etakrinat dan
merkuri organik. Kekurangan magnesium dapat disebabkan
oleh karena penurunan absorbsi misalnya pada sindroma
malabsorbsi, by pass usus halus, malnutrisi, alkholisme,
diabetik ketoasidosis, pengobatan diuretika, diare,
hiperaldosteronisme, hiperkalsiuri, hiperparatiroidisme
.

Cruikshank et al menunjukan bahwa 50% magnesium akan
diekskresikan melalui ginjal pada 4 jam pertama setelah
pemberian bolus intravena, 75% setelah 20 jam dan 90%
setelah 24 jam pemberian. Pitchard mendemontrasikan bahwa
99% magnesium akan diekskresikan melalui ginjal setelah 24
jam pemberian intavena.
Skenario B Blok XIX Page 21

g. Apa Makna selama hamil menderita darah tinggi?
Jawab:
Maknanya yaitu mengalami hipertensi dalam kehamilan.

h. Apa saja jenis-jenis hipertensi pada kehamilan?
Jawab:
Klasifikasi
1) Hipertensi kronik : hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20
minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur
kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu
pascapersalinan
2) Preeclampsia : hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria
Preeclampsia ringan: sindroma spesifik kehamilan dengan
menurunnya perfusi organ yang berakibat vasospasme pembuluh
darah dan aktivasi endotel. Hipertensi 140/90 mmHg, proteinuria
300 mg/24 jam atau 1+ dipstick, edem.
Preeclampsia berat: preeclampsia dengan tekanan darah sistolik 160
mmHg dan tekanan darah diastolic 110 mmHg disertai proteinuria
lebih 5 g/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif
3) Eklampsia : preeclampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/atau
koma
4) Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsoa: hipertensi
kronis disertai tanda-tanda preeclampsia atau hipertensi kronik disertai
proteinuria.
5) Hipertensi gestasional : hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa
disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan
pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeclampsia
tetapitanpa proteinuria.




Skenario B Blok XIX Page 22

3. Bayi lahir tidak langsung menangis. Nilai skor APGAR 1 menit adalah 4
dan 5 menit adalah 8.
a. Apa makna bayi lahir tidak langsung menangis, skor APGAR 1 menit
4 dan 5 menit 8?
Jawab:
Menangis waktu lahir: gerak refleks murni yang terjadi ketika
udara masuk ke dalam tali suara (pita suara) yang menyebabkan
pita suara bergetar.
Tujuan menangis : memompa paru-paru sehingga memungkinkan
pernafasan dan memberikan oksigen kedalam darah.
Makna tidak menangis : upaya pernapasan tidak baik (respiratory
distress).
Apgar 1 menit 4 : perlunya tindakan resusitasi segera. Apgar 5
menit 8 :menunjukkan kemungkinan keberhasilan dalam
melakukan resusitasi bayi.
Maknanya adalah bayi baru lahir tersebut mengalami asfiksia ringan
sedang dengan nilai Apgar pada menit pertama 4 dan pada menit ke 5
adalah 8 yaitu terjadi peningkatan nilai Apgar itu artinya bayi normal
atau sedikit asfiksia.

b. Bagaimana Mekanisme keadaan bayi yang tidak langsung menangis
dan skor APGAR menit 1 4 dan 5 menit 8?
Jawab:
Disfungsi endotel akan mengakibatkan gangguan keseimbangan antara
kadar hormon vasokonstriktor (endotelin, tromboksan, angiotensin) dan
vasodilator (nitritoksida, prostasiklin). Vasokonstriksi yang meluas
menyebabkan hipertensi (Cunningham, 2005). Pada ginjal juga mengalami
vasokonstriksi pembuluh darah sehingga menyebabkan peningkatan
plasma protein melalui membran basalis glomerulus yang akan
menyebabkan proteinuria.
Vasokonstriksi pembuluh darah mengakibatkan kurangnya suplai
darah ke plasenta sehingga terjadi hipoksia janin. Akibat lanjut
darihipoksia janin adalah gangguan pertukaran gas antara oksigen dan
Skenario B Blok XIX Page 23

karbon dioksida sehingga terjadi asfiksia neonatorum (Winkjosastro,
2007).
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama
kemudian disusul dengan pernapasan teratur dan tangisan bayi. Proses
perangsangan pernapasan ini dimulai dari tekanan mekanik dada pada
persalinan, disusul dengan keadaan penurunan tekanan oksigen arterial dan
peningkatan tekanan karbon dioksida arterial, sehingga sinus karotikus
terangsang terjadinya proses bernapas. Bila mengalami hipoksia akibat
suplai oksigen ke plasenta menurun karena efek hipertensi dan proteinuria
sejak intrauterin, maka saat persalinan maupun pasca persalinan berisiko
asfiksia. Pada awal proses kelahiran setiap bayi akan mengalami hipoksia
relatif dan akan terjadi adaptasi akibat aktivitas bernapas dan menangis.
Apabila proses adaptasi terganggu, maka bayi bisa dikatakan mengalami
asfiksia yang akan berefek pada gangguan sistem organ vital seperti
jantung, paru-paru, ginjal dan otak yang mengakibatkan
kematian(Winkjosastro, 2007).


















Skenario B Blok XIX Page 24

c. Bagaimana Pertolongan pertama bayi pada kasus?
Jawab:

Penatalaksanaan resusitasi dasar pada penanganan segera asfiksia
neonatorum dilakukan sesuai dengan algoritma tatalaksana asfiksia
neonatorum yang direkomendasikan American Heart Association
(AHA)/American Academy of Pediatrics (AAP), dengan melakukan
beberapa penyesuaian:
1. Tim resusitasi
Di tingkat puskesmas, bidan harus dapat mengantisipasi, mengenali
gejala asfiksia dan dapat memberikan resusitasi dasar dengan segera,
bila diperlukan segera melakukan rujukan ke rumah sakit. Di tingkat
pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, tiap rumah sakit yang
menolong persalinan harus memiliki tim resusitasi yang terdiri dari
Skenario B Blok XIX Page 25

dokter dan paramedis yang telah mengikuti pelatihan resusitasi
neonatus yang diselenggarakan oleh organisasi profesi.
2. Alat resusitasi
Di tingkat puskesmas, harus tersedia minimal balon mengembang
sendiri (self inflating bag/ ambu bag) bagi pelaksanaan ventilasi dalam
resusitasi asfiksia neonatorum. Balon mengembang sendiri juga
minimal harus ada sebagai cadangan dimanapun resusitasi dibutuhkan,
bila sumber gas bertekanan gagal atau T-piece resusitator tidak
berfungsi. Di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi, rumah
sakit harus dilengkapi dengan alat ventilasi yang lebih canggih.
Neopuff harus ada ditingkat ini.
3. Penggunaan oksigen
Penggunaan oksigen aliran bebas (21%) menurunkan risiko
mortalitas dan hipoksik iskemik ensefalopati. Penelitian Tan dkk
menyatakan bahwa saat ini belum cukup bukti yang bisa dijadikan
dasar untuk merekomendasikan penggunaan oksigen aliran bebas
sebagai ganti oksigen 100%, karena beberapa penelitian yang
menggunakan oksigen aliran bebas tetap menggunakan oksigen 100%
sebagai cadangan pada lebih dari objek penelitiannya. Karenanya
bila oksigen aliran bebas (O2 21%) digunakan pada awal resusitasi
bayi-bayi cukup bulan, oksigen 100% tetap harus tersedia sebagai
cadangan bila resusitasi gagal.
4. Penggunaan oksimeter untuk monitoring dan panduan pemberian
oksigen
Alat ini dapat mendeteksi hipoksia pada bayi sebelum bayi terlihat
sianosis secara klinis. Oksimeter tidak dapat digunakan pada kondisi
hipovolemia dan vasokontriksi. Keakuratannya ada pada kisaran
saturasi oksigen 70-100% ( 2%). Dibawah 70% alat ini kurang akurat.
Pada pemakaian klinis, oksimeter dapat mendeteksi hipoksia secara
cepat sehingga dapat dapat dijadikan alat monitoring dan panduan
untuk pemberian oksigen secara lebih akurat. Resusitasi pada bayi
kurang bulan memerlukan tambahan tenaga terampil, termasuk petugas
yang terlatih dalam melakukan intubasi endotrakeal, dan tambahan
sarana untuk menjaga suhu tubuh. Jika bayi diantisipasi kurang bulan
Skenario B Blok XIX Page 26

secara signifikan (misalnya <28 minggu), diperlukan plastik
pembungkus (polyethylene) yang dapat dibuka-tutup serta alas hangat
yang dapat dipindah-pindahkan siap pakai. Penelitian Pada neonatus
dengan usia gestasi <37 minggu atau berat lahir < 2.500 gram
menunjukkan bahwa penggunaan plastik pembungkus dalam 10 menit
pertama setelah lahir pada bayi usia gestasi < 28 minggu efektif,
namun tidak terbukti efektif pada usia gestasi 28-31 minggu.
Bayi dibungkus plastik transparan dari ujung kaki sampai sebatas
leher, kepala dikeringkan dan dibiarkan terbuka. Plastik yang
digunakan adalah plastik transparan atau kantong pembungkus yang
terbuat dari low density polyethylene (LDPE) atau linear low density
polyethylene (LLDPE) atau polyvinylidene chloride (PVDC) atau
plastik membran semi-permeabel seperti Opsite atau Tegaderm.Z
Inkubator transpor juga diperlukan untuk memindahkan bayi ke ruang
perawatan setelah resusitasi. Blender oksigen diperlukan untuk
memberikan konsentrasi oksigen antara 21% sampai 100%. Selang
bertekanan tinggi menghubungkan oksigen dan sumber udara ke
blender mengatur gas dari 21% ke 100%. Pengatur aliran dapat
dihubungkan ke blender dengan kecepatan aliran 0 sampai 20 L/menit
untuk mendapatkan konsentrasi oksigen yang dapat diberikan langsung
ke bayi atau melalui alat tekanan positif. Secara garis besar hal-hal
berikut harus diperhatikan pada resusitasi bayi kurang bulan :
Menjaga bayi tetap hangat
Bayi yang lahir kurang bulan hendaknya mendapatkan semua
langkah untuk mengurangi kehilangan panas.
Pemberian oksigen
Penggunaan oksigen aliran bebas (21%) menurunkan risiko
mortalitas dan hipoksik iskemik ensefalopati.Sementara saat ini
belum cukup bukti untuk merekomendasikan penggunaan oksigen
aliran bebas sebagai ganti oksigen 100%, karena beberapa
penelitian yang menggunakan oksigen aliran bebas tetap
menggunakan oksigen 100% sebagai cadangan pada lebih dari
objek penelitiannya.
Skenario B Blok XIX Page 27

Untuk menghindari pemberian oksigen yang berlebihan saat
resusitasi pada bayi kurang bulan, digunakan blender oksigen dan
oksimeter agar jumlah oksigen yang diberikan dapat diatur dan
kadar oksigen yang diserap bayi dapat diketahui. Saturasi oksigen
lebih dari 95% dalam waktu lama, terlalu tinggi bagi bayi kurang
bulan dan berbahaya bagi jaringannya yang imatur.
Ventilasi
Bayi kurang bulan mungkin sulit diventilasi dan juga mudah
cedera dengan ventilasi tekanan positif yang intermiten. Hal-hal
berikut perlu dipertimbangkan:
Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
Jika bayi bernapas spontan dengan frekuensi
jantung diatas 100 x/menit tapi tampak sulit bernapas
dan sianosis pemberian CPAP mungkin bermanfaat.
CPAP diberikan dengan memasang sungkup balon yang
tidak mengembang sendiri atau T-piece resuscitator
pada wajah bayi dan mengatur katup pengontrol aliran
atau katup Tekanan Positif Akhir Ekspirasi (TPAE)
sesuai dengan jumlah CPAP yang diinginkan. Pada
umumnya TPAE sampai 6 cmH2O cukup. CPAP tidak
dapat digunakan dengan balon mengembang sendiri.

Tekanan terendah digunakan untuk memperoleh
respons yang adekuat
Pemberian surfaktan secara signifikan
Pencegahan terhadap kemungkinan cedera otak

d. Bagaimana cara pemeriksaan skor APGAR?
Jawab:
Tanda 0 1 2
Frekuensi jantung
Upaya bernapas
Tonus otot
Tidak ada
Tidak ada
Lemah
<100
Lambat, tidak teratur
Beberapa fleksi
>100
Baik, menangis
Gerakan aktif
Skenario B Blok XIX Page 28


Respons terhadap
kateter dalam lubang
hidung (diuji
sesudah orofaring
bersih)
Warna kulit

Tidak ada
respon



Biru, pucat
tungkai
Menyeringai




Tubuh merah muda,
tungkai biru

Batuk atau
bersin



Seluruhnya
merah muda
Interpretasi Skor APGAR
8-10 : Tidak asfiksia
5-7 : Asfiksia ringan
3-4 : Asfiksia sedang
0-2 : Asfiksia berat
Preosedur penilaian APGAR
1) Pastikan pencahayaan baik
2) Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama
dengan cepat & simultan.
3) Jumlahkan hasilnya
4) Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya
5) Ulangi pada menit kelima
6) Ulangi pada menit kesepuluh
7) Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yang sesuai

e. Apa Tujuan pemeriksaan APGAR skor?
Jawab:
Untuk menilai bayi baru lahir segera sesudah lahir, untuk membantu
mengidentifikasi bayi yang memerlukan resusitasi akibat asidosis
hipoksik.

f. Bagaimana Hubungan BBLR dengan lahir dari ibu PEB?
Jawab:
Skenario B Blok XIX Page 29

Hubungannya yaitu bahwa PEB (ibu) merupakan factor penyebab
Berat badan lahir rendah (bayi) terjadinya toksemia pada ibu yang
mengakibatkan retardasi pertumbuhan intrauterin.
Penyebab bayi lahir premature yang BBLR
Janin
Gawat janin
Kehamilan multiple
Eritroblastosis
Hidrops nonimun
Plasenta
Plasenta previa
Abrupsio plasenta
Uterus
Uterus bikornus
Serviks tidak kompeten (dilatasi premature)
Ibu
Pre-eklampsia
Penyakit medis yang kronis (jantung, ginjal)
Infeksi
Penyalahgunaan obat
Lainnya
Ketuban pecah premature
Polihidramnion
Iatrogenic

Factor retardasi pertumbuhan intrauterine
Janin
Gangguan kromosom
Infeksi janin yang kronis
Anomaly congenital-kompleks sindrom
Jejas radiasi
Kehamilan multiple
Aplasia pancreas
Skenario B Blok XIX Page 30

Plasenta
Berat plasenta atau selularitas berkurang, atau keduanya
Luas permukaan berkurang
Plasentitis vilosa
Infark
Tumor (korioangioma, molahidatidosa)
Pelepasan plasenta
Sindroma transfusi kembar
Ibu
Toksemia
Penyakit hipertensi atau ginjal, atau keduanya
Hipoksemia
Malnutrisi atau penyakit kronik
Anemia sel sabit
Obat-obatan

g. Definisi Asfiksia neonatorum dan bagaimana klasifikasi?
Jawab:
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan
teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai
dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis(IDAI, 2004). Asfiksia
neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera
setelah lahir(WHO, 1999).
Klasifikasi Asfiksia
Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity,
Respiration) asfiksia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
1) Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2) Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
3) Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
4) Bayi normal dengan nilai APGAR 10 (Ghai, 2010)




Skenario B Blok XIX Page 31

h. Cara mendiagnosis asfiksia berdasarkann skor doune skor?
Jawab:


i. Kemungkinanan penyebab asfiksia pada Bayi baru lahir?
Jawab:
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan
gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi
menjadi berkurang yang mengakibatkan hipoksia bayi di dalam rahim dan
dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir. Beberapa faktor tertentu
diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir,
diantaranya adalah:
Faktor ibu
- Pre-eklampsi dan eklampsi
Skenario B Blok XIX Page 32

- Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
- Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
- Partus lama (rigid serviks dan atonia/ insersi uteri).
- Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus
mengganggu sirkulasi darah ke plasenta.
- Perdarahan banyak: plasenta previa dan solutio plasenta
Faktor Tali Pusat
- Lilitan tali pusat
- Tali pusat pendek
- Simpul tali pusat
- Prolapsus tali pusat
Faktor Bayi
- Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
- Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,
ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
- Kelainan bawaan (kongenital)
- Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

j. Apa saja Akibat bayi asfiksia?
Jawab:
gangguan sistem organ vital seperti jantung, paru-paru, ginjal dan otak
yang mengakibatkan kematian. Asfiksia neonatorum dapat menyebabkan
komplikasi yang terjadi langsung (dini) seperti asidosis metabolik,
sindroma gawat nafas (SM dan TTN), gagal jantung, gagal ginjal akut,
ensefalopati hipoksik iskemik, juga dapat menimbulkan komplikasi
lanjutan seperti terjadinya epilepsi, mikrosefali, serebral palsi, retardasi
mental, gangguan belajar, dan gangguan tingkah laku beserta emosi.

4. Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: PB: 42 cm, BBL 1800 g, LK: 30 cm
Vital sign : RR 70 x/menit, T 36,6 C, HR 150 X/menit
Pemeriksaan khusus:
Skenario B Blok XIX Page 33

Kepala : hidung: nafas cuping hidung (+), merintih (grunting) (+),
sianosis(-)
Thorax : retraksi dindingdada (+) epigastrium, suprasternal.
Jantung : bunyi jantung I dan II normal, bising tidak ada
Paru : vesikuler menurun, ronchi tidak ada
Ekstremitas: hipotoni, tidak ada kelainan kongenital.

a. Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik?
Jawab:
Pemeriksaan fisik Nilai normal Interpretasi
PB: 42 cm Cukup bulan 52,8-60,9
cm

BBL 1800 g Cukup bulan 2.53-4.34
kg

LK: 30 cm Cukup bulan 32,1-38,5
RR 70 x/menit 60-80x/menit cm Dalam batas normal
T 36,6 C 36.5-37.5
o
C Normal
HR 150 X/menit HR bayi premature
140-150/menit
Dalam batas normal
tinggi
nafas cuping hidung (+) Tidak ada abnormal
merintih (grunting) (+) Tidak ada abnormal
sianosis(-) Tidak ada normal
retraksi dindingdada
(+) epigastrium,
suprasternal.
Tidak ada abnormal
bunyi jantung I dan II
normal
normal normal
bising tidak ada Tidak ada bising normal
vesikuler menurun normal abnormal
ronchi tidak ada Tidak ada normal
hipotoni normal abnormal
tidak ada kelainan
kongenital
Tidak ada normal
Skenario B Blok XIX Page 34


b. Bagaimana mekanisme dari hasil pemeriksaan fisik yang abnormal?
Jawab:
Prematuritas Sintesa dan pelepasan surfaktan turun Tegangan
permukaan alveoli meningkat Beberapa alveoli kolaps /Atelektasis
beberapa terisi cairan, Berkurangnya functional residual capacity
(FRC) dan penurunan compliance paru Memperpanjang ekspirasi
Mengalami grunting

c. Bagaimana Klasifikasi BBL?
Jawab:
Bayi dengan berat badan lahi rendah : berat badan lahir 2.500 g
atau kurang
Bayi dengan berat badan lahir sangat rendah : bayi dengan berat
badan kurang dari 1.500 g

d. Bagaimana mendiagnosis BBLR?
Jawab:
1) Anamnesis:
Keadaan ibu selama hamil (sesuai dengan faktor etiologi), masa
gestasi.
2) Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan fisis lengkap bayi baru lahir. Pemeriksaan skor
Balard untuk menilai usia gestasi, dan diplot pada kurva
Lubchenco untuk menilai kesesuaian berat lahir dengan usia
gestasi.
3) Kriteria Diagnosis:
Berdasarkan berat lahir dan usia gestasi diklasifikasikan sesuai
dengan klasifikasi di atas.
4) Diagnosis:
Timbang berat bayi
Tentukan masa gestasi (hari pertama haid terakhir, Skor
Ballard)
Skenario B Blok XIX Page 35

Tentukan bayi sesuai masa kehamilan atau kecil masa
kehamilan dengan menggunakan kurve pertumbuhan dan
perkembangan intra uterin dari Battalgia dan Lubchenco
Masa gestasi <37 minggu prematuritas murni
Masa gestasi 36 minggu dismatur
Masa gestasi <37 minggu dan berat lahir kurang
untuk masa gestasi tersebut gabungan keduanya

e. Bagaimana cara Menentukan usia bayi (BB) berdasarkan usia
kehamilan dengan skor ballard dan kurva luccenco?
Jawab:
The New Ballard Score Pada Bayi Prematur
Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD
untuk menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian
neuromuskular dan fisik. Penilaian neuromuskular meliputi postur, square
window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heel to ear maneuver.
Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo, permukaan plantar,
payudara, mata/telinga, dan genitalia.
1) Penilaian Maturitas Neuromuskular
a) Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi
saat istirahat dan adanya tahanan saat otot diregangkan
(Gambar II.3). Ketika pematangan berlangsung, berangsur-
angsur janin mengalami peningkatan tonus fleksor pasif dengan
arah sentripetal, dimana ekstremitas bawah sedikit lebih awal
dari ekstremitas atas. Pada awal kehamilan hanya pergelangan
kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi bersamaan dengan
pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi, kemudian diikuti
dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus
pasif ekstensor tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada
bayi yang mendekati matur menunjukkan perlawanan tonus
fleksi pasif yang progresif.
Untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang
dan pemeriksa menunggu sampai bayi menjadi tenang pada
Skenario B Blok XIX Page 36

posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat
dilakukan manipulasi ringan dari ekstremitas dengan
memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal ini akan
memungkinkan bayi menemukan posisi dasar kenyamanannya.
Fleksi panggul tanpa abduksi memberikan gambaran seperti
posisi kaki kodok.


Gambar Postur Bayi
b) Square Window
3,4

Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan
terhadap peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi
pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi
dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan
lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan lengan bawah
bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut >
90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 (Gambar II.4).

Skenario B Blok XIX Page 37


Gambar Square Window
c) Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot
biseps dengan mengukur sudut mundur singkat setelah sendi
siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara
evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik,
lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi
saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap terentang/ gerakan
acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial
110-140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali
ke fleksi penuh (Gambar II.5).



Gambar Arm Recoil

Skenario B Blok XIX Page 38

d) Popliteal Angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif
sendi lutut dengan menguji resistensi ekstremitas bawah
terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa
popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut
tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa
memegang kaki satu sisi dengan lembut dengan satu tangan
sementara mendukung sisi paha dengan tangan yang lain.
Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini
dapat mengganggu interpretasi.
Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti
terhadap ekstensi. Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan
betis di daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus
menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif
sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir
akan mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama
usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan
intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi
(Gambar II.6).



Gambar Popliteal Angle

e) Scarf Sign
Skenario B Blok XIX Page 39

Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu.
Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa mengarahkan
kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi
melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari
tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku
mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu
harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap
lurus dan amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan
dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat
leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris
puting (1); prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3);
dan garis aksila ipsilateral (4) (Gambar II.7).



f) Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada
gelang panggul dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan
terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi
terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk,
tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa,
pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati
jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut (
bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat
Skenario B Blok XIX Page 40

lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat
sebagai resistensi tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-
1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2); daerah pusar (3); dan
lipatan femoralis (4) (Gambar II.8).



Gambar Heel to Ear

2) Penilaian Maturitas Fisik
a. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya
bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu
vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi
keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan
janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada
masing-masing janin tergantung pada pada kondisi ibu dan lingkungan
intrauterin.
Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum
corneumnya, kulit agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada
usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus, menebal dan
menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang akhir
kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat mengeluarkan
mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat mempercepat proses
Skenario B Blok XIX Page 41

pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas, pecah-pecah, dehidrasi,
sepeti sebuah perkamen.
b. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme
prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai
tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat
banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu ke
28.
Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah
yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan
biasanya yang paling luas terdapat di daerah lumbosakral. Pada punggung
bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah dan lokasi
lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada genetik,
kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai
contoh bayi dari ibu dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat
banyak.
Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah
yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan
bawah dari punggung bayi
c. Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini
kemungkinan berkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan.
Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih
sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan terdapat
percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada
telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian
dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis
tertentu.
Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai garis
pada telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut
berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung
jari hingga tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk
jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1. Hasil pemeriksaan
disesuaikan dengan skor di tabel (Gambar II.10).
Skenario B Blok XIX Page 42


Gambar Permukaan Plantar

d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat
stimulasi esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi
yang diterima janin. Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau
tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan papila Montgomery (Gambar
II.11). Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola
dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam milimeter

e. Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring
perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas
palpasi ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke
arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan
kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi.
Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika
dilepaskan. Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan
berdasarkan perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan
memisahkan palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari
Skenario B Blok XIX Page 43

telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan
menempel erat satu sama lain (Gambar II.13). Dengan bertambahnya
maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi dan
meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya.
Hasil pemeriksaan pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor
dalam tabel. Perlu diingat bahwa banyak terdapat variasi kematangan
palpebra pada individu dengan usia gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan
terdapat faktor seperti stres intrauterin dan faktor humoral yang
mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra.
f. Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum
kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis
kanan yakni pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat
diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33
hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih
tebal dan membentuk rugae.
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam
zona berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut,
dan kadang belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada
neonatus matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan
dapat menyentuh kasur ketika berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong,
hipoplastik, dengan rugae yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang
sehat atau sesuai dengan usia kehamilan yang sama.
g. Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus
diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45
o
dari garis
horisontal. Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan
klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya
tertutupi oleh labia majora
.
Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat
menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas
fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi
Skenario B Blok XIX Page 44

lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris
menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar .
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada
nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia
majora menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang
menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan
matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih
menonjol.
h. Interpretasi Hasil
Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular maupun
fisik disesuaikan dengan skor di dalam tabel dan dijumlahkan hasilnya.
Interpretasi hasil dapat dilihat pada tabel skor.
Tabel The New Ballard Score

Skenario B Blok XIX Page 45


Lubchenscho
Skenario B Blok XIX Page 46

5. Bagaiamana Cara mendiagnosis pada kasus ini?
Jawab:
Ibu :
Anamnesis : sakit kepala hebat
Pemeriksaan fisik : TD 180/100mmHg, proteinuria +3 (meningkatkan
resiko asfiksia neonatorum)
Bayi :
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum PB 42cm, BBL 1800gr, LK 30cm,Vital sign 70x/menit
Pemeriksaan Khusus :
Nafas cuping hidung (+), Merintih (+), retraksi dinding dada (+),
hipotoni

6. Apa DD pada kasus ini?
Jawab:
1) HMD
2) Respiratory distress syndrome (RDS)
3) TTN (Transient Tachypnea of the Newborn)

7. Pemeriksaan penunjang?
Jawab:
Pemeriksaan fungsi paru :
Isi tidal volume menurun
Lung compliance berkurang
Kapasitas sisa fungsional merendah dan kapasitas vital terbatas
Fungsi ventilasi dan perfusi paru terganggu
Gambaran histopatologi
Secara makroskopis Paru tampak merah keunguan dan
berkonsistensi seperti hepar
Secara miskroskopis
Adanya atelektasis yang luas dengan
pelebaran kapiler dan saluran limfe intra alveolar
Skenario B Blok XIX Page 47

Duktus alveolaris, alveolus dan bronkiolus pernapasan
dilapisi membran yang asidofilik, homogen/ granuler
Puing-puing amnion, perdarahan intraalveolar dan
emfisema intersfistel
Membran hialin yang khas, terbentuk dari fibrin, sel
paru dan endotel pembuluh darah yang nekrosis
Pemeriksaan darah
Asam laktat meningkat
PaO
2
menurun
PaCO
2
meningkat
pH darah menurun

8. Bagaimana WD pada kasus ini?
Jawab:
Asfiksia neonatorum derajat sedang + respiratori distress sindrom suspect
hyaline membrane disease.

9. Bagaimana Epidemiologi pada kasus ini?
Jawab:
Frekuensi : laki-laki > perempuan
Bayi yang lahir < 28 minggu 60 80%
Bayi yang lahir 32 36 minggu 15 30%
Bayi yang lahir > 37 minggu 5%

Skenario B Blok XIX Page 48

10. Apa Etiologi dari kasus ini?
Jawab:
Dianggap karena faktor pertumbuhan atau karena pematangan paru
belum sempurna. Biasanya mengenai bayi prematur, terutama bila menderita
gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya diabetes melitus,
toksemia gravidarum, hipotensi, seksio secaria dan perdarahan antepartum
dimana keadaan ini menyebabkan bayi lahir prematur.

11. Manifestasi klinis
Jawab:
Biasanya pada bayi prematur
Sering disertai riwayat asfiksia setelah lahir
Tanda gangguan pernafasan pada 6 8 jam pertama setelah lahir dan
gejala yang karakteristik pada umur 24 72 jam
Dispnu atau hiperpnu, dan pernapasan cuping hidung
Sianosis, retraksi suprasternal, retraksi epigastrum, retraksi interkostal
dan ekspirator grunting
Bradikardia, hipotensi, kardiomegali, pitting oedem (dorsal tangan atau
kaki), hipotermi, tonus otot menurun

12. Bagiamana Tatalaksana secara komprehensif pada kasus ini?
Jawab:
Tatalaksana HMD dan BBLR
a. Perawatan suportif pada bayi BBLR, terutama pada pengobatan asidosis,
hipoksia, hipotermi dan hipotensi.
b. Terapi memerlukan pemantauan yang cermat yang sering terhadap
frekuensi jantung dan pernapasan, PO2, PCO2, pH, bikarbonat, elektrolit
arteri, glukosa darah, hematokrit, tekanan darah dan suhu. Jadi tujuan
pengobatan untuk meminimalisir variasi kelainan fisiologis, dan masalah
iatrogenik yang menumpangi.
c. Untuk menghindari hipotermi dan konsumsi oksigen seminimal mungkin
maka bayi, harus ditempatkan didalam isolatte( Inkubator) dan suhu
dalam tubuh dan dipertahankan dengan suhu tubu 36,5-37,5
0
C. Kalori
dan cairan harus diberikan IV, untuk 24 jam pertama 10 % glukosa dan di
Skenario B Blok XIX Page 49

infuskan melalui vena perifer dengan kecepatan 65-75 mL/kg/24 jam. Dan
elektrolit ditambahkan sedikit demi sedikit sampai 120-150mL/kg/24 jam.
Dan oksigen hangat yang dilembabkan dengan mempertahankan tekanan
arteri. serta dilakukan ventilasi mekanis untuk memperbaiki oksigenasi
dan mengeliminasi karbondioksida.
d. Pemasukan surfaktan eksogen multidosis kedalam endotrakea bayi BBLR
memerlukan 40% oksigen, dan ventilasi mekanis.
e. Kemudian pemerian antibiotik bila ada bakteri sperti streptococcus dari
hasil biakan darah.
Setiap hasil pemberian dan pemeriksaan perlu dilakukan evalusi dan
pemeriksaan yang ketat sampai akhir pasien siap untuk pulang. ( IKA
Nelson 595-596).
Bagan tatalaksana untuk BBLR pada kasus:
Bayi Ny. Ira, BBLR, dirumah sakit, maka tatalaksananya
berdasarkan Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal dalah sebagai berikut:
a. Keringkan secepatnya dengan handuk hangat
b. Kain yang basah secepatnya diganti dengan yang kering dan
hangat, pertahankan tetap hangat.
c. Berikan lingkungan hangat dengan cara kontak kulit ke kulit dan/
bungkus dengan kain hangat
d. Beri lampu 60 watt, dengan jarak minimal 60cm dari bayi.
e. Kepala bayi ditutup dengan topi
f. Beri oksigen
g. Tali pusat dalam keadaan bersih.
h. Beri minum dengan sonde/tetesi ASI
i. Bila tidak mungkin, infuse dekstrose 10% + Bicarbonas Natricus
1,5%=4:1; hari I: 60 cc/kg/hari, hari II: 70 cc/kg/hari
j. Berikan antibiotic untuk mencegah infeksi
k. Bila tidak dapat menghisap putting susu/ tidak dapat menelan
langsung/sesak/biru/tanda-tanda hipotermia berat, terangkan
kemungkinan akan meninggal.


Skenario B Blok XIX Page 50

13. Apa saja Komplikasi pada kasus ini?
Jawab:
Komplikasi lebih banyak diakibatkan oleh perawatan intensif :
Pada kelebihan pemberian O
2
: Fibrosis paru, kerusakan retina
(fibroplasia retrolerital)
Pada intubusasi trakea : asfiksia (obstruksi pipa), henti jantung selama
intubasi/pengisapan, stenosis subglotis, perdarahan karena trauma,
ulserasi lubang hidung karena tekanan pipa, dan lain-lain
Kateterisasi arteri umbilikalis : embolisasi vaskular, trombosis,
nekrosis iskemik, infeksi dan perdarahan

14. Bagaimana Prognosis pada kasus ini?
Jawab:
Quo at vitam : bonam
Quo ad functional : dubia ad bonam

15. Bagiamana KDU pada kasus ini?
Jawab:
KDU BBLR :4A
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinis, melakukan penatalaksanaan
secara mandiri dan tuntas.
KDU HMD : 3B
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau
mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien. Lulusan dokter mampu
menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya.
Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

16. Apa PI pada kasus ini?
Jawab:
QS. At Taghaabun : 15
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di
sisi Allah-lah pahala yang besar.
Skenario B Blok XIX Page 51

IV. Kesimpulan
Bayi NY. I lahir Sectio Caesaria dari ibu G
2
P
1
A
0
hamil 32 minggu dengan bblr,
asfiksia neonatorum derajat sedang + RD et causa HMD.

V. Kerangka Konsep
PEB

Prematuritas

BBLR+ pematangan organ terganggu (HMD)

Asfiksia neonatorum














Skenario B Blok XIX Page 52

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bayi NY. I lahir Sc dari ibu G
2
P
1
A
0
hamil 32 minggu dengan bblr, asfiksia
neonatorum derajat sedang + RD et causa HMD.


















Skenario B Blok XIX Page 53

DAFTAR PUSTAKA

Chair I, Marnoto BW, Rifaii RF, Buku Panduan Resusitasi Neonatus Edisi 5, AAP, 2006.
Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, Manual of Neonatal care. Edisi 6, Lippincott William
& Walkins, 2008
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pencegahan dan Penatalaksanaan
Asfiksia Neonatorum. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 29
Dharmasetiawani N. Asfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto
A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta:
IDAI. 2008.h.71-88
Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, Neonatology. Edisi 5, Lange McGraw
Hill, 2003.
Gomella TL, Eyal FG, Zenk KE. NEONATOLOGY: MANAGEMENT, PROCEDURES,
ON-CALL PROBLEMS, DISEASES, AND DRUGS. 5th Edition. (2008). Lange
Medical Books/McGraw-Hill Medical Publishing Division
Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1,
Badan Penerbit IDAI, 2008
MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, Averys Neonatology. Pathophysiology &
Managementof the Newborn. Edisi 6, Lippincott William & Walkins, 2005.
Suradi R. Pemeriksaan Fisis pada Bayi Baru Lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,
Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta: IDAI.
2008.h.103-125
Surasmi,Asrining,dkk.2009.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC
Usman,A. 2012. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan penerbit IDAI.