Anda di halaman 1dari 160

JejakJejakJejakJejak TerakhirTerakhirTerakhirTerakhir ::::

hanyahanyahanyahanya sebuahsebuahsebuahsebuah kisahkisahkisahkisah anakanakanakanak nelayannelayannelayannelayan

Penulis

Zulfikkar PN

Persembahan

Telah 3 tahun, cukup lama. Ku tulis berlembar-lembar cerita. Bukan kisah cinta remaja nan syahdu. Melainkan kisah anak tak beribu.

Ialah anak penuh haru biru. Sumber inspirasi sanubariku. Ia yang datang dari kampung seberang. Kampung diantara lautan yang garang.

Semangat pantang menyerah berkobar. Dalam tubuh kecil terdapat jiwa yang tegar. Apalah dia dibanding mereka si kaya raya. Namun lihat, ia lebih hebat dimata Tuhannya.

Persembahan inilah jadi awal pembuka. Dimana dan darimana kisah ini bermula. Kisah suka duka si anak nelayan. Hatinya tulus lewati halang rintangan.

Tak berlebihan jika dijadikan suatu teladan. Walau penuh cobaan percayalah pada Tuhan. Karena Dia-lah yang akan berikan jalan. Sebuah hikmah beserta tuntunan.

Ku persembahkan kisah ini. Pada mereka yang masih miliki hati. Untuk melihat ke beberapa sisi. Bahwasanya hidup perlu disyukuri.

Cilacap, 11 Agustus 2013 Zulfikkar PN

Daftar Isi

Halaman Judul

i

Persembahan

ii

Daftar Isi

iii

Kesan & Pesan

iv

Monolog

1

Garis Hidup

8

Nyonya Surati

21

Kuburan

37

Raibnya Si Doreng

49

Ampun, Ayah

59

Paman Salim & Saudara Baru

73

Teman

90

Masalah Baru

107

Jejak Terakhir

122

Kesan & Pesan

Tak ada yang lebih berarti daripada kesan dan pesan darimu kawan. Bantulah aku untuk menulis
Tak ada yang lebih berarti daripada kesan dan
pesan darimu kawan. Bantulah aku untuk menulis
lebih baik lagi. Pastinya apa yang kau sampaikan
melalui salah satu kolom dibawah ini akan menjadi
inspirasi, motivasi sekaligus kenangan yang luar
biasa. Terima kasih atas kesediaan dan perhatian
yang kau berikan melalui kolom kesan dan pesan
yang sengaja ku lampirkan dalam buku ini.
Zulfikkar PN
dan perhatian yang kau berikan melalui kolom kesan dan pesan yang sengaja ku lampirkan dalam buku
dan perhatian yang kau berikan melalui kolom kesan dan pesan yang sengaja ku lampirkan dalam buku
dan perhatian yang kau berikan melalui kolom kesan dan pesan yang sengaja ku lampirkan dalam buku

MONOLOG

Petang ini aku hanya duduk di bangku bambu yang menua

di depan rumahku. Ku lihat lalu lalang orang-orang seakan tak

memperdulikan

keberadaanku.

Mungkin

aku

tak

ubahnya

seonggok batu. Wajahku kuyu, ku sandarkan punggung pada

dinding kayu rumahku. Pandanganku mulai menuju ke arah

pantai, arah dimana ayah biasa muncul setelah pulang melaut.

Namun, hanya kegelapan yang ku temukan.

Terkejut aku dibuatnya, saat seekor nyamuk menggigit siku

kiriku. Tak dapat ku lihat bentuknya, hanya suaranya saja yang

mendengung kekenyangan. “Nguingg nguiinggg”.

Ku

garuk

bentol-bentol

di

siku

kiriku

seraya

mengambil

sarung

sebagai

perlindungan

seadanya.

beranjak

Ku

pikir

nyamuk-nyamuk itu tak pernah kenyang, masih saja berusaha

menggigit kulitku melalu celah sarung yang mereka temukan.

1

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Jengkel dibuatnya, ku ambil sandal japit kemudian ku pukulkan

ke

udara,

berharap

membuat

nyamuk-nyamuk

itu

pontang

panting ketakutan. Namun sia-sia, mereka pandai menghindar.

Aku heran apa enaknya darahku ini, padahal hanya makanan ala

kadarnya yang masuk ke dalam tubuhku. Tak lama, suara adzan

dari surau dekat rumah terdengar. Inilah hal yang paling aku

suka untuk mengisi waktuku, sembahyang. Bergegas aku menuju

surau, tak lupa rantai kecil pada pintu ku kaitkan agar pintu tetap

tertutup rapat.

Selesai sholat aku berdoa agar hasil melaut ayah melimpah

dan ia kembali dengan selamat, tak lupa ku doakan ibu agar ia

tetap damai di akhirat sana. Selesai sholat Isya, ku lihat beberapa

anak bermain petak umpat. Aku tak ikut, malas, tak tertarik. Aku

lebih memilih pulang dan merebahkan tubuhku di atas dipan

dalam kamarku. Lampu bohlam yang menerangi kamarku mulai

meredup, tanda usianya tak lama lagi. Aku menghela nafas,

merasa bosan, aku berpikir mencari sesuatu untuk ku kerjakan.

2

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Aku melihat ke arah rak kecil di sisi kananku. Ku tarik sebuah

kertas

kosong

yang

mencuat

diantara

tumpukan

buku-buku

usang semasa aku sekolah dulu. Sesaat kemudian mulai ku

bangun rasa rinduku pada ibu melalui sebuah puisi. Sejak umur

10 tahun aku memang sudah suka menulis. Belum jelas menulis

apa, yang aku tulis hanya khayalan-khayalanku waktu itu. Mulai

dari

cita-citaku

menjadi

seorang

guru

sampai

keinginanku

memberangkatkan haji ayah dan ibu. Beberapa gambar yang

mewakili cita-citaku juga sering ku buat. Aku rasa cita-cita itu kini

hanya isapan jempol belaka, ah sudahlah, aku sedang rindu pada

ibu, lebih baik ku tulis puisi untuknya.

Sebelum ku tulis puisi untuk ibu, ku tulis dulu namaku di

sudut kanan atas kertas itu. Bono Sugiarto, itulah nama yang

ayah berikan padaku. Kata ayah nama itu diambil dari kalimat

Rebo Dino Sugih Arto. Menurut ayah, waktu aku lahir tepatnya

hari Rabu, hasil melaut ayah sedang bagus-bagusnya. Karena itu

ayah menamaiku seperti itu. Ayah berharap aku jadi orang

3

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

berhasil suatu saat nanti. Sayangnya, nama itu dinodai oleh

beberapa tetangga dan teman sebayaku. Mereka lebih sering

memanggilku

Boncel.

Mungkin

lantaran

tubuhku

kurus

dan

pendek untuk ukuran anak usia 12 tahun. Tak apa, anggap saja

mereka sedang khilaf.

Seketika aku mulai khusyu menulis puisi untuk ibu. Ku

mulai

dengan

menulis

judulnya

dan

kemudian

bait-baitnya.

Sesekali ku gosok-gosokkan ujung pensil ke pelipisku, tanda aku

sedang berpikir keras. Tiba-tiba suara hujan terdengar deras,

membawa suasana syahdu menenangkanku. Udara dingin mulai

menembus diantara sela-sela dinding kayu kamarku. Ku lihat

bulir-bulir air saling berdesakkan membasahi jendela kamarku.

Ku lanjutkan menulis puisiku untuk ibu. Ku coba menggambar

wajah

ibu

dalam

benakku

agar

dapat

ku

curahkan

melalui

selembar

puisi.

Bagaimana

senyum

manisnya,

bagaimana

sentuhan lembutnya, bagaimana suara merdunya. Imajinasiku

mulai meloncat-loncat dari ingatan yang satu ke ingatan yang

4

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

lain.

Ku

sambung

satu

demi

satu

membuat ibu tersenyum senang.

kata

yang

mungkin

saja

Ku lihat jam dinding yang menggantung, jarum pendekknya

berada pada angka 9 dan jarum panjangnya berada pada angka

12. Pantas saja mataku mulai berat ku buka. Sesekali kepalaku

terguncang karena rasa kantuk yang mulai mengganggu. Namun,

aku masih bersemangat menuliskan beberapa bait puisi untuk

ibu. Hanya ini yang dapat ku lakukan untuk menyambung rasa

rinduku

pada

ibu.

Segala

daya

upaya

ku

kerahkan

untuk

melawan rasa kantukku. Terjadi perkelahian yang sangat hebat

karena

aku

masih

ingin

menulis

puisi

disaat

mata

mulai

mengantuk. Rasanya kantuk ini mulai menghapus sedikit demi

sedikit

ingatanku.

Kesal,

ku

buka

lebar-lebar

mata

ini

dan

menampar setengah keras pipi kananku. Aku katakan pada diriku

sendiri, “Ayo, jangan menyerah. Harus selesai.”

Ku tarik nafas dalam-dalam dan bersiap menyelesaikan

puisi yang ku buat. Aku sangat gigih menulis puisi itu, aku ingin

5

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

mempersembahkan

itu

untuk

ibu.

Kegigihanku

tak

sia-sia.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya puisi untuk ibu dapat ku

selesaikan. Ku baca lagi bait-baitnya, meneliti jikalau ada kata

yang kurang pantas dalam puisi itu. Aku rasa sudah bagus.

Dengan senyum puas, ku lipat kertas puisi itu dan ku selipkan di

bawah bantal tidurku. Aku berharap ibu akan menemuiku dalam

mimpi dan membaca puisi yang telah ku buat untuknya. Aku

mulai merebahkan tubuhku yang sudah tak tahan lagi karena

kantuk. Tak butuh waktu lama, aku tertidur pulas. Ku lepaskan

lelah

dan

kantukku

bersama

selembar

puisi

yang

ku

Sebuah puisi rindu untukmu ibu.

buat.

6

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Rindu Untuk Ibu

Di malam penuh kesendirian.

Anakmu rindu pada belaian.

Terlintas sosok cantikmu ibu.

Yang kini berada jauh dariku.

Bono Sugiarto

Hujan mengguyur basah rumah kita.

Bawa ketenangan dari suara derasnya.

Antarkan anakmu terlelap tidur, bu.

Dengan nyanyian suara merdumu.

Anakmu rindu akan pelukmu.

Ibu pasti mengetahui hal itu.

Temui anakmu dalam mimpinya.

Karena anakmu ingin bertegur sapa.

7

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Kriiiinngg kriinggg kriiinggg….

GARIS HIDUP

Bunyi sepeda bersahutan menyambut mentari pagi. Aku

meloncat

dari

tempat

tidurku

dan

berlari

menuju

depan

rumahku.

Ku

lihat

anak-anak

seusiaku

sedang

bergembira

berangkat ke sekolah. “Senangnya mereka.” kataku dalam hati.

Ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah musim libur

sekolah usai. Tidak semua anak di kampung ini bisa bersekolah,

hanya anak-anak yang beruntung bisa bersekolah. Dulu aku

seperti

mereka

bisa

pergi

ke

sekolah,

sekarang

tidak

lagi.

Penghasilan ayahku hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat ibu masih ada, ia dan ayah berbagi tanggung jawab. Ayah

yang mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara

itu, ibu yang bekerja serabutan untuk membiayai sekolahku.

8

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Sebenarnya aku ingin sekali bekerja membantu ayah, tapi ayah

melarangnya karena aku belum cukup umur menurut ayah.

Tiba-tiba aku rindu datang ke sekolah. Ku putuskan untuk

pergi menuju bekas sekolahku, walau hanya sekedar melihat

bagaimana

bentuk

gedungnya

sekarang.

Sebenarnya

jarak

rumah ke sekolah cukup jauh, namun aku tak perduli. Dalam

perjalanan aku tak mengerti mengapa orang-orang yang ku

temui terlihat aneh, seakan-akan mereka ingin menertawaiku.

Sejurus kemudian aku mengerti. Ternyata saking rindunya,

aku tak sadar pergi dengan muka yang dekil, tanpa alas kaki dan

dengan

baju

yang

berwarna

coklat

pudar

yang

seakan

membusuk. Tapi biarlah, mereka berhak menilai tampilanku.

Aku hentikan langkahku tak jauh dari gerbang sekolah. Aku

berdiri di sana memperhatikan anak-anak yang lain berlarian

masuk ke dalam sekolah. Anak-anak itu datang dengan beragam

kendaraan. Kebanyakan dari mereka bahkan datang diantar oleh

ayah,

ibu,

kakek,

atau

nenek.

Sedang

yang

lain

datang

9

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

bergerombol

tanpa

diantar

keluarga

atau

sanak

familinya,

mereka berjalan kaki. Tentu mereka lebih beruntung daripada

aku yang kini hanya bisa berdiri di tepi jalan ini. Aku belum

beranjak dari tempatku. Rasanya kakiku seperti terpaku. Sampai

suasana di depan sekolah menjadi sunyi aku baru bergerak

mendekat, ingin sekali menuju ke dalam tapi aku malu dengan

keadaanku yang antah berantah seperti ini.

“Bono, apa kabar?” teriak Pak Rimbo penjaga sekolah dari

kejauhan seraya melambaikan tangannya. “Sini!” tambahnya,

aku mendekatinya.

“Baik-baik saja pak. Bagaimana dengan bapak?” tanyaku.

“Ya, Alhamdulillah. Sehat segar bugar. Tuh lihat kumis

bapak semakin lebat!” kata Pak Rimbo kemudian tertawa hingga

kumisnya menutupi lubang hidung. “Jauh-jauh kesini, sedang

apa di sini?” tambahnya.

“Tidak pak. Hanya rindu dengan sekolah ini.” kataku.

10

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Rindu

bapak

juga

menyolek ketiakku.

tidak?”

goda

Pak

Rimbo

seraya

“Ah, buat apa merindukan Pak Rimbo. Dulu Pak Rimbo kan

sering menghukum saya.” kataku mengingat saat sekolah dulu.

“Hahaha

siapa

suruh datang terlambat?” kata Pak Rimbo.

“Pak Rimbo seperti tidak tahu saja, jarak dari rumah ke

sekolah cukup jauh. Bayangkan pak, saya harus berangkat pukul

6 pagi, sementara untuk mandi saja saya butuh waktu 30 menit

menimba air di sumur Pak. Itu juga kalau ada air bersih pak.”

“Ya ya, tapi tugas bapak kan memang menghukum siswa

yang terlambat. Jangan-jangan kamu kesini karena rindu bapak

hukum

ya?”

kata

Pak

Rimbo

tersenyum

seraya

mengambil

cangkir kopinya. Aku tersenyum kecut. “Tidak pak, terima kasih!”

“Oh ya Bono, kenapa dulu kamu keluar sekolah? Dengar-

dengar masalah biaya?” tanya Pak Rimbo setelah meneguk kopi

hangatnya.

“Iya pak, tak ada uang buat sekolah.” kataku sedikit malu.

11

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kamu kan cukup pintar, terakhir dapat peringkat berapa?”

tanya Pak Rimbo seraya melinting ujung kumisnya.

“Dapat peringkat 7 pak.” jawabku.

“Nah itu dia, sayang kan?” kata Pak Rimbo keras seraya

menepuk punggungku, hampir saja mataku copot dibuatnya.

Aku menelan ludah sejenak, “Iya pak, padahal Bono punya

cita-cita jadi guru. Tapi kepergian ibu seakan-akan membuyarkan

itu pak. Terkadang Bono pikir Tuhan tak adil.” kataku.

“Hushh

jangan

berkata

seperti

itu!

Dosa!

Tidak

adil

bagaimana maksudmu?” tanya Pak Rimbo.

“Teman-teman

Bono

bisa

bersekolah

walau

prestasi

mereka tak sebagus Bono, bahkan suka membolos. Sementara

Bono yang sangat semangat bersekolah, sekarang hanya bisa

melihat mereka bersekolah. Ini karena Tuhan mengambil ibu,

pak!” kataku mulai larut dalam kesedihan.

12

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Bono, selalu ada hikmah dari cobaan yang Tuhan berikan

pada kita. Jadi bersabarlah, pasti Tuhan akan memberikan yang

terbaik untuk hamba-Nya.” nasehat Pak Rimbo.

“Ayah juga bilang seperti itu, tapi apa pak? Bono tak bisa

melakukan apapun, ingin membantu ayah melaut saja tidak

boleh!” kataku ketus.

“Bono,

pasti

ayahmu

punya

alasan

untuk

melarangmu

melaut. Mungkin karena usiamu belum pantas untuk melaut,

atau bisa jadi ayahmu masih trauma dengan kejadian ibumu

yang tenggelam saat ikut ayahmu melaut.” kata Pak Rimbo.

“Pak Rimbo benar, Bono jadi rindu ibu.” kataku.

Pak Rimbo sedikit terbata-bata, “Aahh

maaf

Bono, bapak

turut berduka cita. Ya sudahlah, jangan dibahas lagi. Kamu rindu

guru-gurumu tidak?” Pak Rimbo mengalihkan pembicaraan.

“Iya pak. Pasti mereka sedang sibuk mengajar ya pak?”

kataku sambil mengernyitkan dahi mencoba melihat kegiatan di

dalam kelas.

13

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Coba tengok saja sana, tapi jangan mengganggu ya?” kata

Pak Rimbo mempersilahkan.

“Siap pak jendral!” kataku seraya mengambil sikap hormat

pada Pak Rimbo. Pak Rimbo hanya tertawa terkekeh.

Aku pergi meninggalkan Pak Rimbo dan singgah di teras

ruang

kelas

V,

kelas

terakhir

aku

bersekolah.

Di

sana

aku

mengintip

proses

belajar

dari

jendela

dan

sesekali

ikut

menghitung di atas tanah soal matematika yang diberikan oleh

guru yang mengajar.

Kalau saja aku masih sekolah mungkin saat ini aku sudah

jadi

siswa

SMP.

Dulu

aku

sangat

suka

sekali

pelajaran

matematika. Pelajaran yang sekarang sedang diajarkan. Ku rasa

aku lebih cepat menghitung daripada murid di dalam. Tentu saja,

aku

hanya

mengulang

dan

coba

pernah aku pelajari dulu.

mengingat-ingat

apa

yang

Saat sedang asyik menghitung, aku dikagetkan oleh suara

lembut dari arah belakang. “Bono?”

14

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Aku menoleh dan ku lihat Bu Astuti berdiri melihatku. Ia

adalah guru kelas V, guru yang sama saat aku masih bersekolah.

Dulu ia sangat baik padaku, bisa dikatakan ia adalah ibuku di

sekolah. Ia datang dari luar desa, kemudian mengabdi di desaku.

“Ehh Bu Astuti, maaf bu jadi mengganggu.” kataku tersipu

malu.

“Ahh tidak. Sudah lama ibu tidak melihatmu. Tapi badanmu

sepertinya tidak jauh beda dengan terakhir kali ibu lihat.” kata

Bu Astuti, pandangannya menggerayangi tubuhku dari ujung

rambut hingga ujung kaki. Aku hanya menunduk malu.

Kemudian Bu Astuti mendekat dan melihat coretanku di

atas tanah. Dia tersenyum dan berkata, “Apa cita-citamu nak?”

“Guru seperti Bu Astuti. Tapi rasanya itu tak mungkin bu.”

jawabku putus asa.

“Kenapa tak mungkin?” tanya Bu Astuti.

15

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kata ayah, harus kuliah dulu kalau mau jadi guru seperti

Bu

Astuti.

Sekolah

saja

Bono

tidak selesai,

apalagi

kataku menahan diri tidak bersedih.

“Andai

saja

ibu

bisa

membantumu

nak.

Tapi

kuliah?”

tunggu

sebentar!” kata Bu Astuti seperti mengingat sesuatu kemudian ia

masuk ke dalam kelas.

“Ini untukmu.” kata Bu Astuti kembali seraya menyodorkan

buku matematika kepadaku.

Aku sangat

senang. Ku terima dan

ku

“Terima kasih bu.” kataku girang.

peluk buku itu.

“Iya belajarlah dari buku itu.” kata Bu Astuti lembut.

“Baik

sungkan.

bu,

tapi

bagaimana

dengan

Bu

Astuti?”

kataku

“Oh ya, tak usah khawatir. Ibu punya dua buah buku yang

sama. Bawa saja tak apa. Ibu sangat senang melihat semangat

belajarmu. Dan sebagai hadiahnya, buku ini untukmu.”

16

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Terima kasih, bu. Terima kasih.” ku peluk Bu Astuti, erat

sekali. Aku sangat senang, sama seperti aku sekolah dulu.

Bu Astuti mengusap rambutku, seakan tak jijik dengan

badan dan pakaianku yang kotor.

“Bono, tetap rajin belajar ya? Walau sekarang kamu tak

bersekolah lagi, tapi bukan berarti kamu juga harus berhenti

belajar.” Bu Astuti menasehatiku.

“Baik bu, apalagi Bu Astuti memberikan buku ini. Pasti

Bono tambah semangat dalam belajar, bu.” kataku.

“Bagus kalau begitu. Ya, sudah Bu Astuti mau melanjutkan

mengajar ya? Jaga dan pelajari buku itu.” Bu Astuti tersenyum

lembut padaku.

“Baik, bu. Bono pamit pulang ya, bu? Assalamualaikum.”

Tak sabar aku berpamitan pulang.

Wa’alaikumusalam.” Bu Astuti mempersilahkan, tak lupa

ku cium tangannya. Di gerbang sekolah ku ambil sikap hormat

pada Pak Rimbo dan berpamitan pulang juga padanya.

17

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Pak Rimbo, Bono pamit pulang!” kataku setengah keras.

“Iya iya, hati-hati nak! eh bawa apa itu?” tanya Pak Rimbo.

“Buku matematika pak, diberi Bu Astuti.” kataku sambil

berlari kegirangan.

Owalah

Bono

Bono.”

kepala kemudian tersenyum.

Aku

berlari

seraya

kata

Pak

Rimbo

menggelengkan

mengangkat

tinggi-tinggi

buku

matematika yang diberikan Bu Astuti. Sesampai di rumah, ku cari

lagi buku-buku usangku. Ku buka lembar yang masih kosong dan

ku kerjakan beberapa soal dari buku matematika itu. Aku sangat

bersemangat. Walau mungkin cita-citaku menjadi guru jauh dari

kenyataan, aku tidak mau menjadi orang yang bodoh. Aku ingin

pintar seperti mereka yang masih bersekolah. Siapa tahu ada

kesempatan suatu saat nanti.

Kata kebanyakan orang hidup adalah sebuah pilihan. Setiap

orang berhak memilih hidupnya masing-masing. Aku juga punya

pilihan. Aku sudah terbiasa ditemani pantai, lautan, perahu dan

18

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

ikan-ikan. Tak salah jika kemudian pilihan hidupku sementara ini

menjadi seorang nelayan seperti ayah. Hanya pekerjaan itu yang

mungkin aku lakukan, sambil menunggu keajaiban dari Allah

yang mampu mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru. Aku

bahagia. Bukankah pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang

bahagia mambuat segala pekerjaan menjadi mudah.

Aku percaya bahwa inilah garis hidup yang Allah berikan

padaku. Aku selalu bersyukur dengan semua itu. Aku yakin

nelayan pun punya peranan penting dalam kehidupan, tak kalah

dengan peran pentingnya seorang guru. Kalau tidak ada nelayan,

bagaimana

bisa

kita

semua

menikmati

lezatnya

ikan

dan

makanan-makanan laut lainnya. Ibu yang tak pernah putus asa

semasa

hidupnya

dan

penyemangat hidupku.

ayah

yang

tak

lelah

bekerja

adalah

Aku tahu pekerjaan menjadi seorang nelayan bukanlah

pekerjaan yang hina. Aku ingin suatu saat kelak bisa hidup lebih

baik dari orangtuaku kini. Aku sepakat dengan batinku untuk

19

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

terus

berusaha

menjadi

anak

yang

patuh

dan

cinta

pada

orangtua. Agar di masa yang akan datang aku tidak hanya dapat

berguna bagi orangtua melainkan juga untuk orang lain, agama,

bangsa

dan

negara.

Aku

yakin

orangtuaku

tak

mungkin

menyesatkanku karena mereka sangat menyayangiku. Akan ku

patuhi semua yang orangtuaku nasehatkan. Semua orangtua

ingin yang terbaik untuk anaknya.

Kalau memang ini adalah garis hidupku. Aku yakin garis

hidupku

tidaklah

buruk.

Aku

tinggal

dengan

orangtua

yang

sangat

menyayangiku.

Walau

sekarang

tinggal

tersisa

ayah,

namun ku rasa ibu masih saja memantauku dari surga. Bukan

karena

ayah

tak

ingin

aku

pandai

sehingga

ia

tak

menyekolahkanku.

Namun

karena

tuntutan

ekonomi

yang

memaksaku berhenti sekolah. Andai ayah mampu pasti ayah bisa

menyekolahkanku hingga aku sarjana seperti yang pernah ku

lihat di televisi Balai Desa. Tak apa aku ikhlas menerima semua

ini.

Buku

yang

di

berikan

Bu

Astuti

ini

tidak

akan

aku

20

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

terlantarkan. Buku ini jadi suatu tanda bahwa masih ada orang

yang percaya bahwa aku masih bisa mewujudkan cita-citaku.

Kalau orang lain saja percaya, kenapa aku tidak? Kuncinya hanya

rajin

belajar

walau

dengan

segala

keterbatasan

yang

ada.

Mungkin saja dari buku ini aku memiliki kesempatan menjadi

guru seperti Bu Astuti. Insya Allah.

21

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

NYONYA SURATI

“Ipung, ayo lihat sabung ayam di lapangan!” ajakku.

“Ah kamu bercanda Bon, kamu kan sudah tahu aku takut

pada hewan itu!” kata Ipung cemberut.

“Ciyee

yang

takut

sama

ayam,

bibirnya

manyun

mau

saingan sama ayam ya?” canda Ara. Kemudian aku dan Ara

menertawai

wajah

Ipung

yang

terlihat

lucu.

menatap polos kami berdua.

Ipung

hanya

Ara dan Ipung adalah teman bermainku, mereka sama

sepertiku. Putus sekolah. Namun, dari segi umur aku lebih tua 2

tahun dari mereka.

“Ya sudah, ya sudah, jangan cemberut lagi. Kita main

kucing dan tikus saja yuk?” ajak Ara.

“Ya aku setuju, lebih setuju lagi kalau Ipung yang jadi

tikusnya. Lihat saja bibirnya, dari tadi manyun terus seperti bibir

22

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

tikus.”

kataku

kemudian

tertawa.

Tak

mau

dijadikan

bulan-

bulanan, Ipung membalas, “Biar saja bibirku seperti bibir tikus,

daripada bibirmu seperti bibir kuda!”

Tawaku

semakin

keras

seraya

menepuk

lengan

kanan

Ipung. Ara pun ikut tertawa, lagi-lagi Ipung hanya terbengong-

bengong.

“Sudah, sudah. Ayo kita mulai hompimpa saja.” kata Ara.

Kami

bertiga

mendekat

dan

mengambil

posisi

untuk

menentukan siapa yang jadi kucing, siapa yang jadi tikus.

Hompimpa alaiyum gambreng.” teriak kami bersamaan.

“Ipung jadi kucing!” teriakku dan Ara. Kemudian aku dan

Ara berlari menjauhi Ipung. Entah karena kesal atau apa, Ipung

langsung mengejarku.

“Bono, lari, cepat lari!” teriak Ara.

Aku berlari secepat mungkin mencoba meloloskan diri dari

kejaran

Ipung.

menangkapku.

Na’as

aku

tersandung

dan

jatuh,

Ipung

23

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kena!! Bono jadi kucing!” kata Ipung kemudian berlari

menjauh

dariku.

Tiba-tiba

seseorang berteriak.

dari

arah

berlawanan

terdengar

“Woyy Boncel, enggak sekolah? Dasar miskin! hahahaha”

begitulah ejekan usil Aceng teman satu kampungku. Hal itu yang

membuat aku benci padanya. Sebenarnya, aku malu, aku selalu

diejek olehnya hanya karena ia sekolah dan aku tidak. Masa

bodoh, cuek saja. Kalau aku tak diajarkan sabar oleh ayah, sudah

ku hantamkan mulutnya pada karang-karang laut. Mungkin lebih

baik aku menjauhinya. Ara dan Ipung menarikku menjauhi Aceng

yang baru saja pulang sekolah.

“Sudah, ayo pergi saja!” kata Ara.

“Iya Bono, kita bermain saja di karang besar itu!” imbuh

Ipung. Aku hanya menuruti mereka.

Dalam kegundahan aku berdiri dan berjalan menuju karang

yang paling besar. Ku lepas alas kakiku dan bersila di puncaknya

kemudian berlagak seperti nahkoda kapal menghibur diri.

24

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Ombaknya

sangat

besar,

penumpang

diharap

berhati-

hati!” teriakku dari atas karang berlagak mengemudikan kapal

besar. Sementara Ipung dan Ara duduk di atas karang yang lebih

rendah dari karang yang ku duduki.

“Awas kapten, ada gunung raksasa!” teriak Ipung.

“Baiklah,

penumpang

menikung

tajam

ke

kanan.”

harap

kataku

berhati-hati,

kapal

akan

seraya

menyondongkan

badan ke kanan. Ipung dan Ara mengikuti gerakkanku.

Saat sedang asyik berkhayal jadi nahkoda, dari kejauhan ku

lihat Mbah Menir. Siang itu, ia sedang mencari sisa-sisa kerang

laut yang menempel di antara karang-karang yang mencuat saat

air laut surut dan menyisakan sedikit air dalam cekungan karang.

“Ipung, Ara kalian main berdua dulu ya? Aku mau menemui

Mbah Menir!” kataku.

“Terus siapa yang jadi nahkodanya?” tanya Ipung.

“Sini berdiri!” kataku menarik lengan Ipung.

25

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Sekarang ku lantik kamu jadi asisten nahkoda. Antarkan

tuan putri Ara ke pulau Bali!” kataku kemudian menepuk bahu

kanan dan kiri Ipung.

“Siap!! Akan aku laksanakan kapten!” kata Ipung dengan

posisi

siap.

Ara

tersenyum

melihat

tingkah

kami

kemudian

berteriak “Dasar gila!” kami bertiga tertawa.

“Ah sudah. Aku mau bantu Mbah Menir dulu. Besok kita

main lagi.” kataku.

“Biar kami ikut bantu saja, bagaimana?” tawar Ara.

“Ah jangan, kalian main saja berdua.” aku menolak.

“Kenapa?” tanya Ara.

“Kalian tidak tahu, di antara karang itu banyak cacingnya.

Kalian tidak takut kalau cacing itu masuk ke dalam kaki kalian?”

aku menakut-nakuti mereka.

Halah, bilang saja kamu takut upahnya dibagi tiga.” kata

Ipung menyindir.

26

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Hahaha

kalau

sudah tahu ya sudah, kalian main saja

berdua. Ayo sana!” aku mendorong mereka berdua agar pergi.

“Ipung, ayo kita main lompat tali saja!” ajak Ara.

“Dasar pelit kamu Bon. Ayo Ra!” Ipung melompat dari atas

karang dan pergi dengan Ara. Ku lihat Mbah Menir semakin

sibuk. Aku mendekatinya dan bertanya, “Mbah, Bono bantu ya?”

“Ah, kamu le. Boleh. Nanti simbah masakan kerang laut.”

Mendengar

simbah

menawariku

makanan

seenak

itu,

tentu aku tak menolak dan semakin bersemangat membantu

Mbah Menir. Ku masukan satu per satu kerang yang ku cabut

dari karang ke dalam kain jarit yang terikat kuat di badan Mbah

Menir. Mbah Menir adalah bidan yang membantu persalinanku

dulu. Ia sangat mengenal ibuku, karena Mbah Menir adalah

teman karib nenekku yang juga sudah meninggal belasan tahun

lalu. Jadi, ia banyak tahu tentang keluargaku.

“Ayo le, sudah cukup banyak yang kita kumpulkan.” ajak

Mbah Menir.

27

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Aku menurut dan mengikuti langkah Mbah Menir menuju

rumahnya.

“Nanti sesampainya di rumah, kamu bantu simbah mencuci

kerangnya ya?” pinta Mbah Menir.

“Baik

mbah.

lakukan.” candaku.

Kalau

buat

Mbah

Menir

apapun

Bono

“Kalau begitu, sekalian saja nyapu, ngepel dan cuci baju

simbah ya le?” Mbah Menir membalas candaku.

“Ah kalau itu Bono menyerah mbah. Rumah simbah kan

luasnya

seperti

lapangan

sepak

bola.

Belum

lagi

baju-baju

simbah kan mahal-mahal, kalau rusak bagaimana?” kataku.

“Kamu bisa saja, le.” Mbah Menir mencubit gemas pipiku.

Akhirnya kami sampai di rumah Mbah Menir. Rumahnya jauh

lebih besar dari rumahku, dindingnya sudah berupa susunan

batu bata dan semen. Beberapa perabotan rumahnya juga sudah

lebih baik. Rimbun rindangnya pepohonan di halaman rumahnya

28

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

yang luas membuat suasana rumahnya sangat sejuk untuk cuaca

pesisir pantai yang cenderung panas.

“Duduk

dulu,

simbah

mau

mempersiapkan

alat-alat

memasaknya.

Nanti

jangan

lupa

bantu

simbah

mencuci

kerangnya ya, le?” kata Mbah Menir.

“Baik mbah.” Aku duduk di halaman rumahnya, Mbah

Menir masuk ke dalam rumah. Ku rebahkan tubuhku pada lincak

tua yang berderit menahan bobot tubuhku. “Ah, nyamannya.”

pikirku.

Mbah Menir terlihat sibuk mempersiapkan alat dan bahan

memasak

di

dapurnya.

Merasa

sungkan,

aku

beranjak

membantunya.

 

“Mbah,

mana?

Katanya

Bono

yang

mencuci

kerang.“

kataku seraya mencari kerang yang akan ku cuci.

Owalah iya le, itu di belakang dekat sumur. Tinggal di cuci

saja, sudah simbah siapkan tempatnya le.” kata Mbah Menir.

29

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Rumah simbah bagus ya? Baru kali ini Bono masuk rumah

simbah yang baru.” kataku seraya mencuci kerang.

“Ah, tidak jauh beda dengan rumahmu. Rumah simbah

jelek.” Mbah Menir merendah. “Kamu terakhir kesini waktu

ibumu meninggal. Jadi mungkin kamu pangling.”

Aku tertegun. Aku ingat ibuku, Nyonya Surati. Ibu adalah

sosok yang lembut dan penyayang. Ibu tak pernah sedikitpun

marah kepadaku. Aku ingat, setiap aku menangis, ibu selalu

mengusap rambutku dan memberiku segelas air hangat. Ya,

Nyonya Surati, nama ibuku, sosok yang penuh perhatian.

Tetangganya

juga

sangat

segan

padanya,

tidak

pernah

sedikitpun dia meminta-minta untuk mencukupi hidupnya. Dia

pekerja keras, pekerjaan halal apapun akan dia lakoni demi

mendapat sedikit rizki untuk kebutuhan hidup. Bahkan ditengah

kekurangannya,

ibu

tak

ragu

untuk

membantu

tetangganya

walau harus mengeluarkan uang sekalipun. Aku bangga memiliki

ibu seperti Nyonya Surati.

30

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Sayang, semua itu cepat berlalu. Terakhir aku melihat ibu

saat umurku masih 10 tahun. Saat itu aku masih bersekolah

walau dengan keterbatasan. Tas saja tak punya, alhasil kantung

kresek aku jadikan alat untuk membawa buku-buku sekolahku.

Sepatuku kumal, warisan ayah semasa sekolah dulu. Baju dan

bukuku adalah hasil sumbangan dari sekolah untuk anak tak

mampu.

Saat itu aku sedang bersekolah, menerima pelajaran dari

guruku. Tiba-tiba salah seorang tetanggaku berteriak histeris,

“Bonooooo, Bonoooo, ibumu, ibumu

Aku beranjak dari bangkuku dan bertanya, “Ibu kenapa?”

“Ibumu tenggelam, meninggal!”

Aku terhentak dan segera berlari menuju rumah. Disana ku

dapati tetangga telah berkerumun. Ku lihat mayat ibu berada di

tengah

kerumunan

bersama

ayah

yang

menangisinya.

Aku

berlutut dan memeluk tubuh ibu yang basah dan dingin. Aku

menangis, pahit menerima kenyataan.

31

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Ibuuuuuuuuuu

teriakku memekikan telinga.

Rasanya aku tak rela melepaskan pelukkan ini. Aku ingin

selalu bersama ibu. Ibulah pengobat hatiku kala aku sedih. Tapi

kini, ibu telah tiada. Siapa yang sanggup mengobati kesedihanku

ditinggal pergi ibu? Sampai tubuh ibu dimakamkan, aku masih

mengingat senyumnya dengan jelas.

“Hei

jangan

menyadarkanku.

melamun

tiba-tiba

suara

Mbah

Menir

“Sudah bersih belum? Mau simbah masak kerangnya.” kata

Mbah Menir mengagetkanku.

“Oh iya mbah. Sudah, cangkangnya juga sudah Bono buang

mbah.” kataku terkaget-kaget.

“Kamu sedang melamunkan apa le?” tanya Mbah Menir.

“Emmm

ibu,

mbah. Sudah 2 tahun berlalu tapi Bono tetap

ingat kejadian itu. Seringkali Bono rindu pada ibu.” kataku.

“Ibumu itu memang luar biasa, le. Sama seperti kamu,

santun, suka menolong, rajin ibadahnya. Dulu waktu ibumu

32

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

masih

kecil,

setiap

sore

ibumu

sering

membantu

simbah

memasak. Seperti kamu sekarang ini.” Mbah Menir bercerita.

“Begitu mbah? Pantas saja ibu pintar memasak, ternyata

simbah ya gurunya?” kataku buat Mbah Menir tersipu.

Ku lihat Mbah Menir sangat cekatan memasukan bumbu

dan mengolah kerang-kerang itu. Bau sedap mulai tercium. Air

liurku mulai mengencer, lambungku seakan-akan meronta tak

sabar ingin merasakan sedapnya masakan Mbah Menir.

“Masakannya sudah jadi, ayo makan!” ajak Mbah Menir.

Mbah Menir menyiapkan piring berisi nasi hangat untukku.

Kemudian Mbah Menir menuangkan lauknya, Mbah Menir baik

sekali sama seperti ibuku dulu. Seketika sosok ibu muncul dalam

diri Mbah Menir, aku meneteskan air mata. Mbah Menir heran

dan bertanya, “Kenapa menangis?”

“Bono ingat ibu.” kataku lirih.

Mbah

Menir

tersenyum,

“Sudah,

nasimu masih hangat.”

makan

dahulu

selagi

33

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Senyum

Mbah

Menir

hampir

sama

seperti

ibu,

mendamaikan. Aku sangat nyaman berada di dekat Mbah Menir.

Walau perawakannya

jauh berbeda, tapi

rasa sayang

Mbah

Menir kepadaku hampir sama seperti ibu. Aku rindu ibu.

Tiba-tiba Mbah Menir beranjak dari bangkunya. “Tunggu

sebentar le, ada yang ingin simbah tunjukan padamu!”

Mbah Menir masuk ke kamarnya dan segera keluar dengan

membawa sebuah radio yang kelihatannya sudah tua. Mbah

Menir tersenyum dan memasukkan sebuah kaset ke dalam radio

tua itu. Baru kali ini aku mengerti, ternyata radio tua itu juga bisa

dijadikan pemutar kaset.

Mbah Menir memutar sebuah lagu keroncong. Aku tak

mengerti isi lagu itu. Tapi iramanya mendayu-dayu mengungkap

kejayaan tempo dulu. Ku pegang radio itu dan menilik gerakan

memutar di dalamnya. Penasaran aku dibuatnya.

Mbah Menir berkata padaku, “Ini adalah lagu kenangan

ibumu le, dahulu ibumu suka sekali memutar lagu ini.”

34

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kenapa ibu suka lagu ini mbah?” tanyaku penasaran.

“Ini lagu masa muda ibumu dahulu, saat ibumu jatuh cinta

pada ayahmu.” jelas Mbah Menir seraya tersenyum.

“Jatuh cinta mbah? Apa itu mbah?”

“Jatuh cinta itu, apa ya? Emmm kata anak muda jaman

sekarang, jatuh cinta itu lope-lope.” jawabnya bercanda.

Lope-lope itu apa mbah?” tanyaku semakin penasaran.

Lope-lope itu ya orang yang suka pada lawan jenisnya.”

Mbah Menir menjelaskan. Aku semakin tak mengerti.

“Bono suka bermain dengan Ara, berarti Bono juga lope-

lope pada Ara ya mbah?” kataku dengan mata berbinar.

Seketika Mbah Menir terdiam, menghentikan kunyahan

nasi di mulutnya, sadar kalau aku belum mengerti betul tentang

jatuh cinta. “Sudah, selesaikan makanmu dulu!” perintah Mbah

Menir gugup menghindari pertanyaan lainnya yang lebih jauh.

“Tapi simbah belum menjawab pertanyaan Bono.” kataku

bersikeras.

35

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Iya nanti simbah jawab, habiskan nasimu dulu!” katanya.

Aku

makan

dengan

lahapnya,

sangat

jarang

aku

menikmati

makanan selezat ini. Selain Mbah Menir, tidak ada tetangga yang

sebaik dia. “Sudah selesai mbah. Biar Bono cuci piringnya.”

“Ehhh, sudah tidak usah. Biar simbah saja! Hari sudah

mulai petang, sebaiknya kamu pulang dan bawa kerang ini untuk

lauk makan di rumah.” kata Mbah Menir seraya menyodorkan

rantang berisi masakan kerang laut.

“Terima kasih mbah.” kataku senang.

“Tapi simbah tadi sudah janji, selesai makan simbah mau

memberitahu

apa

Bono

sudah

lope-lope?”

imbuhku

masih

penasaran.

“Bono, lihat matahari sudah mau hilang dari langit. Kamu

mau saat pulang nanti bertemu wewe gombel?” Mbah Menir

menakutiku.

“Ahhh tidak mbah.” aku merinding ketakutan.

36

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Ya sudah, cepatlah pulang. Bawa rantang itu untuk makan

malam

dengan

ayahmu!”

perintah

Mbah

Menir.

Aku

pun

bergegas pulang sebelum matahari terbenam.

“Iya mbah, Bono pulang dulu ya mbah? Assalamualaikum.

Wa’alaikumsalam

putu

lanang.”

jawab

Mbah

Menir

seraya tersenyum dan melambaikan tangan.

Sesekali ku lihat isi rantang itu selama perjalanan pulang.

Ku pikir ayah pasti akan senang. Karena malam ini tidak lagi

makan makanan dengan bumbu garam saja. Dalam perasaan

senang itu aku masih penasaran, jatuh cinta itu seperti apa?

Suatu saat nanti Mbah Menir harus bertanggung jawab

menghapus rasa penasaranku. Tak mungkin ia tak tahu, hanya

Mbah Menir yang bisa memberiku jawaban karena aku tak

berani bertanya pada ayah tentang jatuh cinta atau “lope-lope”.

37

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Allahu akbar

Allahu

akbar

DOA UNTUK IBU

Suara adzan memecah keheningan malam diiringi sinar

mentari yang sayup-sayup kemerahan muncul dari arah timur.

Aku terbangun dari mimpiku, ku seka mata yang masih enggan

untuk ku buka.

“Ah lagi-lagi ayah belum pulang.”

Ku lihat sayur kerang yang ku sisakan untuk ayah semalam

masih saja utuh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan sarung

usangku yang ku gantung pada paku yang menancap di tiang

kayu rumahku. Aku berjalan terhuyung menuju surau kecil di

kampungku.

Aku

mulai

sholat

berjamaah

dengan

khusyuk,

sedikit menguap mungkin masih wajar untuk anak seusiaku.

Seperti biasa aku berdoa untuk ayah dan ibu. Selepas sholat

shubuh aku duduk di dekat pantai menunggu ayah pulang.

38

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Boncel! Mana kucing sialanmu itu!” suara menggelegar

mengalahkan deru ombak. Tiba-tiba ku lihat dari arah belakang

Mak Nasib mengacungkan gagang sapunya ke arahku, ia terlihat

murka.

“Aku tak tahu mak. Ada apa?” aku ketakutan.

“Lagi-lagi ia mencuri ikan asinku. Dasar kucing kudisan!”

“Awas kalau aku lihat dia, ku patahkan tulang punggungnya

dengan

sapu

ini!”

Mak

Nasib

terengah-engah.

Aku

hanya

bergeming tak berani membantah.

 

“Hei, mau kemana kau bocah?”

Tanpa

perduli

aku

berlari

mencari

Doreng

dan

meninggalkan Mak Nasib yang masih jengkel. Berjam-jam ku

telusuri sudut-sudut kampung namun aku tak menemukannya.

Aku menuju rumah dan ku dapati Doreng terbujur di dekat kaki

meja dengan memar di kepala. Aku berjongkok di dekat Doreng

yang terkulai lemah dan merintih. Ku elus tengkuknya penuh

39

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

kasih sayang, ia pun membalasnya dengan menjilati tanganku

seakan mengerti siapa empunya.

“Kasihan sekali kau Reng, tunggu biar ku ambilkan air dan

kain

untuk

menyeka

memarmu.”

kataku

sedih.

Ku

petal

kepalanya dengan kain basah. Lagi-lagi ia hanya merintih. Aku

menatapnya iba.

“Kamu jangan nakal lagi ya Reng? Sungguh biadab yang

melukaimu.

Biar

saja,

kita

sebelah.” gerutuku kesal.

doakan

saja

tangannya

pengkor

“Jangan sembarangan kalau bicara!”

Tiba-tiba bulu kudukku meruap, sosok tinggi besar berdiri

di belakangku. Perlahan ku palingkan wajah, “Ayah.”

“Doreng

kenapa

le?”

mengucur bagai hujan barat.

kata

ayah

dengan

peluh

yang

“Bono tak tahu yah, mungkin dipukul Mak Nasib. Tadi Bono

bertemu Mak Nasib yang jengkel karena ikan asinnya dicuri

Doreng lagi.” jelasku.

40

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Lain kali, jaga dan beri makan kucingmu dengan baik. Jadi,

ia tidak mencuri ikan asin lagi.” kata ayah bijak. Aku hanya

mengangguk.

Le, goreng beberapa ikan yang ayah dapat, sisakan sirip

ekornya untuk Doreng!” perintah ayah seraya menyodorkan

keranjang bambu berisi ikan.

Aku segera mengambil dua ikan yang masih segar dan

menggorengnya dengan bumbu garam. Ku sajikan ikan yang

sudah

matang

ke

hadapan

ayah

yang

masih

mengibas

handuknya untuk menghilangkan panas tubuh.

“Ini

sayur

dari

siapa

rantang di atas meja.

le?”

tanya

ayah

seraya mencium

“Oh itu dari Mbah Menir, yah. Kemarin Bono membantu

Mbah Menir mencari kerang, lalu Mbah Menir memberikan itu

untuk kita. Tapi semalam ayah tidak pulang, jadi tidak habis,

yah.” jelasku.

41

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Oh begitu, iya semalam ayah menginap di gubuk dekat

pantai dengan Mas Ikin membetulkan jaring. Sepertinya belum

bau, ayo kita makan saja le!” kata ayah.

“Iya, yah. Kita habiskan saja, nanti mubazir.” kataku seraya

menyendokkan nasi dari Mbah Menir sisa tadi malam untuk

ayah. Ayah menahan tanganku, “Nasi itu buat kamu saja, ayah

makan dengan singkong rebus sudah cukup.” Aku menurut.

“Ayah, besok Bono ikut mencari ikan ya?”pintaku.

Meh

ngopo?”

kata

ayah

seraya

mencuil

ikan

dan

memakannya dengan singkong rebus.

 

“Bono

ingin

membantu

ayah

bekerja.

Bono

bosan

di

rumah.” pintaku semakin menggebu.

Ndak usah Bono, kamu masih 12 tahun. Tunggu hingga

kamu berumur 17 atau 19 tahun.” larang ayah.

“Tapi Bono sudah cukup berani melawan ganasnya ombak

laut, yah. Bono selalu jadi kapten nahkoda saat bermain dengan

Ipung dan Ara.” kataku bersikeras.

42

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kamu pikir melaut itu seperti bermain, le?” kata ayah.

“Kenapa sih, ayah selalu saja melarang Bono ikut ayah

melaut!” kataku ketus.

“Sudah diam! Makan saja ikannya, ra usah nglawan!” kata

ayah meradang.

Aku tersentak, kecewa dan masuk kamarku. Ku kunci pintu

rapat-rapat dengan gerendel paku. Aku tahu ayah lelah, jadi

emosinya cepat naik. Tapi tidak perlu membentakku seperti itu.

Aku ingin membantu ayah bekerja. Aku kasihan pada ayah,

meski

kondisi

fisiknya

sudah

paksakan

untuk

bekerja.

Aku

mulai

duduk

sakit-sakitan

di

lantai

namun

ia

menghadap

jendela. Ku lihat foto Ir. Soekarno idola ayahku tertempel di

dinding kayu dekat jendela. Foto itu sudah memudar, namun

ayah tetap menyimpannya. Ialah sosok yang jadi panutan ayah

mendidik anaknya. Keras namun penyayang.

Ayah

Namun,

ia

memang

sudah

bisa

memberi

tak

mampu

menyekolahkanku.

pelajaran

hidup

yang

berharga.

43

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Bagaimana dapat bertahan hidup dengan tidak menyusahkan

orang lain. Ayah juga sangat telaten mengajariku membaca dan

menulis huruf Arab. Kini aku bisa khatam Al-Qur’an juga karena

jasa ayah.

Tinggal

di

kampung

yang

tertutup

kokohnya

Pulau

Nusakambangan

memang

tak

mudah.

Harus

benar-benar

berjuang mencari sesuap nasi. Wajar saja, jarak kampung ke kota

sangat jauh. Apalagi jika harus melewati jalan darat, belum

sampai

di

kendaraan

kota

uang

kami

umum.

Hanya

sudah

habis

untuk

menumpang

singkong

yang

mampu

menjadi

pengganti nasi. Tapi aku tetap bersyukur, karena bukan nasi

kering yang ku telan dan menyumbat rasa lapar di perutku.

Kampungku berada di balik Pulau Nusakambangan. Pulau

penjara tempat penjahat kelas kakap pernah mendekam. Pulau

dengan

berbagai

keseraman

yang

didengungkan,

padahal

kenyataannya bertolak belakang. Pulau Nusakambangan sangat

eksotis. Aku sering menghabiskan akhir pekan di pasir putihnya

44

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

yang

berkilauan

bak

pecahan

permata.

Kata

ayah,

dahulu

kampungku adalah lautan. Kemudian tanah yang mengendap

berubah

jadi

daratan.

Daratan

itu

sering disinggahi

nelayan

untuk

beristirahat,

hingga

akhirnya

nelayan-nelayan

itu

membangun sebuah rumah dan jadilah kampungku sekarang.

“Tok tok tok” Ayah mengetuk pintu dan memanggilku.

“Bono. Keluar, le! Ayah ingin bicara denganmu.”

Aku diam, tak menyahut sebagai protes atas sikap ayah

tadi. “Le, ayah mau bicara. Cepat keluar!” kata ayah dengan

nada meninggi.

Dengan wajah masygul aku keluar dan duduk di bangku

kayu

bersama

ayah.

Ayah

menatapku

tajam.

Aku

takut

membalas tatapannya. Aku hanya menunduk.

“Kamu tahu kenapa ayah melarangmu melaut saat ini?”

tanya ayah menggenggam pundakku. Aku hanya menggelengkan

kepala.

45

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Ingat peristiwa saat ibumu meninggal?” tanya ayah, binar

matanya mulai meredup. Aku palingkan pandangan ke arah ayah

dan aku tertegun memandang mata ayah.

“Saat itu ibumu tenggelam karena perahu ayah tersapu

ombak. Untungnya saat itu ayah berhasil meraih sebilah kayu

yang

melintas.

Sementara

ibumu

ayah

terdiam,

bibirnya

bergetar hebat dan air matanya mulai menetes.

Untuk kedua kalinya setelah pemakaman ibu, ku lihat ayah

menangis. Sosok keras dengan tubuh tinggi besar menangis di

hadapanku.

Rasa

cintanya

pada

ibu

sangat

luar

biasa.

Aku

memeluk ayah dan menahan air mataku dengan handuk yang

tergantung di pundaknya.

“Bono, kamu

kangen

ibumu le?” tanya ayah lirih dengan

nada terputus-putus. Aku mengangguk menahan tangis dengan

bibirku. “Ayah juga kangen ibumu.” tambah ayah.

“Kita ke kuburan ibu saja, yah.” ajakku.

46

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kamu mau ayah ajak ke sana, le?”tanya ayah seraya

menyeka air mataku. Aku mengangguk tak sabar.

Rasa rindu membuat ayah membawaku ke kuburan tak

berpagar dekat rawa tempat ibu dimakamkan. Sore, hari itu

juga.

Batu

nisannya

hanya

terlihat

seujung

kuku

didesak

bergumpal-gumpal ilalang. Aku melihatnya miris, apakah ibu

nyaman

dengan

tempat

peristirahatan

terakhir

yang

buruk

seperti ini? Aku saja gerah melihatnya.

 

Ku

ayunkan

clurit

menebas

ilalang

kurang

ajar

yang

mengotori kuburan ibuku. Seandainya aku bisa kesini setiap hari,

pasti kuburan ibu akan terlihat layak. Sayangnya, terlalu jauh

dari rumah. Harus menggunakan perahu untuk menyeberang ke

area makam. Sementara aku pun tak bisa menunggangi sepeda

onthel milik ayah untuk menuju dermaga. Ayah mengusap nama

ibu dengan kain basah. Pandangannya nanar seakan-akan ayah

ingin memeluk ibu. Aku melihatnya dan mendekati ayah. Ayah

tersadar, melihatku dan mengusap rambutku.

47

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Bono, sudah. Sekarang doakan ibumu!” perintah ayah

seraya memeluk pundakku. Hatiku berdebar, inikah rasa cinta

ayah

sebenarnya?

Merinding.

Sesaat

aku

seperti

merasakan

kehadiran ibu di sisi kananku sementara ayah memeluk pundak

dari sisi kiriku. “Apa yang kamu tunggu? Ndang doakan ibumu!”

perintah ayah mengagetkanku. “I

iya, yah”

“Jangan lupa baca basmallah, nanti ayah amin-kan.” kata

ayah mengingatkan.

Aku

bersiap

mengambil

sikap

berdoa.

Sebelumnya

ku

sentuh terlebih dahulu nisan ibu tepat pada namanya dengan

tangan

kananku.

Dalam

hati

aku

berkata,

“ibu

aku

rindu.”

Kemudian

aku

menengadahkan

kedua

tangan

dan

segera

berdoa.

Ya Allah. Tempatkan ibuku dalam Surga ‘Adn-Mu. Dia

adalah

mujahid.

Mati

demi

mencukupi

kehidupan

anaknya.

Berjuang

di

jalan-Mu

mendapatkan

upah

halal

untuk

menyehatkan

anaknya.

Entah

dengan

apa

aku

bisa

48

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

membalasnya,

selain

memberinya lantunan

doa yang

dapat

membangunkannya dalam keadaan suci di

hari akhir

nanti.

Sungguh aku tak marah pada-Mu yang telah menjemput ibuku

saat

aku

masih

sangat

membutuhkannya.

Justru

dengan

demikian aku dapat selalu mendoakannya. Mungkin aku akan

jadi anak yang lalai jika aku masih dimanja lembut telapak

tangan ibuku.

Seperti

teman-teman yang berani menentang

ibunya, membuatnya menangis dan sakit hati. Sungguh aku tak

ingin seperti mereka. Aku lebih baik mencium kaki ibuku yang

berlumpur daripada harus membuatnya menangis dan sakit hati.

Muliakanlah ibuku Ya Allah, agar aku dapat bertemu dengannya

dan ia menyambutku dengan wangi minyak kasturi dari Surga.

Amiin

49

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

RAIBNYA SI DORENG

Suatu sore, saat aku sedang asyik melipat kertas yang ku

sobek dari sebuah buku menjadi pesawat terbang mainan, ku

lihat Doreng melintas beberapa kali di depan pintu kamarku.

Heran, aku keluarkan kepalaku dari balik tiang pintu kamarku.

Doreng

melihatku

dan

menatapku

tak

biasa.

Ku

dekati

ia,

berjongkok dan menyuruhnya tidur berkali-kali, ku elus kepala

hingga tengkuknya agar ia tenang. Namun, ketika aku berhenti

mengelus, ia kembali beranjak dan memandangku seakan ada

yang ingin ia sampaikan.

“Kamu

mau

makan?”

tanyaku

sedikit

bingung.

Sesaat

sebelum berdiri mengambil makanan untuk Doreng, ku lihat

makanannya masih utuh hanya saja sedikit berantakan tidak

pada posisi saat aku menaruhnya. Tak mengerti apa yang Doreng

mau,

ku

tinggalkan

saja

ia.

Aku

kembali

ke

kamarku

dan

50

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

memainkan pesawat terbang kertas yang baru ku buat. Sejenak

ku lupakan si Doreng, bersenang-senang memainkan pesawat

dari kertas yang terbang tinggi dan jatuh menukik tajam.

Ku

terbangkan

berulang-ulang

pesawat

mainanku

dan

terbang

keluar

melalui

pintu

kamar.

Aku

berlari

menghampirinya, saat akan ku ambil, aku teringat pada Doreng.

Dia sudah tidak ada. Aku pun melupakan pesawat mainanku, ku

cari doreng di bawah kursi dan meja, di dapur, kemudian di

sekitar rumah tapi hasilnya nihil, ia tak terlihat bahkan gerak

geriknya.

Ku panggil namanya, “Doreng

Reng

Pus

Pus

Pus

Pus.”

Ia

pun tak menyahut. Hatiku mulai hancur dibuatnya.

Aku coba mencarinya di jalanan desa namun Doreng tetap

tidak ada. Aku putuskan untuk mengajak Ipung dan Ara ikut

mencarinya.

Aku

datangi

“Ipung Ipung.”

rumah

Ipung

dan

memanggilnya,

“Iya Bon, ada apa?” katanya dari dalam rumah.

51

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kau sedang apa? Bantu aku mencari Doreng yuk!” kataku

terlihat panik.

“Hanya membantu ibu menata ikan asin. Doreng kemana?”

katanya heran.

“Ahhh

mana

ku

tahu,

dia

pergi

tapi

ini

tidak

seperti

biasanya. Ayo kamu bisa bantu tidak?” kataku tergesa-gesa.

“Sebentar,

aku

pamit

dulu

pada

ibu.”

katanya

seraya

berlari menuju dapur kemudian ia kembali dengan menenteng

sandal japitnya. “Ayo kita cari!” katanya.

“Kita ke rumah Ara dulu, lebih banyak yang mencari lebih

baik.” kataku dengan langkah cepat. Ipung mengikuti langkahku.

Tak lama kami sampai di rumah Ara, ku lihat ia sedang

menyirami tanaman di depan rumahnya. “Araa

kejauhan, ia menoleh ke arahku.

“Kamu bisa bantu aku?” kataku.

teriakku dari

“Bantu apa Bon? Aku sedang menyirami tanaman ini.”

katanya seraya menuangkan air dari gayungnya.

52

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Bantu aku cari Doreng, kalau sudah ketemu nanti kami

bantu menyirami tanamanmu.” kataku seraya menarik gayung

yang digenggam Ara.

“Ada apa sih?” kata Ara penasaran.

“Sudah nanti ku jelaskan, ayo bantu cari dulu!” kataku

seraya menarik tangan Ara, ia terlihat sempoyongan.

“Aduhh sabar dong.” wajahnya cemberut.

Kami bertiga pergi mencari Doreng hingga ke arah pantai.

Di pantai aku bertemu Mas Ikin, teman ayahku melaut. Ia lebih

muda dari ayahku.

“Mas, lihat Doreng?” tanyaku.

“Enggak Bon, Doreng hilang?” tanyanya.

“Iya mas, enggak tahu pergi kemana.” jawabku panik.

“Nanti

juga

menenangkan.

pulang

sendiri

Bon.”

kata

Mas

Ikin

“Kali ini Bono rasa berbeda mas, dia tak pernah jauh dari

rumah,

kalau

pun

jauh,

Bono

panggil

pasti

dia

mendekat.”

53

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

bibirku

mulai

melengkung

sedih,

khawatir

pada

Doreng.

Melihatku yang sedang tak baik, ayah mendekat.

Ono opo le?” tanya ayah.

Aku berlari memeluk pinggul ayah, “Doreng hilang yah.”

Ayah menghela nafas, “Sudah, tunggu saja di rumah. Kalau

belum juga kembali, besok kita cari bersama.” kata ayah ikut

menenangkan.

“Ayo pulang, hari sudah semakin petang. Ipung dan Ara

juga

pulang

ya?”

ajak

ayah.

Mereka

mengangguk.

Ayah

mengantar Ipung dan Ara terlebih dahulu. Kemudian aku pun

pulang bersama ayah, sesekali pandanganku fokus melihat ke

arah celah-celah semak belukar yang ku lewati, berharap Doreng

terlihat.

Sore berganti malam, biasanya aku tengah asyik bercanda

dengan Doreng. Tapi malam ini berbeda, hanya suara jangkrik

yang bergiliran menggelitik telingaku. Ah, aku tak sabar menanti

54

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

esok pagi, aku ingin matahari segera terbit. Kesepian, ku dekati

ayah yang sedang membetulkan jaring.

“Yah, besok mau cari Doreng kemana?” tanyaku.

“Di

sekitar

kampung

saja,

kalau

tidak

ketemu

ya

kampung sebelah.” kata ayah yakin.

di

“Kalau tidak ketemu juga yah?” tanyaku memastikan.

“Ya

doakan

saja

ia

memandangku.

masih

hidup.”

jawab

ayah

seraya

“Kalau Doreng sudah mati yah?” tanyaku lugu.

“Ya

doakan

tersenyum.

saja

masuk

surga.”

jawab

ayah

setengah

“Iya yah, tapi kalo masuk neraka bagaimana yah?” aku

semakin mempersulit.

Ayah mulai menggaruk kepalanya, “Emmm, kalau masuk

neraka ya berarti sekarang Doreng sudah gosong.” canda ayah

kemudian tertawa. “Sudah sana, masuk! Di luar dingin.” perintah

ayah.

55

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Aku masuk ke dalam dengan sedikit menggerutu, ayah tak

serius

menjawab

pertanyaan

terakhirku.

Ku

raih

pesawat

mainanku yang tergeletak di atas dipan kemudian ku terbangkan

sesekali. Pandanganku tertuju pada langit-langit rumah yang

dipenuhi sarang laba-laba. Berkali-kali ku pahami lagi, ada apa

dengan Doreng hingga ia tak ku temukan lagi. Otakku mulai

dipenuhi

dengan

pertanyaan

apa,

siapa,

bagaimana

dan

mengapa. Pertanyaan yang berjejal di otakku menguras energi

dan seketika aku tertidur.

Pagi-pagi sekali setelah selesai sholat shubuh, aku menarik

tangan ayah untuk menepati janjinya mencari Doreng.

“Ayah, ayo kita cari Doreng!” aku tak sabar.

“Iya ayo, sabar to le.” kata ayah seraya meraih topinya dari

atas meja.

Aku dan ayah mulai mencarinya, menelusuri sudut-sudut

desa hingga kami lelah. Aku hampir putus asa karena tak ada

tanda-tanda Doreng akan ku temukan.

56

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Sudah kita pulang saja, le. Tunggu saja dia pulang sendiri.

Doreng itu kan kucing yang pintar.” hibur ayah.

Aku hanya mengangguk. Sesampainya di rumah aku duduk

di

kursi

kayu

dekat

meja

makan.

Wajahku

terlihat

muram,

mengetahui perihal yang sedang dialami anaknya Ayah berkata,

“Sudahlah, pasrahkan saja.”

Namun, aku tetap saja tak rela. Hampir tiga tahun bersama

tak bisa dianggap sebentar untuk begitu saja melupakannya.

Seakan aku sudah terikat secara batin dengan Doreng.

Ibu

yang

menemukannya

di

pinggir

jalan

kemudian

memberikannya padaku. Ku namai ia Doreng karena bulunya

memiliki campuran warna pirang, hitam dan putih. Dulu ibu dan

aku senang bercanda dengannya. Ia sangat suka memainkan

bola dan bertingkah lucu. Doreng adalah kucing betina yang

penurut,

tidak

seperti

kebanyakan

kucing

kampung

yang

cenderung bertindak agresif. Kalau pun ia mencuri ikan asin yang

sedang dijemur, itu karena aku lupa memberinya makan.

57

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Setelah

ibu

meninggal,

Doreng

satu-satunya

teman

bermainku di rumah. Saat aku bermain dengannya, seakan-akan

ibu

turut

hadir

menemaniku.

Kini

semua

tinggal

kenangan,

Doreng tidak juga ku temukan. Aku sedih.

Setiap memikirkan Doreng aku selalu mengingat betapa

manjanya

dia

dulu.

Betapa

cerdasnya

dan

betapa

khas

dengkurannya saat ia tidur. Aku masih ingat suaranya ketika ku

panggil untuk makan, "meonngg meoonggg", begitu juga setiap

kali aku mengelus kepalanya. Belum lagi tingkah lucunya saat

menarik-narik tali jaring yang terkadang membuat ayah marah

besar. Aku mengingatnya dengan baik. Ia sudah seperti keluarga

di rumah ini. Kini aku harus percaya Doreng ada di tempat yang

baik sekarang. Kucing manis itu pasti sedang bahagia entah

dimana.

Sedikit

ada

penyesalan

yang

terlintas,

berharap

bisa

memutar waktu. Andai saja waktu itu aku tak sibuk dengan

pesawat

mainanku

dan

menggendong

Doreng

untuk

58

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

menenangkannya.

Mungkin

saat

ini

Doreng

masih

ada

dan

bermain bersamaku. Aku merindukan Doreng, mungkin Doreng

juga merindukanku kalau ia masih hidup. Perasaan seperti ini

terulang kembali, sama seperti saat aku kehilangan ibu. Aku

sangat sedih, menangis dan tak bisa ku katakan bahwa aku baik-

baik saja. Setiap hal yang terjadi pasti ada dampaknya dalam

hidupku selanjutnya. Ku pastikan setelah kejadian ini, aku akan

benar-benar

sendiri

tanpa

Doreng.

Aku

coba

menerima

ini

sebagai serentetan ujian yang Allah berikan padaku. Allah sudah

mengatur semua ini, bukan untuk melemahkanku tapi untuk

menguatkanku. La haula wala quwwata illa billah.

59

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Sebulan

setelah Doreng

AMPUN, AYAH

menghilang,

hatiku masih

saja

gundah dibuatnya. Beruntung aku masih memiliki teman seperti

Ipung dan Ara. Aku hanya mampu bermain-main dengan mereka

di tepian pantai. Di sudut yang lain, ayah bersama nelayan

lainnya

sedang

sibuk membetulkan

jaring.

Ku

ambil

ranting

kering tak jauh dariku. Kemudian ku gambar ayah, ibu, aku dan

tak lupa Doreng dengan ikan asin kesukaannya. Ipung dan Ara

berjongkok mengamati gambarku. Agar tak tersapu ombak, ku

beri batu-batu mengitari gambar yang ku buat. Ternyata batu

yang ku temukan tak cukup kuat menahan ombak. Ku putuskan

mencari batu yang lebih besar sedikit lebih jauh dari tempat aku

menggambar.

“Ara tolong jaga gambarku dulu ya! Aku dan Ipung mau cari

batu yang lebih besar!” kataku.

60

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Iya, aku jaga. Tapi jangan lama-lama ombaknya cukup

besar.” kata Ara khawatir.

“Ayo Pung. Kamu cari di sebelah sana, aku di sana! Cari

yang seukuran kepalan tangan!” perintahku. Ipung mengangguk

tanda ia telah mengerti.

Ku ambil satu persatu dan ku kumpulkan ke dalam bagian

depan kausku yang ku bentuk menjadi semacam wadah. Cukup

lama aku mencari batu-batu itu, setelah ku pikir cukup aku

kembali ke tempat dimana aku menggambar.

“Ipung, sudah belum?” aku berteriak.

“Ya sudah cukup, ini aku dapat banyak.” kata Ipung sambil

menunjukkan kantung kresek berisi batu-batu yang cukup besar.

“Dapat kantung kresek darimana Pung?”

“Itu ada yang hanyut, ku lihat masih bagus jadi aku ambil.”

“Cerdas kamu Pung!” pujiku buat Ipung tertawa bangga.

“Siapa dulu? I.P.U.N.G gitu lho.” katanya sombong.

61

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

Haduh. Baru dipuji sedikit, sudah lebar hidungmu, Pung.

Ayo

cepat

kita

kembali

ke

tempat

kita

menggambar

tadi.”

kataku. “Pasti wajah Ara sudah tak berbentuk karena bosan

menunggu kita.” tambah Ipung. Kami tertawa.

Kami segera kembali ke tempat kami menggambar. Dari

kejauhan aku melihat ada yang aneh dengan gambar yang ku

buat

tadi.

Aku

mendekat

dan

berdiri

tepat

dimana

aku

menggambar. Alangkah terkejutnya ketika ku lihat gambarku

sudah hancur porak poranda. Bukan karena ombak, ku lihat ada

bekas sapuan kaki. Ara juga terduduk menangis.

“Ara, siapa yang melakukan ini?” kataku kesal.

Ara

menunjuk

ke

suatu

arah.

Mataku

mulai

mencari

pelakunya searah telunjuk Ara mengarah. Tak jauh ku lihat

Aceng dan Munir membawa ranting yang ku gunakan untuk

menggambar tadi. Sepertinya aku tahu siapa pelakunya.

“Pung, kamu di sini saja. Jaga Ara!” kataku dongkol.

62

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Iya Bon. Kamu mau kemana?” katanya seraya membantu

Ara berdiri.

“Sudah diam saja di sini!” teriakku spontan.

Aku berlari ke arah Aceng dan Munir kemudian berteriak,

“woooooy!”. Mereka tersentak dan melihatku datang dengan

wajah

dongkol.

Aku

bertanya

pada

mereka,

“Kalian

yang

menghancurkan gambar yang ku buat di sebelah sana?”

“Kalau

iya

memang

kenapa?”

kata

Aceng

seraya

mematahkan ranting yang ku gunakan menggambar tadi. Aku

hanya

terdiam

menahan

kesal,

tanganku

mulai

mengepal.

Melihat

reaksiku,

Aceng

menantang,

“Berani?

Ayo

pukul!”.

Aceng mendorongku hingga aku jatuh terduduk. Aku pikir walau

badan Aceng lebih besar aku tidaklah takut, yang jadi masalah

adalah ia bersama Munir, aku kalah jumlah. Mengajak Ipung

membantuku berkelahi tak mungkin, ia penakut. Dengan ayam

saja ia tak berani, apalagi harus menghadapi dua orang ini.

63

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

“Kenapa diam saja? Takut?” bentak Aceng sok jagoan. Ingin

sekali aku menghantam mulutnya, namun lagi-lagi nasehat ayah

menahanku untuk bertindak brutal.

“Ibumu sudah mati! Doreng juga sudah hilang mungkin dia

juga mati sama seperti ibumu! Buat apa kamu gambar?” Aceng

semakin menjadi-jadi. Kali ini sepertinya ia tak bisa ku biarkan,

ku genggam pasir dan melemparkannya ke arah Aceng.

“Ahhhh…Boncel sialan!!”

Tak terima Aceng mencoba memukulku. Bogemnya tepat

mengenai pelipisku. Segera aku membalasnya, ku hantamkan

bogemku ke arah dagunya. Mantap, ia terhuyung. Akhirnya

berkelahilah

kami,

Aceng

tertinju

meminta bantuan Munir.

beberapa

kali

kemudian

“Nir, bantu! Jangan diam saja! Kampret!” kata Aceng.

Munir hendak menangkapku dari belakang tapi terkena

tendanganku. Tendanganku tepat masuk ke bagian dadanya.

Munir menahan nafas kesakitan. Ku lakukan tendangan yang

64

Jejak Terakhir : hanya sebuah kisah anak nelayan

sama pada Aceng, namun nahas usahaku gagal. Aceng berhasil

menangkap

kaki

kananku

dan

menariknya

hingga

aku

jatuh

tersungkur. Seketika Munir menggenggam kaki kiriku. Bersama-

sama mereka mengarakku hingga siku tanganku terluka terkena

pecahan cangkang kerang.

Mas Ikin yang kebetulan melintas melihat kejadian itu. Ia

segera memberitahu ayahku, ”Mas, anakmu berkelahi dengan

Aceng dan Munir.”

Owalah, dimana mereka?” tanya ayah naik pitam.

“Di sudut pantai sebelah sana, mas.” kata Mas Ikin seraya