Anda di halaman 1dari 24

BAB II

DASAR TEORITIS
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Asma bronkiale adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap
berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya
penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat
berubah-ubah,baik secara spontan maupun sebagai hasil
pengobatan.( Mansjoer Arief, 2000).
a. Jenis Asma secara klinik :
). Asma alergika ! Asma ekstrinsik
"iasanya terjadi pada anak-anak dan de#asa muda.
Asma ini disebabkan karena kepekaan indi$idu terhadap
alergen,biasanya protein dalam bentuk serbuk yang
dapat dihisap, misalnya % tepung sari, spora
jamur,debu,bulu.&adang-kadang disebabkan oleh
makanan tertentu seperti susu atau coklat tapi ini jarang
terjadi kalau pasien mengadakan kontak langsung
dengan alergen t ersebut #alaupun dengan jumlah yang
sangat sedikit,maka ia akan mendapat serangan asma.
'
2). Asma intrinsik
Asma ini ditandai dengan tak adanya faktor yang jelas,
faktor-faktor non spesi(k seperti ini antara lain) pilek,
latihan (sik, emosi yang dapat merangsang serangan
asma. Asma ini lebih sering timbul sesudah usia *0
tahun, dengan serangan sesudah infeksi sinus nasi atau
pada percabangan trakea bronkiale. Makin lama
serangan makin sering dan makin hebat, sehingga
akhirnya keadaan ini berkelanjutan menjadi bronkitis
kronis dan kadang-kadang juga disertai em(sema.
+).Asma campuran
Asma ini merupakan bentuk asma yang menyerang
kebanyakan pasien dan terdiri dari komponen-komponen
asma ekstrinsik maupun asma intrinsik. ,eringkali pasien
yang menderita asma intrinsik akhirnya menderita asma
campuran, meskipun anak-anak yang menderita asma
ekstrinsik seringkali sembuh sempurna pada usia
de#asa.
. Anatomi !isiologi Sistem Perna"asan
a. Pernapasan adalah peristi#a menghirup udara dari luar
yang mengandung oksigen kedalam tubuh serta
-
menghembuskan udara yang mengandung
karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari
tubuh.
b. Bronk#s adalah merupakan lanjutan dari belahan dua
trakea pada ketinggian kira-kira $ertebra .orakalis kelima,
mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi
oleh jenis sel yang sama. "ronchus-bronchus itu berjalan
keba#ah dan kesamping kearah tampuk paru-paru.
"ronchus kanan lebih dan lebih lebar daripada "ronchus
kiri, terdiri dari / sampai - cincin. Mengeluarkan sebuah
cabang yang disebut "ronchus 0obus Atas, cabang kedua
timbul setelah cabang utama le#at diba#ah arteri
disebut "ronchus lobus ba#ah. "ronchus lobus tengah
keluar dari "ronchus lobus ba#ah. "ronchus kiri lebih
panjang dan lebih langsing dari "ronchus kanan dan
berjalan diba#ah Arteri pulmonalis sebelum dibelah
menjadi dua cabang yang berjalan ke lobus atas dan
ba#ah, tediri dari 1 sampai 2 cincin.
c. !isiologi pernapasan
2ungsi paru-paru ialah pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida.3ada pernafasan melalui paru-paru atau
pernafasan e4terna,oksigen dipungut melalui hidung dan
mulut.3ada #aktu bernafas, oksigen masuk melalui
1
trakea dan pipa "ronkiale ke al$eoli,dan mempunyai
hubungan erat dengan darah dalam kapiler pulmonaris.
5anya satu lapis membran al$eoli-kapiler,
memisahkan oksigen dari darah. 6ksigen menembus
membran ini dan dipungut oleh 5b sel darah merah dan
diba#a ke jantung.7ari sini dipompa di dalam arteri ke
semua bagian tubuh.
7idalam paru-paru karbondioksida salah satu hasil
buangan metabolisme menembus membran al$eolar-
kapiler dari kapiler darah ke al$eoli dan setelah melalui
pipa "ronkiale dengan trakea,dinafaskan keluar melalui
hidung dan mulut.
$. Etiologi
a. 5ipersensiti$itas alergik
b. 5ipersensiti$itas non alergik
c. 2aktor pencetus % 8okok, 9angguan emosional ! stress,
:nfeksi ,aluran ;afas Atas, 9enetika ! &eturunan, Alergi,
3erubahan lingkungan, 9erakan ! latihan, 7ebu, 8i#ayat
keluarga mengenai alergi
0
%.Pato&siologi
AS'A
3ohon "ronkial 5iperaktif
"rokospasme
3enyempitan <alan ;apas
3eningkatan &erja 3ernafasan

Peningkatan Kebutuhan O
2
Takikardi
Takipnea
Plak Mukosa
Penurunan
Masukan Oral
Peningkatan Kehilangan
air tak tampak sebagai
penguapan ekspirasi
+
+
+
Hipoksemia
Atelektasis
(. Tan)a Dan *e+ala
a. ,erangan seringkali terjadi pada malam hari
b. 3asien terbangun dan merasa tercekik
c. "ronkospasme dan penyempitan jalan nafas
menyebabkan #hee=ing saat ekshalasi
d. 3asien menggunakan otot-otot tambahan untuk bernafas
dan mungkin membungkuk ke depan untuk bernafas
dengan lebih baik
e. "atuk produktif
f. ;afas atau dada seperti tertekan
,. Klasi&kasi Dera+at Asma
Dera+at
Asma
*e+ala *e+ala
'alam
!#ngsi
Par#
:ntermite
n
Minggua
n
9ejala > ? minggu
.anpa gejala diluar
serangan
,erangan singkat
2ungsi paru asimtomatik
dan normal luar
serangan
> 2 kali
sebulan
@A3 atau
A3A B -0C
3ersisten
8ingan
Minggua
n
9ejala B ? ! minggu
tapi ? ! hari
,erangan dapat
mengganggu akti(tas
dan tidur
B 2 kali
seming
gu
@A3 atau
A3A B
-0 C
normal
3ersisten
,edang
5arian
9ejala harian
Menggunakan obat
setiap hari
,erangan Mengganggu
akti(tas dan tidur
B sekali
seming
gu
@A3 atau
A3A B /0C
tetapi >
-0C ;ormal
2
,erangan 2 4 ! minggu ,
bisa berhari-hari
3ersisten
"erat
&ontinue
9ejala terus menerus
Akti(tas (sik terbatas
,ering serangan
,ering @A3 atau
A3A >-0C
;ormal
-. Komplikasi
a. 3neumothoraks
b. 3neumomediastinum
c. Am(sema subkutis
d. Atelektesis
e. "ronkopulmonar alergik
f. 9agal nafas
g. "ronkitis
.. Tin)akan Pengo/atan
3engelolaan asma diarahkan terhadap gejala-gejala
yang timbul saat serangan, mengendalikan faktor
penyebab spesi(k dan pera#atan, pemeliharaan kesehatan
optimal yang umum. .ujuan utama dari berbagai macam
pengobatan adalah agar pasien segera mengalami
relaksasi bronkus yang segera dan progresif.
a. Asma ak#t
). Moderat
+
7apat dengan aman dikelola secara ra#at jalan bila
tidak terdapat tanda-tanda yang membahayakan %
a). memberikan oksigen pernasal.
b). Amino(lin :@ ( :ntra @ena ) sebagai dosis a#al
terbulatin subkutan atau keduanya dapat
diberikan secara bergantian.
c). Monitor 2A@ dan gejala-gejala ) kapan membaik,
kapan dimulai terapi oral.
d). 6bser$asi dengan cermat selama *- jam dan
monitor tanda-tanda kekambuhan.
2). ,erangan berat dengan satu atau lebih tanda bahaya
) kapasitas $ital > ,0 0 , 2A@ >0,D l , 362 diba#ah
D0 mm, 3E62 meningkat, kekalahan atau gangguan
kesadaran %
a). 8a#at, berikan suplemen oksigen, intubasi bila
perlu.
b). "erikan steroid :@ ( :ntra @ena,00 mg
hidrokortison !solu-cortef atau yang sebanding
dengannya setiap / jam untuk *-dosis ) ) mulailah
pemberian prednison,/0--0 mg setiap 2* jam
sampai 2A@ memcapai atau mendekati nilai
terbaik sebelumnya, kemudian kurangi dosis
*
dalam 2 sampai + minggu berikutnya, mulai
dengan penggunaan beclomethason inhaler.
c). Amino(lin :@ ( :ntra @ena ) dalam dosis
pemeliharaan selama *- jam sampai '2 jam
monitor kadar amino(lin darah.
d). :33" dapat digunakan untuk pemakaian obat
adrenergik dan untukmempermudah
bronkodilatasi.
/. Asma kronik
). 8ingan sampai berat atau rekuren %
a). ,enya#a teo(lin ) sodium kromolin dapat di coba )
berikan inhaler adrenergik sebagaimana
dibutuhkan.
b). 6bat-obat "eta 2 adrenergik oral ditambahkan
dalam dosis terbagi bila hal-hal diatas tidak efektif
2). Moderat
.ambahkan beclomethason inhaler pada point dan
2 diatas
+). Asma berat mempengaruhi kerja % berikan steroid
oral setiap selang sehari sebagai tambahan pada
point-point diatas, pertahankan steroid agar
diberikan dalam dosis minimal efektif.
D
B. As#0an Kepera1atan
Asuhan kepera#atan adalah bantuan, bimbingan
penyuluhan, penga#asan atau perlindungan yang diberikan
oleh seorang pera#at untuk kebutuhan klien. Asuhan
kepera#atan merupakan faktor penting dalam sur$i$al klien
dan dalam aspek pemeliharaan, rehabilitasi dan pre$entif
pera#atan kesehatan (7oenges, 2000).
3roses kepera#atan terdiri dari lima tahap, yaitu
pengkajian, diagnosa kepera#atan, perencanaan,
pelaksanaan, dan e$aluasi.
1. Pengka+ian
3engkajian merupakan dasar utama atau langkah a#al
dari proses kepera#atan. .ujuan dari pengkajian
kepera#atan adalah untuk memberikan suatu gambaran
yang terus menerus mengenai kesehatan klien, yang
memungkinkan tim pera#at merencanakan asuhan
kepera#atan kepada klien. Manfaat pengkajian adalah
membantu mengidenti(kasi status kesehatan, pola
pertahanan klien, kekuatan dan kebutuhan klien, serta
merumuskan diagnosa kepera#atan.
3engkajian kepera#atan terdiri dari tiga tahap yaitu
pengumpulan, pengelompokan atau pengorganisasian serta
/
menganalisa dan merumuskan diagnosa kepera#atan
(0aode, 111).
Eara pengumpulan data dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu obser$asi, anamnese!#a#ancara dan
pemeriksaan (sik. ,elain itu dapat juga dengan catatan
klien seperti catatan klinik, dokumentasi dan status klien,
dan literatur yang mencakup semua material.
3ada pengumpulan data penulis menggunakan cara
obser$asi, anamnese!#a#ancara, pemeriksaan (sik,
dokumentasi dari catatan medis, status klien dan hasil
laboratorium!radiologi.
0angkah a#al penulis melakukan obser$asi langsung
kepada klien. Menurut 9aFar (111) obser$asi adalah cara
pengumpulan data melalui hasil pengamatan (melihat,
meraba atau mendengarkan) tentang kondisi klien dalam
rangka asuhan kepera#atan.
0angkah kedua penulis melakukan
anamnese!#a#ancara dengan klien atau keluarga klien.
Menurut 9aFar (111) anamnese!#a#ancara adalah cara
pengumpulan data melalui tanya ja#ab kepada klien atau
keluarganya.
0angkah ketiga penulis melakukan pemeriksaan (sik
melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Menurt
'
9aFar (111) inspeksi adalah pengamatan secara seksama
terhadap status kesehatan klien seperti inspeksi
kesimetrisan pergerakan dinding dada, penggunaan otot
bantu napas, inspeksi adanya lesi atau ras pada kulit atau
sebagainya.
Menurut 9aFar (111) perkusi adalah pemeriksaan (sik
dengan jalan mengetukkan jari tengah kejari tengah
lainnya untuk mengetahui normal!tidaknya suatu organ
tubuh.
Menurut 9aFar (111) palpasi adalah pemeriksaan (sik
dengan cara meraba klien. 7an auskultasi adalah cara
pemeriksaan (sik dengan menggunakan stetoskop
(mendengar).
3engkajian klien asma bronchiale menurut (.ucker,
11-) adalah sebagai berikut %
a. A#itan distres pernapasan tiba-tiba % 3erpanjangan
ekspirasi mengi, perpendekan periode inspirasi, retraksi
interkostal dan sternal, penggunaan otot-otot aksesori
pernapasan, sesak napas, krekels.
b. "unyi napas % Mengi, menurun, tidak terdengar.
c. 7uduk dengan posisi tegak ) bersandar ke depan.
d. 7iaforesis
e. 7istensi $ena leher
-
f. ,ianosis % Area sirkumoral, dasar kuku.
g. "atuk keras, kering ) batuk produktif sulit.
h. 3erubahan tingkat kesadaran
i. 5ipoksia
j. 5ipotensi
k. 7ehidrasi
l. 3eningkatan ansietas ) takut menderita, takut mati.
m. 3emeriksaan laboratorium % 9as-gas darah arteri
(3a6
2
dan 3aE6
2
sedikit menurun dan umumnya terjadi
diantara serangan, penurunan 3a6
2
, peningkatan 3a6
2
dengan serangan hebat), rontgen dada (normal diantara
serangan, hiperinGasi pada serangan), tes kulit (asma
ekstrinsik), tes fungsi pulmoner ($olume paru-paru
normal atau meningkat, penurunan kecepatan aliran )
meningkat dengan bronkodilator), pemeriksaan ,73 dan
sputum (eosino(lia darah dan sputum umum ditemukan,
kadar :gA serum meningkat pada asma ekstrinsik).
. Diagnosa Kepera1atan
7iagnosa kepera#atan merupakan langkah kedua
dari proses kepera#atan setelah pengkajian data. 7iagnosa
kepera#atan merupakan formilasi kunci dari proses
kepera#atan karena merupakan Hclient responses by
1
health problemI atau respon klien terhadap adanya
masalah kesehatan. 6leh karena itu diagnosa kepera#atan
berorientsi pada kebutuhan dasar manusia berdasarkan
teori kebutuhan dasar Abraham Maslo#, memperlihatkan
respon indi$idu!klien terhadap penyakit atau kondisi yang
dialaminya.
Manfaat diagnosa kepera#atan adalah sebagai
pedoman dalam pemberian asuhan kepera#atan karena
menggambarkan status masalah kesehatan serta
penyebab adanya masalah tersebut, membedakan
diagnosa kepera#atan dan diagnosa medis serta
menyamakan kesatuan bahasa antara pera#at dalam
memberikan asuhan keper#atan secara komprehenshif.
Menurut (;A;7A. 110) yang dikutip dalam bukunya
0ynda <uall Earpenito (11-), dignosa kepera#atan adalah
keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga atau
masyarakat sebagai akibat dari masalah-masalah
kesehatan!proses kehidupan potensial atau aktual.
7iagnosa kepera#atan memberikan dasar-dasar pemilihan
inter$ensi untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung
gugat pera#at.
7iagnosa kepera#atan pada pasien asma bronchiale
(.ucker, 11-) adalah sebagai berikut %
20
a. Ansietas yang berhubungan
dengan kesulitan bernapas, takut menderita, dan!atau
takut serangan berulang.
b. &etidakefektifan bersihan jalan
napas yang berhubungan dengan sekresi kental
berlebihan dan bronkospasme.
c. &etidakefektifan pola pernapasan
yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
selama serangan akut.
d. &urang pengetahuan yang
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penatalaksanaan pera#atan diri.
$. Perencanaan
8encana asuhan kepera#atan merupakan langkah
ketiga dalam proses asuhan kepera#atan. ,etelah
merumuskan diagnosa kepera#atan maka perlu dibuat
perencanaan inter$ensi kepera#atan dan akti(tas
kepera#atan.
8encana kepera#atan merupakan bukti tertulis dari
tahap dua dan tahap tiga proses kepera#atan yang
mengidenti(kasi masalah atau kebutuhan klien, tujuan,
2
hasil pera#atan dan inter$ensi untuk mencapai hasil yang
diharapkan dan menangani masalah!kebutuhan klien.
a. Menyusun prioritas masalah
.itik permulaan untuk merencanakan pera#atan
umumnya adalah membuat urutan masalah!kebutuhan
klien, sehingga perhatian pera#at dan tindakan yang
akan dilakukan difokuskan dengan tepat. Ada banyak
cara untuk memprioritaskan kebutuhan klien, salah
satunya adalah kerangka yang dibuat oleh Abraham
Maslo# (7oenges, 2000).
b. Menentukan tujuan dan kriteria hasil
3enulis untuk kriteria hasil berdasarkan H,MA8.I. .ujuan
yang direncanakan harus spesi(k dan tidak menimbulkan
arti ganda, tujuan kepera#atan harus dapat diukur,
khususnya tentang perilaku klien, dapat diukur, didengar,
diraba, dirasakan, dicium. .ujuan kepera#atan harus
dapat dicapai serta dipertanggung ja#abkan secara
ilmiah dan harus mempunyai #aktu yang jelas.
c. Menentukan rencana inter$ensi
8encana inter$ensi yang terdapat pada karya tulis ini
pada dasarnya disesuaikan dengan kondisi klien dan
fasilitas yang ada serta disesuaikan dengan sumber buku
22
7ari diagnosa kepera#atan yang telah disusun di atas,
maka rencana tindakan kepera#atan asma bronchiale
menurut (.ucker, 11-) adalah sebagai berikut %
a. Ansietas yang berhubungan dengan kesulitan bernapas,
takut menderita, dan!atau takut serangan berulang.
). &aji tingkat ansietas (ringan, sedang, berat).
2). &aji kebiasaan keterampilan koping.
+). "erikan dukungan emosional
*). :mplementasikan teknik relaksasi
D). 3ertahankan periode istirahat yang telah
direncanakan ) batasi pengunjung bila perlu, berikan
dorongan untuk melakukan periode istirahat dengan
sering, jangan banyak bicara bila sedang dispnea
berat.
b. &etidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan
dengan sekresi kental berlebihan dan bronkospasme.
). &aji sputum terhadap #arna, kekentalan, dan jumlah.
2). Auskultasi bunyi napas setiap jam sampai 2 jam
terhadap mengi, krekels, atau ronki.
+). &aji pernapasan, perhatikan kualitas dan kecepatan.
*). 6bser$asi #arna kulit dan suhu setiap 2 jam
D). 3antau gas darah arteri.
/). 3antau tingkat kesadaran
2+
'). 3osisi pada ketinggian yang nyaman dan
mengoptimalkan pernapasan
-). "erikan oksigen dengan kateter nasal sesuai pesanan.
1). "antu dalam (sioterapi dada
0). "erikan obat sesuai pesanan (epinefrin, amino(lin,
antihistamin, ekspektoran, kortikostiroid adrenal).
c. &etidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan
dengan penurunan ekspansi paru selama serangan akut.
). &aji tanda dan gejala ketidakefektifan pola pernapasan
2). 3antau tanda $ital dan gas-gas darah arteri
+). "aringkan klien dalam posisi fo#ler tinggi untuk
memaksimalkan ekspansi dada.
*). "erikan terapi sesuai pesanan (6ksigen dan obat-
obatan).
d. &urang pengetahuan yang berhubungan dengan
kurangnya informasi tentang penatalaksanaan pera#atan
diri.
). &aji tingkat pengertian mengenai proses penyakit dan
penatalaksanaan pera#atan diri selama serangan
hebat.
2). <elaskan pentingnya pencegahan serangan
selanjutnya.
+). 5indari orang yang menderita infeksi terutama :,3A
2*
*). 7iskusikan pentingnya melakukan latihan sampai batas
yang dapat ditoleransi.
D). <elaskan pentingnya diet dan latihan
%. Pelaksanaan
.indakan kepera#atan atau implementasi merupakan
pelaksanan perencanaan oleh pera#at dan klien. 5al-hal
yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi
adalah inter$ensi yang dilakukan sesuai dengan rencana
setelah dilakukan $alidasi, penguasaan keterampilan
interpersonal, intelektual dan teknikal. :nter$ensi harus
dilakukan dengan cermat dan e(sien pada situasi yang
tepat, kemampuan (sik, psikologis dilindungi dan
didokumentasikan kepera#atan berupa pencatatan dan
pelaporan. 5al-hal yang perlu diperhatikan ketika
melakukan tindakan kepera#atan!implementasi adalah
harus disesuaikan dengan rencana, harus cermat dan
e(sien pada situasi yang tepat, keamanan (sik dan
psikologis dilindungi (9aFar, 111).
Ada tiga fase implementasi kepera#atan yaitu fase
persiapan meliputi pengetahuan tentang rencana, $alidasi
rencana, pengetahuan dan keterampilan
mengimplementasikan rencana, persiapan klien dan
2D
lingkungan. &edua, fase operasional merupakan puncak
implementasi dengan berorientasi pada tujuan.
:mplementasi dapat dilakukan dengan inter$ensi
independen atau mandiri, serta interdependen atau sering
disebut inter$ensi kolaborasi. "ersamaan dengan ini,
pera#at tetap melakukan going assesment yang berupa
pengumpulan data yang berhubungan dengan reaksi klien
termasuk reaksi (sik, psikologis, sosial dan spiritual. &etiga,
fase interminasi merupakan terminasi pera#at dangan klien
setelah implementasi dilakukan.
3elaksanaan tindakan kepera#atan dapat dilaksanakan
sebagian oleh pasien, pera#at secara mandiri, atau
bekerjasama dengan tim kesehatan lain. 7alam hal ini
pera#at adalah sebagai pelaksana asuhan kepera#atan
yaitu memberikan pelayanan pera#atan dengan
menggunakan proses kepera#atan. Adapun langkah-
langkah dalam tindakan kepera#atan terdiri dari tiga tahap
yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi.
3ada tahap persiapan, pera#at harus memiliki
keterampilan khusus dan pengetahuan untuk menghindari
kesalahan dalam memberikan tindakan kepera#atan pada
pasien. ,ebelum dilakukan tindakan kepera#atan, pera#at
terlebih dahulu memberitahukan dan menjelaskan tentang
2/
maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan
dilakukan.
.ahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan
dilakukan sesuai dengan rencana dalam rangka mengatasi
masalah kepera#atan yang ada.
.ahap dokumentasi yaitu tahap tindakan kepera#atan
yang telah dilakukan baik kepada pasien ataupun keluarga,
dicatat dalam catatan kepera#atan. 3ada
pendokumentasian ini harus lengkap meliputi tanggal, jam
pemberian tindakan, jenis tindakan, respon pasien, paraf
serta nama pera#at yang melakukan tindakan.
Menurut (Joseph, 11*), H3endokumentasian sangat
perlu untuk menghindari pemutarbalikan fakta, untuk
mencegah kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari
oleh pera#at lain. ,emua tahap dalam proses kepera#atan
harus didokumentasikan.I "eberapa faktor dapat
mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan kepera#atan,
antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian
pekerjaan pera#at serta lingkungan (sik untuk pelayanan
kepera#atan yang dilakukan.
2'
(. E2al#asi
.ahap e$aluasi dalam proses kepera#atan menyangkut
pengumpulan data subyektif dan obyektif yang
menunjukkan mengenai tujuan asuhan kepera#atan sudah
dapat dicapai atau belum, masalah apa yang sudah
dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi, direncanakan,
dilaksanakan.
A$aluasi merupakan tahap akhir proses kepera#atan
yang merupakan akti(tas berkesinambungan dari tahap
a#al (pengkajian) sampai tahap akhir (e$aluasi) dan
melibatkan pasien!keluarga. A$aluasi bertujuan untuk
menilai efekti(tas rencana dan strategi asuhan
kepera#atan. A$aluasi terdiri dari e$aluasi proses, untuk
menilai apakah prosedur dilakukan sesuai dengan rencana
dan e$aluasi hasil berfokus kepada perubahan perilaku dan
keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan
kepera#atan.
Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil e$aluasi yaitu %
a. Masalah teratasi
Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan
tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan
kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
b. Masalah sebagian teratasi
2-
Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukkan
perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian
dari kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
c. Masalah belum teratasi
Masalah belum teratasi, jika pasien sama sekali tidak
menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan
kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru.
,. Pen)ok#mentasian
.ahap dokumentasi yaitu tahap tindakan kepera#atan
yang telah dilakukan baik kepada pasien ataupun keluarga,
dicatat dalam catatan kepera#atan. 3ada pendokumentasian
ini harus lengkap meliputi tanggal, jam pemberian tindakan,
jenis tindakan, respon pasien, paraf serta nama pera#at yang
melakukan tindakan.
Menurut Joseph tahun 11* H3endokumentasian sangat perlu
untuk menghindari pemutarbalikan fakta, untuk mencegah
kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari oleh pera#at
lain. ,emua tahap dalam proses kepera#atan harus di-
dokumentasikan.I "eberapa faktor dapat mempengaruhi
pelaksanaan rencana asuhan kepera#atan, antara lain
sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan
21
pera#at serta lingkungan (sik untuk pelayanan kepera#atan
yang dilakukan.
+0