Anda di halaman 1dari 12

1

STUDI KORELASI ANTARA PERILAKU KEPEMIMPINAN, KONSEP DIRI,


KECEMASAN KERJA DENGAN AKUNTABILITAS KEPALA SEKOLAH
( Survey pada Kepala SMP di Kota Tangerang, 2004 )
MOH.SURYADI SYARIF ( Disertasi gelar Doktor di UNJ tahun 2005 )



SRI WARDHANIH
sriwardhanih@gmail.com, Hp. 08568840769
Program Pasca Sarjana MIPA
Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA),
Jl. Nangka No. 58c Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan


ABSTRAK


Dengan maksud mengadakan penelitian tentang studi korelasi antara perilaku kepemimpinan,
konsep diri, kecemasan kerja dengan akuntabilitas kepala sekolah, Penelitian ini dilakukan di
Kota Tangerang pada tahun 2004, dengan sampel 50 orang kepala sekolah , dengan seleksi
secara acak.Pada penelitian ini diduga terdapat : ( 1 ) terjadi korelasi positif antar perilaku
kepemimpinan, dan akuntabilitas kepala sekolah , ( 2 ) terjadi korelasi positif antara konsep
diri terhadap akuntabilitas kepala sekolah, ( 3 ) terdapat pengaruh negatif hubungan antara
kecemasan kerja dengan akuntabilitas kepala sekolah, ( 4 ) terdapat hubungan positif antara
kepemimpina kepla sekolah dengan akuntabilitas kepala sekolah.Atas dasar hasil penelitian
dari studi kita dapat mengetahui korelasi antara perilaku kepemimpinan,konsep diri,
kecemasan kerja dengan akuntabilitas kepala sekolah.

Kata kunci : perilaku kepemimpinan, konsep diri, kecemasan kerja, akuntabilitas kepala
sekolah.


ABSTRACT


The purpose of this research is to study the relationships between leadership behavior, self-
consept, work anxiety and school principals accuntability. research was carried out in
Tangerang City in 2004, with a sample of 50 secondary School prinipals, selected randomly.
The reseach findings are as follows ; ( 1 ) there is a positive correlation between leardership
behavior and school principals accuntability, ( 2 ) there is a positive correlation between self
concept and school principals accuntability, ( 3 ) there is a negative correlation between work
anxiety and school principals accountability, ( 4 ) there is a positive correlation between
leadhership behavior and self concept with school principals accountability.Based on the
result of the study, it can be concluded that the school principals accuntability can be
improved by improving their leadership behavior and self concept

Key words : leadership behavior, self-consept, work anxiety, school principals accuntability




2


PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu kewajiban yang harus ditempuh oleh setiap
individu, dan tidak bisa ditawar lagi, karena pada dasarnya pendidikan adalah merupakan
proses sosial yang bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia guna menghadapi
tuntutan zaman yang selalu berkembang dan berubah. Bukankah Rasulullah SAW pernah
bersabda, Didiklah anakmu, karena ia akan hidup di zaman yang berbeda dengan
zamanmu1. Oleh karena itu untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin maju serta
untuk memenuhi kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan diperlukan pendidikan yang
selalu ditingkatkan kualitasnya. Dan usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan itu
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pembangunan bangsa Indonesia
secara keseluruhan.
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pengembangan sumber
daya manusia yang berkualitas. Terutama dalam penciptaan insan insan pembanguna yang
ahli, trampil, kreatif dan inofatif. Kualitas sumber daya manusia seperti ini diperlukan untuk
mewujudkan negara yang berhasil menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan,
tehnologi dan industrialisasi dalam rangka menghadapi pasar persaingan global. Untuk itu
maka salah satu arah kebijakan pendidikan adalah melakukan pembaharuan dan pemantapan
sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan dan
manajemen. Desentralisasi telah dilaksanakan dengan cara memberikan otonomi pada institusi
sekolah dalam kerangka menejemen menejemen sekolah.
Manajemen berbasis sekolah adalah strategi untuk meningkatkan kemandirian para
pengelola pendidikan dengan memindahkan wewenang pengambilan keputusan penting dari
pemerintah pusat dan daerah ketingkat paling operasional yaitu sekolah.Empat aspek yang
dilakukan untuk pemberdayaan sekolah yaitu : meningkatkan mutu, pemerataan , relevansi,
dan efesiensi penyelenggaraan pendidikan. Salah satu pilar strategis kebijakan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan yaitupeningkatan mutu, relevansi dan daya saing bangsa. Melalui
kebijakan ini diharapkan agar proses pendidikan yang diselenggarakan harus bermutu dan
memiliki daya saing yang kuat dalam rangka menghadapi dan memasuki era globalisasi.
Lulusan dari suatu jenjang pendidikan harus bermutu dan kompetitif. Sholeh (2005: 34)
mengatakan, Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu langkah yang dilakukan secara
terencana. Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya
manusia seutuhnya yang handal lahir maupun batin serta bermakna. Undang-Undang nomor
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menetapkan kriteria sumber daya manusia
seutuhnya yang dihasilkan melalui proses pendidikan yang bermutu, yaitu manusia yang
bercirikan: (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3)
sehat, (4) berilmu, (5) cakap, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) menjadi warga negara yang
demokratis, dan (9) bertanggung jawab.
Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan sangat erat kaitannya dengan
pengembangan sumber daya manusia (SDM). Selaras dengan kebijakan pembangunan
nasional yang menekankan pada pengembangan SDM maka upaya peningkatan mutu
pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan
dimaksud, mutu kepala sekolah merupakan salah satu komponen yang paling vital, Untuk
lebih mengefektifkan proses pengambilan keputusan dan hubungan kekuasaan pada tingkat
sekolah.Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola
sekolahnya, baik faktor psikologis, seperti perilaku kepemimpinan kepala sekolah, motifasi
kerja, konsep diri, kecerdasan, kemandirian, kejujuran moral, kecemasan kerja maupun faktor
eksternal atau lingkungan sosial seperti iklim sekolah, ketersediaan dana, sarana - prasarana,
dukungan masyarakat, pemerintah dan lain lain.
Tiga variabel bebas yang dianggap berhubungan dengan akuntabilitas kepala sekolah
adalah : perilaku kepemimpinan, konsep diri, dan kecemasan kerja. Perilaku kepemimpina dan
3

konsep diri diduga memiliki hubungan yang searah dengan variabel terikat, sehingga dua
variabel bebas layak dihubungkan secara bersama sama terhadap variabel terikat. Variabel
kecemasan kerja diduga mempunyai hubungan yang tidak searah dengan variabel terikat dan
dengan kedua variabel bebas lainnya. Sehingga variabel ini dianggap tidak layak dihubungkan
secara bersama-sama dengan kedua variabel terikat, karenanaya keempat masalah ini dikaji
dalam penelitian ini adalah : ( 1 )Apakah terdapat hubungan antara perilaku kepemimpinan
dengan akuntabilitas kepala sekolah ? ( 2 ) Apakah terdapat hubungan antara konsep diri
dengan akuntabilitas kepala sekolah ? ( 3 ) Apakah terdapat hubungan antara kecemasan kerja
dengan akuntabilitas kepala sekolah ? ( 4 ) Apakah terdapat hubungan antara perilaku
kepemimpinan dan konsep diri secara bersama sama dengan auntabilitas kepala sekolah ?

TINJAUAN PUSTAKA

Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah keterkaitan mendasar dalam kewajiban untuk mendemonstrasikan,
memeriksa, dan tanggung jawab atas hasil kerja yang digunakan untuk mencapi tujuan
tertentu.( Barrados, dkk, 2004 :1 ). Definisi akuntabilitas ini konsisten dengan pengelolaan
hasil terutama untuk akuntabilitas antara rekan kerja yang mungkin setara atau
independen,dan mencakup kewajiban untuk semua kelompok dalam hubungan
akuntabilitas.Akuntabilitas yang efektif tidak hanya mencakup laporan hasil kerja, tetapi juga
mencakup pemeriksaan, tindakan korektif secara tepat, dan konsekuensinya terhadap
perorangan.
Kerangka kerja akuntabilitas mempunyai empat unsur berdasarkan prisip prinsip
akuntabilitas yang efektif yaitu (a ) Tugas dan tanggung jawab.Hal ini diperlukan untuk
memberikan pemahaman yang jelas atas tugas dan tanggung jawab, kewajiban, dan otoritas
yang berhubungan denagn para pelaku organisasi dalam suatu hubungan akuntabilitas.
Tanggung jawab dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan atau dalam hubungan
kerjasama dapat didelegasikan kepada mitra kerja.( b )Hasil kerja yang diharapkan. Jika
harapan tidak jelas akuntabilitas atas ahsil kerja sulit dicapai . Saling memahami dan harapan
yang diterima termasuk kontribusi apa yang diharapkan dari masing-masing bagian dan
sejauhmana ketetapan penggunaannya akan memperkuat hubungan akuntabilitas ( c )
Persyaratan pelaporan . Bagian bagian dari suatu hubungan akuntabilitas perlu dijelaskan
terutama tentang informasi apa yang akan dilaporkan, untuk siapa, dan kapan dilaporkan( d )
Mekanisme pemeriksaan dan penyesuaian. Kejelasan diperlukan atas bagaimana dan siapa
yang akan melakukan pemeriksaan dan penyesuaan, bagaimana perbaikan harus dilaksanakan
untuk meningkatkan hasil kerja ( Arifi, 2002:6-7 )
Kepala sekolah dituntut untuk memiliki akuntabilitas kepada sekolah, kepada
masyarakat, dan pemerintah Akuntabilitas dimaksudkan merupakan komitmen terhadap
standar keberhasilan dan harapan bagi yang berkepentingan. Akuntabilitas bertujuan untuk
meyakinkan bahwasumber daya yang dimiliki sekolah dikelola sesuai kebijakan yang telah
ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk
menyajikan informasi tentang apa yang harus dikerjakan

Perilaku kepemimpinan
Perilaku kepemimpinann mencerminkan apa yang dilakukan oleh pemimpin dalam
mempengaruhi pengikutnya untuk merealisasi visinya.Sebagaimana penulis mempergunakan
istilah perilaku kepemimpinann ( leadership behavior ) dan sebagian lagi mempergunakan
istilah gaya pemimpin ( leader style ). Brennen ( 2004 : 1 ) mempergunakan istilah perilaku
kepemimpinan, yaitu perilaku pemimpin dalam lingkungan kerjanya yang berhubungan
dengan cara pemimpin menjalankan fungsi fungsi kepemimpinannya atau menggunakan
4

kekuasaan dan kekuatannya dalam pengambilan keputusan. Perilaku kepemimpinan bersifat
relatif permanen dan tergantung pada kepribadian sesorang.
Vroom dan Yetton dalam Owens ( 1987:151 )mengemukakan lima sistem klasifikasi
perilaku kepemimpinan yaitu : Proses otokrasi, mencakup : ( 1 ) Pemimpin menggunakan
informasi yang tersedia dalam mengambil keputusan; ( 2 ) pemimpin mencari informasi dari
karyawan sebagai dasar pengambilan keputusan. Proses konsultatif, mencakup : ( 3 )
pemimpin membahas masalah dengan para bawahan secara perorangan tanpa melalui rapat,
kemudian membuat keputusan : ( 4 ) pemimpin membahas permasalahan dengan para
bawahan dalam suatu rapat kemudian membuat keputusan.Proses kelompok, mencakup : ( 5 )
pemimpin bertindak sebagai pimpinan rapat kelompok,membahas masalah dan memfasilitasi
rapat kelompok untuk mencapai kesepakatan dalam pengambilan keputusan.
Disimpulkan bahwa perilaku kepemimpinan kepala sekolah adalahaktivitas kepala
sekolah dalam menggunakan kewenangan untuk mempengaruhi bawahannya agar dapat
mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan indikator : ( 1 ) Mengidentifikasi karakteristik para
pengikut, ( 2 ) memilih dan menggunakan kekuasaan, ( 3 ) memilih dan menggunakan tehnik
mempengaruhi, ( 4 ) Menggunakan karakteristik pribadi, ( 5 ) menentukan hasil hasil
mempengaruhi , dan ( 6 ) menilai kepemimpinannya.

Konsep Diri
Shafer dan Shoben ( 1956 : 94 ) mengemukakan bahwa konsep diri adalah sikap diri
yang muncul karena dipelajari. Menurut Pikunas dan Robert ( 1976 : 100 ), konsep diri adalah
suatu teori tentang diri yang dibangun individu di sekitar dirinya sebagai seorang yang
berfungsi , mengalami dan menguasai sifat psikologisnya.Konsep diri merupakan produk dari
interaksi sosial.Konsep diri memiliki tiga dimensi, yaitu : ( 1 ) Pengetahuan diri, ( 2 )
Pengharapan diri, ( 3 ) Penilaian diri.
Beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah perasaan dan
pemikiran seseorang atas dirinya yang dibentuk oleh empat karakteristik, yaitu : ( a )
Pandangan diri yaitu apa yang didapat seseorang ketika menginstrospeksi dirinya, bagaiman
keadaan pribadinya seperti tingkat kecerdasan, status sosial,apa harapan dan cita-citanya,
bagaimana keadaan pribadinya seperti tingkat kecerdasan, status soosial ekonomi keluarga,
peranan dalam lingkungan sosial, maupun bagi dirinya sendiri ( b )Intensitas afektif, yaitu
seberapa kuat seseorang merasakan bermacam macam sikapnya. ( c ) Penilaian diri yaitu
pandangan individu terhadap pengendalian keinginan dan drongan dalam diri, bagaimana
mengetahui dann mengendalikan dorongan kebutuhan dan perasaan dalam diri, suasana hati
yg sedang dihayati seperti perasaan bahagia, sedih atau cemas yang dapat mempengaruhi
konsep diri positif atau konsep diri negatif.( d ) Diri sosial yaitu apa yang kemungkina besar
diperbuat seseorang dalam meberi tanggapan atau hasil evaluasi dirinya.

Kecemasan Kerja
Menurut Pervin dan John ( 1996:369 ) kecemasan adalah ekspresi emosi atas adanya
ancaman bahaya.Kecemasan adalah gangguan dan ancaman terhadap perasaan yang terjadi
diluar kontrol ( Miller et al, 1990:201 ) yang selalu disertai oleh gejala gejala fisik tertentu,
seperti : tegang, gemetar, sakit kepala, keringatan, mulut kering dan sulit untuk menelan.
Beberapa orang kadang merasa pusing, detak jantung lebih kencang, bernafas lebih cepat,
diare, sering buang air kecil, kelelahan, susah tidur, kurang konsentrasi dan mimpi buruk.
Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Lenner el.al (1986 ): 494 ) bahwa
seseorang yang cemas menunjukkan beberapa isyarat perilaku tertentu, seperti mondar-mandir
tanpa tujuan, gemetaran atau gagap, menunjukkan gejala-gejala fisik tertentu seperti ; kurang
percaya diri dan mudah tersinggung. Menurut Vemon ( 1980 ; 398 ) kecemasan mempunyai
beberapa karakteristik, yaitu : 1.) rasa takut, 2) rasa rendah diri, 3) rasa gagal , 4) kesadaran
diri yang berlebihan, 5)kelelahan yang berlebihan, 6) tegang.
5

Disimpulkan bahwa kecemasan kerja adalah suatu gangguan dan ancaman secara
psikologis dan fisik yang dialami seseorang, sebagai akibat dari tuntutan pekerjaannya.
Kecemasan kerja merupakan perpaduan antara beberapa karakteristik, yaitu ; ( 1 ) fikiran yang
berorientasi pada pekerjaan, ( 2 ) kesadaran atas kemampuannya dalam bekerja, ( 3 ) reaksi
fisik, ( 4 ) perilaku dalam bekerja, dan ( 5 ) konsekuensi sosial.

Metode
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara
perilaku kepemimpinan, konsep diri, dan kecemasan kerja baik sendiri sendiri maupun
bersama sama dengan akuntabilitas kerja kepala sekolah.Penelitian ini dilaksanakan di
wilayah Kota Tangerang Provinsi Banten, pada bulan November sampai denag bulan
Desember 2004. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan korelasional.
Tiga variabel bebas yang dikaji adalah : Perilaku Kepemimpinan ( Xi ); Konsep Diri ( X2 ),
Kecemasan Kerja ( X3 ), dan variabel terikatnya adalah akuntabilitas ( Y ).

Konsentrasi model hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian
ini dapat digambarkan sebagai berikut :








X3

Gambar 1
Konsentarsi hubungan antar variabel penelitian
Keterangan : X1 = Perilaku Kepemimpinan
X2 = Konsep diri
X3 = Kecemasan Kerja
Y = Akuntabilitas
Populasi terjangkau adalah keseluruhan keseluruhan kepala sekolah SMP di Kota
Tangerang. Sampel dipilih secara acak sederhana sebanyak 50 orang kepala sekolah.
Penelitian ini menggunakan empat instrumen berupa kuesioner yaitu : ( 1 ) instrumen
akuntabilitas ( koefesien reliabilitas sebesar 0,91 ): ( 2 ) instrumen perilaku kepemimpinan (
koefesien reliabilitas sebesar 0,93 ) : ( 3 ) instrumen konsep diri ( koefesien reliabilitas sebesar
0,88 ); dan ( 4 ) Instrumen kecemasan kerja ( koefesien reliabilitas sebesar 0,90 ).
Digunakan uji Bartlett untuk menguji homogenitas varians data dan uji Lilliefors
untuk menguji normalitas data. Hipotesis penelitian diuji dengan menggunakan analisis
regresi dan korelasi
Hasil Penelitian
Deskripsi skor ke empat variabel penelitian drangkum dalam tabel :
Tabel 1. Rekapitulasi statistik dasar

Jenis Data
Statistik Dasar
Rata - rata Sd Median Modus
Akuntabilitas 105,50 8,77 105,5 104,5
Perilaku Kepemimpinan 102,47 9,58 99,96 97,71
Konsep Diri 94,10 9,56 95,06 96,50
Kecemasan 99,98 10,8 99,03 98,39

X1
X2



Y
6


Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data
Hasil pengujian normalitas data dengan menggunakan uji Lilliefors dirangkum dalam tabel :

Tabel 2.
Hasil Uji Normalitas Data
Variabel Sampel L hitung L tabel Simpulan
Y 50 0,0627 0,125 Normal
X1 50 0,1118 0,125 Normal
X2 50 0,0752 0,125 Normal
X3 50 0,1104 0,125 Normal
Keterangan :
Y = Akuntabilitas
X1 = Perilaku Kepemimpinan
X2 = Konsep Diri
X3 = Kecemasan Kerja
Hasil pengujian homogenitas varians data dengan menggunakan uji Bartlett dirangkum dalam
tabel berikut :

Tabel 3
Hasil Uji Homogenitas varians Data
Varians Y atas hitung tabel Simpulan
X1 9,75 49,80 Homogen
X2 18,42 40,10 Homogen
X3 16,72 38,90 Homogen
Keterangan :
Y = Akuntabilitas
X1 = Perilaku Kepemimpinan
X2 = Konsep Diri
X3 = Kecemasan Kerja
Berdasarkan kerangka berfikir diatas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian ,
yaitu : ( 1 ) Terdapat hubungan positif antara perilku kepemimpinan dengan akuntabilitas
kerja kepala sekolah. ( 2 ) Terdapat hubungan positif antara konsep diri dengan akuntabilitas
kerja kepala sekolah ( 3 ) Terdapat hubungan negatif antara kecemasan kerja dengan
akuntabilitas kerja kepala sekolah ( 4 ) Terdapat hubungan positif antara perilaku
kepemimpinan dan konsep diri secara bersama-sam dengan akuntabilitas kerja kepala sekolah
Hasil pengujian hipotesis penelitian
1. Hubungan perilaku kepemimpina ( X1 ) dengan akuntabilitas ( Y )
Dari hasil uji regresi dan korelasi sederhana antara perilaku kepemimpinan dengan
akuntabilitas kepala sekolah diperoleh besarnya koefesien garis regresi Y atas X1, yaitu
konstanta regresi a sebesar 57,07 dan koefesien arah regresi b sebesar 0,47 sehingga hubungan
antara kedua variabel tersebut ditunjukkan oleh persamaan garis regres = 57,07 + 0,47X1
Hasil uji f atas signifikan koefesien regresi dan kelinieran model regresi adalah Fh = 17,41 >
Ft = 3,47 yang berarti regresi akuntabilitas ( Y ) atas perilaku kepemimpinan ( X1 ) sangat
signifikan dan hubungan keduanya bersifat linier.






7

Tabel 4
Tabel ANAVA Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi
=57,07 + 0,47 X1
Sumber
varians
dk JK RJK Fh F1
0,05 0,01
Total 50 560285,0 - -
Regresi a 1 556512,5 556512,5 - - -
Regresi
b/a
1 1004,13 1004,13 17,41** 4,04 7,19
Sisa 48 2768,38 57,67 - - -
Tuna
Cocok
35 2499,54 71,42 3,45** 3,47 2,36
Galat 13 268,83 20,68 - - -
Keterangan :
** = Regresi sangat signifikan
ns = nonsignifikan = Regresi Linier
dk = Derajat kebebasan
Jk = Jumlah Kuadrat
RJK = Rerata Jumlah Kuadrat
Tabel 5
Uji signifikan Koefesien korelasi Perilaku kepemimpinan ( X1 ) dengan Akuntabilitas Kepala
Sekolah ( Y )
n Korelasi Koefesien
Korelasi ( r,t)
t hitung t tabel
0,05 0,01
50 X1 dan Y 0,52 4,17** 1,68 2,42
** Signifikan

Tabel 6
Korelasi Y atas X1 Jika Variabel X2 dikontrol
n Korelasi
Parsial
Koefesien
Korelasi
Parsial
t hitung t tabel
0,05 0,01
50 ry1,2 0,44 3,46** 1,68 2,42
2. Hubungan Konsep diri ( X2 ) dengan akuntabilitas
Dari hasil uji regresi dan korelasi sederhana antara akuntabilitas dengan konsep diri kepala
sekolah diperoleh besarnya koefesien garis regresi Y atas X2, yaitu konstanta regresi a sebesar
71,97 dan koefesien arah regresi b sebesar 0,36 sehingga hubungan antara kedua variabel
tersebut ditunjukkan oleh persamaan garis regres = 71,97 + 0,36X2
Hasil uji f atas signifikan koefesien regresi dan kelinieran model regresi adalah Fh = 8,51 > Ft
= 7,19 yang berarti regresi akuntabilitas ( Y ) atas konsep diri ( X2 ) sangat signifikan dan
hubungan keduanya bersifat linier

Tabel 7
Tabel ANAVA Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi
=71,97 + 0,36 X1
Sumber
varians
dk JK RJK Fh F1
0,05 0,01
Total 50 560285,0 - -
Regresi a 1 556512,5 556512,5 - - -
Regresi 1 568,2 568,2 8,51** 4,04 7,19
8

b/a
Sisa 48 3204,3 66,8 - - -
Tuna
Cocok
26 1412,8 54,3 0,67** 2,07 2,83
Galat 22 1791,5 81,4 - - -
Keterangan :
** = Regresi sangat signifikan
ns = nonsignifikan = Regresi Linier
dk = Derajat kebebasan
Jk = Jumlah Kuadrat
RJK = Rerata Jumlah Kuadrat

Tabel 8
Uji signifikan Koefesien korelasi Konsep Diri ( X2 ) dengan Akuntabilitas Kepala Sekolah (
Y )
n Korelasi Koefesien
Korelasi ( r,t)
t hitung t tabel
0,05 0,01
50 X2 dan Y 0,39 2,92** 1,68 2,42
** Signifikan

Tabel 9
Korelasi Y atas X2 Jika Variabel X3 dikontrol
n Korelasi
Parsial
Koefesien
Korelasi
Parsial
t hitung t tabel
0,05 0,01
50 ry2,1 0,26 1,85** 1,68 2,42

3. Hubungan kecemasan kerja ( X3 ) dengan akuntabilitas ( Y )
Dari hasil uji regresi dan korelasi sederhana antara akuntabilitas dengan kecemsan kerja
kepala sekolah diperoleh besarnya koefesien garis regresi Y atas X3, yaitu konstanta regresi a
sebesar 133,66 dan koefesien arah regresi b sebesar -0,28 sehingga hubungan antara kedua
variabel tersebut ditunjukkan oleh persamaan garis regres = 133,66 0,28 X3
Hasil uji f atas signifikan koefesien regresi dan kelinieran model regresi adalah Fh = 6,62 > Ft
= 4,04 yang berarti regresi akuntabilitas ( Y ) atas kecemasan kerja ( X3 ) sangat signifikan
dan hubungan keduanya bersifat linier

Tabel 10
Tabel ANAVA Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi
=133,66 - 0,28X3
Sumber
varians
dk JK RJK Fh F1
0,05 0,01
Total 50 560285,0 - -
Regresi a 1 556512,5 556512,5 - - -
Regresi
b/a
1 457,20 457,20 6,62** 4,04 7,19
Sisa 48 3315,30 69,07 - - -
Tuna
Cocok
25 1852,88 74,12 0,67** 2,00 2,70
Galat 23 1462,42 63,58 - - -


9

Keterangan :
** = Regresi sangat signifikan
ns = nonsignifikan = Regresi Linier
dk = Derajat kebebasan
Jk = Jumlah Kuadrat
RJK = Rerata Jumlah Kuadrat

Tabel 11
Uji signifikan Koefesien korelasi Kecemasan Kerja ( X3 ) dengan Akuntabilitas Kepala
Sekolah ( Y )
n Korelasi Koefesien
Korelasi ( r,t)
t hitung t tabel
0,05 0,01
50 X2 dan Y -0,35 -2,57** 1,68 2,42
** Signifikan

4. Hubungan perilaku kepemimpinan ( X1 ) dan konsep diri ( X2 ) secara bersama
sama dengan akuntabilitas ( Y )
Dari hasil uji regresi dan korelasi sederhana antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan
konsep diri secara bersama sama dengn akuntabilitas diperoleh besarnya koefesien garis
regresi yaitu konstanta regresi ao sebesar 43,81 dan koefesien arah regresi a1sebesar 0,40 dan
nilai koefesien regresi a2sebesar 0,22 sehingga hubungan antara ketiga variabel tersebut
ditunjukkan oleh persamaan garis regres = 43,81 + 0,40 X1 + 0,22X2
Hasil uji f atas signifikan koefesien regresi dan kelinieran model regresi adalah Fh = 11,05 >
Ft = 5,08 yang berarti perilaku kepemimpina kepala sekolah ( X1 ) dan konsep diri ( X2 )
terahadap akuntabilitas ( Y ) yang sangat signifikan.

Tabel 12
Tabel ANAVA Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi
=43,81 + 0,40 X1+0,22X2
Sumber
varians
dk JK RJK Fh F1
0,05 0,01
Total 49 3772,50 - -
Regresi 1 1206,37 603,18 11,05** 3,19 5,08
Sisa 47 2566,13 54,60 - - -
Keterangan :
** = Regresi sangat signifikan
dk = Derajat kebebasan
Jk = Jumlah Kuadrat
RJK = Rerata Jumlah Kuadrat

Tabel 13
Uji signifikan Koefesien korelasi Perilaku kepemimpinan ( X1 ) dengan Akuntabilitas Kepala
Sekolah ( Y )
n Korelasi Koefesien
Korelasi ( r,t)
t hitung t tabel
0,05 0,01
50 ry12 0,56 11,05** 3,19 5,08
** Signifikan

Tabel 14
Rekapitulasi Peringkat Hubungan Perilaku Kepemimpinan dan Konsep Diri dengan
Akuntabilitas Kepala Sekolah
10

n Korelasi
Parsial
Koefesien
Korelasi
Parsial
Peringkat
50 ry1,2 0,44 Pertama
50 ry2,1 0,26 Kedua
Keterangan :
Ry1,2 = Koefesien korelasi Y dan X1 Jika X2 dikontrol
Ry2,1 = Koefesien korelasi Y dan X2 jika X1 dikontrol

Penutup
Berdasarkan hasil hasil penelitian ditemukan, pertama terdapat hubungan positif dan
signifikan antara perilaku kepemimpinan dengan akuntabilitas kerja kepala sekolah, artinya
jika seorang kepala sekolah memiliki perilaku kepemimpinan yang efektif maka akuntabilitas
kerjanya akan cenderung tidak efektif sebaliknya jika memiliki perilaku kepemimpinan yang
tidak efektif maka auntabilitas kerjanya akan cenderung tidak efektif.
Kedua, terdapat hubungan positif dan signifikan antara konsep diri denag
akuntabiitas kerja kepala sekolah. Artinya, jika seorang kepala sekolah memilki konsep diri
positif maka akuntabilitas kerjanya akan cenderung lebih efektif, sebaliknya jika memiliki
konsep diri negatif maka akuntabilitas kerjanya akan cenderung tidak efektif.
Ketiga, terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara kecemasan kerja
dengan akuntabilitas kepala sekolah, artinya jika seorang kepala sekolah memiliki perilaku
kepemimpinan kecemasan tertinggi maka akuntabilitas kerjanya akan cenderung tidak efektif,
sebaliknya jika memiliki kecemasan kerja rendah maka akuntabilitas kerjanya akan cenderung
lebih efektif
Keempat terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara perilaku
kepemimpinan dan konsep diri secara bersama sama dengan akuntabilitas kerja kepala
sekolah. Artinya jika kepala sekolah memiliki perilaku kepemimpinan dan konsep diri positif
maka akuntabilitas kerjanya akan cenderung lebih efektif, sebaliknya jika memiliki perilaku
kepemimpina dan konsep diri negatif maka akuntabilitas kerjanya akan cenderung kurang
efektif
Dengan demikian maka kesimpulan disertasi adalah akuntabilitas kerja kepala
Sekolah Menengah Pertama Di Kota Tangerang dapat ditingkatkan melalui peningkatan
perilaku kepemimpinan dan peningkatan konsep diri mereka.

Implikasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas kepala Sekolah Menengah Pertama
berhubungan positif yang sangat erat dengan perilaku kepemimpinan dan konsep diri baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama, serta berhubungan negatif yang sangat erat dengan
kecemasan kerja. Temuan ini memberi implikasi bahwa akuntabilitas kerja kepala sekolah
dapat ditingkatkan melalui peningkatan perilaku kepemimpinan, peningkatan konsep diri dan
pengurangan kecemasan kerja.
1. Upaya peningkatan perilaku kepemimpinan kepala sekolah
Tugas kepala Sekolah dalam kaitannya dengan menejemen pendidikan bukanlah pekerjaan
mudah karena harus mengusahakan tercapainya tujuan sekolah dan tujuan tenaga
kependidikan. Olehkarena tu kepala sekolah dituntut untuk mengerjakan berbagai cara cara
pengelolaan tenaga kependidikan untuk membantu kelancaran pendidikan.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah pengendalian iklim sekolah yang ditandai oleh
produktifitas staf , produktifitas siswa, dan fikiran kreatif. Sebagai konsekwensi, kualitas
perilaku kepala sekolah merasakan manfaat organisasi mereka. Sejumlah perilaku yang kepala
sekolah yang harus dijalankan dalam mempengaruhi para pengikut untuk merelaisasikan
tujuan organisasi sekolah adalah ( 1 ) Menganalsis karakteristeik pengikut ( 2 ) memilih dan
11

menggunakan kekuasaan ( 3 ) memilih dan menggunakan tehnik mempengaruhi ( 4 )
Menggunakan karakteristik pribadi ( 5 ) Menganalisis hasil yang mempengaruhi ( 6 )
Mengevaluasi hasil kepemimpinan. Seberapa besar para bawahan seberapa besar para
bawahannya merasakan manfaat organisasi mereka. Sejumlah perilaku kepala sekolah yang
ditandai oleh produktifitas staf , siswa dan fikiran kreatif Untuk melakukan berbagai
pembinaan dalam kaitnnya dengan peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan kualitas
sekolah kepala sekolah harus memperhatikan : ( 1 ) Memepunyai visi yang bermutu ( 2 )
Mempunayi komitmen yang jelas ( 3 ) Mengkomunikasikan pesan yang berkaitan dengan
kualitas ( 4 ) Menjamin kebutuhan peserta didik ( 5 ) Meyakinkan para pesera didik dan orang
tua dan masyarakat ( 6 )Mendukung perkembangan tenaga kependidikan ( 7 ) tidak buruk
sangka ( 8 ) Melakukan inovasi terhadap sekolah ( 9 ) Menjamin struktur organisasi ( 10 )
Mengembangkan komitmen ( 11) Membangun time work ( 12 ) Mengembangkan mekanisme
2. Upaya Pengendalian konsep diri kepala sekolah
Upaya pengendalian konsep dirin kepala sekolah berdasarkan kajian diatas diharapkan dengan
kemampuan mengendalikan konsep diri akn memilki kemampuan secara profesional dalam
memimpin organisasi sekolah
3. Mengatasi kecemasan kerja kepala sekolah
Beberapa metode dan tipmengatasi kecemasan kerja adalah ;( a ) Cari faktor penyebab suatu
masalah . Gunakan kemampuan untuk menganalisis, mengamati dan mengumpulkan
informasi tentang penyebab kecemasan . Intinya kalau penyebab kecemasan difahami ,
diharapkan akan surut sendiri kecemasan itu. ( b ) Evaluasi diri, unuk meyakinkann diri perlu
ditinjau seberapa jauh bidang atau pos pekerjaan itu ada, apakah tantangannya memadai
dengan diri kita dan apakah masih tersedia kesempatan untuk mengembangkan karier ?
Bagaimana status profesional dan gaji dibandingkan dengan orang-orang lain dibidang yang
sama ? Bagaimana jadwal kerjanya ? Apakah tidak tetap ? Sebab Jadwal kerja yang sering
berubah ubah menggangu ketenangann dan bisa menimbulkan kecemasan. Kerja lembur
karena terpaksa atau tanpa kontraprestasi yang memadai juga bisa menyebabkan kejenuhan
( c ) Perasaan bukan fikiran, Klau dengan upaya yang dilakukan sendiri, kecemasan tetap saja,
maka orang kemudian mencari pertolongan dari profesional yang menawarkan pelbagai
metode manajemen kecemasan. Tidak selalu kecemasan itu diatasi dengan fikiran, ada juga
metode manajemen kecemasan gaya baru, misal Heart Math, tehnik menejemen kecemasan
yang berasal dari Kalifornia ( AS ) ini memanfaatkan perasaan positif yang dibandingkan oleh
kenangan manis terutama oleh musik, untuk mengubah irama detak jantung sehingga
kesehatan mental dan fisik si empunya jantung dapat diperbaiki.

Saran
Akuntabilitas kepala sekolah atas pelaksanaan tuga dan tanggung jawabnya tidak terlepas dari
peran perilaku kepemimpinan,mkonsep diri dan kecemasan kerja untuk tu semua diperlukan :
( a ) Pengawas sekolah melaksanakan tufoksinya ( b ) Kepala sekolah dituntut melakukan
akuntabilitas terhadap pelaksaanan pendidikan di sekolah ( c ) Konsep diri kepla sekolah
faktor terpenting dari setiap perilaku( d ) Kecemasan merupakan salah satu faktor turut
menentukan akuntabilitas kepada sekolah( e ) Kepala sekolah hendaknya segera mengubah
kinerja kerja mereka jauh lebih baik

Daftar Pustaka
Aitken, Judith E Core Competencies for school principals, 2004 ( http :
www.ero.govt.nz/publication/eers1995/95no6hl.htm )
Anderson, corrine . competency based curiculum, 2004 ( http:/www.Mindeve-
lopers.org/curriculum.html)
12

Arifin, Anwar, Tujuan Politik terhadap Otonomi Pendidikan tinggi. Makalah disajikan pada
seminar Nasional Otonomi Pendidikan Tinggi di Hotel Indonesia. Jakarta Forum wacana
UJN, 2002.
Atmodiwiro, Soebagyo, Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Ardadizya Jaya, 2000
Atwater, Eastwood. Psychology of Adjustment: Personal Growth in a Changing World.
Englewood Cliffs, New Jersey:Prenticehall,inc.1983
Rahmat, Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2000
Rusdiyanta, Globalisasi dan Implikasinya Terhadap Perilaku Kepemimpina di Indonesia, 2004
( http;//www.Pendidikan. net/.)
Hasibuan, Melayu, Manajemen, Dasar, Pengertian dan masalah, Jakarta : Masagung 1990
Siagian, Sondang P , Teori dan peraktek kepemimpinan, Jakarta : Rieneka Cipta, 1999
Slamet P.H. Manajemen berbasis sekolah . Balitbang-depdiknas 2004
Sudjana, Metode Statistik Bandung, Tarsito, 1992