Anda di halaman 1dari 7

A.

Tujuan pembelajaran
1. Melaksanakan anamnesis atau aloanamnesis pada pasien penurunan
kesadaran.
2. Menerangkan mekanisme terjadinya penurunan kesadaran.
3. Membedakan klasifikasi penurunan kesadaran.
4. Menjelaskan etiologi penurunan kesadaran.
5. Mengidentifikasi tanda dan gejala penurunan kesadaran.
6. Melaksanakan pemeriksaan neurologi pada pasien penurunan kesadaran.
7. Merencanakan pemeriksaan radiologi dan pencitraan lainnya (CT Scan
kepala) untuk penunjang diagnosis etiologi pasien dengan penurunan
kesadaran.
8. Membedakan diagnosis banding penurunan kesadaran(stroke, tumor,
pseudotumor meningitis, ensefalitis, dan meningoensefalitis).
9. Memilih berbagai pemeriksaan laboratorium untuk membantu
menegakkan diagnosis etiologi penurunan kesadaran.
10. Mahasiswa mampu menentukan indikasi dan kontraindikasi lumbal punksi
11. Menentukan pasien dengan penurunan kesadaran sebagai kasus
kegawatan neurologi dirujuk ke rumah sakit.
12. Merencanakan manajemen terapi penurunan kesadaran(terapi medik
atau operatif).
13. Mengetahui indikasi tindakan bedah pada pasien penurunan kesadaran.
BAB 3
PENURUNAN KESADARAN
Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006
14. Mengetahui prognosis pasien penurunan kesadaran.
15. Menentukan kapan penderita dengan penurunan kesadaran dilakukan
rujukan.
B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda
Sebagai persiapan, dapatkah Saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan :
1. Bagaimana melakukan penilaian tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma
Scale (GCS)?
2. Apa saja etiologi penurunan kesadaran?
3. Bagaimana membedakan penyebab penurunan kesadaran dengan
melakukan anamnesis dan pemeriksaan pada pasien? Apa saja tanda-tanda
lateralisasi yang dapat ditemukan pada pasien?
4. Bagaimana mekanisme terjadinya penurunan kesadaran?
5. Bagaimana melakukan pemeriksaan refleks pupil, refleks kornea, dolls eye
phenomen (Brainstem reflex)?
6. Dapatkah saudara melakukan asesmen rangsang meningeal (kaku kuduk,
Brudzinski I, Brudzinski II, Kerniq)?
7. Apa indikasi dan kontraindikasi tindakan pungsi lumbal ?
8. Pemeriksaan penunjang apa yang harus dikerjakan untuk menegakkan
diagnosis?
9. Bagaimana mengidentifikasi kasus-kasus penurunan kesadaran yang harus
dirujuk? Apa tindakan pertolongan pertama yang harus diberikan?
Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006
C. Algoritma kasus
Algoritma Penurunan Kesadaran
Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006
Algoritma Stroke Gadjah Mada
Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006
Algoritma Infeksi Susunan Saraf Pusat
Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006
D. Daftar keterampilan (kognitif dan psikomotor)
1. Mampu menilai tingkat kesadaran dengan glasgow coma scale
2. Mampu melakukan pemeriksaan tanda-tanda iritasi meningeal Lihat buku
panduan skills lab blok 18, Medika, 2005
3. Memeriksa tanda-tanda refleks brainstem (refleks pupil, refleks kornea,
dolls eye phenomen)
4. Mampu melakukan pemeriksaan refleks fisiologis
5. Mampu melakukan pemeriksaan refleks patologis
E. Penjabaran prosedur
Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil
Pada pupil terdapat 2 otot yang bekerja berlawanan yaitu m. sfingter pupilae
dan m. dilatator pupilae. Masing-masing otot tersebut dipersarafi oleh serabut
parasimpatis nervus III untuk sfingter dan saraf simpatis untuk dilatator
pupilae.
1. Ukuran dan bentuk pupil
Secara praktis, kedua pupil adalah sama dan sebantun, berbentuk bulat
dan berbatas licin. Perbedaan diameter pupil kanankiri sampai 1 mm
masih dianggap normal. Anisokor dianggap tidak patologis selama kedua
pupil bereaksi terhadap penyinaran dengan sama cepatnya.
2. Refleks cahaya langsung
Kepala pasien kita pegang dengan tangan kiri agar tekfiksir. Lalu salah satu
pupil disorot dengan lampu senter dari samping agar pupil satunya tidak
ikut tersorot. Tes ini positif bila timbul miosis pada pupil tersebut. Bila
sinar dimatikan, pupil akan melebar kembali.
Utuhnya nervus III (lintasan aferen dan eferen) serta efektor menjamin
refleks cahaya yang positif.
Panduan Belajar Ilmu Penyakit Saraf 2006
3. Refleks cahaya konsensual (tidak langsung)
Cara pengerjaannya sama dengan di atas. Penyinaran terhadap pupil sesisi
akan menyebabkan miosis pada kedua sisi. Miosis yang terjadi pada pupil
yang tidak disinari ini disebut refleks konsensual.
4. Refleks akomodasi (konvergensi)
Pada penetapan mata ke satu benda dekat mata, mata akan berkonvergensi.
Sinkron dengan gerakan konvergensi ini, m. siliaris juga berkontraksi
sehingga menimbulkan kontraksi pupil (miosis).
Pupil yang semakin menyempit pada penetapan terhadap obyek yang
semakin mendekat menandakan kalau refleks pupil akomodasi baik.
Refleks Kornea
Komponen aferen dan eferen busur refleks kornea disusun oleh serabut
sensorik nervus V cabang oftalmik dan serabut eferen nervus VII yang
mensarafi m. orbicularis okuli.
Cara periksa:
pasien diminta melirik ke atas atau ke samping supaya mata jangan berkedip
bila kornea hendak disentuh
gores seutas kapas pada kornea (jangan pada konjungtiva bulbi) pada
satu sisi untuk membangkitkan gerakan reflektorik berupa kedipan mata
secara bilateral
bila mata tidak berkedip bisa berarti ada kelumpuhan cabang oftalmik n.
V atau kelumpuhan fasialis perifer.
Dolls eye phenomen
Pemeriksaan kaku kuduk
Brudzinski neck sign
Brudzinski kontralateral
Kernig sign