Anda di halaman 1dari 40

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku Konsumtif
1. Pengertian Perilaku Konsumtif
Kata "konsumtif' (sebagai kata sifat; Iihat akhiran - i f ) sering diartikan sama
dengan kata "konsumerisme". Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala
sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus
menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang
diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini.
Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang
memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa
yang bukan menjadi kebutuhan pokok (Tambunan, 2001). Misalnya sebagai ilustrasi,
seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Orang tersebut membelanjakan 400
ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100
ribu dibelanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja
sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi
apabila orang tersebut dibelanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan
(apalagi membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka dapat disebut
berperilaku konsumtif.
11
12
Konsumtivisme adalah pola-pola konsumsi yang bersifat foya-foya,
pemborosan, kepuasan yang dapat ditunda menjadi kepuasan yang harus segera
dipenuhi (Lamarto, 1985). Perilaku konsumtif menyebabkan seseorang selalu merasa
tidak puas, tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya (Serviam, 1983). Dahlan
(dalam Husna, 1990) mengartikan komsumtivisme sebagai kehidupan mewah dan
berlebihan, penggunaan pada segala hal yang dianggap paling mahal yang
memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik yang sebesar-besarnya. Grinder (1978)
menjelaskan bahwa pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu
keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata disebut sebagai
komsumtivisme. Selanjutnya, Subaijo (dalam Lestari, 1960) mengartikan konsumtif
sebagai pemakaian barang-barang untuk kebutuhan, tetapi perilaku tersebut seolah-
olah berdiri sendiri tanpa ikatan, pedoman atau kontrol dari suatu skala nilai. Sachari
(1984) menjelaskan konsumtivisme teijadi karena masyarakat mempunyai
kecenderungan materialistik, hasrat yang besar untuk memilki benda-benda tanpa
memperhatikan kebutuhannya. Ali (1983) menambahkan bahwa konsumtivisme
muncul karena masyarakat tidak lagi mengenali kebutuhan yang sejati, namun justru
selalu tergoda untuk memuaskan keinginannya yang semu agar disebut orang
modern.
Konsumtivisme sebagai kata sifat berkaitan dengan perilaku konsumtif.
Perilaku konsumtif adalah perilaku seseorang yang dikendalikan oleh suatu keinginan
untuk memenuhi hasrat kesenangan duniavvi semata-mata (Grinder, 1978). Lubis
13
(1987) mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang
tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional melainkan karena adanya
keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi. Mowen (1995)
menjelaskan bahwa perilaku konsumen yang bertindak secara emosional tanpa
didasarkan perencanaan dan kebutuhan melainkan hanya karena suatu pemuasan,
pemenuhan keinginan akan suatu produk yang dianggap menarik, kemudian
melakukan pembelian dengan tidak mempertimbangkan sisi keuangan. Orang yang
membeli sesuatu karena keinginannya, maka orang tersebut tergolong bertindak tidak
rasional dan akan menjadi perilaku yang konsumtif. Dengan lain kata, perilaku
konsumen yang rasional adalah perilaku membeli yang tidak didasarkan pada
emosinya melainkan rasio. Misalnya orang membeli barang tidak didasarkan pada
keinginannya, tapi pada saat itu barang memang dibutuhkan dan harus segera dibeli.
Menurut Wirawan (dalam Husna, 1990) seharusnya nilai (dalam uang)
seluruh perilaku konsumen tidak boleh lebih besar dari hasil keija (upah) yang
dihasilkannya. Dengan perkataan lain, nilai produksi (pendapatan) harus selalu lebih
besar atau setidak-tidaknya sama dengan nilai konsumsinya. Jika nilai konsumsinya
berkembang terus dan tidak tertahankan, maka akan timbul kesulitan-kesulitan yang
sebenarnya tidak perlu teijadi, dan pola konsumsinya menjadi konsumtif. Perilaku ini
pada akhirnya mengakibatkan pemborosan (Lamarto dalam Santoso, 1998).
Perilaku komsumtif sebagian besar dilakukan kaum wanita. Hadipranata
(dalam Rosyid dan Lina, 1997) mengamati bahwa wanita mempunyai kecenderungan
14
lebih besar untuk berperilaku konsumtif dibandingkan pria. Hal ini disebabkan
konsumen wanita cenderung lebih emosional, sedang konsumen pria lebih nalar.
Hadipranata (dalam Psikomedia, 1991) mengatakan bahwa wanita sering
menggunakan emosinya dalam berbelanja. Kalau emosi sudah menjadi raja
sementara keinginan begitu banyak, maka yang teijadi adalah mereka akan jadi
pembeli yang royal. Tambunan (2001) menjelaskan kecenderungan perilaku
konsumsi pria yaitu mudah terpengaruh bujukan penjual, sering tertipu karena tidak
sabaran dalam memilih barang, mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli
sesuatu setelah memasuki toko, kurang menikmati kegiatan berbelanja sehingga
sering terburu-buru mengambil keputusan membeli. Sebaliknya, perilaku konsumsi
wanita yaitu lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan
kegunaannya, mudah terbawa arus bujukan penjual, menyenangi hal-hal yang romatis
daripada objektif, cepat merasakan suasana toko, dan senang melakukan kegiatan
berbelanja walau hanya windows shopping (melihat-lihat tapi tidak membeli).
Berdasarkan uraian tersebut maka perilaku konsumtif dapat disimpulkan
sebagai perilaku konsumen yang bertindak secara emosional tanpa didasarkan
perencanaan dan kebutuhan melainkan hanya karena suatu pemuasan, pemenuhan
keinginan akan suatu produk yang dianggap menarik. Perilaku konsumtif tidak lagi
didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan dikendalikan oleh keinginan untuk
memenuhi hasrat kesenangan duniawi. Kaum wanita cenderung untuk berperilaku
15
konsumtif dibandingkan kaum pria. Perilaku konsumtif menyebabkan seseorang
selalu merasa tidak puas, tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya.
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif.
Menurut Zumrotin (dalam Lestari, 1996) perilaku konsumtif ditunjang oleh
beberapa faktor, antara lain :
a. Naiknya pendapatan. Perkembangan bidang ekonomi membawa dampak
pada masyrakat, salah satunya adalah naiknya pendapatan. Kenaikan ini
diikuti penambahan kebutuhan hidup masyarakat, tidak hanya dalam mutu
dan jumlah tetapi juga ragamnya. Misal saja dulu masyarakat membeli
perabot rumah tangga yang sesuai dengan kebutuhannya, sekarang dalam
membeli perabot rumah tangga mempertimbangkan merek dan gengsi.
b. Iklan. Media massa berfungsi mengkomunikasikan suatu produk kepada
masyarakat dengan iklannya. Iklan merupakan alat produsen untuk
mempromosikan produknya. Iklan yang gencar akan mengakibatkan rasa
ingin tahun pada masyarakat, rasa ingin tahu ini terobati bila masyarakat
atau konsumen telah memakai atau memiliki produk
c. Westernisasi
Masyarakat menganggap apa saja yang berasal dari negeri barat adalah yang
terbaik. Apa yang dilakukan dan dipakai orang barat patut dan harus ditiru
agar dikatakan modern. Gejala ini tampak ketika hal-hal yang berbau negeri
barat mendapat tempat yang baik dalam negeri ini.
16
Swasta flan Handoko (1987) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumtif seseorang. Pertama, faktor eksternal. Perilaku konsumtif
dipengaruhi oleh (a) kebudayaan, (b) kelas sosial, (c) kelompok sosial dan kelompok
referensi, dan (d) keluarga. Kedua, faktor internal, yang termasuk dalam faktor
internal adalah (a) motivasi, (b) pengamatan dan belajar, (c) kepribadian dan konsep
diri. Rismiyati dan Suratno (2001) menjelaskan faktor ekstern yang mempengaruhi
perilaku konsumen tersebut sebagai berikut:
a. Kebudayaan. Kebudayaan menurut Sulaeman (1995) adalah aktivitas manusia
yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan
sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuan. Kebudayaan adalah
keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang diatur oleh tata
kelakukan, yang harus didapatkannya dengan belajar dan semuanya tersusun
dalam kehidupan masyarakat (Kuntjaraningrat dalam Pasha, dkk, 2000).
Sependapat dengan Kuntjaraningrat, Stanton (dalam Dharmesta dan Handoko,
2000) mengemukakan kebudayaan sebagai simbol dan fakta yang komplek,
yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari genarasi ke generasi sebagai
penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat yang ada. Dari
pengertian tersebut dapat disimpulan bahwa perilaku manusia sangat
dipengaruhi oleh kebudayaan yang ada, dan pengaruhnya selalu berubah
sesuai dengan kemajuan atau perkembangan zaman.
17
b. Kelas sosial adalah pembagian dalam masyarakat yang terdiri atas individu-
individu yang berbagai nilai, minat, dan tingkah laku yang serupa. Ukuran
atau kriteria yang biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-
anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas tertentu adalah sebagai berikut: (1)
kekayaan, (2) kekuasaan, (3) kehormatan dan (4) ilmu pengetahuan. Menurut
Engel, dkk (1994) status sosial sering menghasilkan bentuk-bentuk perilaku
konsumen yang berbeda-beda (misalnya merek dan model mobil yang
dikendarai dan pakaian yang disukai). Kelas sosial juga menunjukkan
pemilihan produk dan merek tertentu dalam bidang-bidang seperti pakaian,
peralatan rumah tangga, aktivitas diwaktu senggang, dan mobil (Tunggal,
2002).Menurut Moschis dan Churchill (dalam Husna, 1990) ada korelasi yang
erat antara umur, jenis kelamin dan status sosial ekonomi terhadap perilaku
konsumen.
c. Kelompok sosial dan kelompok referensi, kelompok sosial adalah kesatuan
sosial yang menjadi tempat individu berinteraksi satu sama lain, karena
adanya hubungan diantara mereka. Loudon dan Bitta (1993) menyatakan
bahwa kelompok sosial sangat berpengaruh terhadap konsumen. Pengertian
kelompok referensi sosial adalah kelompok sosial yang menjadi ukuran
seseorang (bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk kepribadian
dan perilaku (Dharmasesta dan Handoko, 2000). Menurut Kotler dan Cox
(1984) kelompok referensi jenis kelompok terhadap siapa seseorang
memandang dirinya mempunyai hubungan sebagai warga kelompok dan
18
berhasrat untuk mempunyai hubungan psikologis. Kelompok referensi
mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian, dan sering dijadikan
pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku. Dalam penelitian Loudon
dan Bitta (1993) didapatkan suatu hubungan yang berarti antara kelompok
referensi dengan pemasaran, karena kelompok referensi berhubungan erat
dengan keputusan membeli.
d. Keluarga. Keluarga merupakan unit pengambilan keputusan utama dengan
pola peranan dan fungsi yang berbeda-beda. Sumber yang mempengaruhi
pembelian juga berbeda, tergantung jenis barang yang akan dibeli. Misalnya,
anak-anak mempengaruhi pembelian kue, kembang gula dan mainan (Ward
dan Wackman dalam Anastasia, 1993). Diantara anggota keluarga, ibu rumah
tangga yang memegang uang dan mengatur pengeluaran dalam keluarga.
Engel, dkk. (1973) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumtif ditinjau dari konsumen. Perilaku konsumen dalam membeli barang
dipengaruhi beberapa faktor yang pada intinya dibedakan menjadi tiga, yaitu faktor
internal meliputi (1) motivasi dan harga diri, (2) pengamatan dan proses belajar, (3)
kepribadian dan konsep diri. Rismiyati dan Suratno (2001) menjelaskan faktor
internal yang mempengaruhi perilaku konsumen tersebut sebagai berikut:
a. Motivasi. Perilaku manusia ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motif.
Motivasi merupakan dasar pembelian seseorang terhadap suatu produk atau
pada penjual tertentu (Dharmesta dan Handoko, 2000). Motivasi merupakan
19
pendorong perilaku orang, tidak terkecuali dalam melakukan pembelian atau
penggunaan jasa yang tersedia di pasar. Harga diri berpengaruh pada perilaku
membeli, orang-orang yang harga dirinya rendah akan cenderung lebih mudah
dipengaruhi daripada orang-orang yang harga dirinya tinggi (Sears, et. Al,
1992).
b. Pengamatan dan proses belajar. Sebelum seseorang mengambil keputusan
untuk membeli produk, ia akan mendasarkan keputusannya pada pengamatan
yang dilakukan. Howard dan Weth (1960) menyatakan pembelian merupakan
rangkaian proses belajar konsumen. Bila ada pengalaman memuaskan maka
pembeli cenderung akan memutuskan membeli kembali (Mangkunegara &
Prabu, 1988). Pengamatan adalah suatu proses pada saat konsumen menyadari
dan menginterpretasikan aspek lingkungan. Teijadinya pengamatan ini
dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau dan sikap dari individu (Rismiati
dan Suratno, 2001). Proses pengamatan meliputi seluruh variabel pemasaran
perusahaan, konsumen akan mempunyai persepsi produk, harga, periklanan
dan penjualan dari kegiatan pemasaran perusahaan. Perbedaan pandangan
konsumen akan menciptakan proses pengamatan dalam perilaku pembelian
yang berbeda pula (Dharmesta dan Handoko, 2000). Proses pembelian yang
dilkuakan oleh konsumen merupakan sebuah proses belajar, hal ini sebagai
bagian dari kehidupan konsumen. Konsumen dalam proses pembeliannya
selalu mempelajari sesuatu, proses belajar pada suatu pembelian teijadi
20
apabila konsumen ingin menanggapi dan memperoleh suatu kepuasan
(Rismiati dan Suratno, 2001).
c. Kepribadian dan konsep diri. Kepribadian akan ikut berpengaruh terhadap
perilaku pembelian. Konsep diri merupakan pendekatan untuk
menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merek,
image penjual. Setiap orang memiliki kepribadian salah satunya adalah rasa
percaya diri dan konsep diri yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan
adanya pandangan yang berbeda terhadap suatu barang (Dharmesta dan
Handoko, 2000). Kepribadian dan konsep diri sangat berpengaruh pada
perilaku pengambilan keputusan untuk membeli produk, minuman, mobil,
warna pakaian dan kegiatan yang sifatnya rekreasional.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif dipengaruhi
oleh banyak faktor yang secara garis besar dibedakan atas faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor eksternal meliputi (1) kebudayaan, (2) kelas sosial, (3) kelompok
sosial dan referensi, (4) keluarga dan faktor internal meliputi (1) motivasi dan harga
diri, (2) pengamatan dan proses belajar, (3) kepribadian dan konsep diri.
21
3. Jenis-jenis Perilaku Konsumtif
Rosyid dan Lina (1997) menjelaskan tiga jenis perilaku konsumtif yaitu (1)
impulsive buying, (2) non rational buying, dan (3) wasteful buying. Impulsive buying
artinya perilaku pembelian yang berlebih-lebihan. Perilaku konsumen yang berlebih-
lebihan ditandai oleh sikap foya-foya dalam membeli barang, menghamburkan uang
untuk membeli barang-barang mewah yang kurang bermanfaat, dan joijoran dalam
berbelanja. Non rational buying artinya perilaku pembelian yang tidak rasioanal.
Konsumen yang berperilaku non rational memiliki karakteristik suka membeli barang
dengan harga yang tidak wajar dengan nilai manfaat barang. Wasteful buying artinya
perilaku pembelian yang bersifat boros. Perilaku pembelian yang bersifat boros
ditandai oleh pembelian barang oleh konsumen yang tidak disesuaikan dengan
kebutuhan yang harus dipenuhi oleh konsumen.
4. Karakteristik Perilaku Konsumtif
Handoko dan Swastha (1987) menjelaskan karakteristik perilaku konsumtif
seseorang sebagai berikut:
a. Keinginan individu untuk membeli barang yang kurang diperlukan.
b. Keinginan individu untuk membeli barang yang tidak diperlukan.
c. Perasaan tidak puas individu untuk selalu memilki barang yang belum dimilki.
d. Sikap individu berfoya-foya dalam membeli barang.
22
e. Kesenangan individu membeli barang dengan harga mahal yang tidak sesuai
dengan nilai & manfaatnya.
Grinder (1978) lebih lanjut menjelaskan tentang karakteristik individu yang
berperilaku konsumtif yaitu:
a. Pola konsumsi yang bersifat foya-foya / jor-joran.
b. Boros.
c. Tidak bisa menunda kepuasan.
d. Selalu merasa tidak puas jika belum memiliki barang yang diinginkan.
e. Meterialistik/hasrat memilki benda-benda tanpa memperhatikan
kebutuhannya.
5. Aspek-aspek Perilaku Konsumtif
Swasta dan Handoko (1987) menjelaskan aspek perilaku konsumtif
seseorang yaitu pola hidup dengan keinginan untuk membeli barang-barang yang
tidak diperlukan dan perasaan tidak puas selalu menyertai bila barang-barang yang
diinginkan belum dimiliki seseorang. Perilaku konsumtif ditunjukkan apabila
seseorang berpola konsumsi terhadap suatu barang yang tidak sebenarnya tidak
diperlukan. Semakin tinggi membeli pembelian suatu barang yang tidak diperlukan
maka semakin berperilaku konsumtif. Perasaan tidak puas juga menunjukkan perilaku
komsumtif seseorang. Semakin merasa tidak puas belum memiliki barang yang
diinginkan maka semakin berperilaku konsumtif.
23
Aspek-aspek perilaku konsumtif ditunjukkan pada (1) perilaku yang
mengarah pada pola hidup dengan keinginan untuk membeli barang-barang yang
kurang/tidak diperlukan, dan (2) perasaan tidak puas yang selalu menyertai individu
apabila barang-barang yang diinginkan belum dimiliki. Aspek-aspek tersebut secara
lebih rinci dapat dilihat dalam karakteristik perilaku konsumtif pada individu.
Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif
dapat dilihat dari tiga unsur jenis yaitu (1) impulsive buying, (2) non rational buying
dan (3) wasteful buying. Aspek-aspek perilaku konsumtif ditunjukkan pada (1)
perilaku yang mengarah pada pola hidup dengan keinginan untuk membeli barang-
barang yang kurang/tidak diperlukan, dan (2) perasaan tidak puas yang selalu
menyertai individu apabila barang-barang yang diinginkan belum dimiliki. Aspek-
aspek tersebut secara lebih rinci dapat dilihat dalam karakteristik perilaku konsumtif
pada individu.
24
B. Ci t ra Diri
1. Pengertian Citra Diri
Konsep citra diri dapat dijelaskan dari teori-teori psikologi tentang self. W.
James dalam bukunya : Principles of Psychology (1980, chapter X) merumuskan
pengertian "self atau yang disebutnya emprical me dalam arti umum sekali, yaitu
sebagai keseluruhan dari segala yang oleh orang lain disebut "nya" (his) : tubuhnya,
sifat-sifatnya, kemampuan-kemampuannya, milik-milik kebendaannya. Keluarganya,
teman-temannya, musuh-musuhnya, pekerjannya dan kenganggurannya, dan lain-lain
lagi.
James mempersoalkan selfitu dalam tiga hal :
(1) lis constituent (dasar, bagian-bagian).
(2) Self-feeling (rasa diri)
(3) The action of self-seeking and self preservation (mengembangkan diri dan
mempertahankan diri).
Dasar (komponen) .ve//ialah material self sodial self spriritual self dan pure
ego. Material self terdiri atas material possession, social self yaitu bagaimana
anggapan teman-teman "orang" lain terhadapnya, spiritual self ialah kemampuan-
kemampuan serta kecakapan-kecakapan psikologinya. Ego adalah fikiran yang
menjadi dasar daripadapersonal identity.
25
Istilah .ve//didalam psikologi mempunyai dua arti, yaitu :
(a) sikap dan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, dan
(b) suatu keseluruhan proses psikologis yang menguasai tingkah laku dan
penyesuaian diri.
Arti yang pertama itu dapat disebut pengertian self sebagai objek, karena
pengertian itu menunjukkan sikap, perasaan pengamatan dan penelitian seseorang
terhadap dirinya sendiri seagai objek. Dalam hal ini self itu berarti apa yang
difikirkan orang tentang dirinya. Arti yang kedua dapat disebut pengertian self
sebagai proses. Dalam hal ini selfAdalah suatu kesatuan yang terdiri atas proses-
proses aktif seperti berfikir, mengingat dan mengamati.
Kedua pengertian itu demikian berbedanya sehingga ada penulis-penulis
yang mempergunakan istilah yang berlainan ; kalau bermaksud untuk menunjukkan
pengertian terhadap diri sendiri dipakai kata self sedangkan kalau bermaksud untuk
menunjukkan kelompok daripada proses-proses psikologis dipakai istilah ego, akan
tetapi cara ini tidak selalu diikuti, kadang-kadang self dan ego dipakai dalam arti yang
berkebalikan dengan apa yang dikemukakan diatas, atau dapat juga teijadi baik
pengertian .ve//maupun pengertian ego dipakai untuk menunjukkan kedua-duanya.
Dengan bersandar kepada teori psikoanalisis Symod dalam bukunya yang
berjudul The ego and the self (1951) memberi batasan Ego sebagai suatu kelompok
proses, yaitu proses-proses mengamati, mengingat dan berfikir, yang perlu untuk
membuat dan melaksanakan rencana tindakan untuk mencapai kepuasan sebagai
26
response terhadap dorongan dari dalam, dan self sebagai cara-cara bagaimana
seseorang bereaksi terhadap dirinya sendiri. Self itu mengandung empat aspek yaitu :
(1) bagaimana orang mengamati dirinya sendiri,
(2) bagaimana orang berpikir tentang dirinya sendiri,
(3) bagaimana orang menilai dirinya sendiri, dan
(4) bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurankan dan
mempertahankan diri.
Sarbin (1952) menyelidiki self sebagai struktur kognitif yang terdiri atas
pengertian-pengertian orang tentang berabgai aspek dari kodratnya (dirinya). Orang
dapat punya pengertian tentang tubuhnya (somatic self) tentang panca indera dan
otot-ototnya (receptor-effector self) dan tingkah laku sosialnya (social self). Self-self
ini yang merupakan sub struktur daripada struktur kognitif diterima pengalaman.
Menurut Chein, self itu bukan objek kesadaran seprti tubuh, akan tetapi lebih
merupakan isi kesadaran dan tidak mempunyai realitas terpisah dari eksadaran. Self
tak mengerjakan apa-apa, yang mengerjakan semua itu adalah ego.
George Herbard Mead, seorang filsuf sosial mengemukakan konsepsi self
yang besar pengaruhnya dalam pemikiran objek kesadaran daripada suatu sistem
proses-proses. Self itu berkembang dalam cara sebagai berikut : Mula-nula self tidak
ada karena orang tak dapat masuk ke pengalamannya secara langsung, artinya orang
tidak menurut bakatnya sara diri (self consious). Dia dapat mengalami orang lain
sebagai onjek tetapi mula-mula tidak menganggap dirinya objek. Tetapi orang laian
beraksi terhadapnya sebagai objek, dan reaksi ini dialami oleh orang yang diarahinya
27
(diberi reaksi). Sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman ini, dia belajar berfikir
tentang dirinya sendiri sebagai objek dan mempunyai sikap serta perasaan mengenai
dirinya sendiri. seseorang berespon sebagaimana orang lain berespon terhadapnya.
Jadi self menurut Mead ini adalah self yang terbentuk secara sosial; self ini hanya
dapat timbul dalam pergaulan sosial.
Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah :
(1) organism, yaitu keseluruhan individu (the total individual),
(2) medan phenomena, yaitu keseluruhan pengalaman (the totality of experience).
(3) Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari
pola-pola pengamatan dan penilaian daripada / atau me.
Organisme memiliki sifat-sifat berikut:
(a) Organisame beraksi sebagai keselurhan terhadap medan phenomenal dengan
maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
(b) Organisme mempunyai satu motif dasar yaitu mengakstualisasikan,
mempertahankan dan mengembangkan diri.
(c) Organisme mungkin melambangkan pengalamannya, sehingga hal itu disarai atau
mungkin menolak perlambangan itu, sehingga pengalaman-pengalaman itu tak
disarai atau mungkin juga oragnisme itu tak memperdulikan pengalaman-
pengalamannya.
(2) Medan phenomenal
Medan phenomenal punya sfat disadari atau tak disadari tergantung apakah
pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu dilambangkan atau tidak.
28
(3) Self
Self mempunyai bermacam-macam sifat:
(a) Self berkembang dari interaksi organisme dengan lingkungannya.
(b) Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya
dalam cara (bentik) yang tidak wajar.
(c) Se/f mengejar (menginginkan) consistency (keutuhan/kesatuan, keselarasn).
(d) Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras (consisten) dengan self
(e) Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamatai
sebagai ancaman.
(f) Se/fmungkin berubah sebagai hasil dari pematangan (maturation) dan belajar.
Sifat-sifat dari ketiga konsepsi itu dan saling hubungannya dirumuskan oleh
Rogers dalam 19 dalil dalam buku client-centered therapy (1951), dan ini yang
merupakan teori Rogers mengenai self.
Dari uraian diatas maka self dapat disimpulkan sebagai bagian dari
keseluruhan pengalaman (the totality of experience) yang terdiferensiasikan dan
terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian daripada I atau me. Selanjutnya
konsep self tersebut dapat digunakan untuk menelaah lebih jauh tentang konsep
tentang citra diri.
29
The SEA's Tools For Recovery Lifestyle (2003) mendefinisikan citra diri
yaitu:
a. How you regard yourself (bagaimana anda memperhatikan diri anda )
b. The mental picture of how you believe you appear to others (gambaran
mental tentang bagaimana anda percaya anda terlihat oleh orang lain).
c. How you picture physical self (bagaimana anda menggambarkan jiwa diri
anda).
d. Your idea (positive or negative, rational or irrational) of how you present
your self to others and how you are subsequently judged by them (ide anda
(positif atau negatif, rasional atau irasional) tentang bagaimana diri anda
tampil pada orang lain dan bagaimana selanjutnya anda ditentukan oleh
mereka).
e. A personal assesment of your character, personality, skills, abililty, and
others attributes (ukuran seseorang tentang karakter, kepribadian,
keterampilan, kemampuan, dan atribut yang lain).
f. A powerful internal mechanism influencing how your feel about yourself
(mekanisme kekuatan internal yang mempengaruhi bagaimana perasaan
anda terhadap diri anda).
Reynold (1973) mengkonsepsikan citra diri sebagai citra yang dibuat oleh
seseorang untuk menggambarkan sosok/jati diri yang diinginkannya. Jadi, citra diri
bukan merupakan penampilan sebenarnya jati diri seseorang, tetapi merupakan sosok
30
yang diinginkan oleh seseorang tentang dirinya. Scott (1973) menjelaskan citra diri
timbul karena keinginan seorang individu untuk tampil sebagaimana yang individu
inginkan. Dorongan internal dan eksternal mempengaruhi mental seseorang untuk
tampil sebagi sosok yang diinginkannya. Sosok yang ditampilkan bukan gambaran
asli jati diri individu, karena itu kesan yang dibuat oleh individu menjadi berbeda
dengan kondisinya yang sebenarnya.
Prakoso (2003) menjelaskan bahwa citra diri merupakan perangkat penting
sebagai sarana pengejawantahan keberadaan diri dalam kehidupan sosial, organisasi
dan dunia ragam. Citra diri adalah perangkat yang bukan sempurna, tidak sekedar
hitam putih, sebaliknya beraneka dalam nuansa dan penuh dinamika yang meliputi
perangkat penampilan, tingkah laku, pola berpikir dan emosi, dan kepribadian secara
keseluruhan.
Hadiwibowo (2003) memberikan definisi citra diri adalah gambaran
seseorang terhadap diri sendiri atau pikiran seseorang tentang pandangan orang lain
terhadap dirinya. Citra diri terkait dengan bagaimana cara seseorang memandang
dirinya dan bagaimana berpikir tentang penilaian orang lain terhadapnya. Misalnya
pendapat bahwa anak yang patut dibanggakan adalah anak yang mempunyai prestasi
belajar bidang akademis, padahal prestasi dapat diperoleh dari bidang-bidang lainnya;
seperti seni atau olahraga. Contoh lainnya adalah pendapat bahwa orang lain akan
menghargai seseorang jika cantik/tampan, pintar, kaya, menarik, atau langsing.
Sehingga orang yang mempunyai bentuk badan yang tidak ideal, bentuk muka kurang
31
indah, atau kurang berhasil dalam pelajaran dalam studinya tidak perlu dihargai.
Dampak dari hal tersebut yaitu orang akan tertipu dengan citra dirinya sendiri karena
mengikuti rumus citra diri sama dengan prestasi ditambah pendapat orang lain.
Penilaian ini secara psikologis mengakibatkan seseorang menjadi takut gagal, takut
menolak, takut dihukum, bahkan mengasingkan diri.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa citra diri adalah citra yang
dibuat individu menurut pandangan terhadap dirinya maupun pandangan orang lain
terhadap dirinya.
2. Jenis-jenis Citra Diri
Citra diri merupakan sesuatu yang bersifat abstrak yang berada dalam
pikiran seseorang (Kollat, 1987). Karena sifatnya abstrak citra diri hanya bisa
digambarkan dari pernyatan-pernyataan seseorang tentang sosok yang menjadi
keinginan dan pandangan orang lain terhadap diri seseorang.
Michael (2003) membagi citra diri dalam dua jenis yaitu citra diri positif dan
citra diri negatif. Citra diri positif akan membantu perkembangan pribadi seseorang
untuk meningkatkan kepercayaan diri {self esteem) dan membangun penerimaan diri
(self acceptance). Citra diri positif pada seseorang akan membantu merubah hidup
seseorang dan menciptakan suatu kekuatan memecahkan dan memandang
positif segala persoalan kehidupan. Contohnya sikap, pola pikir,
32
keyakinan dan perilaku yang dikemas secara positif dan penuh optimisme akan
menjadikan seseorang untuk selalu dapat melakukan sesuatu dengan menelaaah
kegagalannya dan mencari tahu bagian man dari dirinya yang menyebabkan
kegagalan tadi. Citra diri negatif menggambakan citra diri yang buruk. Citra diri yang
buruk akan membuat orang tidak menjadi seorang individu yang utuh, ini pada
akhirnya akan mengganggu kepercayaan diri seseorang. Contohnya kebanyakan anak
muda merasa tidak puas dengan penampilan atau kepribadiann mereka. Ada yang
merasa terlalu pendek atau terlalu tinggi, terlalu gemuk atau terlalu kurus, merasa
rambutnya sering rontok, merasa tidak pandai, dan lain-lain. Semua itu akan
mengganggu kepercayaan diri seorang individu.
Wolfe (1982) mengemukakan gambaran tentang sosok pribadi yang
diinginkan muncul sebagai dampak krisis identitas yang dialami seseorang, sehingga
membutuhkan sosok diri yang diingini. Kollat (1987) menjelaskan bahwa citra diri
muncul bersamaan dengan proses seseorang mencari jati dirinya, jati diri yang
sebenarnya yang tidak diinginkannya membuat individu menampilkann kesan
sebagaimana yang diharapkan.
Dimbleby dan Burton (1985) menjelaskan citra diri ditunjukkan tiga
pernyataan seseorang tentang dirinya (self) yaitu :
a. Self as I believe I am atau bagaimana saya mempercayai diri saya.
b. Self as I would like to be atau bagaimana saya menginginkan diri saya.
33
c. Self us 1 believe others see me atau bagaimana saya pcrcaya terhadap
pandangan orang lain terhadap saya.
Setiap manusia mempunyai sifat-sifat tertentu, cara berpikir tertentu, dan
lain-lain yang membantu manusia untuk menentukan bagaimana memandang dunia,
dan apa yang dibuat dengan hidupnya. Agar manusia mengerti sepenuhnya terhadap
dirinya, maka ia harus mengakui pentingnya dirinya dan berpikir mengenai hal-hal
yang ada disekitarnya. Citra diri, muncul ketika orang berpikir tentang dirinya dan
memandang dimanakah posisi dirinya dalam lingkungan disekitarnya.
3. Aspek-Aspek Citra Diri
Citra Diri dapat ditunjukkan dari aspek-aspeknya. Kartono (1998)
menjelaskan citra diri seseorang terlihat dari:
a. Pikiran seseorang. Gambaran tentang citra diri individu terlihat dari
pikirannya tentang sosok dirinya yang diidamkan dan diidealkan.
b. Perasaan seseorang. Citra diri individu ditunjukkan dari perasaannya
terhadap kondisi dirinya.
c. Perbuatan seseorang. Perilaku seseorang yang berbeda dengan kondisinya
sebenarnya menunjukkan bagaimana mereka membangun citra diri terhadap
dirinya.
Reitz dalam Thoha (1996) mengemukakan citra diri dapat dilihat dari tiga
komponen dalam diri manusia yaitu id, ego dan super ego. Id seorang individu
34
menunjukkan keinginan-keinginan dan pengharapan-pengharapannya yang
memerlukan pemuasan secara cepat. Pengharapan-pengharapan tersebut merupakan
insting psikologi yang bisa menunjukkan citra diri seorang individu. Ego merupakan
sumber sadar seseorang yang mengendalikan id. Dengan demikian ego mencoba
untuk menafsirkan kenyataan didunia ini untuk kebutuhan id dengan menggunakan
cara-cara yang intelek dan penalaran. Superego adalah sumber dari semua aktivitas
ego. Super ego berkembang dari saling interaksinya ego dengan masyarakat.
Gullohorn (1990) menjelaskan bahwa citra diri dapat dilihat dari beberapa
aspek sebagai berikut:
a. Penampilan seseorang. Gaya penampilan seseorang menunjukkan kesan
yang di bangun terhadap dirinya. Penampilan yang mencolok dibangun oleh
seseorang agar ia menjadi pusat perhatian.
b. Perilaku (behavior). Perilaku seseorang menunjukkan bagaimana dia
memandang dirinya. Perilaku manusia terjadi pada dua tingkat yaitu tingkat
fisik yang dapat diamati dan tingkat mental yang tidak dapat diamati.
Contoh menyangkut suatu peristiwa mental yang datang sebelum seseorang
menggunakan pakaian seksi. Mungkin orang tersebut mempunyai kesan
dirinya cantik bila tampil seksi, sehingga dia memutuskan untuk berperilaku
menggunakan busana seksi.
35
Sikap (attitude)
Sikap seseorang menunjukkan self image-nya. Coney dan Best (1980)
mendefinisikan sikap sebagai cara berpikir, merasakan, dan bertindak
terhadap beberapa aspek. Taylor (1987) mendefinisikan sikap sebagai
pandangan individu berdasarkan pengetahuan, penilaian dan proses orientasi
tindakan terhadap suatu objek atau gejala. Definisi sikap menurut Kotler
(1987) adalah sikap sebagai sebuah gambaran penilaian kognitif yang baik
maupun tidak baik, perasaaan emosional dan kecenderungan, berbuat yang
bertahan selama waktu tertentu terhadap beberapa objek atau gagasan.
Loudon dan Dellabitta (1993) menyatakan, ada 4 (empat) konsep definisi
sikap yaitu :
1) Sikap adalah sejauh mana perasaan seseorang terhadap suatu objek,
negatif atau positif, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju.
2) Sikap adalah suatu perasaan atau suatu reaksi penilaian terhadap suatu
barang.
3) Sikap adalah perasaan yang berlangsung terus-menerus dari motivasi,
emosi, persepsi dan proses kognitif dalam menanggapi sejumlah aspek
dalam dunia individu.
4) Sikap adalah fungsi keyakinan yang dipegang seseorang terhadap
bermacam-macam objek dan evaluasi terhadap keyakinan yang
berhubungan dengan objek tersebut.
36
Fuster (1985) menjelaskan beberapa karakteristik gambaran keliru tentang
diri seseorang sebagai berikut:
a. Menghargai diri hanya berdasarkan prestasi. Orang dibesarkan dan dididik
dalam suasana kebudayaan dimana harga diri seseorang lebih ditentukan
berdasarkan prestasi yang dicapainya; prestasi akademis, keterampilan dsb.
Maka bila orang tidak puas akan apa yang dicapai dan mutu yang diraihnya,
orang memiliki gambaran yang miskin tentang dirinya.
b. Sikap perfeksionis. Beberapa orang yang memiliki sikap perfeksionis ingin
segala-galanya sempurna dan tidak mau melihat kenyataan diri apa adanya
dengan seluruh kekurangannya. Mereka sangat ambisius dan tak ada sesuatu
pun yang cukup memuaskan bagi mereka. Bila mereka terus menerus gagal
mencapai standar yang tinggi mereka merasa dirinya jelek dan rendah.
c. Tak mampu melihat segi baik dalam dirinya. Orang akan memiliki gambaran
yang keliru tentang dirinya bila senantiasa membandingkan apa yang dimiliki
oleh orang lain dan dia tidak punya. Hal ini membutakan mereka terhadap
segi-segi baik yang mereka miliki, sehingga mereka tidak dapat melihat hal-
hal yang baik yang ada pada diri mereka. Permbandingan yang tidak
menguntungkan kerap dibuat sehubungan dengan berbagai hal seperti bentuk
tubuh, suara, rambut, kecantikan, keadaan sosial, prestasi akademis, status,
dsb.
d. Kerendahan hati yang keliru. Satu alasan yang cukup penting, yang
membentuk gambaran diri yang salah ialah kekeliruan dalam penghayatan
37
kehidupan rohani yang memandang penghargaan diri yang rendah sebagai
kerendahan hati dan apa pun yang dikerjakan bagi dirinya adalah tindakan
egoistis.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa citra diri dapat dibagi
menjadi dua jenis yaitu citra diri positif dan citra diri negatif. dapat dilihat dari
aspek-aspeknya dan karakteristiknya. Gambaran tentang citra diri dapat dilihat dari
aspek-aspeknya, diantaranya adalah (1) penampilan (performance), (2) perilaku
(behaviorj, dan (3) sikap (attitude)
C. Mahasiswi dan Permasalahannya
Mahasiswi termasuk dalam golongan remaja atau adolescence yang
menunjukkan masa pertumbuhan seseorang antara 12-22 tahun dan mencakup seluruh
perkembangan psikis yang terjadi pada masa itu.
Hurlock (1997) mengartikan masa remaja sebagai masa peralihan dari masa
anak-anak menuju masa dewasa dengan rentangan usia sekitar 13-21 tahun, dengan
pembagian masa remaja awal antara 13/14-17 tahun dam amsa remaja akhir 18-21
tahun. Mappiare (1982) dalam karyanya yang berjudul Psikologi Remaja menarik
kesimpulan tentang rentangan usia remaja berdasarkan beberap pendapat ahli yang
meyoroti remaja, baik itu dari luar negeri maupun dari dalam negeri. adapun
kesimpulannya adalah sebagai berikut: usia remaja berkisar antara 12-21 tahun untuk
wanita dan 13-22 tahun untuk pria dengan pembagian masa remaja awal berusia
38
atau 13- 17 atau 18 tahun dan masa remaja akhir 17 atau 1 8 - 2 1 atau 22 tahun dan
istilah pubertas tidak sama dengan masa remaja, dikarenakan periode pubertas terjadi
sebelum masa remaja, sehingga juga disebut dengan ambang pintu masa remaja.
WHO memberikan batasan remaja yaitu suatu masa pertumbuhan dan perkembangan
dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai mekatangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-
kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang realtif mandiri.
Pada masa remaja terdapat ciri khas yang membedakan masa tersebut denga
perode perkembangan lainnya. ciri khas remaja awal (Mappiare, 1982) biasanya
ditandai dengan emosi yang tidak stabil sehingga sering disebut masa yang penuh
dengan "badai dan telanan", organ-oragns seks mulai matang, sering timbul masalah
dengan orang tua dan orang dewasa, kemampuan berpikir abstrak mulai terbentuk
sempurna sehingga menimbulkan pemikiran yang kritis, kebingunngan status yaitu
apakah mereka masih anak-anak atau sudah dewasa. karakteristik yang khas pada
remaja akhir (Mappiare, 1982) umumnya ditandai dengan stabilitas fisik dan psikis
yang mulai timbul dan meningkat, citra diri dan sikap pandangan yang lebih realistis,
menghadapi masalah secara lebih matang dan perasaan lebih tenang.
39
Mahasiswi secara harfiah didefinisikan sebagai perempuan yang menempuh
pendidikan di perguruan tinggi. Pada mahasiswi memiliki perilaku, sifat, karakteristik
dan permasalahan sebagaimana mahasiswa pada umumnya.
Musa (1992) mendefinisikan mahasiswa sebagai sekelompok kecil remaja
yang mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studinya di suatu perguruan tinggi.
Sebagai sekelompok kecil remaja maka mahasiswa memiliki karakteristik sikap
sebagai remaja dan menjadi trend setter remaja pada umumnya dalam pergaulan.
Setiadi (1987) menjelaskan bahwa mahasiswa berada dalam tingkat perkembangan
seseorang yang telah mencapai akhir remaja dan dewasa awal sehingga pada jenjang
ini, kebutuhan seorang mahasiswa telah cukup kompleks. Cakrawala interaksi sosial
dan pergaulan mahasiswa telah cukup luas, sehingga dalam penyesuaian diri terhadap
lingkungannya, mahasiswa telah mulai memperhatikan dan mengenal norma
pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku dalam lingkungan keluarga
maupun lingkungan masyarakat.
Sunarto (1994) menjelaskan bahwa karakteristik tersebut menjadikan
mahasiswa sebagai kelompok yang mempunyai beberapa jenis kebutuhan yang
berbeda dari kelompok lain. Beberapa jenis kebutuhan mahasiswa dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu ; (1) kebutuhan
organik, seperti makan, minum, berbafas, dan seks. (2) kebutuhan emosional, yaitu
kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari fihak lain, dikenal dengan
n'Aff (need of affiliation). (3) kebutuhan berprestasi atau need of achievement (yang
dikenal dengan n'Ach) yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan
40
potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikologis. (4)
kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Dari uraian yang dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa
adalah individu yang menempuh pendidikan pada perguruan tinggi. Pada umumnya
mahasiswa berada pada usia remaja akhir dan dewasa awal. Karakterisrik mahasiswa
tersebut menjadikan mahasiswa adalah kelompok yang memiliki kebutuhan berbeda
dengan kelompok sebayanya pada umumnya.
Sunarto (1994) menjelaskan beberapa masalah yang dihadapi mahasiswa
sehubungan dengan kebutuhan-k'ebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pada mahasiswa menghadapi perubahan-perubahan dalam sikap dan perilaku
yang besar, sedang di lain fihak harapan ditumpukan pada mahasiswa untuk dapat
meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan
dalam mengatasi ketidakpuasan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya harga
diri, dan akibat lebih lanjut dapat menjadikan remaja bersikap keras dan agresif
atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam atau harga diri kurang.
b. Seringkali para mahasiswa khususnya mahasiswi mengalami kesulitan untuk
menerima perubahan-perubahan fisiknya. Hanya sedikit mahasiswa yang merasa
puas dengan tubuhnya. Ketidakserasian proporsi tubuh ini sering menimbulkan
kejengkelan karena mahasiswi sulit untuk mendapatkan pakaian yang pantas, juga
hal itu tampak pada gerakan atau perilaku yang kelihatannya tidak pantas.
c. Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, mahasiswa yang terlalu
mendambakan kemandirian, dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk
41
mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah,
terutama masalah penyesuaian emosional, seperti perilaku yang over acting,
"lancang", dan semacamnya.
d. Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara
sosial ekonomis, akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan
pilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah
satu yang sangat sulit dihadapi oleh mahasiswa. Mahasiswi bukan saja harus
menghadapi satu arah kehidupan yang keragaman norma dalam kehidupan
bersama dalam masyarakat, tetapi juga norma baru dalam kehidupan sebaya
remaja dan kuatnya pengaruh kelompok mahasiswa lain.
Gronlund (1991) menjelaskan seorang mahasiswa berada pada batas
kehidupan remaja akhir ke dewasa, sehingga pada mahasiswa terlihat adanya
berbagai persoalan sebagai berikut:
a. Kegelisahan. Keadaan yang tidak tenang menguasai diri mahasiswa. Mahasiswi
mempunyai banyak keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi. Disatu pihak
ingin mencari pengalaman, karena diperlukan untuk menambah pengetahuan dan
keluwesan dalam tingkah laku. Di pihak lain merasa diri belum mampu
melakukan berbagai hal.
b. Pertentangan. Pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri mahasiswa
juga menimbulkan kebingungan baik diri mereka maupun orang lain, pada
umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara
mahasiswa dan orang tua. Selanjutnya pertentangaan ini menyebabkan timbulnya
keinginan mahasiswa untuk melepaskan diri dari orang tua. Akan tetapi keinginan
untuk melepaskan diri ini ditentang lagi oleh keinginan memperoleh rasa aman
dirumah. Mereka tidak berani mengambil resiko dari tindakan meninggalkan
lingkungan-lingkungan yang aman diantara keluarganya. Tambahan pula
keingiunan melepaskan diri secara ekonomis tidak memperoleh lagi bantuan dari
keluarga dalam hal keuangan.
c. Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya.
Mahasiswi ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
d. Keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri
dalam kegiatan-kegiatan kampus dan sebagainya. Keinginan menjelajah dan
menyelidiki ini dapat disalurkan dengan baik ke penyelidikan yang bermanfaat.
e. Mengkhayal dan berfantasi. Khayalan dan fantasi mahasiswa banyak berkisar
mengenai prestasi dan tangga karier. Khayalan dan fantasi tidak selalu bersifat
negatif, dapat juga bersifat positif. Melalui khayalan dan fantasi yang positif dan
konstruktif banyak hal dan ide baru dapat diciptakan oleh mahasiswa.
f. Aktivitas berkelompok. Kebanyakan mahasiswa menemukan jalan keluar dari
kesulitan dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama, mengadakan
penjelajahan secara berkelompok. Keinginan berkelompok ini tumbuh sedemikian
besarnya dan dapat dikatakan merupakan ciri mahasiswa.
Sebagai kaum wanita yang berada dalam perkembangan usia psikologis
remaja akhir, mahasiswi mempunyai berbagai permasalahan. Philips (1993)
43
menjelaskan permasalahan mahasiswi yang berkaitan dengan perkembangan usia
psikologisnya, yaitu :
a. Penampilan diri. Sebagian besar mahasiswi menginginkan tampil dengan tubuh
ideal dan selalu menginginkan perkembangan mode. Banyak mahasiwi yang
merasa tidak puas dengan tubuhnya. Ketidak serasian proporsi tubuh ini sering
menimbulkan kejengkelan karena mahasiswi sulit untuk mendapatkan pakaian
yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan atau perilaku yang kelihatannya
tidak pantas.
b. Hubungan terhadap orang lain dan kemampuan untuk menarik perhatian laki-
laki. Usia mahasiswi pada umumnya berkisar rata-rata antara 19 sampai dengan
23 tahun. Sebagaimana pada umumnya wanita, usia-usia tersebut merupakan usia
mencari pasangan atau jodoh. Bermacam-macam upaya dilakukan untuk menarik
perhatian lingkungannya terutama kaum lelaki. Pergaulan bebas menjadi dampak
negatif ketika mahasiswi tidak mampu melakukan kontrol terhadap perilaku
seksualnya.
Mahasiswi memiliki image (citra) sebagai trend setter kaum remaja pada
umumnya. Untuk menunjukkan status sosial dan simbol yang telah menjadi image
(citra) dalam masyarakat, maka perilakunya selalu menyesuaikan diri dengan
perkembangan mode pakaian dan teknologi. Misalnya saja kecenderungan mahasiswi
membeli dan bergonta-ganti mode pakaian, hand phone dan kendaraan.
44
Produk-produk yang dipandang sebagai lambang dan simbol status di
kalangan remaja sangat mempengaruhi kebutuhan dan sikap hidup mahasiswi. Ali
(1983) menjelaskan bahwa mahasiswi sebagai bagian dari kawula muda tentu saja
sangat menyukai hal-hal yang dianggap baru dan tampak modern. Sebagai bagian
dari masyarakat yang orientasinya tinggi, mahasiswi semakin sadar akan produk-
produk baru dan bermerk. Mahasiswi akan cenderung meniru mode-mode baru dan
pola ini diperkuat oleh iklan dan media lain yang mengeksploitasi gaya hidup mewah
mahasiswi. Tanpa disadari hal tersebut mendorong mahasiswi untuk membeli dan
terus sehingga menyebabkan mahasiswi semakin teijerat dalam perilaku konsumtif.
Hobby berbelanja atau shopping pada mahasiswi atau remaja putri menjadi
persoalan psikologis, ketika perilaku pembelian yang dilakukan sudah sampai pada
taraf impulsive buying, artinya pembelian yang dilakukan tidak rasional. Persoalan
tersebut menjadi bertambah serius apabila perilaku pembelian sudah mencapai
extreme impulsive buying atau pembelian yang dilakukan hanya untuk berfoya-foya,
pamer dan pemborosan (Dittmar, 1995).
Perilaku konsumtif pada mahasiswi menjadi permasalahan psikologis yang
berbahaya ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada mahasiswi dan remaja
putri pada umunya tersebut dilakukan secara berlebihan. Sebagaimana pepatah "lebih
besar pasak daripada tiang" berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh
mahasiswi di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini
menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki
bangku kuliah. Dalam hal ini, perilaku konsumtif mahasiswi telah menimbulkan
masalah ekonomi pada keluarganya.
Lebih berbahaya lagi, perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam
gaya hidup mahasiswi. Dalam perkembangannya, mahasiswi akan menjadi orang-
orang dengan gaya hidup konsumtif dan hedonis. Gaya hidup konsumtif ini harus
didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar teijadi apabila
pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak
sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan
seperti korupsi maupun jalan haram melacurkan diri.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa mahasiswi
adalah perempuan yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kedudukannya
sebagai mahasiswa, wanita yang berada dalam perkembangan psikologis remaja akhir
menyebabkan mahasiswi memiliki perilaku, sifat, karakteristik dan permasalahan
sebagaimana mahasiswa, kaum wanita dan remaja akhir pada umumnya.
46
D. Hubungan Antara Citra Diri Terhadap Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswi
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif pada mahasiswi yang
secara umum dibedakan menjadi dua yaitu faktor eksternal meliputi iklan, kelompok
referensi dan sosial, westernisasi, latar belakang keluarga. Sedangkan faktor internal
meliputi motivasi, pengamatan dan belajar serta konsep diri dan kepribadian yang
didalamnya diantaranya adalah citra diri.
Citra diri berkaitan dengan perilaku konsumtif pada seseorang. Penelitian
yang dilakukan oleh Dittmar (1995) menemukan bahwa citra diri berpengaruh pada
konsumsi seseorang terhadap suatu produk. Argumen yang mendasari adalah
konsumsi seseorang terhadap suatu barang menggambarkan simbol identitas
seseorang, baik dilihat dari sudut pandang seseorang melihat dirinya maupun persepsi
lingkungan terhadap seseorang.
Citra diri adalah gambaran seseorang terhadap diri sendiri atau pikiran
seseorang tentang pandangan orang lain terhadap dirinya. Citra diri terkait dengan
bagaimana cara seseorang memandang dirinya dan bagaimana berpikir tentang
penilaian orang lain terhadapnya. Citra diri menunjukkan citra yang dibuat oleh
seseorang untuk menggambarkan sosok atau jati diri yang diinginkannya. Jadi, citra
diri bukan merupakan penampilan jati diri individu sebenarnya, tetapi merupakan
sosok yang diinginkan oleh seseorang tentang dirinya. Scott (1973) menjelaskan citra
diri timbul karena keinginan seorang individu untuk tampil sebagaimana yang
individu inginkan karena pandangannya terhadap pribadinya dan pikirannya tentang
47
pandangan orang lain terhadap dirinya. Dorongan internal dan eksternal
mempengaruhi mental seseorang untuk tampil sebagi sosok yang diinginkannya.
Sosok yang ditampilkan tersebut bukan gambaran asli jati diri individu, karena itu
kesan yang dibuat oleh individu menjadi berbeda dengan kondisinya yang
sebenarnya.
Citra diri yang dibangun individu ada dua jenis yaitu citra diri positif
dancitra diri negatif . Citra diri positif membantu perkembangan pribadi seseorang
untuk meningkatkan kepercayaan diri (self esteem) dan membangun penerimaan diri
(self acceptance). Citra diri positif pada seseorang akan membantu merubah hidup
seseorang dan menciptakan suatu kekuatan memecahkan dan memandang positif
segala persoalan kehidupan. Contohnya sikap, pola pikir, keyakinan dan perilaku
yang dikemas secara positif dan penuh optimisme akan menjadikan seseorang untuk
selalu dapat melakukan sesuatu dengan menelaah kegagalannya dan mencari tahu
bagaimana dari dirinya yang menyebabkan kegagalan tadi. Citra diri positif pada
mahasiswi akan mempengaruhi dalam bersikap dan bertidak. Sikap, pola pikir,
keyakinan dan perilaku yang dikemas secara positif dan penuh optimisme akan
menjadikan seseorang mahasiswi berpikir secara rasional penuh dengan kepercayaan
diri. Mahasiswi dapat berpikir secara positif bagaimana orang mengamati dirinya
sendiri, bagaimana orang berpikir tentang dirinya sendiri, bagaimana orang menilai
dirinya sendiri, dan bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk
menyempurankan dan mempertahankan diri. Dalam perilaku beli, mahasiswi dapat
melakukan kontrol dalam secara rasional untuk membeli barang yang ditunjukkan
48
dari sikapnya yang tidak suka berfoya-foya dan berperilaku konsumtif, tetapi lebih
mengutamakan perilaku beli yang rasional. Dengan demikian semakin positif citra
diri pada mahasiswi maka mahasiswi akan semakin berperilaku beli secara rasional
atau menjauhi perilaku konsumtif.
Citra diri negatif menggambarkan citra diri yang buruk. Citra diri yang
buruk akan membuat orang tidak menjadi seorang individu yang utuh, ini pada
akhirnya akan mengganggu kepercayaan diri seseorang dan selanjutnya mengganggu
perkembangan psikologisnya. Contohnya kebanyakan anak muda merasa tidak puas
dengan penampilan atau kepribadiannya. Ada yang merasa terlalu pendek atau terlalu
tinggi, terlalu gemuk atau terlalu kurus, merasa rambutnya sering rontok, merasa
tidak pandai, dan lain-lain. Semua itu akan mengganggu kepercayaan diri. Kerangka
pemikiran berikut ini menunjukkan hubungan antara citra diri pada mahasiswi
terhadap perilaku komsumtif pada mahasiswi.
Bagan 1.1
Hubungan Citra Diri Pada Mahasiswi Terhadap Perilaku Konsumtif
49
Mahasiswi dituntut untuk bisa berperilaku rasional dan mengendalikan
emosinya sebagai wujud dari sikap intelektualitas yang dimiliknya. Namun pada
kenyataannya mahasiswi dihadapkan pada permasalahan yang kompleks. Mahasiswi
adalah perempuan yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kedudukannya
sebagai mahasiswi, wanita yang menjadi trend setter remaja pada umumnya, dan
usianya berada dalam perkembangan psikologis remaja akhir menyebabkan
mahasiswi memiliki perilaku, sifat, karakteristik dan permasalahan sebagaimana
mahasiswi, kaum wanita dan remaja akhir pada umumnya. Kedudukan sosial dan
simbol status yang melekat padanya menuntut suatu keharusan bagi mahasiswi untuk
membangun citra dirinya. Sebagai seorang wanita, mahasiswi ingin terkesan selalu
tampil ideal, namun sebagian mahasiswi justru tidak puas dengan penampilan atau
kepribadian mereka. Ada yang merasa terlalu pendek atau terlalu tinggi, terlalu
gemuk atau terlalu kurus, merasa rambutnya sering rontok, merasa tidak pandai, dan
lain-lain. Sebagai mahasiswi yang menjadi trendsetter kaum remaja, mahasiswi ingin
terkesan selalu menyesuaikan dengan hal-hal yang dianggap baru dan tampak
modem, khususnya mode dan teknologi. Mahasiswi semakin sadar akan produk-
produk baru dan bermerk. Sebagai remaja putri, mahasiswi ingin terkesan selalu
tampil. Sebagai remaja akhir, mahasiswi ingin selalu terkesan selalu mengikuti
berbagai atribut yang sedang in atau sedang menjadi trend.
Untuk mewujudkan citra diri yang dibangun tersebut, mahasiswi kemudian
melakukan perilaku konsumtif. Hal ini ditunjukkan oleh kecenderungan hobby
berbelanja atau shopping dilakukan oleh kalangan mahasiswi maupun kaum wanita
50
pada umumnya yang terkadang tergolong impulsive buying bahkan extreme impulsive
buying. Perilaku konsumtif adalah perilaku konsumen yang bertindak secara
emosional tanpa didasarkan perencanaan dan kebutuhan melainkan hanya karena
suatu pemuasan, pemenuhan keinginan akan suatu produk yang dianggap menarik,
kemudian melakukan pembelian dengan tidak mempertimbangkan sisi keuangan.
Dengan demikian, semakin negatif citra diri pada mahasiswi maka mahasiswi
semakin berperilaku konsumtif.
E. Hipotesa
Berdasarkan uraian teoritis tersebut, maka hipotesa yang ditarik dari uraian
teoritis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah, ada hubungan yang negatif antara
citra diri terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswi. Semakin positif citra diri yang
dibangun mahasiswi, maka semakin rendah perilaku konsumtifnya. Sebaliknya,
semakin negatif citra diri mahasiswi, maka semakin tinggi perilaku konsumtif
mahasiswi.