Anda di halaman 1dari 20

Pengukuran Volume Udara pernafasan pada Sistem Respirasi

Stephani Gualagetzsa (10.2013.069)


Email : stephanigualagetzsa.sg@gmail.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Abstrak :
Respirasi adalah proses pertukaran udara dialveoli dan mungkin terkena berbagai
macam gangguan. Sistem respirasi pada manusia terdiri atas hidung, faring, laring, bronkus
primer, bronkus kecil, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorius, duktus
alveolaris, sakus alveolaris, dan alveolus. Pernafasan dibagi menjadi pernafasan external dan
pernafasan internal. Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pernafasan.
Mekanisme pernafasan dibagi menjadi beberapa aspek yaitu otot-otot pernafasan, pengaturan
pusat pernafasan ,Perubahan Tekanan Terhadap Transport O
2
& CO
2
, keseimbangan asam
basa. Oleh karena itu diperlukan juga pengukuran untuk mengukur volume udara yang
dihirup dan dihembuskan dengan alat spirometer.
Kata kunci : Sistem respirasi, Makroskopis dan mikroskopis organ pernafasan dan
Spirometer
Abstrac:
Respiration is the process of air exchange dialveoli and may be exposed to a variety
of disorders. Human respiratory system consists of the nose, pharynx, larynx, bronchi
primary, small bronchi, bronchioles, terminal bronchioles, respiratory bronchioles, alveolar
ducts, alveolar sacs, and alveoli. Breathing is divided into external respiration and internal
respiration. There are so many factors that affect the respiratory system. Respiratory
mechanism is divided into several aspects of respiratory muscles, respiratory center setting,
Pressure Changes Against Transport of O
2
& CO
2
, acid-base balance. Therefore, it is
necessary also for measuring the volume of air inhaled and exhaled by means of a
spirometer.
Keywords: respiratory system, macroscopic and microscopic respiratory organs and
spirometer.
Pendahuluan
Sistem pernapasan berfungsi sebagai pendistribusi udara dan penukar gas sehingga
oksigen dapat disuplai ke dan karbondioksida dikeluarkan dari sel-sel tubuh karena sebagian
besar dari jutaan sel tubuh kita letaknya terlalu jauh dari tempat terjadinya pertukaran gas,
maka udara pertama-tama harus bertukaran dengan darah, dan harus bersikulasi, dan akhirnya
darah dan sel-sel harus melakukan pertukaran gas.Peristiwa ini membutuhkan fungsi dari dua
sistem, yaitu sistem pernapasan dan system sirkulasi. Semua bagian dari sistem pernapasan
berfungsi sebagai pendistribusi udara. Hanya alveoli dan saluran kecil yang terbuka ke dalam
alveoli berfungsi sebagai penukar gas.Selain sebagai pendistribusi dan pertukaran gas, sistem
pernapasan secara efektif menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara yang kita
hirup selama bernapas. Organ pernapasan juga mempengaruhi pembentukan suara, termasuk
berbicara yang kita gunakan dalam komunikasi verbal. Banyak faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam sistem pernafasan dan ada juga alat yang mengukur volume udara
yang dihirup dan dihembuskan agar dapat mengetahui volume udara yang terdapat didala
paru.

Pembahasan
Struktur Sistem Pernapasan
Secara sistematis system pernapasan dibagi menjadi saluran pernapasan atas
dansaluran pernapasan bawah. Organ saluran pernapasan atas terletak di luar toraks
ataurongga dada, sementara saluran pernapasan bawah terletak hamper seluruhnya di dalam
toraks.Saluran pernapasan terdiri atas hidung, nasofaring, orofaring, laring dan faring.
Saluran pernapasan bawah atau biasa disebut divisi terdiri atas trachea, semua segmen dari
percabangan bronkus, dan paru-paru. Berdasarkan fungsi, system pernapasan juga mencakup
beberapa struktur aksesori, termasuk rongga mulut, sangkar iga, dan diafragma.

Saluran Nafas Bagian Atas
Saluran nafas bagian atas ini berfungsi untuk menghangatkan, menyaring, dan
melembabkan udara yang masuk ke dalam tubuh.Udara dari luar akan masuk lewat rongga
hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar
minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir
berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat
juga rambut pendek dan tebal didalam cavum nasi yang disebut vestibulum yang berfungsi
menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara.
1
Di dinding lateralnya terdapat 3
tonjolan tulang yaitu chonca nasalis superior (epitel khusus), choncha nasalis medius dan
chonca nasalis inferior (epitel bertingkat thorak bersilia bersel goblet). Dimana chonca nasalis
inferior terdapat banyak plexus venosus yang disebut sweet bodies, yang berfungsi untuk
menghangatkan udara pernapasan melalui hidung. Disebelah posterior rongga hidung
terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut choanae. Sedangkan yang
berhubungan dengan lubang hidung anterior atau kearah wajah disebut nares.
2
Penyangga
hidung terdiri dari tulang dan tulang rawan hialin. Rangka bagian tulang terdiri dari os nasale,
processus frontalis os maxillaris dan bagian nasal osfrontalis. Rangka tulang rawan hialinnya
terdiri dari cartilago septum nasi, cartilago lateralisnasi dan cartilago ala nasi major at minor.
Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot wajah. Otot hidung
tersusundari musculus nasalis dan musculus depressor septum nasi.
2
Perdarahan hidung
bagian luar disuplai oleh cabang-cabang arteri facialis, arteridorsalis nasi cabang arteri
opthalmika dan arteri infraorbitalis cabang arteri maxillaris interna.Pembuluh baliknya
menuju vena facialis dan vena opthalmica. Sedangkan perdarahan untuk rongga hidung
terdiri dari arteri ethmoidalis anterior dan posterior, arteri sphenopalatina cabang maxillaris
interna, arteri palatina mayor dan arteri labialis superior. Dan vena-vena pada rongga hidung
akan membentuk plexus cavernosus yang terdiri dari venasphenopalatina, vena facialis dan
vena ethmoidalis anterior dan berakhir di vena opthalmica.
1
Udara dari rongga hidung masuk
ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu saluran pernapasan nasofaring pada
bagian depan dan saluran pencernaan orofaring pada bagian belakang. Pada bagian belakang
faring terdapat laring tempat terletaknya pita suara .Masuknya udara melalui faring akan
menyebabkan pita suara bergetar dan terdengar sebagai suara. Makan sambil berbicara dapat
mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan karena saluran pernapasan pada saat
tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf kita akan mengatur agar peristiwa
menelan, bernapas, dan berbicara tidak terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan
kesehatan. Fungsi utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara yang keluar masuk
dan juga sebagi jalan makanan dan minuman yang ditelan, faring juga menyediakan ruang
dengung untuk suara percakapan .

Nasofaring
Nasofaring bersama orofaring, dan laringo faring merupakan bagian dari faring.Faring
sendiri merupakan percabangan dua saluran yakni traktus digestivus dan traktus respiratorius.
Faring berperan dalam proses menelan makanan.Rongga nasofaring ini tidak pernah tertutup,
berbeda dari orofaring dan laringofaring. Nasofaring berhubungandengan rongga hidung
melalui choanae. Sedangkan yang berhubungan dengan orofaring melalui isthimus
pharingeum. Pada nasofaring ini terdapat pharyngeal tonsil dan tubaeustachius. Nasofaring
ini tersusun atas epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet.
1


Orofaring
Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, disini terdapat
pula pangkal lidah. Pada dinding lateralnya terdapat tonsilla palatina yang masing-masingnya
terletak disinus tonsillaris. Berhubungan dengan rongga mulut melalui
isthmusoropharingeum. Makanan dalam bentuk bolus dari rongga mulut didorong masuk
keorofaring. Bolus menekan uvula sehingga menutup saluran menuju ke hidung. Halini
menjaga supaya makanan yang masuk tidak keluar ke hidung. Proses dilanjutkandengan
menurunnya epiglotis yang menutup glotis. Bolus melalui laringo faring dan masuk ke
esophagus
.3

Dibagian bawah epiglotis terdapat dua lipatan mukosa yang menonjol ke arah lumen
laring. Pasangan lipatan mukosa bagian atas menutupi ligamentum ventriculare dan
membentuk plica vestibularis, celah antara kedua plica ventricularis disebut rimavestibuli.
Pasangan lipatan mukosa dibagian bawah menutupi ligamentum vocale dan membentuk plica
vocalis yang berkaitan dengan pembentukan suara. Kedua plica vocalisini bersama
permukaan medial kedua cartilago arytaenoid membentuk rima glotis.Dimana terdapat bagian
yang sejajar dengan ligamnetum vocale terdapat otot skelet yangdisebut musculus vokalis
yang berfungsi untuk mengatur ketengan pita suara danligamentum sehingga udara yang
melalui pita suara dpat menimbulkan suara dengan nadayang berbeda-beda.
4

Otot pada laring terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok ekstrinsik
dankelompok intrinsik. Otot-otot ekstrinsik menghubungkan laring dengan sekitarnya
dan berperan dalam proses menelan termasuk otot-otot tersebut adalah
musculussternothyreoideus, musculus thyreohyoid dan musculus constrictor pharingis
inferior. Sedangkan musculus intrinsik laring berperan untuk fonasi. Otot yang termasuk
dalam musculus intrinsik laring adalah musculus cricoarytaenoid posterior,
musculuscricoarytaenoid lateral, musculus arytaenoid obliquus, musculus arytaenoid
transversus,musculus thyreoarytaenoid, musculus aryepigloticcus dan sekitarnya.Perdarahan
utama laring berasal dari cabang-cabang artery thyreodea superior danarteri thyroidea
inferior. Persarafan berasal dari cabang-cabang internus dan externusnervus laringeus
superior dan nervus reccuren dan saraf simpatis.
2

Saluran Nafas Bagian Bawah

Trakea
Trakea merupakan pipa silinder dengan panjang kurang lebih 11cm, mempunyai
cincin tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membranfibroelastik
yang menempel pada bagian depan oesofagus. Trakea berjalan dari cartilagocricoidea ke
bawah pada bagian depan leher dan di belakang manubrium sterni, berakhir pada setinggi
angulus sternalis tempatnya berakhir, membagi menjadi bronkus kiri dan kanan. Di dalam
leher, trakea disilang di bagian depan oleh isthmus glandula thyroidhea dan beberapa
vena.Trakea terdiri dari16-20 cartilago berbentuk C yang dihubungkan oleh jaringan fibrosa.
Konstruksi trakea sedemikian rupa sehingga tetap terbuka pada semua posisi kepala dan
leher.Trakea diperdarahi oleh arteri thyreodea inferior sedangkan ujung thoracalnya didarahi
oleh cabang arteri bronchiales. Persarafan trakea berasal dari cabang trachealnervus , nervus
recurrens dan truncus symphaticus.
3


Bronkus
Trakea yang berbifurkasio menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri.
Bronkus kanan lebih lebar, pendek, dan lebih vertikal dari bronkus kiri.Setiap bronkus sekitar
setengah dari diameter trakea dan terdiri dari kartilago yang sama, hanya dengan skala lebih
kecil, yang dihubungkan dengan jaringan fibrosa. Dindingnya dilapisi hanya sedikit otot
polos dan dilapisi epitel bersilia yangmengandung kelenjar mukus dan serosa. Struktur
bronkus sama dengan trakea, hanya dindingnya lebih halus, kedudukan bronkus kiri lebih
mendatar dibandingkan bronkus kanan sehingga bronkus kanan lebih mudah terserang
penyakit.Kedua bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira
vertebra torakalis kelima mempunyai struktur serupa dengan trakea dan di lapisi oleh jenis sel
yang sama.Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping kearah tampak paru-paru.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar dari pada yang kiri, sedikit lebih tinggi dari
arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang yang disebut bronkus pulmonaris.
Trakea terbelah menjadi dua bronkus utama.Bronkus ini bercabang lagi sebelum
masuk paru-paru, bronkus-bronkus pulmonaris bercabang dan beranting lagi banyak
sekali.Saluran besar yang mempertahankan struktur serupa dengan yang dari trakea
mempunyai dinding fibrosa berotot yang mengandung bahan tulang rawan dan dilapisi
epitelium bersilia.Bronkus terminalis masuk ke dalam saluran yang agak lain yang disebut
vestibula, dan disini membran pelapisnya mulai berubah sifatnya, lapisan epitelium bersilia
diganti dengan sel epitelium yang pipih.Dari vestibula berjalan beberapa infundibula dan di
dalam dindingnya dijumpai kantong-kantong udara itu.Kantong udara atau alveoli itu terdiri
atas satu lapis tunggal sel epitelium pipih, dan disinilahdarah hampir langsung bersentuhan
dengan udara suatu jaringan pembuluh darah kapiler mengitari alveoli dan pertukaran gas pun
terjadi.

Bronkioulus
Bronkiolus adalah percabangan dari bronkus. Saluran ini lebih halus dan dindingnya
lebih tipis. Bronkiolus kiri berjumlah dua. Sedangkan bronkiolus kanan berjumlah
tiga.Percabangan ini membentuk cabang yang lebih halus seperti pembuluh.Setelah melalui
saluran hidung dan faring, tempat pernapasan dihangatkan dan dilembabkan dengan uap air,
udara inspirasi berjalan menuruni trakea, melalui bronkiolus terminalis, bronkiolus
respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris dan alveolus.
4
Paru-paru
Paru terletak di kedua sisi jantung di dalam rongga dada dan dikelilingi sertadijaga
oleh sangkar iga. Bagian dasar paru terletak di atas diafragma bagian apeks paru (ujung
superior) terletak setinggi klavikula.Paru-paru kanan terdiri dari tiga lobus (superior, medial
dan inferior). Paru-paru kiri terdiri dari dua lobus (superior dan inferior). Selaput
pembungkus paru-paru disebut pleura.Pleura viseralis erat melapisi paru-paru, masuk ke
dalam fisura, dan dengandemikian memisahkan lobus saru dari yang lain.
Membran ini kemudian dilipat kembali di sebelah tampak paru-paru dan membentuk
pleura parietalis, dan melapisi bagian dalam dinding dada. Pleura yang melapisi iga-iga ialah
pleura kostalis, bagian yang menutupi diafragma ialah pleura diafragmatika, dan bagian yang
terletak di leher ialah pleura servikalis. Pleura ini diperkuat oleh membran yang kuat bernama
membran suprapleuralis (fasia sibson) dan di atas membran ini terletak arterisubclavia.
Di antara kedua lapisan pleura itu terdapat sedikit eksudat untuk
meminyaki permukaannya dan menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada
yang sewaktu bernapas bergerak.Dalam keadaan sehat, kedua lapisan itu satu dengan
yanglain erat bersentuhan. Ruang atau rongga pleura itu hanyalah ruang yang tidak
nyata,tetapi dalam keadaan tidak normal udara atau cairan memisahkan kedua pleura itu dan
ruang diantaranya menjadi jelas. Pleura disusun oleh jaringan ikat fibrosa dengan serat elastin
dan kolagen dan sel fibroblas, dilapisi oleh sel mesotel.
4


Mikroskopis sistem pernafasan

Sistem pernapasan merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan
homeostasis. Fungsi ini disebut sebagai respirasi. Sistem pernapasan dimulai dari rongga
hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dan
karbondioksida dengan pembuluh darah.Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah
utama yaitu .Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus,
bronkiolus dan bronkiolus terminalis. Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius,
duktus alveolaris dan alveolus.Saluran pernapasan, secara umum dibagi menjadi pars
konduksi dan pars respirasi Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu
epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet.
5

Faring
Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak dengan palatum
mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa atau gepeng.

Laring
Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina
propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang
mencegah masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis
merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan lingual dan
laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan
permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah
epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa.Di bawah epiglotis, mukosanya
membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen laring: pasangan lipatan atas
membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar
serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis
gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot
muskulus vokalis akan membantu terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.


Trakea
Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Terdapat kelenjar serosa pada lamina
propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana ujung bebasnya berada
di bagian posterior trakea. Cairan mukosa yang dihasilkan oleh sel goblet dan sel kelenjar
membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong partikel asing.
Sedangkan tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap terbuka. Pada
ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin yang berbentuk tapal kuda tersebut terdapat
ligamentum fibroelastis dan berkas otot polos yang memungkinkan pengaturan lumen dan
mencegah distensi berlebihan.
5


Bronkus
Mukosa bronkus secara tructural mirip dengan mukosa trakea, dengan lamina propria
yang mengandung kelenjar serosa , serat elastin, limfosit dan sel otot polos. Tulang rawan
pada bronkus lebih tidak teratur dibandingkan pada trakea; pada bagian bronkus yang lebih
besar, cincin tulang rawan mengelilingi seluruh lumen, dan sejalan dengan mengecilnya garis
tengah bronkus, cincin tulang rawan digantikan oleh pulau-pulau tulang rawan hialin.

Bronkiolus
Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan dan kelenjar pada mukosanya. Lamina
propria mengandung otot polos dan serat elastin. Pada segmen awal hanya terdapat sebaran
sel goblet dalam epitel.
1
Pada bronkiolus yang lebih besar, epitelnya adalah epitel bertingkat
silindris bersilia, yang makin memendek dan makin sederhana sampai menjadi epitel selapis
silindris bersilia atau selapis kuboid pada bronkiolus terminalis yang lebih kecil. Terdapat sel
Clara pada epitel bronkiolus terminalis, yaitu sel tidak bersilia yang memiliki granul sekretori
dan mensekresikan protein yang bersifat protektif. Terdapat juga badan neuroepitel yang
kemungkinan berfungsi sebagai kemoreseptor.
epitel bronkiolus terminalis, tidak ditemukan adanya tulang rawan dan kelenjar
campur pada lamina propria.Bronkiolus respiratorius. Mukosa bronkiolus respiratorius secara
struktural identik dengan mukosa bronkiolus terminalis, kecuali dindingnya yang diselingi
dengan banyak alveolus. Bagian bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kuboid bersilia
dan sel Clara, tetapi pada tepi muara alveolus, epitel bronkiolus menyatu dengan sel alveolus
tipe 1. Semakin ke distal alveolusnya semakin bertambah banyak dan silia semakin
jarang/tidak dijumpai. Terdapat otot polos dan jaringan ikat elastis di bawah epitel bronkiolus
respiratorius.Duktus alveolaris semakin ke distal dari bronkiolus respiratorius maka semakin
banyak terdapat muara alveolus, hingga seluruhnya berupa muara alveolus yang disebut
sebagai duktus alveolaris. Terdapat anyaman sel otot polos pada lamina proprianya, yang
semakin sedikit pada segmen distal duktus alveolaris dan digantikan oleh serat elastin dan
kolagen. Duktus alveolaris bermuara ke atrium yang berhubungan dengan sakus alveolaris.
Adanya serat elastin dan retikulin yang mengelilingi muara atrium, sakus alveolaris dan
alveoli memungkinkan alveolus mengembang sewaktu inspirasi, berkontraksi secara pasif
pada waktu ekspirasi secara normal, mencegah terjadinya pengembangan secara berlebihan
dan pengrusakan pada kapiler-kapiler halus dan septa alveolar yang tipis.
1

Alveolus
Alveolus merupakan struktur berongga tempat pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida antara udara dan darah. Septum interalveolar memisahkan dua alveolus yang
berdekatan, septum tersebut terdiri atas 2 lapis epitel gepeng tipis dengan kapiler, fibroblas,
serat elastin, retikulin, matriks dan sel jaringan ikat.
Pleura
Pleura merupakan lapisan yang memisahkan antara paru dan dinding toraks. Pleura terdiri
atas dua lapisan yaitu pars parietal dan pars viseral. Kedua lapisan terdiri dari sel-sel mesotel
yang berada di atas serat kolagen dan elastin

Otot-otot Pernafasan

Gerakan diafragma menyebabkan perubahan volume intratorakal sebesar 75 %selama
inpirasi tenang. Otot diafragma melekat di sekeliling bagian dasar rongga toraks,membentuk
kubah di atas hepar dan bergerak ke bawah seperti piston pada saat berkontrkasi Diafragma
terdiri atas 3 bagian : bagian kostal, dibentuk oleh serat otot yang bermula dari iga iga
sekeliling bagian dasar rongga toraks, bagian krural, dibentuk olehserat otot yang bermula
dari ligamentum sepanjang tulang belakang, dan tendon sentral,tempat bergabungnnya
serat serat kostal dan krural. Serat serat krural melintasi kedua sisi esophagus. Tendon
sentral juga mencakup bagian inferior pericardium. Bagian kostal dan krural diafragma
dipersarafi oleh bagian lain dari nervus prenicus dan dapat berkontrkasi secara terpisah.
Sebagai contoh, pada waktu muntah dan bersendawa,tekanan intra abdominal meningkat
akibat kontraksi serat kostal diafragma, sedangkan serat serat krural tetap lemas, sehingga
memungkinan bergeraknya berbagai bahan darilambung ke dalam esophagus
.4

Otot inspirasi penting lainya adalah muskulus interkostalis eksternus yang
berjalandari iga ke iga secara miring kea rah bawah dan kedepan. Iga- iga berputar seolah
olah bersendi di bagian punggung, sehingga ketika otot interkostalis eksternus
berkontraksi,iga-iga dibawahnya akan terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke
luar danmemperbesar diameter anteroposterior rongga dada. Diameter transversal boleh
dikatakan tidak berubah. Masing masing otot interkostalis eksternus maupun diafragma
dapat mempertahankan interkasi yang kuat pada keadaan istirahat. Potongan melintang
medulla spinalis di atas segmen servikalis ketiga dapat berakibat fatal bila tidak
diberikan pernapasan buatan, namun tidak demikiannya halnya bila dilakukan pemotongan di
bawahsegmen servikalis ke lima, karena nerfus frenikus yang mempersarafi diafragma,
nerfus frenikus yang memersarafi diafragma tetap utuh, nervus frenicus timbul dari medulla
spinalis setinggi segmen servikal 3-5.
Sebaliknya, pada penderita dengan paralisis bilateral nervus frenikus yang
mempersarafi diafragma tetap utuh, pernapasan agak sukar tetapi cukup adekuat untuk
mempertahankan hidup. Muskulus skalenus dan sternokleidomastoideus di leher merupakan
otot otot inspirasi tambahan yang ikutmembantu mengangkat yang sukar dan
dalam.Apabila otot ekspirasi berkontrakasi, terjadi penurunan volume intratorakal dan
ekspirasi paksa. Kemampuan ini dimiliki oleh otot otot interkostalis internus karena ototini
berjalan miring ke arah bawah dan belakang dari iga ke iga, sehingga pada
waktu berkontrkasi akan menarik rongga dada ke bawah, kontrkasi otot dinding
abdomenanterior juga ikut membantu proses ekspirasi dengan cara menarik iga iga ke
bawah dan ke dalam serta dengan meningkatkan tekanan intra abdominal yang akan
mendorong diafragma ke atas.
4


Mekanisme Pernafasan
Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam keadaan normal
terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan dinding dada sehingga paru-paru dengan
mudah bergeser pada dinding dada. Tekanan pada ruangan antara paru-paru dan dinding dada
berada di bawah tekanan atmosfer. Paru-paru teregang dan berkembang pada waktu bayi baru
lahir. Pada akhir ekspirasi tenang, cenderung terjadi recoil dinding dada yang diimbangi
oleh kecenderungan dinding dada berkerut kearah yang berlawanan .
Otot diafragma yang terletak di bagian dalam dan luar interkostalis kontraksinya
bertambah dalam. Rongga toraks menutup dan mengeras ketika udara masuk ke dalam paru-
paru, diluar muskulus interkostalis menekan tulang iga dan mengendalikan luas rongga toraks
yang menyokong pada saat ekspirasi sehingga bagian luar interkostalis dari ekspirasi
menekan bagian perut. Kekuatan diafragma kearah atas membantu mengembalikan volume
rongga pleura
Pada waktu menarik napas dalam, maka otot berkontraksi, tetapi pengeluaran
pernapasan dalam proses yang pasif. Ketika diafragma menutup dalam, penarikan napas
melalui isi rongga dada kembali memperbesar paru-paru dan dinding badan bergerak hingga
diafragma dan tulang dada menutup ke posisi semula. Aktivitas bernapas merupakan dasar
yang meliputi gerak tulang rusuk sewaktu bernapas dalam dan volume udara bertambah.
7

Pada saat inspirasi, pengaliran udara ke rongga pleura dan paru-paru berhenti
sebentar ketika tekanan dalam paru-paru bersamaan bergerak mengelilingi atmosfer. Pada
waktu penguapan, pernapasan volume sebuah paru-paru berkurang karena naiknya tekanan
udara untuk memperoleh dorongan keluar pada sistem pernapasan .Selama pernapasan
tenang, ekspirasi adalah pasif, dalam arti bahwa tidak ada otot- otot yang menurunkan
volume unuk toraks berkontraksi. Pada permulaan ekspirasi, kontraksi ini menimbulkan kerja
yang menahan kekuatan recoil dan melambatkan ekspirasi. Insiprasi yang kuat berusaha
mengurangi tekanan intrapleura sampai 30mmHg sehingga menimbulkan pengembangan
paru-paru dengan derajat yang lebih besar. Bila ventilasi meningkat seluas deflasi maka paru-
paru meningkat dengan kontraksi otot-otot pernapasan yang menurunkan volume intratoraks.

Pengaturan Pusat Pernafasan
Pusat kontrol pernapasan yang terdapat di batang otak menghasilkan pola napas yang
berirama. Pusat control pernapasan primer, pusat respirasi medulla, terdiri dari beberapa
agregat badan saraf ke otot otot pernapasan. Selain itu, dua pusat pernapasan lain terletak
lebih tinggi di batang otak di pons pusat pneumostatik dan pusat apneustik.Kedua pusat di
pons ini mempengaruhi sinyal keluar dari pusat pernapasan di medulla.
Neuron Inspirasi dan ekspirasi terdapat di pusat medula.Kita menghirup dan
menghembuskan napas secara ritmis karena kontraksi dan relaksasi bergantian otot otot
inspirasi yaitu diafragma dan otot interkostal eksternal,yang masing-masing disarafi oleh
saraf frenikus dan saraf interkostal. Badan- badan sel dari serat -serat saraf yang membentuk
saraf ini terletak di medulla spinalis. Impuls yang berasal dari pusat di medulla berakhir di
badan-badan sel neuron motorik ini. Ketika neuron motorik diaktifkan maka neuron tersebut
sebaliknya mengaktifkan otot- otot pernapasan, menyebabkan inspirasi; ketika neuron-neuron
ini tidak menghasilkan impuls maka otot inspirasi melemas dan berlangsunglah ekspirasi.
4


Inspirasi dan Ekspirasi
Paru-paru dan dinding dada adalah struktur elastic. Pada keadaan normal,
hanyaditemukan selapis tipis cairan diantara paru paru dan dinding dada. Paru paru
dengan mudah dapat bergeser sepanjang dinding dada, tetapi sukar untuk dipisahkan dari
dinding dada seperti halnya 2 lempengan kaca yang direkatkan dengan air dapat digeser
tetapi tidak dapat dipisahkan. Tekanan di dalam ruang antara paru paru dan dinding kaca
tekanan intrapleura bersifat subatmosferik. Pada saat kelahiran jaringan parudikembangkan
sehingga teregang, dan pada akhir ekspirasi tenang, kecenderungan daya recoil jaringan paru
untuk menjauhi dinding dada diimbangi oleh daya recoil dinding dada kearah yang
berlawanan. Apabila dinding dada dibuka, paru paru akan kolaps dan apabila paru paru
kehilangan elastisitasnya, dada akan mengembang menyerupai bentuk gentong. Proses
ekspirasi tenang merupakan proses pasif yang akan menyertai diafragmamenjadi relaks dan
mengembang, volume paru mengecil, beda tekanan negative dan udara keluar.
6
Inspirasi merupakan proses aktif. Kontrakasi otot-otot inspirasi akan meningkatkan
volume intrakolateral. Tekanan intrapleura di bagian basis paru akan turun dari nilai normal
sekitar - 2.5 mmHg pada awal inspirasi, menjadi 6 mmHg. Jaringan paru semakin teregang.
Tekanan di dalam saluran udara menjadi sedikit lebih negative,udara mengalir ke dalam paru.
Pada akhir inspirasi, daya recoil paru mulai menarik dinding dada kembali ke kedudukan
ekspirasi, sampai tercapai keseimbangan kembaliantara daya recoil jaringan paru dan dinding
dada. Tekanan di dalam saluran udaramenjadi sedikit lebih positif dan udara mengalir
meninggalkan paru paru. Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan proses pasif yang
tidak memerlukan kontraksiotot untuk menurunkan volume intratorakal. Namun pada awal
ekspirasi, masih terdapatkontrakasi ringan otot inspirasi. Kontraksi ini berfungsi sebagai
peredam daya recoil paru dan memperlambat ekspirasi.Pada inspirasi kuat, tekanan
intrapleura turun mencapai 30 mmHg, menimbulkan pengembangan jaringan paru yang
lebih besar. Apabila ventilasi meningkat, derajat pengempisan jaringan paru juga
ditingkatkan melalui kontraksi aktif otot-otot ekspirasi yang menurunkan volume
intrakolateral
.6



PO
2
dan PCO
2
Alveolus
Komposisi udara alveolus tidak sama dengan komposisi udara atmosfer karena dua
alasan. Pertama, segere setelah udara atmosfer masuk ke saluran napas, pajanan ke saluran
napas yang lembab menyebabkan udara tersebut jenuh dengan H
2
O. Seperti gas lainnya, uap
air menimbulkan tekanan parsial. Pada suhu tubuh, tekanan parsial H
2
O adalah 47 mmHg.
Humidifikasi udara yang dihirup ini pada hakekatnya mengencerkan tekanan parsial gas
gas inspirasi sebesar 47 mmHg. Karena jumlah tekanan tekanan parsial harus sama dengan
760 mmHg. Dalam udara lembab, PH
2
O = 47 mmHg, PN
2
= 53 mmHg dan PO
2
= 150
mmHg.
7

Kedua PO
2
alveolus juga lebih rendah daripada PO
2
atmosfer karena udara segar yang
masuk bercampur dengan sejumlah besar udara lama yang tersisa dalam paru dan dalam
ruang rugi pada akhir ekspirasi sebelumnya. Pada akhir inspirasi, kurang dari 15% udara di
alveolus adalah udara segar. Akibatnya pelembapan dan logis jika kita berpikir bahwa PO
2
akan meningkat selama inspirasi karena datangnya udara segarb dan menurun selama
ekspirasi. Namun fluktuasi yang terjadi kecil saja karena dua sebab. Pertama, hanya sebagian
kecil dari udara alveolus total yang dipertukarkan setiap kali bernapas. Volume udara inpirasi
kaya O
2
yang relative lebih kecil cepat bercampur dengan volume udara alveolus yang tersisa
dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Karena itu, O
2
udara inspirasi hanya sedikit
meningkatkan kadar PO
2
alveolus total. Bahkan peningkatan PO
2
yang kecil ini berkurang
oleh sebab lain. Oksigen secara terus menerus berpindah melalui difusi pasif menuruni
gradien tekanan parsialnya dari alveolus ke dalam darah.
Difusi melalui membran dalam satu menit dengan perbedaan tekanan satu mmHg.
Disosiasi oksi hb ditentukan oleh PO
2
disekeliling hemoglonin. Kalo disosiasi oksi hb
meningkat maka PH menurun, PCO
2
tinggi, suhu meninggi, konsentrasi 2,3 BPG meninggi
dalam sl darah merah dan PO
2
menurun. O
2
yang tiba di alveolus dalam udara yang baru
diinpirasikan hanya mengganti O
2
yang berdifusi keluar alveolus masuk ke kapiler paru.
Karena itu, PO
2
alveolus relative konstan pada setiap 100 mmHg sepanjang siklus
pernapasan. Karena PO
2
darah paru seimbang dengan PO
2
alveolus, maka PO
2
darah yang
meninggalkan paru juga cukup konstan pada nilai yang sama ini. Karena itu, jumlah O
2

dalam darah yang tersedia ke jaringan hanya bervariasi sedikit selama siklus pernapasan.
7
Situasi serupa namun terbalik terjadi pada CO
2
. Karbon dioksida yang secara tetap
ditambahkan ke darah di tingkat kapiler sistemik. Di kapiler paru, CO
2
berdifusi menuruni
gradient tekanan parsialnya dari darah ke dalam alveolus dan kemudian dikeluarkan dari
tubuh sewaktu ekspirasi. Seperti O
2,
PCO
2
alveolus relative tetap konstan sepanjang siklus
pernapasan tetapi dengan nilai yang lebih rendah yaitu 40 mmHg. Bentuk pengangkutan
PCO
2
sebagai CO
2
yang larut dalam palsma , asam karbonat H
2
CO
3,
ikatan karbamino dan ion
bikarbonat dalam plasma.

Mekanisme pengendalian pernafasan

Mekanisme pernafasan diatur dan di kendalikan dua faktor utama yaitu pengendalian
oleh saraf dan Kimiawi. Beberapa faktor tertentu merangsang pusat pernafasan yang terletak
didalam mendula oblongata, dan kalau dirangsang, pusat itu mengeluarkan impuls yang
disalurkan saraf spinalis ke otot pernafasan yaitu otot diafragma dan otot interkostalis.
Pengendalaian oleh saraf Pusat pernafasan ialah suatu pusat otomatik di dalam
medula oblongata yang mengeluarkan impuls eferen ke otot pernapasan. Melalui beberapa
radiks saraf servikalis impuls ini di antarrkanke diafragma oleh saraf frenikus dibagian yang
lebih rendah dari pada sumsum tulang belakang, impulsnya berjalan dari daerah toraks
melalui saraf interkostalis untuk merangsang otot iner kostalis , impuls ini menimbulkan
kontraksi ritmik pada oto diafragma dan interkostal yang berkecapatan lima belas setiap
menit. Impuls aferen yang dirangsang pemekaran gelembung udara diantarkan saraf vagus ke
pusat pernapasan di dalam medula.
6


Pengendalian secara kimiawi
Banyak faktor yang mempengaruhi laju dan kedalaman pernapasan yang sudah diset
oleh pusat pernapasan, yaitu adanya perubahan kadar oksigen, karbon dioksida dan ion
hidrogen dalam darah arteri. Perubahan tersebut menimbulkan perubahan kimia dan
menimbulkan respon dari sensor yang disebut kemoreseptor. Ada 2 jenis kemoreseptor, yaitu
kemoreseptor pusat yang berada di medulla dan kemoreseptor perifer yang berada di badan
aorta dan karotid pada sistem arteri.
Kemoreseptor pusat, dirangsang oleh peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah
arteri, cairan serebrospinal peningkatan ion hidrogen dengan merespon peningkatan frekuensi
dan kedalaman pernapasan. Kemoreseptor perifer, reseptor kimia ini peka terhadap
perubahan konsentrasi oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen. Misalnya adanya
penurunan oksigen, peningkatan karbon dioksida dan peningkatan ion hidrogen maka
pernapasan menjadi meningkat.
Pengaturan Oleh Mekanisme Non Kimiawi
Beberapa faktor non kimiawi yang mempengaruhi pengatuan pernapasan di antaranya
yaitu pengaruh baroreseptor, peningkatan suhu tubuh, hormon epineprin, refleks hering-
breuer. Baroreseptor, berada pada sinus kortikus, arkus aorta atrium, ventrikel dan pembuluh
darah besar. Baroreseptor berespon terhadap perubahan tekanan darah. Peningkatan tekanan
darah arteri akan menghambat respirasi, menurunnya tekanan darah arteri dibawah tekanan
arteri rata-rata akan menstimulasi pernapasan. Peningkatan suhu tubuh, misalnya karena
demam atau olahraga maka secara otomatis tubuh akan mengeluarkan kelebihan panas tubuh
dengan cara meningkatkan ventilasi.Hormon epinephrin, peningkatan hormon epinephrin
akan meningkatkan rangsangan simpatis yang juga akan merangsang pusat respirasi untuk
meningkatkan ventilasi.
Keseimbangan Asam dan Basa

Keseimbangan asam basa adalah homeostasis dari kadar ion hidrogen dalam tubuh.
Kadar normal ion hidrogen (H) arteri adalah: 4x10-8 atau pH = 7,4 (7,35 7,45). Asidosis =
asidemia kadar pH darah <7,35 Alkalemia = alkalosis kadar pH darah >7,45dan Kadar
pH darah <6,8 atau >7,8 tidak dapat diatasi oleh tubuh.

Sistem Buffer Tubuh
Terdapat sistem buffer ECF asam karbonat-bikarbonat (NaHCO3 dan H2CO3)
,Sistem buffer ICF fosfat monosodium-disodium (Na2HPO4 dan NaH2PO4),Sistem
buffer ICF eritrosit oksihemoglobin-hemoglobin (HbO2- dan HHb) dan Sistem buffer ICF
dan ECF protein (Pr- dan HPr)

Asidosis Metabolik
Ciri-cirinya [HCO
3
-
] menurun <22mEq/L dan pH <7,35 yaitu kompensasi dengan
hiperventilasi PaCO
2
menurun, kompensasi akhir ginjal yaitu ekskresi H+, sebagai NH4+
atau H3PO4 .Penyebabnya adalah Penambahan asam terfiksasi: ketoasidosis diabetik,
asidosis laktat ,overdosis aspirin Gagal ginjal mengekskresi beban asam Hilangnya HCO3-
basa akhirnya menyebabkan diare . Penatalaksanaan Asidosis Metabolik tujuannya adalah
untuk meningkatkan pH darah hingga ke kadar aman (7,20 hingga 7,25) dan mengobati
penyakit dasar NaHCO3 dapat digunakan bila pH <7,2 atau [HCO
3
-
] <15mEq/L .Resiko
NaHCO3 yang berlebihan maka penekanan pusat nafas, alkalosis respiratorik, hipoksia
jaringan, alkalosis metabolik, hipokalsemia, kejang, tetani Alkalosis Metabolik Ciri: [HCO
3
-
]
meingkat >26mEq/L dan pH >;7,45 untuk kompensasi dengan hipoventilasi PaCO
2

meningkatkan , kompensasi akhir oleh ginjal untuk ekskresi [HCO
3
-
] yang berlebihan.
Penyebabnya yaitu hilangnya H+ (muntah, diuretik, perpindahan H
+
dari ECF ke ICF pada
hipokalemia) dan retensi [HCO
3
-
] .
8


Alkalosis Metabolik
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena
tingginya kadar bikarbonat.Penyebabnya oleh alkalosis metabolik terjadi jika tubuh
kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung
selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang
lambung,Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat), Kehilangan asam karena
muntah atau pengosongan lambung,dan kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing
atau akibat penggunaan kortikosteroid).

Asidosis Respiratorik
Ciri-cirinya PaCO2 meningkat >45mmHg dan pH <7,35 kompensasi ginjal retensi
dan peningkatan [HCO
3
] .Penyebab: hipoventilasi (retensi CO
2
), inhibisi pusat nafas
(overdosis sedatif, henti jantung), penyakit dinding dada dan otot nafas (fraktur costae,
miastemia gravis), gangguan pertukaran gas obstruksi jalan nafas atas .Gejala Asidosis
Respiratorik Tidak spesifik Hipoksemia asidosis respiratorik akut akibat obstruksi nafas
Somnolen progresif, koma asidosis respiratorik kronis vasodilatasi serebral
meningkatkan ICV papiledema dan pusing .Penatalaksanaan Asidosis Respiratorik
Pemulihan ventilasi yang efektif sesegera mungkin pemberian O2 dan mengobati
penyebab penyakit dasar PaO2 harus ditingkatkan >60mmHg dan pH >7,2

Alkalosis Respiratorik
Ciri-cirinya yaitu terjadi penurunan PaCO2 <35mmHg dan peningkatan pH serum
>7,45 terjadi kompensasi ginjal meningkatkan ekskresi HCO3- .Penyebabnya terjadi
hiperventilasi (tersering psikogenik karena stress dan kecemasan), hipoksemia (pneumonia,
gagal jantung kongestif, hipermetabolik (demam), stroke, stadium dini keracunan aspirin,
septikemia. Gejala Alkalosis Respiratorik yaitu terjadinya hiperventilasi (kadar gas, frekuensi
nafas),menguap, mendesak, merasa sulit bernafas, kecemasan,Parastesia, otot berkedut,
tetanidan vasokontriksi serebal hipoksia cerebral kepala dingin dan sulit konsentrasi.
Kecemasan dapat dihilangkan dengan pernafasan kantong kertas yang dipegang erat
disekitar hidung dan mulut dapat memulihkan serangan akut. Hiperventilasi mekanik
diatasi dengan menurangi ventilasi dalam satu menit, menambah ruang hampa udara atau
menghirup 3% CO2 dalam waktu singkat.
8


Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja pernafasan

Proses inspirasi dan ekskresi berlangsung sebanyak 15 sampai dengan 18 kali setiap
menit, tetapi frekuensi ini pada setiap orang berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh faktor-
faktor seperti umur anak-anak lebih banyak frekuensi pernafasannya daripada orang dewasa.
Hal ini disebabkan anak-anak masih dalam usia pertumbuhan sehingga banyak memerlukan
energi. Oleh sebab itu, kebutuhannya akan oksigen juga lebih banyak dibandingkan orang
tua,lalu jenis kelamin laki-laki lebih banyak frekuensi pernafasannya daripada perempuan.
semakin banyak energi yang dibutuhkan, berarti semakin banyak pula O2 yang diambil dari
udara. Hal ini terjadi karena laki-laki umumnya beraktivitas lebih banyak daripada
perempuan. Suhu tubuh Jika dihubungkan dengan kebutuhan energi, ada hubungan antara
pernapasan dengan suhu tubuh, yaitu bahwa antara kebutuhan energi dengan suhu tubuh
berbanding lurus. Artinya semakin tinggi suhu tubuh, maka kebutuhan energi semakin
banyak pula sehingga kebutuhan O2 juga semakin banyak. Posisi tubuh
Posisi tubuh seseorang akan berpengaruh terhadap kebutuhan energinya.orang yang berdiri
lebih banyak frekuensi pengambilan O
2
karena otot yang berkotraksi lebih banyak sehingga
memerlukan energi dan juga dipengaruhi dengan kegiatan yang dilakukan okleh tubuh.
4

Prinsip Kerja Spirometer
Spirometer adalah alat yang mengukur volume udara yang dihirup dan dihembuskan .
alat ini terdiri dari sebuah drum yang berisi udara yang mengapung dalam wadah berisi air.
Sewaktu subjek menghirup dan menghembuskan udara dari drum melalui selang
penguhubung , drum bergerak naik dan turun dan gerakan ini direkam sebagai suatu
spirogram yang dikalibrasikan terhadap besar perubahan volume.
7

Spirometer menggunakan prinsip salah satu hukum dalam fisika yaitu hukum
Archimedes. Hal ini tercermin pada saat spirometer ditiup, ketika itu tabung yang berisi
udara akan naik turun karena adanya gaya dorong ke atas akibat adanya tekanan dari udara
yang masuk ke spirometer. Spirometer juga menggunakan hukum newton yang diterapkan
dalam sebuah katrol . Katrol ini dihubungkan kepada sebuah bandul yang dapat bergerak naik
turun. Bandul ini kemudian dihubungkan lagi dengan alat pencatat yang bergerak diatas
silinder berputar.
Sebenarnya cara kerja spirometer cukup mudah yaitu sesorang disuruh bernafas
(menarik nafas dan menghembuskan nafas) di mana hidung orang itu ditutup. Tabung yang
berisi udara akan bergerak naik turun, sementara itu drum pencatat bergerak putar (sesuai
jarum jam) sehingga pencatat akan mencatat sesuai dengan gerak tabung yang berisi udara.
Pada waktu istirahat, spirogram menunjukkan volume udara paru-paru 500 ml.
Keadaan ini disebut tidal volume. Pada permulaan dan akhir pernafasan terdapat keadaan
reserve; akhir darisuatu inspirasi dengan suatu usaha agar mengisi paru-paru dengan udara,
udara tambahan ini disebut inspiratory reserve volume, jumlahnya sebanyak 3.000 ml.
Demikian pula akhir dari suatu respirasi, usaha dengan tenaga untuk mengeluarkan udara dari
paru-paru, udara ini disebut dengan expiratory reserve volume yang jumlahnya kira-kira
1.100 ml. Udara yang tertinggal setelah ekspirasi secara normal disebut fungtional residual
capacity (FRC). Seorang yang bernapas dalam keadaan baik inspirasi maupun ekspirasi,
kedua keadaan yang ekstrim ini disebut vital capacity.
Dalam keadaan normal, vital capacity sebanyak 4.500 ml. Dalam keadaan apapun
paru-paru tetap mengandung udara, udara ini disebut residual volume (kira-kira 1.000 ml)
untuk orang dewasa.
Untuk membuktikan adanya residual volume, penderita disuruh bernafas dengan mencampuri
udara dengan helium, kemudian dilakukan pengukuran fraksi helium pada waktu ekspirasi.
Di klinik biasanya dipergunakan spirometer. Penderita disuruh bernafas dalam satu menit
yang disebut respiratory minute volume. Maksimum volume udara yang dapat dihirup selama
15 menit disebut maximum voluntary ventilation. Maksimum ekspirasi setelah maksimum
inspirasi sangat berguna untuk mengetes penderita emphysema dan penyakit obstruksi jalan
pernafasan. Penderita normal dapat mengeluarkan udara kira-kira 70% dari vital capacity
dalam 0.5 detik 85% dalam satu detik 94% dalam 2 detik 97% dalam 3 detik. Normal peak
flow rate 350-500 liter/menit.
Manfaat Spirometer
Untuk Pengukuran Laju metabolisme. Dalam penetapan laju metabolisme, konsumsi
Oksigen umumnya diukur dengan menggunakan spirometer yang diisi dengan O
2
dan suatu
sistem yang mengabsorpsi CO
2
. Bandul Spirometer dihubungkan dengan alat pencatat yuang
bergerak diatas suatu silinder yang berputar, sementara bandul bergerak naik turun.Dengan
menarik garis sepanjang grafik yang dibuat,akan diperoleh suatu kemiringan tertentu yang
sebanding dengan besarnya konsumsi O
2
.Jumlah O
2
yang dipakai persatuan waktu dikoreksi
pada suhu dan tekanan standar,kemudian dikonversikan menjadi energi yaitu dengan
dikalikan 4,82 kcal/L O yang dipakai.
Laju metabolisme dipengaruhi banyak faktor.Yang terpenting adalah kerja
otot.Konsumsi O
2
meningkat tidak hanya pada kerja otot,tetapi juga setelahnya sepanjang
diperlukan untuk O
2
debt. Pemberian makanan juga akan meningkatkan laju
metabolisme,karena adanya spesific dynamic action (SDA). SDA suatu makanan adalah
besarnya energi yang diperliukan untuk proses asiimilasi makanan tersebut dalam tubuh.
Faktor lain yang merangsang metabolisme adalah suhu lingkungan.Bila suhu
lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh,mekanisme untuk mempertahankan suhu tubuh akan
digiatkan,misalnya dengan menggigil,dan laju metabolisme akan meningkat.Bila suhu
lingkungan cukup tinggi hingga mengakibatkan meningkatnya suhu tubuh,terjadi
peningkatan proses metabolisme secara keseluruhan,dan laju metabolisme juga meningkat.
Penutup
Suatu sistem pernafasan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
keseimbangan asam basa, transpor 0
2
dan CO
2
, pengendalian pernafasan itu sangat
mempengaruhi sekali, dan juga otot-otot karena konsumsi O
2
sehingga sangat mempengaruhi
sekali lajunya metabolisme.faktor-faktor dari lingkungan sangat mempengaruhi kapasitas
volume udara yang dihasilkan oleh paru-paru.



Daftar Pustaka

1. Singh I. Teks dan atlas histologi manusia. Jakarta: Binarupa Aksara; 2006.h. 115-20.
2.Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Grays anatomy for students. 1sted.
Philadelpia:Elsevier Churchill Livingstone; 2005; 102-52
3. Woodburne RT. Essential of human anatomy. 6thed. New York: Oxford Universty;2007;
181-200.
4. Sloane E. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Penerbit EGC; 2004.h. 266-8.
5. Junqueira C.Luiz, Carneiro Jose. Histologi Dasar.Edisi ke-10.Jakarta:EGC;2007.h. 151-
134.200-181.
6. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit EGC; 2003.
7. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2011. h. 543-497
8. Corwin, Elizabeth J. Buku Saku Patofisiologi. Edisi ke-3.Jakarta: Penerbit EGC;2009