Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN TEORI


2.1. Definisi
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman Salmonella thypii ( Arief Mansjoer, 2000).
Tifus abdominalis merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus
halus yang disebabkan oleh Salmonella thypii, yang ditularkan melalui
makanan, mulut atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman Salmonella
thypii (Hidayat, 2006).
Menurut Nursalam et al. (2008), demam tipoid adalah penyakit infeksi
akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang
lebih dari 1 minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, Typhoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh Salmonella
thypii dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pada
pencernaan dan gangguan kesadaran yang ditularkan melalui makanan, mulut
atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman Salmonella thypii.

2.2. Epidemologi
Di beberapa negara penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan,
termasuk di Indonesia. Indonesia dan sebagian besar Asia Selatan merupakan
daerah endemik Demam Tifoid. Anak-anak prasekolah dan yang berusia 5-19
tahun seringkali menjadi penderita penyakit ini akibat perilaku jajan sembarangan
yang makanan maupun minuman yang dikonsumsi tidak tejamin kebersihannya.
Demam tifoid terjadi pada 16-33 juta manusia setiap tahunnya, dengan meninggal
sebanyak 500.000.
Sedangkan, dalam referensi lain mengatakan bahwa diperkirakan angka
kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka
kematian mencapai 600.000 jiwa per tahun. Daerah endemiknya tersebar di
berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga
Oceania. 80% kasus ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh,
LAOS, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan Indonesia. Di Indonesia, mayoritas
penderitanya adalah kelompok umur 3-19 tahun (91%) (WHO, 2003).
Di Indonesia, Kabupaten Sumba Barat Daya adalah salah satu daerah
endemic tifoid dengan angka kesakitan diperkirakan mencapai 725/100.000
penduduk per tahun. Angka tersebut melebihi angka kesakitan rata-rata kejadian
demam tifoid di daerah pedesaan Indonesia (385/100.000 penduduk) bahkan
mendekati angka kesakitan untuk penduduk perkotaan (810/100.000 penduduk).

2.3. Etiologi
Penyebab typhoid adalah Salmonella thypii. Salmonella para typhi A, B
dan C. Ada dua sumber penularan Salmonella thypii yaitu pasien dengan
demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh
dari demam typhoid dan masih terus mengekresi Salmonella thypii dalam tinja
dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
Salmonella Thyposa merupakan basil gram negatif yang bergerak
dengan bulu getar, tidak berspora. Di Indonesia, thypoid terdapat dalam
keadaan endemik. Pasien anak yang ditemukan berumur di atas satu tahun.
Sebagian besar pasien yang dirawat dibagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-
RSCM Jakarta berumur diatas 5 tahun (Ngastiyah 2005).

2.4. Patofisiologi
Penularan Salmonella thypii dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang
dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita
typhoid dapat menularkan kuman Salmonella thypii kepada orang lain. Kuman
tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap
dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang
tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan
makanan yang tercemar kuman Salmonella thypii masuk ke tubuh orang yang
sehat melalui mulut.
Salmonella thyposa masuk melaui saluran pencernaan kemudian masuk
ke lambung. Basil akan masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan
dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus
bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limfoid ini
kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel
retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman
ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya
masuk limpa, usus halus dan kandung empedu ke organ terutama hati dan
limpa serta berkembangbiak sehingga organ-organ tersebut membesar
(Ngastiyah 2005).
Semula klien merasa demam akibat endotoksin, sedangkan gejala pada
saluran pencernaan di sebabkan oleh kelainan pada usus halus. Pada minggu
pertama sakit, terjadi hyperplasia plaks payers. Ini terjadi pada kelenjar limfoid
usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi
ulserasi plak pyeri (Suriadi 2006).



Otak
Nyeri kepala
Pelepasan mediator
inflamasi
Muntah
Pathway


Saluran pencernaan
Salmonella Thyposa
Lolos dari asam lambung Dimusnahkan oleh lambung
Usus halus
Jaringan limfoid
Kel. Limfoid Usus Halus
Salmonella Thyposa
Aliran darah
Seluruh Tubuh
Masuk retikuloendotelial
Hipertermia
Nekrosis usus halus
Mengeluarkan
endotoksin
Jaringan limfoid
Bedrest
Total
Suhu Tubuh


Konstipasi
Peristaltik usus
Ulkus di Plak Pyeri
Motilitas usus terganggu
Peristaltik usus
Mual
Diare
Defisit
Perawatan Diri
(Oral hygine)
Kekurangan cairan
dan elektrolit
Anoreksia
Gg. Pemenuhan Nutrisi
Defisit volume cairan
dan elektrolit
Masuk limfa dan hati
Pembesaran hati dan limfa
Nyeri perabaan
kuadran atas
Kelemahan
Dehidrasi
Bibir kering dan
pecah-pecah
Gg. Rasa
nyaman
nyeri kepala
Gg. Rasa
nyaman
nyeri perut
Lidah tertutup
selaput putih kotor
(coated tongue)
Napas berbau
tidak sedap
SSP
Merangsang pusat
muntah di medulla
oblongata

2.5. Manifestasi Klinik
Masa inkubasi typhoid 10-20 hari. Klien biasanya mengeluh nyeri kepala
dan terlihat lemah dan lesu disertai demam yang tidak terlalu tinggi dan
berlangsung selama 3 minggu.
Minggu pertama peningkatan suhu tubuh naik turun. Biasanya suhu tubuh
meningkat pada malam hari dan menurun pada pagi hari. Pada minggu kedua
suhu tubuh terus meningkat dan pada minggu ketiga suhu berangsur-angsur
turun dan kembali normal.
Pada gangguan di saluran pencernaan, terdapat napas berbau tidak sedap,
bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor
(coated tongue) , ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada
abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan
limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya terjadi konstipasi tetapi
juga terdapat diare atau normal menurut Ngastiyah (2005). Umumnya klien
mengalami penurunan kesadaran yaitu apatis sampai somnolent, jarang terjadi
stupor, koma, atau gelisah kecuali terjadi penyakit berat dan terlambat
mendapatkan pengobatan.

2.6. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Suryadi (2006) pemeriksaan pada klien dengan typhoid adalah
pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari:
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid
terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya
leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam
typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas
normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah
leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.


2. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi
dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi
bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam
typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa
faktor:

a. Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan
laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan
media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik
adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
b. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit
Biakan darah terhadap Salmonella thypii terutama positif pada
minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada
waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
c. Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan
bakteremia sehingga biakan darah negatif.
d. Pengobatan dengan obat anti mikroba.
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti
mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil
biakan mungkin negatif.
4. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella thypii terdapat
dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah
divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari
uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien
yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh Salmonella thypii,
klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari
tubuh kuman).
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari
flagel kuman).
c. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari
simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien
menderita typhoid.
5. Pemeriksaan Tubex
Pemeriksaan yang dapat dijadikan alternatif untuk mendeteksi
penyakit demam tifoid lebih dini adalah mendeteksi antigen spesifik dari
kuman Salmonella (lipopolisakarida O9) melalui pemeriksaan IgM Anti
Salmonella (Tubex TF). Pemeriksaan ini lebih spesifik, lebih sensitif, dan
lebih praktis untuk deteksi dini infeksi akibat kuman Salmonella thypii.
Keunggulan pemeriksaan Tubox TF antara lain bisa mendeteksi secara dini
infeksi akut akibat Salmonella thypii, karena antibody IgM muncul pada
hari ke 3 terjadinya demam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
pemeriksaan ini mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap kuman
Salmonella (lebih dari 95%). Keunggulan lain hanya dibutuhkan sampel
darah sedikit, dan hasil dapat diperoleh lebih cepat, Anon
1
(2010).

2.7. Penatalaksanaan Medis
Pasien yang di rawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus
dianggap dan diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan di
berikan perawatan sebagai berikut:
1. Perawatan
o Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam hilang atau 14 hari untuk
mencegah komplikasi perdarahan usus.
o Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya
kondisi bila ada komplikasi perdarahan.
2. Diet
o Makanan mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein
o Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak
merangsang kerja usus dan tidak mengandung gas, dapat diberikan
susu 2 gelas sehari
o Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
o Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
o Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam
selama 7 hari.
3. Obat-obatan
Obat-obat yang dapat di berikan pada anak dengan thypoid yaitu :
o Klorampenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100mg/kgBB/hari
(maksimum) 2 gram/hari, diberikan peroral atau intravena. Pemberian
kloramfenikol dengan dosis tinggi tersebut mempersingkat waktu
perawatan dan mencegah relaps. Efek negatifnya adalah mungkin
pembentulan zat anti berkurang karena basil terlalu cepat di
musnahkan. Dapat juga diberikan Tiampenikol, Kotrimoxazol,
Amoxilin dan ampicillin disesuaikan dengan keluhan anak.
Kloramfenikol digunakan untuk memusnahkan dan menghentikan
penyebaran kuman. Diberikan sebagai pilihan utama untuk mengobati
demam thypoid di Indonesia.
o Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila
terjadi dehidrasi dan asidosis diberikan cairan intravena.



2.8. Komplikasi
Perdarahan usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, ensefalopati,
bronkopneumonia, hepatitis. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000).
Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10%
penderita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2
penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan
darah serta kenaikan denyut jantung.Pneumonia sering ditemukan selama
stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh
organisme lain selain Salmonella. Pielonefritis, endokarditis, meningitis,
osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. Arthritis
septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati.
(Behrman Richard, 1992)

2.9. Pencegahan
Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (2006), ada 3 strategi pokok
untuk memutuskan transmisi thypoid yaitu:
- Identifikasi dan eradikasi Salmonella thypii baik pada kasus demam
thypoid maupun pada kasus carrier thypoid.
- Pencegahan transmisi langsung dari pasien terinfeksi Salmonella thypii
akut maupun carrier.
- Proteksi pada orang yang beresiko terinfeksi.
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci
tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan
makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipasteurisasi), hindari
minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas
karena akan memperberat kerja usus dan pemberian vaksin.




2.10. Tumbuh kembang anak usia 6-12 Tahun
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ
fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau
dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 4 Kg / tahun dan pada
anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk
dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.
a. Motorik kasar
1) Loncat tali
2) Badminton
3) Memukul
4) motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara
bertahap meningkatkan irama dan keleluasaan.
b. Motorik halus
1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan
bermain alat musik.
c. Kognitif
1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan
masalah
3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali
sejak awal
4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
d. Bahasa
1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata
keterangan, kata penghubung dan kata depan
3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan

2.11. Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan
menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress
tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit
dan pengobatan.
Penyebab anak stress meliputi ;
a. Psikososial: Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman
dan perubahan peran
b. Fisiologis: Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak
mengontrol diri
c. Lingkungan asing: Kebiasaan sehari-hari berubah
d. Pemberian obat kimia

Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
a. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya
b. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa
nyeri
c. Selalu ingin tahu alasan tindakan
d. Berusaha independen dan produktif
Reaksi orang tua
a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur,
pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak
b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta
tidak familiernya peraturan Rumah sakit







2.12. Asuhan Keperawatan Teori
2.12.1. Pengkajian
Pengumpulan data
1. Identitas klien
Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa,
agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register
dan diagnosa medik.
2. Keluhan utama
Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak
turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare
serta penurunan kesadaran.
3. Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke
dalam tubuh.
4. Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit demam tifoid.
5. Riwayat penyakit keluarga
Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.

11 pola fungsional kesehatan menurut Gordon adalah:
1. Persepsi dan Penanganan Kesehatan
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan dan penanganan kesehatan. Persepsi
terhadap arti kesehatan, dan piata laksanaan kesehatan, kemampuan
menyusun tujuan, pengetahuan tentang praktek kesehatan.
Komponen:
a. Gambaran kesehatan secara umum dan saat ini,
b. Alasan kunjungan dan harapan,
c. Gambaran terhadap sakit dan penyebabnya dan penanganan yang
dilakukan,
Kepatuhan terhadap pengobatan
Pencegahan/tindakan dalam menjaga kesehatan
Penggunaan obat resep dan warung,
Penggunaan produk atau zat didalam kehidupan sehari-hari dan
frekuensi (misal : rokok, alkohol)
Penggunaan alat keamanan dirumah/sehari-hari, dan faktor resiko
timbulnya penyakit
Gambaran kesehatan keluarga

2. Nutrisi-Metabolik
Menggambarkan intake makanan, keseimbangan cairan dan elektrolit, nafsu
makan, pola makan, diet, fluktuasi BB dalam 6 bulan terakhir, kesulitan
menelan, mual / muntah, kebutuhan julah zat gizi, masalah / penyembuhan
kulit, akanan kesukaan.
Komponen
Gambaran yang biasa dimakan (Pagi,siang,sore,snack)
Tipe dan intake cairan
Gambaran bagaimana nafsu makan, kesulitan dan keluhan yang
mempengaruhi makan dan nafsu makan
Penggunaan obat diet
Makanan Kesukaan, Pantangan,alergi
Penggunaan suplemen makanan
Gambaran BB, perubahan BB dalam 6-9 bln,
Perubahan pada kulit (lesi, kering, membengkak,gatal)
Proses penyembuhan luka (cepat-lambat)
Adakah faktor resiko terkait ulcer kulit (penurunan sirkulasi, defisit
sensori,penurunan mobilitas)

3. Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi, kandung kemih dan kulit.
Komponen
Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin
Adakah masalah dalam proses miksi, adakah penggunaan alat bantu
untuk miksi
Gambaran pola BAB, karakteritik
Penggunaan alat bantu
Bau bdn, Keringat berlebih,lesi & pruritus

4. Aktivitas-Latihan
Menggambarkan pola aktivitas dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi.
Komponen
Gambaran level aktivitas, kegiatan sehari-hari dan olahraga
Aktivitas saat senggang/waktu luang
Apakah mengalami kesulitan dalam bernafas, lemah, batuk, nyeri
dada,palpitasi,nyeri pada tungkai, gambarkan!

Gambaran dalam pemenuhan ADL
1. Level Fungsional (0-IV)
2. Kekuatan Otot (1-5)

5. Tidur-Istirahat
Menggambarkan pola tidur-istirahat dan persepsi pada level energi.
Komponen
Berapa lama tidur dimalam hari
Jam berapa tidur-Bangun
Apakah terasa efektif
Adakah kebiasaan sebelum tidur
Apakah mengalami kesulitan dalam tidur

6. Kognitif-Persepsi
Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, taktil, penciuman,
persepsi nyeri, bahasa, memori dan pengambilan keputusan.
Komponen
Kemampuan menulis dan membaca
Kemampuan berbahasa
Kemampuan belajar
kesulitan dalam mendengar
Penggunaan alat bantu mendengar/melihat
Bagaimana visus
Adakah keluhan pusing bagaimana gambarannya
Apakah mengalami insensitivitas terhadap dingin, panas,nyeri
Apakah merasa nyeri (Skala dan karaketeristik)
Suhu abnormal

7. Persepsi Diri Konsep Diri
Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap kemampuan,harga
diri,gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri.
Komponen
Bagaimana menggambarkan diri sendiri
Apakah ada kejadian yang akhirnya mengubah gambaran terhadap diri
Apa hal yang paling menjadi pikiran
Apakah sering merasa marah, cemas, depresi, takut, bagaimana
gambarannya

8. Peran Hubungan
Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga-lainnya.
Komponen
Bagaimana gambaran pengaturan kehidupan (hidup sendiri/bersama)
Apakah mempunyai orang dekat?Bagaimana kualitas hubungan?Puas?
Apakah ada perbedaan peran dalam keluarga, apakah ada saling
keterikatan
Bagaimana dalam mengambil keputusan dan penyelesaian konflik
Bagaimana keadaan keuangan
Apakah mempunyai kegiatan sosial?

9. Seksualitas Reproduksi
Menggambarkan kepuasan/masalah dalam seksualitas-reproduksi.
Komponen
Apakah kehidupan seksual aktif
Apakah menggunakan alat bantu/pelindung
Apakah mengalami kesulitan/perubahan dalam pemenuhan kebutuhan
seks
Khusus wanita : TMA, gambaran pola haid, usia menarkhe/ menopause
riwayat kehamilan, masalah terkait dengan haid

10. Koping Toleransi Stres
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stres dan menggunakan
sistem pendukung.
Komponen
Apakah ada perubahan besar dalam kehidupan dalam bbrp thn terakhir
Dalam menghadapi masalah apa yang dilakukan?efektif?
Apakah ada orang lain tempat berbagi?apakah orang tersebut ada sampai
sekarang?
Apakah anda selalu santai/tegang setiap saat
Adakah penggunaan obat/zat tertentu

11. Nilai Kepercayaan
Menggambarkan spiritualitas, nilai, sistem kepercayaan dan tujuan dalam
hidup.
Komponen
Apakah anda selalu mendapatkan apa yang diinginkan
Adakah tujuan,cita-cita,rencana di masa y.a.d
Adakah nilai atau kepercayaan pribadi yang ikut berpengaruh
Apakah agama merupakan hal penting dalam hidup?Gambarkan

2.13. Diagnosa Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan
suplai oksigen dengan kebutuhan, dispnea.
2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi kuman salmonella
thypii.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses peradangan.
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, demam
5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake
outpu tidak adekuat.
6. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat dan peningkatan suhu tubuh.
7. Konstipasi berhubungan dengan Perubahan pola makan
8. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kesadaran
9. Intolerasnsi Aktifitas berhubungan dengan Kelemahan Umum
10. Gangguan personal hygiene berhubungan dengan kelemahan





2.14. Interfensi Keperawatan

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN
TUJUAN
INTERVENSI RASIONAL
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai oksigen dengan
kebutuhan, dispnea.
Dengan keriteri hasil:
1. Tidak terdapat pernapasan cuping
hidung
2. Tidak ada keluhan sesak
3. Frekuensi pernapasan dalam batas
normal 24-32 x/menit
1. Kaji frekuensi, kedalaman, dan upaya pernapasan

2. Selidiki perubahan kesadaran

3. Pertahankan kepala tempat tidur tinggi. Posisi miring

4. Dorong penggunaan teknik napas dalam
5. Kolaborasi Berikan tambahan okseigen sesuai indikasi

1. Pernapasan dangkal, cepat/dispnea sehubungan dengan
peningkatan kebutuhan oksigen
2. Perubahan mental dapat menunjukkan hipoksemia dan
gagal pernapasan
3. Memudahkan pernapasan dengan menurunkan tekanan
pada diafragma
4. Membantu memaksimalkan ekspansi paru
5. Perlu untuk mengatasi/mencegah hipoksia. Bila
pernapasan/oksigenasi tidak adekuat, ventilasi mekanik
sesuai kebutuhan.
2. Hieperrmi berhubungan dengan proses
inflamasi kuman salmonella thypii .
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
2 x 24 jam tidak terjadi kenaikan suhu tubuh
dengan kriteria hasil :
1. Klien merngatakan nyaman.
2. Suhu badan klien 36,5
o
C-37
0
C
1. Jelaskan penyebab terjadinya panas kepada keluarga
atau klien
2. Ajurkan klien untuk banyak istirahat dan
mengurangi aktivitas
3. Berikan klien banyak minum


1. Membantu mengurangi kecemasan pada klien maupun
keluarga
2. Aktivitas yang berlebihan akan memperberat kerja
usus sehingga menghambat proses penyembuhan
3. Mengembalikan cairan yang keluar saat suhu tubuh
mengalami peningkatan serta mencegah terjadinya
dehidrasi


4. Berikan kompres air hangat
5. Berikan klien pakaian yang mudah menyerap
keringat
6. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
7. Monitor tanda-tanda vital

8. Monitor input dan output cairan
9. Kolaborasi medis untuk pemberian obat antibiotik
4. Membantu menurunkan suhu tubuh
5. Membantu memberikan rasa nyaman pada klien
6. Memberikan rasa nyaman pada klien

7. Sebagai indikator untuk memantau perkembangan
penyakit klien
8. Membantu mencegah terjadinya dehidrasi
9. Membantu menghilangkan bakteri penyebab thypoid

3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan proses peradangan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
2 x 24 jam tidak terjadi nyeri pada bagian perut
dengan criteria hasil
1. Klien mengatakan nyeri berkurang atau
hilang.
2. Klien menunjukan ekspresi wajah tenang.
3. Nyeri tekan berkurang.
4. TTV dalam batas normal.

1. Kaji respon klien terhadap nyeri

2. Kaji respon nonverbal klien

3. Berikan posisi yang nyaman pada klien
4. Ajak klien untuk mengalihkan rasa sakit
5. Monitor TTV

6. Kolaborasi medis untuk pemberian obat analgetik
1. Membantu menyamakan persepsi antara perawat dan
klien
2. Mencocokan kesesuaian dengan verbal klien
3. Membantu mengurangi rasa sakit yang di rasakan klien
4. Membantu mengalihkan perhatian mereka dari apa
yang di rasakan
5. Sebagai indikator untuk memantau perkembangan
penyakit klien
6. Menurangi rasa sakit yang dirasakan klien
4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
1. Kaji kebiasaan makan klen

1. Membantu menentukan inrevensi yang tepat
2. Memberikan rasa nyaman pada klien agar klien mau
dan output tidakadekuat :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3 x 24 jam tidak gangguan pemenuhan nutrisi
dengan criteria hasil
1. Klien mampu menghabiskan 1 porsi
makanan yang disajikan.
2. BB klien stabil atau naik.



2. Jaga kebersihan mulut, bersihkan secret maupun
kotoran-kotoran sebelum makan
3. Berikan makanan sedikit-sedikit tapi sering

4. Berikan atau anjurkan untuk memberikan makanan
tambahan di luar jam makan sesuai dengan kesukaan
klien selama tidak ada kontraindikasi
5. Kolaborasi dengan ahli gizi

6. Monitor BB setiap hari


makan
3. Membantu klien untuk tidak mrasa mual saat makan
dan makanan tetap masuk dengan jumlah yang
dibutuhkan
4. Membantu meningkatkan nafsu makan pada klien


5. Membantu menyediakan makanan sesuai kebutuhan
klien
6. Menunjukan pertumbuhan pada klien.
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri,
demam Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3X24 jam, pola tidur efektif
Kriteria hasil :
1. Melaporkan tidur nyenyak
2. Klien tidur 8-10 jam semalam
3. Klien tampak segar



1. Kaji pola tidur klien
2. Berikan bantal yang nyaman
3. Berikan lingkungan yang nyaman, batasi
pengunjung
4. Anjurkan untuk melakukan teknik relaksasi nafas
dalam/masase punggung sebelum tidur

1. Mengetahui kebiasaan tidur klien, mengetahui
gangguan yang dialami, memudahkan
intervensi selanjutnya
2. Meningkatkan kenyamanan meningkatkan
pemenuhan istirahat tidur
3. Mengurangi stimulus yang dapat mengganggu
istirahat tidur
4. Meningkatkan relaksasi menstimulasi istirahat
tidur yang nyaman
6. Konstipasi beruhubungan dengan Pola makan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 X 24 jam, pola eliminasi
kembali normal
Kriteria hasil : Klien melaporkan BAB
lancar
- Konsistensi lunak

1. Kaji pola eliminasi klien
2. Auskultasi bising usus
3. Selidiki keluhan nyeri abdomen
4. Observasi gerakan usus, perhatikan warna,
konsistensi, dan jumlah feses
5. Anjurkan makan makanan lunak, buah-
buahan yang merangsang BAB
6. Kolaborasi Berikan pelunak feses,
supositoria sesuai indikasi
1. Sebagai data dasar gangguan yang dialami,
memudahkan intervensi selanjutnya
2. Penurunan menunjukkan adanya obstruksi
statis akibat inflamasi, penumpukan fekalit
3. Berhubungan dengan distensi gas
4. Indikator kembalinya fungsi GI,
mengidentifikasi ketepatan intervensi
5. Mengatasi konstipasi yang terjadi
6. Mungkin perlu untuk merangsang peristaltik
dengan perlahan
7. Defisit perawatan diri ( oral hygiene )
berhubungan dengan kelemahan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1 x 24 jam tidak terjadi defisit perawatan diri
(oral hygiene) dengan criteria hasil :
1. Mulut tampak bersih.
2. Mulut tercium tidak berbau.
3. Lidah tampak bersih.
1. Kaji tingkat ketergantungan klien
2. Bantu klien dalam melakukan aktifitas ringan seperti
mengubah posisi

3. Ajarkan keluarga dalam membantu klien agar dapat
memenuhi ADL
1. Menentukan intervensi yang akan di berikan
2. Membantu memotivasi klien untuk memenuhi ADL
3. Klien biasanya lebih nyaman jika di bantu oleh
keluarganya selain itu akan dapat mempererat ikatan
emosional.

8. Resiko tinggi kekurangan volume cairan dan
elektrolit berhubungan dengan defekasi
berlebihan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1. Observasi TTV anak 4 jam sekali
2. Monitor tanda-tanda kekurangan cairan seperti turgor
tidak elastic, produksi urin menurun, membrane
mukosa kering, bibir pecah-pecah
1. Membantu memantau keadaan klien
2. Melakukan pencgahan dehidrasi sejak awal


2 x 24 jam tidak terjadi kekurangan volume dan
cairan dan elektrolit dengan kriteria hasil :
1. Mukosa bibir tampak lembab.
2. TTV dalam batas normal.
3. Klien tampak tidak lemas
4. Tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi

3. Observasi dan catat intake dan output cairan

4. Monitor pemberian cairan melalui intravena

5. Berikan kompres dingin


3. Untuk mempertahankan intake dan output yang adekuat
4. Mencegah terjadinya pemasukan cairan yang berlebihan
5. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak kelihatan