Anda di halaman 1dari 4

Sistem Pemetaan Arkeologi Nasional (SPAN) _jse yuwono_arkeologi ugm, 2010.

1
SISTEM PEMETAAN ARKEOLOGI NASIONAL (SPAN):
strategi integrasi dan pengelolaan data spasial
Oleh:
J. Susetyo Edy Yuwono
Arkeologi UGM
A. Latar Belakang
1. Situs arkeologi tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan
keragaman tinggi dalam hal periodisasi, jenis temuan, tinggalan,
sejarah penelitian, pelestarian dan pemanfaatan, serta kriteria
klasifikasi lainnya.
2. Pengelolaan situs dilakukan oleh pusat dan beberapa institusi yang
tersebar di masing-masing daerah. Namun sejauh ini,
perbandingan/persentase antara besarnya potensi arkeologis,
luasan wilayah, serta sumberdaya manusia dan prasarana di
masing-masing instansi belum pernah dipetakan.
3. Masing-masing instansi pengelola situs melakukan pemetaan skala
detil hampir di setiap penelitian atau kegiatan lapangan lainnya.
Tatacara pemetaan yang dimaksud sangat bervariasi baik dalam
skala, datum, sistem koordinat, kedetilan informasi, serta
visualisasi liputannya (coverage).
4. Semua peta yang sudah dihasilkan oleh masing-masing instansi
arkeologi masih berupa peta analog (raster). Pemrosesan lebih
lanjut ke dalam format digital, baik dalam bentuk vektor (entitas)
maupun atributnya (basisdata) belum dilakukan.
5. Peta dasar yang tersedia, termasuk produk Peta Rupa Bumi
Indonesia, kebanyakan berbasis sistem grid UTM (Universal
Transverse Mercator). Penggunaan sistem koordinat ini telah diacu
oleh banyak pihak dalam pembuatan peta mengingat kelebihan-
kelebihan yang dimilikinya dibandingkan dengan koordinat
geografis. Namun demikian, kelemahan mendasar dari sistem grid
ini, khususnya untuk pemetaan lintas zone belum banyak disadari.
B. Permasalahan, Tujuan, dan Manfaat
1. Permasalahan:
Bagaimana strategi pengintegrasian data spasial arkeologi, baik
peta-peta hasil penelitian maupun seluruh informasi situs di semua
instansi ke dalam sistem pemetaan arkeologi yang berskala
nasional (SPAN)?
Sistem Pemetaan Arkeologi Nasional (SPAN) _jse yuwono_arkeologi ugm, 2010.
2
2. Tujuan:
Membuat indeks peta atau sistem grid peta arkeologi untuk
mengintegrasikan semua data spasial arkeologi nasional berbasis
GIS (geographic information system) yang komprehensif,
aksesibel, dan mudah di-update untuk berbagai kepentingan.
3. Manfaat:
a. Memperoleh kerangka acuan spasial untuk reinventarisasi,
input, registrasi, dan pemrosesan basisdata arkeologi sesuai
dengan indeks peta yang terorganisir dan dapat
dipertanggungjawabkan secara kartografis.
b. Memperoleh acuan pemetaan di tingkat lokal (zone) menurut
sistem grid UTM (Universal Transverse Mercator) maupun di
tingkat global dengan menerapkan koordinat geografis.
c. Memperoleh kerangka acuan pemetaan baik di level
conceptual design, operational design, dan cartographic
design, melalui pengoperasian GIS yang sangat
memudahkan pengelolaan geodatabase, geoprocessing, dan
geovisualization.
C. Metodologi
Perlu dibuat sistem indeks (grid) untuk mengintegrasikan semua peta
hasil penelitian arkeologi. Grid yang diusulkan sebesar 1 x 1 derajat pada
sistem koordinat geografis (mengingat bahwa instansi arkeologi di
Indonesia tersebar pada zone UTM yang bervariasi).
Pertimbangan pembuatan grid:
1. Pembagian zone menurut sistem grid UTM (Universal Transverse
Mercator), Datum: WGS1984.
2. Pemakaian angka bulat (1 derajat). Tidak menggunakan indeks
peta yang sudah dibuat Bakosurtanal, karena adanya perbedaan
skala peta dasar antara wilayah Jawa Bali dengan pulau-pulau
lainnya.
3. Kemudahan untuk membuat grid-grid yang lebih kecil sesuai
liputan (coverage) dan skala peta yang akan dihasilkan, tanpa
terjadi overlap antar zone UTM.
Sistem Pemetaan Arkeologi Nasional (SPAN) _jse yuwono_arkeologi ugm, 2010.
3
Langkah kerja:
1. Dengan menggunakan satuan indeks (grid) seluas 1 x 1 derajat,
wilayah Indonesia (tidak termasuk wilayah perairan terluar) dapat
dibagi ke dalam 782 grid mulai dari 95 141 BT dan 6 LU
11 LS, dengan rincian sebagai berikut:
Sumbu X: 46 grid
Sumbu Y: 6 grid di utara Equator
11 grid di selatan Equator
2. Overlay antara jejaring grid dengan peta wilayah Indonesia
keluaran Bakosurtanal tahun 2006, menghasilkan 390 grid yang
intersect dengan wilayah daratan Indonesia.
3. Membagi jejaring grid berdasarkan zone UTM, mulai dari zone 46
54, dengan lebar masing-masing 6 derajat.
4. Penamaan indeks dan penyusunan basisdata semua grid (390
grid). Tata cara penamaan terdiri atas empat unsur, yaitu:
a. Letak zone UTM : 46, 47, 48, dst.
b. Letak lintang : N dan S.
c. Urutan grid lintang : 1, 2, 3, dst.
d. Urutan grid bujur (masing-masing zone memiliki urutan grid
a, b, c, d, e, f, g, dari kiri ke kanan).
5. Pembuatan layout peta indeks skala kecil (terlampir)
Pemakaian indeks peta dalam Sistem Pemetaan Arkeologi Nasional
(SPAN) ini memiliki beberapa keuntungan:
1. Memiliki basisdata yang mudah dikelola untuk menginventarisasi,
menyimpan, mengklasifikasi, mengolah, dan menampilkan data
arkeologi se Indonesia.
2. Sistem penamaan indeksnya sederhana tetapi memuat informasi
yang cukup mengenai posisi suatu situs (zone UTM, posisi
hemisphere, besar lintang, dan posisi bujur baik secara geografis
maupun UTM).
3. Batas terluar masing-masing zone UTM otomatis menjadi batas
grid, sehingga tidak terjadi kesulitan dalam perbesaran masing-
masing grid akibat perbedaan zone UTM.
4. Meskipun setiap grid masih terlalu luas (1 x 1 derajat atau rata-
rata 12.000 km2), namun mudah dipecah ke dalam peta-peta skala
rinci (> 1:10.000), dengan menambah unsur-unsur penamaan
baru.
Sistem Pemetaan Arkeologi Nasional (SPAN) _jse yuwono_arkeologi ugm, 2010.
4
D. Penutup
Indeks peta merupakan kebutuhan mendasar bagi para pengelola
sekaligus pengguna informasi yang berbasis spasial. Situs arkeologi yang
tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia tentunya juga perlu memiliki
indeks peta tersendiri untuk mengelola informasi spasialnya, yang dapat
diintegrasikan dengan indeks peta dasar (basemap) yang sudah
dikembangkan sebelumnya oleh Bakosurtanal. Pemakaian indeks Sistem
Pemetaan Arkeologi Nasional (SPAN) ini diharapkan dapat
mengintegrasikan semua kekayaan arkeologi di Indonesia, agar lebih
bermanfaat baik untuk kepentingan akademis maupun praktis.