Anda di halaman 1dari 2

Menyiapkan Tempat Kerja Berdasarkan Prosedur Kerja dan Kebutuhan

Ergonomis
Tempat kerja adalah bagian penting dalam suatu usaha yang berpengaruh pada kenyamanan dan
keselamatan kerja (siswa atau pekerja). Keadaan atau suasana yang nyaman (comfortable) dan
aman (safe) akan menimbulkan gairah produktivitas kerja.


1. Menyiapkan Tempat Kerja

Pada industri garmen, tempat kerja berbeda antara tempat kerja memotong bahan (cutting)
dengan tempat kerja menjahit (tailoring).
Tempat kerja harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan peralatan kerja sehingga tempat
kerja tersebut dapat memenuhi persyaratan tempat kerja yang ergonomis. Semua peralatan
kerja haruslah tertata secara rapi dan efisien yang ditempatkan pada tempat-tempat khusus
(misalnya : kotak atau box, lemari, dan sebagainya). Pada industri garmen, setidaknya
terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengatur dan mengelola tempat kerja,
yaitu :

Memperhatikan kegunaan atau fungsi dari tempat tersebut.
Misal : tempat kerja sewing harus dipisahkan dengan tempat kerja cutting, dan sebagainya.
Memperhatikan kapasitas pegawai dalam setiap ruangan atau tempat kerja.
Memperhatikan kondisi ruangan (ventilasi udara), dengan suhu ruangan 25 derajat Celcius.
Memperhatikan kondisi cahaya penerangan yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang
dilakukan.
Memperhatikan tekanan udara dalam ruangan kerja.
Alat dan bahan ditempatkan sesuai dengan kegunaan.
Menyediakan ruangan istirahat (rest room) yang disediakan untuk tempat istirahat.
Memperhatikan penempatan kamar ganti, kamar kecil.
Senantiasa menjaga kebersihan tempat kerja.
2. Istilah Ergonomika
Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ergon yang berarti kerja dan nomos berarti
aturan, kaidah, atau prinsip.
Ergonomi atau ergonomika adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan
elemen-elemen lain dalam suatu sistem kerja, yang mencakup karakteristik fisik maupun
nonfisik, keterbatasan manusia, dan kemampuannya dalam merancang suatu sistem yang
efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien. Kata sifat dari ergonomi adalah ergonomis, yaitu
kaidah atau aturan yang mengatur berbagai faktor-faktor antara manusia dengan elemen-
elemen dalam suatu sistem kerja.
3. Penerapan Konsep Budaya Kerja di Tempat Kerja
Konsep budaya kerja di tempat kerja mempunyai manfaat dan peranan sebagai berikut :

Tempat kerja menjadi teratur dan efisien, dan proses diversifikasi produk menjadi mudah.
Memotovasi pegawai untuk senantiasa aktif bekerja.
Meningkatkan produktivitas kerja sehingga menghasilkan produk yang baik.
Mengurangi kecelakaan di tempat kerja.
4. Praktik K3 di Tempat Kerja
Tempat kerja harus memperhatikan konsep dan unsur K3 yang menjadi SOP (Standar
Operasional Prosedur) yang penting bagi kesehatan, keselamatan dan keamanan kerja para
pegawai. SOP memiliki manfaat dalam mengelola resiko atau bahaya dalam menggunakan
peralatan, mesin, bahan kimia, alat berat, dan sebagainya.

SOP Kesehatan di Tempat Kerja
Secara umum, faktor yang menjadi perhatian perusahaan terhadap kesehatan pegawai
adalah faktor pencahayaan. Tempat kerja harus didesain untuk menghindari pencahayaan
yang mengakibatkan kelelahan mata yang berindikasi pada berkurangnya daya dan efisiensi
kerja, kelelahan mental, kerusakan indra penglihatan, meningkatkan kecelakaan, dan
sebagainya. Tingkat pencahayaan atau penerangan pada tiap-tiap pekerjaan di ruangan atau
tempat kerja yang berbeda, maka berbeda pula tingkat pencahayaannya. Pekerjaan dengan
tingkat ketelitian tinggi, maka diperlukan pencahayaan yang sangat terang, sebagai contoh
pekerjaan sewing.
Di bawah ini adalah faktor yang menjadi perhatian dalam menentukan tingkat pencahayaan di
tempat kerja, yaitu :

Sumber pencahayaan (buatan/lampu dan alami/cahaya matahari)
Posisi pegawai dalam bekerja
Jenis pekerjaan yang dilakukan
Lingkungan pekerjaan secara keseluruhan
Desain ventilasi, harus mampu mengontrol kesilauan, pantulan, dan bayang-bayang yang
ada di tempat kerja
Lama bekerja
Penggunaan warna dalam pencahayaan
Standar pencahayaan ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (PMP) No. 7 Tahun
1964, tetang Syarat-Syarat Kesehatan, Kebersihan, dan Pencahayaan.
SOP Keselamatan dan Keamanan di Tempat Kerja
Pada umumnya, industri garmen hendaklah mengikuti dan menerapkan SOP keselamatan
dan keamanan kerja sebagai berikut :

Perusahaan menyediakan alat-alat perlindungan keselamatan kerja.
Contoh : masker, sarung tangan, helm, kacamata, tangga, dan sebagainya disesuaikan
dengan jenis pekerjaan.
Menempatkan alat-alat pemadam kebakaran di tempat yang mudah terjangkau dan terlihat,
dengan diberi tanda sesuai dengan pedoman UU No. 1 Tahun 1970.
Setiap pekerja wajib mengetahui tempat alat-alat pemadam kebakaran dan mengetahui cara
penggunaannya serta ketentuan kerja sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1970.
Melakukan tindakan pencegahan bahaya kebakaran terhadap benda atau bahan yang
mudah terbakar.
Perusahaan wajib memiliki sinyal atau tanda peringatan (alarm) kebakaran dan memiliki jalan
evakuasi tercepat.
Setiap pekerja wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menanggulangi bahaya
kebakaran.
Secara periodik, melaksanakan latihan pemadaman kebakaran serta melakukan pembinaan-
pembinaan dengan tujuan untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan, memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Perusahaan wajib mengeluarkan peraturan terhadap pegawai di tempat kerja sesuai dengan
jenis pekerjaan.[]