Anda di halaman 1dari 27

A.

PENTINGNYA USAHA PEMBELAAN NEGARA


1. Pengertian Negara

Istilah negara sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-15 yang dianggap sebagai
terjemahan dari bahasa Latin, yaitu status atau statum, yang artinya dalam keadaan tetap
berdiri atau tegak atau sesuatu yang memiliki sifat tetap dan tegak. Dalam bahasa Belanda
disebut staat, bahasa Perancis disebut 'etat, bahasa Inggris disebut state, bahasa Itali
disebut lo stato, dan dalam bahasa Yunani disebut dengan polis yang berarti negara kota
(city state).Hingga dewasa ini sudah banyak para ahli yang memberikan pengertian tentang
negara, namun hingga kini belum ada pengertian yang dianggap sempurna dan dapat diterima
oleh semua pihak. Setiap ahli memberikan pengertian negara berdasarkan latar belakang
dan sudut pandang masing-masing.
Namun dari sekian banyak pengertian terdapat kesamaan, yakni hampir pada umumnya
memandang negara sebagai suatu organisasi yang memiliki kekuasaan yang dapat mengatur
orang banyak. Namun demikian, tidak semua organisasi merupakan negara, misalnya
organisasi siswa, organisasi olahraga dan sebagainya, karena organisasi-organisasi tersebut
tidak memiliki kekuasaan sebagaimana halnya negara. Kekuasaan inilah yang membedakan
negara dengan organisasi lainnya.
Menurut Van Apeldoorn, negara mengandung beberapa pengertian berikut :
a. Penguasa, orang atau orang-orang yang memiliki dan melakukan kekuasaan tertinggi atas
persekutuan rakyat dalam suatu wilayah.
b. Persekutuan rakyat, suatu bangsa dalam daerah tertentu di bawah kekuasaan tertinggi yang
patuh terhadap hukum yang sama.
c. Wilayah, daerah sebagai tempat dimana suatu bangsa berdiam atau berdomisili di
dalamnya,
d. Kas negara, yakni segala kekayaan yang ada di dalamnya yang dipegang oleh penguasa yang
dikelola untuk kepentingan umum.


Arti negara dalam kaitannya dengan kekuasaan adalah sebagai berikut :
a. Negara dalam arti formal, adalah organisasi kekuasaan yang berdaulat dan dengan tata
pemerintahannya melaksanakan tata tertib atas kelompok manusia di wilayah negara itu.
b. Negara dalam arti materiil, yakni sebagai masyarakat yang merupakan persekutuan hidup
atau perkumpulan sosial.

Dari sejumlah pendapat, pengertian negara dapat ditinjau dari empat sudut pandang,
sebagai berikut :
a. Negara sebagai organisasi kekuasaan.
Dari pandangan ini negara ialah alat masyarakat yang memiliki kekuasaan untuk
mengatur hubungan antar manusia dalam masyarakat tersebut. Ahli yang berpendapat
seperti ini antara lainHarold J. Laski dan Logemann.
HJ Laski menyatakan negara adalah suatu organisasi masyarakat yang diintegrasikan,
karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan secara sah lebih agung daripada
individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu. Negara dengan
kekuasaannya dapat memerintah setiap orang yang ada dalam wilayah negara tersebut
tanpa tawar-menawar.
Menurut Logemann, negara pada intinya merupakan suatu organisasi kekuasaan yang
mempersatukan kelompok manusia yang selanjutnya disebut bangsa. Sebagai organisasi
kekuasaan, negara memiliki kewibawaan untuk memaksanakan keinginannya.

b. Negara sebagai organisasi politik.
Dalam pandangan ini negara dianggap sebagai integrasi kekuasaan politik yang
berfungsi sebagai alat yang mengatur hubungan-hubungan manusia dan menertibkan
kekuasaan-kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Hal itu dilakukan untuk mencapai tujuan-
tujuan masyarakat tersebut. Ahli yang berpendapat seperti ini antara lain Roger H. Soltau,
Max Weber dan Robert M. Mac Iver.
Menurut Soltau, negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan
persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat. Negara merupakan sarana untuk
mewujudkan kesejahteraan bersama, khususnya dalam hal menyelesaikan konflik yang
muncul dalam kehidupan bermasyarakat.
Mac Iver menyatakan, negara adalah asosiasi yang berfungsi memelihara ketertiban
dalam masyarakat berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah
yang diberi kekuasaan memaksa.
Max Weber menegaskan, bahwa negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai
monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. Menurut
Weber, hal terpenting dari sebuah negara adalah kewenangannya untuk memonopoli
penggunaan kekuatan fisik, biasanya ditetapkan batas-batasnya dalam sebuah Undang-
Undang Dasar (Konstitusi).
c. Negara sebagai organisasi kesusilaan.
Dalam pandangan ini, negara memiliki peranan untuk menjaga agar individu-individu
yang ada dalam negara mendapatkan perlindungan atas hak-haknya. Para ahli yang
berpendapat seperti ini antara lain Hegel dan Jean Jacques Rousseau.
Hegel melihat negara sebagai sebuah organisasi kesusilaan. Pandangan ini berpangkal
dari anggapan bahwa individu memiliki kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, negara merupakan organisasi kesusilaan yang timbul karena terjadinya
perpaduan individual. Negara merupakan perwujudan dari keseluruhan individu. Oleh karena
itu, negara berkewajiban menjaga kebebasan atau kemerdekaan, sehingga kebebasan
individu yang satu tidak bertentangan dengan kebebasan individu lainnya.
JJ. Rouseau mengemukakan tentang kewajiban negara untuk memelihara kebebasan
individu dan menjaga ketertiban kehidupan manusia. Menurutnya, manusia pada hakikatnya
merdeka dan sama. Negara didirikan untuk menjamin hak-hak asasi manusia. Karena itu,
negara harus didasarkan kepada hukum.
d. Negara sebagai integrasi pemerintah dan rakyat.
Menurut pandangan ini, negara dianggap sebagai kesatuan bangsa dengan tidak
mempertentangkan antara negara dan individu. Individu dianggap sebagai bagian integral
negara yang memiliki kedudukan dan fungsi untuk menjalankan negara. Perpaduan antara
individu dan negara bertambah kuat, karena negara dianggap bukan sebagai organisasi
kekuasaan politik yang didirikan di luar kepentingan manusia, tetapi sebaliknya, negara
berkewajiban untuk memelihara kebebasan dan ketertiban sosial. Pandangan ini disebut
juga paham negara integralistik yang muncul dilatar belakangi oleh adanya pertentangan dua
aliran pemikiran kenegaraan, yaitu antara teori perseorangan dan teori golongan.
Menurut penganut teori perseorangan (individual), negara adalah masyarakat hukum
yang disusun berdasarkan perjanjian antara seluruh individu dalam masyarakat. Tokoh-
tokohnya antara lain Thomas Hobbes, John Locke, JJ Rousseau, Herbert Spencer dan HJ
Laski. Adapun bentuk negara yang berdasarkan individualisme dapat ditemui di Amerika dan
Eropa Barat.
Sedangkan menurut teori golongan, negara merupakan alat dari satu golongan untuk
menguasai golongan yang lain yang lebih lemah. Para tokohnya antara lain Karl
Marx, Lenin dan Friedrich Engels.
Negara Indonesia menganut paham integralistik, tetapi tidak secara murni. Paham
tersebut diartikan sebagai paham negara kesatuan yang didasarkan atas kekeluargaan dan
gotong-royong. Salah satu pendukungnya adalah Soepomo, seorang ahli hukum adat
Indonesia. Selain itu paham ini dapat kita temukan dalam pasal 33 ayat (1) UUD 1945 yang
menyatakan bahwa, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
Selain itu ditemukan pula beberapa pengertian mengenai negara sebagai berikut :
a. Negara adalah organisasi kemasyarakat yang terikat oleh wilayah tertentu dari
pemerintah tertentu.
b. Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang
sah dan ditaati oleh rakyat.
c. Negara adalah suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok manusia
bersama-sama mendiami satu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan
yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia
tersebut.
d. Negara adalah satu perserikatan yang melaksanakan satu pemerintahan melalui hukum yang
mengikat masyarakat dengan kekuasaan untuk memaksa untuk ketertiban sosial.




2. Unsur-Unsur Negara
Suatu organisasi dalam masyarakat baru dapat dikatakan sebagai negara apabila telah
memenuhi beberapa unsur yang harus ada dalam suatu negara. Menurut Konvensi
Montevideo tahun 1933 yang diselenggarakan oleh negara-negara Pan-Amerika di Kota
Montevideo, bahwa suatu negara harus mempunyai unsur-unsur : (a) penduduk yang tetap,
(b) wilayah tertentu, (c) pemerintah, dan (d) kemampuan mengadakan hubungan dengan
negara lain. Sedangkan Oppenheim-Lauterpachtberpandangan, bahwa unsur-unsur
pembentuk (konstitutif) negara adalah : (a) harus ada rakyat, (b) harus ada daerah, dan (c)
pemerintah yang berdaulat. Selain unsur tersebut ada unsur lain yaitu adanya pengakuan
oleh negara lain (deklaratif).
Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari keempat unsur dari negara, yaitu :
a. Rakyat yang bersatu
Rakyat merupakan unsur terpenting dalam suatu negara, karena rakyatlah yang
pertama kali berkehendak untuk membentuk negara. Rakyat adalah semua orang yang
berada di wilayah suatu negara, yang menjadi penghuni suatu negara. Rakyat suatu negara
meliputi penduduk dan bukan penduduk atau orang asing.
Penduduk ialah semua orang yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan
undang-undang dan bertujuan untuk bertempat tinggal, menetap atau berdomisili di dalam
wilayah suatu negara tertentu. Sedangkan mereka yang berada dalam wilayah suatu negara
hanya untuk sementara bukan penduduk, misalnya turis atau tamu asing. Penduduk terdiri
dari warga negara dan bukan warga negara atau warga negara asing.
Warga negara adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
merupakan anggota dari suatu negara. Mereka yang berada dalam wilayah negara, tetapi
bukan anggota dari suatu negara, bukan warga negara.
Menurut pasal 26 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi : Yang menjadi warga negara ialah
orang-orang Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-
undang sebagai warga negara. Kemudian dalam pasal 26 ayat (2) UUD 1945 disebutkan
bahwa : Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di
Indonesia.
Perbedaan antara warga negara dengan orang asing menimbulkan perbedaan hak dan
kewajiban dalam beberapa hal. Misalnya dalam beberapa negara hanya warga negara saja
yang mempunyai hak pilih dalam Pemilu.
Selain itu, warga negara dibedakan pula antara warga negara asli dan warga negara
keturunan asing. Perbedaan ini pun menimbulkan perbedaan hak dan kewajiban dalam
beberapa hal. Misalnya di Indonesia, hanya warga negara Indonesia asli yang dapat dipilih
menjadi presiden.
Selain istilah rakyat, untuk menyebut penghuni negara dipakai pula istilah bangsa.
MenurutErnest Renan, bangsa adalah soal perasaan dan kehendak untuk tetap hidup
bersama yang timbul dari segolongan manusia yang memiliki nasib yang sama, seperti sama-
sama pernah dijajah oleh bangsa lain atau menderita akibat kekuasaan raja yang absolut.
Berkaitan dengan masalah warga negara dikenal adanya beberapa asas
kewaraganegaraan, yaitu :
Ius Soli (tempat kelahiran) : cara menentukan kewarganegaraan menurut negara tempat ia
dilahirkan.
Ius Sanguinis (keturunan) : cara menentukan kewarganegaraan menurut keturunan atau
pertalian darah
Naturalisasi = pewarganegaraan yang diperoleh warga negara asing setelah memenuhi syarat
dalam undang-undang
Apatride = tidak mempunyai status kewarganegaraan
Bipatride = mempunyai kewarganegaraan rangkap
Selain itu juga dikenal beberapa stelsel kewarganegaraan yaitu :
Stelsel aktif -status kewarganegaran yang diperoleh melalui permohonan kepada lembaga
berwenang secara aktif.
Stelsel pasif -tanpa melalui permohonan atau pengajuan yang meliputi :
- Hak Opsi = hak memilih suatu kewarganegaraan
- Hak Repudiasi = hak menolak suatu kewarganegaraan
b. Wilayah
Setiap negara menduduki wilayah/daerah tertentu di muka bumi dengan batas-batas
tertentu. Negara memerlukan suatu wilayah tertentu yang jelas sebagai tempat menetap
rakyat dan tempat untuk menyelenggarakan pemerintahannya. Mengenai luas atau sempitnya
wilayah tidak menjadi permasalahan, tetapi yang penting ada wilayah.
Wilayah merupakan unsur penting dari sebuah negara. Karena pentingya, sehingga
masalah batas wilayah negara sering menimbulkan pertikaian di antara dua negara yang
berbatasan.
Kekuasaan negara mencakup seluruh wilayah, tidak hanya tanah (daratan), tetapi juga
laut di sekelilingnya (perairan) dan angkasa/udara di atasnya. Batas wilayah suatu negara
dapat ditentukan secara alam, astronomis, buatan dan perjanjian. Batas alam, misalnya
sungai dan pegunungan. Batas astronomis, misalnya garis-garis lintang dan garis bujur. Batas
buatan, misalnya tembok Cina dan tembok Berlin. Melalui perjanjian antar negara, misalnya
perjanjian bilateral atau multilateral yang berbentuk konvensi dan traktat.
Adapun wilayah NKRI adalah kepulauan Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa dan
memiliki batas yaitu 6 LU 11 LS dan 95 BT 141 BT.
c. Pemerintah yang berdaulat
Yang dimaksud dengan pemerintah ada tiga pengertian, yaitu :
1) Pemerintah dalam arti luas, sebagai gabungan dari semua badan kenegaraan atau gabungan
alat-alat perlengkapan negara dalam arti yang luas, baik badan legislatif, eksekutif dan
yudikatif.
2) Pemerintah sebagai kepala negara atau badan kenegaraan tertinggi yang berkuasa
memerintah di wilayah negara.
3) Pemerintah dalam arti sempit, yaitu badan eksekutif saja seperti presiden atau perdana
menteri dan para menteri (kabinet).
Pemerintah sebagai unsur negara adalah pemerintah dalam arti yang luas yang
mencakup badan legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Pemerintah sebagai unsur negara harus merupakan pemerintah yang berdaulat
(berkuasa penuh) untuk menentukan penyelenggaraan negara dalam mencapai tujuan negara.
Menurut Jean Bodin, kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi dalam negara yang bersifat
permanen, asli, tidak terbagi-bagi dan tidak terbatas. Permanen artinya tetap ada selama
negara tetap berdiri. Asli artinya tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi. Tidak
terbagi-bagi, artinya hanya satu-satunya kekuasaan tertinggi. Tidak terbatas artinya tidak
ada yang membatasi.
Selanjutnya Jean Bodin mengemukakan, bahwa kedaulatan mencakup :
1) Kedaulatan ke dalam, yaitu kekuasaan untuk mengatur negara, baik yang berkaitan dengan
rakyat maupun wilayahnya.
2) Kedaulatan ke luar, yaitu kekuasaan untuk mengadakan hubungan kerjasama dengan negara
lain untuk kepentingan bangsa dan negara, sehingga diakui dan dihormati oleh negara lain.
Ada lima macam teori yang menjelaskan tentang asal/sumber kedaulatan, yaitu teori
kedaulatan Tuhan, teori kedaulatan raja, teori kedaulatan negara, teori kedaulatan hukum
dan teori kedaulatan rakyat.
d. Pengakuan dari negara lain
Pengakuan dari negara lain dipandang dari sudut hukum internasional sangat penting
sebelum negara baru tersebut menjalin hubungan dengan negara lain, yakni sebagai bentuk
penerimaan yang sejajar dengan negara lain.
Pengakuan dari negara lain ada dua macam, yaitu :
1) Pengakuan de facto adalah pengakuan berdasarkan kenyataan (secara fisik) negara baru
yang telah memenuhi syarat ada rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat.
2) Pengakuan de jure, yaitu pengakuan dari negara lain secara resmi menurut hukum
internasional bahwa negara tersebut telah sah sebagai negara. Misalnya NKRI secara de
jure baru diakui oleh Inggris pada tanggal 31 Maret 1947, Amerika Serikat pada tanggal 17
April 1947 dan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.
Perbedaan pengakuan de facto dan de jure antara lain :
Hanya negara atau pemerintah yang diakui secara de jure yang dapat mengajukan klaim
atas harta yang berada dalam wilayah negara yang mengakui.
Wakil-wakil dari negara yang diakui secara de facto, secara hukum tidak berhak atas
kekebalan-kekebalan dan hak-hak istimewa diplomatic penuh.
Pengakuan de facto karena sifatnya sementara, pada prinsipnya dapat ditarik kembali.
Apabila suatu negara berdaulat yang diakui secara de jure, memberikan kemerdekaan pada
suatu wilayah jajahan, maka negara yang baru merdeka tersebut harus diakui secara de
jure.
Bila disimpulkan unsur atau syarat negara itu ada dua, yaitu unsur konstitutif
mencakup rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat. Sedangkan pengakuan dari negara
lain merupakan unsur deklaratif (berifat menerangkan).
Berkaitan dengan upaya pembelaan negara, salah satu sasaran yang penting dan mesti
dibela oleh pemerintah dan setiap warga negara adalah wilayah negara. Wilayah negara
(territorial) merupakan wadah, alat dan kondisi juang bagi berlangsungnya penyelenggaraan
upaya pembelaan negara.
Wilayah NKRI terbentang sangat luas dan terdiri atas beribu-ribu pulau. Keberadaan
pulau-pulau terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan negara tetangga seringkali
menimbulkan konflik perbatasan yang mengganggu dan mengancam keutuhan wilayah NKRI.
Seperti lepasnya Sipadan dan Ligitan dari wilayah NKRI, juga terjadinya konflik perbatasan
antara negara kita dengan Malaysia di Blok Ambalat, Kalimantan Timur.
Dilihat dari posisinya, negara kita dikelilingi oleh dua samudera, yaitu Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik, dan juga diapit oleh dua benua besar yaitu Benua Asia dan
Benua Australia. Kondisi dan posisi seperti ini selain membawa dampak positif juga
membawa dampak negatif bagi pertahanan dan keamanan negara kita.
Untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan teritorial dan keutuhan wilayah
negara, diperlukan alat pertahanan dan keamanan negara didukung oleh peran aktif dan
loyalitas setiap warga negara. Karena pentingnya keutuhan wilayah dan kedaulatan negara,
maka UUD 1945 menegaskan, bahwa keikutsertaan setiap warga negara dalam
mempertahankan, mengamankan dan membela negara merupakan hak dan sekaligus
kewajiban.
Berdasarkan kasus-kasus dan posisi wilayah negara kita seperti di atas, setiap warga
negara mempunyai kewajiban untuk menjaga keutuhan wilayah negara sesuai dengan posisi
dan kemampuannya masing-masing. Kalian sebagai siswa berkewajiban untuk ikut serta
menjaga keamanan lingkungan tempat tinggal dan sekolah masing-masing dari berbagai
ancaman dan gangguan yang dihadapi.
Dalam kaitannya dengan konsep upaya pembelaan negara, keempat unsur negara
tersebut memiliki keterkaitan dan kedudukan yang sangat penting. Unsur penduduk (dalam
arti warga negara) merupakan unsur pendukung dalam penyelenggaraan pertahanan dan
keamanan negara. Warga negara dalam posisinya masing-masing memiliki peranan penting
dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah negara dari
berbagai ancaman yang datang dari dalam maupun luar negeri.
Unsur pemerintah yang berdaulat memiliki posisi sangat penting, baik sebagai penentu
kebijakan maupun sebagai pelaksana kebijakan. Pemerintah mengkoordinasikan kegiatan
pertahanan dan keamanan negara dalam upaya pembelaan terhadap negara. Pemerintah yang
dilengkapi dengan TNI dan Polri merupakan komponen utama dalam pertahanan dan
keamanan negara yang selalu siap siaga menghalau setiap ancaman dari luar maupun dari
dalam negeri.
Sedangkan unsur wilayah merupakan wadah, alat dan kondisi juang bagi
berlangsungnya penyelenggaraan upaya pembelaan negara. Keterlibatan Indonesia secara
aktif dalam menjamin stabilitas dan perdamaian dunia telah ditunjukkan melalui pengiriman
pasukan perdamaian ke sejumlah negara yang dilanda konflik. Keterlibatan TNI dalam
pasukan PBB telah dimulai sejak tahun 1957 dengan mengirimkan Kontingen Garuda
(KONGA-I) ke Mesir dengan kekuatan 559 pasukan.

3. Sifat-Sifat Negara
Pada hakikatnya negara sebagai organisasi mempunyai sifat-sifat khusus yang
merupakan pencerminan dari kekuasaan yang dimilikinya. Sifat-sifat ini hanya dimiliki oleh
negara dan tidak dimiliki oleh organisasi lainnya. Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh
negara adalah :
a. Sifat memaksa
Adanya sifat memaksa terletak ketika negara membuat peraturan, kebijakan dan kodifikasi
hukum yang akan menuntut rakyat untuk mentaatinya, sehingga ketertiban dalam
masyarakat akan tercapai. Jika rakyat melanggarnya, maka negara berhak menggunakan
kekuasaannya untuk menjatuhkan sanksi sesuai hukum yang berlaku, bahkan negara
mempunyai kekuasaan untuk menggunakan kekerasan fisik secara legal (sah).
b. Sifat monopoli
Maksudnya bahwa kegiatan yang menyangkut hidup orang banyak dimonopoli (dikuasai) oleh
negara. Misalnya, segala sumber kekayaan alam yang terkandung di dalam tubuh bumi
(seperti bahan bakar dan bahan tambang) dikuasai oleh negara.
c. Sifat mencakup semua
Bahwa semua bentuk perundang-undangan yang ada berlaku pada semua orang, tanpa
pengecualian dan diskriminasi apapun.

4. Tujuan Negara
Tujuan setiap negara berbeda satu sama lain. Menurut seorang ahli kenegaraan,
bahwa dalam setiap negara terdapat dua pihak yang selalu berhadapan dan bertentangan,
yaitu pemerintah dan rakyat. Untuk itu setiap negara harus membentuk kekuasaan dan
kekuatan yang sebesar-besarnya, yakni dengan membentuk militer yang kuat, sehingga
negara akan berkuasa penuh, baik ke dalam kepada rakyatnya maupun ke luar kepada
ancaman dari negara lain.
Selain itu, bahwa kebudayaan rakyat, seperti adat istiadat, musik, nyanyian, sejarah,
kebajikan, kesusilaan, penghormatan kepada orang tua, persaudaraan, kesetiaan atau
kejujuran dan kebijakan harus dihilangkan. Sebab jika tidak, pemerintah akan mendapatkan
kesulitan dalam mengendalikan rakyatnya.
Dengan demikian, apabila dalam suatu negara tidak terdapat 10 macam unsur
kebudayaan raykat tadi, maka negara akan menjadi kuat, sehingga dapat dengan mudah
mengendalikan rakyat. Tujuan negara adalah untuk membentuk kekuasaan negara yang
sebesar-besarnya.
Namun demikian dalam perkembangan negara pada abad ini dapat dikatakan bahwa
hampir semua negara bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran
rakyatnya. Oleh karena itu saat ini banyak dianut paham negara kesejahteraan (welfare
state).
Tujuan dari negara Indonesia dapat kita lihat dalam alinea keempat Pembukaan UUD
1945, yang dapat disimpulkan bahwa tujuan negara RI ada dua macam, yaitu :
a. Tujuan Nasional, yaitu :
1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
2) Memajukan kesejahteraan umum.
3) Mencerdaskan kehidupan bangsa.
b. Tujuan Internasional, yaitu melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

5. Fungsi Negara
Para ahli merumuskan fungsi negara secara berbeda-beda tergantung pada titik berat
perhatian latar belakang perumusan tujuan negara serta dipengaruhi oleh pandangan atau
ideologi yang dianut suatu negara atau ahli tersebut. Fungsi negara mempunyai hubungan
timbal balik dengan tujuan negara.Tujuan negara adalah suatu harapan atau cita-cita yang
hendak dicapai oleh negara, sedangkan fungsi negara adalah upaya atau kegiatan negara
untuk mengubah harapan atau cita-cita negara menjadi kenyataan. Jadi tujuan negara yang
tidak disertai fungsi negara adalah sia-sia atau tidak ada manfaatnya sama sekali.
Sebaliknya, fungsi negara tanpa tujuan negara akan berakibat tidak menentu arahnya,
sehingga fungsi negara tidak berjalan dengan baik.
Dalam perkembangan praktek kenegaraan menunjukkan bahwa fungsi negara dari
zaman ke zaman terus berubah. Pada zaman modern ini secara umum negara mempunyai
beberapa fungsi seperti yang dikemukakan oleh Miriam Budiarjo dalam bukunya Dasar-
Dasar ilmu Politik sebagai berikut :
a. Keamanan dan ketertiban (law and order)
Hal ini mengandung makna bahwa untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah terjadinya
bentrokan antara individu atau kelompok dalam masyarakat, maka negara harus
melaksanakan penertiban dan pengamanan. (Fungsi stabilisator).
b. Kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya
Hal ini mengandung arti bahwa negara harus campur tangan berperan aktif dan bertanggung
jawab untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat dan seluruh warga negaranya.
c. Pertahanan
Hal ini mengandung makna bahwa negara bertanggung jawab untuk melindungi seluruh warga
negara dan seluruh wilayahnya terhadap serangan atau ancaman dari luar, sehingga negara
harus dilengkapi dengan alat-alat pertahanan.
d. Keadilan
Hal ini mengandung arti bahwa negara wajib memperlakukan setiap orang (warga negara)
secara adil (tidak diskriminatif) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan dilaksanakan melalui badan-badan peradilan. Negara juga harus mampu menciptakan
keadilan dalam kehidupan masyarakat yang terbebas dari penindasan dan tindakan
sewenang-wenang.
Keempat fungsi tersebut merupakan fungsi minimum, dalam arti bisa berkembang
lebih luas sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai negara. Jadi fungsi negara tidak bisa
dipisahkan dari tujuan negara, sehingga para ahli seringkali menggandengkan fungsi negara
dengan tujuan negra.
Di dalam teori kenegaraan, dikenal beberapa fungsi negara yang utama, yaitu :
a. Teori Trias Politica oleh Montesquieu yang menyatakan bahwa fungsi negara mencakup
tiga tugas pokok, yaitu :
1) Fungsi legislatif (membuat undang-undang).
2) Fungsi eksekutif (melaksanakan undang-undang).
3) Fungsi yudikatif (mengawasi pelaksanaan undang-undang, fungsi mengadili).
Masing-masing fungsi tersebut terpisah satu sama lain, dengan maksud sebagai berikut:
1) Agar kekuasaan pemerintah tidak terpusat pada satu tangan saja (seperti pada raja).
2) Untuk mencegah tindakan sewenang-wenang (otoriter/diktator).
3) Untuk menjamin adanya kebebasan berpolitik.

b. Teori dari John Locke yang membagi fungsi negara menjadi tiga, yaitu :
1) Fungsi legislatif
2) Fungsi eksekutif
3) Fungsi federatif (mengurusi hubungan luar negeri).
c. Teori Caturpraja yang dikemukakan oleh Van Volenhoven yang menyatakan ada empat
fungsi pokok negara, yaitu :
1) Regeling (fungsi perundang-undangan).
2) Bestuur (fungsi pemerintahan).
3) Rechtspraak (fungsi kehakiman/mengadili).
4) Politie (fungsi kepolisian/ketertiban dan keamanan).
d. Teori Dwipraja yang dikemukakan oleh Goodnow yang membagi dua fungsi negara, yaitu :
1) Policy making (fungsi pembentuan haluan negara).
2) Policy executing (fungsi pelaksanaannya dalam mencapai policy making).


Fungsi negara di Indonesia menerapkan teori Trias Politica dalam pengertian
pembagian kekuasaan (Distribution of Power), bukan pemisahan kekuasaan (Separation of
Power), karena diantara ketiga fungsi kekuasaan itu terdapat hubungan, misalnya sebagai
berikut :
a. Presiden (eksekutif) mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR (legislatif),
termasuk RUU APBN.
b. Presiden (eksekutif) memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan
Mahkamah Agung (yudikatif).
c. Presiden (eksekutif) memberi amnesti dan abolisi (yudikatif) dengan memperhatikan
pertimbangan DPR (legislatif).
Pada dasarnya fungsi-fungsi negara tersebut di atas berkaitan dengan usaha
pembelaan negara. Salah satu fungsi negara yang sangat penting bagi jaminan kelangsungan
hidup negara adalah fungsi pertahanan negara. Fungsi pertahanan negara dimaksudkan
terutama untuk menjaga dan mempertahankan negara dari segala kemungkinan serangan
dari luar. Oleh sebab itu harus diperlengkapi dengan alat-alat pertahanan yaitu TNI yang
terdiri atas TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU dengan perlengkapannya yang disebut alat
utama sistem senjata (Alutsista).
Fungsi pertahanan negara tidak bisa dipisahkan dengan pembelaan terhadap
pembelaan negara sebagaimana ditegaskan dalam pasal 9 ayat (1) UU No. 3 tahun 2003
bahwa Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang
diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara. Hal ini mengandung makna, bahwa
partisipasi warga negara dalam melaksanakan fungsi pertahanan negara merupakan wujud
upaya pembelaan negara.
Selain fungsi pertahanan, fungsi lain yang juga sangat penting dalam upaya pembelaan
negara adalah fungsi keamanan dan ketertiban yaitu untuk mencegah bentrokan-bentrokan
dalam masyarakat. Untuk melaksanakan fungsi tersebut di negara kita dibentuk suatu
lembaga yang dikenal dengan Kepolisin RI (Polri).
Berdasarkan uraian di atas, fungsi negara yang sangat penting untuk memelihara
ketertiban dan menjamin kelangsungan hidup atau tetap tegaknya negara adalah fungsi
pertahanan dan ketertiban (keamanan). Untuk mewujudkan fungsi pertahanan dan
keamanan, selain negara harus memiliki alat-alat pertahanan dan keamanan,juga diperlukan
keikutsertaan segenap warga negara dalam upaya pertahanan dan keamanan negara. Dengan
demikian, keikutsertaan segenap warga negara dalam melaksanakan fungsi pertahanan dan
keamanan negara berkaitan dengan upaya membela negara .
Fungsi pertahanan dan keamanan negara merupakan fungsi yang sangat penting dalam
kuhudupan negara dan merupakan prasyarat bagi fungsi-fungsi lainya .Hal itu karena negara
hannya dapat menjalankan fungsi fungsi lainnya jika negara mampu mempertahankan diri
dari berbagai ancaman baik dari luar maupun dari dalam.
Pentingnya fungsi pertahanan dan keamanan dalam kehidupan negara dapat
diibaratkan pada kehidupan pribadi kita sehari-hari. Apakah kalian bisa belajar dengan
tenang atau tidur dengan nyenyak apabila tidak mampu menangkal dan mempertahankan diri
dari gangguan ancaman yang dihadapi ? Jadi jika ingin belajar dengan tenang, nyaman dan
konsentrasi, maka diperlukan kemampuan untuk menangkal berbagai gangguan dan ancaman
yang dihadapi, baik dari dalam maupun dari luar diri sendiri.
Demikian pula dalam organisasi negara, fungsi pertahanan dan keamanan sangat
penting karena negara tidak akan dapat mensejahterakan rakyat, meningkatkan kualitas
pendidikan, menegakkan keadilan dan lain-lain jika tidak mampu mempertahankan diri
terhadap gangguan dan ancaman, baik dari dalam maupun dari luar.
Hal ini mengandung arti bahwa untuk mempertahankan dan mengamankan negara bukan
hanya kewajiban TNI dan Polri, tetapi juga merupakan kewajiban setiap warga negara
Indonesia, termasuk kalian sebagai siswa yang sekaligus juga sebagai warga negara
Indonesia. Coba renungkan apa yang telah kalian lakukan untuk mengamankan lingkungan
sekolah atau tempat tinggal kalian !
Sedangkan fungsi kesejahteraan dan kemakmuran dijalankan oleh pemerintah dalam
bentuk pelayanan dan perniagaan. Fungsi pelayanan atau jasa yaitu seluruh aktivitas yang
mungkin tidak aka nada apabila tidak diselenggarakan oleh negara, yang meliputi antara lain
pemeliharaan fakir miskin, kesehatan, pendidikan, dan program-program lainnya.

6. Pengertian Pembelaan Negara
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa negara merupakan sesuatu yang
bersifat abstrak (in abstracto). Bila demikian, apa yang mesti kita bela ? Yang mesti kita
bela adalah unsur-unsur dari negara tersebut.
Untuk mengetahui pengertian usaha pembelaan negara dapat dilihat dalam UU No. 3
tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Istilah yang digunakan dalam undang-undang
tersebut bukan usaha pembelaan negara, tetapi digunakan istilah lain yang mempunyai
makna sama, yaitu upaya bela negara. Dalam penjelasan tersebut ditegaskan, bahwa upaya
bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam
menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Berdasarkan pengertian tersebut, apabila kalian pernah ikut serta menjaga wilayah
negara termasuk lingkungan wilayah sekitar dari gangguan atau ancaman yang
membahayakan keselamatan bangsa dan negara, berarti kalian sudah berpartisipasi dalam
usaha pembelaan negara. Sikap hormat terhadap bendera, lagu kebangsaan, dan menolak
campur tangan pihak asing terhadap kedaulatan NKRI juga menunjukkan suatu sikap dalam
usaha pembelaan negara.
Pengertian usaha pembelaan negara tidak terbatas pada memanggul senjata saja,
tetapi meliputi berbagai sikap dan tindakan untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan
negara serta untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara. Untuk menjamin
kelangsungan hidup bangsa dan negara serta meningkatkan kesejahteraan warga negara,
misalnya dengan usaha untuk mewujudkan keamanan lingkungan, keamanan pangan, keamanan
energi, keamanan ekonomi. Misalnya yang telah dilakukan oleh Elan Wukak Victor dari NTT
yang telah berhasil merubah tanah tandus 21 ribu hektar di Kecamatan Lawa, Sumba Barat,
menjadi hutan jati dan lamtoro (sumber : Tempo, 24 30 Desember 2007). Kegiatan ini
merupakan contoh usaha pembelaan negara dalam bentuk keamanan lingkungan. Oleh karena
itu usaha pembelaan negara dapat ditampilkan dalam berbagai sikap dan perilaku di
berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Tugas Individual :
Berikan 5 contoh usaha pembelaan negara dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara !
No Bidang Contoh Usaha Pembelaan Negara
1 Ideologi Menolak masuk dan berkembangnya paham komunis dan
liberal.
2 Politik Menolak campur tangan asing terhadap kedaulatan NKRI
3 Ekonomi Mencintai produksi dalam negeri
4 Sosial Mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
5 Budaya Mencintai budaya bangsa.
6 Habkam Ikut serta dalam menjaga keamanan lingkungan.


7. Dasar Hukum Pembelaan Negara
Ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur bela negara adalah
sebagai berikut :
A. UUD 1945
1) Pasal 27 ayat (3) Amandemen Kedua UUD 1945.
2) Pasal 30 ayat 1 5 Amandemen Kedua UUD 1945.
Dalam pasal 27 ayat (3) dinyatakan bahwa : Setiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam upaya pembelaan negara. Ikut serta dalam pembelaan negara tersebut
diwujudkan dalam kegiatan penyelenggaraan pertahanan negara, sebagaimana ditegaskan
dalam UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Dalam pasal 30 ayat (1) ditegaskan bahwa : Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Sedangkan dalam pasal 30 ayat
(2) disebutkan bahwa : Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh TNI dan Polri sebagai kekuatan utama, dan
rakyat sebagai kekuatan pendukung.
Berdasarkan pasal 30 ayat (1) dan (2) tersebut ada beberapa hal yang perlu dipahami,
yaitu :
Keikutsertaan warga negara dalam pertahanan dan keamanan negara merupakan hak dan
kewajiban.
Pertahanan dan keamanan negara menggunakan sistem pertahanan dan keamanan rakyat
semesta (Sishankamrata).
Kekuatan utama dalam sistem pertahanan adalah TNI, sedangkan sistem keamanan adalah
Polri.
Kedudukan rakyat dalam pertahanan dan keamanan sebagai kekuatan pendukung.

B. Tap MPRRI No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 1999 2004.
Dalam bab IV arah kebijakan Pertahanan dan Keamanan antara lain disebutkan
mengembangkan kemampuan sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Hankamrata)
yang bertumpu pada kekuatan rakyat dengan TNI, Polri sebagai kekuatan utama didukung
komponen lainnya dari kekuatan pertahanan dan keamanan negara dengan meningkatkan
kesadaran bela negara melalui wajib latih dan membangun kondisi juang serta mewujudkan
kebersamaan TNI, Polri dan rakyat.
C. Tap MPRRI No. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri.
Salah satu tuntutan reformasi, MPR membuat sebuah ketetapan tentang pemisahan
TNI dan Polri yang dilatar belakangi oleh ketetapan dan tumpang tindihnya peran TNI
sebagai kekuatan pertahanan negara dengan peran dan tugas Polri sebagai kekuatan
Kamtibmas.
D. Tap MPRRI No. VII/MPR/2000 tentang peran TNI dan Polri.
Ketetapan ini terdiri dari 2 bab, yaitu bab 1 tentang TNI dan bab 2 tentang Polri. Dalam
bab 1 di jelaskan :
1) Pasal 1 : Jati Diri TNI
a) TNI merupakan bagian dari rakyat, lahir dan berjuang bersama rakyat demi membela
kepentingan Negara.
b) TNI berperan sebagai komponen utama dalam sistem pertahanan negara.
c) TNI wajib memiliki kemampuan dan keterampilan secara profesional sesuai dengan peran
dan fungsinya.
2) Pasal 2 : Peran TNI
a) TNI merupakan alat negara yang berperan sebagai alat pertahanan NKRI.
b) TNI sebagai alat pertahanan negara, bertugas pokok menegakkan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan
terhadap keutuhan bangsa dan negara.
c) TNI melaksanakan tugas negara dalam penyelenggaraan wajib militer bagi warga negara
yang diatur dengan undang-undang.
E. Undang-Undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI.
Dalam pasal 2 UU No. 2/2002 tersebut dijelaskan bahwa fungsi kepolisian adalah salah
satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban
masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat.
Dalam pasal 4 UU No. 2/2002 dijelaskan bahwa Kepolisian Negara RI bertujuan untuk
mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya Kamtibmas, tertib dan
tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat,
serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
F. Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
UU ini sebagai pengganti UU No. 20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok
Pertahanan Keamanan Negara RI. Di dalam ketentuan umum UU No. 3/2002 antara lain
disebutkan sebagai berikut :
1) Pertahanan negara adalah segala usaha mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap
keutuhan bangsa dan negara. (Pasal 1 ayat (1)
2) Sistem pertahanan negara, adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang
melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya naional lainnya, serta
dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu,
terarah dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan
keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Dalam pasal 9 ayat (1) UU No. 3 tahun 2002 ditegaskan bahwa : Setiap warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam
penyelenggaraan pertahanan negara. Kemudian dalam bagian menimbang, huruf (c)
ditegaskan antara lain : Dalam penyelenggaraan pertahanan negara setiap warga negara
mempunyai hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Kata wajib
yang diatur dalam UUD 1945 pasal 27 ayat (3) dan UU No. 3 tahun 2002 pasal 9 ayat (1)
mengandung makna, bahwa setiap warga negara, dalam keadaan tertentu dapat dipaksakan
oleh negara untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Namun demikian, di negara kita
sampai saat ini belum ada keharusan untuk mengikuti wajib militer (secara masal) bagi
segenap warga negara Indonesia seperti diberlakukan di beberapa negara lain. Sekalipun
demikian, adakalanya orang-orang yang memiliki keahlian tertentu (biasanya sarjana) yang
dibutuhkan negara dapat diminta oleh negara untuk mengikuti tes seleksi penerimaan
anggota TNI sekalipun orang tersebut tidak pernah mendaftarkan diri.


8. Alasan Pentingnya Pembelaan Negara

Setiap manusia normal secara naluriah pasti akan selalu melindungi, membela dan
mempertahankan apa yang dimilikinya dari gangguan orang lain. Lebih-lebih jika sesuatu itu
sangat disenangi, penting dan berharga.
Hal lain yang sangat penting bagi kehidupan kita adalah negara. Pada dasarnya setiap
orang membutuhkan suatu organisasi yang disebut negara. Apa yang akan terjadi bila tidak
ada negara ?Thomas Hobbes pernah melukiskan kehidupan manusia sebelum adanya negara
yaitu manusia merupakan serigala bagi manusia lainnya (Homo homini lupus) dan perang
manusia lawan manusia(Bellum omnium contra omnes). Dengan demikian, jika tidak ada
negara niscaya tidak akan ada ketertiban, keamanan dan keadilan.
Supaya hidup tertib, aman dan damai maka diperlukan negara. Negara akan tegak
berdiri, jika dipertahankan oleh setiap warga negaranya. Oleh karena itu membela negara
sangat penting dilakukan oleh setiap warga negaranya.
Ada beberapa alasan pentingnya usaha pembelaan negara bagi seluruh warga negara,
antara lain :
a. Untuk mempertahankan negara dari berbagai ancaman.
b. Untuk menjaga keutuhan wilayah negara.
c. Merupakan panggilan sejarah.
d. Bela negara merupakan wujud kecintaan warga negara kepada Negara Kesatuan RI.
e. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban setiap warga negara, juga merupakan
kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung
jawab dan rela berkorban dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.
f. Bangsa Indonesia cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatannya.
Bentuk perlawanan Indonesia dalam rangka membela kemerdekaan dan kedaulatannya
bersifat kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan.
g. Bangsa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dan menganut politik luar negeri
bebas aktif.
Alasan-alasan pentingnya usaha pembelaan negara tersebut dapat dihubungkan dengan
fungsi negara, unsur-unsur negara, aspek sejarah perjuangan bangsa, dan peraturan
perundang-undangan tentang kewajiban membela negara.

B. BENTUK-BENTUK USAHA PEMBELAAN NEGARA

1. Bentuk-bentuk usaha pembelaan Negara
Bentuk-bentuk usaha pembelaan negara menurut Pasal 9 ayat (2) UU No. 3 tahun
2002 tentang Pertahanan Negara dikemukakan bahwa keikutsertaan warga negara dalam
usaha pembelaan negara diselenggarakan melalui :
a. Pendidikan Kewarganegaraan
b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib
c. Pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau secara wajib
d. Pengabdian sesuai dengan profesi
Bagaimana bentuk upaya bela negara melalui pendidikan kewarganegaraan ?
Berdasarkan ketentuan tersebut, siswa yang mengikuti mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan di sekolah dapat dikatakan telah ikut serta dalam upaya pembelaan
negara. Salah satu materi atau bahan kajian yang wajib dimuat dalam kurikulum pendidikan
dasar dan menengah serta pendidikan tinggi adalah pendidikan kewarganegaraan (pasal 37
ayat (1) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas).
Dalam penjelasan pasal 37 ayat (1) UU No. 20/2003 dijelaskan, bahwa pendidikan
kewarganegaran dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang
memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Jadi pembentukan rasa kebangsaan dan cinta
tanah air dapat dibina melalui pendidikan kewarganegaraan.
Konsep rasa kebangsaan dan cinta tanah air sangat berkaitan dengan makna upaya
bela negara. Perhatikan kalimat dijiwai oleh kecintaannya kepada negara kesatuan RI
pada definisi upaya bela negara yang telah dikemukakan di atas. Kalimat kecintaan kepada
Negara Kesatuan RI merupakan realisasi dari konsep nasionalisme (rasa kebangsaan) dan
cinta tanah air (partiotisme). Sedangkan kecintaan kepada tanah air dan kesadaran
berbangsa merupakan ciri kesadaran dalam bela negara. Konsep bela negara adalah konsepsi
moral yang diimplementasikan dalam sikap, perilaku dan tindakan warga negara yang
dilandasi oleh cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, keyakinan kepada
Pancasila sebagai ideologi negara, dan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negara
Indonesia. Dengan demikian, dalam kaitan bela negara, pendidikan kewarganegaraan
merupakan wahana untuk membina kesadaran peserta didik untuk ikut serta dalam
pembelaan negara. Pembinaan kesadaran bela negara melalui pendidikan kewarganegaraan
dimaksudkan untuk membina dan meningkatkan usaha pertahanan negara. Pendidikan
kewarganegaraan mendapat tugas untuk menanamkan komitmen kebangsaan, termasuk
mengembangkan nilai dan perilaku demokratis dan bertanggungjawab sebagai warga negara
Indonesia.
Bagaimana bentuk upaya bela negara melalui pelatihan dasar kemiliteran ?
Selain TNI, salah satu komponen warga negara yang mendapat pelatihan dasar militer
adalah unsur mahasiswa yang tersusun dalam organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa) atau
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bela Negara. Memasuki organisasi Menwa merupakan hak
bagi setiap mahasiswa, namun setelah memasuki organisasi tersebut mereka harus
mengikuti latihan dasar kemiliteran. Misalnya, sampai tahun 2003 jumlah Menwa sekitar
25.000 orang dan alumni Menwa sekitar 62.000 orang. Anggota Menwa tersebut merupakan
komponen bangsa yang telah memiliki pemahaman dasar-dasar kemiliteran dan bisa
didayagunakan dalam kegiatan pembelaan terhadap negara. Disamping mahasiswa, para
pemuda pun dapat melakukan kegiatan latihan dasar bela negara, seperti yang dilakukan BPK
(Barisan Pemuda Kutai).
Bagaimana bentuk upaya bela negara melalui pengabdian sebagai prajurit TNI ?
Sejalan dengan tuntutan reformasi, maka dewasa ini telah terjadi perubahan
paradigma dalam sistem ketatanegaraan, khususnya yang menyangkut pemisahan peran dan
fungsi TNI dan Polri. Polri merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara
keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan
terpeliharanya keamanan dalam negeri. Sedangkan TNI berperan sebagai alat pertahanan
NKRI. Dengan demikian, Polri berperan dalam bidang keamanan negara, sedangkan TNI
berperan dalam bidang pertahanan negara.
Dalam usaha pembelaan negara, peranan TNI sebagai alat pertahanan negara sangat
penting dan strategis karena sebagai ditegaskan dalam pasal 10 ayat (3) UU No. 3 tahun
2002 bahwa TNI memiliki tugas untuk :
a. Mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah.
b. Melindungi kehormatan dan keselamatan bangsa.
c. Melaksanakan operasi militer selain perang.
d. Ikut serta secara aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian regional dan internasional.
Bagaimana bentuk upaya bela negara melalui pengabdian sesuai profesi ?
Dalam Penjelasan UU No. 3 tahun 2002 bahwa yang dimaksud pengabdian sesuai
profesi adalah pengabdian warga negara yang mempunyai profesi tertentu untuk
kepentingan pertahanan negara termasuk dalam menanggulangi dan/atau memperkecil
akibat yang ditimbulkan oleh perang, bencana alam atau bencana lainnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diidentifikasi beberapa profesi tersebut
terutama yang berkaitan dengan kegiatan menanggulangi dan/atau memperkecil akibat
perang, bencana alam atau bencana lainnya, yaitu antara lain petugas PMI, para medis, tim
SAR, Polri, dan petugas bantuan sosial. Disamping itu dikenal juga adanya Linmas
(Perlindungan Masyarakat) yang merupakan organisasi perlindungan masyarakat secara
sukarela, yang berfungsi menanggulangi akibat perang, bencana alam atau bencana lainnya
maupun memperkecil akibat malapetaka yang menimbulkan kerugian jiwa dan harta benda.
Keanggotaan Linmas tersebut merupakan salah satu wujud penyelenggaraan upaya bela
negara.
Dengan demikian, warga negara yang berprofesi para medis, tim SAR, PMI, Polri,
petugas bantuan sosial dan Linmas memiliki hak dan kewajiban ikut serta dalam upaya bela
negara sesuai dengan tugas keprofesiannya masing-masing. Kelompok masyarakat yang
mempunyai profesi seperti itu seringkali berpartisipasi dalam menanggulangi dan membantu
masyarakat yang terkena musibah bencana alam yang sering terjadi di wilayah negara kita.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah, bahwa setiap warga negara sesuai dengan
kedudukan dan perannya masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk membela negara.
Siswa dan mahasiswa ikut serta membela negara melalui pendidikan kewarganegaraan,
anggota Menwa melalui pelatihan dasar kemiliteran, TNI dalam menanggulangi ancaman
militer dan non-militer tertentu, Polri termasuk warga sipil lainnya dalam menanggulangi
ancaman non-militer, dan kelompok profesi tertentu dapat ikut serta membela negara
sesuai dengan profesinya masing-masing. Untuk mengatasi ancaman non-militer perlu adanya
keamanan atau ketahanan lingkungan, energy, pangan dan ekonomi, maka pengabdian bela
negara melalui profesi terbuka sangat luas. Misalnya para petani dan nelayan melakukan
upaya bela negara melalui pengabdiannya terutama untuk keamanan pangan. Usaha Kecil
Menengah (UKM) dan para pengusaha besar melakukan upaya bela negara melalui
pengabdiannya terutama untuk keamanan ekonomi. Kemudian para warga negara yang
bergelut di bidang energi melakukan pengabdian untuk keamanan energi. Begitu pula yang
menekuni bidang lingkungan melakukan pengabdiannya untuk keamanan lingkungan. Ketika
semua warga negara mengabdikan diri sesuai dengan profesi dalam usaha pembelaan negara,
maka tentu saja akan meningkatkan ketahanan nasional kita.
2. Bentuk-bentuk ancaman terhadap Negara
TNI merupakan komponen utama dalam pertahanan negara. Pertahanan negara adalah
segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, kedaulatan wilayah NKRI dan
keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan
negara (Pasal 1 ayat 1 UU No. 3 tahun 2002).
Sedangkan ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan baik dari dalam negeri maupun
luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan
keselamatan segenap bangsa.
Dilihat dari bentuknya, ancaman dapat dibedakan menjadi 2 jenis/bentuk, yaitu :
A. Ancaman Militer
Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang
terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa. Oleh karena itu, ancaman militer
harus dihadapi oleh TNI sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan
dan komponen pendukung.
Menurut Penjelasan UU No. 3 tahun 2002, ancaman militer dapat berbentuk antara
lain :
1) Agresi berupa penggunaan kekuatan bersenjata oleh negara lain terhadap kedaulatan
negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa.
2) Pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh negara lain, baik menggunakan kapal maupun
pesawat non-komersial.
3) Spionase yang dilakukan oleh negara lain untuk mencari dan mendapatkan rahasia militer.
4) Sabotase untuk merusak instalasi penting militer dan obyek vital nasional yang
membahayakan keselamatan bangsa.
5) Aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh jaringan terorisme internasional atau bekerja
sama dengan terorisme dalam negeri.
6) Pemberontakan bersenjata.
7) Perang saudara yang terjadi antara kelompok masyarakat bersenjata dengan kelompok
masyarakat bersenjata lainnya.
Jelas di sini bahwa penanggulangannya diutamakan secara militer, apabila langkah-
langkah diplomasi menemui jalan buntu. Contoh potensi ancaman militer misalnya pernah
dicontohkan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu
antara lain mengatakan, Indonesia harus mewaspadai berbagai potensi ancaman dari
beberapa negara tetangga. Beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia
dapat mengganggu keutuhan NKRI. Lepasnya Sipadan-Ligitan dan perseteruan di Blok
Ambalat, merupakan contoh betapa Malaysia dapat menjadi ancaman serius bagi keutuhan
NKRI. Dari sisi Singapura, permasalahan batas negara yang belum jelas dapat membuat
Negara Singa itu memperluas wilayahnya ke Indonesia terkait kepentingannya dalam
pengamanan di Selat Malaka. Belum lagi Singapura selama ini merupakan tempat yang empuk
untuk pencucian uang. Adapun Australia, hingga saat ini terus melakukan pembangunan
kekuatan yang mengarah ke utara, terhadap lepasnya Timor Timur dari Indonesia dan
pemberlakuan kebijakan sepihak (pre-emptive) konsep Penentuan Wilayah Laut Australia
(Australian Maritime Identification Zone atau AMIZ), memperkuat adanya ancaman militer
terhadap Indonesia.
Kemudian dalam Departemen Pertahanan (2003) diungkapkan, bahwa TNI merupakan
salah satu kekuatan nasional negara (Instrument of national power), disiapkan untuk
menghadapi ancaman yang berbentuk kekuatan militer. Dalam tugasnya TNI melaksanakan
Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). OMP adalah
operasi militer dalam menghadapi kekuatan militer negara lawan, baik berupa invasi, agresi
maupun infiltrasi. Sedangkan OMSP adalah operasi militer yang dilaksanakan bukan dalam
rangka perang dengan negara lain, tetapi untuk tugas-tugas lain seperti melawan
pemberontakan bersenjata gerakan separatis, tugas mengatasi kejahatan lintas negara,
tugas bantuan, tugas kemanusiaan, dan tugas perdamaian.
B. Ancaman Non-Militer
Ancaman non-militer adalah ancaman yang tidak menggunakan kekuatan bersenjata,
tetapi jika dibiarkan akan membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan
keselamatan segenap bangsa. Ancaman non-militer harus dihadapi oleh lembaga
pemerintahan di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama sesuai dengan bentuk dan
sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur lain dari kekuatan bangsa.
Contoh ancaman non-militer (non-tradisional) seperti perdagangan narkotik dan obat
terlarang lainnya. Dalam ancaman jenis ini segenap warga negara memiliki peranan penting
untuk menunaikan kewajiban dalam pembelaan negara sesuai kedudukan dan profesinya
masing-masing. Misalnya seorang siswa atau guru dan warga negara lainnya berkewajiban
untuk melaporkan perdagangan narkotik dan obat terlarang lainnya jika dia mengetahui hal
tersebut. Sedangkan polisi berkewajiban untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan
terhadap pelaku kasus tersebut. Demikian pula jaksa dan hakim masing-masing
berkewajiban melakukan proses peradilan terhadap pelaku kasus itu.
Dilihat dari sifatnya, ancaman dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Ancaman Tradisional
Ancaman tradisional adalah ancaman yang berbentuk kekuatan militer negara lain berupa
agresi atau invasi yang membahayakan kemerdekaan, kedaulatan dan keutuhan wilayah
NKRI.
b. Ancaman Non-Tradisional
Ancaman non-tradisional adalah ancaman yang dilakukan oleh aktor non negara berupa
aksi teror, perampokan dan pembajakan, penyelundupan, imigrasi gelap, perdagangan
narkoba, penangkapan ikan secara ilegal serta pencurian kekayaan.
Selain itu Departemen Pertahanan memperkirakan ancaman dan gangguan terhadap
kepentingan pertahanan negara Indonesia akan muncul di masa-masa mendatang, yaitu :
a. Kerorisme internasional yang memiliki jaringan lintas negara dan timbul di dalam negeri.
b. Gerakan separatis yang berusaha memisahkan diri dari NKRI terutama gerakan separatis
bersenjata yang mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia.
c. Aksi radikalisme yang berlatar belakang premordial etnis, ras dan agama serta ideologi di
luar Pancasila.
d. Konflik komunal, kendatipun bersumber pada masalah sosial ekonomi, namun dapat
berkembang menjadi konflik antar suku, agama maupun ras/keturunan dalam skala yang
luas.
e. Kejahatan lintas negara, seperti penyelundupan barang, senjata, amunisi dan bahan
peledak, penyelundupan manusia, narkoba, dan bentuk-bentuk kejahatan terorganisasi
lainnya.
f. Kegiatan imigrasi gelap yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan maupun batu loncatan ke
negara lain.
g. Gangguan keamanan laut seperti pembajakan, perompakan, penangkapan ikan secara ilegal,
pencemaran dan perusakan ekosistem.
h. Gangguan keamanan udara seperti pembajakan udara, pelanggaran wilayah udara dan
terorisme melalui sarana transportasi udara.
i. Perusakan lingkungan seperti pembakaran hutan, perambahan hutan illegal, pembuangan
limbahbahan beracun dan berbahaya.
j. Bencana alam dan dampaknya terhadap keselamatan bangsa.


3. Pembelaan Negara dari Ancaman Tradisional dan Non-Tradisional
Dengan adanya berbagai bentuk ancaman seperti di atas, maka upaya pembelaan
negara sangat penting artinya terhadap pihak-pihak tertentu yang ingin menghancurkan
NKRI. Dalam hal ini kita dapat menunjukkan sikap sebagai berikut :
a. Mengawasi kegiatan mereka agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat
membahayakan keselamatan NKRI.
b. Memberikan nasihat agar pihak-pihak tersebut segera sadar sehingga memiliki kesetiaan
terhadap NKRI.
c. Apabila tidak tumbuh kesadaran akan kesetiaannya terhadap NKRI, maka perlu
melaporkannya kepada yang berwajib agar mereka diberi peringatan.
d. Apabila mereka tidak mengindahkan peringatan, maka perlu diambil tindakan tegas oleh
aparatur negara sesuai hukum yang berlaku, misalnya diadakan penangkapan karena tindakan
mereka termasuk subversi.
e. Sebagai warga negara yang baik wajib membantu pemerintah dalam melakukan
penangkapan dengan memberikan informasi tentang keberadaan mereka dan kegiatan yang
dilakukannya.
4. Contoh bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pembelaan Negara
Perwujudan sikap bela negara yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
antara lain :
a. Rasa memiliki
1) Ikut membina dan melestarikan alam sekitar, barang milik negara, situs peninggalan sejarah
serta seni budaya daerahnya.
2) Tidak merusak seni budaya daerah, etika dan estetika yang berlaku.
b. Rela berkorban
1) Menghindari sikap egois dan masa bodoh.
2) Selalu memberi perhatian pada kepentingan umum.
3) Terbiasa bersikap mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan sendiri.
4) Suka memberi bantuan kepada orang lain.
5) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
6) Aktif dalam kegiatan pembangunan.
c. Setia terhadap bangsa dan negara
1) Mendahulukan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Berperan secara aktif dalam kegiatan pembangunan.
3) Setia terhadap ideologi negara (Pancasila), konstitusi negara (UUD 1945), segala peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan kebiajakan pemerintah yang sah.
4) Membela negara jika diancam musuh.
5) Menghormati lambang-lambang kedaulatan negara (lambang negara, bendera negara, lagu
kebangsaan).
6) Mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
7) Disiplin membayar pajak.
8) Mematuhi segala peraturan yang berlaku.
9) Menjaga tetap tegaknya kedaulatan bangsa dan negara.
d. Cinta tanah air
1) Tidak mementingkan rasa pamrih dan berbakti pada nusa dan bangsa.
2) Menunjukkan sikap kepahlawanan.
3) Mencintai bangsa dan budaya bangsa.
4) Bangga sebagai bangsa Indonesia yang bertanah air Indonesia.
5) Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, keselamatan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi/golongan.
6) Rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

C. PERAN SERTA DALAM USAHA PEMBELAAN
NEGARA
1. Contoh Tindakan Usaha Pembelaan Negara
Keikutsertaan setiap warga negara dalam usaha pembelaan negara bukan hanya
merupakan hak tetapi juga merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Tingkatan kewajiban
tersebut bervariasi sesuai dengan kedudukan dan tugas masing-masing.
Upaya pembelaan negara yang paling Nampak diperankan oleh TNI sejak perang
kemerdekaan sampai masa reformasi saat ini. Contoh-contoh tindakan upaya pembelaan
negara yang dilakukan TNI antara lain menghadapi ancaman agresi Belanda, menghadapi
ancaman gerakan federalis dan separatis APRA, RMS, PRRI/Permesta, Papua Merdeka,
separatis Aceh (GSA), melawan PKI dan DI/TII. Demikian pula Polri telah melakukan upaya
membela negara terutama yang berkaitan dengan ancaman yang mengganggu keamanan dan
ketertiban masyarakat, seperti kerusuhan, penyalahgunaan narkoba, konflik komunal, dan
sebagainya.
Dilihat dari aspek historis perjuangan bangsa kita, terdapat beberapa contoh
tindakan usaha pembelaan negara yang dilakukan oleh komponen rakyat, antara lain :
a. Kelaskaran yang kemudian dikembangkan menjadi barisan cadangan pada periode perang
kemerdekaan I.
b. Pada periode perang kemerdekaan II ada organisasi Pasukan Gerilya Desa (Pager Desa),
termasuk mobilisasi pelajar (Mobpel) sebagai bentuk perkembangan dari barisan cadangan.
c. Pada tahun 1958 1960 muncul Organisasi Keamanan Desa (OKD) dan Organisasi
Perlawanan Rakyat (OPR) yang merupakan bentuk kelanjutan Pager Desa.
d. Pada tahun 1961 dibentuk Pertahanan Sipil (Hansip), Perlawanan Rakyat (Wanra). Wanra
sebagai bentuk penyempurnaan dari OKD/OPR.
e. Perwira Cadangan yang dibentuk sejak tahun 1963.
f. Kemudian berdasarkan UU No. 20 tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertahanan Keamanan Negara RI (telah diganti dengan UU No. 3 tahun 2002) ada
organisasi yang disebut Rakyat Terlatih (Ratih) dan anggota Perlindungan Masyarakat
(Linmas).
Selain itu terdapat pula tindakan upaya pembelaan negara yang dilakukan secara
berencana melalui organisasi profesi, seperti antara lain Tim SAR untuk mencari dan
menolong korban bencana alam, PMI dan para medis. Demikian pula Menteri Luar Negeri dan
utusannya yang memperjuangkan kasus Sipadan dan Ligitan merupakan contoh tindakan
membela negara.
Selain melalui kegiatan organisasi profesi, tindakan upaya membela negara dapat
dilakukan melalui sekolah, khususnya melalui pendidikan kewarganegaraan. Misalnya
pembinaan sikap dan perilaku nasionalisme, patriotisme, membela kebenaran dan keyakinan
pada Pancasila dan UUD 1945


2. Contoh Peran Serta Warga Negara dalam Pembelaan Negara di Berbagai
Lingkungan.
Dalam pasal 5 UU No. 3 tahun 2002 ditegaskan, bahwa pertahanan negara berfungsi
untuk mewujudkan dan mempertahankan seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan.
Sedangkan yang dimaksud dengan seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan pertahanan,
bahwa ancaman terhadap sebagian wilayah merupakan ancaman terhadap seluruh wilayah
dan menjadi tanggung jawab segenap bangsa. Oleh karena itu keikutsertaan segenap warga
negara dalam upaya pembelaan negara bukan hanya dalam lingkup nasional, tetapi juga dalam
lingkungan terdekat dimana kita berdomisili. Artinya menjaga keutuhan wilayah lingkungan
kita tidak dapat dipisahkan dari keutuhan wilayah negara secara keseluruhan.
Persoalannya, siapa yang mesti berpartisipasi dalam upaya pembelaan negara di
lingkungannya ? Dan bagaimana bentuk partisipasi yang dapat dilakukannya ?

Pada dasarnya setiap orang mempunyai kewajiban untuk menjaga keutuhan, keamanan
dan ketertiban wilayah sekitarnya mulai dari lingkungan rumah sendiri, lingkungan
masyarakat sekitar, sampai lingkungan wilayah yang lebih luas.
Adapun bentuk partisipasi warga masyarakat dalam menjaga lingkungannya antara lain
melalui kegiatan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling), ikut serta menanggulangi akibat
bencana alam, ikut serta mengatasi kerusuhan masal dan konflik komunal. Bencana alam
terutama banjir tampak telah menjadi bencana nasional, karena hampir seluruh wilayah
nusantara terkena bencana tersebut. Oleh karena itu perlu ada gerakan bersama untuk
menguranginya. Misalnya dengan gerakan membuat serapan air sebanyak mungkin di
lingkungan kita masing-masing. Membuat serapan air dengan teknologi sederhana biopori
ternyata mudah, murah, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Lokasi untuk membuat serapan
juga tidak membutuhkan tanah yang luas.
Dalam masyarakat kita terdapat organisasi yang berkaitan dengan keselamatan
masyarakat yaitu Linmas yang mempunyai fungsi untuk menanggulangi akibat perang,
bencana alam atau bencana lainnya maupun memperkecil akibat malapetaka yang
menimbulkan kerugian jiwa dan harta benda.
Selain itu terdapat juga organisasi rakyat yang disebut Kamra, Wanra dan Hansip.
Kamra merupakan bentuk partisipasi rakyat langsung dalam bidang keamanan dan ketertiban
masyarakat. Sedangkan Wanra merupakan bentuk partisipasi rakyat langsung dalam bidang
pertahanan. Kemudian Hansip merupakan kekuatan rakyat yang merupakan kekuatan pokok
unsur-unsur perlindungan masyarakat dimanfaatkan dalam menghadapi bencana akibat
perang dan bencana alam serta menjadi sumber cadangan nasional untuk menghadapi
keadaan luar biasa.
Di daerah Bali terdapat lembaga atau organisasi keamanan yang dibentuk berdasarkan
adat yang dikenal dengan nama Pecalang, yang memiliki kewibawaan dan sangat berperan
dalam menjaga keamanan di lingkungan setempat.