Anda di halaman 1dari 6

ANATOMI, HISTOLOGY DAN HISTOFISIOLOGI KELENJAR YANG

BERHUBUNGAN DENGAN BENJOLAN DI LEHER


Adapun kelenjar yang berhubungan dengan adanya benjolan di leher adalah kelenjar
tiroid dan kelenjar hipofisis. Berikut anantomi, histology, serta histofisiologi masing
masing kelenjar adalah sebagai berikut:
A. Kelenjar Hipofisis
1. Anatomi
Kelenjar hipofisis ini berbentuk Ovoid/kacang dengan ukuran 12 x 8 mm dan berat 500
mg yang terletak di sela tursika, rongga tulang basis otak, dan dihubungkan dengan
hipotalamus oleh tungkai hipofisis atau hipofisial. Dikelilingi pembuluh darah
CIRCULUS WILLISI, Dibelakang bawah CHIASMA OPTICUM. Kelenjar ini terletak
pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam- macam hormonyang mengatur
kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis disebut master
gland( kelenjar induk / kelenjar ibu).
Kelenjar hipofisis dibagi menjadi:
a. HipofisisAnterior(Adenohipofisis)
Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan
fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormonnya yaitu:
1) Hormon Pertumbuhan
Meningkatkan pertumbuhan seluruh tubuh dengan cara mempengaruhi pembentuka
protein, pembelahan sel, dan deferensiasi sel.
2) Adrenokortikotropin (Kortikotropin)
Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi
metabolism glukosa, protein dan lemak.
3) Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin)
Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan
selanjutnya mengatur kecepatan sebagian besar reaksi kimia diseluruh tubuh.
4) Prolaktin
Meningkatkan pertunbuhan kelenjar payudara dan produksi air susu.
5) Hormon Perangsang Folikel dan Hormon Lutein
Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya.
b. Hipofisis Posterior (Neurohipofisis)
Ada 2 jenis hormon:
1) Hormon Antideuretik (disebit juga vasopressin
Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan cara ini akan membantu
mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh.
2) Oksitosin
Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama
pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat akhir masa kehamilan
c. Pars Intermedia
Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, yang pada
manusia hamper tidak ada sedangkan pada bebrapa jenis binatang rendah ukurannya jauh

lebih besar dan lebih berfungsi.


Pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dengan sel- sel kelenjar hipofisis
anterior. Pembuluh darah ini berkhir sebagai kapiler pada kedua ujungnya, dan makanya
disebut system portal.dalam hal ini system yang menghubungkan hipotalamus dengan
kelenjar hipofisis disebut juga system portal hipotalamus hipofisis. System portal
merupakan saluran vascular yang penting karena memungkinkan pergerakan hormone
pelepasan dari hypothalamus ke kelenjar hipofisis. sehingga memungkinkan
hypothalamus mengatur fungsi hipofisis. Rangsangan yang berasal dari tak mengaktifkan
neuron dalam nucleus hypothalamus yang menyintesis dan menyekresi protein degan
berat molekul yang rendah. Protein atau neuro hormone ini dikenal sebagai hormone
pelepas dan penghambat. Hormon hormon ini dilepaska kedalam pembuluh darah
system portal dan akhirnya mencapai sel sel dalam kelenjar hipofisis. Dalam rangkaian
kejadian tersebut hormon- hormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis diangkt
bersama darah dan merangsang kelenjar-kelenjar lain ,menyebabkan pelepasan hormon
hormon kelenjar sasaran. A Akhirnya hormon hormon kelenjar sasaran bekerja pada
hipothalamus dan sel sel hipofisis yang memodifikasi sekresi hormone.
2. Histology
Embriologi adenohypofise & neurohypofise berbeda. Adenohypofise berkembang dari
kantong rathke yaitu divertikulum ektodermal yang menonjol dari atap stomadeum (atap
bakal rongga mulut). Sedangkan neurohypofise berkembang dari divertikel
neuroektoderal menonjol dari diensefalon membentuk infundibulum, kedua divertikel ini
dengan cepat berhubungan satu dengan lainnya dan hubungan kantong rathke dengan
atap bakal rongga mulut hilang.Sebaliknya infundibulum tetap berhubungan dengan
diencefalon dimana bagian atasnya membentuk tangkai neural dan bagian bawahnya
inferior membentuk pars nervos mengandung sel-sel neuroepitethel yang akan
mengalami proliferasi dengan hebat danberdffrensiasi menjadi sel pituisit. Dari
diencefalon serat saraf berkembang dan berjalan turun ke bawah ke dalam tangkai neural
dan masuk ke pars nervosa.
Bagian kantong rathke yg berhubungan dengan pars nervosa hy berkembang sedikit
menjadi pars intermedia. Sedangkan dinding depan (anteroir) akan berkembang dengan
cepat dan membentuk pars distalis,pars intermedia.Pada manusia pada perkembangannya
banyak sel-sel akan bermigrasi ke pars distalis dan sebagian ke pars nervosa sehingga
pada orang dewasa pars itermedia menyusut & hanya 2% dari hipofise.
Pars tuberalis berasal dari pertumbuhan jaringan dari pars distalis & mengelilingi tangkai
neural pada sisi anteroir dan lateral. Sisa kantong dapat dilihat pada anak-anak berupa
vesikel berisi koloid yg terdapat pada perbatasan antara adenohupofise dan
neurohypofise.
3. Histofisiologi
a. Sel neuroscretory pada Hipotalamus mensekresi releasing dan inhibitory hormon
yang menstimuli atau menginhibisi aktifitas Hipofise anterior.
b. Sesuai dengan rangsangan dari releasing atau inhibitory hormon maka Hipofise akan
mensekresi : GH, Prolactin, LH, FSH, TSH dan ACTH atau penghambat hormon tersebut
diatas.
c. Nukleus supraoptik memproduksi ADH (Anti Diuretic Hormon ) dan selanjutnta
disimpan dalam hipofise posterior.
d. Nukleus paraventrikuler memproduksi Oxitocin (vasopresin) dan selanjutnya disimpan

dalam hipofise posterior


B. Kelenjar Tyroid
1. Anatomi
Kelenjar tyroid terletak dibagian bawah leher, antara fascia koli media dan fascia
prevertebralis. Didalam ruang yang sama terletak trakhea, esofagus, pembuluh darah
besar, dan syaraf. Kelenjar tyroid melekat pada trakhea sambil melingkarinya dua pertiga
sampai tiga perempat lingkaran. Keempat kelenjar paratyroid umumnya terletak pada
permukaan belakang kelenjar tyroid. Tyroid terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan
oleh istmus dan menutup cincin trakhea 2 dan 3. Kapsul fibrosa menggantungkan
kelenjar ini pada fasia pretrakhea sehingga pada setiap gerakan menelan selalu diikuti
dengan terangkatnya kelenjar kearah kranial. Sifat ini digunakan dalam klinik untuk
menentukan apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan kelenjar tyroid atau
tidak.
Vaskularisasi kelenjar tyroid berasal dari a. Tiroidea Superior (cabang dari a. Karotis
Eksterna) dan a. Tyroidea Inferior (cabang a. Subklavia). Setiap folikel lymfoid
diselubungi oleh jala-jala kapiler, dan jala-jala limfatik, sedangkan sistem venanya
berasal dari pleksus perifolikular. Nodus Lymfatikus tyroid berhubungan secara bebas
dengan pleksus trakhealis yang kemudian ke arah nodus prelaring yang tepat di atas
istmus, dan ke nl. Pretrakhealis dan nl. Paratrakhealis, sebagian lagi bermuara ke nl.
Brakhiosefalika dan ada yang langsung ke duktus thoraksikus. Hubungan ini penting
untuk menduga penyebaran keganasan
2. Histology
Pada usia dewasa berat kelenjar ini kira-kira 20 gram. Secara mikroskopis terdiri atas
banyak folikel yang berbentuk bundar dengan diameter antara 50-500 m. Dinding
folikel terdiri dari selapis sel epitel tunggal dengan puncak menghadap ke dalam lumen,
sedangkan basisnya menghadap ke arah membran basalis. Folikel ini berkelompok
sebanyak kira-kira 40 buah untuk membentuk lobulus yang mendapat vaskularisasi dari
end entry. Setiap folikel berisi cairan pekat, koloid sebagian besar terdiri atas protein,
khususnya protein tyroglobulin (BM 650.000).
3. Histofisiologi
a. Sekresi T4 (tiroxin,tetraiodotironin), T3 (triiodotironin) dan Calcitonin.
b. Terdiri atas lobus kanan dan kiri dipisahkan oleh istmus.
c. Pada beberapa orang ditemukan lobus piramidal (lobus tambahan), merupakan sisa dari
Tiroid primordial yang tumbuh dari dasar lidah melalui jalan duktus Tiroglossus.

FISIOLOGI YANG BERHUBUNGAN DENGAN BENJOLAN DI LEHER


Kelenjar tyroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin
(T3). Kedua hormon ini merupakan asam amino dengan sifat unik yang mengandung
molekul iodium yang terikat pada struktur asam amino.T4 mengandung empat atom
iodium dalam setiap molekulnya,dan T3 hanya mengandung tiga atom saja.Kedua
hormon ini disintesis dan disimpan dalam keadaan terikat dengan protein dalam keadaan
terikat dengan protein di dalam sel-sel kelenjar tiroid;pelepasannya ke dalam aliran darah
terjadi ketika diperlukan.Kurang lebih 75% hormon tiroid berada dalam keadaan terikat
dengan globulin pengikat-protein (TBG;thyroid-binding globulin).Hormon tiroid yang
lain berada dalam keadaan terikat dengan albumin dan prealbumin pengikat tiroid.
Iodium merupakan unsur esensial bagi tiroid untuk sintesis hormon tiroid.Pada
kenyataannya,iodium dalam tubuh paling banyak digunakan oleh kelenjar tiroid,dan
gangguan utama akibat defisiensi iodium adalah perubahan fungsi tiroid.Iodida
dikonsumsi dari makanan dan diserap ke dalam darah di dalam traktus
gastrointestinal.Kelenjar tiroid bekerja sangat efisien dalam mengambil iodium dari darah
dan kemudian memekatkannya dalam sel-sel kelenjar tersebut.Di sana ion-ion iodida
akan diubah menjadi molekul iodium yang akan bereaksi dengan tirosin (suatu asam
amino) untuk membentuk hormon tiroid.
Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid (thyroid
stimulating hormone,TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis.TSH
akan mengendalikan kecepatan pelepasan hormon tiroid..Selanjutnya,pelepasan TSH
ditentukan oleh kadar hormon tiroid dalam darah.Jika konsentrasi hormon tiroid dalam
darah menurun,pelepasan TSH meningkat sehingga terjadi peningkatan keluaran T3 dan
T4.Keadaan ini merupakan satu contoh pengendalian umpan-balik (feedback
control).Hormon pelepas-tirotropin (TRH;thyrotropin-releasing hormone) yang
disekresikan oleh hipotalamus memberikan pengaruh yang mengatur (modulasi)
pelepasan TSH dari hipofisis.Faktor-faktor lingkungan seperti penurunan suhu tubuh
dapat meningkatkan sekresi TRH dan dengan demikian menaikkan sekresi hormon tiroid.
Fungsi utama hormon tiroid (T4 dan T3) adalah mengendalikan aktifitas metabolik
seluler.Kedua hormon ini bekerja sebagai alat pacu umum dengan mempercepat proses
metabolisme.Efeknya pada kecepatan metabolisme sering ditimbulkan oleh peningkatan
kadar enzim-enzim spesifik yang turut berpengaruh dalam konsumsi oksgen,dan oleh
perubahan sifat responsif jaringan terhadap hormon yang lain.Hormon tiroid
mempengaruhi replikasi sel dan sangat penting bagi perkembangan otak.Adanya hormon
tiroid dalam jumlah yang adekuat juga diperlukan untuk pertumbuhan normal.Melalui
efeknya yang luas terhadap metabolisme seluler,hormon tiroid mempengaruhi setiap
sistem organ yang penting.
Kelenjar tiroid juga menghasilkan kalsitonin atau tirokalsitonin.Sekresi kalsitonin tidak
dikendalikan oleh TSH.Hormon ini disekresikan oleh kelenjar tiroid sebagai respon
terhadap kadar kalsium plasma yang tinggi,dan kalsitonin akan menurunkan kadar
kalsium plasma dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium dalam tulang.

Efek hormon tiroid pada pertumbuhan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan


otak selama kehidupan janin. Bila janin tidak dapat mensekresi hormon tiroid dalam
waktu yang cukup maka pertumbuhan dan pematangan otak sebelum dan sesudah bayi
dilahirkan akan sangat terbelakang dan otak tetap berukuran kecil dari normal. Hormon
tiroid meningkatkan laju metabolisme sebagian besar sel tubuh. Bila produksi hormon
tiroid sangat meningkat maka hampir selalu menurunkan berat adan. Dan bila
produksinya menurun hampir selalu meningkatkan nafsu makan. Keadaan ini dapat
melebihi keseimbangan perubahan kecepatan metabolism
Efek pada sistem kardiovaskuler hormon tiroid akan meningkatkan aliran darah dan
curah jantung, frekuensi denyut jantung, kekuatan denyut jantung, volume darah, dan
tekanan arteri. Efek pada respiratori. Meningkatnya kecepatan metablisme akan
meningkatkan pemakaian oksigen dan pembentukan karbon dioksida. Ini akan
mengaktifkan semua mekanisme yang meningkatkan kecepatan dan kedalaman
pernapasan.
Efek pada saluran cerna, meningkatkan nafsu makan dan asupan makanan, karena
hormon tiroid meningkatkan kecepatan sekresi getah pencernaan dan gerakan saluran
cerna. Sering terjadi diare, kekurangan hormon tiroid dapat menimbulkan konstipasi.
Efek pada sistem syaraf pusat. Hormon tiroid meningkatkan kecepatan berfikir, tapi juga
sering menimbulkan disosiasi pikiran, dan sebaliknya berkurang hormon tiroid akan
menurunkan fungsi ini.
Efek terhadap fungsi otot. Peningkatan hormon tiroid dapat menyebabkan otot bereaksi
dengan kuat, namun bila jumlah hormon ini berlebihan, maka otot-otot malahan menjadi
lemah oleh karena berlebihnya katabolisme protein. Kekurangan hormon tiroid
menyebabkan otot sangat lambat, tremor pada otot.
Efek pada tidur. Karena efek yang melelahkan dari hormon tiroid pada otot dan sistem
syaraf pusat, maka penderita hipertiroid seringkali merasa capai terus menerus tetapi
karena efek ekstasi dari hormon tiroid pada sinaps, timbul kesulitan tidur. Sebaliknya,
somuolen yang berat merupakan gejala khas dari hipertiroidisme, disertai dengan waktu
tidur yang berlangsung selama 12 jam sampai 14 jam sehari.
Efek hormon tiroid pada fungsi seksual. Pada pria, berkurangnya hormon tiroid
menyebabkan hilangnya libido dan sebaliknya sangat berlebihannya hormon ini
seringkali menyebabkan impotensi. Pada wanita, kekurangan hormon tiroid seringkali
menyebabkan timbulnya menoragia dan polimenore.