Anda di halaman 1dari 60

KENCING KERUH

TUJUAN PEMBELAJARAN
Definisi & etiologi pielonefritis
Epidemiologi pielonefritis
Patofisiologi pielonefritis
Manifestasi klinis pielonefritis
Diagnosis pielonefritis
Diagnosis differensisal pielonefritis
Faktor predisposisi pielonefritis
Penatalaksanaan pielonefritis
Komplikasi & prognosis pielonefritis
DEFENISI & ETIOLOGI
Defenisi
Pielonefritis adalah peradangan jaringan ginjal dan
pelvis ginjal (Pearce, 2006: 252)
Defenisi
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala
ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu
atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436).
Defenisi
Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal
yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd
aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002: 668)
Pielonefritis Akut
Pielonefritis akut (infeksi pelvis dan intestinum ginjal)
adalah infeksi yang paling berperan dalam
menimbulkan morbiditas, tetapi jarang berakhir
sebagai gagal ginjal progresif.
Gejala Pielonefritis Akut
Gambaran klinis, khas.
Hampir 90%, perempuan.
Gejala :
Demam, menggigil
Malaise
Nyeri punggung, nyeri tekan CVA
Leukositosis
Piuria
Bakteriuria
Pielonefritis Kronik
Pielonefritis kronik adalah cedera ginjal progresif yang
menunjukkan pembentukan jaringan parut
parenkimal pada pemeriksaan IVP, disebabkan oleh
infeksi berulang atau infeksi yang menetap pada
ginjal.
Pielonefritis Kronik
Akhir-akhir ini, bukti menunjukan bahwa pielonefritis
kronik terjadi pada pasien UTI yang juga mempunyai
kelainan anatomi utama pada saluran kemih, seperti
refluks vesikoureter (VUR), obstruksi, batu, atau
neurogenik vesika urinaria (Kunin, 1997; Rose,
Rennke, 1994)
Pielonefritis Kronik
Kerusakan ginjal pada pielonefritis kronik yang juga
disebut nefropati refluks, diakibatkan oleh refluks
urine terinfeksi ke dalam ureter yang kemudian masuk
ke dalam parenkim ginjal (refluks intrarenal).
Pielonefritis kronik akibat VUR adalah penyebab
utama gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak.
Gejala Pielonefritis Kronik
1. Adanya serangan Pyelonefritis akut yang berulang-
ulang biasanya tidak mempunyai gejala yang sfesifik
2. Adanya poliuria, haus yang berlebihan,
azotemia,anemia, asidosis, proteinuria, pyuria, dan
kepekatan urin menurun
3. Ketidaknormalan kalik dan adanya luka pada
daerah korteks

Gejala Pielonefritis Kronik
4. Kesehatan pasien semakin menurun, pada akhirnya
pasien mengalami gagal ginjal
5. Ginjal mengecil dan kemampuan nefron menurun
dikarenakan luka pada jaringan
6. Tiba-tiba ketika ditemukan adanya hypertensi

Etiologi
1. Bakteri
Escherichia coli 80% kasus
Proteus, Klebsiella, Enterobacter, dan Pseudomonas
Bakteri gram positif, Staphylococcus saprophyticus 15%
2. Obstruksi urinari track (batu ginjal, pembesarn
prostat)
3. Refluks
4. Kehamilan
5. Penyakit metabolik
6. Peyalahgunaan analgesik kronik


In female population :
- Schoolgirls 1 3 %
- Insiden incidence with inset of sexual activity
adolescence.
- The vast majority of acute symptomatic infection
involve young woman.

In male population :
- Acute symptomatic UTIs occur in first year of life.
(often os association with urologic abnormality)
- UTIs are unusual in male patients under the age of 50.
- Asymptomatic bacteriuria is more common among
elderly men and women, with a rate 40-50% in some
studies.
Pada anak yang baru lahir hingga umur 1 tahun,
dijumpai bakteriuria di 2,7% lelaki dan 0,7% di
perempuan (Wettergren, Jodal, and Jonasson,
1985).

Pada anak berusia 1-5 tahun, insidens bakteriuria
di perempuan bertambah menjadi 4.5%,
sementara berkurang di lelaki menjadi 0,5%

. Insidens bakteriuria menjadi relatif constant
pada anak usia 6-15 tahun. Namun infeksi pada
anak golongan ini biasanya berasosiasi dengan
kelainan fungsional pada saluran kemih seperti
dysfunction voiding
Menjelang remaja, insidens ISK bertambah secara
signifikan pada wanita muda mencapai 20%, sementara
konstan pada lelaki muda.

Faktor risiko yang utama yang berusia 16-35 tahun adalah
berkaitan dengan hubungan seksual.

Pada usia lanjut, insidens ISK bertambah secara signifikan
di wanita dan lelaki. Morbiditasdan mortalitas ISK paling
tinggi pada kumpulan usia yang <1 tahun dan >65 tahun.
(Nguyen, H.T., 2004).

Pielonefritis

Pielonefritis
Akut

Pielonefritis
Kronik

Pielonefritis Akut
Infeksi terjadi
setelah sistisis,
prostasitis
Ascending oleh
e-coli
Inflamasi
Pembengkakan
dimulai dari
papila, menyebar
ke korteks
Ginjal
membesar
Abses pada
kapsul ginjal
Pada akhirnya
atrofi
Kerusakan
tubulus dan
glomerulus
terjadi
Pielonefritis Kronik
Bakteri dan
faktor lain
Merusak
jaringan ginjal
Jaringan parut
Gagal ginjal
kronik
Demam
Bakteri melepaskan
Pirogen (Endotoksin
Lipopolisakarida)
Fagositosis oleh
Leukosit,
Makrofag dan
Limfosit
Hasil Fagositosis
melepaskan
pemecahan yaitu
IL-1 (Pirogen
Endogen)
IL-1
menginduksi
pembentukan
PG E-2
Mengubah
set point
tubuh di
hipotalamus
DEMAM
Menggigil
Penurunan
suhu tubuh di
bawah nilai
suhu kritis
Mengaktivasi
Pusat Motorik
Primer Menggigil
di Dorsomedial
(Hipotalamus
Posterior)
Signal di
teruskan ke
traktus bilateral
hingga ke batang
otak
Dilanjutkan ke
medulla
spinalis dan ke
neuron neuron
motoric
anterior
Tonus otot
rangka di
seluruh tubuh
Menggigil
Nyeri Pinggang
Infeksi yang telah
mencapai kapsula
ginjal dan meluas
ke dalam jaringan
peri renal
Abses Ginjal
Peregangan
Kapsula
Ginjal
NYERI
PINGGANG
Urgensi, Polakisuria, dan Disuria
Infeksi dan
Inflamasi
Hiperiritabilitas
dan
Hiperaktivitas
Kandung Kemih
Mengiritasi lumen
kandung kemih dan
Mengakibatkan
turunnya Komplians
Kandung Kemih
Mengiritasi
Meatus Uretra
Eksternus
Urgensi
Polakisuria
Disuria
Pyuria
Akumulasi
Sejumlah Bakteri (
E.coli ) pada
saluran kemih.
Mekanisme
pertahanan
tubuh/ system
imunologi (
Leuksoit,
Makrofag,
Limfosit )
Proses imunologis
berlangsung di
saluran kemih
hingga ke segmen
tubulus dan dalam
interstisium
disekitar tubulus.
Sebagian segmen
tubulus hancur dan
leukosit di keluarkan
ke dalam urine dalam
bentuk silinder
PYURIA
ANAMNESIS
KU:
Demam, menggigil
Nyeri pinggang
Urgensi, disuria
Kencing keruh


RPD: pernah ada infeksi saluran kemih sebelumnya
RPK: disangkal
RKP: kebiasaan cebok yang salah
PEMERIKSAAN FISIK
Nyeri ketok CVA
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab: leukosituria (pyuria), LED meningkat
Urinalisis
Kultur urin
Pencitraan ginjal
Laboratorium Darah
Leukositosis
LED meningkat
Urinalisis
Leukosuria (+): >5 leukosit/LPB
Hematuria (+): 5-10 eritrosit/LPB



Tes dipstick multistrip dan nitrit

Tes esterase lekosit positif: piuria. ( spt kertas Ph)
Tes pengurangan nitrat: Griess positif jika terdapat
bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi
nitrit. ( biasanya e.coli)

Kultur Urin
Identifikasi bakteri yang menginfeksi (jumlah bakteri
>10^5 organisme/ml)
Identifikasi pengobatan yang tepat
Pencitraan ginjal
Radiologi (BNO atau
Foto Polos Abdomen)
IVP ( Memakai kontras)
USG
CT-scan
MRI
Penyakit Definisi Etiologi Manifestasi
klinis
Sistitis Inflamasi pada
vesika urinaria
Bakteri kelompok :
Anterobacteria
ceae,Pseudomonas
aeruginosa
Disuria,Polakisuri
a,oliguria,hematur
ia,pyuria,nyeri
suprapubis,dema
m
Ureteritis Inflamasi pada
urethra
Bakteri neisseria
gonorhoe,chlamyd
ia,E.coli.
Disuria,Pyuria,pol
akisuria,demam
Endometriosis Inflamasi pada
lapisan
endometrium
Kista,darah
menstruasi
mengalir balik
melalu tuba falopi
ke rongga pelvis
Nyeri
pinggang,hematur
ia,dismenore,nyeri
supra
pubik,menstruasi
tidak teratur
Prostatitis Inflamasi pada
kelenjar prostat
Penyebaran infeksi
bakteri ISK
Nyeri pinggang dn
supra
pubik,disuria,hem
aturia,polakisuria,
urgency,demam,m
enggigil
Jenis kelamin& Usia
Wanita > Laki-laki
Uretra perempuan tampaknya lebih cenderung didiami
oleh basil gram negatif, karena letaknya di atas anus,
ukurannya pendek (kira-kira 4 cm), dan berakhir
dibawah labia.

Insidensi meningkat seiring bertambahnya usia

Kehamilan
Kecenderungan infeksi saluran
kemih bagian atas selama kehamilan
disebabkan oleh penurunan
kekuatan ureter, penurunan
peristaltik ureter, dan inkompetensi
sementara katup vesikoureteral yang
terjadi selama hamil.
Refluks vesicoureter
Merupakan kondisi patologis dimana urine terdorong
naik melalui satu atau kedua ureter selama berkemih.
Disebabkan oleh keagalan kandung kemih untuk
menutup ureter selama berkemih. Akibatnya,
sejumlah urin terdorong ke arah ginjal dengan
membawa bakteri.
Imunosupresi &
Imunodefisiensi
Penyakitkronik,HIV/AIDS, maupun penggunaan obat
anti inflamasi dapat menimbulkan imunosupresi
maupun imunodefisiensi yang mengakibatkan
menurunnya perlidungan tubuh terhadap berbbagai
macam infeksi termasuk juga infeksi pada saluran
kemih

Faktor genetik
Faktor genetik penjamu mempengaruhi kerentanan
terhadap infeksi urinarius. Jumlah dan tipe reseptor pada
sel uroepitel tempat bakteri dapat menempel dan dapat
ditentukan, setidaknya sebagian, secara genetik (Stamm,
1999)
Pencegahan umum

Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan
saluran kencing.
Setiap buang air seni, bersihkanlah dari depan ke
belakang. Hal ini akan mengurangi kemungkinan bakteri
masuk ke saluran urin dari rectum.
Membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang
memiliki pH balanced (seimbang).
Buang air seni sesering mungkin (setiap 3 jam).
Pilih toilet umum dengan toilet jongkok.
Jangan cebok di toilet umum dari air yang ditampung di
bak mandi atau ember.
Pencegahan medika
Pemberian antibiotik dosis rendah jangka panjang
Trimetropin sulfametoksasol (80mg trimetropin dan
400mg sulfametoksasol
Trimetropin saja (100mg)
Nitrofurantoin (50mg)

Setiap hari atau 3 kali seminggu
Penatalaksanaan
Pengobatan dengan Trimetropin sulfametoksasol
selama 14 hari
Trimetropin saja selama 2 minggu
Florokuinolon selama 2 minggu
Sefalosporin selama 2 minggu
Pasien yang kambuh setelah pengobatan harus diperiksa
apakah ada fokus lain.
KOMPLIKASI
Obstruksi saluran kemih
Hidronefrosis
Batu ginjal
BAKTERI
MASUK
(ASCENDING)
MEKANISME
ANTIBAKTER
IAL MUKOSA
OBSTRUKSI
SALURAH
KEMIH
HIDRONEFROSIS
TEKANAN
DI PELVIS
GINJAL
BAKTERI
MASUK
(ASCENDING)
MEKANISME
ANTIBAKTER
IAL MUKOSA
OBSTRUKSI
SALURAH
KEMIH
BATU
GINJAL
HIPERKALSEMIA
&
HIPERKALSIURIA
prognosis
Prognosis pielonefritis baik bila memperlihatkan
penyebuhan klinis maupun bakteriologis terhadap
antibiotik
Bila diagnosis pielonefritis kronis terlambat dan kedua
ginjal telah menyusut pengobatan konserfatif semata
mata untuk mempertahankan faal jaringan ginjal
yang masih utuh
referensi
Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3.
Jakarta: FKUI

Harrison, prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam edisi 13