Anda di halaman 1dari 16

Praktikum Kimia Fisika I

Semester Genap 2009/2010



Panas Pembakaran
PANAS PEMBAKARAN

I. TUJUAN
- Menentukan kapasitas pembakaran dengan alat burn kalorimeter.
- Menggunakan hukum Hess untuk menentukan panas pembakaran dalam
burn kalorimeter.

II. TEORI
Reaksi kimia yang umum digunakan untuk menghasilkan energi adalah
pembakaran yaitu suatu reaksi cepat antara bahan bakar dengan oksigen yang
disertai terjadinya api.
Pembakaran ada 2 jenis :
1. Pembakaran sempurna
pembakaran dimana bahan bakar mengalami pembakaran dimana konstituen
yang dapat terbakar didalam bahan bakar membentuk CO
2
, air dan gas.
2. Pembakaran tidak sempurna
Pembakaran dimana bahan bakar mengalami oksidasi perlahan-lahan sehingga
kalor yang dihasilkan tidak dilepaskan, akan tetapi dipakai untuk menaikkan
suhu bahan secara perlahan-lahan sampai suhu nyala.
Bahan bakar utama belakangan ini adalah bahan bakar fosil yaitu : gas
alam, minyak bumi dan batu bara.
Entalpi pembakaran
Reaksi suatu zat dengan oksigen disebut dengan reaksi pembakaran. Zat
yang mudah terbakar adalah unsur karbon, hidrogen, belerang dan berbagai unsur
senyawa dari unsur - unsur tersebut. Perubahan entalpi pada pembakaran
sempurna adalah entalpi pembakaran standar (standard enthalpy of combustion)
yang dinyatakan dengan H
c
o
, yang terjadi pada 1 mol zat pada tekanan 1 atm dan
suhu 298 K.
Entalpi perubahan fisik
Perubahan entalpi standar yang menyertai perubahan fisik disebut entalpi
transisi standar. Contohnya adalah entalpi penguapan, dua contoh lainnya adalah
entalpi peleburan standar dimana es pada tekanan satu bar meleleh menjadi air
atau cairan pada tekanan satu bar, dan entalpi sublimasi standar untuk proses
dimana padatan menguap.
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
Sebab perubahan entalpi tidak bergantung pada jalannya antara dua
keadaan. Hal ini sangat penting dalam termokimia karena ini berarti bahwa nilai
H
o
yang sama akan diperoleh bagaimana pun perubahan yang dihasilkan ( selama
keadaan awal dan akhirnya sama ).
Contohnya kita dapat membayangkan sublimasi.
A
(s)
A
(g)
H
o
sub ( T )
Walaupun demikian, hasil keseluruhan yang sama akan diperoleh jika
padatan dianggap meleleh pada temperatur T dan kemudian menguap pada
temperatur tersebut.
A
(s)
A
(g)
H
o
sub (T)
A
(l)
A
(g)
H
o
sub (T)
Secara keseluruhan :
A
(s)
A
(g)
H
o
sub (T) H
o
uap (T)
Karena secara keseluruhan hasilnya sama, perubahan juga sam dalam kedudukan
kasus tersebut, dan kita dapat menyimpulkan bahwa :
H
o
sub (T) = H
o
fus (T) + H
o
uap (T)
Kesimpulan langsung apa bila entalpi peleburan positif, maka entalpi
sublimasi suatu zat terlalu lebih besar dari pada entalpi penguapanya. Karena H
adalah fungsi keadaan, konsekuensinya adalah nilainya sama tetapi tanda
berlawanan pada entalpi standar proses sebaliknya.
H
o
(sebaliknya) = - H
o
( maju )
Misalnya entalpi kondensasi standar suatu zat pada temperatur T haruslah
nilai negatif dari entalpi standar penguapannya pada temperatur ini. Jadi, karena
penguapan air adalah endoterm, dengan 44 kj/mol pada temperatur 298 K.
kondensasinya pada temperatur itu adalah eksoterm dengan 44 kj/mol.
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
Entalpi pelarutan standar suatu zat adalah perubahan entalpi standar jika
zat itu melarut di dalam pelarut dengan jumlah tak terhingga, sehingga interaksi
antara dua ion ( atau molekul terlarut untuk zat bukan elektolit ) dapat diabaikan.
Energi pengionan Ei adalah perubahan energi dalam untuk proses yang
sama pada T = 0, karena energi pengionan pada temperatur biasa sama dengan
energi pengionan pada T = 0 maka cukup baik untuk menggunakan hubungan :
H
o
i = E1 + RT
Karena RT hanya sekitar 2,5 kj/mol pada temperatur kamar dan energi
pengionan lebih besar dengan 100 kali, maka biasanya mengabaikan perbedaan
antara H
o
i, U
o
i dan E1 .
Kata entalpi berasal dari bahasa yunani yang berarti pemanasan. Entalpi
merupakan fungsi keadaan tetapi harga perubahan entalpi itu sendiri merupakan
suatu fungsi. Di dalam ini hukum Hess biasanya digunakan untuk menghitung
entalpi standar yang sukar dihitung atau diamati secara percobaan.
Kapasitas panas dan panas spesifik
Sifat-sifat kimia atau sifat dari air yang mendefenisikan asal dari kalori
adalah banyaknya perubahan temperatur yang dialami air waktu mengambil atau
melepaskan kalor. Istilah umum untuk sifat ini disebut kapasitas panas yang
didefenisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk mengubah temperatur
suatu benda sebesar 1
o
C.
Kapasitas panas yang bersifat ekstensif yang berarti bahwa jumlahnya
bergantung dari besarnya sampel. Misalnya untuk menaikkan suhu 1 g air sebesar
1
o
C diperlukan 4,18 J (1kal), tapi untuk menaikkan suhu air 100 g sebesar 1
o
C.
diperlukan energi 100 kali lebih banyak yaitu 418 J. Sehingga 1 g sampel
mempunyai kapasitas panas sebesar 4,18 J/
o
C sedangkan untuk sampel sebesar
100 g mempunyai kapasitas panas sebesar 418 J/
o
C.
Pengukuran perubahan energi dalam reaksi kimia
Perubahan energi dalam reaksi kimia selalu dapat dibuat sebagai panas,
oleh karena lebih tepat istilahnya disebut panas reaksi. Alat yang digunakan untuk
mengukur panas tersebut disebut kalorimeter.
Untuk mendapatkan reaksi pembakaran yang baik diperlukan :
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
1. Perbandingan tertentu antara bahan bakar dengan udara.
2. Pencampuran yang baik antara bahan bakar dan udara.
3. Permulaan dan berkelangsungan penyalaan pencampuran.
Pada awal pembakaran diperlukan nyala api atau loncatan api listrik
setelah sebagian kecil panas panas pembakaran mulai terjadi bahan bakar sudah
mulai terbakar, maka sebahagian dari panas pembakaran akan digunakan untuk
menaikkan suhu bahan bakar sampai saat suhu bahan bakar cukup untuk terbakar
sendiri. Jika ini terjadi maka bantuan nyala untuk membakar bahan bakar tidak
dibutuhkan lagi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan nyala pada panas pembakaran :
1. Tekanan campuran bahan bakar dengan udara.
2. Suhu pembakaran.
3. Perbandingan udara primer dan bahan bakar.
4. Efek perbandingan lingkungan.
Pembakaran yang tidak sempurna pada zat yang tidak terbakar akan
mengurangi efisiensi bahan bakar dalam mesin kendaraan dan pembakaran yang
tidak sempurna juga akan menghasilkan karbon monoksida yang bersifat racun
yang dapat mencemari udara pada lingkungan kita.
a. Reaksi pembakaran sempurna

C
8
H
18
+ 6 O
2
8 CO
2
+ 9 H
2
O H = -5460 KJ

b. Reaksi pembakaran tak sempurna

C
8
H
18
+ 4 O
2
8 CO + 9 H
2
O H = -2924,4 KJ
Dua dari reksi diatas menunjukkan perbedaan reksi yang dialami oleh
isooktan yang bereaksi atau yang terbakar sempurna dengan reaksi yang tidak
terbakar secara sempurna.
Panas pembakaran adalah panas yang timbul pada pembakaran 1 mol zat.
Biasanya panas pembakaran ditentukan secara eksperimen pada volume yang
tetap dalam bomb kalorimeter.
Nilai kalor terdiri dari 2 macam yaitu :
1. Nilai kalor atas
Kalor yang dihasilkan pembakaran sempurna pada tekanan yang tetap.
2. Nilai kalor bawah
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
Kalor yang besar atau nilainya sama dengan nilai kalor yang dibutuhkan
air yang terdapat dalam bahan bakar dan air yang terbentuk untuk menguap
pada tekanan tetap.

































Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
a. Alat : -
1. 1 set burn kalorimeter
2. Termometer
3. Hot plate
4. Beker gelas
5. Gelas ukur
b. Bahan :
1. lililin
2. aquadest
3. etanol

3.2 Skema Kerja
600 mL aquadest


200 mL 400 mL
Masukkan dalam gelas piala - masukkan kedalam
Burn kalorimeter
Panaskan T < 70
o
C -ukur suhu

Campurkan
didalam burn kalorimeter

campuran
Aduk dan catat suhu setimbang
Dapat T(suhu) campuran
Alat pembakar
o Tambahkan 2 mL etanol
o Timbang
Didapat massa
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
Campuran didalam burn kalorimeter
o Diletakkan alat pembakar
dibawahnya
o Panaskan hingga T
campuran
(10-15)
o
C
o Matikan pembakar
o Timbang alat pembakar
hasil

hitung C.H E
Ulangi langkah yang sama dengan
alat pembakar lilin



















Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
3.3 Skema Alat







1









2

3





Keterangan :
1. Termometer
2. pengaduk 4
3. Burn kalorimeter
4. burner





Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
IV. PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data dan Perhitungan
a. Etanol
Percobaan I
Massa etanol +burner = 14,96 g
Massa etanol setelah pembakaran burner = 13,00 g
T
1
= T
air dingin
= 28
o
C massa = 400 g
T
2
= T
air panas
= 68
o
C

massa = 200 g
T
3
= T
campuran
=

39
o
C
T
4
= T
akhir
= 51
o
C
Percobaan II
Massa etanol +burner = 14,62 g
Massa etanol setelah pembakaran + hot plate = 12,44 g
T
1
= T
air dingin
= 28
o
C massa = 400 g
T
2
= T
air panas
= 69
o
C

massa = 200 g
T
3
= T
campuran
=

40
o
C
T
4
= T
akhir
= 52
o
C
b. Lilin
Massa lilin + hot plate = 4,33 g
Massa lilinsetelah pembakaran + hot plate = 2,70 g
T
1
= T
air dingin
= 28
o
C massa = 400 g
T
2
= T
air panas
= 68
o
C

massa = 200 g
T
3
= T
campuran
=

39
o
C
T
4
= T
akhir
= 51
o
C
A. Menghitung Kapasitas Panas
Q
terima
= Q
lepas

Q
akhir
= 1 kal/g
o
C
*ETANOL
a) Percobaan I
M
ad
. C
a
. (T
3
T
1
) + (T
3
T
1
) = M
ap
. C
a
. ( T
2
T
3
)
400 g. 1 kal/ g
o
C . (39 28)
o
C + C
1
(39-28)
o
C
= 200 g . 1 kal/g
o
C . (68 39)
o
C
4400 kal + C
1
11
o
C = 5800 kal
C
1
= 5800 kal 4400 kal
11
o
C
= 127,272 kal/
o
C
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
b) Percobaan II
M
ad
. C
a
. (T
3
T
1
) + C
1
. (T
3
- T
1
) = M
ap
. C
a
. (T
2
- T
3
)
400 g.1 kal/g
o
C . (40 28)
o
C + C2 (40 - 28)
o
C
= 200 g. 1kal/g
o
C. (69-40)
o
C
4800 kal + C
2
. 12
o
C = 5800 kal
C
2
= 5800 kal 4800 kal
12
o
C
= 83,33 kal/
o
C
C
rata rata
= C
1
+ C
2
= 127,272 kal/
o
C+83,33 kal/
o
C
2 2
= 105,303 kal/
o
C
LILIN
400 g . 1 kal/
o
C (39-28)
o
C + C . (39-28)
o
C
= 200 . 1kal/g
o
C . (68 39)
o
C
4400 kal + C . 11
o
C = 5800
C = 5800 kal 4400 kal
11
o
C
= 127,273 kal/
o
C

B. Menghitung Entalpi (H) Etanol dan Lilin
*ETANOL
- H
1
= M
air
total . C
a
(T
4
T
3
) + C (T
4
T
3
)
= 600 g . 1 kal/g
o
C (51-33)
o
C + 105,303kal/
o
C(51-33)
o
C
= 7200 kal + 1158,333 kal
= 8358,333 kal 4,2 joule
1 kal
= 35104,99 J
H
1
= - 35,105 KJ

- H
2
= 600 g . 1 kal/g
o
C (52-40)
o
C + 105,303 kal/
o
C(40-28)
o
C
= 7200 kal + 1263,636 kal
= 8463,636 kal 4,2 joule
1 kal
= 355547,271 J
H
2
= - 35,55 KJ

Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran

Entalpi Molarnya adalah:
- H
1
= 46 g H
Etoh


1 mol massa yang hilang
a. g hilang adalah 1,96 g
= 46 g -35,105 KJ
1 mol 1,96 g
H1 = - 823,893 KJ/mol

-H
2
= 46g H
Eton

1 mol massa yang hilang
b. g hilang = 2,18 g
H2 = 46 g -35,55 KJ
1 mol 2,18 g
= - 750,138 KJ/mol

LILIN
- H = 600 g . 1kal/g
o
C (51-39)
o
C + 127,273 kal/
o
C(39-28)
o
C
= 7200 kal + 1400,003 kal
= 8600,003 kal
H = - 8600,003 kal 4,2 joule
1 kal
= - 36120,013 joule
= - 36,12 KJ

C. Perhitungan Energi (E)
*ETANOL
C
2
H
5
OH
(1)
+ 3 O
2
(g) 2CO
2
(g) + 3H
2
O
(1)
Ng = produk reaktan
= 2 3
= -1 mol
E
1
= H
1
- ( n
g
RT)
= - 35,105 KJ (-2502,515 KJ)
= - 32602,486 J
= - 32,602 KJ

E
2
= H
2
- ( n
g
RT)
= - 35,55KJ ( -2502,515 KJ)
= - 33047,486 J
= - 33,047 KJ
* LILIN
E = H - (n
g
RT)
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
= - 36,12 KJ - (-1 8,314 J/molK.301K)
= - 33617,486 J
= - 33,62 KJ

D. Menghitung efisiensi alat
= 80%
*ETANOL

H
1
= H
1
100/80
= -35,105 KJ 100/80
= - 43,88125 KJ
H
2
= H
2
100/80
= -35,55 KJ 100/80
= - 44,4375 KJ
E
1
= E
1
100/80
= -32,602 KJ 100/80
= - 40,7525 KJ
E2 = E2 100/80
= -33,047 KJ 100/80
= -41,30875 KJ
*LILIN

H = H 100/80
= -32,16 KJ 100/80
= - 40,2 KJ
E = E 100/80
= -29,65725KJ 100/80
= -37,07125 Kj














Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran

4.2 Pembahasan
Percobaan untuk menghitung panas pembakaran yang dilakukan kali ini yaitu
mengukur panas pembakaran, energi dari etanol dan lilin, setelah dilakukan
perhitungan dengan menggunakan persamaan:
Q
lepas
= Q
terima
Pembuatan tungku pada proses pembakaran harus benar benar tepat agar
api tidak mati, terutama pada saat pengujian etanol karena sampel etanol sangat
mudah menguap, dan juga pada saat pemasukan sampel etanol ke reakton agak
sedikit lama karena sumbu pemanas yang digunakan cukup panjang, pada
percobaan yang pertama api yang dihasilkan sangat kecil karena sumbu pemanas
kurang panjang, percobaan pun di batalkan, percobaan diulangi kembali. Berat
bahan bakar yang digunakan ditimbang sebelum dan sesudah dilakukannya
pembakaran, hal ini bertujuan untuk menghitung berat bahan bakar yang hilang
setelah dilakukan pembakaran karena berat bahan bekar yang hilang adalah berat
bahan bahan bakar yang terpakai dalam percobaan digunakan dalam perhitungan
entalpi molar dari bahan bakar dengan persamaan :
H = Mr H
Etoh


1 mol massa yang hilang

Pengadukan air yang berada dalam kalorometer pembakaran harus
dilakukan secara kontiniu hal ini bertujuan untuk penyetaraan panas pada semua
bagian air sehingga pengukuran suhu yang dilakukan akan akurat.
Alat kalorimeter ini berbahan kaca yang mudah pecah makla pengadukan yang
digunakan dengan pengaduk yang berbahan logam keras tidak dilakukan dengan
kuat, pengadukan dilakukan secara perlahan namun secara kontiniu.
Untuk nilai efisiensi alat burn kalorimeter tersebut adalah 80 % dimana nilai-nilai
termodinamika tersebut yaitu entalpi, energii yang dapat dicari atau dikali dengan
nilai efisiensi tersebut, dan didapat kan hasil yang sebenarnya.
Untuk entalpi didapatkan nilai yang negatif hal ini menunjukkan bahwa
rekasi yang terjadi pada pembakaran bahan bakar adalah reaksi yang eksoterm,
Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
dan panas yang dihasilkan dari pelepasan panas tersebut sisebut dengan panas
pembakaran.
Dalam percobaan ini dapat dilihat bahwasanya suatu pembakaran akan
terjadi apabila udara yang menjadi tempat terjadinya pembakaran sebanding
dengan zat yang akan dibakar. Hal ini terlihat saat api yang awalnya nyala
kemudian mati setelah beberapa detik hal ini dikarenakan karena kurangya udara
yang yang mengandung O
2
didalam burn kalorimeter sehingga setelah udara
dibagian dalam alat habis pembakaranpun berhenti, karena tidak adanya udara
yang masuk menggantikan udara yang hilang setelah bereaksi.























Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
o Kapasitas kalor dari lilin lebih besar daripada kapasitas kalor yang dimiliki
etanol.
o C
etanol
= 105,303 kal/
o
C
o C
lilin
= 127,273 kal/
o
C
o Reaksi yang terjadi pada pembakaran ini berupa eksoterm, yang berasal
dari sampel.
o Efisien dari alat kalorimeter yang digunakan adalah 80%
o Burn kalorimeter merupakan alat yang menggunakan sistem yang bersifat
adiabatik.

5.2 Saran
Etanol mudah menguap hindari penguapan sebisa mungkin
Usahakan api tidak padam
Jangan gunakan lilin untuk membakar hot plate gunakan korek api kayu
Hati-hati dalam memposisikan alat, jangan sampai terbentur karena
kalorimeter berbahan kaca yang mudah retak dan pecah.



















Praktikum Kimia Fisika I
Semester Genap 2009/2010

Panas Pembakaran

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1999. Kimia fisika edisi ke IVjJilid I. Jakarta : Erlangga
Birt Tony. 1987. Kimia fisika untuk universitas. Jakarta : Erlangga

URL : http://www.chemistry.org/materi=kimia/kimia fisika I/termokimia/
pembakaran-sempurna-dan-tidak-sempurna
http://www.chemistry.com/materi_kimia fisika I/temokimia/kador
pembakaran