Anda di halaman 1dari 29

Senja di Serambi Rumah

Matahari telah kembali ke peraduannya. Sinarnya telah tergantikan oleh gelap. Perannya
telah selesai. Jam kerjanya pun telah usai. Kini tinggal sang penjaga malam datang mengisi
kekosongan.
Aku terduduk di serambi rumah. Memasang telingga untuk diisi oleh kumandang adzan
maghrib. Celotehan ibu tak membangkitkanku untuk masuk.
Anak perawan jangan duduk di teras ketika Maghrib. Masuk.
Sebentar lagi bu, jawabku hanya untuk menghentikan celotehan Ibu.
Suasana senja kali ini menyemangatkan pikiranku untuk bergerilya untuk menuju masa-masa
yang kini telah menyublim menjadi kenangan. Aku memutar DVD yang ada di memori
otakku tantang kau, Rendi.
Semilir angin senja begitu terasa menyengat kulit mengalir ke seluruh urat nadi dan menusuk
ke lumbung hati. Saat angin senja seperti ini, beberapa tahun silam kau duduk di sampingku.
Tak pernah kau biarkan sebelah bangku ini kosong. Tak pernah kau biarkan bibir ini
mengatup tanpa senyum.
Di senja seperti ini kau pernah datang, mengusap pipiku yang basah karena hujan, kau
mekarkan hati ini dan tak kau biarkan mulut ini terbungkam. Setiap kata bijak yang keluar
dari mulutmu adalah penenang bagi jiwaku.
Aku mencintaimu, Rendi. Rasanya tidak ingin kalau harus berpisah. Aku akan menjadi raga
tanpa tulang. Tak bisa berdiri. Tak bisa menguyah makan. Aku tak bisa menyebutmu sebagai
kenangan.
Aku hanya melihat kau terdiam. Wajahmu terlihat ragu. Tapi aku tak mau menaruh curiga
padamu. Apalagi tentang hubunganmu dengan sahabatku Lina. Tapi ada keraguan dalam
hatiku, saat usapan tanganmu mulai menjauh dari pipiku.
Malam minggu ini aku terduduk seperti biasa di serambi rumah. Menantikan kehadiranmu
yang tanpa terpanggil pasti kan hadir.
Aneh. Jam telah melewati adzan isya, aku pun telah sempatkan untuk berdoa. namun belum
juga terdengar ketukan pintu darimu saat aku telah tinggalkan serambi itu. Bahkan ujung
kuncup hidungmu itu pun tak terlintas melewati hidungku.
Ada dimana mas Rendi? Kenapa tak datang? Sibuk kah mas?
Berulang kali laporan pesan terkirim melintas di beranda handphone ku. Namun tiada balas
darimu. Haruskah malam minggu ini aku hampa tanpa kehadiranmu? Tiadanya kabar darimu
telah membuat pikiranku terisi oleh kegelapan malam tanpa bintang.
Apakah Lina telah menynyikan lagu nina bobo sehingga kau terlelap diranjang hatinya?
Ataukah dia telah mengotori otakmu dengan jambi-jambi warisan nenek moyangnya?
Aaaaaccchhh tiada hentinya pikiranku bertanya-tanya tiada hentinya. Tapi tiada jawab.
Gelengan kepalamu selalu menjadi pemandangan atas semua jawabanmu. Kau bilang kau
akan setia kepadaku, selalu mencintaiku dan akan segera melamarku. Deretan kalimat itu
selalu bersenandung seperti lagu yang kau nyanyikan. Dan lagi-lagi aku terbius oleh
bualanmu. Walau kerap kali aku mendengar kedekatanmu dengan Lina.
Malam semakin larut. Tak ingin aku biarkan kehitaman mengisi pikiranku. Lebih baik segera
aku istirahatkan pikiran ini. Berharap esok pagi mentari mengajarkanku tentang
kebijaksanaan. Tak pandang bulu. Dan aaaccchhh ku tutup mataku dan terbang.
Mentari telah beranjak dari peraduannya. Aku pun telah siap dengan seragam kerjaku. Berjas
putih dan celana putih. Ku urai separuh rambutku dan ku pasang jepit bunga di pemisahnya.
Anggun. Aku memang terlihat begitu anggun. Mungkin ini yang membuatku dicintai oleh
Rendi.
Benak ini kembali tertancap belati yang kau kirimkan bagai santet yang datang menghujam
tiba-tiba. Seketika, keanggunanku hilang bagitu saja. Pikiranku semakin cepat bergrilya
menghujamkan beribu tanya yang aku sendiri tak tahu jawabnya.
Akankah dia datang menjemputku? Seperti pagi-pagi biasanya dan mengantarkanku
berangkat kerja sebelum dia sendiri beranjak ke pekerjaannya. Namun mentari semakin terik
menyinari bumi. Waktu pun semakin berjalan maju. Alangkah bodohnya apabila aku hanya
menunggunya yang tak kunjung datang. Menunggunya dan pastinya berangkat terlambat itu
berarti menantang pemimpin dan mempermalukan diri sendiri di depan rakyat.
Alangkah pintarnya apabila aku berangkat sendiri dengan sepeda motor yang aku punyai.
Tapi dia akan marah apabila aku tinggal. Tapi aku akan terlambat apabila menunggunya.
Sudahlah. Aku segera meraih kunci motor di meja riasku. Aku segera beranjak dari
peraduanku dan melangkah menuju tempat penentu masa depan.
Serasa baru kemarin ku pijaki senin setelah malam kehampaan, kini aku kembali
dipertemukan dengan senin yang kelima setelah malam kehampaan. Dan aku tetap hampa.
Masih hampa.
Ruang kerjaku terasa sepi. Meja kerja dan lembaran-lembaran kerja bagai ikut merasakan
kehampaan yang sedang menghujam jiwaku. Bunyi tambun mainan para pekerja bangunan
pun tak dapat pecahkan keheningan yang menghujam. Aku serasa mati. Tak ada pekerjaan
yang dapat aku selesaikan selincah dulu. Selincah aku menari di panggung saat menjajaki
dunia teater.
Semuanya hancur. Kacau. Bagai petugas lighting yang teledor dalam memblackout lampu
panggung hingga menciptakan kekacauan. Perkataan dari hasil penilaian para tetangga
membuat perasaanku semakin kacau.
Aku masih ingat di malam minggu kemarin, pernah seorang tetanggaku datang dengan
kekasihnya menghampiri saat aku tengah tenggelam dalam keheningan malam dan
kehampaan perasaan. Mereka mengabariku tentang suatu hal yang membuatku ingin putus
darimu, Rendi.
Hai, mengapa kamu masih disini? Rendi sudah menunggumu di gardu, tadi aku bertemu
dengannya disana. Mengapa kau masih saja disini?
Aku hanya menggeleng. Melihat reaksiku yang dingin, sepasang kekasih yang sedang dilanda
asmara itu langsung beranjak meninggalkanku. Aku hanya bisa melongo mendengar
pernyataan itu. Tiada janji yang ku ikat dengan Rendi malam ini. Bahkan sudah lama tak ku
pijaki diri di hadapannya.
Rasa penasaran dalam serbuan beribu pertanyaan menghantui. Aku beranjak dari serambi.
Aku berdiri di depan rumahku. Ku arahkan pandangan mataku menuju ke arah gardu yang
terpampang jelas apabila dilihat dari halaman rumahku.
Ya. Aku dapati rendi. Dia mengenakan baju yang biasa dia pakai saat aku dan Rendi tengah
berjauh hubungan. Aku mendapati dia sendiri, mungkin tengah menunggu seseorang.
Terpampang di wajahnya dia tengah gelisah menunggu. Terpikir untuk menghampiri dan
menanyakan sesuatu padanya, semua keinginan terpatahkan bahkan batal. Seorang gadis
yanng sepertinya aku kenal datang dari arah berlawanan dan langsung mencumbu Rendi.
Perasaanku terpontang-panting bagai kapal berlayar di tengah laut saat ombak pasang, saat ku
dapati jawaban bahwa gadis itu adalah Lina, sahabatku. Aku seperti tengah melakoni operasi
pencangkokkan hati tanpa pengaruh obat bius. Tubuhku terbang melayang lalu jatuh
terhempas dengan dahsyatnya. Otakku serasa tercabik-cabik gading singga kelaparan.
Tanpa sadar. Panasnya sinar mentari telah lelehkan gumpalan es di daerah kutub utara.
Semua panca indraku tak berfungsi sempurna bahkan telah tak berfungsi. Sepintas aku seolah
mendengar panggilan dari suara yang ku kenal, seperti suara Ibu. Tapi suara itu hanya
memantul dan memantul entah kemana. Sampai akhirnya aku dapati semua pandanganku
terasa gelap. Semuanya gelap. Dan menjadi gelap.
Senja kali ini aku telah membuka mata, membuka telinga, membuka perasaan untuk dapat
menerima kenyataan. Aku telah lama tertidur. Sepanjang tidurku mimpi buruk selalu
menerjang. Kemarau panjang pun ikut menghujam.
Beribu kalimat menyusup ke telinga. Rendi dan Lina akan menikah sebentar lagi. Dalam
tidurku aku telah mempersiapkan jiwaku untuk semua ini.
Rendi, aku mencintaimu. Mungkin karena itu aku jadi tak sanggup melihat semua kenyataan.
Satu dosa yang dapat aku maafkan Rendi, kau tak putuskan hubungan antara kita berdua.
Aku hanya dapat menyalamimu saat hari pernikahan. Senyum palsu dalam irisan hati yang
tersayat bertebaran dalam kelam.
Sadar. Aku harus sadar. Kau akan menjadi kenangan dalam benakku. Lukisan tinta emas
yang kau torehkan dalam kehidupan akan aku tutup. Berharap suatu saat kau akkan
bersilaturahmi denganku dalam batin yang berbeda.
Kharisma cepat masuk, teriak Ibu dari dalam rumah.
Semua pecah memoriku kembali ke zaman modern. Yang lalu biarlah berlalu. Mimpiku
selama ini adalah mimpi bersama Rio. Penggantimu Rendi.
Kharisma
Iya bu
THE END
Hantu Si Hitam Besar

Pohon itu angker. Kau tidak boleh pergi ke sekitar pohon itu. Nanti kau bisa sakit, atau hilang
dibawa makhluk hitam besar! Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh ayahku. Bosan
rasanya mendengar kata itu. Aku yang masih polos lantas mempercayainya.
Ayah hampir setiap hari membacakan dongeng kepadaku dengan judul si makhluk hitam
besar. Entah dari mana cerita itu ia dapatkan. Yang aku tahu hantu si hitam besar memang
menjadi tokoh utama dalam cerita mistik di desaku. Makhluk yang ditakuti.
Aku bertempat tinggal di sebuah desa yang bisa dikatakan indah. Desa yang masih
menjunjung tinggi adat istiadat dan berpegang teguh pada kepercayaan orang terdahulu. Jelas
saja desaku desa yang masih terpencil. Jauh dari peradaban. Pemandangan indah dan udara
segar masih dapat dirasakan hingga saat ini. Rumah-rumah penduduk pun masih
menggunakan bahan kayu. Bukan sebuah desa namanya jika alam sekitarnya tak dihiasi
dengan rindangnya pohon-pohon. Karena jika kau tampaki desaku penuh dengan pohon.
Bertambah asri dengan sebuah Pohon beringin besar yang berada tepat di ujung desa. Dimana
pohon beringin selalu dikaitkan akan hal-hal mistik. Dikaitkan akan hal-hal gaib. Terlepas
dari semua itu memang pohon beringin terlihat angker karena pohonnya yang sangat besar.
Banyak isu mengatakan bahwa orang-orang desa sering melihat penampakan hantu yang
sangat menyeramkan. Ada juga yang mengatakan ada makhluk hitam besar yang tinggal di
sana. Makhluk tersebut bisa menyesatkan orang atau membuat orang tidak mengenali jalan
dan bahkan katanya pernah menyembunyikan orang terdahulu yang sampai sekarang tidak
ditemukan. Tapi ada juga orang sering meletakkan sesajen di sana. Entah hajat apa yang
mereka inginkan. Yang sering kudengar banyak orang memohon pesugihan dari pohon
tersebut berharap makhluk gaib yang ada di pohon tersebut bisa memperlancar rezeki. Terang
saja orang-orang di desaku masih tergolong kolot yang masih percaya akan hal-hal gaib.
Mendengar hal-hal tersebut aku sangat takut dengan pohon tersebut. Aku selalu memikirkan
si makhluk hitam besar. Si makhluk yang bisa menghilangkan manusia. Jika aku pulang
sekolah aku tidak berani menatap ke arah pohon tersebut. Desa nan indah namun sarat akan
mistik berbalut kekolotan terasa harmoni jika bersanding. Nyanyian mistik selalu mengalun
dari mulut ayahku. Nadanya yang kasar setengah memarahi tak pernah nyaman di telingaku.
Mistik. Aku membencinya seperti aku membenci ayahku.
Pada suatu hari aku diajak oleh teman-teman untuk bermain. Waktu itu aku yang masih
berumur 12 tahun tepatnya kelas 6 SD. Setelah bosan bermain petak umpet di dekat sungai,
tanpa sepengetahuanku teman-teman mengajak bermain ke tempat yang menyeramkan itu.
Aku langsung teringat kata-kata ayah si makhluk hitam besar. Dan ternyata niat teman-
temanku adalah mengambil sesajen yang sering diletakkan orang-orang desa. Sebenarnya aku
sangat takut. Tapi aku berpura-pura berani karena malu dengan teman-temanku. Terang saja
aku tidak ingin dicap lelaki penakut.
Teman-temanku dengan lantang mulai memasuki tempat dimana pohon tersebut. Sedangkan
aku berjalan perlahan dengan kaki gemetar. Aku mulai berhalusinasi tak karuan. Si makhluk
hitam besar. Bisa membuat orang lupa jalan pulang. Aku takut aku akan dibawa makhluk
halus ke alamnya. Mulutku mulai komat-kamit tak karuan. Surah-surah pendek yang bisa
kubaca, kubaca pada saat itu. Kulempar pandangan mataku pada setiap sudut-sudut tempat
itu.
Aku berada tepat di bawah pohon beringin angker yang sangat besar. Sangat gelap karena
pohon ini sangat rindang. Akar-akarnya yang bergantung pun bisa dijadikan tali ayunan.
Terlihat temanku sangat menikmati perannya menjadi tarzan. Suasana mistik makin terasa
dramatis dengan suara-suara hewan sekitar pohon. Tapi aku berusaha memberanikan diri.
Ku lihat ada banyak sekali sesajen, buku yang bertuliskan angka-angka yang tak kumengerti
di sekitar pohon tersebut. Teman-temanku pun mulai memungut satu per satu sesajen tersebut
kemudian menaruhnya ke dalam kantong kresek.
Sesampainya di rumah aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku. Makanan sesajen yang
kubawa langsung dibuang oleh ayahku. Beliau sangat marah. Aku bercerita pada ayah kalau
disana tidak ada makhluk-makhluk yang menyeramkan. Tidak ada makhluk hitam besar yang
membuat orang hilang. Buktinya aku masih bisa pulang dengan selamat. Sedikit pun ayah
tidak mempercayaiku malah semakin memahariku. Kau tidak tau apa-apa, dari zaman kakek
nenek orang-orang di desa kita sudah tidak berani mendekati pohon itu. Pohon itu sangat
angker. Jangan sekali-kali pergi ke pohon itu lagi! Wajah ayahku merah padam marah
padaku. Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataan ayahku.
Beberapa hari kemudian. Aku yang masih penasaran berniat untuk pergi lagi ke pohon itu.
Saat itu ayahku tidak ada di rumah. Sudah larut malam ayah belum juga pulang. Katanya
pada ibu pergi ke rumah temannya. Kulihat ibu sudah tidur nyenyak di kamarnya. Aku pun
secara diam-diam keluar rumah. Dengan sebuah senter menjadi penerang di setiap langkahku.
Sebenarnya aku masih merasa takut. Tapi beberapa hari yang lalu aku tidak merasakan
suasana mistik sama sekali. Makanya aku ingin mencobanya sekali lagi. Agar aku bisa
mengatakan kepada ayah kalau tempat itu tidak angker. Aku ingin mengatakan kalau pohon
beringin itu tidak angker.
Tempat yang kutuju mulai terlihat. Dengan perasaan tidak enak. Terus aku berjalan. Dengan
berjalan terseok-seok karena kakiku menginjak akar-akar yang lumayan besar. Ku dengar ada
suara berisik sekali. Suara orang tertawa. Hahahaha. Aku pun sangat terkejut. Jantungku
berdebar cepat. Si makhluk hitam besar. Suara si makhluk hitam besar. Aku mulai
berhalusinasi tak karuan. Dengan memberanikan diri aku berjalan lagi mengiringi suara yang
kudengar tadi. Dan tepat aku berada di tengah pohon beringin itu. Sunggguh aku sangat
terkejut. Ternyata bukan suara makhluk hitam besar. Tetapi suara orang yang selalu
memarahiku pergi ke tempat ini. Dia sedang asyik bermain j*di bersama teman-temannya.
Sekarang aku mengerti bahwa dongeng si makhluk hitam besar hanyalah dongeng untuk
membohongi anak-anak yang ayahnya seorang penj*di ulung. Makhluk hitam besar adalah
ayahku.
Cerpen Karangan: Siti Mahillah
Facebook: Siti Mahillah
Dari Mata Yang Berbeda
Malam yang indah dengan ditemani siraman cahaya rembulan. Angin malam berhembus
pelan menembus tubuhku. Tanpa berpikir dua kali, aku keluar dari persembunyian. Sejenak
kuedarkan pandangan untuk menentukan jalan mana yang akan kutempuh.
Baru beberapa meter, mataku menangkap sepasang kekasih yang sepertinya sedang
berkencan. Terlintas pikiran jail di otakku untuk mengganggu mereka. Sasaran empuk!
Kau keterlaluan!
Teriakan itu menarik perhatianku. Tanpa kusadari, pandanganku telah teralih pada asal
teriakan tersebut.
Kau pengkhianat, Alex! Seorang gadis berteriak di tengah tangisnya. Tak dihiraukan
orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Pandangan gadis itu hanya fokus pada lelaki
yang kurasa bernama Alex itu.
Maafkan aku! Nada bersalah terdengar jelas dari kalimat yang dilontarkan lelaki itu. Tiba-
tiba ia menundukkan kepala, mungkin tak sanggup menatap gadis yang sedang menangis
frustasi di hadapannya.
Tangis gadis itu semakin menjadi. Membuatku ikut merasakan betapa besar sakit yang
dirasakannya. Kau tega Ucapnya serak
Terdengar hembusan pelan dari mulut lelaki itu. Maafkan aku, Zea. Aku tidak mencintaimu
lagi. Kuharap kau mengerti
Tanpa diminta, tamparan keras mendarat di pipi lelaki itu. Sekilas mata lelaki itu membesar,
terlihat jelas keterkejutan di wajah tampannya. Tapi ia hanya bisa memejamkan mata untuk
menahan rasa panas yang menjalar.
Aku membencimu! Desis gadis itu. Tanpa menunggu balasan, ia berlari meninggalkan
lelaki yang masih terpaku di tempatnya.
Tanpa sadar kerutan tercipta di keningku. Aneh! Kehidupan manusia benar-benar aneh!
Masih dalam keheranan yang menyelimutiku, tiba-tiba terdengar rintihan dari arah lain.
Pak tolong! Saya lapar. Seorang bocah laki-laki terduduk di trotoar sambil meremas
pelan perutnya. Pakaian tak layak membalut tubuh kering kerontangnya. Sisa air mata yang
mengering terlihat jelas di pipi bocah itu. Rintihan demi rintihan keluar dari mulut kecilnya,
tapi tak seorang pun yang menghiraukannya. Bocah laki-laki itu seperti tak kasat mata bagi
mereka.
Apa yang ada dipikiran mereka semua? Apa begitu susah mengulurkan sedikit bantuan
kepada bocah tersebut? Manusia benar-benar tak berperasaan!
Aku hanya dapat menghela napas pasrah. Apa boleh buat? Aku tidak mungkin bisa
membantunya. Dengan berat hati, aku meneruskan perjalananku yang sempat terhenti.
Aku melihat sebuah toko di persimpangan jalan. Toko itu sangat besar dan banyak orang di
dalamnya. Dengan rasa penasaran, aku mendekati toko tersebut. Terdapat beberapa benda tak
asing berbentuk kotak dengan berbagai warna, tapi mayoritas berwarna hitam. Bagian depan
benda itu mengeluarkan gambar dan suara.
Awalnya aku memang sangat penasaran dengan benda itu, tapi rasa ingin tahuku tiba-tiba
memudar menyadari bahwa hampir setiap hari aku melihat benda kotak itu. Di setiap rumah
yang kumasuki pasti terdapat benda itu, bahkan kadang lebih dari 1 buah. Dan aku
menyimpulkan, mungkin manusia bisa mati bila tidak terdapat benda itu di rumahnya.
Kalau kau tidak mempunyai uang, jangan membeli televisi! Bentak seorang perempuan tua
Keributan lagi? Mengapa manusia sangat menyukai keributan? Apa mereka tidak bisa
menciptakan suasana yang tenang dan damai?
Berilah sedikit potongan harga, Bu Ucap melas seorang gadis yang berdiri di depan
perempuan itu
Perempuan itu membenarkan letak kacamatanya, lalu membuka kipas yang sedari tadi
digenggamnya dengan angkuh. Tidak ada potongan! Kalau kau tidak mampu, sudah pergi
sana! Perempuan itu melenggang meninggalkan gadis yang masih menundukkan kepala di
tempatnya.
Dasar perempuan tua sombong!
Dengan geram aku mendekati perempuan itu. Aku hinggap di lengan besarnya. Lengan itu
terlihat sangat menggiurkan untukku. Kutancapkan mulutku dalam-dalam dan kuhisap
banyak darah dari lengan perempuan sombong itu.
PLAK!
Dasar nyamuk sialan! Ucapnya kesal sambil memukul lengannya sendiri,
Maaf Nyonya, gerakanku terlalu kesit untuk mati di tanganmu!
Senyum licikku mengembang. Tak peduli beberapa banyak orang yang mengataiku, toh aku
memang diciptakan untuk menggigit dan menghisap darah manusia. Haha.
Tanpa menghiraukan umpatan perempuan tua itu, aku keluar dari toko tersebut. Niatan untuk
mendapat darah yang lebih segar masih tertancap dalam benakku. Darah segar? Mengapa aku
terdengar seperti drakula yang muncul tiba-tiba dan siap menerkam leher siapapun? Tapi
tentu saja aku tidak mengerikan seperti itu.
Ayo majalah dan bukunya dipilih! Teriak lelaki sambil menyodorkan beberapa buku
kepada setiap orang yang lewat di depan kiosnya
Tikus Pemakan Uang Rakyat Semakin Berulah
Ha, tikus? Aku mengerjap beberapa kali untuk memastikan tulisan besar yang tercetak di
buku itu. Tikus memakan uang rakyat? Apa maksudnya?
Aku tahu tikus adalah salah satu binatang yang sering kujumpai di selokan dekat tempat
persembunyianku. Dan aku juga mengetahui bahwa tikus adalah binatang yang sangat rakus
tapi apakah mereka juga memakan uang? Uang rakyat, tepatnya? Sepengetahuanku, tikus
hanya memakan sisa makanan di tong sampah, ya walaupun mereka suka menyelinap masuk
ke dalam rumah dan menyebabkan kekacauan, seperti mencuri makanan di meja dapur atau
merusak berbagai benda. Tapi aku yakin tikus tidak memakan uang.
Aku tersenyum samar. Bayangkan saja, tikus yang hanya mencuri makanan dan merusak
beberapa benda saja sudah membuat semua orang ingin membunuhnya dengan segala cara.
Apalagi jika tikus memakan uang benda yang sama pentingnya sepeti udara bagi manusia-,
aku tidak dapat membayangkan perlakuan kejam apa yang diterima oleh bangsa tikus. Dan
tikus seperti apa yang dimaksud di sini? Apakah tikus berkumis tebal dengan dasi mahal di
kemejanya? Oh tidak mungkin! Apa yang baru saja kupikirkan, mana mungkin ada tikus
seperti itu.
Sebelum kepalaku bertambah pening dengan pemikiran manusia, lebih baik aku mencari
tempat yang sedikit tenang. Aku menggerakkan sayapku untuk menjauh dari keramaian ini.
Samar-samar aku menangkap bayangan seseorang di rel kereta api. Apa yang dilakukannya
di sana? Aku mendekati sosok tersebut. Terdengar isakan pelan saat aku berhenti di
belakangnya.
Gadis itu merunduk, tangisnya semakin menjadi. Entah apa yang terjadi padanya. Dengan
penasaran, aku bergerak mendekati gadis itu. Aku sedikit menelan ludah saat menatap
wajahnya. Pandangannya kosong, mata bengkak, bibir kebiruan. Benar-benar pucat. Tak ada
tanda-tanda kehidupan di wajah cantik itu. Putus asa Hanya itu yang tergambar jelas.
Aku benci Desisnya
Benci? Siapa atau apa yang dibenci?
Tiba-tiba mataku menangkap silau cahaya dari kejauhan. Dan gadis itu merendahkan
tubuhnya secara perlahan. Apa yang akan ia lakukan sih? Aku benar-benar tidak mengerti.
Aku mengerjap. Bodoh! Itu kereta api!
Mataku menatap gadis yang kini justru tiduran di atas rel itu. Gila! Ya, dia mau bunuh diri!
Dasar tidak punya otak!
Aku menggerakkan sayapku cepat ke atas. Belum sempat aku berkedip, suara klakson kereta
api itu berbunyi sangat keras. Namun gadis gila itu tidak menggubrisnya, ia masih dalam
posisi yang sama.
Dasar manusia! Aku tak mengerti dengan manusia, sungguh makhluk yang rumit. Beruntung
aku diciptakan di bumi ini sebagai nyamuk. Meskipun aku mati hanya dengan sebuah
tepukan tangan, tapi aku tidak akan melakukan hal bodoh dan mengerikan seperti ini. Aku
mulai meragukan jika manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Buktinya mereka
selalu membuat keributan di sana-sini, kerusakan di mana-mana. Dan lihatlah! Ternyata otak
mereka cukup dangkal dalam menghadapi kehidupan ini. Benar-benar menyedihkan.
Suara klakson terdengar semakin keras, sinar lampunya sangat menyilaukan. Suara gemuruh
gesekan roda dan rel juga terdengar semakin jelas. Kereta api itu terus bergerak mendekat,
semakin dekat, semakin dekat dan.
Gadis itu terlindas.
Aku tak tahu harus berkata apa. Udara di sekitarku seperti menghilang. Tubuh gadis itu
hancur. Darah berceceran. Sungguh gadis yang malang. Semoga Tuhan mengampuni
dosamu, gadis malang. Dengan sedikit limbung dan pusing, aku terbang meninggalkan jasad
gadis itu.
Cerpen Karangan: Ifarifah
Blog: www.ifarifah.blogspot.com
The Grondey and The Birth of a New
Prince
Kereta itu melaju terus ke satu arah di mana ada sebuah sekolah yang memiliki dua ruang
yang berbeda. Terpisah oleh sebuah elemen yang tak bisa digambarkan bagaimana bentuk
dan rupanya. Walau banyak orang yang tak bisa menyadarinya, tapi kadang ada seseorang
yang sadar dengan adanya hal tersebut. Terkadang merasa takut, atau merasa yakin untuk
memasuki ruang waktu yang berbeda dimensi. Di sebuah dimensi yang penuh dengan
keajaiban. Seperti sebuah kuda terbang yang bisa membawa kita terbang ke mana pun kita
ingin. Atau mungkin burung berekor panjang yang paruhnya mirip dengan mulut kuda. Dan
mungkin hal-hal aneh lainnya.
Seperti yang anak itu rasakan, dia sudah bisa tinggal di sana semester lalu. Rasanya sangat
senang dan betah bersekolah di sana. Apalagi dikelilingi dengan orang-orang yang dia cintai.
Itu semakin membuatnya merasa tenang dan tentram. Walau banyak hal-hal aneh dan jahat
yang dia temukan, tapi senyum dari orang-orang tersayangnya tak akan bisa menyaingi
ketidaksukaannya terhadap sesuatu. Seperti sesuatu yang terpendam dalam dirinya. Entah
mengapa dia sangat membenci hal itu, sesuatu yang sangat mengganggunya.
Hy, Darwin. Liburanmu menyenangkan? tanya Elizabeth sambil duduk di samping Darwin.
Yeah, seperti biasa. Ayah dan Ibuku tak pernah mau memanjakanku. ucap Darwin datar.
Hahha, mereka memang kejam, ya. Sepertinya aku harus sedikit bersyukur menjadi anak
satu-satunya orangtuaku. Walau mereka sedikit cerewet. kata Elizabeth sambil membuka-
buka lembar buku yang dia baca. Tak lama datang Dustin dengan setoples coklat berwarna-
warni yang sepertinya dia bawa dari rumahnya ketika liburan.
Hy, Darwin, Elizabeth. sapa hangat Dustin pada mereka. Darwin melambaikan tangan dan
Elizabeth tersenyum.
Kau mau coklat. Lihat! Aku bawa banyak, yang kuning rasa mint, yang biru rasa permen
karet, yang merah muda rasa strawberi. Kalian mau? tawarnya pada Darwin dan Elizabeth
sambil menunjuk coklat berwarna itu.
Aku boleh menambahkan coklatmu, kan, Dustin? ucap Bert dan Polly sambil mendekati
Dustin.
Kau pasti akan memasukan permen coklat meledak lagi, kan? Aku merasa geli dengan itu!
ucap Dustin sambil menyembunyikan toples coklatnya.
Sementara Polly Marco dan Bert Wilson tertawa-tawa.
Hahah, maafkan kami, Dustin. Kami tak bermaksud. Ya, kan? ucap Polly sambil
mengerling ke arah Bert. Bert mengangguk.
Awas saja kau! Pelajaran Prof. Lopez aku laporkan! ancam Dustin sambil pergi ke tempat
duduknya.
Bert tertawa-tawa, sementara Polly hanya berdiri kaku menatap sebal Bert. Dia memang tak
bisa naik sapu terbang, tapi setidaknya sahabatnya itu tak menertawakannya.
YEAH, ITU LUCU! ucap Polly sambil berlalu.
Darwin sedikit tertawa-tawa melihat dua anak paling jail itu. Elizabeth terus
memperhatikannya sampai Darwin meliriknya.
Ada apa, Elizabeth?
Begini, aku sedang melakukan sebuah uji coba. ucap Elizabeth riang.
Wah! Lalu?
Dan aku
Darwin! Edgar tiba-tiba datang dan menyela. Elizabeth terlihat kesal.
Hay, Edgar. sapanya.
Darwin, ini hebat! Kau tahu? Di semester ini akan ada Minimolly. ucap Edgar. Darwin
mengernyit.
Apa itu Mini? tanya Darwin sedikit berfikir. Elizabeth langsung menyerocos.
Minimolly adalah makhluk kecil berwarna coklat. Dia kira-kira sebesar bayi usia lima bulan.
Mereka memiliki sayap dan mata yang indah. Tubuhnya berbentuk seperti oval. Dia termasuk
pembantu para penyihir. Dia adalah makhluk yang baik. ucap Elizabeth panjang lebar
menahan nafas Edgar.
Mengapa kau menyela? Aku juga tahu apa itu Minimolly. ucap Edgar sinis. Memang
hanya kau saja yang tahu?! lanjutnya lagi.
Elizabeth mendelik, dua-duanya memang egois.
Tapi aku harus lebih cepat daripada kau, tahu! kata Elizabeth tak mau kalah.
TERSERAH PADAMU! Edgar marah dan mendelik berlalu. Dia langsung menuju meja
Samantha.
Elizabeth menggeram dan duduk keras di atas bangkunya. Wajahnya merah padam. Edgar
benar-benar selalu membuatnya kesal.
Sudahlah, Elizabeth. Edgar mungkin menyukaimu. tenang Darwin pada Elizabeth.
Elizabeth meletakan dua tangannya di wajahnya. Dia seperti menangis.
Edgar selalu membuatku sakit hati. Aku amat membencinya. ucap Elizabeth.
Rahasia Elizabeth
Darwin sedikit gugup ketika Elizabeth menyandarkan kepalanya di pundak Darwin. Dia
sungguh tak pandai menilai wanita. Edgar tiba-tiba datang dengan Samantha. Dia kaget
melihat Darwin yang canggung dengan Elizabeth di sampingnya.
Elizabeth kau kenapa? tanya Edgar sambil memegang tangannya.
Elizabeth menepis tangan Edgar keras lalu pergi berlari sambil menangis.
Ada apa dengan dia? tanya Edgar. Darwin menggeleng pelan.
Tak lama, Grondey Express tersebut mulai berdecit pelan dan berhenti. Semua anak berlarian
keluar menuju sekolah. Sebagian anak-anak Grondey Sihir mulai berhamburan ke tempat-
tempat pergantian sekolah mereka. Sebagian juga masih berkeliaran di sekolah tersebut.
Kau mau ke Grondey sihir lewat hidung Monalisa lagi? tanya Edgar.
Rasanya aku seperti diputar dan dikocok. keluh Darwin.
Kalau begitu, kau ikut bersamaku saja. Ada tempat yang tak akan membuatmu pusing.
tawar Edgar sambil merangkul pundak Darwin.
Yeah, kita coba dulu. Darwin mengiyakan.
Mereka mulai berjalan menuju tempat yang dimaksud Edgar. Edgar mulai melirik ke sana-
sini. Dia sedikit mengangguk pada Darwin. Darwin mengernyit.
Maksudmu?
Kita masuk ke lorong bawah tanah ini. Nanti kita akan bermain selucuran. Asyik deh
pokoknya! ucap Edgar.
Edgar segera membuka salah satu batu yang ada di sana. Mereka segera masuk ke dalamnya.
Batu itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.
Lalu kita bagaimana? tanya Darwin.
Menyelunjurkan diri, oke aku hitung sampai tiga. Satu, dua ti Arrghhh! Edgar sudah
berteriak duluan.
Ba-gaimana i-ni! Darwin sedikit tergagap menahan besarnya angin yang mendorong
tubuhnya ke bawah lubang batu tersebut.
Ka-u bi-bilang tak me-musingkan! I-ni lebih da-ri pu-sing! teriak Darwin. Sementara Edgar
masih berteriak menahan rambutnya yang berkibar-kibar.
Ini le-bih lama da-ri hidung Monalisa! teriak Darwin lagi.
Edgar masih tetap berteriak. Sementara sebuah lubang yang cukup besar terbuka dan
membuat mereka jatuh ke lantai dengan suara Brakkk! keras.
Arggh! geram Darwin.
Hahaha, lihat cucu dari Kepala Sekolah kita! Dia datang ke sini dengan menggunakan cara
lama yang tidak menakjubkan. Lebih baik kita pakai sihir. Langsung berpindah ke sini,
hahahha! Cole tiba-tiba datang dan langsung mengejek Darwin.
Yeah! ucap Darwin singkat. Darwin lalu bangun dan menarik Edgar.
Ayo, Darwin! Kita pergi saja, di sini ada Thom and Jerry dan Tuannya. Aku sangat muak
terhadap mereka! ucap Edgar sinis sambil mendelik.

Dua anak itu tengah bercakap-cakap. Namun hanya satu yang kelihatannya begitu serius dan
berbicara panjang lebar. Anak laki-laki dan perempuan. Entah apa yang tengah mereka
bicarakan. Tapi kelihatannya, anak perempuan itu menangis.
Sudahlah, Elizabeth! tenangnya. Elizabeth masih menangis.
Aku tak suka, Darwin! balasnya dengan mata berlinang.
Tak lama, seorang anak laki-laki yang seumuran dengan mereka datang dan langsung
menyapa.
Hay, Darwin. Hay, Elizabeth! sapanya. Darwin tersenyum dan Elizabeth hanya menunduk.
Apa yang kalian bicarakan? tanyanya.
Ini rahasia. jawab Elizabeth masih tak menatap Edgar.
Jika kau sudah memberitahunya, itu bukan rahasia lagi! oceh Edgar dengan mata abu-
abunya.
Ya, ini bukan rahasia lagi di antara aku dan Darwin. Tapi bagimu ini rahasia! bentak
Elizabeth dan langsung pergi.
Ada apa lagi dengannya? Apa yang tadi kalian bicarakan? tanya Edgar sambil duduk di
samping Darwin. Darwin menggeleng pelan.

Kepala sekolah sakit keras. Sekarang sekolah dipimpin Prof. Robert. Aku harap dia bisa
seperti Prof. William. Dia kepala sekolah yang hebat. ucap Bert serius pada Polly.
Darwin hanya menatap mereka dan mencoba menguping. Kakeknya sakit?
Darwin, bagaimana keadaan Kakekmu? Aku sangat khawatir. Katanya sih, Kakekmu sakit
Roinius. Penyakit itu cuma bisa disembuhkan oleh jamur liar di tengah hutan Scarymus.
Hanya ada di sana saja. ucap Elizabeth sedikit murung.
Yeah, tapi rasanya jika kita ke sana akan mendapatkan pemotongan poin yang besar.
tambah Edgar dengan kilatan matanya.
Tapi cara apalagi yang harus kita lakukan agar Kakek Darwin bisa sembuh? tanya
Elizabeth dengan pandangan tajam.
Sementara Darwin menenggelamkan tubuhnya di atas kasur dengan wajah resah.
Edgar! seru Elizabeth sambil sedikit berbisik.
Apa?

Hari ini Darwin nampak tak bersemangat sama sekali. Dia berjalan gontai menuju ruangan
ramalan Prof. Robert di ujung koridor. Edgar dan Elizabeth tampak resah juga melihat
Darwin.
Darwin, Kakekmu pasti dapat disembuhkan. tenang Elizabeth.
Prof. Colin bilang ini tak akan berhasil. Darwin berucap murung.
Aku pernah membaca di buku tentang penyakit-penyakit. Dan itu ada obatnya, ramuan dari
jamur di hutan Scarymus. Hanya saja Elizabeth terhenti, dia tak mau meneruskannya.
Hanya saja apa? tanya Darwin masih murung.
Ramuan itu harus diselesaikan paling sebentar dua minggu. Jamur itu harus dikeringkan
terlebih dahulu sampai berwarna coklat. Karena jamur itu basah dan hidup di air. ucap
Elizabeth sedikit murung.
Dan Prof. Colin bilang, Kakekku itu hanya punya sisa waktu seminggu. tambah Darwin.
Itukan kata Prof. Colin! Itu hanya memprediksi. ucap Edgar dengan kilatan matanya.
Darwin masih terdiam. Setelah dia harus kehilangan kedua orangtuanya, apakah dia harus
kehilangan Kakeknya juga?
Hay Darwin! seru Prof. Colin ketika mereka sedang berjalan.
Profesor, bagaimana keadaan Kakekku? tanyanya langsung.
Prof. Colin tersenyum padanya.
Aku akan membuat ramuan terbaik yang bisa menyembuhkannya. ucap Prof. Colin.
Aku harap. balas Darwin singkat.

Bagaimana PR ramalanmu? tanya Edgar sambil sedikit melongo ke arah Darwin.
Akan kutragis-tragiskan! ucapnya sambil masih berkutat pada PRnya.
Kakekku akan mati lebih cepat, aku akan mendapatkan Minimolly yang cacat, semua nilai
ulanganku kurang dari lima, aku akan menabrak pilar dari sapu terbang dan langsung terbang
menuju hutan Scarymus dan tak kembali, aku akan terjatuh sebanyak tujuh kali setiap lewat
tangga ke tiga belas, percobaan ramuanku nanti, wajahku akan terbakar dan menjadi hitam
karena ledakan dari kegagalanku membuat ramuan, waw! Itu bahkan lebih tragis dari yang
pernah aku pikirkan. cerocos Edgar sambil membaca tulisan Darwin dari perkamen panjang
itu.
Dulu kau bilang, kau mengagumi Prof. Robert. Kenapa jadi begini? tanya Elizabeth pada
Darwin.
Aku rasa Prof. Robert adalah penyebab semua ini. Apakah kau pernah berfikir bahwa dia
pelakunya? Aku sempat merasakannya, ketika seseorang berkata begini, untuk memastikan
ramalan itu tidak benar. Dan aku yakin, siapa lagi peramal di sekolah ini? Dia, kan? Juga,
mereka bilang jika mereka membunuhku dan Kakekku, mereka akan menguasai sekolah,
siapa lagi? Prof. Robert adalah wakil kepala sekolah, jika Kakekku dan aku meninggal, maka
sekolah akan jatuh padanya! bentak Darwin.
Elizabeth dan Edgar terpaku. Baru kali ini mereka melihat Darwin marah. Tak biasanya
Darwin membentak seperti itu. Darwin menunduk.
Maafkan aku, ucapnya.
Sudahlah, Darwin! Aku tahu ini sulit untukmu. Kami mengerti, kok, tenang Elizabeth.
Seberapa cerewetnya pun dia, Elizabeth adalah orang yang baik dan perhatian.
Ya, Darwin. Kita yakin, pasti kita bisa menemukan penawar itu. Jamur liar danau
Scarymus.

Pencarian Penawar Roinius
Dua anak itu berjalan perlahan ke sebuah ruangan di ujung menara. Pagi-pagi buta begini
entah apa yang mereka lakukan. Mereka menemui seorang pria tua berjubah. Mereka sedikit
bercakap-cakap. Seperti sesuatu yang amat penting.
Jadi jika kita pakai ini akan selamat?

Kalian akan pergi ke mana? tanya Samantha dengan bola mata indahnya.
Kau mau ikut? tanya Edgar.
Aku banyak tugas di sini, aku pergi dulu. ucap Samantha, di balik mereka, dia tersenyum
sinis.
A-aa!
Darwin tiba-tiba menyentuh rambut hitamnya. Dia sedikit mengerutkan kening menahan
sakit.
Ada apa, Darwin? tanya Elizabeth cemas. Darwin menggeleng.
Aku hanya merasakan sihir hitam di sini. Anehnya, sekarang kepalaku jadi sakit. ucapnya
sambil menggosok mata biru miliknya.
Darwin, gawat! Itu menandakan bahwa sihir hitam telah mengancam hidupmu. Mereka akan
membunuhmu! ucap Elizabeth dengan berbisik tajam ke telinga Darwin.
Kau menakut-nakutiku lagi? tanya Darwin menelan ludah. a-aaa! geramnya lagi.
Elizabeth melotot. Dia langsung menarik Edgar dan Darwin sambil mengacungkan tongkat
dan membaca mantra Move to Forest!
Mereka terguncang. Tubuh mereka tiba-tiba tertarik ke sesuatu yang entah bagaimana
gambarannya. Tak dapat mereka gambarkan. Tubuhnya seakan terbawa ke sebuah tempat.
Seakan pandangan mereka kabur dan hanya putaran yang mereka lihat. Tak lama, tubuh
mereka terdorong ke sebuah tempat gelap dan tanah. Tubuh mereka terlempar dengan suara
brukkk bersamaan.
Arggh! geram Edgar kesakitan.
Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba melihat dengan jelas. Sementara
Elizabeth mencoba bangun dan menepuk-nepuk rok dan jubahnya. Suasana di sana cukup
gelap dan senyap.
Kita di hutan? tanya Edgar sedikit gemetaran.
Suasananya hutan Scarymus memang benar-benar mencekam. Angin berhembus keras ke
kulit-kulit mereka. Pohon-pohon menjulang rapat dan begitu tinggi. Suara-suara hewan liar
terdengar memecah keheningan. Elizabeth mulai berdiri dan merogoh saku.
Makan biji menghilang ini! Ini akan membuat kita tak terlihat oleh semua yang ada di sini,
kecuali mereka yang sama-sama makan biji ini. Kira-kira biji ini bertahan selama tiga jam,
jadi diusahakan kita harus sudah menemukan jamur itu satu jam setelah ini. ucap Elizabeth
sambil menggigit biji menghilang.
Pakai Move to School saja! ucap Edgar cetek.
Kau kira itu gampang? Aku hanya bisa melakukannya sekali dalam seminggu. Itu karena
aku belum mahir! ucapnya.
Mereka cepat-cepat menelan biji menghilang itu. Lalu segera mereka berlari mencari danau
yang letaknya di tengah hutan Scarymus.
Kita ada di mana ini? tanya Darwin dengan jubahnya yang berkibar.
Kita ada di satu kilo meter dari ujung hutan. Kita belum jauh dari sekolah. Sementara hutan
ini begitu luas. Makanya, kita harus cepat-cepat! ucap Elizabeth sambil berlari.
Mereka terus berlari bersama angin hampa yang mengibarkan rambut dan jubah mereka.
Terutama Elizabeth, dalam sekejap rambutnya sudah mengembang.
Elizabeth, apakah masih jauh? tanya Edgar buru-buru dengan nafas terengah.
Kita harus sampai di tengah hutan dulu, baru itu dekat. balas Elizabeth sambil
membenamkan rambutnya.
Apakah ada orang lain yang bisa melihat kita selain yang tadi di sebutkan? tanya Darwin
mengerling ke arah Elizabeth.
Entahlah! Setahuku mereka yang punya penglihatan gaib yang bisa. jawabnya sedikit
berpikir.
Penglihatan gaib? Apa maksudnya? Edgar terlihat sangat penasaran dan bingung.
Sudahlah, nanti saja pertanyaannya! Sekarang kita fokuskan ke pekerjaan kita sekarang.
Mencari jamur liar danau Scarymus! teriak Elizabeth.
Edgar dan Darwin diam. Mereka mengunci mulutnya rapat-rapat dan kembali berfokus pada
jalan di sekitarnya. Walau hutan ini terkesan begitu angker dan mengerikan, tapi tak ada cara
lain yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan Kepala Sekolah tambah Kakeknya
Darwin.
Elizabeth, apakah kau merasakan sesuatu yang aneh? tanya Edgar sedikit bergidik. Hati
Elizabeth mencelos. Mata Darwin langsung melotot ke arah Edgar.
Ya, aku merasa semakin lama semakin gelap. ucap Edgar enteng dan merasa tak enak
diperhatikan seperti itu.
Lighten! ucap Elizabeth sambil mengangkat tongkat sihirnya.
Lighten! Darwin meniru ucapan Elizabeth. Dan kini kedua tongkat mereka bercahaya di
ujung atasnya.
Baiklah, aku juga akan meniru kalian. Lighten! Oh! Edgar terhuyung. Bukan karena
terpeleset atau jatuh, melainkan karena silau tongkatnya bercahaya di bagian bawah.
Ya ampun! Sini, biar aku yang buat! Lighten! ucap Elizabeth.
Tongkat mereka bertiga kini sudah bercahaya. Mengingat hutan Scarymus yang begitu gelap
dan amat mencekam, mereka memerlukan penerangan. Dan untung saja Elizabeth tahu
caranya.
Apakah hari sudah gelap? tanya Edgar bergidik lagi. Dia memang kelihatan sangat takut
dan berdebar-debar.
Tenanglah, Edgar! Kita baru berlari sekitar tiga puluh menit. Dan kurasa, sudah sebentar
lagi. tenang Elizabeth masih sambil berlari.
Kita tak akan ketinggalan pelajaran, kan? tanya Edgar dengan pandangan liar.
Ini akhir pekan, libur, bodoh! geram Elizabeth pada kata akhir. Dia sudah sedikit muak
pada Edgar yang amat ketakutan.
Aku sudah capai! ujar Edgar sambil terhenti. Nafasnya pendek-pendek dan keringatnya
bercucuran.
Kita harus cepat! ucap Elizabeth.
Elizabeth, sebaiknya kita istirahat dulu selama beberapa menit. Aku sendiri sudah lelah, kita
bisa duduk dulu selama tiga menit, atau lima. ujar Darwin yang ikut terengah-engah dan
duduk di samping Edgar.
Elizabeth menurut, dia ikut duduk di samping mereka.
Andai ada air keluh Edgar sambil mengusap kepalanya.
Elizabeth memandang ke lain arah. Lalu dia menyondorkan sapu tangan dan sebotol air
minum pada Edgar.
Thanks. ucapnya singkat. Edgar lalu menerima pemberian Elizabeth dan langsung
meneguk air.
Ya, tak masalah. balas Elizabeth lambat.
Darwin, kau mau minum? tanya Elizabeth pada Darwin.
Aku belum haus. ucap Darwin.
Elizabeth pun mengeluarkan sebotol penuh air lagi. Dia minum sampai separuh airnya habis.
Dia memang sudah membawa beberapa botol air untuk diminum.
Mereka bertiga kembali berdiri. Edgar kelihatannya sudah sedikit lega dan tak terlalu capai.
Begitu pun Darwin dan Elizabeth. Mereka sudah siap untuk berangkat lagi.
Baiklah, karena sekarang kita dikejar-kejar waktu, aku tak bisa menunggu lama lagi.
Perjalanan kita menuju danau hanya tinggal setengah jam lagi. Kita mungkin sedikit kesulitan
mendapatkan jamurnya nanti, apalagi di dalam air. Jadi aku harap, kita bisa cepat! ucap
Elizabeth pada Darwin dan Edgar. Mereka berdua mengangguk dan kembali berlari
mengikuti Elizabeth dari belakang.
Selama perjalanan ini, mereka tak sama sekali mendapat gangguan dari para makhluk
berbahaya di hutan Scarymus. Mereka tak sama sekali melihat ada tanda-tanda makhluk
hidup di sana. Mereka juga tak sama sekali melihat tanda bahaya. Atau mungkin, memang
mereka tak tahu adanya keberadaan mereka.
Lima belas menit berlalu, mereka masih berlari mengintari belantara hutan yang banyak
orang menganggapnya sebagai hutan yang paling menakutkan. Seperti yang orang-orang
bicarakan, hutan itu sangat misterius. Tak ada orang yang tahu persis bagaimana hutan
tersebut. Namun, karena telah adanya tiga orang korban yang memasuki hutan tersebut dan
tak pernah kembali, hutan itu menjadi sangat buruk. Hutan tersebut juga mendapatkan nama
Scary, yang berarti mengerikan. Walau sebagian juga tak percaya akan sesuatu yang ajaib
bisa terjadi di sana hutan Scarymus -, tapi mereka tak pernah berani masuk seperti anak-
anak ini Darwin, Edgar dan Elizabeth -.
Darwin! Elizabeth tiba-tiba terhenti dan membentangkan kedua tangannya mencegah
Edgar dan Darwin berlari.
Aku rasa, kita sudah beberapa kali lewat ke sini. Sepertinya ada yang tidak beres dengan
hutan ini. Dan aku juga merasa, ini adalah tempat kita tadi berhenti. gumam Elizabeth
sedikit berbisik. Dalam nada bicaranya, tersimpan berjuta-juta misteri.
Aku-aku juga merasa seperti itu, ucap Edgar sedikit gelagapan. Hati mereka bertiga
mencelos, pandangan mereka liar dan sangat waspada.
Aku rasa, ada seseorang yang tengah mempermainkan kita! Darwin terlihat sedikit histeris.
Mereka bertiga berputar memandang sekeliling. Masih tetap waspada dan sangat berhati-hati.
Krsk! Krsk! sebuah suara dari balik semak-semak muncul. Edgar langsung memelototkan
matanya dan lebih berwaspada.
Suara apa itu? bisik Edgar.
Pertaruhan Nyawa di Dalam Hutan
Darwin dan Elizabeth memandang setiap semak belukar yang ada di sekitar mereka dengan
pandangan waspada. Sementara Edgar terlihat gemetaran dan takut. Giginya sedikit
bergertakan dan bertabrakan. Beberapa detik, hening.
Lihat, tidak ada apa-apa, kan? Elizabeth berkata dan berbalik ke arah lain.
Aku sudah bilang, tidak adArgggghhhh!
Elizabeth! Edgar menjerit dan hendak berlari menuju monster yang mengangkat Elizabeth.
Namun Darwin mencegahnya.
Tidak, Edgar! Jika kita melawan makhluk itu, kita akan kalah! Kita tak punya cukup tenaga
dan cukup ilmu! ucap Darwin.
Lalu kita harus bagaimana? tanya Edgar cepat.
Darwin menatap sekeliling. Dia menatap Elizabeth yang tengah menjerit dan meronta-ronta
minta dilepaskan. Lalu, pandangannya tertuju pada sebuah danau yang berada sekitar dua
puluh meter di sekitar mereka. Dan Darwin tahu, itu pasti danau yang mereka tuju.
Edgar, kita akan menjebaknya! Kau lihat danau di sana? Dan aku yakin, itu pasti danau yang
kita maksud. Sekarang kita alihkan dia untuk mengejar kita. Kita berlari ke danau, aku yakin,
makhluk besar buas dan jelek itu pasti akan mengikuti kita ke mana pun. Kita meluncur ke
sana, kau menyelamatkan Elizabeth, sementara aku mencari jamur. Kau mengerti, kan? ucap
Darwin terperinci.
Yeah,
Mari kita kecoh dia sekarang! ucap Darwin lagi.
Apa yang harus kita lakukan? tanya Edgar kebingungan.
Ambil saja batu dan lempari dia. Aku tak yakin mantera Ordinggo makhluk itu bisa
menghancurkannya. ucap Darwin.
Mereka berdua sudah menggenggam beberapa gelintir batu di tangannya. Dan batu tersebut
sudah siap untuk dilemparkan pada makhluk jahat yang tengah mengangkat-angkat Elizabeth.
Turunkan aku! Turun! Teman-teman! Edgar! Darwin! Bantu aku! jerit Elizabeth.
Ayo, tembak! teriak Darwin sambil meluncurkan sebuah batu yang cukup besar ke arah
makhluk hijau raksasa itu. Begitu juga Edgar, dia ikut melempari makhluk besar itu dengan
batu.
Argghh! geram makhluk itu. Terlihat makhluk itu mendelik dan menatap Darwin dengan
Edgar. Darwin dan Edgar saling bertatapan.
Kita harus LARIIIIII! teriak Edgar.
Dengan cepat, mereka berdua Edgar dan Darwin bergerak menjauh berlari dan berteriak-
teriak.
Argghh! Argghhh! teriak Darwin dan Edgar sambil berlari menuju danau.
Aaaa! Aaaa! jerit Elizabeth keras. Dia merasa diguncangkan keras sampai jantungnya
copot. Dia takut jatuh, dia takut ketinggian.
Menyelam! teriak Darwin sambil meluncur ke dalam danau. Edgar ikut meluncur,
begitupun makhluk raksasa itu.
Blukkk! suara raksasa itu masuk ke dalam danau dan membuat air meluap. Darwin segera
berenang dan mencari jamur yang dimaksud mereka. Jamur liar yang berwarna coklat. Jamur
liar, pasti jamur itu banyak.
Darwin terus mencari-cari jamur yang dia maksud. Sementara Edgar mencoba untuk
menyelamatkan Elizabeth. Kedua-duanya merasa sedikit sesak. Tentu saja, mereka tak
bernafas dengan insang.
Mana-mana? ucap Darwin. Dia berucap sendiri, tak ada suara dari tenggorokannya. Yang
ada hanya air danau yang tertelannya.
Selama beberapa detik mencari, akhirnya dia menemukan beberapa helai jamur yang tengah
berada di sana. Warnanya putih, bukan coklat. Coklat jika mereka sudah mengering.
Darwin segera mencabuti beberapa jamur liar itu. Untuk berjaga-jaga, dia mengambil
sebanyak-banyak dan semampunya yang dia bisa. Setelah itu, dia langsung pergi ke atas
untuk menyimpan jamur dan sedikit bernafas.
Ahh! desahnya.
Dia merasa sangat lega ketika sampai di atas.
Dengan segera, dia langsung ke bawah lagi untuk menyelamatkan Edgar dan Elizabeth yang
kelihatannya kesulitan dalam melawan makhluk buas itu.
Dia menyelam semakin dalam. Namun tak dilihatnya Edgar dan Elizabeth. Dia semakin
dalam berenang, namun kakinya malah terasa ditarik ke bawah.
Edgar! ucapnya dalam senyap.
Darwin langsung membawa Edgar dan berenang ke atas. Sesampainya di atas, dia langsung
bertanya pada Edgar.
Di mana Elizabeth?
Dia dibawa makhluk itu. Namanya Troll. Makhluk pemakan dan penculik manusia. Dia
dibawa ke bawah. Tapi aku yakin, Troll itu tidak membawa dia, melainkan tenggelam. Coba
kau pikirkan, betapa dalamnya danau itu! ucap Edgar terengah-engah.
Baiklah! Kau tetap di sini, aku akan coba menyelamatkan Elizabeth, ya? ucap Darwin.
Edgar mengangguk lelah. Dia langsung berbaring ketika Darwin lenyap dari matanya.
Di dalam danau, Darwin terus mencari-cari Elizabeth yang kelihatannya telah tenggelam
bersama Troll itu.
Sekitar lima meter dia menyelam, dia melihat Elizabeth yang tersangkut di bebatuan. Darwin
langsung saja tak banyak berpikir. Dia dengan sekaligus mengangkat Elizabeth untuk segera
ke atas. Elizabeth dalam keadaan pingsan. Pastinya terlalu lama di dalam air. Darwin
berharap dia baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama, dia sudah hampir ada di atas. Dia mendorong tubuh Elizabeth ke
daratan dibantu dengan Edgar. Ketika diangkat, Elizabeth langsung sadar dan menggosok
matanya.
Oh, Darwin! Terimakasih! ucap Elizabeth.
Makasih, Edgar menambahkan.
Darwin tersenyum, begitu pun Elizabeth dan Edgar. Mereka segera berdiri untuk siap-siap
berlari. Namun tiba-tiba saja Darwin memegang dadanya sambil menggeram.
Arghhh! gerangnya sambil mengernyitkan dahi dan menyipitkan matanya menahan sakit.
Darwin! teriak Elizabeth ketika melihat Darwin menahan nyeri sambil mengerang.
Darwin! Ada apa?! Edgar tampak kaget dan langsung berlari menuju Darwin.
Hhhh! Aku melihat seseorang! ucap Darwin dengan nafas tersendat.
Dia, dia sedang membicarakan kita! ucapnya. Darwin memejamkan matanya. Dia merasa
tuli dalam waktu yang dekat.
Sashamasa, kita tahu anak itu sedang menyelamatkan Kepala Sekolah, kau tahu? Dia
cucunya! ucap seorang gadis dengan suara mengancam.
Aku tahu, Liera. Aku akan berusaha mencegahnya! Kita tahu, di sekolah ini kita tak akan
bisa membunuhnya, aku sudah mengirimkan Troll! Dia bisa melawannya! ucap sebuah
suara parau dan dingin dari sana.
Sashamasa! Bagaimana pun juga, kita tak akan membiarkan ramalan itu benar! Kau tahu apa
yang akan terjadi bila benar? Kita akan hancur! Dan aku harus menepati janjiku pada
Tuanmu! Aku tak mau berubah lagi! ucap suara wanita berkerudung hitam. Darwin dapat
melihat mata wanita itu. Mata hijau yang berkilau.
Aku juga sama, Liera! Mari kita cari cara bersama-sama untuk menghancurkan anak itu!
Keluarga itu! Dan seluruh sekolah!
Hhah! Darwin mendesah.
Dia tiba-tiba sadar dan sedang berdiri. Dia sadar, Edgar dan Elizabeth sedang mencoba
menyangganya. Dia pingsan.
Aku bisa sendiri teman-teman! ucap Darwin melepaskan tangan Edgar dan Elizabeth.
Darwin! Kau sudah sadar? tanya Elizabeth cepat.
Yeah, kelihatannya. ucapnya sambil sedikit menggeleng.
Apa ada yang kau lihat? tanya Edgar masih sambil berlari.
Ada, seseorang bermata hijau berkilau dan pria bersuara dingin.
Samantha! teriak Elizabeth. Edgar dan Darwin mengernyit.
Samantha bermata hijau!
Hitam! teriak Edgar.
Tunggu, rasanya ada yang aneh. Waktu pertama kali kau dan Elizabeth bertengkar,
Elizabeth bilang bahwa Samantha bermata hijau, dan ketika kau bilang padaku, bahwa
Samantha adalah gadis tercantik dengan mata hitam yang pernah kautemui. ucap Darwin.
Edgar dan Elizabeth bertatapan.
Aku yakin, ada yang tidak beres dengan Samantha! Darwin berucap penuh kata misterius.

Mereka terus berlari menuju sekolah. Perjalanan hari ini dirasa terlalu panjang bagi mereka.
Padahal, perjalanan mereka kira-kira baru seratus lima puluh menitan. Walau begitu, serasa
mereka telah berlari selama sehari penuh.
Oke, sekarang kita sudah ada di tepi hutan. Kita hampir sampai di sekolah. Kalian berdua,
pergi ke gedung sekolah. Sementara aku di sini akan ke rumah sakit dan membuat ramuan
untuk Kakekmu. Aku yakin, aku bisa menangkal racun dalam tubuh Kakekmu.
Terimakasih, Elizabeth. Aku tak tahu harus berkata apa. ucap Darwin sedikit lega.
Aku tahu, aku tak bisa memprediksikan ini akan berhasil, tapi aku yakin. Aku pasti bisa
melakukannya. Oke, aku akan di sini menyelesaikan ramuan.
Kau tahu resepnya? tanya Edgar melotot.
Tenang, ada di buku! ucap Elizabeth sambil mengerling.
Darwin dan Edgar pun langsung berlari menuju gedung sekolah. Elizabeth masih di tepi
hutan menyelesaikan ramuan. Darwin dan Edgar perlahan membuka pintu utama menuju
asrama. Dan terlihat, Samantha tengah berdiri di depan pintu. Matanya hijau berkilau. Dia
memakai jubah hitam panjang.
Tidak! ucap Darwin sedikit mundur. Samantha mengernyit.
Ada apa, Darwin? tanya Samantha berpura-pura tak tahu.
Aku tahu dia pasti akan berpura-pura bodoh! geram Darwin garang.
Apa maksudnya, Edgar? tanya Samantha tak berdosa.
Gromstandict!
Darwin menujukan tongkatnya ke arah Samantha. Dan Samantha terlempar ke belakang.
Edgar sedikit mundur melihat Darwin yang kelihatannya sangat berang.
Ow, ow! Rupanya pangeran baru kita sudah tahu siapa aku! Ya! Aku adalah penyihir hitam!
Dan aku yang meracuni Albert! Aku! Hahhaha! teriaknya bersamaan dengan tawa yang
menggelegar. Edgar tampak mundur dan bergetaran serta menelan ludah. Dia tampak
gemetaran dan takut melihat semua ini.
Edgar! Kau harus cepat membantunya! Aku harus pergi ke Rumah Sakit, kau harus tenang!
Beritahu Darwin, dia harus menggunakan mantra Farobuckshent! ucap Elizabeth tiba-tiba
dan langsung berlari.
Ehh tunggu! Elizabeth! Faro apa? Farobaktet, Farobindent? Argghhh! Faro apa?
Sementara Elizabeth, dia mengendap-endap masuk menuju ujung menara RS. Karena di
sanalah Prof. William dirawat. Perlahan, dia melihat sesuatu dari celah pintu. Matanya sedikit
melotot. Dia mulai mencampurkan sesuatu pada tabung reaksinya. Lalu menuangkannya pada
tabung reaksi yang lain. Dia membuka pintu perlahan. Terdengar decitan pintu yang hendak
terbuka. Elizabeth mulai melongo sedikit ke sana.
Tidak ada siapa-siapa disinAaaaaaa!
Dia berteriak. Tabung reaksinya jatuh dengan suara brakk di lantai dan mengeluarkan
banyak asap. Elizabeth langsung berlari ke dekat kasur tempat Prof. William terbaring. Dia
benar-benar terlonjak kaget ketika melihat seorang pria berjubah hitam. Dia tak tahu siapa,
wajah orang itu tak terlihat.
Kau mau apa, anak kecil?
Aaaaaaa!
Lahirnya Pangeran Baru
Diraihnya Elizabeth dan disimpannya di atas pundaknya. Dia pria berjubah itu membawa
Elizabeth keluar ruangan. Dia memiliki suara dingin dan serak persis seperti orang yang
Darwin katakan.
Liera, aku sudah bawa pecundang ini! ucap suara dingin dan serak itu.
Hahaha, bagus Sashamasa! Bawa dia beserta anak tak berguna itu! Dan kunci mereka
berdua seperti anak-anak lain! ucap Samantha sambil menunjuk ke arah Edgar. Edgar
melotot kaget sambil mundur dan berteriak-teriak.
Argghh! Arrgghh!
Darwin! Pakai mantra Farobuckshent! teriak Elizabeth ketika mereka akan dibawa ke
dalam asrama.
Farobuckshent! teriak Darwin dengan mengacungkan tongkatnya ke arah Samantha.
Terlihat sebuah cahaya merah berkilau akan menerpa Samantha. Samantha mengacungkan
tongkatnya juga untuk mencegah mantra Darwin. Dan kini cahaya hitam muncul dari tongkat
Samantha. Mereka berdua terlihat sedang menahan mantra masing-masing agar tidak gagal
dan mantra lain menerpanya.
Argggh! Farobuckshent! Darwin berteriak sambil mengangkatkan lagi tongkatnya dengan
seluruh sisa tenaganya.
Tidak! Samantha menjerit dan cahaya merah itu semakin menuju ke arahnya.
Darwin terpental. Begitu juga Samantha. Namun sinar merah berkilau milik Darwin melaju
cepat ke arah Samantha. Dan tiba-tiba meledak bagaikan kembang api. Cahayanya berkilauan
di langit membuat mata Darwin menjadi silau. Dia menyipitkan mata dan meletakan tangan
kirinya di depannya. Tak lama, semua murid dan seluruh warga Grondey keluar dari dalam
asrama. Begitu juga Prof. William. Dia tampak sehat seperti biasanya. Semuanya
memandang Darwin. Dia juga melihat Samantha berubah drastis. Kulitnya yang kencang
menjadi keriput. Warna kulitnya yang putih menjadi sawo matang. Dan rambut hitamnya
yang indah menjadi kering dan kusam. Wajahnya yang cantik kini jadi buruk rupa dan penuh
luka-luka. Dia menjerit-jerit melihat tubuhnya yang kembali seperti awal.
Tidak! Tidak! Wajahku! Tubuhku yang mulus! Wajah cantikku! Tidakkk! jeritnya dan
langsung menghilang seketika.
Saat itu juga, semua mata terpandang ke arah Darwin. Dan Edgar juga Elizabeth segera
menyambarnya dari balik kepala yang berdesak-desakan di sana.
Darwin kau luar biasa! teriak Elizabeth sambil memeluk dan menjabat tangannya.
Waw, Darwin! Aku tak pernah melihat sesuatu seperti itu. Amazing! ucap Edgar sambil
menepuk punggungnya.
Itu keren banget, Win! Dari mana belajarnya? tanya Bert langsung dengan Polly.
Waw! Paling keren itu pas kembang apinya! timpal Polly sambil menjabat-jabat tangan
Darwin.
Darwin hanya bisa tersenyum melihat mereka yang datang dan memuji-muji Darwin. Dia
memang telah melakukannya. Tapi tak sendirian, dengan Elizabeth juga Edgar.
Edgar, Elizabeth. Mereka yang sudah selametin kita. kata Darwin sambil mengerling ke
arah Edgar dan Elizabeth.

Desas-desus dan kabar kemenangan Darwin bersama dua rekannya kian menyebar luas.
Bukan hanya di Grondey Day saja kabar itu muncul. Melainkan di seluruh koran di dunia itu.
Julukan Pangeran Baru yang didapat Darwin saat itu membuatnya lebih tenar lagi. Begitu
juga Edgar dan Elizabeth. Semua murid meminta menceritakan kisah yang terperincinya
ketika mereka selamat dari hutan Scarymus.
Aku pergi ke sana bersama Darwin dan Elizabeth. Memakan biji menghilang! Kalian tahu,
tak? Hutan Scarymus itu sangat menakutkan! Gelap dan senyap. Kita juga melawan Troll.
Dia menangkap Elizabeth, dan kami mengecohnya. Itu sangat seru! ucap Edgar ketika
seluruh kelasnya mempertanyakan bagaimana petualangan seru mendapatkan jamur liar di
hutan Scarymus itu.
Darwin, aku dengar kelas dan hotel kita kini jadi yang terbaik. Bukan Agreniaclass lagi.
Tapi Drawsenclass. ucap Elizabeth senang ketika Darwin sedang sibuk memakan coklatnya.
Benarkah? Waw! Kita telah mengalahkan Cole dan Thom Jerry nya. gumam Darwin
bahagia juga.
Edgar! panggil Darwin.
Ya?
Aku ingin berbagi rahasia padamu! ucapnya setengah berbisik.
Apa?
Rahasia Elizabeth! katanya. Edgar langsung penasaran dan berjalan ke pojok bersama
Darwin.
Waktu dia menangis, dia bilang dia tak suka terus dipaksa oleh guru Mantra kita. Prof.
Greture. Dia bilang, Prof. Greture terus memaksanya belajar dua kali lebih lama. Dia
sendirian, kata Prof. Greture, dia pintar. Namun dia tak suka, makanya dia menangis. Kau
tahu, kan? Wajah Prof. Greture itu sangat bengis. kata Darwin menahan tawa.
Dan satu lagi rahasia Elizabeth yang ada padaku, dia memberitahu nama asli Samantha.
Liera Samantha Fransisco. Oh! Aku menyesal menyukai wanita tua! kelakar Edgar.
Hahah! Mereka wanita, aku tak mengerti wanita. kata Darwin dengan membagi sepotong
coklatnya pada Edgar.
Ya, seperti Ibuku yang cerewet. Aku tak mengerti dia!
- SEKIAN -
Misteri Sebuah Desa di Pegunungan(Part
1)
Aku berdiri di depan sebuah ruangan dekat taman yang berada di belakang kampusku. Aku
merasa bersemangat sekali pada hari itu, sakin semangatnya aku datang kepagian. Ruangan
itu masih terkunci rapat, para senior dan teman-temanku belum ada yang datang. Hmmm
Mungkin mereka masih berada di dalam perjalanan menuju kesini. Aku meletakan ranselku
yang tadinya bergelayut di pundak ini. Aku duduk di samping ransel yang lumayan besar, aku
mengecek kembali semua alat-alat perlengkapan dan bahan makanan yang akan aku bawa
nanti. Senang rasanya, setelah sekian lama menunggu akhirnya kedua orang tua ku
mengijinkan aku masuk ke dalam kegiatan pencinta alam setelah aku tamat dari SMU. Saat-
saat inilah yang aku nanti-nantikan seumur hidupku, aku dan teman-teman pencinta alam
akan mendaki gunung yang tertinggi yang berada di daerah Jawa Barat.
Tidak lama kemudian teman-temanku satu persatu berdatangan ke dalam ruangan tempat aku
menunggu alias markas anak-anak pencinta alam. Setelah semua lengkap kami pun
mengadakan rapat sebentar, lalu berdoa bersama sebelum berangkat. Rombongan kami terdiri
dari limabelas orang mahasiswa, lima diantaranya adalah para senior yang sudah
berpengalaman naik turun gunung. Kami berangkat dengan menumpang kereta api menuju
stasiun terakhir.
Hawa dingin dan sejuknya udara sudah terasa ketika aku turun dari kereta api. Lalu aku dan
teman-teman melanjutkan perjalanan hingga sampai di kaki gunung tersebut. Salah satu
seniorku yang bernama lingga melapor dan meminta surat izin untuk naik ke puncak gunung
kepada penunggu pos yang berada tidak jauh dari trek perjalanan menuju ke atas. Tidak
sampai limabelas menit kemudian kami semua sudah di perbolehkan oleh penjaga pos itu
untuk melakukan pendakian ke puncak gunung. Cuaca sangat cerah, aku berjalan sambil
menengok ke kanan dan ke kiri melihat pemandangan yang sangat indah di sekitar gunung.
Aku teringat pesan Mama agar tidak berbicara sembarangan, bertingkah laku sopan dan tidak
merusak apa saja yang berada di sana. Aku berjalan dengan hati gembira dan penuh semangat
mengikuti langkah teman-temanku yang berada di depan hingga menuju pos pertama.
Setelah kami berjalan berkilo-kilo lamanya, sebelum senja aku dan teman-teman
memutuskan untuk membangun tenda yang tidak jauh dari mata air dan bermalam di sana.
Suasana di malam itu sangat menyenangkan, kami membuat api unggun untuk
menghangatkan badan. Beberapa temanku di tugaskan memasak untuk makan malam,
walaupun kami hanya memakan mie instant dan sedikit nasi yang harus dibagi sama rata,
tetapi semua itu sudah mengenyangkan perut ini dan akhirnya aku pun tertidur di dalam tenda
untuk mengumpulkan tenaga buat melanjutkan perjalanan esok hari.
Keesokan harinya aku terbangun, aku merasa puas bisa menghirup udara pegunungan yang
masih perawan karena belum tersentuh oleh yang bernama polusi, setelah sarapan kami
semua bersiap-siap untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak gunung. Setelah
beberapa jam kami berjalan mengikuti jalan setapak, tiba-tiba keadaan di sekitar daerah
tempat kami berada turun kabut yang sangat tebal, jarak penglihatanku dan teman-teman pun
sangat pendek karena terhalang oleh putihnya kabut yang seperti kapas. Kami membentuk
tiga kelompok dan berpencar untuk mencari tempat perlindungan dari badai yang sepertinya
akan segera turun. Setelah badai reda kami pun sepakat untuk bertemu dengan teman-teman
yang lainnya di pos selanjutnya.
Aku berjalan dengan temanku yang bernama Adit paling belakang. Keadaan alam sudah
kembali bersahabat seperti semula. Dengan semangat yang menggebu-gebu aku
melangkahkan kaki ini menuju pos selanjutnya untuk bertemu dengan teman-temanku yang
lainnya.
Tunggu dulu Dave, gue mau betulin tali sepatu gue dulu nih? Adit berkata kepadaku.
Cepat Dit, nanti kita tertinggal jauh dari Bang Lingga, Ucok dan Pepi ujarku sambil
memperhatikan Adit yang sedang mengikat tali sepatunya.
Dan benar saja tidak ada lima menit aku menunggu Adit, kami berdua kehilangan keberadaan
senior dan dua orang temanku. Aku menatap Adit yang tampak panik karena kami berdua
sama-sama pendaki pemula yang belum mempunyai pengalaman tentang pendakian.
Sorry.. Dave, gara-gara gue kita ketinggalan Bang Lingga dan yang lain kata Adit sambil
termenung.
Nggak apa-apa Dit, mudah-mudahan kita bisa menyusul mereka jawabku sambil
membesarkan hati Adit. Yuk kita jalan lagi ajak ku sambil merangkul Adit.
Aku dan Adit melangkahkan kaki menyelusuri jalan setapak sesuai dengan trek yang berada
di peta. Sepertinya sudah lama aku berjalan berdua dengan Adit, tetapi aku tidak menemukan
Bang Lingga, Ucok dan Pepi. Sepertinya aku dan Adit berjalan hanya berputar-putar di
daerah sekitar tempat kami berada yang terlihat sama dengan rimbunnya pepohonan. Aku
menatap tajam wajah Adit dengan napas yang terengah-engah karena lelah berjalan.
Bagaimana nih Dave, sepertinya kita telah tersesat kata Adit sambil meneguk air
minumannya.
Kita istirahat dulu sebentar disini Dit ujarku.
Kita enggak bisa istirahat Dave, nanti kita bisa ketinggalan lebih jauh lagi dari Bang Lingga,
sebentar lagi juga sudah mulai gelap? jawab Adit.
Aku menganggukan kepala, lalu kami berdua berjalan kembali mengikuti jalan setapak. Tiba-
tiba aku melihat sebuah keramaian yang letaknya di seberang tempat Aku dan Adit berjalan.
Aku meruncingkan penglihatanku? tempat keramaian itu sepertinya sebuah pasar yang
berada di dalam perkampungan.
Lihat Dit, ada pasar disana bisikku sambil menunjukan jari kananku.
Masa sih kata Adit sambil menatap ke arah yang aku tunjuk.
Lebih baik kita bertanya saja dengan orang-orang yang berada disana, siapa tau saja mereka
bisa memberitahu kita arah yang benar kataku sambil menatap Adit.
Adit menganggukan kepalanya. Lalu kami berdua berjalan menuju pusat keramaian itu.
Aku dan Adit melangkahkan kaki ini di tengah-tengah pasar. Aku melihat pemandangan di
sekitar pasar itu. Aku merasakan sebuah jaman yang sangat berbeda dengan kehidupanku
yang sekarang. Sepertinya aku terlempar ke jaman ratusan tahun yang lalu. Orang-orang di
pasar itu masih mengenakan kain dan kebaya untuk anak perempuan, celana hitam hitam
sebetis dan berikat pinggang besar serta baju hitam untuk laki-laki hmm seperti baju si
pitung yang suka aku lihat di cerita Tv.
Ada segerombolan anak gadis sedang melihat kami berdua lalu mereka tersenyum sambil
berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkinkah mereka bergosip kerena
pakaian aku dan Adit yang terlihat aneh seperti Alien bagi mereka. Para pedagang berjualan
menggelar dagangannya di atas tanah, mereka masih menggunakan barter dengan cara
menukar barang yang satu dengan yang lain sebagai alat transaksinya.
Aku menarik napas panjang sambil melirikan mataku kearah Adit yang masih terlihat
bingung melihat keramaian pasar itu, sama sepertiku.
Hmm Kita berada dimana nih Dit, sekarang? tanyaku bingung.
Gue juga enggak tau Dave, kenapa mereka lain dengan keadaan kita saat ini bisik Adit.
Hmm mungkinkah desa ini seperti desa Badui? Hmmm mereka masih mempertahankan
kebudayaannya dan menolak kebudayaan modern jelasku.
Mungkin saja bisik Adit kembali.
Aku dan Adit berjalan pelan-pelan sampai ke ujung pasar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu
menawarkan kami makanan.
Kalian mau makan? Sepertinya kalian kelaparan karena habis berjalan jauh katanya
sambil menyodorkan aku dan Adit makanan yang terbungkus rapi oleh daun jati.
Aku dan Adit saling bertatapan.
Ayo silakan di ambil kata ibu-ibu itu sambil menyodorkan makanannya kembali.
Adit menganggukan kepalanya lalu ia mengambil sebungkus makanan itu dari tangan ibu-ibu
yang sedang tersenyum memandang kami berdua.
Dengan ragu aku pun mengambil makanan itu dan mengucapkan terima kasih kepada ibu
yang baik hati itu. Aku lalu membuka perlahan-lahan daun jati yang membungkus makanan
itu. Wah Sepertinya ini sangat enak kataku dalam hati ketika aku mengetahui yang berada
di dalam bungkusan itu adalah nasi uduk, tempe orek dan ikan asin. Hmmm tidak salah,
makanan itu memang sangat lezat sekali. Sepertinya selama hidupku aku belum pernah
merasakan nasi uduk yang seenak itu. Aku tersenyum melihat Adit yang tampak lahap
memakan makannya. Sepertinya Adit sangat kelaparan kataku dalam hati.
Kalian berdua hendak kemana Tanya Ibu itu sambil menuangkan air ke dalam gelas kami
yang masih terbuat dari batang bambu yang sudah tua.
Kami sedang tersesat Bu, kami berdua adalah pendaki yang terpisah dari rombongan, saya
lagi mencari pos pendakian yang terdekat dari sini, jelasku sambil tersenyum.
Itu sangat jauh sekali Nak, jauh sekali? kata Ibu yang memakai kebaya kembang-
kembang berwarna ungu itu.
Mau kah Ibu memberitahu kami arah jalannya menuju kesana Tanya Adit.
Ibu itu menganggukan kepalanya.
Sebaiknya kalian bermalam saja dulu di rumah saya, karena sebentar lagi matahari akan
segera tenggelam. Sangat berbahaya jika kalian berjalan di malam hari jelas Ibu itu sambil
tersenyum.
Ibu tidak keberatan kalau kami berdua menginap di rumah Ibu, tanyaku.
Tidak bermalamlah di rumah saya. Kalian juga boleh tinggal di rumah saya selama kalian
mau kata Ibu itu lagi.
Aku dan Adit tersenyum sambil menganggukan kepala.
Akhirnya aku bisa tidur di rumah penduduk di sekitar sini tampak harus membangun tenda
dan menahan tajamnya angin malam yang menusuk tubuh ini kataku dalam hati. Setelah Ibu
itu selesai berjualan, ia mengajak Aku dan Adit berjalan menuju selatan. Di pertengahan jalan
Ibu itu menghentikan langkahnya ketika kami bertiga sedang berjalan di antara pematang
sawah. Ibu yang belum kami ketahui namanya itu tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah
seorang pria tua yang sedang mencangkul di sawah. Pria tua itu tidak lama kemudian
menghampiri kami bertiga.
Bapak ada anak kota yang sedang tersesat? saya menyuruh mereka untuk menginap di
gubuk kita. Bapak tidak keberatan kan, Tanya Ibu itu.
Pria tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Menginaplah di rumah kami, besok baru kalian bisa melanjutkan perjalan menuju puncak
gunung. Nanti Bapak bisa mengantarkan kalian, kalau kalian mau jelas Bapak itu.
Mendengar penjelasan Bapak, Untuk yang sekian kalinya aku dan Adit menganggukan
kepalanya tanda setuju dengan perkataannya.
Hatiku mulai lega karena Bapak itu mau mengantarkan kami berdua menuju puncak gunung
esok hari. Itu berarti aku dan Adit tidak perlu lagi repot-repot mencari jalan untuk menuju
kesana. Aku dan Adit menempati sebuah kamar di dekat dapur. Rumah Ibu dan Bapak sangat
sederhana, semua temboknya masih terbuat dari bilik bambu. Jarak antara rumah yang satu
dengan yang lainnya pun lumayan jauh. Desa itu tampaknya sangat asri sekali. Mereka
menjamu kami berdua sangat baik, selesai membersihkan diri aku duduk-duduk di bale depan
rumah bersama Adit. Tidak lama kemudian Ibu datang membawakan kami sepiring singkong
rebus dan teh hangat. Aroma singkong rebus itu sangat menggoda, tampak basa-basi aku pun
langsung menyantapnya. Aku merasa sangat nyaman sekali berada di sana? Apalagi ketika
mendengar alunan suara seruling yang Bapak mainkan, suasana damai di malam itu belum
pernah aku rasakan sebelumnya.
Kami mengobrol bersama hingga larut malam, Bapak banyak bercerita tentang filosofi
kehidupan. Banyak nasehat yang aku dapat dari Bapak dan Ibu, tetapi anehnya, mengapa
mereka selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku menanyakan nama mereka?
Oaahhhmmm Aku menguap, lama-lama mata ini tidak dapat menahan rasa kantuk lagi.
Akhirnya aku dan Adit pun pamit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Aku pun mulai
tertidur, baru beberapa saat mataku terpejam tiba-tiba aku terbangun kembali, sepertinya aku
mendengar sesuatu yang suaranya berasal dari luar sana. Aku menatap Adit yang tertidur
sangat nyenyak. Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur, lalu dengan hati-hati aku
melangkahkan kaki ini menuju bilik bambu. Rasa penasaran ini semakin menjadi-jadi, aku
mendengar suara pekikan kuda dan krincingan bunyi lonceng kecil, sepertinya ada sebuah
rombongan orang yang sedang berjalan kaki di luar sana. Dengan rasa penasaran aku
mengintip dari balik bilik itu untuk melihat sesuatu yang sedang terjadi di luar.
YaaTuhan, tiba-tiba saja nafasku langsung terengah-engah, jantung ini seperti mau copot?
aku segera menutup mulutku kuat-kuat agar jeritanku tidak terdengar sampai keluar. Aku
melihat empat orang prajurit berkuda berjalan pelan, di belakang prajurit itu ada
segerombolan wanita yang sepertinya mereka menjadi abdi dalam kerajaan, wanita-wanita itu
hanya mengenakan kemben dan memakai kain. Para wanita setengah tua itu berjalan tampak
mengenakan alas kaki, salah satu dari mereka membunyikan lonceng kecil yang bunyinya
membuat suasana di tengah malam itu semakin mencekam. Aku melihat ada kereta kuda
tepat di belakang para abdi dalam, tampak seorang putri yang sangat cantik berada di dalam
kereta itu. Ia memakai sebuah mahkota, rambutnya yang hitam legam di biarkan panjang
terurai. Putri itu memegang sebuah tongkat di tangan kanannya dan menggendong seekor
kucing di tangan kirinya. Di belakang kereta kuda itu terdapat orang-orang yang kedua
tangannya terikat, mereka berjalan terseok-seok seperti sekumpulan tawanan yang sangat
kelelahan, pakaian yang mereka kenakan itu sama dengan pakaian yang aku pakai, yaitu
pakaian di jaman modern seperti sekarang ini. Tawanan itu tampaknya di jaga sangat ketat
oleh beberapa orang prajurit yang berjalan paling belakang di rombongan. Si siapakah
mereka, tanyaku dalam hati.
Aku duduk lemas di atas lantai, jantung ini masih berdetak sangat cepat. Siapakah mereka?
Berada di jaman apa aku ini sekarang? Tanyaku lagi. Lalu aku merebahkan tubuh ini di
samping Adit yang masih tertidur sangat lelap. Aku berusaha untuk menenangkan diriku
sendiri, cepat-cepat aku memejamkan mata ini. Ada perasaan lega di hatiku, karena esok hari
aku akan meninggalkan desa ini, aku pun berharap agar matahari akan segera terbit, supaya
aku bisa kabur dari desa ini.
Misteri Sebuah Desa di Pegunungan (Part
2)
Ketika aku terbangun di pagi hari, aku tidak melihat keberadaan Adit di sampingku.
Sepertinya Adit sudah terbangun sedari tadi, aku cepat-cepat keluar dari kamar dan mencari
Adit untuk mengajaknya segera pergi dari desa ini.
Adit Sedang membantu Ibu di pasar, Nak kata Bapak sambil mengasah cangkulnya.
Aduh Gawat, bagaimana ini tanyaku dalam hati. Yaa Tuhan aku bingung harus berbuat apa
saat itu, hati dan pikiran ini di gelayuti perasaan yang tidak enak.
Aku berjalan mondar-mandir di depan halaman rumah. Sudah seharian aku menunggu Adit,
akhirnya sebelum senja Adit kembali bersama dengan Ibu. Ada perasaan lega di hati ini
melihat keadaan Adit baik-baik saja. Lalu segera aku menarik Adit ke dalam kamar.
Loe kemana aja sih Dit, tadi pagi kan seharusnya kita sudah cabut dari tempat ini bisikku
pada Adit.
Gue tadi diajakin jualan nasi sama Ibu di pasar, besok aja deh kita pergi dari sini atau lusa?
Gue masih betah tinggal di sini Dave kata Adit sambil memandangku.
Loe dah gila yaa, kita tuh harus cepet-cepet keluar dari desa ini? Pasti anak-anak yang lain
pada cemas mencari kita berdua, kita harus secepatnya menyusul mereka jelasku.
Kalau gitu besok kita enggak usah naik ke puncak, kita langsung turun saja dan buat laporan
kalau kita selamat serta baik-baik saja kata Adit.
Hmm benar juga apa yang di katakan oleh Adit kataku dalam hati. Sepertinya Adit senang
sekali berada di desa ini, apakah aku harus memberitahu dia tentang kejadian yang aku lihat
semalam.
Dave Nanti malam loe mau ikut gue enggak, gue mau jalan-jalan sama Ibu Tanya Adit
yang membuyarkan lamunanku.
Loe mau kemanaDit? Tanyaku kaget.
Mau ke alun-alun desa, kata Ibu nanti malam akan ada kriayaan di sana. Tari jaipongan
jawab Adit.
Adit tertawa sambil memperagakan tari jaipongan di depanku, sementara itu aku masih
berfikir bagaimana cara untuk secepatnya pergi dari desa ini.
Jiaahhhh loe kok malah bengong sih? halloooo Mau ikutan nggak Dave Tanya Adit
lagi padaku.
I..iyah jawabku sambil menganggukan kepala.
Malam harinya Ibu dan Bapak mengajak kami berdua pergi ke alun-alun yang berada di
tengah-tengah desa. Aku lihat di sana sudah sangat ramai, para penari mulai bersiap-siap
untuk memperagakan tariaannya yang sudah di nanti-nanti oleh para penonton. Aku
memperhatikan keadaan di sekelilingku, aku merasakan keanehan di alun-alun itu. Ada
dimana kah aku sekarang tanyaku lagi dalam hati, aku sepertinya terlempar ke jaman ratus
tahun yang lalu. Orang-orang di desa itu berpakaian sangat kuno sekali, manusia-manusia
yang masih sangat lugu dan sama sekali belum tersentuh oleh kehidupan dunia luar yang
modern. Aku melirikan mata ini ke arah Adit, Adit tertawa-tawa menikmati keramaian di
malam itu.
Tiba-tiba seorang penari jaipongan melemparkan selendangnya yang berwarna merah
kearahku. Orang-orang yang berada di sekitarku pun pada bersorak dan bertepuk tangan.
Penari itu mengajak ku menari bersama, dengan terpaksa aku pun memenuhi permintaannya.
Aku berdiri di depan penari itu yang sedang melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti irama
musik. Aku menatap tajam wajah penari itu, tatapan matanya sayu dan mengisyaratkan
kesedihan yang mendalam. Ia begitu sangat cantik walaupun tidak di poles dengan sentuhan
makeup. Sepertinya penari itu ingin mengutarakan sesuatu padaku. Aku terbawa suasana
yang sangat nyaman di dekatnya. Tiba-tiba penari itu mencabut salah satu tusuk kondenya
lalu ia memberikannya padaku. Aku menerima tusuk konde yang berbentuk bunga itu lalu
aku masukan ke dalam saku jins ku. Aku menikmati keberadaan ku bersamanya di malam itu.
Sebelum tengah malam aku pulang berdua dengan Adit, sepertinya Ibu dan Bapak sudah
pulang kerumah terlebih dahulu. Di tengah-tengah perjalanan pulang aku berpapasan dengan
sekelompok anak laki-laki yang berikat kepala, mereka memandang aku dan Adit dari atas
sampai ke bawah dengan penuh kecurigaan. Perasaanku pun semakin tidak enak ketika salah
satu dari mereka menunjuk-nunjuk aku dan berbicara dengan bahasa yang tidak aku
mengerti. Aku menundukan kepalaku lalu menarik tangan Adit untuk berjalan lebih cepat.
Malam itu aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata ini hingga pagi tiba.
Matahari pun akhirnya keluar dari peraduannya, setelah sarapan aku melangkahkan kaki ini
keluar rumah. Aku berdiri di halaman depan dan masih bertanya-tanya sebenarnya dimana
sekarang aku berada selama ini. Aku memandang beberapa orang wanita yang berjalan di
depanku, mereka membawa bakul yang berisi pakaian basah lalu mereka tersenyum-senyum
padaku. Hmmm sepertinya mereka habis selesai menyuci pakaian di pinggir sungai. Tiba-
tiba penglihatanku tertuju pada sosok wanita yang aku kenal. Dia adalah penari yang tadi
malam mengajakku menari bersama.
Hai Sapaku sambil melambaikan tangan ini kearahnya.
Wanita itu lalu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia memisahkan diri dari rombongannya
dan menghampiriku.
Cepat kamu pergi dari desa ini, jangan sampai kamu terlambat dan menyesal katanya
padaku.
Memangnya kenapa, adakah yang salah dengan aku? Tanyaku dengan sedikit panik.
Pokoknya kamu harus pergi dari sini sebelum senja tiba? Janganlah kamu hiraukan orang-
orang yang berada di sekitar kamu jelas wanita itu sambil pergi begitu saja meninggalkan
ku.
Tungguuu teriakku.
Wanita itu tidak menghiraukan ku, sambil berjalan cepat ia menyusul teman-temannya.
Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan desa ini. Aku harus cepat-cepat pergi dari
sini, kataku dalam hati sambil berlari ke kamar untuk membangunkan Adit yang masih
tertidur.
Kita harus pergi dari sini Dit? Cepat bangun teriakku panik sambil mengguncang-guncang
tubuh Adit.
Adit terbangun, lalu aku menceritakan kejadian yang aku alami di sini padanya. Adit pun
terkejut tidak percaya. Aku dan Adit pun cepat-cepat berkemas-kemas di kamar.
Hmmm sepertinya ada yang datang ke rumah ini Dave bisik Adit sambil menatapku.
Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kuda yang sedang berjalan. Aku berjalan pelan
keluar kamar untuk mengintip siapakah yang berada di depan rumah Ibu dan Bapak. Yaa
Tuhan aku melihat beberapa prajurit yang aku lihat di malam itu. Apakah mereka akan
menangkapku dan Adit seperti orang-orang yang tangannya terikat itu pikir ku.
Aku langsung cepat-cepat kembali ke kamar lalu mengajak Adit untuk buru-buru keluar dari
rumah ini melalui pintu belakang. Tanpa pamit dengan Ibu dan Bapak yang sedang pergi,
Aku dan Adit berjalan cepat meninggalkan rumah itu tidak tentu arah, pikiranku hanya tertuju
untuk cepat-cepat bisa keluar dari desa ini. Adit mulai di dera ketakutan, ia terus saja
menggenggam tanganku dengan erat.
Di tengah perjalanan tiba-tiba beberapa orang prajurit mencegat kami berdua. Aku dan Adit
pun berusaha untuk melarikan diri dan berlari ke arah semak-semak. Prajurit itu mengejar
kami dengan kudanya, suara pekikan kuda yang terdengar sangat dekat membuat kami
tambah ketakutan. Aku tidak mau mempunyai nasib yang sama dengan orang-orang yang
menjadi tawanan mereka. Aku berlari kencang menerobos semak-semak belukar, aku tidak
peduli dengan tangan dan tubuh ini yang tergores oleh batang-batang pepohonan dan tumbuh-
tumbuhan yang berduri. Aku menahan rasa sakit sambil terus berlari bersama dengan Adit.
Gue sudah nggak kuat lagi Dave teriak Adit dengan napasnya yang terengah-engah.
Kita harus lolos dari mereka Dit, tahan sebentar lagi teriakku sambil menggenggam tangan
Adit, kami pun terus berlari.
Aku dan Adit sudah sangat kelelahan. Aku merasa tidak kuat lagi untuk berlari. Kami berdua
terus di kejar oleh mereka.
Gue nyerah Dave, sumpah gue enggak kuat lagi kata Adit sambil meneteskan airmatanya.
Aku memeluk Adit dengan erat.
Kita harus keluar dari sini bersama-sama Dit, gue yakin pasti kita akan selamat dan bisa
keluar dari hutan ini bisik ku menyemangatinya.
Adit menatapku tajam, lalu ia mengangguk-anggukan kepalanya.
Aku dan Adit berlari lagi menerobos hutan yang gelap. Kami berdua berlari berjam-jam
lamanya tanpa berhenti sampai kami tidak mendengar lagi suara pekikan kuda dan para
prajurit itu.
Sepertinya kita sudah keluar dari desa itu Dave kata Adit sambil tersenyum lesu.
Iyah Sekarang kita harus berusaha untuk mencari jalan agar bisa turun ke bawah
jawabku dengan perasaan lega.
Kami berdua terus dan terus berjalan, tubuh ini sudah sangat lelah, kami lapar dan kehausan.
Di tengah perjalanan pun turun hujan yang sangat deras, sepertinya akan terjadi lagi badai,
petir-petir menggelegar. Aku dan Adit berlindung di bawah pepohonan yang sangat besar.
Aku bersandar di akar pohon, Aku melihat tubuh Adit menggigil kedinginan.
Gue gue sudah tidak tahan lagi Dave, gue lelah dan ngantuk banget bisik Adit terbata-
bata.
Dit Jangan tidur dit, loe jangan tidur? Buka mata loe? Loe harus tetap terjaga teriakku
sambil mengguncang-guncang tubuh Adit.
Yaa Tuhan, aku juga merasakan kelelahan dan rasa kantuk ini juga mendera ku, aku
berusaha untuk sadar dan tidak tertidur sambil berharap ada pertolongan segera datang. Aku
memeluk tubuh Adit dengan erat untuk menghangatkan diri dari rasa dingin ini. Aku berserah
diri ini padamu Tuhan, aku pasrah kataku dalam hati ini sambil berzikir sepanjang hari
hingga aku tak tersadarkan diri. Beberapa jam kemudian aku mendengar suara langkah
orang-orang berjalan di kesunyian hutan.
Mata ini sangat sulit untuk terbuka. Orang-orang itu mengangkat tubuhku dan merebahkan
diri ini di atas tandu. Aku bersyukur karena telah ada orang yang menyelamatkanku dan Adit.
Aku pun akhirnya tertidur tidak sadarkan diri selama perjalanan pulang.
Mereka membawa aku dan Adit ke rumah sakit terdekat, lenganku di infus dan dua perawat
tengah membersihkan luka-luka yang berada di sekujur tubuh ini. Mataku masih terus
terpejam tetapi telingaku masih bisa mendengar percakapan orang-orang yang berada di
dekatku.
Kasihan yaa mereka, katanya sudah seminggu lho mereka hilang di hutan kata salah satu
perawat.
Iyah hutan itu memang terkenal angker, kenapa dua anak ini bisa tersesat kedalam hutan
sana? kata salah seorang lagi.
Kasihan teman anak ini, dia sekarang koma karena kelelahan dan kelaparan. Bagaimana
perasaan orang tuanya jika melihat anak-anak mereka sekarang seperti ini.
Yaa Tuhan, AditAdit teriakku dalam hati ketika mendengar percakapan perawat-
perawat itu. Aku ingin melihat Adit, aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan berjalan
mencari Adit ketika perawat-perawat itu pergi meninggalkanku. Aku masuk ke dalam kamar
Adit, aku melihat beberapa orang Dokter sedang berusaha memberikan pertolongan pada
Adit yang sudah tidak sadarkan diri. Aku menangis tersedu-sedu melihat pemandangan itu.
Adit loe harus kuat Dit, loe harus kuat kita sudah berhasil meninggalkan desa itu, kita
sudah selamat Dit teriakku histeris sambil menangis.
Dua orang senior ku pun datang dan menenangkan diri ini, yang masih tidak rela jika sampai
Adit meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang,
aku pun terjatuh lagi karena tidak berdaya.
Akhirnya Adit meninggal dunia akibat keletihan, kelaparan dan dehidrasi.
Setelah pulih aku mengunjungi makam Adit, airmataku menetes kembali ketika aku melihat
namanya di batu nisan. Aku sangat menyayangkan kepergian sahabatku, tetapi mungkin
Tuhan lebih sayang kepadanya. Aku kehilangan sahabat terbaikku dan aku berharap ia
bahagia di alam sana.
Hari ini aku mulai kembali untuk kuliah, setelah ke luar kelas aku melangkahkan kaki ini
menuju markas pencinta alam yang berada di belakang kampus untuk mengambil ranselku
yang telah di temukan di gunung itu. Bang Lingga tersenyum melihat kedatanganku lalu ia
menepuk-nepuk pundakku dan berusaha untuk menghiburku.
Loe jangan trauma ya dengan kejadian yang loe alami kemarin, kita semua juga menyayangi
kejadian itu kata Bang Lingga.
Iyah Bang, jawabku sambil menganggukan kepala.
Alam itu tidak bisa di tebak Dave, kadang ia sangat bersahabat dan terkadang ia juga sangat
kejam bagi para pendaki, kita semua sangat kehilangan Adit. Bagi kita Adit adalah pahlawan,
sama seperti Evie jelas Bang Lingga.
Evie? tanyaku bingung.
Iyah senior kita, dia juga telah gugur di gunung yang sama duabelas tahun yang lalu jelas
Bang Lingga lagi.
Aku memandang tajam Bang Lingga.
Bang lingga lalu membuka sebuah amplop besar berwarna coklat dan memberikan aku
selembar foto bergambar anak perempuan yang sedang tersenyum manis. Aku terkejut
melihat wajah yang berada di foto itu. Hmmm Itu itu bukannya penari jaipong yang
berada di desa itu kataku dalam hati. Tubuhku mendadak menjadi lemas ketika melihat
fotonya. Aku tidak bisa berfikir dan berbicara lagi, ternyata penari yang secara tidak langsung
telah menyelamatkan ku adalah seniorku sendiri.
Akhirnya kita mendapatkan Foto Evie, rencananya foto ini akan gue pajang bersama foto
Adit di markas untuk mengenang loyalitas dan cinta mereka kepada alam jelas Bang Lingga.
Aku tersenyum dan masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Setelah mengambil ransel, aku pun pulang ke rumah dengan banyak sekali pertanyaan yang
belum bisa di pecahkan di pikiran ini. Aku merebahkan tubuhku di ranjang ketika aku berada
di kamar. Apakah benar penari itu adalah Evie tanyaku dalam hati, apakah desa itu benar-
benar ada dan bukan imajinasi atau khayalanku semata? Tiba-tiba Mbok Inah mengetuk pintu
dan masuk kekamarku.
Mas Dave, kemarin Mbok Inah menemukan ini di kantong Jins punya Mas? kata Mbok
Inah sambil memberikan aku sebuah tusuk konde berbentuk bunga.
Terima kasih Mbok jawabku sambil tersenyum menerima barang itu.
Wahh Mas Dave sekarang sudah mempunyai pacar yaa, goda Mbok Inah sambil
meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.
Aku memandang tusuk konde itu akhirnya terjawab sudah dan aku meyakinkannya jika
desa misterius itu benar-benar ada keberadaannya di pegunungan sana. Hanya saja kita sudah
berlainan dimensi dengan mereka, walau bagaimana pun aku sangat berterima kasih kepada
Ibu dan Bapak yang telah menolongku dan Adit untuk bermalam di rumah mereka serta Evie,
seniorku. (Tamat)