Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Saluran pencernaan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan
mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan
(pengunyahan, penelanan, dan pencampuran) dengan enzim dan zat cairyang terbentang
mulai dari mulut (oris) sampai anus. Dari saluran pencernaan akan terbentuk sistem
pencernaan yang terdiri dari organ-organ pencernaan yang tergabung membentuk saluran
pencernaan. saluran pencernaan tersebut terdiri dari Oris(mulut), Faring(tekak),
Esofagus(kerongkongan) Ventrikulus(lambung), usus halus,usus besar, rektum, anus.
Selain itu alat penghasil getah cerna terdiri dari Kelenjar ludah, kelenjar getah lambung,
kelenjar hati, kelenjar pankreas, kelenjar getah usus.
Selama dalam pankreas, pencernaan makanan dihancurkan menjadi zat-zat yang
sederhana yang hanya diserap dan digunakan oleh sel jaringan tubuh. Berbagai perubahan
sifat makanan terjadi karena kerja berbagai enzim yang terkandung di dalam berbagai
cairan pencernaan.
Setiap jenis zat mempunyai tugas khusus bekerja atas satu jenis makanan dan tidak
mempunyai pengaruh terhadap jenis lain.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah adaptasi sistem pencernaan neonatus?
2. Apakah faktor yang berperan dalam sistem pencernaan neonatus?
3. Bagaimanakah adaptasi fisiologis sistem pencernaan neonatal?
4. Bagaimanakah Karakteristik sistem pencernaan sebelum dan setelah
kelahiran kelahiran?

1.3 Tujuan Masalah
1. Mengetahui adaptasi sistem pencernaan neonatus.
2. Mengetahui faktor yang berperan dalam sistem pencernaan neonatus.
3. Mengetahui adaptasi fisiologi sistem pencernaan neonatus.
4. Mengetahui karakteristik sistem pencernaan sebelum dan setelah kelahiran.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem pencernaan neonatus
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar
dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan
(pengunyahan,penelanan, dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang
dari mulai mulut (oris) sampai anus. Bayi Baru Lahir (BBL, newborns) harus memulai
untuk memasukkan, mencerna dan mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana
plasenta telah melakukan fungsi ini (Gorrie, et al., 1998).

B. Faktor Yang Berperan dalam Sistem Pencernaan Neonatus
a. Organ Pencernaan
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :
- Oris (mulut)
- Faring
- Esofagus (kerongkongan)
- Usus halus
- Usus besar
- Rektum
- Anus
b. Pembentukan Enzim Sistem Pencernaan pada Neonatus
Enzim-enzim penting untuk mencerna karbohidrat, protein, dan lemak sederhana
ada pada minggu ke-36-38 usia gestasi. Bayi baru lahir cukup bila mampu menelan,
mencerna, memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat sederhana serta
mengemulsi lemak (Jensen et al., 2004). Amilase pankreas mengalami defisiensi selama
3-6 bulan pertama setelah lahir. Sebagai akibat, BBL tidak bisa mencerna jenis
karbohidrat yang kompleks seperti yang terdapat pada sereal. Kolostrum terutama kaya
akan amilase mamaria. Perkembangan aktifitas laktase berlangsung relatif lambat dan
mencapai tingkat adekuat pada usia gestasi 36 minggu, namun banyak bayi prematur
dapat mencerna laktosa dengan memuaskan karena laktosa yang diserap dapat dicerna
oleh bakteri kolon menjadi asam lemak rantai pendek, yang kemudian dapat diserap
sehingga energi dapat diselamatkan. Selain itu BBL juga mengalami defisiensi lipase
pankreas. Lemak yang ada di dalam Asi lebih bisa dicerna dan lebih sesuai untuk bayi
dari pada lemak yang terdapat pada susu formula ( Gorrie, et al., 1998).
Usus bayi baru lahir relative tidak matur. Sistem otot yang menyusun organ
tersebut lebih tipis dan kurang efisien dibandingkan pada orang dewasa sehingga
gelombang peristaltic tidak dapat diprediksikan. Lipatan dan vili dinding usus belum
erkembang sempurna. Sel epitel yang melapisi usus halus bayi baru lahir tidak berganti
dengan cepat sehingga meningkatkan absorbs yang paling efektif. Awal pemberian
makan oral menstimulasi lapisan usus agar matur dengan meningkatkan pergantian sel
yang cepat dan produk enzimmikrovilus, seperti amylase, tripsin, dan lipase pancreas.
Dukungan bidan untuk pemberian makan segera pada bayi baru lahir membantu
maturasi kemampuan usus halus ini.

C. Adaptasi fisiologis sistem pencernaan neonatal
Bayi Baru Lahir (BBL, newborns) harus memulai untuk memasukkan, mencerna dan
mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana plasenta telah melakukan fungsi ini
(Gorrie, et al., 1998).
a. Intrauteri
Janin mulai menunjukkan aktifitas gerakan menelan sejak usia gestasi 14 minggu.
Gerakan menghisap aktif tampak pada 26-28 minggu. Cairan empedu mulai
diproduksi sejak akhir trimester pertama, diikuti denga seluruh enzim-enzim
pencernaan lainnya. Proses pencernaan belum terjadi secara aktif (inaktif). Kebutukan
janin akan nutrisi tidak dipenuhi dengan sistem pencernaannya tetapi diperoleh dari
plasenta. Refleks makan pada janin didalam kandungan sudah mulai terlihat dari
kegiatan menelan amnion dan menghisap. Mekonium, isi yang utama terutama pada
saluran pencernaan janin, tampak mulai usia 16 minngu, mekonium tidak dikeluarkan
selama janin berada didalam uterus (tidak terjadi proses defekasi) hanya urin
mekonium karena peristaltik belum aktif kecuali pada fetal distres. Pada janin yang
mengalami fetal distres, terjadi penekanan pada abdomen dan spingter anal mengalami
relaksasi sehingga mekonium yang tersimpan dalam usus keluar dan bercampur air
ketuban. Enzim-enzim penting untuk mencerna karbohidrat, protein, dan lemak
sederhana ada pada minggu ke-36-38 usia gestasi sudah mulai dibentuk untuk
mempersiapkan kelahiran (kehidupan janin ekstrauterin). Oksigenasi janin utama tetap
berasal dari sirkulasi maternal-fetal melalui plasenta dan tali pusat.

b. Ekstrauterine
Neonatus aterm mampu mencerna dan menyerap susu dari lahir. Faktor
pertumbuhan spesifik-spesies di air susu penting untuk mendorong perkembangan
pencernaan pasca natal. Usus neonatus memiliki kapasitas pencernaan dan penyerapan
yang imatur tetapi terdapat sejumlah mekanisme kompensasi, terutama untuk bayi
yang medapat air susu ibu (Lebenthal & Leung, 1988). Spingter cardiac antara
esophagus dan lambung pada neonatus masih immature (Olds, et al., 1980),
mengalami relaksasi sehingga dapat menyebabkan regurgitasi makanan segera setelah
diberikan (Gorrie, et al., 1998). Regurgitasi juga dapat terjadi karena kontrol
persarafan pada lambung belum sempurna (Olds, et al., 1980).
Saat lahir kapasitas lambung BBL sekitar 6 ml/kg BB, atau rata-rata sekitar 50-60
cc, tetapi segera bertambah sampai sekitar 90 ml selama beberapa hari pertama
kehidupan. Lambung akan kosong dalam 3 jam (Olds, et al., 1980) untuk pemasukan
makanan dan kosong sempurna dalam 2 sampai 4 jam. (Gorrie, et al., 1998).
BBL mempunyai usus yang lebih panjang dalam ukurannya terhadap besar bayi
dan jika dibandingkan dengan orang dewasa. Keadaan ini menyebabkan area
permukaan untuk absorbsi lebih luas (Gorrie, et al., 1998).
Bising usus pada keadaan normal dapat didengar pada 4 kuadran abdomen dalam
jam pertama setelah lahir akibat bayi menelan udara saat menangis dan system saraf
simpatis merangsang peristaltic (Simpson & Creehan, 2001).
Saat lahir saluran cerna steril. Sekali bayi terpapar dengan lingkungan luar dan
cairan mulai masuk, bakteri masuk ke saluran cerna. Flora normal usus akan terbentuk
dalam beberapa hari pertama kehidupan (Gorrie, et al., 1998) sehingga meskipun
saluran cerna steril saat lahir, pada kebanyakan bayi bakteri dapat dikultur dalam 5
jam setelah lahir. Bakteri ini penting untuk pencernaan dan untuk sintesa vitamin K
(Olds, et al., 1980).

c. Refleks Makan
Sejak lahir, seorang bayi normal dapat menghisap dari puting payudara,
menyalurkan air susu ke bagian belakang mulut dan menelannya selama 5-10 menit
sambil bernafas normal. Terdapat program reflek dan perilaku bawaan, yang menjadi
semakin jelas dalam sekitar satu jam setelah persalinan, termasuk kemampuan
bergerak dari perut ibu ke payudara, aktifitas tangan terkoordinasi, gerakan mencari
puting payudara, melekat kepayudara, dan makan secara rakus sebelum bayi tidur.
Sentuhan pada langit-langit memicu reflek menghisap. Neonatus memperlihatkan
kerja rahang ritmik, yang memicu tekanan negatif dan kerja peristaltik lidah dan
rahang memeras air susu dari payudara dan memindahkannya kekerongkongan yang
kemudian memicu reflek menelan. Pada neonatus normal, refleks menyusu ini kuat
saat lahir dan sudah tampak pada bayi premature sejak usia sekitar 32 minggu (sekitar
1200g). Bayi yang sangat prematur dan mereka yang beresiko sakit atau berat lahirnya
sangat rendah memperlihatkan penurunan yang mencolok atau tidak adanya refleks.
Bayi lain yang mengalami masalah makan misalnya mereka mengidap gangguan fisik
misalnya bibir atau langit-langit sumbing dan mereka yang terkena sedasi atau
analgesia obstetrik atau stres berat saat persalinan.
Reflek menghisap dan menelan dibantu oleh konfigurasi morfologis mulut
neonatus yang khusus, langit-langit lunaknya secara proporsional lebih panjang.
Neonatus juga memiliki refleks ekstrusi sebagai respon terhadap adanya bahan padat
atau setengah padat didalam mulutnya. Refleks ini hilang pada usia 4-6 bulan dan
diganti oleh suatu pola gerakan menggigit ritmik yang bersamaan dengan tumbuhnya
gigi pertama pada usia 7-9 bulan.

d. Defekasi
Feses pertama yang dieksresi oleh bayi disebut mekonium, berwarna gelap, hitam
kehijauan, kental, konsistensinya seperti aspal, lembut, tidak berbau, dan lengket.
Pengeluaran mekonium, suatu campuran mukus, sel epitel, asam lemak, dan
pigmen empedu (yang menyebabkan warna khas hitam kehijauan).
Mekonium berasal dari:
Sel-sel mukosadinding saluran cerna yang mengalami deskuamasi dan
rontok
Cairan/enzim yang disekresi sepanjang saluran cerna,mulai dari saliva
sampai enzim-enzim pencernaan
Cairan amnionyang diminum janin, yang kadang juga mengandung lanugo
dan sel-sel dari kulit janin atau membran amnion yang rontok.
Feses mekonium pertama biasanya keluar dalam 24 jam pertama setelah lahir.
Jika tidak keluar dalam 36-48 jam, bayi harus diperiksa patensi anus, bising usus dan
distensi abdomen dan dicurigai kemungkinan obstruksi (Gorrie, et al., 1998 &
Simpson & Creehan, 2001).
Tipe kedua feses yang dikeluarkan oleh bayi disebut feses transisional, bewarna
coklat kehijauan dan konsistensinya lebih lepas dari pada feses mekonium. Feses ini
merupakan kombinasi dari mekonium dan feses susu. Keadaan feses selanjutnya
sesuai tipe makanan yang didapat oleh bayi (Gorrie, et a., 1980).
Kolon pada bayi baru lahir kurang efisien menyimpan cairan dari pada kolon
orang dewasa sehingga bayi baru lahir cenderung mengalami komplikasi kehilangan
cairan. Kondisi ini membuat penyakit diare kemungkinan besar menjadi serius pada
bayi muda.
Tabel berikut menjelaskan karaktertisik penting sistem pencernaan sebelum dan
setelah lahir.

Tabel 1. Karakteristik sistem pencernaan sebelum dan setelah kelahiran
kelahiran
Aspek Intrauteri Ekstrauteri
Sistem Gastrointestinal Relatif Inaktif
(tidak ada makanan yang
diterima melalui organ
gastrointestinal)
Aktif
(ada makanan yang masuk
melalui organ
gastrointestinal)
Reflek makan Sudah ada, bayi Menelan
cairan amnion dan
memperlihatkan gerakan
menghisap
Ada dan semakin baik,
Bayi sudah mampu mencerna
dan mengeliminasi ASI atau
susu formula
Refleks peristaltik dan
Defekasi
Pada bagian bawah abdomen
refleks peristaltik tidak aktif
sehingga tidak terjadi
pengeluaran mekonium.
Kecuali pada fetal distres (air
ketuban bercampur
mekonium)
Pada bagian bawah abdomen
peristaltik sudak aktif,
sehingga bayi mengeluarkan
feses. Tidak adanya feses
dalam 48 jam pertama
mengidikasikan obstruksi isi
usus





D. Perbedaan Antara Sistem Organ pada Gastrointestinal Bayi dan Orang Dewasa
Sistem Pencernaan
Pada saat lahir, tidak semua komponen sistem saluran cerna telah mencapai
kematangannya. Kelanjutan pematangan sistem pencernaan akan tampak oleh
adanya perubahan pola fungsi selama masa pertumbuhan anak. Esofagus
merupakan saluranyang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga
mulut ke lambung. Sepertiga atas esofagus merupakan otot serat lintang yang
berhubungan dengan otot-otot faring, sedangkan 2/3 bagian bawah adalah otot
polos. Esofagus menyempit pada 3tempat, yaitu setinggi tulang rawan krikoid yang
merupakan sfingter, rongga dada bagian tengah akibat penekanan oleh arkus aorta
dan bronkus utama kiri (tidak bersifatsfingter), dan pada hiatus esofagus diafragma
(otot polos bagian ini bersifat sfingter).Pembuluh vena esofagus bagian bawah
berhubungan langsung dengan sirkulasi vena porta. Di sebelah dorsal kanan
esofagus terdapat duktus torasikus.lambung merupakan bagian sistem
gastrointestinal yang terletak antara esofagus dan duodenum. Lambungterbagi
menjadi 2 bagian, proksimal terdiri dari fundus dan korpus, sedangkan
bagiandistalnya adalah antrum. Ciri yang menonjol pada anatomi lambung adalah
peredarandarahnya yang sangat kaya dengan pembuluh nadi besar di depan
kurvatura mayor danminor serta dalam dinding lambung.Pada bagian distal
lambung terdapat selaput lingkar yang disebut pilorus yang berfungsi sebagai
sfingter untuk mencegah kebocoran isi lambung. Pilorus inidiperkuatoleh serabut
otot lingkar yang kuat dan terbuka melalui pengaturan saraf.Duodenum mulai pada
pilorus dan berakhir pada batas duodenoyeyunal.pada cekunganduodenum setinggi
vertebra l2 terdapat kepala pankreas. Sekum pada anak berbentuk kerucut dan
apendik berasal dari bagian apek kiri. Selama masa anak-anak dindinglateral sekum
membesar, sehingga apendiks terletak pada bagian posterior dindingmedial.
Mukosa apendiks kaya akan jaringan limfoid pada masa anak-anak dan
akan berkurang setelah dewasa.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahwa system pencernaan bayi belum berjalan dengan sempurna. Namun reflek
menghisap bayi sangat kuat sekali sampai dia berumur 4-6 bulan reflek itu menghilang.
Bayi sudah dapat menghisap dan menelan. Bayi belum bisa mendapatkan karbohidrat
karena system pencernaannya belum sempurna.

























DAFTAR PUSTAKA

Perry dan Potter. 2006.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
http://coretanrisma.blogspot.com/2012/05/sistem-pencernaan-saat-lahir-bayi-baru.html
http://ivank-revank.blogspot.com/2012/01/anatomi-dan-fisiologi-sistem-pencernaan.html
http://medicastore.com/penyakit/9/Biologi_Sistem_Pencernaan.html /
http://dokterrizy.blogspot.com/2010/09/metabolisme-kenyang-puasa-kelaparan.html
http://andizayyanarham.blogspot.com/2011/10/pemenuhan-kebutuhan-nutrisi.html
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2128948-defenisi-absorpsi/#ixzz28gL0F8iV
http://toyor-skizoid.blogspot.com /2011/06/keadaan-kenyang-dan-puasa.html.
http://andizayyanarham.blogspot.com-2011-10-pemenuhan-kebutuhan-nutrisi.html.
http://nsyadi.blogspot.com/2012/01/askep-bblr.html?m=1