Anda di halaman 1dari 17

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Akuntansi sebagai bahasa bisnis karena merupakan suatu alat untuk
menyampaikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang memerlukannya.
Semakin kita mengerti bahasa akuntansi maka semakin baik pula keputusan kita,
dan semakin baik kita dalam mengelola keuangan. Untuk menyampaikan informasi-
informasi tersebut, maka digunakanlah laporan akuntansi atau yang dikenal sebagai
laporan keuangan.
International Accounting Standards, yang lebih dikenal sebagai International
Financial Reporting Standards (IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan
akuntansi yang memberikan penekanan pada penilaian (revaluation) profesional
dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis
transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu. International Financial
Reporting Standards (IFRS) muncul akibat tuntutan globalisasi yang mengharuskan
para pelaku bisnis di suatu Negara ikut serta dalam bisnis lintas negara. Untuk itu
diperlukan suatu standar internasional yang berlaku sama di semua Negara untuk
memudahkan proses rekonsiliasi bisnis. Perbedaan utama standar internasional ini
dengan standar yang berlaku di Indonesia terletak pada penerapan revaluation
model, yaitu kemungkinkan penilaian aktiva menggunakan nilai wajar, sehingga
laporan keuangan disajikan dengan basis true and fair.
Berdasarkan Latar Belakang Pembahasan Makalah ini adalah :
Apakah dampak bagi pelaporan keuangan suatu perusahaan, pengaruh
regulasi atas profesi akuntansi, peran dan tanggung jawab manajeman akuntan
publik dan regulator atas keandalan sistem pelaporan keuangan di pasar modal dan
pasar uang dan lain-lain setelah mengadopsi IFRS.
Tujuan Pembahasan Makalah ini adalah :
Untuk mengetahui dampak bagi pelaporan keuangan suatu perusahaan,
pengaruh regulasi atas profesi akuntansi, peran dan tanggung jawab manajeman
2

Akuntan Publik dan regulator atas keandalah sistem pelaporan keuangan di pasar
modal dan pasar uang dan lain-lain setelah mengadopsi IFRS.

PEMBAHASAN
Konvergensi PSAK ke IFRS
Dua puluh Sembilan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) masuk dalam
program konvergensi IFRS yang dicanangkan DSAK IAI tahun 2009 dan 2010.
Sasaran konvergensi IFRS yang telah dicanangkan IAI pada tahun 2012
adalah merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan IFRS versi 1 Januari
2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012," demikian disampaikan Ketua DSAK IAI
Rosita Uli Sinaga pada Public Hearing Eksposure Draft PSAK 1 (Revisi 2009)
tentang Penyajian Laporan Keuangan, di Jakarta Kamis 20 Agustus 2009 lalu.
Program konvergensi DSAK selama tahun 2009 adalah sebanyak 12 Standar,
yang meliputi:
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
3. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
4. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
5. IAS 28 Investments in associates
6. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
7. IFRS 8 Operating segment
8. IAS 31 Interests in joint ventures
9. IAS 1 Presentation of financial
10. IAS 36 Impairment of assets
11. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent asset
12. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
13. Program konvergensi DSAK selama tahun 2010 adalah sebanyak 17 Standar
sebagai berikut:
1. IAS 7 Cash flow statements
3

2. IAS 41 Agriculture
3. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of
government assistance
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 24 Related party disclosures
6. IAS 38 Intangible Asset
7. IFRS 3 Business Combination
8. IFRS 4 Insurance Contract
9. IAS 33 Earnings per share
10. IAS 19 Employee Benefits
11. IAS 34 Interim financial reporting
12. IAS 10 Events after the Reporting Period
13. IAS 11 Construction Contracts
14. IAS 18 Revenue
15. IAS 12 Income Taxes
16. IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral Resources
17. IAS 26 Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plan
Banyaknya standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini
menjadi tantangan yang cukup berat bagi DSAK IAI periode 2009-2012.
Implementasi program ini akan dipersiapkan sebaik mungkin oleh IAI. Dukungan dari
semua pihak agar proses konvergensi ini dapat berjalan dengan baik tentunya
sangat diharapkan.
Ditambahkan bahwa tantangan konvergensi IFRS 2012 adalah kesiapan
praktisi akuntan manajemen, akuntan publik, akademisi, regulator serta profesi
pendukung lainnya seperti aktuaris dan penilai.
Akuntan Publik diharapkan dapat segera mengupdate pengetahuannya
sehubungan dengan perubahan SAK, mengupdate SPAP dan menyesuaikan
pendekatan audit yang berbasis IFRS. Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat
mengantisipasi dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang
bertugas mengupdate pengetahuan Akuntan Manajeman, melakukan gap analysis
dan menyusun road map konvergensi IFRS serta berkoordinasi dengan proyek
lainnya untuk optimalisasi sumber daya.
4

Akuntan Akademisi/Universitas diharapkan dapat membentuk tim sukses
konvergensi IFRS untuk mengupdate pengetahuan Akademisi, merevisi kurikulum
dan silabus serta melakukan berbagai penelitian yang terkait serta Memberikan
input/komentar terhadap ED dan Discussion Papers yang diterbitkan oleh DSAK
maupun IASB.
Regulator perlu melakukan penyesuaian regulasi yang perlu terkait dengan
pelaporan keuangan dan perpajakan serta melakukan upaya pembinaan dan
supervisi terhadap profesi yang terkait dengan pelaporan keuangan seperti penilai
dan aktuaris. Asosiasi Industri diharap dapat menyusun Pedoman Akuntansi Industri
yang sesuai dengan perkembangan SAK, membentuk forum diskusi yang secara
intensif membahas berbagai isu sehubungan dengan dampak penerapan SAK dan
secara proaktif memberikan input/komentar kepada DSAK IAI.
Program Kerja DSAK lainnya yaitu : Mencabut PSAK yang sudah tidak
relevan karena mengadopsi IFRS; Mencabut
PSAK Industri; Mereformat PSAK yang telah diadopsi dari IFRS dan
diterbitkan sebelum 2009; Melakukan kodifikasi penomoran PSAK dan konsistensi
penggunaan istilah; Mengadopsi IFRIC dan SIC per 1 January 2009; Memberikan
komentar dan masukan untuk Exposure Draft dan Discussion Paper IASB; Aktif
berpartisipasi dalam berbagai pertemuan organisasi standard setter, pembuat
standar regional/internasional; serta Menjalin kerjasama lebih efektif dengan
regulator, asosiasi industri dan universitas dalam rangka konvergensi IFRS.
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International
Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International
Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan
Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi
Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).
Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi
Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga independen untuk
menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan
mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat
5

dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al., 1999 dalam Intan Immanuela,
puslit2.petra.ac.id)
Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa Sebagian besar standar yang
menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting
Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh
International Accounting Standards Committee (IASC). Pada bulan April 2001, IASB
mengadospsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.
Struktur IFRS
International Financial Reporting Standards mencakup :
- International Financial Reporting Standards (IFRS) standar yang
diterbitkan setelah tahun 2001
- International Accounting Standards (IAS) standar yang diterbitkan
sebelum tahun 2001
- Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting
Interpretations Committee (IFRIC) setelah tahun 2001
- Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations
Committee (SIC) sebelum tahun 2001 (www.wikipedia.org)
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar
akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau
informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk
menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam
aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah pengukuran dan
penilaian. Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan
keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat
penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca). Hal ketiga yang dimuat dalam
standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen
laporan keuangan sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan
keuangan. Yang terakhir adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan.
Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana
informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu
6

informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau
berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan (Chariri, 2009).
Konvergensi ke IFRS di Indonesia
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di
Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi
keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan
Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan
standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan
program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin
tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di
Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas
dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh
International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan
nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara
penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh
IASB. Adapun posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan
diadopsi pada tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar-
daftar berikut ini.
IFRS/IAS yang Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008
1. IAS 2 Inventories
2. IAS 10 Events after balance sheet date
3. IAS 11 Construction contracts
4. IAS 16 Property, plant and equipment
5. IAS 17 Leases
6. IAS 18 Revenues
7. IAS 19 Employee benefits
8. IAS 23 Borrowing costs
9. IAS 32 Financial instruments: presentation
10. IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement
7

11. IAS 40 Investment propert
IFRS/IAS yang Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IFRS 4 Insurance contracts
3. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
4. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
5. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
6. IAS 1 Presentation of financial statements
7. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
8. IAS 28 Investments in associates
9. IFRS 3 Business combination
10. IFRS 8 Segment reporting
11. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
12. IAS 12 Income taxes
13. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
14. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
15. IAS 31 Interests in joint ventures
16. IAS 36 Impairment of assets
17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
18. IAS 38 Intangible assets
IFRS/IAS yang Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010
1. IAS 7 Cash flow statements
2. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government
assistance
3. IAS 24 Related party disclosures
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 33 Earning per share
6. IAS 34 Interim financial reporting
Dan untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK
akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi
8

kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi
syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air.
Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK
dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang
berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip
akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan
prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual. Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan untuk transaksi syariah akan dimulai dari nomor 101 sampai
dengan 200.
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International
Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual
saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar
internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya
sosialisasi yang mahal.
Membahas tentang IAS saat ini lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha
harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting
Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for
Economic Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan
dengan adanya harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional,
kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International
Organization of Securities Commissions)
Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional
sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip
akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di
seluruh dunia. Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional
adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau
impor. Standard akuntansi internasional (IAS) adalah standard yang dapat
digunakan perusahaan multinasional yang dapat menjembatani perbedaan-
perbedaan antar Negara, dalam perdagangan multinasional.
9

IASC didirikan pada tahun 1973 dan beranggotakan anggota organisasi
profesi akuntan dari sepuluh negara. Di tahun 1999, keanggotaan IASC terdiri dari
134 organisasi profesi akuntan dari 104 negara, termasuk Indonesia. Tujuan IASC
adalah (1) merumuskan dan menerbitkan standar akuntansi sehubungan dengan
pelaporan keuangan dan mempromosikannya untuk bisa diterima secara luas di
seluruh dunia, serta (2) bekerja untuk pengembangan dan harmonisasi standar dan
prosedur akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan.
IASC memiliki kelompok konsultatif yang disebut IASC Consultative Group
yang terdiri dari pihak-pihak yang mewakili para pengguna laporan keuangan,
pembuat laporan keuangan, lembaga-lembaga pembuat standar, dan pengamat dari
organisasi antar-pemerintah. Kelompok ini bertemu secara teratur untuk
membicarakan kebijakan, prinsip dan hal-hal yang berkaitan dengan peranan IASC.
IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk
memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap
kurangnya transparansi informasi keuangan.
Tujuan IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keungan interim
perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan
tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang :
1. transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang
peiode yang disajikan.
2. menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan
pada IFRS.
3. dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna
Manfaat dari adanya suatu standard global :
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh
dunia tanpa hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas
10

tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki
efisiensi alokasi lokal
2. investor dapat membuat keputusan yang lebih baik
3. perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan
keputusan mengenai merger dan akuisisi
4. gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat
disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas
tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah besar
perusahaan secara sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan
Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara
keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional. Hal ini
dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional dan pengguna laporan
keuangan lainnya.
Usaha-usaha standard internasional ini dilakukan secara sukarela, saat
standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan
ada masalah, yang menjadi masalah, apabila standard internasional berbeda
dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah
standard nasional (rujukan pertama).
Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun
seiring waktu, Standard internasional telah bergerak maju, dan menekan Negara-
negara yang kontra. Contoh : komisi pasar modal AS, SEC tidak menerima IFRS
sebagai dasar pelaporan keuangan yang diserahkan perusahaan-perusahaan yang
mencatatkan saham pada bursa efek AS, namun SEC berada dalam tekanan yang
makin meningkat untuk membuat pasar modal AS lebih dapat diakses oleh para
pembuat laporan non-AS. SEC telah menyatakan dukungan atas tujuan IASB untuk
mengembangkan standard akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan yang
digunakan dalam penawaran lintas batas.
11

Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa
dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat
adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS,
sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh
alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa tidak,
IFRS ini dalam penjelasannya masih menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita
harus menerjemahkannya kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan
menganutnya. Dengan ini, permasalahannya adalah kita memerlukan banya waktu
untuk menerjemahkan. Serta anggapan bahwa dengan pengubahan ini
menimbulkan biaya yang lumayan besar. Karena inilah pengadopsian IFRS di
Indonesia belum berjalan.
International Financial Reporting Standards (IFRS), merupakan standar
tunggal pelaporan akuntansi yang memberikan penekanan pada penilaian
(revaluation) profesional dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai
substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu.
Standar ini muncul akibat tuntutan globalisasi yang mengharuskan para pelaku
bisnis di suatu negara ikut serta dalam bisnis lintas negara. Untuk itu diperlukan
suatu standar internasional yang berlaku sama di semua negara untuk memudahkan
proses rekonsiliasi bisnis. Perbedaan utama standar internasional ini dengan
standar yang berlaku di Indonesia terletak pada penerapan revaluation model, yaitu
kemungkinan penilaian aset menggunakan nilai wajar, sehingga laporan keuangan
disajikan dengan basis true and fair (IFRS framework paragraph 46). Mengadopsi
IFRS berarti menggunakan bahasa pelaporan keuangan global, yang akan membuat
perusahaan bisa dimengerti oleh pasar dunia (global market).

Indonesia, sebagai suatu negara berkembang pun tidak ketinggalan dalam
mengadopsi IFRS. Adopsi PSAK ke IFRS pun semakin menggaung ketika IAI
mencanangkan konvergensi penuh IFRS ke PSAK pada tahun 2012. Diharapkan,
dengan adanya konvergensi ini dapat memudahkan pemahaman terhadap laporan
keuangan yang dikenal secara internasional serta dapat meningkatkan arus
investasi.

12

Indonesia menganut bentuk yang mengambil IFRS sebagai referensi dalam
sistem akuntansinya. Dengan konvergensi IFRS, PSAK akan bersifat principle-
based dan memerlukan professional judgment, senantiasa peningkatan kompetensi
harus pula diikuti dengan peningkatan integritas. Program konvergensi IFRS ini
dilakukan melalui tiga tahapan yakni tahap adopsi mulai 2008 sampai 2011 dengan
persiapan akhir penyelesaian infrastruktur dan tahap implementasi pada 2012.
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK-IAI) telah menetapkan roadmap.

Menurut Immanuela (2009), Indonesia harus mengadopsi IFRS untuk
memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau
sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan
perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal.

Standar akuntansi yang baru yakni IFRS juga ditujukan untuk menciptakan
suatu regulasi yang dapat memenuhi semua kebutuhan setiap pengguna.
Argumentasi yang umum diajukan terhadap kebijakan akuntansi baru (IFRS) adalah
bahwa banyak fakta yang menyatakan setiap perubahan dalam standar akan
mempengaruhi arti rasio keuangan dan angka keuangan dari setiap aktivitas
keuangan. Menurut Baruch Lev dalam Hendriksen (2005) yang menyatakan bahwa
perubahan standar yang berlaku memiliki pengaruh yang nyata pada operasi
keuangan.

Program konvergensi IFRS tentu akan menimbulkan berbagai dampak terhadap
bisnis antara lain :
1. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan
keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.
2. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak
menggunakan nilai wajar.
3. Di sisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila
harga-harga fluktuatif.

Pengaruh Regulasi atas Profesi Akuntansi
Undang-Undang Akuntan Publik diketuk oleh DPR RI pada tanggal 5 April
2011 dan disahkan Presiden tanggal 3 Mei 2011. Undang-undang tentang Akuntan
13

Publik antara lain mengatur tentang regulator profesi, asosiasi profesi, perizinan, hak
dan kewajiban, tanggung jawab, sanksi, dan lain-lain. Saat ini di Indonesia belum
ada Undang-Undang yang khusus mengatur mengenai Akuntan Publik. UU terakhir
mengenai akuntan adalah UU No. 34 Tahun 1954 tentang Pemakaian Gelar
Akuntan.

Akuntan publik merupakan akuntan yang telah memperoleh izin dari menteri
keuangan untuk memberikan jasanya di Indonesia. Ketentuan yang mengatur
akuntan ini telah tercantum pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5
tahun 2011 tentang Akuntan Publik dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
17/PMK.01/2008 tentang jasa Akuntan Publik. Setiap Akuntan Publik diwajibkan
untuk menjadi anggota dari Ikatan Akuntan Publik Indonesia yang merupakan
organisasi atau asosiasi profesi yang sudah diakui oleh Pemerintah Indonesia.

Untuk mengetahui bagaimana kompetensi seorang Akuntan Publik
terpengaruh atau tidak oleh Implementasi dari IFRS, maka perlu diketahui apa saja
jasa yang ditawarkan oleh Akuntan Publik dalam mengaplikasikan kompetensi yang
dimiliki. Bidang jasa yang ditawarkan oleh Akuntan Publik adalah sebagai berikut :

Jasa atestasi

Yang termasuk dalam jasa ini audit umuum atas laporan keuangan,
pemeriksaan atas laporan keua angan prosfektif, pemeriksaan atas pelaporan
informasi keuangan proforma, review atas laporan keuangan, jasa audit serta
atestasi lainnya.

Jasa non-atestasi.

Yang termasuk didalamnya adalah terkait dengan akuntansi, keuangan
manajemen, kompilasi, perpajakan dan konsultasi.

Kembali ke standar pelaporan keuangan yang kini sudah menjadi keharusan
bagi setiap entitas go publik di Indonesia, IFRS. Berbagai manfaat diperoleh dari
diterapkannya standar ini, diantaranya meningkatkan kualitas, kredibilitas, dan
14

kegunaan laporan keuangan yang tentunya dapat memudahkan pemahaman atas
laporan keuangan. Laporan keuangan dapat dimengerti oleh pembaca laporan dari
negara manapun karena keseragamannya, dan pada akhirnya akan menciptakan
efisiensi dalam penyusunan laporan keuangan dan meningkatkan arus investasi
kedalam dan keluar melalui pelaporan yang diterima secara internasional.

Dengan diberlakukannya peraturan tersebut, maka mau tidak mau, suka tidak
suka, siap tidak siap, semua entitas yang termasuk kedalam entitas go publik harus
menerapkan standar ini didalam menyusun laporan keuangannya. Maka semua
yang terkait dengan penyusunan pelaporan keuangan ini harus memahami apa yang
tercantum dalam IFRS ini.

Seorang Auditor harus terus mengembangkan kompetensi yang dimiliki agar
dapat menjalankan profesinya. Estimasi dan laporan yang dibuat manajemen
perusahaan harus dinilai oleh akuntan publik yang menyediakan jasa audit, oleh
karena itu akuntan publik harus memiliki pemahaman terhadap tujuan dari standar
yang juga menjadi faktor pendorong dalam memberikan penilaian atas laporan dari
manajemen tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan kompetensi terkait degan IFRS
tersebut.

Manfaat dari pengimplementasian IFRS diharapkan akan mengurangi
hambatan-hambatan investasi, meningkatkan transparansi perusahaan, mengurangi
biaya yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan, dan mengurangi cost of
capital. Dan dengan adanya a single set of high-quality, principles-based financial
reporting standards, perlahan tapi pasti kepentingan publik dapat dilayani dengan
baik.

Akuntan Publik juga harus memahami peraturan lain terkait dengan standar
ini, misalnya pajak dan lainnya. Selain itu, Akuntan Publik juga bisa menawarkan
jasa lainnya selain jasa audit. Kebutuhan perusahaan bukan hanya jasa audit,
perusahaan bisa membutuhkan jasa Akuntan Publik yang lainnya. Semakin banyak
yang ditawarkan tentunya semakin banyak pula peluang untuk mengembangkan diri
dan pendapatan pula. Terkait dengan jasa auditnya, Akuntan Publik bisa melakukan
audit perusahaan go public manapun yang ada di Indonesia maupun diluar
15

Indonesia, tentunya ini memperluas pasar bagi akuntan publik dalam memperoleh
klien.

Kompetensi yang dimiliki oleh auditor juga mempengaruhi intuisi yang dimiliki
dalam memberikan penilaian terhadap materialitas dalam laporan keuangan, oleh
karena untuk menunjang ketepatan dari intuisi yang diberikan, auditor harus memiliki
kompetensi. Dengan diberlakukannya standar IFRS ini, maka keharusan bagi setiap
calon akuntan publik untuk memahaminya guna memenuhi permintaan pasar yang
pada kenyataannya terus bertambah, oleh karenanya baik akuntan publik maupun
calon akuntan publik harus mengupdate pengetahuan dan kompetensinya. Selain
itu, independensi seorang akuntan juga jangan dilupakan, karena setinggi apapun
kompetensinya, maka itu tidak akan menyebabkannya mengaudit sebuah laporan
keuangan dnegan tepat dan tentunya sesuai degan peraturan yang berlaku. Kecuali,
bila perusahaan memang menginginkannya untuk menyajikan informasi yang tidak
sebenarnya.

PENUTUP

Kesimpulan
Sasaran konvergensi IFRS yang telah dicanangkan IAI pada tahun 2012
adalah merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan IFRS versi 1 Januari
2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012," demikian disampaikan Ketua DSAK IAI
Rosita Uli Sinaga pada Public Hearing Eksposure Draft PSAK 1 (Revisi 2009)
tentang Penyajian Laporan Keuangan, di Jakarta Kamis 20 Agustus 2009 lalu.
Akuntan Publik diharapkan dapat segera mengupdate pengetahuannya
sehubungan dengan perubahan SAK, mengupdate SPAP dan menyesuaikan
pendekatan audit yang berbasis IFRS. Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat
mengantisipasi dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang
bertugas mengupdate pengetahuan Akuntan Manajeman, melakukan gap analysis
dan menyusun road map konvergensi IFRS serta berkoordinasi dengan proyek
lainnya untuk optimalisasi sumber daya.
16

Regulator perlu melakukan penyesuaian regulasi yang perlu terkait dengan
pelaporan keuangan dan perpajakan serta melakukan upaya pembinaan dan
supervisi terhadap profesi yang terkait dengan pelaporan keuangan seperti penilai
dan aktuaris. Asosiasi Industri diharap dapat menyusun Pedoman Akuntansi Industri
yang sesuai dengan perkembangan SAK, membentuk forum diskusi yang secara
intensif membahas berbagai isu sehubungan dengan dampak penerapan SAK dan
secara proaktif memberikan input/komentar kepada DSAK IAI.
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di
Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi
keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan
Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan
standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.
Manfaat dari pengimplementasian IFRS diharapkan akan mengurangi hambatan-
hambatan investasi, meningkatkan transparansi perusahaan, mengurangi biaya
yang terkait dengan penyusunan laporan keuangan, dan mengurangi cost of capital.
Dan dengan adanya a single set of high-quality, principles-based financial reporting
standards, perlahan tapi pasti kepentingan publik dapat dilayani dengan baik.















17

DAFTAR PUSTAKA

IAI, Prosiding Konvensi Nasional Akutansi ke-3 Profesi Akuntan Indonesia menuju
Milenium Baru 1996 atau prosiding terbaru

Theodorus M. Tuanakotta : Setengah Abad Profesi Akutansi, Salemba Empat, 2007

Financial Accounting Standard Board, Statement of Financial Accounting Concept.

Fumasa, Ilma Hudalina dan Raisa. 2012. "ISU-ISU KONTEMPORER".
MAKALAH: Pelaporan dan Akuntansi Keuangan. Program Pendidikan Profesi
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.

Mustaip, Liana. 2012. "PENGARUH IMPLEMENTASI IFRS TERHADAP
KOMPETENSI AKUNTAN PUBLIK". Skripsi. Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Mataram.
http://theinspiringblog.blogspot.com/2011/02/konvergensi-ifrs-international.html
http://www.iaiglobal.or.id/berita/detail.php?catid=&id=84
http://gieliciousblog.blogspot.com/