Anda di halaman 1dari 44

PERENCANAAN ANGGARAN

DAERAH

1. DISUSUN SESUAI DENGAN KEWENANGAN DAERAH
SEBAGAI SATU KESATUAN DALAM SISTEM
PERENCANAAN NASIONAL
2. JANGKA PANJANG, JANGKA MENENGAH, DAN
JANGKA PENDEK (TAHUNAN)
3. MENJAMIN KETERKAITAN DAN KONSISTENSI ANTARA
PERENCANAAN & PENGANGGARAN, PELAKSANAAN,
EVALUASI DAN PENGENDALIAN





1. RPJPD = 20 tahun
2. RENSTRADA = RPJMD = 5
tahun
3. RENSTRA SKPD = 5 tahun
4. RKPD = 1 tahun
5. RKSKPD = 1 tahun
LINGKUP PERENCANAAN DAERAH


PENJABARAN TUJUAN
NASIONAL KE DALAM

VISI
MISI
ARAH KEBIJAKAN




PENJABARAN MENGACU
PADA RPJP NASIONAL :
VISI
MISI
ARAH KEBIJAKAN

RENCANA JANGKA PANJANG
NASIONAL DAERAH


PENJABARAN VISI,
MISI, PROGRAM
PRESIDEN (
BERPEDOMAN RPJP
NASIONAL) :

VISI
MISI
ARAH KEBIJAKAN



PENJABARAN VISI, MISI,
PROGRAM KDH
(BERPEDOMAN RPJP
DAERAH & RENSTRADA):

VISI
MISI
ARAH KEBIJAKAN

RENCANA JANGKA MENENGAH
NASIONAL DAERAH


BERPEDOMAN PADA
RPJM NASIONAL :

VISI-MISI
TUJUAN, STRATEGI DAN
KEBIJAKAN
PROGRAM-PROGRAM
KEGIATAN INDIKATIF


BERPEDOMAN PADA
RENSTRADA :

VISI-MISI
TUJUAN, STRATEGI DAN
KEBIJAKAN
PROGRAM-PROGRAM
KEGIATAN INDIKATIF
RENSTRA-KL RENSTRA SKPD
RENCANA STRATEGIS
V I S I

MERUPAKAN RUMUSAN UMUM KEADAAN YANG DIINGINKAN
PADA AKHIR PERIODE PERENCANAAN
PANDANG JAUH KEDEPAN KEMANA ORGANISASI ITU HARUS
DIBAWA AGAR DAPAT EKSIS, ANTISIPATIF, DAN INOVATIF.
MEMBERIKAN GAMBARAN YANG MENANTANG TENTANG
KEADAAN MASA DEPAN YANG DIINGINKAN
VISI DARI SATUAN ORGANISASI HARUSLAH VISI BERSAMA
YANG MAMPU MENARIK, MENGGERAKKAN ANGGOTA
ORGANISASINYA UNTUK KOMIT TERHADAP VISI TSB
STRATEGI
MERUPAKAN LANGKAH-LANGKAH
BERISIKAN PROGRAM-PROGRAM YANG
INDIKATIF UNTUK MEWUJUDKAN VISI
DAN MISI

CONTOH :
MENINGKATKAN PELAYANAN KESEHATAN YG
BEMUTU DAN MENJANGKAU SELURUH LAPISAN
MASYARAKAT KABUPATEN X

KEBIJAKAN
MERUPAKAN ARAH/TINDAKAN YANG
DIAMBIL OLEH PEMERINTAH DAERAH
UNTUK MEWUJUDKAN VISI DAN MISI

CONTOH :
KEBIJAKAN PENINGKATAN SDM
BIDANG KESEHATAN YANG
BERKUALITAS DAN TRAMPIL
PROGRAM
INSTRUMEN KEBIJAKAN YANG BERISI SATU
ATAU LEBIH KEGIATAN YANG
DILAKSANAKAN OLEH
ORGANISASI/SATUAN KERJA PERANGKAT
DAERAH UNTUK MENCAPAI SASARAN DAN
TUJUAN SERTA MEMPEROLEH ALOKASI
ANGGARAN ATAU KEGIATAN MASYARAKAT


CONTOH :

FUNGSI KESEHATAN

PENINGKATAN KUALITAS DAN KETRAMPILAN
TENAGA MEDIS DI PUSKESMAS/PUSTU/POLINDES/
PUSKESMAS RAWAT INAP
KEGIATAN
MERUPAKAN PENJABARAN DARI SUATU PROGRAM
TINDAKAN YANG DILAKSANAKAN SESUAI DENGAN
PROGRAM YANG DIRENCANAKAN UNTUK
MEMPEROLEH KELUARAN (OUTPUT), DAN HASIL
TERTENTU (OUTCOME) YANG DIINGINKAN DENGAN
MEMANFAATKAN SUMBERDAYA YANG TERSEDIA
(SDM, DANA, PERALATAN/TEKNOLOGI)
CONTOH :
PELATIHAN MANAJEMEN PUSKESMAS
PELATIHAN BAGI PARA BIDAN DAN TENAGA MEDIS DI
PUSKESMAS/PUSTU/POLINDES
PELAYANAN IMUNISASI TERHADAP PENYAKIT MENULAR
PELATIHAN TENAGA PENYULUH KESEHATAN
PENGERTIAN
KEBIJAKAN UMUM APBD
SASARAN DAN KEBIJAKAN DAERAH DALAM
SATU TAHUN ANGGARAN YANG MENJADI
PETUNJUK DAN KETENTUAN UMUM YANG
DISEPAKATI SEBAGAI PEDOMAN
PENYUSUNAN R-APBD DAN RP-APBD
PRIORITAS
Prioritas adalah suatu upaya mengutamakan
sesuatu daripada yang lain.
Prioritas merupakan proses dinamis dalam
pembuatan keputusan yang saat ini dinilai
paling penting dengan dukungan komitmen
untuk melaksanakan keputusan tersebut.
Penetapan prioritas tidak hanya mencakup
keputusan apa yang penting untuk dilakukan,
tetapi juga menentukan skala atau peringkat
wewenang/urusan/fungsi atau program dalam
fungsi-fungsi yang harus dilakukan lebih dahulu
dibandingkan program atau kegiatan yang lain.


TUJUAN
PRIORITAS
Terpenuhinya skala dan lingkup kebutuhan
masyarakat yang dianggap paling penting dan
paling luas jangkauannya, agar alokasi sumber-
sumber dapat dilakukan secara ekonomis,
efisien dan efektif, mengurangi tingkat risiko
dan ketidakpastian, tersusunnya program atau
kegiatan yang lebih realistis.
PLAFON ANGGARAN SEMENTARA
Plafon anggaran sementara adalah jumlah rupiah
batas tertinggi yang dapat dianggarkan oleh tiap-tiap
fungsi dan atau tiap-tiap satuan kerja perangkat
daerah

Plafon anggaran yang disepakati oleh Pemerintah
Daerah dengan DPRD bersifat sementara dalam arti
bahwa plafon anggaran harus ditindaklanjuti dengan
Peraturan Kepala Daerah agar dapat dijadikan
pedoman dalam penyusunan rencana anggaran
satuan kerja perangkat daerah

RENSTRADA/DOKUMEN
PERENCANAAN DRH LAINNYA


ARAH & KEBIJAKAN UMUM APBD
STRATEGI & PRIORITAS APBD

RASK
RAPBD
APBD
PENJABARAN APBD
DASK



RPJPD
RENSTRADA
RKPD
KU APBD
PRIORITAS DAN PLAFON
ANGGARAN SEMENTARA
RKA SKPD
RAPBD
APBD
PENJABARAN APBD
DPASKPD



KEPMENDAGRI No. 29/2002 PENYEMPURNAAN
DOKUMEN
STRUKTUR APBD
PENDAPATAN

BELANJA
Belanja Tidak Langsung
Belanja Langsung

Surplus/(Defisit)



PEMBIAYAAN
Penerimaan
Pengeluaran
Pembiayaan Neto

SILPA




(-)
(-)
(-)
STRUKTUR PENDAPATAN
A. Pendapatan Asli Daerah:
1. Hasil Pajak Daerah
2. Hasil Retribusi Derah
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
4. Lain-lain PAD yang sah

B. Dana Perimbangan :
1. Dana Bagi Hasil
2. Dana Alokasi Umum
3. Dana Alokasi Khusus

C. Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah :
1. Dana Darurat dari Pemerintah
2. Hibah
3. Bantuan Keuangan
4. Bagi hasil dari Provinsi

STRUKTUR BELANJA
A.Belanja Tidak Langsung:
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang dan Jasa
3. Belanja Bunga
4. Belanja Subsidi
5. Belanja Hibah
6. Belanja Bagi Hasil
7. Belanja Bantuan Keuangan
8. Belanja Tidak Tersangka

B.Belanja Langsung:
1. Belanja Pegawai
2. Belanja Barang dan Jasa
3. Belanja Modal
STRUKTUR PEMBIAYAAN
A. Penerimaan Pembiayaan:
1. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu
2. Transfer dari Rekening Dana Cadangan
3. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
4. Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah
5. Penerimaan Piutang Daerah
B. Pengeluaran Pembiayaan:
1. Pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo
2. Pembelian kembali obligasi daerah
3. Penyertaan modal (investasi) daerah
4. Pemberian piutang daerah
5. Transfer ke rekening dana cadangan
Pembiayaan neto
PENDAPATAN DAERAH
1. semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.
2. berasal dari PAD, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah
yang sah.
a. PAD berasal dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD
yang sah.
b. dana perimbangan berasal dari dana bagi hasil, DAU, dan DAK.
c. lain-lain pendapatan daerah yang sah dapat bersumber dari:
dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan
korban/kerusakan akibat bencana alam;
hibah, dapat berasal dari pemerintah, pemerintah kab/kota di
wilayah provinsi, kab/kota di luar wilayah provinsi, pemerintah
provinsi dan/atau provinsi lainnya, dari perusahaan daerah/BUMD,
dari perusahaan negara/BUMN atau dari masyarakat.
bantuan keuangan dari kabupaten/kota di wilayah provinsi,
bantuan keuangan dari prov/kab/kota lainnya di luar wilayah
provinsi.
disusun menurut fungsi, organisasi, program dan kegiatan
serta jenis belanja

menurut fungsi disusun berdasarkan penyelenggaraan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah

menurut organisasi disusun berdasarkan SKPD yang
bertanggungjawab melaksanakan fungsi tersebut dan
bertindak sebagai pusat-pusat pertanggungjawaban
uang/barang

menurut program dan kegiatan disusun sesuai dengan
kebutuhan dalam rangka melaksanakan fungsi pemerintahan
daerah yang menjadi tanggungjawab SKPD

menurut jenis disusun sesuai dengan kebutuhan SKPD


BELANJA DAERAH
KEPMENDAGRI 29/2002 PENYEMPURNAAN
1. Adm Umum Pemerintahan
2. Pertanian
3. Perikanan & Kelautan
4. Pertambangan & Energi
5. Kehutanan & Perkebunan
6. Perindustrian & Perdagangan
7. Perkoperasian
8. Penanaman Modal
9. Ketenagakerjaan
10. Kesehatan
11. Pendidikan & Kebudayaan
12. Sosial
13. Penataan Ruang
14. Pemukiman
15. Pekerjaan Umum
16. Perhubungan
17. Lingkungan Hidup
18. Kependudukan
19. Olah Raga
20. Kepariwisataan
21. Pertanahan
BIDANG KEWENANGAN
FUNGSI
1. Pelayanan Umum
Pemerintahan
2. Ketertiban dan Keamanan
3. Ekonomi
4. Lingkungan Hidup
5. Perumahan dan Fasilitas
Umum
6. Kesehatan
7. Pariwisata dan Budaya
8. Pendidikan
9. Perlindungan Sosial
FUNGSI
Pengklasifikasian Fungsi dan Organisasi:
(Psl 16 Ayat 4 UU No 17/2003 dan Psl 21 & Psl 22 UU 32/2004)
1. Pelayanan Umum Pemerintahan:
1.1. DPRD dan SETWAN
1.2. KDH&wkdh
1.3. SETDA
1.4. BAPEDA
1.5. DISPENDA
1.6. BANDIKLAT
1.7. BALITBANG
1.8. KPDE
2. Ketertiban dan Keamanan:
2.1 Dinas Tramtib
2.2 Kesbang Linmas
2.3. Satpol PP
3. Ekonomi:
3.1 DINPERINDAG
3.2. BPMD
3.3. DINTAMB
3.4. Dinas Koperasi
3.5. Dinas Peternakan
3.6. Dinas Pertanian
3.7. Dinas Kehutanan
3.8. Dinas Perkebunan
3.9. Dinas Perikanan dan Kelautan
3.10. Dinas Perhubungan
3.11 Dinas Tenaga Kerja
4. Lingkungan Hidup
4.1 Bapedalda
4.2. Dinas Tata Ruang
4.3. Dinas Pertanahan
5. Perumahan dan Fasilitas
Umum
5.1. Dinas Perumahan
5.2. Dinas Tata Kota
5.3. Dinas Pemakaman
5.4. Dinas Pemadam
Kebakaran
5.5. Dinas Pertamanan
5.6. Dinas Kebersihan
6. Kesehatan
6.1. Dinas Kesehatan
6.2. RSUD
6.3 Puskesmas
7. Pariwisata dan Budaya
7.1. Dinas Pariwisata
7.2. Dinas Pemuda dan
Olahraga
7.3. Museum
7.4. Kebun Binatang



8. Pendidikan :
8.1. Dinas Pendidikan
8.2. SD/Madrasah Ibtidaiyah
8.3. SLTP/Madrasah
Tsanawiyah/Kejuruan
8.4. SMU/Madrasah
Aliyah/ Kejuruan
9. Perlindungan Sosial :
9.1. Dinas Kependudukan
9.2. Dinas Transmigrasi
9.3. BKKB
9.4. Dinas Sosial/Kesra
9.5. Panti Asuhan Pemda




KELOMPOK BELANJA
1. Belanja Tidak Langsung :
merupakan belanja yang tidak dipengaruhi secara
langsung oleh ada tidaknya program dan kegiatan
satuan kerja perangkat daerah yang pengaruh
kontribusinya terhadap prestasi kerja sukar diukur.

2. Belanja Langsung :
merupakan belanja yang dipengaruhi secara
langsung oleh adanya program dan kegiatan satuan
kerja perangkat daerah yang kontribusinya
terhadap pencapaian prestasi kerja dapat diukur.
SURPLUS/(DEFISIT) APBD
merupakan selisih antara anggaran pendapatan daerah dan anggaran
belanja daerah
surplus anggaran terjadi bila anggaran pendapatan daerah
diperkirakan lebih besar dari anggaran belanja daerah
surplus, dapat dimanfaatkan untuk pembayaran cicilan pokok utang
yang jatuh tempo, pembelian kembali obligasi daerah, penyertaan
modal (investasi) daerah, pemberian pinjaman daerah, transfer ke
rekening dana cadangan dan dianggarkan pada pengeluaran
pembiayaan
defisit anggaran terjadi bila anggaran pendapatan daerah
diperkirakan lebih kecil dari anggaran belanja daerah
apabila defisit, ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk
menutup defisit, meliputi sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu,
transfer dari rekening dana cadangan, hasil penjualan kekayaan
daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah dan obligasi
daerah, penerimaan piutang daerah dan dianggarkan pada
penerimaan pembiayaan.



BAGAN KODE
kode rekening jenis
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode rekening anggaran
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode bidang
pemerintahan
kode unit organisasi
kode rekening obyek
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode rekening rincian
obyek pendapatan,
belanja & pembiayaan
kode rekening bagian
belanja
X XX XX XX XX XX XX X
kode kegiatan
kode rekening anggaran
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode fungsi
kode organisasi
kode program
kode rekening kelompok
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode rekening jenis
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode rekening obyek
pendapatan, belanja &
pembiayaan
kode rekening rincian
obyek pendapatan,
belanja & pembiayaan
X XX XX XX XX XX XX XX XX
KEPMENDAGRI 29/2002 PENYEMPURNAAN
kode rekening kelompok
pendapatan, belanja &
pembiayaan
JENIS DAN KELOMPOK BELANJA
KEPMENDAGRI 29/2002
PENYEMPURNAAN
BELANJA ADMINISTRASI UMUM
BELANJA TIDAK LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG DAN JASA
BELANJA PERJALANAN DINAS
BELANJA PEMELIHARAAN *)
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG DAN JASA
BELANJA BUNGA
BELANJA SUBSIDI
BELANJA HIBAH
BELANJA BANTUAN SOSIAL
BELANJA BAGI HASIL
BELANJA TIDAK TERSANGKA
BELANJA OPERASI & PEMELIHARAAN
BELANJA LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI

BELANJA BARANG DAN JASA

BELANJA MODAL
BELANJA MODAL
BELANJA BAGI HASIL & BANTUAN KEU
BELANJA TIDAK TERSANGKA
BELANJA PEMELIHARAAN *)
BELANJA PERJALANAN DINAS
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG DAN JASA
KEGIATAN
*) Jenis belanja pemeliharaan menjadi kegiatan yang didanai belanja
langsung
BUNGA
Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah
(RKA SKPD)
Kode Nama Formulir
RKA SKPD
Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan
Satuan Kerja Perangkat Daerah
RKA SKPD 1
Rincian Anggaran Pendapatan Satuan Kerja Perangkat
Daerah
RKA SKPD 2.1
Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung Satuan Kerja
Perangkat Daerah
RKA SKPD 2.2.1
Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan
Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah
RKA SKPD 2.2
Rekapitulasi Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut
Program dan Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah
RKA SKPD 3.1 Rincian Penerimaan Pembiayaan Daerah
RKA SKPD 3.2 Rincian Pengeluaran Pembiayaan Daerah
ALUR PENGERJAAN RKA SKPD
RKA SKPD
RKA SKPD 3.2
RKA SKPD 3.1
RKA SKPD 2.1
RKA SKPD 2.2
RKA SKPD 1
RKA SKPD 5
RKA SKPD 5
RKA SKPD 5
RKA SKPD 2.2.1

RKA SKPD

Formulir RKA SKPD merupakan formulir ringkasan anggaran satuan kerja
perangkat Daerah yang sumber datanya berasal dari peringkasan jumlah
pendapatan menurut kelompok dan jenis yang diisi dalam formulir RKA SKPD
1, jumlah belanja tidak langsung menurut kelompok dan jenis belanja yang diisi
dalam formulir RKA SKPD 2.1, dan penggabungan dari seluruh jumlah
kelompok dan jenis belanja langsung yang diisi dalam setiap formulir RKA
SKPD 2.2.1.

Apabila satuan kerja pengelola keuangan daerah merupakan bagian dari unit
kerja sekretariat daerah maka dalam formulir RKA SKPD sekretariat daerah
setelah surplus dan defisit anggaran diuraikan kembali penerimaan dan
pengeluaran pembiayaan sebagaimana tercantum dalam formulir RKA SKPD
3.1 dan formulir RKA SKPD 3.2. Sebaliknya dalam hal satuan kerja pengelola
keuangan daerah bukan merupakan bagian dari unit kerja sekretariat daerah
maka ringkasan mengenai penerimaan dan pengeluaran pembiayaan
sebagaimana tercantum dalam formulir RKA SKPD 3.1 dan formulir RKA SKPD
3.2 diuraikan kembali dalam formulir RKA SKPD satuan kerja pengelola
keuangan daerah, setelah surplus dan defisit anggaran.
RINGKASAN ANGGARAN
PENDAPATAN, BELANJA DAN
PEMBIAYAAN SATUAN KERJA
PERANGKAT DAERAH

RKA SKPD 1

Formulir RKA SKPD 1 sebagai formulir untuk menyusun rencana pendapatan
atau penerimaan satuan kerja perangkat daerah dalam tahun anggaran yang
direncanakan. Oleh karena itu nomor kode rekening dan uraian nama
kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek pendapatan yang dicantumkan dalam
formulir RKA SKPD 1 disesuaikan dengan pendapatan tertentu yang akan
dipungut atau penerimaan tertentu dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
satuan kerja perangkat daerah sebagaimanana ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangangan.
Pengisian formulir RKA SKPD 1 supaya mempedomani ketentuan Pasal 64
peraturan ini. Untuk memenuhi azas tranparansi dan prinsip anggaran
berdasarkan rencana pendapatan yang dianggarkan, pengisian rincian
penghitungan tidak diperkenankan mencantumkan satuan ukuran yang tidak
terukur, seperti paket, pm, up, lumpsum.
RINCIAN ANGGARAN
PENDAPATAN SATUAN KERJA
PERANGKAT DAERAH

RKA SKPD 2.1

Formulir RKA SKPD 2.1 merupakan formulir untuk menyusun rencana
kebutuhan belanja tidak langsung satuan kerja perangkat daerah dalam
tahun anggaran yang direncanakan. Pengisian jenis belanja tidak
langsung supaya mempedomani ketentuan Pasal 27 dan 65 peraturan
ini. Untuk memenuhi azas tranparansi dan prinsip anggaran
berdasarkan prestasi kerja, pengisian rincian penghitungan tidak
diperkenankan mencantumkan satuan ukuran yang tidak terukur,
seperti paket, pm, up, lumpsum.
Rincian Anggaran Belanja Tidak
Langsung Satuan Kerja
Perangkat Daerah

RKA SKPD 2.2.1

Rincian Belanja Langsung
menurut Program dan per
Kegiatan Satuan Kerja
Perangkat Daerah
Formulir RKA SKPD 2.2.1 digunakan untuk merencanakan belanja langsung
dari setiap kegiatan yang diprogramkan. Dengan demikian apabila dalam 1
(satu) program terdapat 1 (satu) atau lebih kegiatan maka setiap kegiatan
dituangkan dalam formulir RKA SKPD 2.2.1 masing-masing. Pengisian jenis
belanja langsung supaya mempedomani ketentuan Pasal 28 dan 65 ayat (3)
peraturan ini.

Untuk memenuhi azas tranparansi dan prinsip anggaran berdasarkan prestasi
kerja, pengisian rincian penghitungan tidak diperkenankan mencantumkan
satuan ukuran yang tidak terukur, seperti paket, pm, up, lumpsum.

RKA SKPD 2.2

Rekapitulasi Belanja
Langsung menurut
Program dan Kegiatan
Satuan Kerja Perangkat
Daerah
Formulir RKA SKPD 2.2 merupakan formulir rekapitulasi dari seluruh
program dan kegiatan satuan kerja perangkat daerah yang dikutip dari
setiap formulir RKA SKPD 2.2.1 (Rincian Belanja Langsung Program Dan
Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah).

Kolom 9 (jumlah Tahun n+1) diisi dengan jumlah menurut program dan
kegiatan yang akan dilaksanakan 1 tahun berikutnya dari tahun yang
direncanakan. Kolom ini diisi apabila program dan kegiatan tersebut
diselesaikan lebih dari satu tahun. Dalam hal program dan kegiatan tersebut
dalam tahun yang direncanakan merupakan tahun terakhir maka kolom 7
tidak perlu diisi.

RKA SKPD 3.1

Rincian Penerimaan
Pembiayaan
Formulir ini tidak diisi oleh satuan kerja perangkat daerah lainnya,
kecuali oleh sekretariat daerah apabila satuan kerja pengelola
keuangan daerah merupakan bagian dari unit kerja sekretariat daerah.

Dalam hal satuan kerja pengelola keuangan daerah bukan merupakan
bagian dari unit kerja sekretariat daerah, maka pengerjaan dilakukan
oleh satuan kerja pengelola keuangan daerah.

RKA SKPD 3.2

Rincian Pengeluaran
Pembiayaan
Formulir ini tidak diisi oleh satuan kerja perangkat daerah lainnya,
kecuali oleh sekretariat daerah apabila satuan kerja pengelola
keuangan daerah merupakan bagian dari unit kerja sekretariat daerah.

Dalam hal satuan kerja pengelola keuangan daerah bukan merupakan
bagian dari unit kerja sekretariat daerah, maka pengerjaan dilakukan
oleh satuan kerja pengelola keuangan daerah.

LAMPIRAN RAPERDA TENTANG APBD
1. ringkasan APBD;
2. ringkasan APBD menurut fungsi dan organisasi;
3. rincian APBD menurut fungsi, organisasi, pendapatan, belanja
dan pembiayaan;
4. rekapitulasi belanja langsung menurut fungsi, organisasi,
program dan kegiatan;
5. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan;
6. daftar piutang daerah;
7. daftar penyertaan modal (investasi) daerah
8. daftar aset tetap daerah;
9. daftar dana cadangan daerah; dan
10. daftar pinjaman daerah;


LAMPIRAN PERATURAN KDH
tentang PENJABARAN APBD
1. ringkasan penjabaran anggaran
pendapatan daerah, belanja daerah dan
pembiayaan daerah; dan
2. penjabaran APBD menurut fungsi,
organisasi, program, kegiatan, kelompok,
jenis, obyek, rincian obyek pendapatan,
belanja dan pembiayaan.
EVALUASI RAPERDA APBD DAN
PERATURAN KDH PENJABARAN APBD
RAPERDA APBD YANG TELAH DISETUJUI
BERSAMA DPRD PALING LAMA 3 HARI
SETELAH TANGGAL PERSETUJUAN, DAN
RANCANGAN PERATURAN KDH PENJABARAN
APBD SEBELUM DITETAPKAN OLEH
GUBERNUR (BUPATI/ WALIKOTA)
DISAMPAIKAN KEPADA MENDAGRI/
GUBERNUR UNTUK DIEVALUASI.

MENDAGRI/GUBERNUR MENYATAKAN HASIL
EVALUASI PALING LAMBAT 15 HARI
TERHITUNG SEJAK KEDUA RANCANGAN
TERSEBUT DITERIMA.

BILA HASIL EVALUASI RANCANGAN TERSEBUT
DINYATAKAN BERTENTANGAN DENGAN
KEPENTINGAN UMUM DAN PERATURAN
PERUNDANGAN-UNDANGAN, KDH DPRD BERSAMA
MELAKUKAN PENYEMPURNAAN PALING LAMA 7
HARI SETELAH DITERIMA PERNYATAAN
TERSEBUT.

MENDAGRI/GUBERNUR BERHAK MEMBATALKAN
RAPERDA DAN PERATURAN KDH TERSEBUT, DAN
MENYATAKAN MELAKSANAKAN APBD
BERDASARKAN PAGU TAHUN SEBELUMNYA

GUBERNUR MENYAMPAIKAN HASIL EVALUASI
KEPADA MENDAGRI

PERUBAHAN APBD

PERUBAHAN APBD DAPAT DILAKUKAN BILA:
PERKEMBANGAN TIDAK SESUAI DENGAN ASUMSI UMUM
APBD
KEADAAN YANG MENYEBABKAN PERGESERAN
ANGGARAN ANTAR ORGANISASI, KEGIATAN, JENIS
BELANJA
KEADAAN YANG MENYEBABKAN SISA LEBIH ANGGARAN
TAHUN LALU HARUS DIGUNAKAN UNTUK PEMBIAYAAN
DALAM TAHUN ANGGARAN BERJALAN
PENETAPAN PERDA PERUBAHAN APBD PALING LAMBAT 3
BULAN SEBELUM TAHUN ANGGARAN BERAKHIR.




PERUBAHAN ANGGARAN SKPD

1. DALAM KEADAAN MENDESAK PELAKSANAAN PERUBAHAN APBD
UNTUK MENDANAI KEGIATAN TERTENTU DAPAT DILAKUKAN
MENDAHULUI PENETAPAN PERDA PERUBAHAN APBD,
SEPANJANG MEMPEROLEH PERSETUJUAN DPRD.
2. PERSETUJUAN DPRD DIKECUALIKAN UNTUK MENANGGULANGI
KEADAAN DARURAT, SEPERTI BENCANA ALAM/SOSIAL.
3. DPA SKPD YANG MENGALAMI PERUBAHAN AKIBAT DARI
ANGKA 1 & 2 DITUANGKAN KEMBALI DALAM DPA SKPD
SEBAGAI DASAR PELAKSANAAN.
4. KEGIATAN-KEGIATAN BARU UNTUK DITAMPUNG DALAM
PERUBAHAN APBD DITUANGKAN DALAM RKA SKPD.





NO JENIS KEGIATAN WAKTU
1
Penyusunan RKPD
s/d Maret
2
Penyusunan Kebijakan Umum APBD
Juni
3
Penyampaian Kebijakan Umum APBD kpd DPRD
Medio Juni
4
Pembahasan Kebijakan Umum APBD PPAS dgn DPRD
Akhir Juni s/d Medio Juli
5
Penyusunan RKA SKPD
Akhir Juli s/d Mg IV Agustus
6
Evaluasi RKA SKPD oleh Tim Anggaran Eksekutif Daerah
Mg I September
7
Penyusunan Raperda APBD & Raper KDH ttg Penjabaran APBD
Mg II - III September
8
Penyebarluasan Raperda ttg APBD kpd masyarakat
Mg IV September
9
Pengajuan Raperda tentang APBD kpd DPRD
Minggu I Oktober
10
Pembahasan Raperda APBD & persetujuan bersama DPRD
Mg I IV November
11
Penyampaian Raperda APBD & Raper KDH ttg Penjabaran APBD u/
dievaluasi
(3 hari)
12
Evaluasi Raperda APBD dan Raper KDH tentang Penjabaran APBD
(15 hari)
13
Penyempurnaan hasil evaluasi
(7 hari)
14
Pengesahan Raperda APBD
Minggu IV Desember
JADWAL PERENCANAAN PROGRAM DAN PENGANGGARAN DAERAH

Beri Nilai