Anda di halaman 1dari 51

TINJAUAN DAN MANFAAT EKONOMI INDUSTRI TAMBANG

I. Pendahuluan

Lokasi Indonesia yang terletak pada 3 tumbukan (konvergensi) lempeng kerak bumi, yakni lempeng
Benua Eurasia, lempeng Benua India-Australia dan lempeng Samudra Pasifik melahirkan suatu
struktur geologi yang memiliki kekayaan potensi pertambangan yang telah diakui di dunia.
Namun, potensi yang sangat tinggi ini masih belum tergali secara optimal. Disamping itu, tingkat
investasi di sektor ini relatif rendah dan menunjukkan kecenderungan menurun akibat terhentinya
kegiatan eksplorasi di berbagai kegiatan pertambangan. Menurut studi yang dilakukan Fraser
Institute dalam Annual Survey of Mining Companies (December 2002), iklim investasi sektor
pertambangan di Indonesia tidak cukup menggairahkan. Banyak kalangan menghawatirkan bahwa
dengan kondisi seperti ini maka masa depan, industri ekstraktif khususnya pertambangan di
Indonesia akan segera berakhir dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Kondisi ini patut disayangkan
karena industri ini memberikan sumbangan yang cukup besar bagi perekonomian nasional maupun
daerah. Dampak ekonomi dari keberadaan industri pertambangan antar lain penciptaan output,
penciptaan tenaga kerja, menghasilkan devisa dan memberikan kontribusi fiskal. Pada makalah ini
akan dibahas mengenai gambaran kondisi pertambangan mineral, iklim investasi pertambangan,
tinjauan manfaat ekonomi kegiatan pertambangan, permasalahan yang dihadapi industri
pertambangan dan rekomendasi kebijakan.
------------------------------
1 Tulisan ini merupakan kontribusi dari Uka Wikarya, Khoirunnurofiq, Syarif Syahrial, Teguh
Dartanto, Nuzul Achjar, Yogi Vidyatama, Hera Susanti, M. Ikhsan, M. Chatib Basri, Ibrahim K.R.H.,
Tim Peneliti Proyek PT.Inco, Tim Peneliti Proyek PT.FI, Tim Peneliti Proyek PT.KPC, Tim Road Map
Pertambangan.

II. Gambaran Iklim Pertambangan di Indonesia

Indonesia berada di sabuk mineral (Rim of Fire) dengan potensi mineral yang tinggi. Dan jika
dibandingkan dengan negara lain di Asia, Indonesia memimpin dalam produksi tembaga, emas,
perak, nikel, timah dan batu bara. Berdasarkan hasil Survey Pertambangan Indonesia yang
dilakukan oleh PWC (Price Waterhouse Coopers) tahun 2002, diperoleh gambaran bahwa dalam
kurun waktu 1997 sampai 2001, secara umum produksi pertambangan Indonesia mengalami
kenaikan, walaupun untuk beberapa mineral sempat mengalami penurunan, seperti emas pada
tahun 2000 serta perak dan timah pada tahun 1999. Persentase produksi Indonesia terhadap
produksi dunia juga meningkat untuk semua kelompok mineral kecuali untuk batubara yang
mengalami penurunan sejak tahun 2000 (PWC,2002).

Potensi pertambangan belum tergali secara optimal yang terlihat dengan masih rendahnya peranan
sektor pertambangan dalam PDB Indonesia. Rendahnya peranan sektor pertambangan saat
ini diperparah dengan memburuknya tingkat investasi sektor pertambangan yang akan
membahayakan keberlangsungan sektor pertambangan di masa depan. Tingkat produksi sektor
pertambangan di Indonesia memiliki kecenderungan yang berbeda-beda tergantung jenis
pertambangannya. ini, tidak ditemukan adanya investasi baru di sektor pertambangan baik untuk
eksplorasi baru maupun perluasan usaha. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Price
Waterhouse Cooper mensinyalir bahwa penurunan yang signifikan dalam investasi tersebut sebagian
mencerminkan kekurangpercayaan investor karena berlanjutnya ketidakstabilan politik dan
ekonomi di Indonesia serta ketidakpastian sekitar pemberlakuan undang-undang pertambangan yang
baru, undang-undang kehutanan, dampak otonomi daerah dan bentuk serta isi kontrak
pertambangan generasi berikutnya.
Jika dibandingkan dengan tingkat investasi pertambangan di negara lain, akan terlihat bahwa
investasi baru sektor pertambangan di Indonesia berada pada level bawah dibandingkan dengan
negara lain yang memiliki potensi tambang yang sama. Fakta memperlihatkan bahwa tingkat
investasi eksplorasi Indonesia relatif memiliki nilai yang rendah terutama jika dibandingkan dengan
potensi yang dimilikinya. Nilai investasi Indonesia tersebut bahkan lebih rendah dari Afrika Selatan
dan Namibia yang notabene memiliki potensi pertambangan yang lebih rendah dibandingkan dengan
Indonesia. Sektor pertambangan Indonesia sendiri memiliki prospek pengembangan yang sangat
besar pada masa yang akan datang terutama dikaitkan dengan potensi pertambangan yang ada.

Potensi pertambangan Indonesia ini secara umum digambarkan oleh nilai Revealed Comparative
Advantage (RCA) yang tinggi. Namun, hasil penelitian yang dilakukan oleh Fraser Institute
memperlihatkan bahwa potensi yang sangat besar ini tidak didukung dengan efektivitas kebijakan
pemerintah yang mendukung perkembangan sektor pertambangan di Indonesia. Hingga tahun 2002,
terjadi kecenderungan peningkatan kegiatan produksi sektor pertambangan. Namun, pada tahun
2003, terjadi gejala yang mengkhawatirkan dengan terjadinya penurunan tingkat produksi beberapa
bahan tambang seperti timah, emas dan tembaga serta beberapa bahan tambang yang relatif
stagnan.

Potensi Mineral dan Potensi Kebijakan Mineral Potential vs Policy Potential

Bolivia
Argentina
Mexico
Peru
Brazil
Chile
Columbia
Ghana
Venezuela
Ecuador
Philippines
Zimbabwe
Kazakhstan
Russia
China
Indonesia
Papua New
Guinea
South Africa
Australia
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90

Policy Potential

Mineral Potential
Pemanfaatan dari kekayaan tambang itu sendiri masih sangat mungkin untuk ditingkatkan
mengingat masih tingginya tingkat sumber daya dibandingkan dengan produksi yang telah dilakukan
maupun studi kelayakan (feasibility study) yang menghasilkan sumber cadangan baru. Bahkan
beberapa jenis tambang masih dalam level sumber daya dan belum bisa menjadi cadangan (karena
belum dilakukan studi kelayakan). Batubara adalah kasus yang sangat optimis dalam
pengembangannya ke depan. Tingkat produksi batubara Indonesia hingga tahun 2002 baru mencapai
567 juta ton, atau relatif sangat kecil dibandingkan dengan cadangan maupun sumber daya
batubara yang ada di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan tingkat produksi dunia, beberapa bahan tambang Indonesia
memperlihatkan proporsi (share) yang cukup signifikan. Besarnya proporsi tersebut memperlihatkan
kecenderungan terus meningkat hingga tahun 2002, kecuali emas yang mengalami penurunan
proporsi produksi emas Indonesia terhadap produksi dunia. Proporsi produksi bahan tambang
Indonesia terhadap produksi dunia menunjukkan gejala peningkatan pada periode 2000-2002
terutama untuk batubara, tembaga dan timah. Timah merupakan bahan tambang yang relatif
mendominasi dunia jika dibandingkan dengan produk pertambangan Indonesia lainnya, yaitu
mencapai hampir 30% dari total produksi timah dunia disusul dengan tembaga yang mencapai lebih
dari 20% dari produksi tembaga dunia.

Meskipun Indonesia memiliki proporsi yang tinggi dalam kegiatan produksi pertambangan
dibandingkan dengan produksi dunia, sektor pertambangan masih memiliki proporsi yang kecil
dalam perekonomian Indonesia secara keseluruhan baik dari sisi nilai tambah terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB) serta terhadap ekspor nasional secara keseluruhan. Proporsi sektor
pertambangan terhadap total PDB Indonesia pada tahun 2002 hanya mencapai lebih dari 2,5% dari
total PDB.

Proporsi ini relatif menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 3%
dari total PDB secara keseluruhan. Dari sisi ekspor, sektor pertambangan hanya menyumbang lebih
dari 5% dari total ekspor nasional pada tahun 2002. Nilai ekspor pertambangan ini pun mengalami
penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2001 dimana ekspor pertambangan Indonesia hampir
mencapai 3% dari total ekspor nasional.


III. Permasalahan Investasi Pertambangan di Indonesia

Lesunya investasi pada sektor pertambangan harusnya segera mendapatkan perhatian dari
pemerintah Indonesia. Pemerintah harus mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk
memberikan insentif yang besar pada kegiatan di sektor pertambangan. Sejak tahun 1997 investasi
di sektor pertambangan belum lah pulih seperti pada periode sebelum krisis ekonomi melanda
Indonesia. Jika kita lihat lebih jauh dari sisi komposisi investasi sektor pertambangan, tidak bisa
dipungkiri bahwa sektor pertambangan masih sangat tergantung dari investor luar negeri mengingat
besarnya entry cost di sektor tersebut karena sifatnya yang capital intensif.
Dari sisi perkembangan komposisi investasi dari asing maupun domestik. Terlihat bahwa perbedaan
komposisi itu semakin tahun semakin kecil. Hal ini dikarenakan karena adanya penurunan yang
signifikan dari investasi asing, sedangkan investasi domestik lebih bersifat tetap (stagnant).
Melemahnya tingkat investasi ini khususnya investasi asing pada sektor pertambangan tidak terlepas
dari kondisi kestabilan domestik, menyangkut keamanan serta kepastian usaha menjadi faktor
utama dalam menentukan tingkat investasi asing di Indonesia. Selain koordinasi peraturan lintas
sektoral, masalah kepastian hukum untuk bergerak dan melakukan kegiatan investasi pada sektor
pertambangan Indonesia pun relatif tidak ada.

Trend Investasi Pertambangan Indonesia

Bank Dunia sendiri, dalam laporannya tentang indeks kepercayaan investor menyebutkan bahwa
Indonesia relatif memiliki tingkat kepercayaan dari investor yang rendah, bahkan lebih rendah dari
Thailand dan Vietnam. Rendahnya tingkat kepercayaan investor ini mengakibatkan munculnya
disinsentif yang sangat besar bagi investor untuk ikut serta dalam kegiatan investasi di Indonesia,
termasuk investasi pada sektor pertambangan yang relatif memakan waktu yang lama serta risiko
yang besar.
Dari sisi iklim lingkungan bisnis, Bank Dunia sendiri mensinyalir bahwa Indonesia secara relatif
memiliki indeks lingkungan bisnis yang relatif rendah dibandingkan dengan lingkungan bisnis secara
regional maupun global. Lingkungan bisnis yang relatif buruk ini lah yang akan semakin
mengkhawatirkan terhadap kegiatan investasi di Indonesia dimana tingkat aliran modal asing ke
Indonesia sendiri mengalami trend penurunan dalam beberapa tahun belakangan ini.
Selain faktor lingkungan bisnis, yang tak kalah pentingnya adalah tentang kondisi persaingan usaha
di Indonesia. Menurut data, Indonesia memiliki indeks persaingan usaha yang relatif buruk
dibandingkan dengan negara lain seperti Vietnam, Brazil, maupun Thailand. Kinerja yang buruk ini
tentunya akan mengurangi tingkat kepastian investor untuk melakukan tindakan investasi di
Indonesia.
Karenanya, peran pemerintah untuk menciptakan iklim persaingan usaha yang kondusif menjadi
mutlak untuk dilakukan.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya, faktor pengembangan institusi tidak kalah
besarnya pengaruh terhadap pertumbuhan investasi pada sektor pertambangan. Salah satu
pengembangan institusi tersebut adalah mengurangi besarnya korupsi pada sektor pemerintahan
Indonesia. Indeks persepsi korupsi memperlihatkan bahwa tingkat korupsi di Indonesia relatif sangat
parah dibandingkan dengan negara lain. Indonesia memiliki tingkat korupsi yang lebih buruk
dibandingkan dengan India dan Thailand serta sangat jauh jika dibandingkan dengan Malaysia.
Tingkat korupsi yang parah ini jelas menimbulkan disinsentif yang sangat besar bagi investasi
pertambangan, mengingat kegiatan pertambangan melibatkan sejumlah peraturan yang diatur oleh
pemerintah sehingga tingkat korupsi yang besar akan mengurangi kepastian berusaha karena adanya
ekonomi biaya tinggi (high cost economy).
Selain itu, faktor-faktor yang menghambat investasi pada sektor pertambangan di Indonesia juga
tidak terlepas dari kendala yang terdapat pada sektor pertambangan itu sendiri. Kendala-kendala
tersebut dapat ditunjukkan pada Bagian III berikut ini.

IV. Tinjauan Manfaat Ekonomi Industri Pertambangan di Indonesia (Studi Kasus KPC, PT. INCO dan
PT. Freeport Indonesia)

1. Manfaat Ekonomi Industri Pertambangan di Indonesia

Kegiatan pertambangan di Indonesia berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar
bagi perekonomian domestik. Manfaat tersebut dalam berupa tambahan bagi PDB, Pendapatan
Rumah tangga dan Kesempatan kerja baik pada level Nasional maupun Regional. Juga tidak kalah
pentingnya, melalui royalti dan pembayaran berbagai jenis pajak dan restribusi, adalah peran
pertambangan menjadi sumber penerimaan negara.
Manfaat bagi perekonomian makro tentunya dapat dihitung dari nilai penjualan, nilai tambah,
pendapatan pekerja dan penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan pertambangan. Namun perlu
diingat bahwa dengan adanya mekanisme keterkaitan ekonomi, kegiatan pertambangan
memberikan efek multiplier bagi perekonomian. Oleh karena itu, akibat adanya aktifitas
pertambangan akan sangat banyak tumbuh dan berkembangnya unit-unit kegiatan ekonomi.
Berkembangnya unit-unit kegiatan ekonomi tersebut sangat mungkin memberikan manfaat ekonomi
yang sangat besar.
Oleh karena itu pada ruang yang terbatas ini dan juga dalam keterbatasan data, kami mencoba
menyajikan manfaat ekonomi dari tiga kasus perusahaan tambang, yakni: (1) PT. Kaltim Prima Coal
(KPC), adalah perusahaan tambang Batubara di Katim, (2) PT. INCO (PTI), perusahaan tambang
nikel di Sulsel, dan (3) PT. Freeport Indonesia (PTFI), perusahaan tambang konsentrat tembaga,
perak dan emas di Papua. KPC, sebagai salah satu perusahaan pertambangan batubara di Kaltim,
telah memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar bukan saja bagi perekonomian Kaltim tetapi
juga luar Kaltim.
Sebagai ilustrasi numerik, pada tahun 2000, ekspor batubara KPC mencapai nilai sekitar 3 triliun
rupiah atau 98% total produksinya. Aktifitas ekspor tersebut telah memperbesar volume
perekonomian Kaltim yang ditandai oleh meningkatnya PDRB dari Rp 61.9 triliun menjadi Rp 64.9
trilun. Artinya, KPC telah memberikan andil dalam pembentukan PDRB Kaltim sebesar kira-kira Rp 3
trilun atau setara dengan 4.7% dari PDRB Kaltim.
Peningkatan PDRB tersebut sebagai salah indikasi adanya peningkatan pendapatan yang diterima
seluruh pekerja, baik yang bekerja langsung di KPC, pekerja di perusahaan subkontraktor, maupun
oleh mereka yang pekerja di bidang pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan
restoran, angkutan dan komunikasi dan juga sektor jasa-jasa lainnya. Secara total pendapatan
masyarakat yang dibangkitkan oleh adanya aktifitas pertambangan KPC mencapai Rp 987 milyar
pada tahun 2000. Dari sekian banyak aktifitas usaha di luar KPC, pendapatan terbesar mengalir
kepada para pekerja di bidang angkutan dan komunikasi, industri pengolahan dan pertanian.
Bukan hanya para pekerja saja yang mendapatkan manfaat dari KPC, melainkan juga pemerintah
daerah, baik pemda propinsi Kaltim, pemda kabupaten penghasil dan kabupaten-kabupaten bukan
penghasil lainnya di Kaltim, melalui penerimaan bagi hasil sumberdaya alam.
Kemudian, adanya peningkatan pendapatan seluruh pekerja di Kaltim tentu saja akibat load
pekerjaan mereka meningkat dan atau jumlah partisipasi kerja meningkat. Aktifitas KPC memiliki
employment multiplier sebesar 6.27, artinya untuk setiap orang yang bekerja di KPC dapat
membuka kesempatan kerja bagi 6.27 orang pekerja di seluruh Kaltim. Jika pada tahun 2000,
terdapat sekitar 6000 pekerja di KPC, maka berarti sekitar 72000 orang kesempatan kerja dapat
tercipta di seluruh di Kaltim.
Berdasarkan perhitungan dari Tabel Input Output Kaltim tahun 1995, diperoleh output multiplier
total akibat pertambangan Batubara KPC sebesar 1.878, artinya dari setiap milyar nilai ekspor
Batubara yang diproduksi KPC akan menciptakan output perekonomian di semua sektor ekonomi di
Kaltim senilai 1.878 milyar rupiah.
Selanjutnya, dampak pendapatan akibat kegiatan KPC dapat dibaca pada angka Income Multipliers
yakni sebesar 1.551 artinya dari setiap juta rupiah gaji dan upah para pekerja KPC, dapat
mendorong pembentukan pendapatan masyarakat di seluruh Kaltim sebesar 1.551 juta rupiah.
Angka-angka dari KPC, menggambarkan pola umum dari manfaat ekonomi industri pertambangan
fosil (non mineral) batubara. Pada bagian berikutnya akan diambil contoh kasus manfaat ekonomi
pertambangan mineral nikel di Sulsel, yang dijalankan oleh PT. INCO (PTI).
Sebagai ilustrasi pada tahun 2000, PTI mengekspor 100% produknya senilai lebih kurang Rp 3.4
triliun, yang setara dengan 12%
-------------------
2 dari total PDRB Sulsel. Kontribusi PTI terhadap pembentukan PDRB Sulsel pada tahun 2001-2003
cenderung menurun, tetapi masih dekat dengan angka Rp 3 triliun rupiah. Pertambangan nikel PTI
memberikan multiplier output yang relatif besar yaitu 1.79, artinya untuk setiap juta rupiah nilai
ekspor PTI berdampak pada pembentukan output perekonomian

Sulsel sebesar Rp 1.79 juta rupiah.
Penambahan PDRB akibat kehadiran PTI berimplikasi pada penambahan pendapatan bagi para
pekerja tambang dan para pekerja di luar usaha tambang. Kegiatan pernambangan nikel
memberikan angka multiplier pendapatan sebesar 1.42, artinya untuk setiap juta rupiah gaji yang
diterima karyawan PTI, akan memicu terciptanya Rp 1.42 juta pendapatan bagi seluruh pekerja di
Sulsel. Dengan angka multiplier tersebut diperkirakan pada tahun 2000, PTI berkontribusi dalam
penciptaan pendapatan para pekerja di seluruh Sulsel sebesar Rp 820 milyar atau setara dengan
11% dari total pendapatan seluruh pekerja di wilayah Sulsel. Pada tahun-tahun selanjutnya,
terdapat trend yang menurun dari kontribusi PTI dalam pembentukan pendapatan pekerja.
Kehadiran PTI tentu saja berdampak positif dalam penciptaan kesempatan kerja bagi penduduk
lokal Sulsel maupun dari luar Sulsel. Sebagai informasi kegiatan tambang nikel memberikan
multiplier kesempatan kerja sebesar 39, artinya untuk setiap karyawan yang berkerja di PTI,
mampu memicu terciptanya 39 kesempatan kerja (orang) di seluruh perkonomian Sulsel.
Berdasarkan multiplier tersebut, maka pada tahun 2000, kesempatan kerja yang dipicu oleh
kehadiran PTI mencapai sekitar 170 ribu kesempatan kerja (orang). Kesempatan kerja yang diserap
oleh PTI hanya sebagian kecil saja. Kegiatan usaha pertanian, industri pengolahan, perdagangan-
hotel-restoran, dan angkutan dan komunikasi adalah bidang-bidang usaha yang paling banyak
terimbas oleh PTI, yang pada gilirannya tentu saja yang paling banyak menangkap kesempatan
kerja.
Perlu dikemukakan bahwa manfaat ekonomi industri pertambangan bagi suatu perekonomian akan
semakin besar dengan semakin beragam dan semakin besarnya nilai kebutuhan industri yang

2Angka ekspor tertinggi sepanjang beroperasinya PT INCO di Sulsel.
dapat dipasok oleh produsen domestik atau lokal. Pasokan bahan baku dari pengusaha lokal, akan
memicu berkembangnya kegiatan perekonomian lokal. Pada akhirnya akan meningkatkan
pendapatan
dan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal. Namun pada kenyataannya, masyarakat lokal belum
atau bahkan tidak mampu memasok aneka kebutuhan perusahaan, padahal barang tersebut
sesungguhnya dapat diproduksi secara lokal. Umumnya masyarakat di sekitar pertambangan
dihadapkan pada ketidakmampuan memenuhi persyaratan kualitas dan kontinuitas pasokan yang
dituntut pihak perusahaan. Tentu saja untuk mengatasi hal ini diperlukan campur tangan
pemerintah dalam bentuk program pemberdayaan ekonomi lokal.
Kemudian, disamping PTI yang sudah beroperasi 30-an tahun, adalah PT. Freeport Indonesia (PTFI),
yang juga mulai beroperasi pada pertengahan tahun 1960-an. PTFI, yang tergolong perusahaan
pertambangan besar di dunia, menambang batuan di sekitar Pegunungan Puncak Jaya di Papua yang
menghasilkan konsentrat batuan yang mengandung logam tembaga, perak dan emas.
Manfaat kehadiran PTFI secara kasat mata dapat dilihat dari lahirnya suatu wilayah perekonomian
baru yang relatif lebih maju dari daerah-daerah lainnya di Papua yaitu Kabupaten Mimika. Di
kabupaten ini terdapat dua titik nodal aktifitas perekonomian yakni kegiatan tambang di
Tembagapura (highland) dan kegiatan administrasi perusahaan, pengolahan akhir konsentrat dan
pengapalannya serta kegiatan pemerintahan yakni di Timika (lowland).
Pada tahun 2000, nilai penjualan konsentrat PTFI mencapai kira-kira Rp 21 triliun atau setara
dengan 50% PDRB Papua, dan setara dengan 1.6% PDB nasional. Selama periode 1995-2000, PTFI
berkontribusi dalam pembentukan PDRB Papua dengan rata-rata 62% per tahun. Bahkan keberadaan
PTFI telah menahan situasi perekonomian makro Papua tidak anjlok ketika hantaman krisis nasional
melanda daerah ini pada tahun 1998 dan 1999. Malah sebaliknya, dengan melemahnya
nilai tukar rupiah nilai penjualan PTFI dalam rupiah menjadi sangat besar.
Nilai penjualan konsentrat PTFI hingga tahun 2008, diperkirakan tidak mengalami penurunan yang
drastis bahkan cenderung konstan, sehingga kontribusinya dalam pembentukan PDRB Papua
masih menjadi komponen yang sangat penting.
Sejalan dengan kontribusinya dalam pembentukan PDRB Papua, PTFI berkontribusi besar dalam
pembentukan pendapatan pekerja di Papua. Pada tahun 2000, PTFI memberi andil dalam
pembentukan pendapatan para pekerja di seluruh wilayah Papua mencapai Rp 2.1 triliun atau
setara dengan 40% dari pendapatan total seluruh pekerja di Papua. Dengan demikian secara rata-
rata boleh dikatakan bahwa 40% dari pendapatan per kapita pekerja, berasal dari kontribusi
langsung dan tidak langsung kehadiran PTFI.
Fakta di atas menunjukkan bahwa kehadiran PTFI telah memicu tumbuh dan berkembangnya
berbagai kegiatan usaha di luar pertambangan, seperti pertanian (tanaman bahan makanan,
perkebunan, perikanan, dan peternakan); industri pengolahan; listrik; bangunan; perdagangan,
hotel dan restoran; angkutan dan komunikasi; serta berbagai kegiatan jasa lainnya. Bahkan PTFI
punya
peran penting dalam menopang jalannya pemerintahan di wilayah Papua terutama pada rezim
Otonomi Khusus, yakni sebagai sumber dana dalam mekanisme bagi hasil.
Akibat bermunculannya aktifitas usaha dan berkembangnya pemerintahan di Papua, PTFI dengan
demikian telah memicu tumbuhnya kesempatan kerja. Pada tahun 2000, diperkirakan sekitar
300 ribu kesempatan kerja (orang), yang bekerja di Papua dan yang dipicu oleh kehadiran PTFI.
Sebenarnya, bukan hanya berimbas di wilayah Papua saja, penciptaan kesempatan kerja ini
menjalar ke luar Papua, yang pada tahun 2000 kesempatan kerja yang muncul di luar Papua
mencapai tidak kurang dari 60 ribu kesempatan kerja. Meluasnya manfaat ekonomi PTFI, dapat
dipahami mengingat pemenuhan kebutuhan operasional PTFI banyak yang didatangkan dari luar
Papua.
Tingginya kesempatan kerja yang muncul akibat kehadiran PTFI, didukung oleh fakta bahwa
aktifitas pertambangan PTFI memberikan multiplier kesempatan kerja di Papua yang besar sebesar
37.5 (angka tertinggi diantara kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya). Angka ini mengandung arti
untuk setiap tambahan satu pekerja tambang PTFI mampu memicu munculnya 37.5 kesempatan
kerja baru (orang) di wilayah Papua.
Di sisi lain output dan income multiplier kegiatan pertambangan konsentrat batuan ini (tembaga,
perak dan emas) adalah sebesar masing-masing 1.6 dan 1.3. Arti angka Output Multiplier itu adalah
untuk setiap tambahan satu juta rupiah nilai ekspor konsentrat, dapat meningkatkan output Papua
sebesar Rp 1.6 juta. Sedangkan arti angka income multiplier adalah untuk setiap tambahan satu
juta rupiah pengeluaran PTFI untuk upah dan gaji, akan berdampak meningkatkan pendapatan
masyarakat di Papua sebesar Rp 1.3 juta.
Sebagai penutup dari kajian manfaat ekonomi pertambangan, terlepas dari kontroversi dampak
negatifnya, bahwa manfaat ekonomo dari tiga kasus perusahaan pertambangan PMA tersebut
semakin menguatkan bahwa sesungguhnya aktifitas pertambangan di Indonesia, masih berperan
penting bagi perekonomian nasional, apalagi dalam situasi dimana investasi di sektor-sektor lainnya
sulit berkembang.

2. Dampak Fiskal Industri Pertambangan di Indonesia

Dampak fiskal dari aktivitas pertambangan adalah besarnya kontribusi fiskal yang dibayarkan oleh
kontraktor atau perusahaan pertambangan kepada pemerintah pusat maupun daerah. Kontribusi
fiskal ini akan mempengaruhi besarnya APBN, APBD Propinsi dan APBD Kabupaten/Kota Penghasil di
daerah operasional sesuai dengan proporsi dan aturan yang belaku. Untuk lebih jelasnya, sesuai
dengan kontrak karya antara pemerintah pusat dan perusahaan, maka perusahaan berkewajiban
melakukan pembayaran dalam kategori pajak dan bukan pajak terhadap negara sesuai dengan
aturan yang berlaku. Kontribusi pembayaran ini tersebar ke beberapa tingkatan pemerintahan,
yaitu pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten. Pajak dan kewajiban lain
yang harus dibayar antara lain adalah
3 : (i) Iuran Tetap (deadrent) untuk wilayah kontrak kerja, (ii) Iuran
Eksploitasi (Royalti) untuk mineral yang diproduksi, (iii) PPh Badan, (iv) PPh Karyawan (PPh 21), (v)
PPh atas dividen, bunga, sewa, royalti, dan premi asuransi, (vi) PPN dan PPNBM, (vii) Bea materai
atas dokumen-dokumen, (viii) Bea masuk atas barang yang diimpor, (ix) PBB, (x) Pungutan dan
pajak yang dikenakan oleh pemerintah daerah yang disetujui oleh pemerintah pusat, (xi) Pungutan
administrasi untuk fasilitas, jasa atau hak-hak khusus yang diberikan pemerintah sepanjang
pembebanan itu disetujui oleh pemerintah pusat, dan (xii) Bea Balik Nama atas hak kepemilikan
kendaraan bermotor dan kapal-kapal di Indonesia.

Berdasarkan UU No. 25 Tahun 1999 dan juga telah ditegaskan kembali dalam UU No.33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, maka bagian daerah dari penerimaan sumber
daya alam sektor pertambangan umum (pertambangan mineral dan batubara). Jenis-jenis
pembayaran terhadap pemerintah dan daerah tergantung isi dari kontrak karya. Jenisnya bervariasi
tergantung jenis usaha pertambangan. meliputi : a) luran Tetap (Landrent), dan b) luran Eksplorasi
dan luran Eksploitasi (Royalti). Landrent atau Deadrent adalah suatu pembayaran tahunan kepada
pemerintah dalam rupiah atau satuan mata uang lain yang disetujui bersama oleh Pemerintah dan
perusahaan pertambangan, yang diukur berdasarkan jumlah hektar tergantung dalam kontrak atau
area pertambangan masing-masing. Sesuai dengan UU,maka bagian daerah dari landrent adalah
sebesar 80% dengan rincian 16% untuk provinsi yang bersangkutan dan 64% untuk kabupaten/kota
penghasil. Sedangkan royalti adalah pembayaran kepada pemerintah berkenaan produksi mineral
yang berasal dari area penambangan.. Sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka bagian daerah
dari royalti adalah sebesar 80% dengan rincian 16% untuk provinsi yang bersangkutan, 32% untuk
kabupaten/kota penghasil, dan 32% untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang
bersangkutan
Dalam hal penerimaan fiskal, peran dari usaha pertambangan mineral dan batubara masih
merupakan salah satu andalan baik bagi pemerintah pusat apalagi pemerintah daerah dalam
penerimaan negara dan daerah. Berikut ini, kami disajikan dampak fiskal dari usaha pertambangan
PT. KPC, PT. INCO dan PT. FI yang merupakan hasil perhitungan dan simulasi yang telah dilakukan
oleh LPEM.

2.1. Dampak Fiskal PT. Kaltim Prima Coal

Kewajiban KPC terhadap pemerintah adalah dengan menyerahkan 13,5% dari hasil penjualan
bersihnya kepada pemerintah dalam bentuk Royalti. Setelah desentralisasi, Pemda Kabupaten Kutai
Timur seharusnya memperoleh sekitar 14 juta USD (tahun 2000) dan 20 juta USD (tahun 2001), yang
jika dirupiahkan akan berjumlah berturut-turut Rp 123 miliar dan Rp 177 miliar.
Dengan total penerimaan Kutai Timur yang mencapai Rp 584 miliar pada tahun 2001, maka nilai
kontribusi KPC terhadap kas Pemda Kutai Timur pada tahun yang sama berkisar 30% yang
merupakan jumlah yang cukup signifikan terhadap penerimaan daerah Kutai Timur.
Kontribusi KPC lainnya terhadap Kas Pemda adalah dalam bentuk Land-Rent, yang jika lahan yang
dieksploitasi KPC mencapai 91.000 ha maka total land-rent yang harus dibayar adalah sejumlah 91
ribu USD atau sekitar Rp 804,44 milyar. Dengan sistem bagi hasil yang baru maka bagian Pemda
Kutai Timur dari Land Rent adalah sekitar Rp 515 juta.


2.2. Dampak Fiskal PT. INCO

Dilihat dari jumlah absolutnya, total kontribusi PT INCO terhadap keuangan negara sejak 1998
sampai 2002 rata-rata pada kisaran Rp.120 milyar pertahun, kecuali pada tahun 1999 melonjak
sampai sekitar Rp. 150 miliar. Hal tersebut disebabkan adanya kenaikan produksi yang
mengakibatkan kenaikan keuntungan. Sebenarnya kondisi peningkatan produksi ini berlangsung
sampai dengan sekarang, hanya sejak tahun 1999 perusahaan melakukan investasi yang cukup
signifikan dan mendapatkan capital tax allowance dari pemerintah sehingga belum perlu membayar
pajak penghasilan badan selama 6 tahun. Pengaruh nilai tukar rupiah terhadap US dollar
berpengaruh pada fluktuasi kontribusi.
Pada tingkat provinsi, kontribusi fiskal PT INCO diberikan melalui pos land rent, royalti, royalti
lain-lain dan Iuran Penggunaan Sungai Larona. Besaran kontribusi ini berubah-ubah cukup fluktuatif,
sehingga share-nya terhadap Bagi Hasil SDA dan Dana Perimbangan juga fluktuatif. Walaupun
demikian dapat dilihat bahwa PT INCO merupakan kontributor terbesar dari bagi hasil sumber daya
alam di provinsi ini. Sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2002, PT INCO menyumbang rata-rata
75.8% terhadap total penerimaan dari Bagi Hasil SDA.
Dengan menggunakan asumsi bahwa pajak pemanfaatan air tanah yang diterima Kabupaten Luwu
Utara seluruhnya berasal dari pembayaran PT INCO, maka PT INCO telah menyumbang masing-
masing sebesar 0.5%, 80.3%. dan 80.5% terhadap PADS Kabupaten Luwu Utara masing-masing tahun
2000, 2001, dan 2002. Peningkatan luar biasa sejak tahun 2001 dipengaruhi oleh perubahan struktur
Bagi Hasil ke Kabupaten sebagai akibat implementasi desentralisasi. Kontribusi terhadap PADS
dihitung dari pos Pajak Daerah saja. Pada pos Bagi Hasil Bukan Pajak (dari sumber daya alam), land
rent (iuran tetap penggunaan tanah) dan royalti (iuran eksplorasi dan eksploitasi) memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap subtotal Bagi Hasil SDA ini, terutama pada tahun 2002. Pada
tahun 2002, terjadi penurunan tajam dari pos royalti yaitu dari sekitar 30 miliar rupiah menjadi
hanya sekitar 9 milyar rupiah sehingga terjadi penurunan share terhadap Dana Perimbangan yang
cukup tajam. Secara total, kontribusi fiskal PT INCO terhadap APBD Kabupaten Luwu Utara cukup
besar, yaitu rata-rata 24.7% antara tahun 2000 2002.
Secara total, kontribusi fiskal PT INCO terhadap APBD Kabupaten Luwu Utara cukup signifikan.
Total kontribusi ini bahkan melampaui beberapa pos penerimaan dalam APBD misalnya pos PADS
dan pos BHSDA. Hal ini menunjukkan peranan PT INCO yang penting dalam keuangan daerah Luwu
Utara

2.3. Dampak Fiskal PT. Freeport Indonesia (PTFI)

Pada tahun 2001 tahun awal pelaksanaan Undang-undang tentang Otonomi Daerah, PTFI telah
menyumbang sekitar 0,83% total Pendapatan Dalam Negeri (APBN) Indonesia, yang berasal dari
Penerimaan Sumber Daya Alam, Pajak Dalam Negeri, Pajak Perdagangan Internasional, deviden,
serta berbagai pajak dan bukan pajak lainnya yang dibayar PTFI. Melalui mekanisme Dana
Perimbangan dari Pemerintah Pusat ke Daerah, pada tahun yang sama PTFI telah memberikan
kontribusi fiskal secara langsung sebesar Rp. 75,5 miliar dan Rp. 115,9 miliar atau masing-masing
8,9% dan 54,6% APBD Provinsi Papua dan APBD Kabupaten Mimika.
Dengan Otonomi Khusus, pada tahun 2001, Pemerintah Pusat, Provinsi Papua dan Kabupaten
Mimika menerima masing-masing 48,10%, 3,71%, dan 5,70% dari Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
yang berasal dari PTFI. Kabupaten/kota non-penghasil konsentrat tembaga di Papua menerima
6,60% dan sisa 34,72% lainnya dialokasikan kepada daerah-daerah di luar Papua.
Profil keuangan daerah Propinsi Papua dan Kabupaten Mimika menunjukkan tingkat
ketergantungan yang sangat tinggi terhadap dana perimbangan dari pemerintah pusat yaitu rata-
rata di atas 85 %. Penerimaan langsung terbesar akan dinikmati oleh pemerintah pusat melalui
deviden, pajak-pajak pusat dan bagian pusat atas bagi hasil SDA bagi hasil pajak. Namun
penerimaan ini masih akan dikembalikan ke daerah melalui Dana Perimbangan seperti DAU, DAK
dan Dana Otonomi Khusus.PTFI telah menyumbangkan sekitar 0,83 % terhadap Pendapatan Dalam
Negeri APBN pada tahun 2001 dari penerimaan langsung dan diperkirakan akan menurun pada tahun
berikutnya seiring dengan membesarnya nilai nominal APBN.


V. Kendala-Kendala Sektor Pertambangan

Kendala-kendala pengembangan sektor pertambangan di Indonesia secara umum dapat terbagi
menjadi lima golongan besar, yaitu;
1. Kendala yang berkaitan dengan karakteristik sektor pertambangan itu sendiri
2. Ketidakpaduan antarsektor
3. Kebijakan fiskal
4. Hubungan pusat dan daerah
5. Hubungan perusahaan dengan lingkungan sosial di sekitar lokasi tambang

Kendala pertama pengembangan sektor pertambangan berkaitan dengan karakteristik
pertambangan itu sendiri. Kendala tersebut meliputi antara lain: Sektor pertambangan merupakan
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga cadangan yang dieksploitasi suatu saat
akan habis, dan jika tidak ditemukan cadangan yang baru maka usaha akan tutup; Industri
pertambangan bersifat padat modal karena kebutuhan dana yang amat besar; Usaha pertambangan
memiliki resiko yang tinggi; Pengembalian investasinya lama; Harga komoditas tambang
berfluktuasi secara tidak teratur; Umumnya terletak di daerah terpencil yang memerlukan sarana
dan prasarana yang besar biayanya dan terkadang berbenturan dengan lingkungan sekitar.
Ketidakpaduan antar sektor utamanya dapat dilihat dalam penyusunan peraturan perundang-
undangan. Permasalahan umum yang sering terjadi berkaitan dengan masalah tumpang tindih
peraturan perundang-undangan (overlapping), pengabaian karakteristik kegiatan usaha
pertambangan dan pertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (conflict
of laws).
Kendala yang berkaitan dengan kebijakan fiskal meliputi dari sisi perpajakan, serta rezim pajak
Indonesia yang berkaitan dengan sektor pertambangan yang terdiri dari royalti, ring fencing, PPN
dan PPh Badan. Dari sisi perpajakan, Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Otto et. al. (2000),
effective tax rate Indonesia sebesar 60,4% untuk model tambang emas dan 48,6% untuk model
tambang tembaga. Jika dilihat secara keseluruhan bebannya lebih tinggi dari nilai rata-rata sebesar
58,7% untuk model tambang emas sementara untuk model tambang tembaga masih lebih rendah
dari rata-rata yang sebesar 49,2%. Ini artinya rejim pajak di Indonesia mempunyai beban pajak (tax
burden) yang cukup tinggi bagi para pengusaha dan investor di Industri Pertambangan. Sedangkan
IRR kita juga tidak terlalu tinggi sebesar 11,4% untuk model tambang emas dan 12,2% untuk model
tambang tembaga.
Dari tarif royalti, para pengusaha tambang di Indonesia merasa Tarif royalti atas produksi relatif
kurang kompetitif dibandingkan negara-negara kompetitor, bahkan beberapa negara sudah mulai
meninggalkan pengenaan pungutan yang berbasis produksi atau penjualan (seperti royalti)
mengingat hal ini sangat dipertimbangkan oleh investor. Sekalipun investor akan
mempertimbangkan kebijakan perpajakan suatu negara secara keseluruhan dalam memilih
portofolio investasi di bidang pertambangan, tarif royalti akan menjadi perhatian utama mengingat
pungutan ini dikenakan langsung atas produksi atau penjualan walaupun misalnya perusahaan dalam
kondisi rugi. Tarif royalti yang tinggi juga memberi disinsentif bagi perusahaan tambang, sehingga
bijih besi yang berkadar kurang tinggi cenderung terabaikan karena tidak ekonomis.
Salah satu yang juga menjadi perhatian dari pengusaha tambang adalah adanya ring fencing dalam
pertambangan di Indonesia. Konsep ring fencing (satu kontrak dan satu perusahaan untuk satu
wilayah tambang) dianggap memberikan disinsentif bagi investor untuk menanamkan kembali
dananya untuk kegiatan eksplorasi di daerah tambang baru di Indonesia. Ring fencing mendorong
repatriasi modal dan sulit untuk ditarik kembali. Sistim ini juga menyulitkan kegiatan eksplorasi
pertambangan, karena harus membuat perusahaan baru untuk mengeksplorasi di daerah baru, dan
harus membeli peralatan baru atau menyewa untuk kegiatannya. Perusahaan tidak boleh memakai
fasilitas perusahaan di bawah grup yang sama, walaupun mungkin tempatnya dekat, tetapi terletak
pada fence yang berbeda. Padahal seringkali, tempat eksplorasi amat terpencil, sehingga investasi
baru akan menyebabkan biaya perusahaan menjadi lebih besar.
Para pengusaha juga mengeluhkan karena dicabutnya fasilitas penangguhan PPN dan PPN yang
ditanggung pemerintah berdasarkan UU No. 18/2000 menyulitkan KK & PKP2B yang terikat pada UU
PPN sebelumnya terkait dengan stimulus impor barang modal, suku cadang, dan barang lainnya. Hal
ini akan semakin menyurutkan investor untuk berinvestasi.
Kendala yang berasal dari PPh Badan juga dikeluhkan oleh para pengusaha tambang dimana metode
penghitungan angsuran PPh Badan (PPh Pasal 25) yang didasarkan pada laba tahun sebelumnya,
bukan pada tahun berjalan banyak juga dikeluhkan perusahaan. Hal ini tidak mencerminkan
keadaan keuangan riil perusahaan mengingat harga komoditas sangat berfluktuasi, sehingga akan
menimbulkan selisih kurang bayar atau lebih bayar dalam jumlah yang besar.
Kendala yang tak kalah besarnya adalah berkaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan
desentralisasi fiskal di Indonesia pada awal tahun 2001 yang lalu. Permasalahan yang timbul antara
lain adalah masalah kejelasan kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah yang berkaitan
dengan bisnis sektor pertambangan. Selain itu, sejumlah permasalahan dalam pendistribusian pajak
antara pemerintah pusat dan daerah juga berpotensi menimbulkan masalah-masalah politik dan
sosial yang semakin meningkatkan resiko investasi pertambangan di Indonesia.
Kendala terakhir adalah berkaitan dengan hubungan perusahaan dengan lingkungan sosial di sekitar
lokasi tambang. Perusahaan tambang yang berada di daerah terpencil terkadang berhadapan
dengan LSM dan masyarakat lokal khususnya yang berkaitan dengan tanah ulayat. Seharusnya,
pemerintah daerah berperan penting sebagai penengah. Namun, peranan ini dirasakan masih sangat
kurang sehingga perusahaan sendiri yang harus bernegosiasi dengan LSM dan masyarakat setempat.
Hal ini tentunya akan meningkatkan risiko usaha yang semakin besar.

VI. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

1. Kesimpulan

Potensi pertambangan mineral di Indonesia cukup bagus tetapi potensi tersebut belum
dimanfaatkan secara optimal akibat kurangnya investasi di sektor ini. Investasi sector
pertambangan di Indonesia berada pada level bawah jika dibandingkan dengan negara lain yang
memiliki potensi tambang yang sama.
Potensi pertambangan di Indonesia cukup besar tetapi tidak didukung oleh efektivitas kebijakan
pemerintah yang dapat mendukung perkembangan sektor pertambangan. Sehingga mulai tahun
2003 terlihat adanya penurunan kegiatan di sektor pertambangan.
Dari sisi perkembangan komposisi investasi dari asing maupun domestik. Terlihat bahwa
perbedaan komposisi itu semakin tahun semakin kecil. Hal ini dikarenakan karena adanya
penurunan yang signifikan dari investasi asing, sedangkan investasi domestik lebih bersifat tetap
(stagnant). Investasi sektor pertambangan ini sangat tergantung dengan investor luar negeri karena
investasi disektor ini bersifat capital intensif sehingga memerlukan entry cost yang besar untuk
melakukan eksplorasi dan eksploitasi disektor pertambangan.
Melemahnya tingkat investasi ini khususnya investasi asing pada sektor pertambangan tidak
terlepas dari kondisi kestabilan domestik, menyangkut keamanan serta kepastian usaha menjadi
faktor utama dalam menentukan tingkat investasi asing di Indonesia. Selain koordinasi peraturan
lintas sektoral, masalah kepastian hukum untuk bergerak dan melakukan kegiatan investasi pada
sektor pertambangan Indonesia pun relatif tidak ada.
Keberadaan Industri pertambangan memberikan manfaat yang besar baik kepada perekonomian
nasional maupun perekonomian daerah. Dampak ekonomi dari kegiatan pertambangan antara lain
peningkatan pendapatan bruto, peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja
dan kontribusi fiskal bagi pemerintah pusat maupun daerah. Kontribusi fiskal berupa kontribusi
royalti, bagi hasil pajak, bagi hasil non pajak.
Dari 3 studi (KPC, PT.INCO, PTFI) yang telah dilakukan LPEM FEUI menunjukkan bahwa KPC
memberikan kontribusi sebesar 4.7% dari PDRB Kaltim, penciptaan kesempatan kerja sebesar 72.000
(multiplier tenaga kerja 6.27), multiplier output 1.878. Sedangkan kontribusi fiskal KPC terhadap
pemda Kutai Timur pada tahun 2001 adalah sebesar Rp. 584 Miliar atau setara 30% dari APBD.
Kontribusi PT. Inco terhadap pembentukan PDRB Sulawesi Selatan adalah sebesar 12% atau sekitar
Rp. 3 Triliun. Multiplier output dari sektor ini adalah 1.79, multiplier pendapatan 1.42 dan
multiplier tenaga kerja adalah sebesar 39. Kesempatan kerja yang timbul dari kegiatan PT.Inco
adalah sebesar 170 ribu kesempatan kerja. Sedangkan kontribusi fiskal PT.Inco terhadap keuangan
negara dari tahun 1998-2002 rata-rata sebesar Rp. 120 milyar/tahun.
Kontribusi PT.Freeport Indonesia (PTFI) terhadap PDRB Papua pada tahun 1995-2000 rata-rata
sekitar 62%. Keberadaan PTFI mampu menciptakan kesempatan kerja sebesar 360 ribu kesempatan
kerja secara nasional. Sektor pertambangan di Papua memiliki multiplier kesempatan kerja sebesar
37.5, multiplier output sebesar 1.6 dan multiplier pendapatan sebesar 1.3. Keberadaan PTFI
memberikan kontribusi sebesar 0.83% terhadap APBN, 8.9% APBD Papua dan 54.6% APBD Kabupaten
Mimika.
Kendalan-kendala sektor pertambangan antara lain:
o Kendala yang berkaitan dengan karakteristik sektor pertambangan itu sendiri, Sektor
pertambangan merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga cadangan
yang dieksploitasi suatu saat akan habis, Industri pertambangan bersifat padat modal karena
kebutuhan dana yang amat besar;
o Ketidakpaduan antar sektor utamanya dapat dilihat dalam penyusunan peraturan perundang-
undangan. Permasalahan umum yang sering terjadi berkaitan dengan masalah tumpang tindih
peraturan perundang-undangan (overlapping).
o Kendala yang berkaitan dengan kebijakan fiskal meliputi dari sisi perpajakan, serta rezim pajak
Indonesia yang berkaitan dengan sektor pertambangan yang terdiri dari royalti, ring fencing, PPN
dan PPh Badan.,
o Hubungan pusat dan daerah,
o Hubungan perusahaan dengan lingkungan sosial di sekitar lokasi tambang

2. Rekomendasi Kebijakan

Sumber daya mineral dan batubara merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui,
keberadaannya sangat dikontrol oleh kondisi geologi yang tidak mengenal batas administrasi,
umumnya ditemukan di daerah-daerah terpencil yang miskin infrastruktur, pengusahaannya harus
dilakukan di tempat di mana bahan tambang itu ditemukan. Penambangan bahan galian mineral dan
batubara akan mengubah bentang alam dan menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari
lingkungan, oleh karena itu dalam pengelolaannya perlu melibatkan semua pihak terkait
(stakeholders). Adanya kegiatan pertambangan diharapkan dapat menjadi lokomotif pembangunan
suatu daerah.

Kegiatan pertambangan merupakan usaha yang padat modal, berisiko tinggi, umumnya berteknologi
tinggi, dan jangka waktu untuk berproduksi cukup panjang, sehingga hanya perusahaan-perusahaan
tertentu yang berani menekuni usaha ini, khususnya yang berskala besar. Peran investor asing
dalam pengembangan usaha pertambangan mineral dan batubara sampai saat ini masih sangat
besar. Persaingan antara negara-negara yang memiliki sumber daya mineral dan batubara seperti
Vietnam, Filipina, dan negara-negara Amerika Latin untuk menarik investor sangat ketat, sehingga
perlu diciptakan iklim investasi pertambangan yang saling menguntungkan bagi pemerintah,
masyarakat dan penanam modal.

Pertambangan mineral dan batubara merupakan salah satu industri dasar yang memanfaatkan
sumber daya alam tidak terbarukan, sehingga sejak awal kegiatan sudah harus dipikirkan bagaimana
kelanjutan kehidupan perekonomian di daerah pertambangan dan sekitarnya pada masa pasca
tambang. Harus dihindari adanya fenomena Kota Mati atau Habis Manis Sepah dibuang". Hal ini
tidak mudah, karena akan melibatkan berbagai kegiatan sektor ekonomi lain yang potensial dapat
dikembangkan di daerah tersebut. Dua jenis program pasca tambang yang perlu diperhatikan adalah
:

a) program rehabilitasi lahan, dan
b) menciptakan kemampuan ekonomi baru di kalangan masyarakat agar ketika usaha tambang
selesai mereka mampu berdiri sendiri. Investasi di bidang pertambangan yang berisiko tinggi
membutuhkan kemudahan-kemudahan dan jaminan adanya konsistensi pemerintah dalam
menerapkan kebijakannya, yaitu yang menyangkut atas hak-hak dan kewajiban para investor
selama jangka waktu investasi yang ditetapkan. Pemerintah harus selalu menghormati kontrak yang
telah dibuat di waktu-waktu yang lalu maupun di masa mendatang. Sekali kita melakukan
pendekatan kekuasaan untuk mengubah atau melanggar suatu kontrak secara sepihak, akan hilang
kepercayaan para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Di lain pihak, walaupun kita sangat mengharapkan investor, namun harus tetap dijaga kebijakan
yang mengakomodasikan kepentingan nasional dan menampung aspirasi yang timbul di masyarakat,
khususnya masyarakat di daerah sekitar pertambangan. lklim kondusif yang perlu dijaga adalah
menjaga keseimbangan antara kepentingan pemerintah, masyarakat dan penanam modal.Sesuai
dengan tujuan otonomi daerah, yakni mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, diharapkan
pemerintah daerah dapat menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi investor dalam pengembangan
usaha pertambangan mineral dan batubara, antara lain melalui pelayanan yang mudah, cepat dan
transparan serta didukung dengan situasi keamanan yang baik. Dalam pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara, pemerintah daerah tidak boleh terjebak kepada persoalan klasik bagaimana
memperoleh pendapatan yang sebesar-besarnya dari industri pertambangan mineral dan batubara.

Pemerintah daerah juga harus mampu melakukan pengawasan apakah pengusahaan pertambangan
mineral dan batubara tersebut sudah dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah penambangan yang
benar dan berwawasan lingkungan.








Ekonomi tidak terlepas dari biaya-biaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, baik itu biaya
langsung maupun biaya tidak langsung. Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu
barang atau jasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam pengelolaan perusahaan, sebab
besar kecilnya biaya akan menentukan besar kecilnya keuntungan yang akan diperoleh. Oleh
sebab itu biaya mempunyai pengertian semua pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik
yang telah, sedang maupun yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.

1. Komponen Biaya
Untuk memudahkan analisa, secara umum biaya dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu,
antara lain :
A. Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk :
1. biaya langsung yaitu adalah biaya-biaya yang timbul akibat kegiatan yang berhubungan
langsung dengan proses produksi.
2. biaya tak langsung yaitu biaya pengeluaran uang yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan yang
tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.

3. biaya komersial yaitu biaya tak langsung yang digunakan untuk mendukung kegiatan
produksi, dibagi atas :
a. Biaya penjualan: pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan penjualan suatu produk.
b. Biaya administrasi: pengeluaran yang dilakukan untuk keperluan administrasi guna
mendukung kelancaran proses produksi.

Dalam industri pertambangan lebih dikenal pengelompokan biaya menjadi :
1. biaya kapital (biaya investasi)
2. biaya operasi.

1.2. Biaya Capital
Biaya capital atau biaya investasi pada umumnya diartikan sebagai jumlah biaya yang dibutuhkan
untuk membuat suatu endapan bahan galian yang berada di dalam bumi menjadi produk tambang
yang dapat dijual. Biaya kapital terdiri dari dua komponen penting, yaitu :
a. biaya kapital tetap
b. modal kerja.

Jika tambang yang akan dikerjakan merupakan tambang baru, maka biaya tetap biasanya terdiri
dari komponen-komponen berikut :
1. Land Acquisition (pembebasan lahan), biayanya tergantung kepada luas dan lokasi lahan.
2. Konstruksi pra-penambangan (pengupasan tanah penutup, dan sebagainya).
3. Pembangunan tambang/masa konstruksi
4. Analisa Dampak Lingkungan.
5. Peralatan tambang, bangunan, sarana lain.
6. Peralatan pabrik, bangunan, sarana lain.
7. Sarana penunjang (jalan, listrik, perumahan, sarana olahraga, instalasi air, dan sebagainya).
8. Jasa perancangan dan konsultasi.
9. Contingency.

Sedangkan modal kerja adalah biaya yang digunakan untuk memulai produksi sebelum
perusahaan mendapat kan uang dan hasil penjualan produknya. Besarnya modal kerja umumnya
adalah 25% dari biaya operasi atau mencukupi kebutuhan operasi selama 3-6 bulan. Secara
umum, besarnya modal kerja dapat dihitung dengan rumus dibawah ini :

biaya operasi
prod. tambang
Y bulan
MK
= --------------------------------
x -------------------------------- x --------------------------------
ton
tahun
12 bulan

Harga Y tergantung pada jalur pemasaran produk tambangnya (lamanya produk sampai dipasar
dan lamanya pembayaran atas produk tersebut). Modal kerja umumnya terdiri dari komponen-
komponen biaya sebagai berikut :

1. Persediaan
- Bahan baku, berupa dimana cadangan endapan mineral/bijih yang ekonomis yang belum
dilaksanakan proses penambangan.
- Suku cadang, yang berguna apabila terjadi ker usakan pada alat-alat penambangan
- Supplies, merupakan stock dari suatu perusahan tambang yang berupa perlengkapan habis
sekali pakai seperti perlengkapan kantor, bahan bakar, bahan pelumas, dll.
- Bahan dalam proses (materials-in- process), berupa endapan mineral/bijih yang sedang atau
dalam proses penambangan atau dalam proses pengolahan (mineral dressing).
- Bahan jadi/produk tambang, merupakan bahan galian/bijih yang telah melalui proses
pengolahan yang siap dijual

2. Piutang dagang (A/R)
Piutang dagang merupakan suatu modal kerja yang dapat ditarik sewaktu-waktu dari pihak ke-
2 sesuai dengan perjanjian dagang (seperti pembayaran diakhir transaksi penjualan komoditas
dagang).

3. Hutang dagang (A/P)
Merupakan modal kerja yang diperoleh dari or ang lain dalam bentuk pinjaman yang bernilai
ekonomis, yang harus dibayar oleh kita apabila telah jatuh tempo sesuai dengan perjanjian
dagang kedua belah pihak

4. Kas, dan lain-lain
Merupakan cadangan uang yang disimpan yang berguna untuk membiayai kehidupan tambang
sehari-hari, dengan periode waktu yang relatif singkat

1.3 Biaya Operasi
Biaya operasi didefinisikan sebagai segala macam biaya yang harus dikeluarkan agar proyek
penambangan dapat beroperasi/berjalan dengan normal. Dalam suatu operasi penambangan,
keseluruhan biaya penambangan akan terdiri dari banyak komponen biaya yang merupakan
akibat dari masing-masing tahap kegiatan. Besar kecilnya biaya penambangan akan tergantung
pada perancangan teknis sistem penambangan, jenis dan jumlah alat yang digunakan. Diagram
berikut ini memperlih atkan tahapan analisis yang harus dilakukan untuk mendapatkan biaya
penambangan.



Untuk mencapai biaya penambangan yang sekecil mungkin, maka dalam merancang sistem
penambangan perlu diperhatikan pemilihan alat yang dapat memberikan biaya produksi per ton
yang paling murah. Pemilihan alat (jenis dan merk) sebaiknya tidak dilakukan semata-
mata karena besar-kecilnya produksi atau kapasitas alat tersebut.

Dari diagram diatas te rlihat bahwa pada dasarnya aspek teknis da n aspek ekonomis tidak dapat
berjalan sendiri-sendiri, keduanya akan selalu saling mempengaruhi. Perkiraan biaya investasi
alat akan tergantung pada jumlah alat yang dipergunakan dan kapasitas alat yang dipilih.
Demikian pula biaya produksi merupakan fungsi dari kapasitas alat yang dipakai. Jadi jelaslah
dari diagram tersebut di atas bah wa biaya penambangan yang rendah akan dapat dicapai ji ka
rancangan teknis dapat dioptimasi dengan me mperhatikan pemilihan dan jumlah alat yang akan
digunakan.

Secara umum biaya operasi dibagi menjadi tiga komponen biaya, yaitu :
a. biaya operasi langsung
b. biaya operasi tak langsung
c. biaya overhead

1.3.1 Biaya Operasi Langsung
Biaya operasi langsung merupakan biaya utama dan berkaitan langsung dengan produk yang
dihasilkan. Walaupun komponen biaya operasi langsung dari satu tambang ke tambang yang lain
bervariasi, akan tetapi pada umumnya terdiri dari :
1. Pekerja (pekerja lapangan, pengawas lapangan, dan sebagainya)
2. Bahan bakar (bahan bakar, oli, dan sebagainya)
3. Royalties
4. Persiapan daerah produksi/permukaan kerja

1.3.1 Biaya Operasi Tak Langsung
Biaya operasi tak langsung adalah pengeluaran-pengeluaran yang tak terpengaruh oleh produksi
yang dihasilkan. Umumnya, terdiri dari :
1. Pekerja (administrasi, keamanan, teknisi, jurubayar, petugas kantor, bengkel dan sebagainya.
2. Asuransi.
3. Penyusutan alat.
4. Pajak.
5. Reklamasi daerah bekas tambang.
6. Perjalanan bisnis, rapat, sumbangan-sumbangan.
7. Keperluan kantor.
8. Humas, dan sebagainya.

1.3.1 Biaya Overhead
Biaya overhead dapat/tidak dapat dimasukkan sebagai ko mponen biaya operasi tetapi biaya-
biaya ini berpengaruh terhadap total biaya produksi walaupun umumnya mencerminkan biaya-
biaya diluar tambang/biaya-biaya perusahaan. Overhead biasanya dikelompokkan menjadi :
1. Penjualan.
2. Administrasi kantor pusat.

2. COST BENEFIT ANALISIS
Yang dimaksud dengan analisis benefit cost adalah : Suatu penilaian secara sistematis terhadap
semua ongkos dan semua manfaat dari suatu kebijakan suatu proyek. Costbenefit meliputi :
- Explicit costs & benefit: Upah, gaji, bahan
- Implicit costs & benefit : nilai kesempatan (opportunity cost), penyusutan, dana internal
- External cost & benefit : ongkos lingkungan
- Ongkos dan manfaat murni : consumer surplus



Z1 = B C ; p = inflasi ; r = tingkat bunga nominal

3. Penentuan ROR, BESR, BEP
3.1 Pengertian
ROR = Rate of Return : Tingkat penge mbalian / tingkat bunga yang diterima investor atas
investasi yang tidak diamortisasikan
ROR = Rate of Reinvestment : Tingkat bunga yang harus diperoleh melalui reinvestasi
pendapatan (Income) setiap periode agar nilai akhir dari income setiap periode tersebut sama
dengan biaya yang harus dikeluarkan pada saat itu.

Perbedaannya :
- Bila cost dikeluarkan pada akhir umur proyek setelah memperoleh income tahunan, maka
tingkat bunga yang didapat merupakan RORe investment
- Bila cost dikeluarkan pada awal umur proyek lalu diikuti income tahunan, maka yang didapat
ROReturn

BESR = Break Even Stripping Ratio :
Jumlah perbandingan antara biaya penambangan bawah tanah setelah dikurangi biaya
penambangan terbuka dengan biaya pengupasan overbourden
BEP = Break Even Point :
Volume / jumlah penjualan dan atau volume produksi, dimana suatu perusahaan
yang menghasilkan suatu produk tertentu tidak mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh
laba. Dengan kalimat lain, merupakan level produksi dari suatu operasi dimana pendapatan
(income) yang diperoleh tepat sama dengan biaya total (total cost) yang dikeluarkan.


4. SENSITIVITY ANALYSIS
Dalam teknologi yang maju, seorang manajer yang sukses harus membuat suatu keputusan yang
mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan tambang dengan menggambarkan secara
sistematis pengetahuan khususnya, ketersediaan informasi, dan kecakapan dari
para pegawainya, karena dalam evaluasi proyek dan penentuan keputusan tidak selamanya
seorang manager mengeluarkan suatu kepusan yang tepat. Pada analisa sebelumnya yang
melibatkan nilai uang ternyata ada suatu faktor yang mempengaruhi analisa pengambilan
keputusan yaitu analisis sensibilitas, seperti nilai escalasi dollar terhadap rupiah, inflasi mata
uang, pengaruh nilai jual komoditi, dll. Pengaruh perkiraan ketidakpastian masa depan terhadap
keputusan. Suatu teknik untuk menganalisis pengaruh suatu variabel atau parameter terhadap
suatu kesimpulan / keputusan semula.

Tujuan daripada sensitivity analysis dalam evaluasi ekonomi adalah :
a. Menganalisis / mengevaluasi pengaruh dari ketidakpastian pada suatu investasi dengan cara
menentukan sejauh mana parameter- parameter profitabilitas suatu alternative investasi
mempengaruhi hasil evaluasi ekonomi
b. Mengidentifikasikan apakah perubahan variabelvariabel kritis dapat mempengaruhi tingkat
keuntungan.

Kepekaan ini dapat juga dianalisis dengan metoda, diantaranya :
a. Initial Investment Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas terhadap investasi langsung)
b. project Life Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas tehadap umur proyek)
c. Annual Profit Analysis (Analisis keuntungan tahunan)
d. Salvage Value Analysis (Analisis Nilai Sisa)

5. Analisis biaya volume laba :
Analisis kepekaan pengaruh perubahan volume terhadap pendapatan bersih
a. Pengaruh biaya berubah
Contoh :
Biaya produksi batu naik Rp. 5.000,- menjadi Rp. 7.000,-/ton
Harga jual Rp. 9.000,-/ton, B. Tetap Rp. 200.000,-

X ---> 9.000 X = 7.000 X + 200.000 ---> Rp. 200.000,-
---> X = 100

X ---> 50 ---> 100t

Contoh :

1 + J = BB + BT + n

9.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0

4.000 X = 200.000 X 50 t (BEP)

b. Pengaruh biaya tetap
Contoh :

* 200.000,- ---> 400.000,-

4000.000 x 400.000 ---> 100 (dari 50)
t

c. Pengaruh harga jual
Contoh :

* 9.000/t ---> 10.000 Rp/t

10.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0

5.000 X = 200.000

X = 40 t



















Salah satu dampak dari kegiatan pertambangan adalah munculnya air asam tambang. Air asam
tambang ini merupakan air asam yang terbentuk karena adanya kontak antara batuan yang
bersifat asam (sulfida mineral) dengan udara atau air. Pembentukan air asam tambang ini terjadi
karena adanya proses oksidasi yang terjadi pada batuan yang mempunyai kandungan pyrite
setelah mengalami kontak dengan oksigen baik yang terdapat pada air maupun udara. Air tersebut
kemudian akan mengalami perubahan pH menjadi 2-3. Logam yang terkena air dengan kondisi
pH seperti ini bisa terlarut.

Air asam tambang yang mengadung logam berat, yang mengalir ke sungai, danau atau rawa akan
merusak kondisi ekosistem yang ada disungai tersebut. Hal ini tentu saja akan menyebabkan
adanya penurunan kualitas air. Selain itu air asam tambang dapat mempengaruhi bentang alam,
perubahan struktur tanah, perubahan pola aliran permukaan dan air tanah serta komposisi kimia
air permukaan.

Air asam tambang ini dicirikan dengan rendahnya pH dan tingginya senyawa logam tertentu
seperti besi, alumunium, mangan. Pyrite (FeS2) merupakan senyawa yang umum dijumpai di
lokasi pertambangan. Selain Pyrite masih ada berbagai jenis sulfida logam yang mempunyai
potensi membentuk air asam tambang seperti : marcasite, pyrrhotite, chalcocite, covellite dll.

Mengingat bahaya dari air asam tambang ini bagi lingkungan maka perlu kiranya dilakukan
upaya pencegahan dan penanganan air asam tambang. Berikut ini adalah beberapa cara untuk
mencegah dan menghambat terbentuknya air asam tambang :

Penempatan Selektif

Menempatkan batuan yang berpotensi membentuk air asam tambang dengan batuan yang tidak
berpotensi ke tempat yang terpisah dengan cara ditimbun. Kemudian lokasi penimbunan batuan
yang berpotensi membentuk air asam tambang ditempatkan sejauh mungkin dari aliran air.
Selanjutnya rembesan-rembesan dikumpulkan pada satu lokasi.

In hibisi Bakteri

Thiobaccilus ferrooxidans merupakan bakteri yang berperan dalam proses pembentukan air asam
tambang. Dengan menghambat perkembangan bakteri ini dapat mengurangi proses pembentukan
air asam. Thiobaccilus ini dapat bertahan dalam kondisi lingkungan asam karena memiliki lapisan
film yang melindunginya.

Manajemen Tanah

Dalam program restorasi tanah areal pertambangan diperlukan manajemen tanah yang baik.
Manajemen tanah ini bertujuan untuk :

1. Memaksimalkan sumberdaya yang terbatas

2. Memisahkan tipe tanah secara benar, sehingga pencampuran dan degradasi kualitas tanah
pucuk tidak terjadi.

3. Menjamin kualitas tanah pucuk sebagaimana adanya (struktur, nutrisi, dan bank bibit) tersedia
untuk digunakan dalam rehabilitasi.

Penanganan Air Asam Tambang secara pasif

Untuk menetralisasi air asam tambang dapat digunakan kapur. Metode ini efektif dan
menawarkan biaya yang lebih murah. Penanganan air asam tambang dengan metode pasif ini
dengan cara air dialirkan ke areal lahan basah yang telah di bangun dengan cara ini kandungan
logam dan keasaman dapat dikurangi. Jumlah aliran air dan komposisi kimia air tambang,
substrat lahan basah, komposisi vegetasi lahan basah, komposisi mikroba dan aktivitas yang
terdapat dalam lahan basah merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan.

Sumber : Pedoman Teknis Penanganan Air Asam Tambang Kementerian Negara Lingkungan
Hidup, 2005































Pembentukan
Air asam tambang (AAT) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai acid mine drainage (AMD)
atau acid rock drainage (ARD) terbentuk saat mineral sulphida tertentu yang ada pada batuan
terpapar dengan kondisi dimana terdapat air dan oksigen (sebagai faktor utama) yang
menyebabkan terjadinya proses oksidasi dan menghasilkan air dengan kondisi asam.
Hasil reaksi kimia ini, beserta air yang sifatnya asam, dapat keluar dari asalnya jika terdapat air
penggelontor yang cukup, umumnya air hujan yang pada timbunan batuan dapat mengalami
infiltrasi/perkolasi. Air yang keluar dari sumber-nya inilah yang lazimnya disebut dengan istilah
AAT tersebut.
AAT adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada air asam yang timbul akibat kegiatan
penambangan, untuk membedakan dengan air asam yang timbul oleh kegiatan lain seperti:
penggalian untuk pembangunan pondasi bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya.
Pada kegiatan penambangan, beberapa mineral sulphida yang umum ditemukan adalah:
FeS2: pyrite
Cu2S: chalcocite
CuS: cuvellite
CuFeS2: chalcopyrite
MoS2: molybdenite
NiS: millerite
PbS: galena
ZnS: sphalerite
FeAsS: arsenopyrite
Pyrite merupakan mineral sulphida yang umum ditemukan pada kegiatan penambangan,
terutama batubara. Reaksi oksidasi pyrite adalah seperti ditunjukkan oleh reaksi kimia berikut,
dengan air dan oksigen sebagai faktor penting.

Tanda-tanda pembentukan dan pengaruhnya terhadap lingkungan
Terbentuknya AAT ditandai oleh satu atau lebih karakteristik kualitas air sbb.:
nilai pH yang rendah (1.5 4)
konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan, cadmium,
tembaga, timbal, seng, arsenik dan mercury
nilai acidity yang tinggi (50 1500 mg/L CaCO3)
nilai sulphate yang tinggi (500 10.000 mg/L
nilai salinitas (1 20 mS/cm)
konsentrasi oksigen terlarut yang rendah
Berdasarkan hal tersebut diatas, apabila AAT keluar dari tempat terbentuknya dan masuk ke
sistem lingkungan umum (diluar tambang), maka beberapa faktor lingkungan dapat
terpengaruhi, seperti: kualitas air dan peruntukannya (sebagai bahan baku air minum, sebagai
habitat biota air, sebagai sumber air untuk tanaman, dsb); kualitas tanah dan peruntukkanya
(sebagai habitat flora dan fauna darat), dsb.
Faktor penting
Faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya AAT di suatu tempat adalah:
konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineral sulphida
keberadaan oksigen, termasuk dalam hal ini adalah asupan dari atmosfir melalui
mekanisme adveksi dan difusi
jumlah dan komposisi kimia air yang ada
temperatur
mikrobiologi
Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pembentukan AAT
sangat tergantung pada kondisi tempat pembentukannya. Perbedaan salah satu faktor tersebut
diatas menyebabkan proses pembentukan dan hasil yang berbeda.
Terkait dengan faktor iklim di Indonesia, dengan temperatur dan curah hujan yang tinggi di
beberapa lokasi dimana terdapat kegiatan penambangan, proses pembentukan AAT memiliki
karakteristik yang berbeda dengan negara-negara lain, karena memiliki kondisi iklim yang
berbeda.
Prediksi dan identifikasi
Prediksi dan identifikasi pembentukan AAT dapat dilakukan melalui penyelidikan karakter
geokimia dari batuan. Dikenal ada dua cara untuk hal tersebut, yaitu melalui static test dan
kinetic test.
Metode pengujian yang umum untuk static test meliputi: Net Acid Generation (NAG), Acid
Neutralizing Capacity (ANC) dan analisa kandungan total sulfur (S) untuk mendapatkan nilai
Maximum Potential Acid (MPA). Perlu diketahui bahwa nilai MPA yang dihitung berdasarkan
total sulfur ini cenderung lebih besar potensi sebenarnya, karena yang terukur dalam total sulfur
tidak hanya sulphide-sulfur, tapi juga organic-sulfur dan sulfate-sulfur. Dari nilai ANC dan MPA,
kemudian dapat dihitung nilai Net Acid Production Potential (NAPP), dimana NAPP = MPA
ANC.
Berdasarkan nilai pH dari uji NAG dan nilai NAPP, maka selanjutnya dapat dilakukan
pengklasifikasian jenis batuan berdasarkan sifat geokimianya. Sebagai contoh adalah seperti
dibawah ini:
NAG pH 4; NAPP0: Non Acid Forming (NAF) dan NAG pH<0; NAPP>0: Potentially Acid
Forming (PAF)
Selanjutnya, untuk mengetahui lebih detail kemungkinan pembentukan AAT, dilakukan kinetic
test yang umum dilakukan dengan menggunakan kolom. Kondisi basah dan kering diterapkan
terhadap batuan pada kolom, dan perubahan nilai parameter kualitas air yang keluar dari kolom
tersebut dianalisa untuk mengetahui perilaku atau trend pembentukan AAT-nya.
Design kolom dan ukuran batuan dalam pengujian ini sangat penting untuk diperhatikan.
Pada umumnya, static test dilakukan untuk mengetahui secara cepat potensi pembentukan AAT
dari sejumlah batuan, sedangkan kinetic test, dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup
lama untuk mendapatkan hasil yang mewakili, dilakukan untuk mengetahui karakter batuan
yang dominan di sebuah lokasi tertentu, atau untuk mempertajam hasil analisa dari static test.
Pengujian kolom juga dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu yang lain seperti untuk
mengetahui pengaruh faktor lain (curah hujan, pencampuran dengan material lain, perubahan
faktor fisik, dsb) terhadap pembentukan AAT.
Penanganan
Secara umum, penanganan masalah AAT dibagi dua, yaitu: pencegahan pembentukan AAT dan
penanganan AAT yang telah terbentuk, khususnya yang akan keluar dari lokasi kegiatan
penambangan.
1. Pencegahan pembentukan AAT
Pencegahan pembentukan AAT, seperti dijelaskan pada reaksi kimia diatas, dilakukan dengan
mengurangi kontak antara mineral sulphida (dalam reaksi tersebut sebagai pyrite) dengan air
dan oksigen diudara. Secara teknis, hal ini dilakukan dengan menempatkan batuan PAF pada
kondisi dimana salah satu faktor tersebut relatif kecil jumlahnya. Secara umum, dikenal 2 cara
untuk melakukan hal tersebut, yaitu dengan menempatkan batuan PAF dibawah permukaan air
(dimana penetrasi oksigen terhadap lapisan air sangat rendah) atau dikenal dengan istilah wet
cover systems, atau dibawah lapisan batuan/material tertentu dengan tingkat infiltrasi air dan
difusi/adveksi oksigen yang rendah, umumnya disebut sebagai dry cover system. Dengan
menerapkan metode ini, diharapkan pembentukan AAT dapat dihindari.
2. Penanganan AAT yang telah terbentuk
Penanganan AAT yang telah terbentuk, yang berpotensi keluar dari lokasi penambangan,
dilakukan untuk mencapai kondisi kualitas air seperti yang disyaratkan dalam peraturan
pemerintah tentang kualitas air. Secara umum terdapat dua cara pengolahan air, yaitu secara
aktif dan pasif.
Sebagai contoh, seperti disebutkan diatas, salah satu parameter penting yaitu pH. Untuk
menaikkan nilai pH ke kondisi normal, maka dilakukan beberapa upaya diantaranya adalah
dengan penambahan bahan kimia seperti kapur (lime). Secara aktif, kapur (berbentuk
serbuk/tepung) dicampurkan secara langsung dengan air asam di saluran air atau wadah khusus,
atau di kolam penampungan air. Sedangkan secara pasif, air asam dialirkan melalui saluran-
saluran dimana terdapat kapur (dalam bentuk batuan) sebagai media penetral air asam yang
melaluinya.















STUDI PENGENDALIAN AIR ASAM TAMBANG
PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT. KALTIM
PRIMA COAL
SANGATTA KALIMANTAN TIMUR


I. LATAR BELAKANG

PT. Kaltim Prima Coal merupakan salah satu perusahaan swasta terbesar di
Indonesia yang terletak di Sangatta Kalimantan Timur. Sistem penambangan yang
diterapkan di PT. Kaltim Prima Coal adalah sistem tambag terbuka (open pit mining)
yang meliputi kegiatan pembongkaran, pemuatan dan pengangkutan. Setelah kegiatan
penambangan berakhir selanjutnya lokasi bekas tambang ditutup kembali menggunakan
tanah penutup (over burden). Pada tanah penutup ini mengandung pirit (FeS
2
) yang
berpotensi menimbulkan air asam tambang.
Timbulnya air asam tambang (Acid Mine Drainage) berasal dari kegiatan
penambangan batubara baik tambang terbuka maupun tambang dalam, unit pengolahan
batubara serta timbunan batuan buangan (Over Burden). Potensi air asam tambang
harus diketahui agar langkah-langkah pencegahan dan pengendaliannya dapat dilakukan
sehingga timbulnya permasalahan terhadap lingkungan dapat diatasai serta tidak
menjadi persoalan dikemudian hari, baik tambang tersebut masih aktif ataupun setelah
tambang tersebut tidak beropersi lagi.
Persoalan lingkungan yang ditimbulkan karena pengaruh air asam tambang baik
selama kegiatan penambangan maupun pasca penambangan adalah menurunnya
kualitas air tanah, air permukaan terutama jika dialirkan kesungai akan berdampak pada
bioata yang ada diperairan, terutama masyarakat yang tinggal didaerah aliran sungai.
Oleh karena itu penulis berkeinginan untuk mengkaji langkah-langkah apa yang
ditempuh oleh PT. Kaltim Prima Coal dan sejauh mana keberhasilan dalam mengatasi
permasalahan air asam tambang.

II. IDENTIFIKASI MASALAH
Adapun permasalahan yang akan di analisis adalah :
1.Mengetahui karakteristik air tanah atau batuan penutup (Over Burden) terhadap
adanya material yang berpotensi menimbulkan air asam tambang.
2.Menganalisa factor-faktor yang menyebabkan terjadinya air asam tambang.

III. BATASAN MASALAH
1. Upaya apa yang dilakukan untuk mencegah terjadinya air asam tambang.
2. Hal-hal apa saja yang dilakukan untuk menetralisis air asam tambang.
3. Apakah air asam tambang yang ada dilokasi penambangan memenuhi syarat untuk
dialirkan kesungai.
.
IV. PEMECAHAN MASALAH
Untuk memecahkan masalah tersebut diatas maka penulis melakukan hal-hal
sebagai berikut :
Membuat hipotesa yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.
Mengadakan penelitian langsung di lapangan.
Mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah.
Mengolah data untuk menguji hipotesa.
Study pustaka
Penarikan kesimpulan.


V. MAKSUD DAN TUJUAN

MAKSUD
Menganalisa dampak yang ditimbulkan bila terjadi air asam tambang terhadap biota
darat dan perairan serta terhadap masyarakat yang berda disekitar aliran sungai.
TUJUAN
Adapun tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui dan menganalisis
langkah-langlah pencegahan air asam tambang sebelum dialirkan kesungai

VI. DATA-DATA YANG DIBUTUHKAN
1.Data primer adalah data yang langsung diperoleh pada objek penelitian yaitu pada PT.
Kaltim Prima Coal yitu data kuantitatif mengenai penanganan air asam tambang.
2.Data sekunder adalah data yang pengumpulan dan pengolahannya dilakukan oleh
orang lain dan dipakai sebagai sumber data tambahan, data ini meliputi teori-teori
yang digunakan sebagai landasan pemikiran yang dapat diperoleh dari berbagai
literature referensi.

VII. LANDASAN TEORI
1. Dasar Hukum Pengeloaan Lingkungan
Dasar hukum pengelolaan linhgkungan di Indonesia adalah Undang-Undang No.
23 tahun 1997. PT. Kaltim Prima Coal sebagai salah satu perusahaan pertambangan
dimana dimana dalam kegiatannya tidak terlepas dari dampak-dampak yang
ditimbulkannya dan menjadikan undang-undang no. 23 tahun 1997 sebagai dasar
hukum pengelolaan lingkungan.
Selai itu juga digunakan Baku Mutu Ambien Air Golongan B yang ditetapkan
oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan KEK-02/MENKHLH/1988 untuk
mengetahui air yang dialirkan ke sungai telah memenuhi standar atau tidak.
2. Daur Hidrologi
Daur hidrologi yaitu suatu bagian dari jumlah air keseluruhan mengalami proses
yang membentuk daur, dimana air megalami perubahan bentuk dan tempat. Melalui
penguapan air berubah menjadi uap dan naik ke atmosfer, setelah mengalami transport
dan kondensasi uap air tersebut akan jatuh ke bumi dalam bentuk presipitasi (hijan,
embun, dan salju). Air yang jatuh di daratan sebagian akan menguap, sebagian lagi akan
meresap ke dalam tanah sebagian lagi akan mengalir dipermukaan menuju ke sungai
seterusnya ke laut.
3. Kualiatas Air
Pencemaran air dapat disebabkan oleh adanya aktivitas didekat sumber air
(sungai, danau, pantai). Pada kegiatan penambangan suber air tambang berasal dari air
tanah dan air permukaan terutama dari hujan. Sumber-sumber pencemaran sdihasilkan
oleh pemukiman, industri dan sumber pencemaran lainnya. Salah satu dampak dari
pencemaran air yaitu terjadinya perubahankualitas dan kuantitas air.
Potensi kualitas air didasarkan pada berbagai sifat kualitas air yang dimiliki,
maka untuk mengevaluasi dan mengetahui perubahan pada kualitas air dapat dilihat dari
sifat fisik, sifat kimia, dan bakterriologis.
3.1 Sifat Fisik
Sifat fisik kualitas air dinyatakan dalam beberapa parameter antara lain :
1. Warna dari air tanah dapat disebabkan oleh adanya zat-zat terkandug didalamnya
baik berupa suspensi dan yang terlarut.
2. Bau dan Rasa. Bau dapat disebabkan oleh zat-zat atau gas-gas yang mempunyai
aroma yang terkandung di dalam air. Rasa ditentukan oleh adanya garam atau zat lain
baik yang tersuspensi atau yang terlarut.
3. Kekentalan dipengaruhi oleh partikel-partikel yang terkandung di dalamnya. Semakin
banyak partikel ang dikandung maka akan semakin kental. Disamping itu bila suhunya
tinggi maka kekentalannya akan semakin turun.
4. Kekeruhan disebabkan karena adanya zat-zat yang terkandung didalamnya, semakin
banyak yang terkandung maka air semakin keruh.
5. Air juga dipengaruhi oleh keadaan di sekitarnya seperti musim, cuaca, siang ,malam,
tempat dan lokasinya.
3.2 Sifat Kimia
Sifat kimia antara lain : pH dan eH, kesadahan, jumlah garam terlarut, daya
hantar listrik, keasaman kebasaan dan kandungan ion.
pH dan eH memegang peranan penting karena digunakan untuk menentukan
apakah campuran yang terbentuk stabil. eH adalah ukuran potensial pemindahan
elektron disebut REDOKS, keadaan oksidasi yaitu melepaskan elektron atau ion
yang ditunjukkan dengan angka , sedangkan reduksi adalah penerimaan elektron.
pH adalah parameter untuk menentukan tingkat keasaman larutan pada range 5,0-
9,0 adalah air alamiah.
Kesadahan disebabkan oleh kandungan Ca dan Mg. kesadahan ada 2 macam yaitu
kesadahan karbonat dan non karbonat. Untuk menentukan besarnya kesadahan
kesadahan dapat dilakukan dengan titrasi dengan satuan ppm setara mg/l atau
0
D =
10 mg/l (CaO).
CaCO
3
CaCO
3
Hr (kesadahan ) = Ca +
Ca Mg



Klasufikasi air berdasarkan kesadahannya sebagai berikut ;
Kesadahan (mg/l CaCO
3

Klas Air
Hem Sawyer dan Mc Carty
0-60 0-75 Lunak
61-120 75-150 Menengah
121-180 150-300 Keras
> 180 >300 Sangat Keras

Jumlah garam terlarut atau TDS adalah jumlah konsentrasi garam yang terkandug di
dalam air. Klasifikasi air berdasarkan jumlah garam terlarutnya menurut Hem Bouwer,
1978 adalah :
Jumlah Garam Terlarut (mg/l) Macam Air
<3.000 Tawar
3.000-10.000 Masin (moderately saline)
10.000-35.000 Sangat Masin (very saline)
>35.000 Asin (briny)

Sebagai perbandingan bahewea jumlah garam terlarut dari air laut adalah sekitar 34.000
mg/l dan larutan NaCl jenuh > 300.000 mg/l jumlah garam terlarut dapat didekati
dengan harga daya hantar listrik (DHL = EC). Semakin banyak ion (semakin tinggi
jumlah garam terlarut) maka daya hantarnya akan semakin besar.
Daya hantar listrik (electric conductance) adalah sifat menghantarkan listrik dari
air. Air yang banyak mengandung garam mempunyai haarga DHL tinggi.
Pengukuran dengan EC meter, karena satuannya sangat kecil maka digunakan
satuan mikrosiemen (S/ Sm) atau mikromhos (mho/Sm). DHL pada suhu
standar yaitu 25
0
C harus dilakukan koreksi dengan rumus :
DHL t
0
C
DHL 25
0
C =
1+0,02(t-25)
Air tanah pada umumnya mempunyai harga 100-5.000
4. Keasaman Larutan
Parameter untuk menentukan tingkat keasaman larutan adalah dengan menggunakan
harga pH. Pengukura pH dapat dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus atau
dengan menggunakan pH meter, keasaman suatu larutan dapat dipahami dengan
menggunakan pengertian pH dan pOH, yang menunjukkan besarnya konsentrasi ion H
+

dan konsentrasi ion OH
-
yang terkandung dalam larutan. Huruf p berasal dari potenz yang
artinya pangkat, huruf H adalah tanda atom hidrogen dan huruf O adalah tanda atom
Oksigen. Jadi pH adalah harga negatif logaritma konsentrasi ion H
+
sedangkan pOH
-


pH = - log [ H
+
]
pOH = - log [ OH
-
]
Dalam air murni konsentrasi ion H
+
dan konsentrasi ion OH
-
sama besarnya yaitu 10
-
7
, sehingga sesuai rumus pH= - log [ H
+
] air murni mempunyai pH =7
pH = - log [ H
+
] = -log [10
-7
]= 7
pH = - log [ OH
-
] = - log [10
-7
]
larutan bersifat asam, bila pH< 7
larutan bersifat netral, bila pH =7
larutan bersifat basa, bila pH >7
Jadi semakin kecil harga pH maka larutan air semakin bersifat asam.
Hubungan pH dengan pOH adalah pH = pOH = 14, perhitungan konsentrasi masing-
masing pereaksi baik asam maupun basa dapat dirumuskan sebagai berikut :
M =
1
mol
mol =
Mr
gr


Dimana :
M = Molaritas
l = Liter
gr = gram
Mr = Massa Molekul Relatif zat Terlarut (gr/Mr)

Molaritas dapat juga dihitung dari nilai pH =
- untuk larutan asam
M =10
-pH

- untuk larutan basa
M = 10
-(14-pH)

3. Pengertian Air Asam Tambang
Air asam tambang atau dalam bahasa asing Acid Mine Drainage (AMD) adalah air
yang terbentuk dilokasi penambangan denagn pH rendah ( pH<6 ) sebagai dampak dibukanya
suatu potensi keasaman batuan sehingga menimbulkan masalah bagi kualitas air tanah,
dimana pembentukannya dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu air, oksigen, dan batuan
yang m,engandung mineral-mineral sulfida (pirit, kalkopirit, markasit, dll).











Mineal mineral sulfida yang berpotensi enimbulkan air asam tambang adalah :
Mineral Komposisi
Pirit FeS
2

Marcasite FeS
2

Calcopirirt CuFeS
2

Calcosite Cu
2
S
Sphalerit ZnS
Millerit NiS
Pirotit Fe
1-Xs
(dimana 0<x<0,2)
Arsenpirit FeAsS
Cinnabar HgS
Galena PbS


4. Proses terjadinya Air Asam Tambang
Air asam tambang terjadi apabila mineral-mineral sulfida yang terdapat pada batuan
hasil galian teroksidasi dengan air (H
2
O) dan Oksigen (O
2
).
Oksidasi logam sulfida dalam membentuk asam terjadi dalam beberapa persamaan
reaksi sebagai berikut :
1. FeS
2
+ 7/2 O
2
+ H
2
O Fe
=2
+ 2SO
4
-2
+ 2H
+

2. Fe
+2 +
+ 1/4 O
2
+ H
+
Fe
+3 +
H
2
O
3. Fe
+3
+ 3H
2
O Fe(OH)
3
+ 3H
+

4. FeS
2
+ 14 Fe
+3
+ 8 H
2
O 15Fe
+2
+ 2SO
4
-2
+ 16H
+

Ada tiga jenis sulfida dalam air maupun air limbah yaitu :
a. Total Sulfida : mencakup H
2
S, HS terlarut dan sulfida-sulfida logam tersuspensi
yag dapat dihidrolisasi dengan asam.
b. Sulfida terlarut : sulfida yang tertinggal setelah padatan tersuspensi dalam contoh
air dihilangkan dengan cara fluktuasi maupun pengendapan.
c. H
2
S yang tidak terionisasi : H
2
S jenis ini dapat dihitung dari konsentrasi H
2
S
terlarut, pH contoh air dan konstanta ionisasi H
2
S.
Faktor-faktor koimia yang meentukan pembentukan air asam tambang ialah :
pH
Kandungan O pada fase gas, dengan kejenuhan <100%
Kandungan O pada fase cair
Akumulasi kimia dari Fe
+3

Luas permukaan Sulfida yag terpajang
Energi kimia yang dibutuhkan untuk menurunkan asam
Peranan bakteri
Sedangklan sifat fisik yang mempengaruhi migrasi air asam tambang ialah :
Kondis limbah
Permiabilitas limbah
Keberadaan lubang air
Tekanan lubang air
Mekanisme perpindahannya
Faktor yang mengendalikan tingkat perpindahan kontaminan adalah jumlah
pengencer dan tingkat pencampuran yang membentuk air asam tambang yang pindah dari
sumber ke lingkungan penerimanya.
5. Sumber-Sumber Air Asam Tambang
air asam tambang dapat terjadi pada kegiatan penambangan baik itu tambang terbuka
maupun tambang dalam, umumnya keadaan ini terjadi karena unsur sulfur yang terdapat di
dalam batuan teroksidasi secara alamiah didukung juga dengan curah hujan yang tinggi
semakin mempercepat perubahan oksida sulfur menjadi asam.
Sumber-sumber air asam tambang berasal dari kegiatan sebagai berikut ;
1. Air dari tambang terbuka
Lapisan batuan akan terbuka sebagai akibat dari terkupasnya lapisan penutup
sehingga unsur-unsur sulfur yang terdapat di dalam batuan sulfida akan mudah
teroksidasi dan bila bereaksi air dan oksigen akan membentuk air asam tambang.
2. Air dari pengolahan batuan buangan
Material yang banyak terdapat limbah kegiatan penambangan adalah batuan
buangan (waste rock). Jumlah batuan buangan ini akan semakin meningkat
dengan bertambahnya kegiatan penambangan. Sebagai akibatnya batuan buangan
yang mengandung sulfur akan berhubungan langsug dengan udara terbuka
membentuk senyawa sulfur oksida selanjutnya degan adanya air akan membentuk
air asam tambang.
3. Air dari lokasi penimbunan batuan
Timbunan batuan yag berasal batuan sulfida dapat menghasilkan air asam tam,
pH dalam ang karena adanya kontak langsung dengan udara yang selanjutnya
terjadi pelarutan akibat adanya air.
4. Air dari unit pengolahan limbanh tailing
Kandungan unsur unsur sulfur didalam tailing diketahui mempunyai potensi dlam
membentuk air asam tambang dalam tailing pond ini biasanya cukup tinggi
karena adanya penambahan hydrated lime untuk menetralkan air yang bersifat
asam yag dibuang kedalamnya. Air yang masuk kedalam tailing pond yang
bersifat asam tersebut diperkirakan akan menyebabkan limbah asam bila
merembes keluar daritailing pond.
6. Dampak Dampak Air Asam Tambang
Terbentuknya air asam tambang di lokasi penambangan akan menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan. Adapun dampak negatif dari air asam tambang adalah :
1. Masyarakat Disekitar Wilayah Tambang
Dampak terhadap masyarakat disekitar wilayah tambang tidak dirasakan secara
langsung akan tetapi akan dirasakan beberapa tahun kemudian karena air yang
terkontaminasi dengan asam tambang banyak mengandung logam berat seperti besi,
seng yang mana bila dikonsumsi oleh masyarakat secara terus menerus maka
masyarakat tadi akan menderita keracunan dan dapat mengakibatl
2. Biota perairan
Bila air sungai terkontaminasi dengan air asam tambang maka biota di perairan akan
berkurang atau mereka tidak akan bertahan hidup.
3. Kualitas Air Permukaan
Terbentuknya air asam tambang hasil oksidasi pirit akan menyebabkan menurunnya
kualitas air permukaan.
4. Kualitas Tanah
Tanah yang asam banyak mengandung logam berat seperti besi, tembaga seng, yang
semua ini merupakan unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman, sedangkn unsur
hara makro yang dibutuhkan tanaman seperti fosfor, magnesium, kalsium sangat
kurang. Akibatnya karena kelebihan unsur hara mikro akan menyebabkan keracunan
pada tanaman, ini ditandai denagan busuknya akar tanaman sehingga tanaman
menjadi layu.
7. Pencegahan Air Asam Tambang
Pencegahan terjadinya air asam tambang dapat dilakukan dengan menghindari faktor-
faktor pembentuk air asam tambang, seperti mineral-mineral sulfida. Adapun cara yang dapat
dilakukan untuk mencegah air asam tambang :

8.1. Hidrologi
Pergerakan terhadap air di atas atau yang melewatidaerah timbunan merupakan faktor
yang menentukan dalam upaya pencegahan dan pegendalian air asam tambang. Pada
umumnya prioritas dan hantaran hidrolik (konduktivitas hidrolik) mterial pada daerah
timbunan lebih besar dari pada batuan pada tanah penutup sebelum digali. Selain itu juga
akibat penggalian juga akan mengubah pola dan kecepatan aliran.
8.2 Pelapisan dan Penutupan
Pelapisan dan penutupan dimaksudkan untuk mencegah masuknya air kedalam
timbunan. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pelapis atau penutup adalah material
liat atau bahan sintetik.
a. Liat
Jenis material liat yang efektif sbagai pelapis adalah bentinit, karena material ini
memiliki sifat mengembang dan melapisi/menutup. Akan tetapi bentonit
mempunyai kecendrungan retak pada musim kemarau.
Pelapis liat ditempatkan pada material sulfida kemudian dipadatkan. Hal yang
perlu diperhatikan adalah terjadinya infiltrasi air kedalam timbunan. Oleh karena
itu pemadatanya harus benar-benar diperhatikan dan rata, agar tidak terjadi
pengumpulan air pada suatu tempat. Upaya stabilitas lapisan lapisan pada
timbunan dari erosi dan longsordilakukan dengan memperhatikan kemengkinan
penetrasi akar tanaman yang ditanam.

b. Bahan Sintetik
Denagn bahan sintetik harga dan biaya pemasangannya mahal serta
rentanterhadap pelapukan kimia. Pada umumnya digunakan untuk pelapisan
kegiatan tambang dalam. Keuntungan dari bahan sintetik ini adalah dapat
mencegah terjadinya ifiltrasi (impermiable). Bahan sintetik yang biasa digunakan
adalah aspal, tir, semen, plastik film dan geotekstil.
8.3 Kandungan Oksigen
Pemakaian nitrogen, metana atau karbon sebagai gas penyelimut dapat mengurangi
terjadinya air asam tambang, tetapi air asam tambang masih dapat terjadi aklibat adanya
oksigen terlarut dalam air. Penempatan material tanah diatas material sulfida tidak seluruhnya
dapat mencegah difusi oksigen. Akan tetapi tingkat ketebalan dan kepadatan permukaan
secara efektif dapat mengurangi jumlah dan laju masuknya oksigen.
Pelapisan material sulfida denagn lapisan pengkonsumsi oksigen (tanah pucuk yang
mengandung mikro organisme yang aktif) merupakan strategi yang baik untuk mengurangi
kandungan oksigen.
Tiga (3) langkah untuk menguragi oksigen dalam timbunan adalah :
1. Material timbunan harus dikubur dan dilapisi dengan tanah pucuk sesegaera
mungkin.
2. Material timbunan harus dipadatkan selama konstruksinya, terutama pada saat
penempatan material sulfida.
3. Pemadatan pada permukaan dan lereng bagian luar adalah sangat penting dalam
mengurangi oksigen dan konveksi udara ke dalam timbunan.
8.4 Bakterisida
Surfaktan anion, asam organik alam pengawet makanan sudah umum digunakan
sebagai senyawa anti bakterial. Surfaktan bekerja denagn pelepasan ion hidrogen kedalam
membran sel bakteri sehingga menyebabkan kerusakan sel dan matinya bakteri. Salah satu
jenis surfaktan sodium laurit sulfat (SLS) mampu mengurangi terbentuknya air asam tambang
60 % - 90 % dalam percobaan lapangan pada timbunan batubara buangan (coal rifusi).
Kebanyakan dari surfaktan anionik bersifat sangat mudah larut.
VIII. PERALATAN DAN FASILITAS
Untuk kelancaran penelitian ini, diharapkan kesediaan perusahaan
menyediakan peralatan berupa komputer, alat tulis menulis, alat ukur, fasilitas berupa
tempat tinggal, komsumsi serta biaya transportasi dan kebutuhan lainnya selama
melakukan penelitian.
IX. TEMPAT PENELITIAN
Tempat penelitian tugas akhir ini diusulkan pada PT. Kaltim Prima Coal.
Sangatta Kalimantan Timur..
X. WAKTU PELAKSANAAN
Tugas akhir ini direncanakan pada bulan juni sampai Juli 2012 (lampiran A).

XI. RENCANA DAFTAR ISI
Penulisan laporan tugas akhir ini akan disusun secara sistematis dalam sub-sub
bahasan (lampiran B).

XII. RENCANA DAFTAR PUSTAKA
Sejumlah literatur akan digunakan sebagai referensi pembuatan laporan tugas
akhir ini (lampiran C).

XIII. PENUTUP
Demikian proposal ini dibuat untuk menjadi pertimbangan, selain sebagai
acuan dalam melakukan tugas akhir juga diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan
semua pihak dalam menunjang kelancaran tugas akhir yang dimaksud.















Lampiran A

Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian




No Kegiatan
juni

Juli agustus
I II III IV I II III IV I II III IV
1
Orientasi
Lapangan


2
Pengumpulan
Data

3
Pengolahan
Data

4
Penyusunan
Laporan

5
Presentase
Laporan

6
Persiapan
Kembali





















Lampiran B

Rencana Daftar Isi


HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
Bab I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masaalah
1.2 Perumusan Masaalah
1.2.1 Identifikasi masaalah
1.2.2 Permasalahan
1.2.3 Batasan masaalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Metode Penelitian
1.4.1 Teknik pengambilan data
1.4.2 Teknik pengolahan data
1.5 Pemecahan Masalah

Bab II. TINJAUAN UMUM
2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.2 Geografi daerah Penelitian
2.2.1 Iklim dan curah hujan
2.3 Geologi Derah Penelitian
2.3.1 Morfologi
2.3.2 Topografi

Bab III. LANDASAN TEORI
3.1 Dasar Hukum Pengelolaan Ligkungan
3.2 Daur Hidrologi
3.3 Kualitas Air
3.3.1 Sifat Fisik
3.3.2 sifat Kimia
3.4 Keasaman Larutan
3.5 Pengertian Air Asam Tambang
3.6 Proses Terjadinya Air Asam Tambang
3.7 Sumber-Sumber Air Asam Tambang
3.7.1 Air Dari Tambang Terbuka
3.7.2 Air Dari Unit Pengelolaan Batuan
3.7.3 Air Dari Lokasi Penimbunan Batuan
3.7.4 Air Dari Pengolahan Lombah Tailing
3.8 Dampak-Dampak Air Asam Tambang
3.8.1 Masyarakat Disekitar Wilayah Tambang
3.8.2 Biota Perairan
3.8.3 Kualitas Air Permukaan
3.8.4 Kualitas Air Tanah
3.9 Pencegahan Air Asam Tambang
3.9.1 Pelapisan dan Penutupan
3.9.2 Kandungan Oksigen
3.9.3 Bakterisida

Bab IV. PROSEDUR DAN HASIL PENELITIAN
4.1 Urutan Kegiatan Penelitian
4.2 Hasil Pengamatan
4.2.1 Sumber Pembentukan Air Asam Tambang
4.2.2 Upaya Penanggulangan
4.2.2.1 Penanganan Yang Dilakukan Sebelum Air Asam
Tambang Terbentuk
4.2.2.2 Penanganan Yang Dilakukan Setelah Air Asam
Tambang Terbentuk

Bab V. PEMBAHASAN
5.1 Evaluasi Penanganan
5.2 Teknis Penetralan Air Asam Tambang
5.3 Pencegahan Pemvbentukan Kembali Air Asam Tambang

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
















LAMPIRAN C
DAFTAR PUSTAKA

1. C.A.J. Appelo D. Postma,1996, Geochemistry, Grounwater and Pollution Amsterdam.

2. Colin R. Ward, Coal Geology and Coal technology University of New South Wales,
Australia.

3. F.Gunarwan Suratmo, Prof.Dr.Ir, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan IPB,Bogor.

4. Sri Widodo, Batubara UVRI Makassar.
5. Thomas F. Edgar , Coal Processing and Pollution Control.