Anda di halaman 1dari 42

KAPITA SELEKTA

BURUH
I.Batasan Pengertian
Buruh adalah orang yang bekerja pada
perusahaan atau industri, baik swasta
maupun pemerintah untuk memperoleh
upah atau gaji.
Sebelum tahun 1954 semua pekerja
dapat disebut buruh. Akan tetapi pada
tahun 1954, pemerintah Indonesia
mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.
31/1954 yang menegaskan bahwa buruh
adalah tenaga kerja pada perusahaan
swasta. Tenaga kerja pada pemerintah
disebut karyawan atau pegawai yang dibayar
dengan Anggaran Pemerintah Belanja
Negara (APBN).
1
Peraturan pemerintah ini merupakan
solusi terhadap perdebatan tentang istilah
untuk menyebut pekerja, apakah buruh
atau karyawan. Kelompok-kelompok dalam
serikat pekerja yang memakai istilah buruh
didukung oleh anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI). Buruh, sebuah kata yang
berasal dari bahasa Jawa, oleh kelompok
komunis diidentikkan dengan konsep
proletariat yang mengandung hubungan
konfik antara para majikan/pengusaha dan
pekerja. Istilah buruh mengandung ide
tentang perjuangan kelas.
Penggunaan istilah karyawan didukung
oleh kelompok non-PKI dan kelompok
militer. Istilah karyawan mengandung arti
persatuan antara majikan/pengusaha/
manajemen, dan pekerja. Hubungan antara
manajemen dan pekerja bersifat kooperatif
dan bebas dari konfik.
2
Karyawan berasal dari bahasa Sanskrit
yang digunakan untuk menyebut pekerja
dengan penggunaan intelektual.
( Periksa: Suri Suroto, Gerakan Buruh
dan Permasalahannya dalam Prisma II,
1985, tahun XIV, hlm. 30)
2.Kategori Buruh
Buruh dapat dibedakan atas dasar tingkat
ketrampilan dan keahliannya dalam suatu
perusahaan, yaitu buruh trampil , buruh
semitrampil, dan buruh tidak trampil.
Tingkat ketrampilan buruh tersebut
menentukan sistem pengupahan.
Buruh trampil dapat bekerja secara
permanen, diberi upah secara bulanan,
mendapat cuti tahunan, tunjangan sakit,
3
mendapat upah lebih tinggi daripada buruh
dengan tingkat ketrampilan lebih rendah,
pensiun, bonus tahunan, dan uang makan.
Buruh semitrampil menerima upah
yang dihitung sesuai dengan jumlah hari
kerja, dan menerima jumlah tunjangan
lebih sedikit daripada tunjangan untuk
buruh trampil.
Buruh tidak trampil hanya dibayar
untuk hari-hari ia bekerja.
( John Ingleson, In Search of Justice: Workers
and Unions in Colonial Java 1908-1926,
(Singapore: Oxford University Press, 1986),
hlm. 25.

Sebelum berkembang industri dengan
teknologi mesin atau industri tipe pabrik di
Eropa, para pekerja/pengusaha industri
kerajinan disebut craftsmen
4
(tukang/perajin). Dalam industri tipe
kerajinan itu ada 3 kategori pekerja sesuai
dengan tingkat keahliannya, yaitu:
Master (tukang ahli/pengusaha industri
kerajinan).
Journeyman (pembantu pengusaha
dalam memproduksi barang, berhak
menerima upah).
Apprentice (magang, tidak mendapat
upah, tinggal di rumah majikannya).
Sistem ketenagakerjaan ini diatur oleh gilda
(perkongsian perajin atau pedagang untuk
produk-produk yang sama).
Apa perbedaan antara pengusaha/craftsmen
dalam sistem gilda dan industri tipe pabrik?
5
Craftsmen/master juga melakukan kegiatan
produksi: dari mencari bahan baku, memproduksi,
sampai dengan menjual.
Pengusaha dalam industri tipe pabrik adalah pemilik
modal, berposisi sebagai manajer, tidak ikut dalam
kegiatan produksi. Kegiatan produksi hanya
dilakukan oleh para buruh pabrik.
Perkembangan industri tipe pabrik di Eropa telah
menggeser keberadaan industri tipe kerajinan yang
diatur oleh sistem gilda.
Industri tipe pabrik
Industri tipe pabrik muncul pertama kali di
Eropa Barat (terutama Inggris). Pada akhir
6
abad ke-18, terjadi inovasi-inovasi teknologi
dalam produksi.
Inovasi-inovasi dalam usaha tekstil:
a)Pada 1733, John Kay menemukan
Flying Shuttle (kumparan terbang) untuk
memintal benang.
b)Pada 1767 Hargraves menciptakan
mesin pemintal benang yang lebih cepat
dari mesin penemuan John Kay.
c)Pada 1767 Arkwright juga menciptakan
alat pemintal benang yang dijalankan
dengan tenaga air.
d)Pada 1779 Campton menciptakan alat
pemintal yang dapat memproduksi
benang lebih cepat, halus, licin, dan
kuat.
e)Pada 1785 Cartwright menemukan
mesin tenun.
7
f)Pada 1794 Elie Whitney menciptakan
cotton-gin, suatu mesin yang digunakan
untuk mengeluarkan biji kapas dari
serabutnya.
g)Tahun 1785 Thomas Bell menciptakan
cap silinder. Alat ini dapat memproduksi
kain yang bermotif 200 x lebih cepat
dari pada cap balok.
Inovasi dalam pertambangan dan
transportasi:
Pada 1769 James Watt mendapat hak
patent atas penemuan mesin uap, yang
menjadi unsur penting dalam revolusi
industri di Inggris.
8
Pada 1829 George Stephenson dapat
menciptakan locomotif yang digerakkan
dengan uap. Kemudian Inggris juga
membuat rel untuk kereta itu. Kereta
pertama dijalankan pertama pada jalur
Liverpool dan Manchester dengan
kecepatan 19-46 km per jam.
Bersama dengan kemunculan industri
industri tipe pabrik itu, muncul ideologi
liberalism (liber = bebas). Ideologi ini
diinspirasi oleh revolusi Perancis (1789)
9
dengan semboyan liberty, egality, vaternity
(kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).
Sistem ekonomi liberal
Sistem ekonomi liberal berkembang pertama
kali di Inggris pada pertengahan abad ke-
18. Sistem ekonomi ini memperjuangkan
laissez-faire (dari bahasa Perancis, artinya
biarkanlah):
Biarkanlah produksi dilaksanakan oleh
swasta atau prakarsa individu.
Biarkanlah harga ditentukan oleh
penawaran dan permintaan di pasar
bebas, tanpa campur tangan negara.
Menurut Adam Smith (1723-1790), dalam
bukunya the Wealth of Nations, 1778),
kebebasan berusaha yang didorong oleh
10
kepentingan ekonomi pribadi merupakan
pendorong untuk menuju kemakmuran
bangsa. Kebebasan berusaha (tanpa campur
tangan pemerintah) tidak menghasilkan
kekacauan, karena kebebasan itu diatur
oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan
(the invisible hands), yaitu persaingan harga
di pasar bebas. Siapa dapat menjual barang
dengan harga paling murah dan kualitas
paling bagus adalah pemenang pasar.
Dengan demikian, pasar bebas dapat
menghasilkan kesejahteraan, karena dapat
memberikan harga yang murah dengan
kualitas barang yang bagus.
Apa akibat pemberlakuan sistem ekonomi
liberal bagi buruh?
11
Terjadi perbedaan yang besar antara
pemilik modal yang kaya dan buruh
yang miskin.
Terjadi stratifkasi kelas sosial dalam
hubungan industrial, yaitu kelas the
have dan the have not atau kelas
pengusaha dan kelas buruh.
Untuk memperbaiki kondisi itu, pada akhir
abad ke-19, di Amerika Serikat liberalisme
& kapitalisme sudah diperlunak dengan:
(1)Memberlakukan undang-undang anti
monopoli (1887)
(2)Memberi kebebasan bagi kaum buruh
untuk berserikat, sehingga dapat
membela atau memperjuangkan hak-
hak mereka terhadap pengusaha.
(3)Menerapkan sistem perpajakan untuk
memperbaiki jaminan sosial bagi
rakyat.
Mengapa Masalah-masalah buruh sulit
diselesaikan?
12
Masalah perburuhan adalah fenomena
dalam masyarakat industrial, yang sulit
diselesaikan, karena masalah tersebut
berada dalam hubungan industrial yang
melibatkan para pelaku industrial dengan
kepentingan yang berbeda.
Hubungan industrial adalah suatu sistem
hubungan yang dibentuk oleh para pelaku
dalam proses produksi barang atau jasa.
Para pelaku dalam hubungan industrial
adalah: pengusaha, buruh, dan pemerintah.

Unsur-unsur dalam hubungan industrial
adalah:
1) pelaku industrial: pekerja/buruh,
pengusaha, pemerintah.
2) kerjasama antara manajemen dan
pekerja/buruh.
3)perundingan (perjanjiankerja/kontrak
kerja, kesepakatan kerja, peraturan
perusahaan).
4)kesejahteraan (upah, jaminan sosial,
pensiun, keselamatan dan kesehatan
kerja, koperasi, pelatihan kerja)
13
5)perselisihan industrial (mogok kerja,
penutupan perusahaan, pemutusan
hubungan kerja, arbitrasi).
(Sentanoe Kertonegoro, Hubungan Industrial
Hubungan Antara Pengusaha dan Pekerja
(Bipartit) dan Pemerintah (Tripartit), (Jakarta:
Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, 1999),
hlm. 2).
Perselisihan Industrial
Perselisihan industrial adalah perselisihan
yang timbul di antara pengusaha dan
pekerja/buruh atau serikat pekerja yang
disebabkan oleh: perselisihan kepentingan,
hak, dan pemutusan hubungan kerja.
Perselisihan kepentingan:
Perselisihn kepentingan adalah perselisihan
yang timbul karena tidak ada kesepakatan
tentang perbaikan syarat kerja dan kondisi
kerja, seperti kenaikan upah, tunjangan,
pembatasan jam kerja, dsb.
Perselisihan hak:
14
Perselisihan hak adalah perselisihan yang
timbul karena hak-hak yang diberikan
kepada pekerja/buruh tidak sesuai dengan
peraturan pemerintah, kesepakatan kerja
bersama, peraturan perusahaan, atau
perjanjian kerja.
Perselisihan pemutusan hubungan kerja
(PHK):
Perselisihan PHK adalah perselisihan yang
timbul karena pengakhiran hubungan kerja
antara pengusaha dan pekerja.(Sentanoe
Kertonegoro, Hubungan Industrial Hubungan
Antara Pengusaha dan Pekerja (Bipartit) dan
Pemerintah (Tripartit), (Jakarta: Yayasan
Tenaga Kerja Indonesia, 1999), hlm. 7).

TUGAS:
Buat suatu analisis terhadap peristiwa
perselisihan industrial (kepentingan, hak,
PHK) dengan format sebagai berikut:
1.Disusun oleh kelompok (4 orang).
2.Format makalah:
Pendahuluan
A.Latar Belakang
B.Permasalahan
15
Pembahasan
A.Kerangka Teoretik
B.Proses
-Faktor penyebab perselisihan
-Berlangsungnya perselisihan
-Jalan keluar
Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
Jika dilihat dari sisi pelaku dalam
hubungan industrial itu (pengusaha,
pekerja/buruh, dan pemerintah), tampak
ada perbedaan kepentingan ekonomis dan
politis.
Perbedaan Kepentingan Ekonomis
Menurut Karl Marx, para pengusaha atau
kaum kapitalis telah menjadikan hasrat
untuk memiliki dan mempergunakan
(eksploitasi) sebagai keinginan utama
manusia.
16
Dalam karyanya Das Kapital (1867), Karl
Marx berpendapat bahwa perkembangan
kapitalisme berbasis pada teori tentang
nilai lebih, yaitu selisih antara nilai
barang yang diproduksi oleh buruh dan
upah yang dibayarkan kepada buruh. Nilai
barang tentu jauh lebih besar dari upah
yang diberikan kepada buruh. Nilai lebih itu
diambil oleh pemilik alat-alat produksi
sebagai laba.
Kaum kapitalis yang didorong oleh hasrat
untuk memperoleh nilai lebih atau laba itu
akan selalu berusaha untuk meningkatkan
nilai lebih.
Di pihak lain, buruh adalah kelas yang
dieksploitasi (dipergunakan) oleh kaum
kapitalis untuk memperoleh laba. Menurut
Marx, ada tiga cara untuk memperoleh laba
yaitu:
memperpanjang jam kerja,
mengurangi jam kerja yang dibutuhkan
oleh buruh guna mendapatkan upah,
dan mempercepat proses pembuatan
barang melalui perbaikan teknologi.
17
Dari ketiga cara itu, perbaikan teknologi
merupakan cara yang paling dipilih oleh
kaum kapitalis. Penggunaan mesin-mesin
berakibat peningkatan nilai lebih, tetapi di
sisi lain, perbaikan teknologi itu justru
mengurangi tenaga kerja. Akibatnya adalah
persaingan dalam penawaran tenaga kerja
akan meningkat, yang mengakibatkan
penurunan tingkat upah.
Dalam jangka panjang kapitalisme akan
mengakibatkan proses pemiskinan dan
kesengsaraan, dan kondisi tersebut akan
menguatkan kesadaran kelas buruh untuk
menentang sistem yang berlaku.
Tingkat upah buruh yang rendah akan
menimbulkan akibat buruk bagi dunia
usaha, yaitu kemerosotan daya beli. Dengan
demikian, permintaan terhadap produk
akan menurun, sehingga perusahaan-
perusahaan juga akan menurunkan jumlah
produknya. Kondisi ini merupakan sumber
terjadinya krisis dalam dunia usaha.
Perbedaan Kepentingan Politik
18
Selain pengusaha dan buruh, pelaku dalam
hubungan industrial adalah negara atau
pemerintah.
Menurut Karl Marx, negara adalah
kekuatan pemaksa (coercive power) dan
merupakan alat kelas kapitalis/pemilik
modal untuk melindungi dan memajukan
kepentingannya. Kekuasaan politik dalam
sistem kapitalisme adalah kekuatan yang
diorganisasi oleh suatu kelas untuk
menindas kelas yang lain.
Negara modern yang berdasarkan demokrasi
representative/perwakilan, menurut Karl
Marx, merupakan alat kapitalis untuk
mengeksploitasi buruh. Dalam hal ini
terjadi aliansi antara mereka yang duduk
dalam pemerintahan dan pemilik modal
melalui dukungan suara yang dapat
diperoleh secara mudah dengan pembelian
suara.
Ciri demokrasi ini adalah tekanan-tekanan
politik oleh pemerintahan negara yang telah
dikuasai oleh pemilik modal.
19
(M. Dawam Rahardjo, Esai-Esai Ekonomi
Politik , Jakarta: LP3ES, 1983, hlm. 105.)
Awal Pergerakan Buruh di Barat
Di negara-negara industri di Barat, awal
pergerakan buruh dilatarbelakangi oleh
pelaksanaan aturan liberalisme ekonomi
yang menerapkan larangan bagi kaum
buruh untuk berserikat, sehingga mereka
kehilangan saluran untuk memperjuangkan
kepentingan-kepentingan mereka.
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad
ke-19 ketidakadilan sosial sebagai akibat
industrialisasi sangat menggejala di Barat.
Beberapa gejala ketidakadilan adalah:
eksploitasi terhadap golongan lemah
(para istri dan anak yg berusia lebih dari 4
tahun wajib bekerja di pabrik/perusahaan),
upah rendah, kemiskinan.
Pada akhir abad ke-18 di Inggris telah
muncul pergerakan buruh untuk
memperjuangkan perbaikan sosial. Mereka
menuntut agar pelarangan berserikat
dihapus dan menuntut pemberlakuan
20
undang-undang sosial, menuntut hak pilih
agar mereka memiliki saluran politik.
Pada pertengahan abad ke-19, kaum
buruh di beberapa negara di Eropa telah
membentuk perkumpulan-perkumpulan,
antara lain kaum Charter di Inggris. Pada
tahun 1830, Kaum Charter telah
memperjuangkan hak-hak demokratis
buruh, khususnya hak untuk ikut dalam
pemilihan umum (hak pilih).
Pada tahun 1864 para wakil buruh Inggris
dan Perancis telah mendirikan Asosiasi
Buruh Internasional atau Internasionale I
di London. Karl Marx menulis anggaran
dasar asosiasi tersebut yang memuat
pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
1.pembebasan kelas buruh harus
merupakan hasil usaha kelas buruh
sendiri;
2.menghapus kekuasaan suatu kelas atas
kelas yang lain;
3.ketergantungan buruh pada pemilik
alat-alat produksi harus dihapus;
21
4.perjuangan kaum buruh harus
dijalankan secara internasional.
(Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme, (J a k a r t a: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2000), hlm. 208-209).
Dalam sidang-sidang Internasionale I selalu
terjadi perbedaan pendapat tentang strategi
perjuangan. Marx, para wakil Jerman dan
Inggris menghendaki perjuangan melalui
pembentukan partai politik buruh dan
perjuangan dalam parlemen.
Para wakil Rusia, Italia, dan Spanyol
mementingkan aksi-aksi revolusioner.
Para wakil Perancis tidak menghendaki
perjuangan melalui parlemen, tetapi
menganjurkan kaum buruh untuk
membantu diri sendiri dengan cara
membuka koperasi dan bank-bank rakyat.
Pada tahun 1872 Marx berhasil
mengeluarkan kaum anarkis (yang memilih
aksi revolusioner) dari Internasionale I, dan
memindahkan pusatnya ke New York.
Setelah itu Internasionale I menjadi lumpuh
dan kemudian membubarkan diri.
22
Pada tahun 1889 partai-partai sosialis
mendirikan Asosiasi Buruh Internasional Ke
dua (Internasionale II), sekretariatnya di
Brussel.
Dalam Internasionale II, semua partai
sosialis, kecuali Inggris, mengesahkan
program yang berlandaskan Marxisme.
Partai Buruh Inggris (Labour) tidak
menganut Marxisme, walaupun partai
tersebut ikut juga dalam Internasionale II.
Partai Buruh Inggris sangat terpengaruh
oleh Serikat Kaum Fabian, yang didirikan
pada tahun 1884.
Kaum Fabian
Kaum Fabianmemperjuangkan kepentingan
buruh,dan menganggap diri sebagai sosialis,
namun tidak memiliki program yang
terperinci.
Kata Fabian diambil dari nama Quintus
Fabius Maximus adalah panglima Roma
dalam perang dengan Hannibal, panglima
perang Kartago. Fabius menggunakan
strategi kesabaran dalam menghadapi lawan
yang lebih kuat dengan cara menghindari
konfrontasi secara langsung. Dengan
23
strategi itu Fabius berhasil mengalahkan
Hannibal.
Pada tahun 1893 di Inggris didirikan
Independent Labour Party (ILP) yang
antiliberal dan dekat dengan kaum Fabian.
Pada tahun 1900 serikat-serikat buruh di
Inggris mendirikan Labour Representation
Committee yang pada tahun 1906
menamakan diri Labour Party. ILP
bergabung juga dalam Labour Party.
Program Labour Party diarahkan pada
reformasi demokratis. Berkat desakan
partai tersebut, pada tahun 1914 Inggris
sudah memiliki dan melaksanakan undang-
undang sosial antara lain: 8 jam kerja,
jaminan sakit, dan pensiun hari tua.
Pada saat terjadi Perang Dunia I (1914-
1918) pergerakan buruh di sebagian
negara-negara Barat telah berhasil
memperjuangkan pemberlakuan undang-
undang yang berkait dengan kondisi/syarat
kerja, antara lain: pembatasan jumlah
tenaga kerja wanita dan anak-anak,
24
pengurangan jumlah jam kerja, dan jaminan
sakit serta cacat.
Dengan demikian pergerakan buruh di
negara-negara Barat telah memainkan
peranan penting sebagai drukkingsgroep
(kelompok penekan).

1 Mei: Hari Buruh
Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar
400.000 buruh di Amerika Serikat
mengadakan demonstrasi besar-besaran
untuk menuntut pengurangan jam kerja
mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini
berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1
Mei 1886.
Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran
melakukan pawai besar-besaran, kemudian
Polisi Amerika menembaki para demonstran
tersebut sehingga ratusan orang tewas dan
para pemimpinnya ditangkap dan dihukum
mati. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di
berbagai negara, juga terjadi pemogokan-
pemogokan buruh untuk menuntut
perlakuan yang lebih adil dari para pemilik
modal.
25
Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis
Dunia yang diselenggarakan di Paris
menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei
itu sebagai hari buruh sedunia dan
mengeluarkan resolusi berisi:
Sebuah aksi internasional besar harus
diorganisir pada suatu hari tertentu.
Semua negara dan kota-kota pada
waktu yang sama, yang telah disepakati
bersama, semua buruh menuntut agar
pemerintah mengurangi jam kerja
menjadi 8 jam per hari secara legal, dan
melaksanakan semua hasil Kongres
Buruh Internasional Perancis.
Resolusi ini mendapat sambutan yang
hangat dari berbagai negara dan sejak
tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang
diistilahkan dengan May Day, diperingati
oleh kaum buruh di berbagai negara,
meskipun mendapat tekanan keras dari
pemerintah mereka.
Gerakan Buruh di Indonesia
Di Indonesia, pergerakan buruh secara
terorganisasi muncul pada tahun 1897.
26
Pada tahun tsb didirikan Nederlandsch
Indische Onderwijzers Genootschap
(NIOG /Persatuan Guru-guru Hindia
Belanda), suatu organisasi guru-guru
bangsa Eropa. Setelah itu muncul
Suikerbond(1906), dan Cultuurbond (1907).
Organisasi-organisasi tersebut merupakan
perserikatan pekerja Eropa yang bekerja di
pabrik gula dan perkebunan.
(Sandra, Sedjarah Pergerakan Buruh
Indonesia, ( Djakarta: P.T. Pustaka Rakyat,
1961), hlm. 7.)
Organisasi buruh yang beranggotakan
orang-orang Indonesia muncul sejak dekade
pertama abad ke-20 yang dimulai dengan
lahirnya Vereeniging voor Spoor en Tramweg
Personeel (VSTP) pada tahun 1908 di
Semarang.
Dalam sejarah Indonesia, istilah pergerakan
dipergunakan untuk menyebut berbagai
macam aksi rakyat Indonesia yang
mencakup bidang politik, ekonomi, dan
budaya yang disalurkan melalui organisasi
modern, memiliki cita-cita serta rencana
27
perjuangan, dan menuju ke arah perbaikan
hidup bangsa.
(A.K. Pringgodigdo, Sedjarah Pergerakan R a
k j a t Indonesia, (Djakarta: Pustaka
Rakjat, 1961), hlm. vi.)
Pergerakan rakyat Indonesia dilembagakan
dalam organisasi, serta disalurkan dalam
aktivitas seperti rapat umum, pemogokan,
pers, sandiwara, dan revolusi.
(Takhasi Siraishi, An Age in Motion: Popular
Radicalism in Java 1912-1926, (Ithaca and
London: Cornell University Press, 1990),
hlm. xi.)
Setelah Jepang berkuasa, pergerakan
buruh telah kehilangan dinamikanya
sebagai akibat kekuatan represif
pemerintah. Pada masa pemerintahan
Jepang yang sangat militeris dan otoriter,
segala bentuk organisasi sosial dan politik
dilarang, sehingga semangat pergerakan
buruh pun menjadi tenggelam.
Pergerakan buruh merupakan bagian
penting dalam sejarah Indonesia, karena
pergerakannya tidak hanya menyangkut
kepentingan dan kehidupan buruh sendiri,
tetapi juga merefeksikan kondisi sosial,
28
politik, ekonomi, dan budaya pada
jamannya. Dengan demikian penelitian
sejarah tentang pergerakan buruh menjadi
penting untuk dilakukan, agar pihak-pihak
terkait dapat mengambil hikmah sejarahnya
untuk memecahkan masalah perburuhan
yang kini sedang marak seperti antara
lain: perselisihan kepentingan, hak, dan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sistem
peradilan buruh, dan lain-lain.
Sejarah pergerakan buruh di Indonesia
berkait erat dengan proses industrialisasi
yang berkembang sejak pemerintah kolonial
Belanda memberlakukan politik ekonomi
liberal pada tahun 1870.
Secara umum industrialisasi diartikan
sebagai suatu proses mekanisasi dan
penggunaan teknologi dalam produksi.
Jordan Goodman & Katrina Honeyman,
Gainful-Pursuits The Making of Industrial
Europe 1600-1914, (London-New York-
Melbourne-Auckland: A Division of Hodder
& Stoughton, 1988), hlm. 1.
Menurut pendapat lain, industrialisasi
adalah salah satu bentuk aktivitas ekonomi
29
yang diwujudkan dengan pendirian pabrik-
pabrik besar dan modern. Pada umumnya,
industrialisasi dinilai sebagai cara untuk
menuju ke arah kemakmuran.
M. Dawam Rahardjo,Transformasi Pertanian,
Industrialisasi dan Kesempatan Kerja,
(Jakarta: UI Press, 1984), hlm. 3.
Namun demikian, Industrialisasi di negara-
negara berkembang cenderung merupakan
upaya ekspansi modal dari negara-negara
industri maju. Mereka tidak lagi menjual
barang-barang yang diproduksi di negeri
mereka sendiri, melainkan menjual produk-
produk yang dihasilkan di negara penghasil
bahan baku yang memiliki tenaga kerja
murah serta pasar yang lebih luas.
M. Dawam Rahardjo,Transformasi Pertanian,
Industrialisasi dan Kesempatan Kerja,
(Jakarta: UI Press, 1984).
Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial
Belanda menggalakkan industrialisasi di
Hindia Belanda. Hal ini dilakukan karena
banyak laporan mengenai penurunan
30
kemakmuran rakyat pribumi yang sampai
ke negeri Belanda. Penurunan kemakmuran
rakyat pribumi merupakan suatu hal yang
berlawanan dengan cita-cita politik ekonomi
liberal yaitu peningkatan daya beli rakyat.
Berdasarkan kondisi itu, pada tahun
1901 pemerintah kolonial mengumumkan
pemberlakuan kebijakan kemakmuran yang
terkenal dengan sebutan Politik Etis.
Kebijakan ini bertujuan untuk mereformasi
berbagai sektor yang dapat meningkatkan
kemakmuran rakyat yaitu irigasi, emigrasi,
pendidikan, pembangunan jalan, dan
pengembangan industri.
Untuk melembagakan kebijakan
industrialisasi itu, dalam tahun 1904
pemerintah kolonial Belanda menambahkan
urusan industri dan perdagangan pada
31
departemen pertanian, sehingga namanya
menjadi Departement van Landbouw,
Nijverheid en Handel (Departemen
Pertanian, Industri dan Perdagangan).
Sehubungan dengan pelaksanaan
industrialisasi tersebut, kota-kota membuka
daerahnya untuk pendirian pabrik-pabrik
baru. Akibatnya:
1)terbuka juga kesempatan bagi rakyat
Indonesia untuk bekerja di pabrik-
pabrik, pelabuhan, pergudangan, dan
perusahaanperusahaan;
2) di kota-kota muncul kelas sosial baru,
yaitu kelas pemilik modal dan kelas
buruh.
Untuk memperjuangkan hak dan
kepentingan mereka, kaum buruh
membentuk serikat-serikat buruh. Pada
32
dekade pertama dan kedua abad ke-20
berdiri beberapa serikat buruh antara lain:
Vereeniging voor Spoor en Tramweg Personeel
(1908), Perserikatan Goeroe Hindia Belanda
(1912), Perserikatan Pegawai Pegadaian
Boemipoetera (1914), Personeel Fabriek
Bond (1917), Havenarbeiders Bond (1919),
Typografenbond (1920).
Pergerakan buruh pada masa
kolonialisme Belanda berhubungan erat
dengan perkembangan kesadaran
kebangsaan Indonesia yang terwujud dalam
organisasi-organisasi modern.
Hubungan itu dapat dilihat antara lain
dalam hasil penelitian John Ingleson yang
menunjukkan bahwa Sarekat Islam dan
Indische Sociaal-Democratische Vereeniging
(ISDV = Perkumpulan Sosial - Demokrat
33
Hindia Belanda) mempunyai banyak
pengaruh terhadap pergerakan buruh.
(John Ingleson, op.cit., hlm. 2.)
Pendapatnya itu didasari oleh kenyataan
bahwa kaum buruh pada saat itu belum
menyadari bahwa mereka telah mewakili
kelas buruh yang harus berhadapan
dengan kelas kapitalis. Sarekat Islam dan
ISDV mempunyai peranan penting untuk
membangkitkan kesadaran kaum buruh
dengan menggunakan sarana pers, rapat-
rapat, dan perumusan aspirasi buruh.
Dengan latar belakang kehidupan
buruh yang miskin, kondisi ekonomi sebagai
akibat Perang Dunia I, pengaruh para elit,
nasionalisme, dan pengaruh sosialisme-
komunisme yang berbasis di Semarang,
mulai tahun 1918 sampai dengan tahun
34
1925 Kota Semarang menjadi pusat
berbagai pemogokan buruh: pemogokan
buruh perusahaan mebel Andriesse,
pemogokan buruh percetakan, pemogokan
buruh perusahaan mesin jahit Singer,
pemogokan buruh bengkel mobil,
pemogokan buruh kereta api, dan
pemogokan buruh transportasi kapal.
Pemerintah kolonial Belanda tidak tinggal
diam dalam menghadapi pergerakan yang
bersifat radikal itu. Dalam bulan Mei 1923
pemerintah kolonial memberlakukan pasal
161 dalam Wetboek van Strafrecht (KUHP)
yang bersifat sangat represif, setelah terjadi
pemogokan yang dilakukan oleh buruh
kereta api. Sebagai akibat pemberlakuan
pasal tersebut, tuntutan buruh gagal,
bahkan banyak aktifs diadili dan
35
diasingkan. Dengan demikian pergerakan
buruh menjadi melemah. Meskipun pada
tahun 1927 berdiri serikat buruh kereta
api baru yang diberi nama Persatoean
Beampte Spoor dan Tram, organisasi
tersebut tidak bergerak dalam kegiatan
politik. Serikat pekerja yang berdiri pada
tahun-tahun berikutnya seperti Persatoean
Vakbonden Pegawai Negeri (1929) dan
Persatoean Sarekat Sekerdja Indonesia
(1930) juga tidak melibatkan diri dalam
pergerakan politik. Penasehat serikat buruh
tersebut, Dr. Sutomo, telah menetapkan
garis perjuangan buruh, yaitu berjuang
tanpa kekerasan. Kaum buruh harus
mampu mencapai perbaikan atas usaha
sendiri atau minta bantuan pemerintah.
29
2
29
Suri Suroto, Gerakan Buruh dan Permasalahannya
dalam Prisma II, 1985, tahun XIV, hlm. 29.
36
Pada awal tahun 1930-an terjadi resesi
dunia, sehingga baik pemerintah maupun
swasta melaksanakan penghematan.
Secara umum masa suram itu dilalui tanpa
gejolak sosial yang berarti di kalangan kaum
buruh. Ada suatu anggapan bahwa sampai
dengan kedatangan Jepang, pergerakan
buruh dapat terkendalikan, sehingga masa
itu dianggap sebagai masa normal.
30

PRINCIPALITIES OF GROUP FORMATION
Selain didasari oleh kepeentingan ekonomi
dan politik, pembentukan serikat buruh
juga dilandasi oleh alasan-alasan
3
30
Ibid.

37
principalities of group formation (prinsip-
prinsip untuk pembentukan kelompok).
Para karyawan di suatu perusahaan dapat
mengelompok karena alasan-alasan
ekonomi, keamanan, dan alasan-alasan
sosial. Dengan alasan ekonomi, para
karyawan dalam suatu perusahaan dapat
bergabung dalam serikat buruh karena
mereka mempunyai tuntutan yang sama
tentang kenaikan upah. Berdasarkan
alasan keamanan, para karyawan
membentuk serikat buruh untuk
menghadapi diskriminasi, pemecatan,
perlakuan sepihak, dan sebagainya. Dengan
alasan sosial, para karyawan mempunyai
keinginan untuk berafliasi dengan pihak
lain demi terpenuhinya kebutuhan sosial
seperti pengakuan sebagai suatu kelompok
38
dalam masyarakat. Menurut penelitian H.
Joseph Reitz, karakter yang menonjol dalam
suatu kelompok adalah: (1) adanya dua
orang atau lebih, (2) adanya interaksi antara
satu dan lainnya, (3) adanya tujuan yang
sama, dan (4) adanya kesadaran bahwa
dirinya merupakan suatu kelompok.
Karakter nomor (2) berarti bahwa
anggota kelompok kadang-kadang bertemu,
bercakap-cakap, dan mengerjakan sesuatu
secara bersama-sama. Agar menjadi anggota
suatu kelompok, seseorang harus sering
berhubungan dengan anggota lainnya.
Karakter nomor (3) menunjukkan bahwa
anggota-anggota kelompok mempunyai
tujuan yang sama, seperti perlindungan
akan pekerjaan mereka, rasa aman dalam
melaksanakan pekerjaan dan sebagainya.
39
Secara bersama-sama mereka mempunyai
tujuan untuk menghadapi perlakuan yang
kurang baik dalam bekerja. Karakter nomor
(4) merupakan hasil karakter nomor (2) dan
(3). Pada umumnya orang-orang yang saling
berinteraksi dan mempunyai cita-cita,
maksud serta tujuan yang sama,
mempunyai daya ketertarikan antara satu
dan yang lain. Penguatan yang diterima dari
proses interaksi itu membimbing mereka
untuk mengenali dan memahami diri
mereka sebagai suatu kelompok yang unik.
Keunikan ini menyebabkan orang-orang lain
mengetahui dan memahami diri mereka
sebagai suatu kelompok.
4
UMPAN BALIK
4
Miftah Thoha, op. cit., hlm. 72-74.
40
MENGAPA PADA TAHUN 1954 DIBERLAKUKAN
PERATURAN PEMERINTAH No. 31/1954 YANG
MENGATUR ISTILAH BURUH?
MENGAPA MASALAH BURUH SERING SULIT
DISELESAIKAN?
DALAM HUBUNGAN INDUSTRIAL TERJADI
PERBEDAAN KEPENTINGAN EKONOMI.
JELASKAN DENGAN MENGGUNAKAN TEORI
NILAI LEBIH DARI KARL MARX.
41
42