Anda di halaman 1dari 5

Klasifikasi Kejang Demam

Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang


demam sederhana (simple febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam
(epilepsi triggered of by fever). Defenisi ini tidak lagi digunakan karena studi propekstif
epidemiologi membuktikan bahwa risiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang
tanpa demam tidak sebanyak yang diinginkan.
3

Akhir-akhir ini, kejang demam diklarifikasikan menjadi 2, yaitu kejang demam
sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit (singkat), bersifat umum dan hanya terjadi
sekali dalam 12 jam, dan kejang demam kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit,
bersifat fokal dan serangan kejang yang terjadi lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Disini anak
sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang demam atau kejang
tanpa demam dalam keluarga. Dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan kecil dalam
penggolongan tersebut, menyangkut jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya
kejang berlangsung, gambaran rekam otak dan lainnya.
3,4

Ikatan Dokter Anak Indonesia membagi kejang demam menjadi dua, yaitu :
4,12

1. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut):
Berlangsung singkat, kurang dari 15 menit
Umumnya serangan berhenti sendiri dalam dalam waktu < 10 menit
Bangkitan kejang tonik-klonik tanpa gerakan fokal
Tidak berulang dalam waktu 24 jam
2. Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut) :
Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului dengan kejang
parsial
Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, anak sadar kembali antara
bangkitan kejang



Faktor Resiko
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejang demam antara lain :
1. Umur
Insiden kejang demam tertinggi terjadi pada usia 2 tahun, tidak terjadi pada anak di
bawah usia 6 bulan atau lebih dari 5 tahun. Serangan pertama biasanya terjadi dalam
waktu 2 tahun pertama dan kemudian menurun dengan bertambahnya umur terutama
setelah usia 4 tahun.
2. Jenis Kelamin
Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada anak perempuan
dengan perbandingan 1,25 : 1. Hal ini terkait dengan pematangan sel otak pada anak
laki-laki lebih lambat dibandingkan anak perempuan.
3. Suhu Tubuh
Kenaikan suhu tubuh adalah syarata mutlak terjadinya kejang demam. Tinggi suhu
tubuh pada saat timbul serangan merupakan nilai ambang kejang. Ambang kejang
berbeda-beda untuk setiap anak, berkisar antara 38,3
0
C 41,4
0
C (suhu rektal).
4. Faktor Keturunan
Faktor keturunan memegang peranan penting untuk terjadinya kejang demam.
Beberapa penulis mendapatkan bahwa 8 22% anak yang mengalami kejang demam
mempunyai orang tua dengan riwayat kejang demam pada masa kecilnya dan pada
saudara kandungnya antara 9 17% yang pernah mengalami kejang demam
sekurang-kurangnya sekali.
Menurut Tejani
13
faktor risiko berkembangnya / terjadinya kejang demam adalah :
1. Ada riwayat keluarga yang menderita kejang demam
2. Suhu tinggi
3. Laporan orang tua tentang keterlambatan perkembangan anak
4. Riwayat pulang dari perawatan neonatus pada usia lebih dari 28 hari
5. Keterlibatan orang tua secara langsung dalam mengasuh dan merawat anak.
Faktor resiko berulangnya kejang pada kejang demam adalah :
8

1. Ada (anggota) keluarga dengan riwayat kejang demam.
2. Usia < 18 bulan
3. Temperatur yang rendah saat kejang.
4. Lama demam sebelum kejang. Makin pendek jarak antara mulainya demam dengan
terjadinya kejang demam, makin besar resiko berulangnya kejang demam. Kejang
demam cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada waktu sakit dengan demam.
Penilaian :
a. Bila ada 3 faktor diatas, kemungkinan kejang demam berulang kembali adalah 80%.
b. Bila sama sekali tidak ada faktor diatas, kemungkinan kejang demam berulang
kembali adalah 10 15 %
Etiologi
Etiologi kejang demam sampai saat ini belum diketahui. Dari penelitian yang telah dilakukan
pada 297 penderita kejang demam, 66 (22,2%) penderita tidak diketahui penyebabnya.
Penyebab utama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat peradangan.
1
Ada pendrita yang
mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya tonsilo-faringitis dan
otitis media akut.
Berikut tabel penyebab demam pada 297 penderita kejang demam berdasarkan penelitian
lumbantobing. Tabel ....


Pernah dilaporkan bahwa infeksi tertentu lebih sering disertai KD dari pada infeksi lainnya.
Sekitar 4,8 45% penderita gastroenteritis oleh kuman Shigella mengalami KD dibanding
gastroenteritis oleh kuman penyebab lainnya dimana angka KD hanya sekitar 1%.
1

Patofisiologi
Mekanisme Chanelopati

Manifestasi Klinik
Terjadinya kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya
berkembang bila suhu tubuh (per rektal) mencapai 38
0
C atau lebih. Umumnya kejang
berlangsung singkat, berupa serangan tonik klonik. Bentuk kejang lain dapat juga terjadi
seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan
berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
3,6,16,18


Gambar kejang tonik klonik

Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8% yang
berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang berhenti anak tampak lelah, mengantuk,
tertidur pulas, dan tidak memberikan reaksi apapun untuk sejenak atau disebut periode
mengantuk singkat pasca kejang, tetapi setelah beberapa menit, anak terbangun dan sadar
kembali tanpa defisit neurologis.
1,3

Kejang demam yang berlangsung lebih lama dari 15 menit sering bersifat fokal atau
unilateral dan kadang-kadang diikuti oleh parese tood (lumpuh sementara pasca serangan
kejang) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama
dapat diikuti oleh hemisparesis yang menetap. Bangikatan kejang yang berlangsung lama
biasanya lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama.
1,3

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan standar pelayanan medis kesehatan anak IDAI :
4

1. Anamnesis
a. Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum/saat
kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab demam diluar susunan
saraf pusat.
b. Riwayat kejang sebelumnya, riwayat kejang dalam keluarga, epilepsi dalam
keluarga.
c. Singkirkan penyebab kejang lainnya.
2. Pemeriksaan fisik
a. Kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsang meningeal, tanda peningkatan tekanan
intrakranial, tanda infeksi diluar sistem saraf pusat
3. Pemeriksaan penunjang
a. Dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang demam,
pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit,
kalsium serum, urinalisis dan biakan darah, urin atau feses
b. Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk anak usia 12 bulan, dianjurkan pada
usia 12-18 bulan, dan dipertimbangkan pada anak berusia diatas 18 bulan yang
dicerugia menderita meningitis.
c. Pemeriksaan CT Scan atau MRI dapat diindikasikan pada keadaan adanya
riwayat dan tanda klinis trauma kepala, kemungkinan adanya lesi struktural
diotak, dan adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran
menurun, muntah berulang, fontanela anterior membonjol, paresis saraf otak
VI, edema papil.
d. EEG dipertimbangkam pada kejang demam kompleks.
Diagnosa Banding
Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang
berulang tanpa demam. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam kemudian kejang
demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi
berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang
dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, kemungkinan lain
harus dipertimbangkan misalnya infeksi SSP atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama
demam. Defenisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti
meningitis, ensefalitis atau ensefalopati.
3,19