Anda di halaman 1dari 61

i$*-roR*ffiG+

Lap$ratr Fenelitian
ffc-
=f,
LIT,2OO6
AII*LISA PENYEBAB
M EHURUtrIHYA
DAYA MAMPU
{DERATTI{C}
P*tr*
5ATUA]{
PEMBA}IKIT
DIESEL
{SPt}}
Fenulis :
Ir, Ependi Sembiring lilifi.
Ir, Agus Ycgianto' llT
il. Agus Warsryun. ST
Yusuf Raryid, ST
pT
PLl{
TPERSFRO}
PEilELITIAT{
DAI{ PEI{GE}I SAITGAII K=TES*GNIIST*II(A17
lL HJREIu TIGA IAI{ARTA L27*A. PO sOX 6701 /
ll(5R8, lAl&4R'rA 1effi7 TIS' :
{0?1}
7973774
roart
F9Es19s, eoerj
79sz03s
{HUNTII{G},
rAX
{021}
7991762 wEE ;
w}.rrw.olnJithns.co.id
1 31122
^l
i.'- !
i'h.t::, ti
t
! :t
'
;.. i. Jh.>Z
j
t+-.
t l'5
A
Laporan Penelitian ?$LK?RdI-NGO
No. : 36. LIT. 2006
ANALISA PENYEBAB MENURUNNYA DAYA
MAMPU (DERATING)
PADA SATUAN
PEMBANGKIT DIESEL (SPD)
Penulis :
Ir. Ependi Sembiring, MM
Ir. Agus Yogianto, MT
Ir. Priyono HP, MM
M.Agus Warsun, ST
Yusup
&
ST
,
07/
7c1j0e
'
'l
E
.!AN 20el
PT PLN (PERSERO)
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETENAGALISTRIKAN
JL. DUREN TIGA JAKARTA L2760. PO BOX 670I
I
JKSRB, JAKARTA L2067 TLP. : (021) 7973774
(021) 7980190, (021) 7982035 (HUNTING), FAX (021) 799t762 WEB: www.pln-litbang.co.id
#
PLN (PERSERO)
LITBANG
I.APORAN PENELITIAN
RESEARCH REPORT
i36.1rT.2006
'
2A Des. 2006
No.
Tgl.
Date
Judul
Title
ANALISA PENYEBAB MENURUNNYA DAYA MAMPU (DERANNG)
PADA SATUAN PEMBANGKTT DIESEL (SPD)
Kata Kunci
'K"*;;|
Peningkatan daYa mampu SPD
Nomor KPP
rr.ork order
02URDIBKIT/2006
Peminta Jasa
Client
t\TER]i
Penulis
1. Ir. Ependi Sembiring, MM
Authors
^
7." Ir. Agus Yogianto, W
3. Ir. Priyono HP, MM
4. M. Agus Warsyun, ST
i
5. Yusuf Rasyid, ST '.'"
'GENERAL
MANAGER
F--
Abstrak
Abstract
Sejumlah Satuan Pembangkit Diesel (SPD) milik PLN yang tersebar di seluruh Indonesia telah banyak yang
mengalami derating sehingga daya yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan/permintaan tenaga listrik. Sesuai
dengan norma-norma yang sehat dalam industri dan niaga, maka SPD yang ada harus dikelola dengan
seksama agar performance keandalan dan ketersediaan selalu dapat dipeftahankan pada kondisi optimum.
Dalam upaya meningkatkan daya mampu SPD, maka dilakukan studi "Analisa penyebab menurunnya daya
mampu (derating) pada Satuan Pembangkit Diesel (SPD)", ini.
Penelitian diawali dengan studi literatur untuk memperoleh pemahaman lebih baik mengenai permasalahan,
kemudian menetapkan sampel penelitian
;
pengumpulan data (informasi, operasi,
pemeliharaan dan
pengusahaan) dengan suryei ke PLTD pada SPD sampel penelitian, mengolah data dan menentukan variabel
yang berpengaruh terhadap derating sefta menganalisa penyebabnya dan membuat rekomendasi tindakan
perbaikannya.
Dari 39 SPD sampel penelitian, yang terdiri dari 6 SPD pada PLTD Siantan dan 6 SPD pada PLTD Sei Raya di
Pontianak; 7 SPD pada PLTD Tarahan dan 6 SPD pada PLTD Teluk Betung di Bandar Lampung
;
7 SPD pada
PLTD Payo Selincah dan 7 SPD pada PLTD Kasang di Jambi, ditemukan bahwa 6 SPD sudah tidak beroperasi
lagi (rusak permanen)
;
7 SPD tidak mengalami derating dan 26 SPD yang lain telah mengalami derating.
Dari hasil tinjauan data dan analisa, diperoleh bahwa penyebab
derating pada SPD adalah karena kemampuan
s,stem air pendingin mesin menurun (paling dominan); Kerusakan sudu turbin turbochargerdan overclearance
=aCa
bushing turbocharqer
;
pembakaran tidak sempurna; bearing clearance tedalu kecil sehingga
-enimbulkan temperatur bearing naik; undersize crankshaft (crankpin journal
atau dan main
journal);
:ryradasimaterial
; iam
operasi SPD melewati
jumlah jam
untuk pemeliharaan; atau SPD mengalami beberapa
;q.yebab diatas secara simultan (bersamaan).
-
-:.tk
meningkatkan daya mampu SPD direkomendasikan beberapa hal berikut ini : pada saat melakukan
:t-eliharaan Major Overhaul (MO) dilakukan pemeliharaan pada sistem air pendingin secara komprehensif
;
-:^;ganti material yang telah mengalami degradasi; melakukan chemical cleaningpada tube cooleryang telah
-=-;alami pengerakan (scale); menjaga kualitas air yang digunakan pada sistem pendinginan mesin dengan
*'=
:'r'ikan pengolahan air
;
sefta melakukan pemeliharaan TO, SO dan MO tepat waKu.
ryH
K?RS&,&E#Bo,
PT PLN (PERSERO) LITBANG No. : 36. LIT. 2006
DAFTAR ISI
Uraian
Abstrak
Daftar Isi
Halaman
1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang ....rr..r...........r.r.....r..................r...r..rr.rrrr...r..
L.2 Identifikasi Masalah
1.3 Ruang LingkupPenelitian..........
L.4 Perumusan Masalah
1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian.......
Kajian Literatur
2.7 Pengeftian derating
2.2 Kesetimbangan Energi
2.3 Kerangka Pemikiran
7.4 Hipotesis
Metodologi .......
2.
3.
20
2L
22
22
22
22
23
23
24
24
24
30
30
34
35
36
37
3B
3B
3.1 Studi Literatur
3.2 Sampel Penelitian
3.3 Metode Pengumpulan Data
3.4 Metode Pengolahan data
3.5 Metode Analisa
4" Tinjauan Data
4.L Kondisi SPD Sampel Penelitian
4"2 Pengetompokan indikasi penyebab
derating yang
sama .........
5. Analisa
5.1 Sistem Air Pndingin Mesin
5.2 Mbrasi dan Bising tinggi pada
Turfucharger
5.3
5.4
5.5
5.6
,7
Pembakaran tidak Sempurna
tuingTemperatur Tinggi
@ndasi
Material
Undesize Cnnkshaft
Iam opemsi SPD meleurati jam pemeliharaan
ANALISA PENYEBAB MENURUNNYA DAYA MAMPU (DERATING)
PADA SATUAN PEMBANGKIT
DIESEL (SPD)
t, Pendahuluan
7.I Latar belakang
Dalam penyediaan
tenaga listrik pada
beberapa wilayah Indonesia, sering menjadi sorotan
nasional karena dari segi operasional memerlukan biaya operasi yang relatif tinggi dan boros,
kondisi ini didominasi oleh Unit Pembangkit Tenaga Diesel atau Satuan
pembangkit
Diesel
(sPD).
Sejumlah Satuan Pembangkit Diesel milik PLN yang
tersebar diseluruh Wilayah Nusantara tetah
mengalami derating, sehingga mengakibatkan
daya yang
tersedia tidak mencukupi untuk
melayani kebutuhan penyediaan
tenaga listrik. Oleh karena itu
jangan
biarkan mesin loss of
performance
(derating), jangan
dibiarkan bahan bakar terbuang percuma,
dan
jangan
biarkan
mesin mengalami kerusakan (catasthropic
failure). Sesuai dengan norma-norma yang
sehat
dalam bidang industri dan niaga, maka SPD yang
ada harus dikelola dengan seksama agar
performance,
keandalan (reliability'1
dan ketersediaan (availibility)
selalu dapat dipertahankan
pada
kondisi optimum.
Sehubungan dengan hal tersebut untuk membantu manajemen unit pembangkit
diesel dalam
upaya peningkatkan
daya mampu SPD, maka dilakukan penelitian yang
berjudul "Analisa
penyebab
menurunnya daya mampu (derating) pada
Satuan Pembangkit Diesel (SpD), sehingga
dapat diantisipasi untuk tindakan perbaikannya.
7.2 ldentifikasi Masalah
-rtuk
mengetahui penyebab
deratingsPD, dapat diidentifikasi dengan permasalahan
berikut:
-
Komponen apa saja yang
dapat menyebabkan derating ?
-
Pada masing-masing komponen, parameter
apa saja yang
dapat digunakan sebagai indikator
'r Eng menunjukan indikasi penyebab
derating ?
1,3 Ruang Lingkup
penelitian
'
:-:'i'ien-komponen penyebab
derating pada
SPD banyak sekali, tetapi secara umum dapat
::.3- 3 (tiga)
kelompok, yaitu
:
1l4r
b.
c.
PT PLN (PERSERO)
LITBANG
No, : 36.1IT.2006
-
Kelompok 1) Energi Awal (Bahan bakar)
-
Kelompok 2) Komponen mekanik (prime mover)
-
Kelompok 3) listrik ( Generator)
Pada penelitian
ini, ruang Iingkup yang dianalisa sebagai sumber penyebab
derating dibatasi,
hanya pada kelompok 2) yaitu komponen mekanik mesin itu sendin (prime mover)
7,4 Perumusan maglah
Berdasarkan identifikasi masalah dan ruang lingkup penelitian, penyebab
terjadinya derating
pada
sPD dirumuskan dengan beberapa pertanyaan
berikut ini :
a) Apakah ada pengaruh
sistem pembakaran
terhadap derating?
b) Apakah ada pengaruh
sistem pendingin
mesin terhadap derating?
c) Apakah ada pengaruh
sistem pengisapan, pembuangan
terhadap derating?
d) Apakah ada pengaruh
undersize crankshaft terhadap derating?
e) Apakah ada pengaruh
degradasi komponen material terha dap derating ?
7.5 Tujuan dan Kegunaan
penelitian
7,5,I Tujuan penelitian
1' Menganalisa penyebab
derating pada
Satuan Pembangkit Diesel (SpD)
2. Memberikan rekomendasi, langkah-langkah perbaikan
untuk dilaksanakan, sehingga
derating SPD dapat dihindari.
I"5,2 Kqunaan penelitian
a' Sebagai bahan masukan kepada pihak
manajemen Pembangkit Listrik Tenaga
Diesel, untuk mengantisipasi lebih dini penyebab
terjadinya derating, dan
menentukan langkah-langkah kedepan .
Hasil penelitian
ini diharapkan dapat bermanfaat membantu manajemen unit
pembangkit
listrik, dalam upaya mempertahankan
dan meningkatkan kinerja unit
pembangkit
thermal (PLTD), khususnya di Lingkungan
pLN.
Sebagai wahana pengembangan
ilmu pengetahuan
dan penelitian
dalam bidang
ketenagalistrikan.
: Sebagai buKi empirik penyebab
derating pada
SpD.
2l4r
PT PLN (PERSERO) UTBANG No. : 36. UT. 2006
2. Kajian Literatur
Sesuai dengan ruang lingkup penelitian, teori yang dikaji adalah teori-teori yang relevan dengan
penyebab derating pada
SPD.
a). Pengertian derating
b) Kesetimbangan energi
c). Sistem bahan bakar
d) Ruang bakar
e) Proses pembakaran
e) Sistem Pengisapan, Pembuangan dan Turbrcharger
f) Sistem pendinginan mesin
2,7 Pengeftian derating
2.7.7 Daya terpaang
Daya terpasang adalah besarnya kapasitas produksi terbesar (Maximum Capacity) yang dapat
dibangkitkan oleh SPD, tanpa dibatasi oleh kondisi (mesin dan musim). Daya terpasang tersebut
sesuai dengan yang teftulis pada " name plate " mesin.
2.7.2 Daya mampu
Daya mampu adalah besarnya kapasitas produksi yang tersedia (Auaillable Capacity) yang dapat
dibangkitkan oleh SPD, karena kondisi (mesin maupun musim). Daya mampu tersebut biasanya
dipikul oleh SPD pada
saat
jam pelayanan
beban puncak
dan daya kritis.
Zt,3 Derating
Delatirg adalah pengurangan produksi atau penurunan
daya mampu yang dibangkitkan oleh
SFD karena kondisi (mesin maupun musim), atau selisih antara daya terpasang dengan daya
rmarpu.
Berdasarkan kondisi yang
dialami oleh SPD, derating dapat dibagi menjadi 2 (dua)
lrcm, yaitu
derating sementara dan derating permanen
[6].
U K*timbangan enetgi
i'nqJ*
dengan hukum termodinamika pertama (Kekekalan energi); energi tidak dapat diciptakan
m ud* dapat dimusnahkan, hanya dapat berubah dari satu bentuk kebentuk energi yang lain.
3
l4t
PT PLN (PERSERO) UTBANG
No. : 36. LIT. 2006
Dengan demikian harus terdapat suatu kesetimbangan antara energi masukan dan keluaran.
Energi yang
dimiliki oleh bahan bakar di dalam ruang bakar mesin selain menghasilkan daya dari
mesin tersebut
juga
menghasilkan energi panas dan energi yang
dibuang melalui gas buang,
lihat rumus di bawah ini :
Eru-W+Q*Eou
(2.1)
Dimana : E
uu
=
Energi bahan bakar
W
=
Kerja mekanik mein
A =
Panas yang
diserap oleh sistem pendingin
Eou
=
Energi gas
buang
Berdasarkan analisa empiris heat balance pada mesin diesel, komposisi energi mulai dari yang
dihasilkan oleh energi bahan bakar yang
dianggap 100o/o sebagai masukan dapat diuraikan
menjadi
[9]
:
1. Kerja Mekanik (44o/o).
2. Kerugian karena gas
buang (Z9o/o).
3. Kerugian karena pendinginan
air (Zlo/o).
4. Kerugian karena pendinginan
minyak pelumas (oli)
@o/o),
5. Kenrgian karena radiasi (2o/o).
t\PaUla daya mampu yang dibangkitkan suatu SPD menurun (derating) hal tersebut sudah pasti
dlEebabkan karena penurunan
kerja mekanik. Bila terjadi penurunan
kerja mekanaik, maka
aal diiringi dengan peningkatan
kerugian. Dengan demikian maka komponen peralatan yang
Irililrrqrebabkan
peningkatan
kerugian adalah merupakan penyebab
menurunnya kerja mekanik
arcr.r penyebab
terjadinya derating pada
SpD.
a rrrlum bagan konversi energi sebuah mesin-diesel dapat dilihat pada gambar 2.1
4
l4t
lfc$lltrll' rofi( ElEmY.4i
f&{fi.6 ? c4519'ii
.rFTEnf4Qtge SOOT|IS rrttER I !i
frLsFEF A,OCI( lrE^S r ruso
ooot-ist'rrEFtr
s. co*il0 wfirf, t*
,fi.slrof. *
TSTAL F4'EL CflERQY IFPUT
t00't{
Gambar 2.r : uraian energi bahan bakar pada mesin diesel yang
dianggap 100% sebagai masukan.
:.:3
SPD, bahan bakar diumpankan ke dalam ruang bakar dan bercampur dengan udara
r'.'-
-;3a
terbakar, dan mengubah energi kimianya menjadi energi panas.
Energi panas yang
:"- i'l rdak dapat semua digunakan untuk memutar poros
engkol karena terdapat kerugian-
:r---:3-, gas
buang, pendinginan
dan radiasi. Energi yang tersisa yang dikonversi menjadi
:
-
:":: : sebut tenaga indikatif (Indikatif
Horse Power,IHP). Tenaga inilah yang menggerakan
:
"r:- :=- akan mengalami kerugian dalam pentrasmisiannya
karena gesekan, pemompaan,
'
rr
"
:
--
i
^,
Jumlah semua kerugian tersebut dikonversikan ketenaga dan disebut tenaga
.'"rl;'i*
:*:3t
horre Power, FHP). Energi yang
tersisa adalah energi mekanis yang berguna,
,
'
- I !.:t
--
3rergi efeKif (Brake Horse
power,
BHp)
t3].
s
l4t
6
l4l
PT PLN (PERSERO) LITBANG
No. : 36. LIT. 2006
ry
I
4t
I
I
4*
I
Con. Rod
Gambar -2.2: Aliran energi pada
mesin diesel
2ZI Efisiensi mesin
Elifa unjuk kerja mesin diindikasikan dengan istilah efisiensi (D,
nsin yang penting
didefenisikan sebagai berikut
[3]:
l. Efisiensi termal indikatif
ltiamta
thermal effrsienq), adalah
indikatif terhadap energi bahan bakar.
maka lima macam efisiensi
perbandingan
energi daya
(2.2)
ihp ihp x 4500
4t:
fuel hp (massa bb
/
menit) x NK
2. Efisiensi mekanis (m*hanical
effisienq) adalah perbandingan
daya efektif (daya yang
dihasilkan) terhadap daya indikasi (daya yang
mengerakan piston)
4^
(2.3)
ihp
dan daya gesekan (fricfr'on horse pwer)
:
fhp= ihp-bhp
(2.4)
3. Efisiensi termal brake (bnke
thermal ffisienq), adalah efisiensi tohl yaitu perbandingan
energi dalam daya brake terhadap energi bahan bakar.
bhp x 4500
4ta
bhp
bhp
fuel hp (massa
bb
/
menit) x NK
(2.s)
(2.6)
4*
:4t.4m
+ Efisiensi Volumetris
Kduaran mesin dibatasi oleh
jumlah
maksimum udara yang
dapat diambil selama langkah
bap' karena hanya sejumlah tertentu bahan bakar yang
dapat terbakar secara efektif
dengan jumlah
udara yang
terseia.
ftiersi volumetris adalah petunjuk
kemampuan
mesin dalam menghisap udara dan
ffirisikan sebagai perbandingan
udara actual yang
terhisap pada
kondisi atmosfir
ffiprrclumelangkahdarimesin.Efisiensivolumetrikdapatdihitungberdasarmass
rlru udlrne
udara.
massa charge actual terhisap
4v:
massa charge sebesar volume silinder
7
/41
(2.7)
PT PLN (PERSERO) LITBANG
No. : 36. LIT. 2006
5. Efisiensi relatif atau perbandingan
efisiensi adalah perbandingan
efisiensi termal siklus
actual terhadap siklus ideal
efisiensi termal aktual
4ret
(2. 8)
efisiensi udara standar
22.2 Sistem bahan bakar
Sistem bahan bakar gambar -2.3, merupakan rangkaian komponen, tangki, filter, pompa supply,
pornpa
injeKor dan pipa
saluran untuk dapat menyemprotkan bahan bakar ke ruang bakar
dengan waktu (timing) dan
jumlah yang
tepat
[2].
Gambar 2.3 : Aliran system bahan bakar
01. Injection valve
02. Injection line
03. Double Filter
Ol Differential pressure gauge
05. Fuel injection pump.
06. Screw-in orifice
01- Non
-
return valve
08. Ball cock
09. Fuel tank
10. Hand pump
I 1. Fuel delivery pump
12. Pressure control valve
13 Leakage line
14 Double filter
'iF
B
l4t
PT PLN (PERSERO) LITBANG No. : 36. LIT. 2006
5. Efisiensi relatif atau perbandingan efisiensi adalah perbandingan efisiensi termal siklus
actual terhadap siklus ideal
efisiensi termal aktual
Tret:
efisiensi udara standar
2.2,2 Sirtem bahan bakar
Sistem bahan bakar gambar -2.3, merupakan rangkaian komponen, tangki, filter, pompa supply,
pompa injektor dan pipa saluran untuk dapat menyemprotkan bahan bakar ke ruang bakar
dengan waKu (timing) dan
jumlah yang tepat
[2].
Gambar 2.3 : Aliran system bahan bakar
(2. 8)
01. Injection valve
02. Injection line
03. Double Filter
04 Differential pressure gauge
05. Fuel injection pump.
06. Screw-in orifice
07 . Non
-
refurn valve
08. Ball cock
09. Fuel tank
10. Hand pump
I 1. Fuel delivery pump
12. Pressure control valve
13 Leakage line
14 Double filter
B
l4t
qF
Pompa injeksi
s
l4t
PT PLN PERSERO) LITBANG
!3
3
16 2
Gambar 2.4 :'Aliran system baharrbakar
l. lntake from fuel service tank
2. Engine-driven fuel booster pump
3. Duplex final fuel filter
4. Fuel manifold
5. Fuel injection pump
6. Hight pressure injection pipe
7. Fuel injector
8. Injection valve and nozzle
9. Fuel return
rl
smponen-komponen sistem
Tangki bahan bakar
Fifter
Pompa Supply
10 Pressure regulating valve
I l. Return to fuel servive tank
L2. Injector leakage pipe
13. Leakage collection manifold
14. Fuel pipe casing Leakage collection
Manifold.
15. Float chamber
16. Leakage drain
bahan bakar :
Berfungsi untuk menampung bahan bakar yang akan digunakan
untuk proses pembakaran dalam mesin.
Berfunsi untuk menyaring atau mem-bersihkan bahan bakar dari
kotora n-kotora n sebel um dig unaka n u ntuk proses pemba karan
Bedungsi untuk menyemprotkan bahan baker dari tang-ii
penyimpan ke tangki harian atau langsung ke pompa injeksi
melalui filter.
Berfungsi untuk memompakan dan menaikkan tekanan bahan
bakar ke injeKor (20.000 s/d. 30.000 psi).
Parameter tekanan yang kurang tinggi mempengaruhi
jumlah
36. LrT. 2006
.1?' 13
PT PLN (PERSERO) LITBANG
No. : 36. LIT. 2006
bahan bakar yang masuk kedalam silinder, hal ini
menyebabkan kualitas pembakaran pada silinder yang
mengalami kerusakan pada pompa
injeksi menjadi kurang
sempurna. Biasanya ditandai dengan tekanan pembakaran
yang lemah
jika
dibandingkan silinder lainnya. Fungsi lain
bahan bakar adalah sebagai pendingin
dalam ruang bakar,
volume bahan bakar yang kurang dapat menyebabkan
temperatur mesin tinggi.
Prinsip kerja pompa injeksi
jenis
Bosch sesuai gambar-2.5
-
Saat plunyer
melangkah turun, bahan bakar masuk ke
ruang atas plunyer.
- Plunyer melangkah nai( menutup lubang masuk dan bypass
mulai penyemprotan.
- Plunyer terus melangkah nai( bahan baker diatas plunyer
bertekanan tinggi mernbuka katup penutup plu
nyer (livery
valve) melalui pipa
tekanan tinggi, bahan baker menyemprot
keruang baker melalui injector.
- Ketika alur (helix) pada plunyer
bertemu dengan tubang
bypass, tekanan diatas plunyer
hirang karena bahan baker
dibocorkan lewat bypass. Katup penyalur
kembali tertutup
rapat karena ada pgds,
sehingga bahan baker yang
ada
didalam pipa
saluran ke injector tidak bias kembali ke pompa
injeksi.
70
141
PT PLN
(PERSERO)
LITBANG No. : 36. LIT. 2005
InjeKor
gINq{P,lI\!P
9.u*.b{
2.5 : Pornpa injeksi
jenis
Bosch
Berfungsi sebagai alat injeksi dan pengabutan
bahan bakar
dalam silinder. Kualitas pengabutan yang kurang baik
menyebabkan proses pembakaran yang
terjadi tidak sempurna.
Hal ini biasanya ditandai dengan temperatur exhaust yang
tinggi, karena delay time sebelum bahan bakar menjadi lebih
panjang,
ada kemungkinan bahan bakar terbakar pada
akhir
langkah buang, sehingga bahan bakar terbakar disaluran gas
buang.
Prinsip kerjanya Injektor sesuai gambar -2.6, yaitu
sbb :
- Kekuatan
/tenaga
pegas
F menekan jarum (needle)
sehingga mentup ternpat dudukan
jarum
di nozzle. Bira
pompa
injeksi bekerja, tekanan bahan bakar p
akan naik
pada ruang nozzle dan mengangkat jarum
keatas.
rr
l4l
-
Injection valve
Jarum terangkat
keatas sewaktu ada tekanan bahan bakar p
selama waKu tertentu.
setelah tekanan p turun, berarti proses
injeksi bahan bakar
selesai, maka
iarum berqerak kebawah untuk menutup.
ttslifii'1gy:
'}/*.ttli''d'e dtr,trfii:
::J.lc.d.Et*tt$l
O*tia|r'
,'tty1*]lfttl{ip:1#
:ia,rl{if,rtr{,{dnr!..
'.(tt&(,:rtt,lt''.'r',
llhetln lrt* .
'
.(lttua(V''.rry'|-
i
frrt(lyl.r lr$( r ,3
(trtwil**1].
Gambar 2.6:
prinsip
kerja injektor
sebuah injection valvekomplit (gambar
2.7),terdiri
dari :
a. sebuah nozzle (4)
dan sebuah nozzsle holder (L) dengan
pegas
beban untuk (needle) (5)
dikat pada
bagian bawah
oleh tutup (cupment)
(6)
b. Tenaga pegas (7) dibebankan pada jarum
lewat push
rod
(B).
Dimana pengaturan
beban tekanan pegas
tersebut
diatur oleh regulating
screw(g).
F
t2
/47
Pipa penghubung
ariran
bahan
bakar (z)
ditahan
atau
dirapatkan
oreh grand
(3)
untuk
menjaga
dari kemungkinan
bocor.
Pendingin
mengalir
kedalam
dan keluar injector
rewat
lubang
pendingin
yang
ada di nozzle
dan nozzle
holder,
untuk
menjaga
supaya
tepat (presisi)
daram pemasang.r,
dipakai
dowel pin (10)
Gambar
2.7 : Fuel Injection
valve
22.3
Ruang
bakar
knng bakar terdiri dari cylinder liner, piston
dan
rylinder
head.
elinder
liner
berpenampang
lngkaran'
di datamnya
terdapat piston
(torak) yang
dapat bergerak
translasi
secara
bolak balik
&tgEn
leluasa'
sedangkan pada
cylinder
head terdapat
katup isap
dan katub
buang
sefta
Flengl(apan penyemprot
bahan
bakar (injecto).
Kerapatan gas
dalam silinder
dijamin
oleh
crcn torak yang
bergerak
translasi
sesuai
dengan gerakan
torak itu sendiri.
Hal tersebut
mmqpakan
syarat utama untuk
menjamin
berlangsungnya
proses pembakaran
dengan
sebaik-
c.
d.
!F
L3
/41
PT PLN (PERSERO) LITBANG No. : 36. LIT. 2006
2.2.4 Ptoses Pembakaran
Proses pembakaran pada ruang bakar mesin diesel 4 langkah mengikuti langkah-langkah
berikut :
Prinsip kerja mesin diesel 4 langkah, bila
gerakan piston telah merrcapai 4 (empat) kali, maka
putaran pena engkol terjadi 2 (dua) kali dan menghasilkan 1(satu) kali kerja
[3].
Langkah-1
Langkah-2
yaitu langkah pemasukan; pada langkah ini ke dua katub masuk membuka
dan katub buang teftutup. Udara mengalir kedalam silinder.
yaitu langkah kompresi; pada langkah ini kedua katub masuk menutup,
piston bergerak dari Tl'lB ke TMA menekan udara yang ada dalam silinder.
Sesaat sebelum piston mencapai TMA, bahan bakar diinjeksikan.
yaitu langkah ekspansi; pada langkah ini karena bahan bakar yang
diinjeksikan kedalam silinder yang
bertekanan tinggi maka terjadi
pembakaran
bahan bakar dan berekspansi menekan piston untuk melakukan
kerja sampai piston mencapai TMB, pada langkah ini kedua katub tertutub.
yaitu langkah buang
;
ketika piston hampir mencapai TMB, katub buang
terbuka dan katub masuk tetap tertutup. Ketika piston bergerak menuju TM&
gas sisa pembakaran
terbuang keluar ruang bakar. Akhir langkah ini adalah
ketika piston
mencapai TMA. Siklus kemudian berulang lagi.
Langkah-3
Langkah-4
2.2.5 Kualitas Pembakaran
Kualitas pembakaran
sangat tergantung pada
timing penyemprotan,
tekanan bahan bakar dan
suplai udara untuk keperluan pembakaran
"
a) Timing Penyemprotan Bahan Bakar
Gambar 2.8 menunjukan profil pembakaran
dalam ruang bakar pada beberapa sudut
penyemprotan
[9].
- lika sudut penyemprotan
semakin awal akan menyebabkan parameter laju kenaikan
tekanan pembakaran
semakin cepat dan semakin tinggi tekanan pembakaran
dalam
silinder.
-
Jika timing penyemprotan
terlambat, maka waktu yang dibutuhkan bahan bakar untuk
terbakar menjadi sempit, bahan bakar dapat terbakar pada knalpot atau saluran
exhaust. Hal ini sering terjadi sehingga menyebabkan pipa
exhaust membara karena
t4
l4l
tinggi temperatur gas buang, sering sekali menjadi penyebab
terjadinya derating pada
prestasi
SPD.
lrFr X.LI
rmA}: 4*p*e
Gambar 2.8: Profil Tekanan Pembakaran pada
berbagai sudut penyemprotan
BTC : Before Top Death Centre (sebelum TMA)
ATC : After Top Death Centre (sesudah TMA)
TMA : Top Maksimum Atas
b) Timing Buka Tutup Katup
Ma 2
jenis
katup pada
setiap silinder, intake dan exhaust Intake adalah sebagai saluran
rnasuk udara segar, sedangkan exhaustsebagai salauran ketuar gas buang hasil pembakaran.
unh 5
ed' # r
*'tfili,&Iiii:SFl
F{-s'lrl F*lbS
t:gry*
Gambar 2.9
=Timing
buka tutup katup
?ffi
F*a
g
,Eam
.n
*lEft
l*
It
*
r
Hs*
ru
F
{l-
E
l.
T,E, Ea{tsFlft'R *C#r+ :.*&ir
FgfsEa S." ffi*ffil
FiFrWf -il
{H*ri*tiF
fuEiri a"rr[=p. raat irlahe
ltrh*a
l+rrir
hiruidan
erhar.H
i Wris
rretdr! terbub
Ls
/41
Pada mesin 4 langkah terdapat 2 kali posisi piston pada Top Death Centre (TDC), atau
lebih dikenal dengan posisi TMA.
Peftama
;
TOP pembakaran, yaitu pada
saat katup intake dan exhaust sama-sama tertutup.
Kedua
;
TOP overlap, yaitu pada
saat katup intake dan exhaust sama-sama terbuka.
pada
saat TOP overlap dikenal sebagai proses pembilasan (rcavenging).
proses
ini
sangat penting
untuk mendinginkan temperatur dinding silinder, memang ada
akibat yang
harus ditanggung bahwa adanya aliran udara yang terbuang, sehingga
ada kemungkinan mesin kekurangan udara segar untuk proses pembakaran
Untuk mendeteksi timing buka tutup katup tersebut dengan tepat dapat dilakukan pengukuran
vibrasi pada
silinder head, Pada hasil pengukuran
vibrasi, waKu (timing
buka tutup katup) akan
dipetakan terhadap sudut cranl<shaft. Setiap kali katup menutup maka ada spike (lonjakan)
pada grafik
vibrasi akibat ketukan katup.
Vihrari S ilinder ft'f'l
Unit F
Fmda
# ?E tst
grE!I0U6
Si45:l S &.H
2,2,6 sistem pengiapav pembuangan
dan Turbocharger
:ada
setiap mesin, lubang isap dan buang terdapat pada
cylinder head.
pada
mesin-mesin yang
:ersilinder
banya( lubang-lubang
isap dan buang dihubungkan satu sama lain, berturut-turut
: eh "Saluran
isap" (Intake
manifold) dan " Saluran buang " (Exhaust
Manifold) .
*
eserilPUrnaan pembakaran
bahan bakar di dalam ruang bakar sangat tergantung pada
suplai
;'l3rd pembakaran.
Pada mesin diesel, laju aliran udara (tekanan
dan volume) dapat
: :
"gkatkan
dengan pemasngan
turbin yang
digerakan oleh gas
buang. Turbin tersebut
3E& 4
&.r*.rl
ryd [r]ariill
Gambar 2.10 : Fulgrktlt'r ll filrnrsi [.:ntu k trlrrl drt d:ri l-irni rr3 llrrkr
'[lrt
rr;r Hirt rrp.
IF
16
141
befungsi untuk mengurangi kerugian gas buang, karena dimanfaatkan untuk menambah laju
aliran udara kompresor yang masuk ruang bakar sehingga bahan bakar akan terbakar lebih
banyak dan efisien sefta menghasilkan tenaga atau daya yang lebih besar, prosesnya
disebut
turbocharging dan pesawatnya
disebut turbocharger. Dengan turbocharger tersebut (B s/d 10)
o/o
dari
jumlah
kalor pembakaran
bahan bakar (gas buang) dapat diselamatkan
[4].
2.2.7 Sistem Pendingin Mesin
Tujuan pendinginan pada mesin adalah untuk memperpanjang umur mesin
;
daya tahan,
kondisi dan operasi mesin, terutama pada
bagian-bagian mesin yang mengalami temperatur
tinggi akibat panas pembakaran
dan gesekangesekan pada
bagian-bagian yang bergerak dan
saling bersinggungan.
Pada bagian atas silinder (rylinder head) merupakan bagian yang
terpanas dan sebagian panas
gas pembakaran
itu dipindahkan secara langsung ke fluida pendinginnya.
Sedangkan untuk
bagian bawah silinder, perpindahan panas
ke fluida terjadi secara tidak langsung (melalui torak
dan cincin-cincin torak). Jika pendinginan
tidak dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka
temperatur dari setiap bagian selinder akan naik. Keadaan tersebut akan mengakibatkan
kerusakan dinding ruang bakar karena terjadinya tegangan termal, kerusakan katup-katup,
puncak
torak dan kemacetan cincin torak
[10].
Berdasarkan media pendinginnya, pendinginan
mesin dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian,
yaitu
:
1, Pendinginan dengan pelumasan,
dimaksudkan untuk mendinginkan bagian-bagian mesin
yang
bersentuhan langsung, saling bergesekan, bergerak dan saling bersinggungan.
7, Pendinginan dengan air, dimaksudkan untuk mendinginkan bagian-bagian mesin yang
tidak
bersentuhan langsung dengan bagian mesin yang
bergerak, dinding
rylinder
liner, cylinder
head, injector, katup isap dan buang.
:ada
mesin diesel, sistem air pendingin
secara umum
:,agian, yaitu
:
i Raw water
dapat dibagi menjadi 2 (dua)
Berfungsi untuk mendinginkan udara pembakaran
dan minyak pelumasan (oli mesin).
17
141
beffungsi untuk mengurangi kerugian gas buang, karena dimanfaatkan untuk menambah laju
aliran udara kompresor yang
masuk ruang bakar sehingga bahan bakar akan terbakar lebih
banyak dan efisien sefta menghasilkan
tenaga atau daya yang lebih besar, prosesnya
disebut
turbocharging dan pesawatnya
disebut turbocharger. Dengan turbocharger tersebut (B s/d 10)
o/o
dari
jumlah
kalor pembakaran
bahan bakar (gas buang) dapat diselamatkan
[4].
2.2.7 Sistem Pendingin Mesin
Tujuan pendinginan pada
mesin adalah untuk memperpanjang
umur mesin
;
daya tahan,
kondisi dan operasi mesin, terutama pada
bagian-bagian
mesin yang
mengalami temperatur
tinggi akibat panas pembakaran
dan gesekangesekan
pada
bagian-bagian yang
bergerak dan
saling bersinggungan.
Pada bagian atas silinder (rylinder
head) merupakan bagian yang
terpanas dan sebagian panas
gas pembakaran
itu dipindahkan
secara langsung ke fluida pendinginnya.
Sedangkan untuk
bagian bawah silinder, perpindahan
panas
ke fluida terjadi secara tidak langsung (melalui
torak
dan cincin-cincin torak). Jika pendinginan
tidak dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya,
maka
temperatur
dari setiap bagian selinder akan naik. Keadaan tersebut akan mengakibatkan
"erusakan
dinding ruang bakar karena terjadinya tegangan termal, kerusakan katup-katup,
:,lrrcak torak dan kemacetan cincin torak
t10].
Serdasarkan
media pendinginnya,
pendinginan
mesin dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
bagian,
,:i-l'
-
Pendinginan
dengan pelumasan,
dimaksudkan
untuk mendinginkan
bagian-bagian
mesin
iang
bersentuhan langsung,
saling bergesekan,
bergerak dan sating bersinggungan.
-
:Endinginan
dengan air, dimaksudkan
untuk mendinginkan
bagian-bagian
mesin yang
tidak
:e-'sentuhan
langsung
dengan bagian mesin yang
bergerak, dinding
rylinder
liner, cylinder
-erJ,
injector,
katup isap dan buang.
r'kl:
r'esin
diesel,
sistem air pendingin
secara umum dapat dibagi menjadi 2 (dua)
Xuml, 3-
r'ditU :
,
.i;t,lt
,rr'atef
id*--';s
untuk mendinginkan
udara pembakaran
dan minyak pelumasan
(oli mesin).
17
/41
2.
Gambar z.LL: Sirkulasi Pendingin Raw Water
Jacket water
Bedungsi untuk mendinginkan
bagian-bagian
temperatur tinggi. Namun pada
mesin New sulzer Lz zAv
juga
sebagai pendingin
udara pembakaran.
me$n yang
mengalami
40 S, Jacket water digunakan
Gambar z.Lz: sirkurasi
pendingin
Jacket water
Komponen-komponen
sistem pendingin
air :
1. Thermostat
Dilengkapi peralatan
"Heat Control Valvei yang
berfungsi untuk mengatur aliran air
pendingin
ketika mengalami perubahan
temperatur.
Prinsip kerja Thermostat
:
-
Pada saat mesin mulai dijalankan,
thermostat
masih tertutup (Temperatur
air pen-
dingin mesin masih rendah).
Sirkulasi air pendingin
mesin sebagai berikut :
Mesin Water manifotd
-
Thermostat-
Water pump
-
fntercooler
-
Mesin
rB
/41
PT PLN (PERSERO) LITBANG No. : 36. LIT. 2006
-
Setelah temperatur air pendingin naik (temperatur tertentu), thermostat mu-lai
membuka. Sirkulasi air pendingin menjadi :
Mesin Water manifold Thermostat- Radiator Water pump
fnterooler- Mesin.
Charge Air Cnoler (CAC)
Komponen yang befungsi untuk mendinginkan udara pembakaran
Cooling Water Pump
Berfungsi untuk memompakan air pendingin
mesin ke bagian-bagian mesin yang
memerlukan pendinginan.
Radiator
Merupakan alat penukar panas yang
berfungsi untuk mendinginkan air pendingin
mesin
t9
l4t
PT PLN (PERSERO) I,ITBANG
No. : 3G. LIT. 2006
2.3 Kerangka Pemikiran
Untuk memudahkan menganalisa penyebab
derating pada SPD, dibuat paradigma jalur
atau
kerangka pemikiran
sepefti gambar
2.13 berikut ini :
Gambar-z.r3 : Kerangka pemikiran
indikasi dan penyebab derating
Terjadi suara detonasi
letupan
Cranlpinjournal dan
atau Main Journal te-
lah digrinding under-
size.
Jam operasi SPD telah
melewati
jam
pemeli-
haraan.
Degradasi
Material (X5)
Sistem Air
Pendinein
q{2)
20
l4t
PT PLN (PERSERO\ IJTBANG
No-: 36. LIT. 2006
2.4 Hipotuis
Penyebab derating pada
SPD diduga dengan b$erapa hipotesis, berikut ini
1. Sistem air pendingin mesin kurang optimal
2. Sistem pembakaran tidak sempurna
Sistem
pengisapan, pembuangan
dan furfuharger
Undersize Crankshaft
5. Kondisi material karena dqradasi.
6. Poin 1 s/d. 5 secara simultan dapat berpengaruh terhadap derating
3.
4.
2t
l4t
3. Metodologi
Penelitian terhadap derating SPD diawali dengan studi literatur, menetapkan sampel penelitian,
pengumpulan
data (informasi, operasi, pemeliharaan
dan pengusahaan)
PLTD pada
SPD yang
dipilih, diskusi, sehingga dapat mengetahui indikasi dan komponen penyebab
derating serta
menentukan langkah-langkah perbaikan
untuk menganti$pasinya.
3.7 Studi Literatur
Literatur yang dikaji adalah teori-teori yang'relevan
dengan penyebab penurunan
daya mampu
SPD yang
beftujuan untuk mencari landasan teori, dasar mengidentifikasi masalah, pendekatan
atau perumusan
masalah, membuat kerangka pemikiran
dan menentukan hipotesis
3.2 Sampel penelitian
Sampel penelitian
adalah SPD yang
terdapat pada :
-
PLTD Siantan-Pontianak, terdiri dari 4 SPD merek SWD dan 2 SpD merek Sulzer.
-
PLTD Sungai Raya-Pontianak, terdiri dari 4 SPD merek SWD dan 2 SpD merek Sulzer.
-
PLTD Trahan Bandar-Lampung, terdiri dari 3 SPD merek S\IVD dan 3 SpD merek Sulzer.
-
PLTD Teluk Betung-Bandar Lampung, terdiri dari 2 SPD merek SWD dan 1 SpD merek
Sulzer
-
PLTD Payo Silincah-Jambi, terdiri dari 7 spD merek Minless.
-
PLTD Kasang
-
Jambi
,
terdiri dari 7 unit, terdiri dari 3 unit merek SWD REB dan 4 unit
merek Niigata 18 V
g,3
Metode pengumpulan
data
Unrtuk memperoleh data; indikasi dan penyebab penurunan
daya mampu SPD yang akan
cfrianalisa dilakukan dengan metode berikut :
-
Suryei ke masing-masing PLTD yang
telah ditentukan sebagai sampel SpD penelitian.
-
Dari data pengusahaan
PLTD; dicatat merek, tipe, tahun operasi, daya terpasang, dan
daya mampu SPD.
-
Dari data Log sheet operasi harian PLTD, dicatat daya mampu masing-masing SPD pada
:eban puncak.
22
l4L
PT PLN
(PERSERO)
LITBANG
No. : 36. Lrr. 2006
- Diskusi dengan Supervisor Operator, Manajer PLTD, mengenai indikasi yang timbul dan
penyebabnya bila beban dinaikan lebih besar dari daya mampu pada saat itu pada masing-
masing SPD.
- Mencatat hasil diskusi sebagai masukan untuk data penelitian
3.4 Metode Pengolahan Dab
Pengolahan data dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :
1. Langkah peftama : Seleksi
Dari data pengusahaan
PLTD dan Log sheet operasi harian PLTD dilakukan seleksi,
didipilih, diambil dan dicatat daya mapu SPD sesuai realisasi operasi dan produksi
terbesar pada
beban puncak.
2. Langkah ke-2 : Kalkulasi
Menghitung persentase penurunan
daya mampu terhadap data terpasang pada masing-
masing SPD sample penelitian.
3. Langkah ke 3 : Softasi
a. Dari data yang
terkumpul dilakukan pengelompokan
indikasi penye-bab derating yang
sama, sebagai variabel penelitian
atau faktor-faKor yang
mempengaruhi penurunan
daya mampu SPD.
b. Variabel penelitian
Dari hasil pengelompokan
indikasi dan penyebab
derating yang
sama ditetapkan
sebagai variabel penelitian yang
akan dianalisa.
i). Y adalah : variabel terikat (depndent
vaiable), yaitu
: derating
ii). X adalah : variabel bebas (indepndent
variable), yaitu
faktor-fa6or yang mempe
-ngaruhi
derating pada
SpD.
3.5 Metode Analis
Untuk menganalisa penyebab
derating dimulai dari indikasi yang
timbul sampai sistem
kompnen peralatan yang terkait sebagai penyebabnya,
kemudian membuat solusi untuk
mengantisipasinya sebagai tindakan perbaikan.
23
/41
PT PLN (PERSERO) IJTBANG No. : 36
"
LIT. 2006
4. Tinjauan Data
Sampel penelitian ada sebanyak 39 SPD,
jumlah
ini dianggap telah merruakili SPD tersebar,
karena dari data yang diperoleh, variable-variabel yang berpengaruh terhadap derating telah
menunjukan hal sama dan berulang.
4,1 Kondisi SPD ampel penelitian
Dari 39 SPD sampel penelitian, yang terdiri dari 6 SPD pada PLTD Siantan, 6 SPD pada PLTD
Sei Raya - Pontianak, 7 SPD pada PLTD tarahan, 6 SPD pada PLTD Teluk Betung
-
Bandar
Lampung, 7 SPD pada PLTD Payo Selincah dan 7 SPD pada PLTD Kasang
-
Jambi, ditemukan
bahwa :
a. 6 SPD sudah tidak operasi, karena rusak permanent, yaitu SPD-3 Payo Selincah
jambi
dan
SPD-I, 2, 3,4, dan 6 PLTD Kasang
-Jambi.
Penyebab kerusakan dapat dilihat pada data
lampiran-1
b. 7 SPD tidak mengalami derating, daya mampu masih rdative sama dengan daya terpasang.
c. 26 SPD yang lain telah mengalami derating.
4.2 Pengelompokan indikasi penyebab
denting
tlang
Dari 26 SPD yang
telah mengalami derating, indikasi penyebabnya
diidentifikasi dan
dikelompokan menjadi :
a) Temperatur gas
buang naik dan exhaust manifold membara, (4 SPD) :
-
SPD -1 PLTD Siantan Pontianak, merek SWD 9 TM 4I0, No. seri : 3305,
putaran
500
rPffi, tahun operasi t977, umur 29 tahun, daya terpasang 3000 kW, per oK 2006 daya
mampu 3000 kW, derating 25
o/o.
- SPD-7 PLTD Tarahan Bandar lampung, merek Wartsila L2V46, No. seri : 4365117,
putaran
600 rpm, tahun operasi 1991, umur 15 tahun, daya terpasang 9400 kW, per
OK
2006 daya mampu 5000 kW, derating 46,8
o/o.
-
SPD-6 PLTD Payo Selincah-Jambi, merek Miirlees l(\/ t2 MJ, No. seri 85-03-
01, putaran
600 rpffi, tahun operasi L992, umur 14 tahun, daya terpasang 5218 kW, per
Nopember 2006 daya mampu 3500 kW, derating 33,0olo.
24
l4t
PT PLN (PERSERo) LITBANG
No, : 36 . LIT
"
2006
- SPD-6 PLTD Teluk betung-Bandar lampung, merek Sulzer L2 ZV40|4B No. seri : 91551-
563, putaran 600 rpm, tahun operasi 1981, umur 25 tahun, daya terpasang 6300 kW,
per OKober 2006 daya mampu 3500 kW, derattng 44,4
o/o
b) Terjadi suara detonasi letupan pada
ruang bakar, (3 SPD) :
- SPD-6 PLTD Teluk betung-Bandar lampung, merek Sulzer t2 Z't40l4B No. seri : 91551-
563, putaran 600 rpm, tahun operasi 1981, umur 25 tahun, daya terpasang 6300 kW,
per OKober 2006 daya mampu 3500 kW, deralng 44,4
o/o
- SPD-1 PLTD Tarahan-Bandar Lampung, merek Sulzer L2 Tt40l48 No. seri : 101203-
2L4, putaran 600 rpm, tahun operasi 1986, umur 20 tahun, daya terpasang 6300 kW,
per OKober 2006 daya mampu 5000 kW, deralng 20,4
o/o.
- SPD-6 PLTD Sungai raya-Pontianak, merek Sulzer tZ Zrl40l49 No. seri : 74At7A,
putaran 500 rpm, tahun operasi 1993, umur 13 tahun, daya terpasang 7600 kW, per
OKober 2006 daya mampu 4500 kW, derating 40,8
o/o
c) Jacket Cooler Temp. dan Lube Oil Temp tinggi (Indikator J. C.W Temp. dan L. O
Temp trip), 13 SPD :
SPD-4 PLTD Siantan-Pontianak, merek SWD 18 Tl"1 No. seri : 3648, putaran 600 rpm,
tahun operasi 1986, umur 20 tahun, daya terpasang 10400 kW, per Oktober 2006 daya
mampu 7800 kW, derating 25
o/o
SPD-5 PLTD Siantan-Pontianalq merek Sulzer tZ ZV4A|48 No. seri : 91943930, putaran
600 rpm, tahun operasi 1985, umur 21 tahun, daya terpasang 6300 kW, per OKober
2006 daya mampu 4000 kW, derating 36,5
o/o
SPD-6 PLTD Siantan-Pontianak, merek Sulzer tZ Al4Ol4B No. seri : 91943954, putaran
600 rpm, tahun operasi 1985, umur 21 tahun, daya terpasang 6300 kW, per OKober
2006 daya mampu 4000 kW, derating 36,5
o/o
SPD-1 PLTD Sungai Raya-Pontianak, merek S\.VD 16 Tl4 410 No. seri : 3655, putaran
600 rpm, tahun operasi tg&7, umur 19 tahun, daya terpasang 8000 kW, per OKober
2006 daya mampu 7500 kW, derating 15
o/o
2s
/41
PT PLN (PERSERO) LITBANG
No. : 36 i LIT
"
2006
- SPD-2 PLTD Sungai Raya-Pontianak, merek SWD 16 TM 410 No. seri : 3664, putaran
600 rpm, tahun operasi 1987, umur 19 tahun, daya terpasang BB00 kW, per OKober
2006 daya mampu 7500 kW, derating 15
o/o
- SPD-3 PLTD Sungai Raya-Pontianak, merek SWD 16 TM 410 No. seri : 3673, putaran
600 rpm, tahun operasi L987, umur 19 tahun, daya terpasang SB00 kW, per OKober
2006 daya mampu 7300 kW, derating 17
o/o
- SPD-5 PLTD Sungai Raya-Pontianak, merek Sulzer L27AV 40 No. seri : 740L69, putaran
500 rpm, tahun operasi 1993, umur 13 tahun, daya terpasang 7600 kW, per OKober
2006 daya mampu 5000 kW, derating 34,2
o/o
- SPD-6 PLTD Sungai Raya-Pontianak, merek Sulzer t27AV 40 No. seri : 740L69, putaran
600 rpm, tahun operasi 1993, umur 13 tahun, daya terpasang 7600 kW, per OKober
2006 daya mampu 4500 kW, derating 40,8
o/o
- SPD-I PLTD Tarahan
-
Bandar Lampung, merek Sulzer L2 Tt40l48 No. seri : 101203-
2L4, putaran 600 rpm, tahun operasi 1986, umur 20 tahun, daya terpasang 6300 kW,
per OKober 2006 daya mampu 5000 kW, derating 20,6
o/o
- SPD-1 PLTD Teluk Betung - Bandar Lampung, merek MAN GBV40/60 No. seri :
405310, tahun operasi 1969, umur 37 tahun, daya terpasang 1200 kW, per OKober
2006 daya mampu 900 kW, derating 25
o/o
- SPD-2 PLTD Teluk Betung - Bandar Lampung, merek MAN GBV40/60 No. seri :
4A5597, tahun operasi 1968, umur 38 tahun, daya terpasang 1200 kW, per OKober
2006 daya mampu 900 kW, derating 25
o/o
- SPD-3 PLTD Teluk Betung - Bandar Lampung, merek MAN GBV40/60 No. seri :
405598, tahun operasi 1968, umur 38 tahun, daya terpasang 1200 kW, per Oktober
2006 daya mampu 1000 kW, derating 16,6
o/o
- SPD-5 PLTD Teluk Betuhg - Bandar Lampung, merek SWD 9 Tl4 410 No. seli :3432,
putaran 500 rpm, tahun operasi L978, umur 28 tahun, daya terpasang 4000 kW, per
OKober 2006 daya mampu 2800 kW, derating 30
o/o
76
l4L
PT PLN (PERSERO) LITBANG
No. : 36 , LIT
"
2006
f)
d) Vibrasi dan bising pada Turbochatger tinggi, (5 SPD) :
- SPD-3 PLTD Siantan-Pontiana( merek SWD 9 TM 410 No. seri : 3306, putaran 500
rPffi, tahun operasi t977, umur 29 tahun, daya terpasang 4000 kW, per OKober 2006
daya mampu 2700 kW, derating 32,5
o/o
- SPD-I PLTD Teluk Betung - Bandar Lampung, merek MAN GBV40/60 No. seri : 405310,
tahun operasi 1969, umur 37 tahun, daya terpasang 1200 kW, per OKober 2006 daya
mampu 900 kW, derating 25
o/o
- SPD-3 PLTD Teluk Betung - Bandar Lampung, merek MAN GBV40/60 No. seri : 405598,
tahun operasi 1968, umur 38 tahun, daya terpasang 1200 kW, per OKober 2006 daya
mampu 1000 kW, derating 16,6
o/o
- SPD-5 PLTD Kasang-Jambi, merek Niigata 16V, tahun operasi 1981, umur 25 tahun,
daya terpasang 2500 kW, per
Nopember 2006 daya mampu 1750 kW, derating 30
o/o
- SPD-7 PLTD Kasang-Jambi, merek Niigata 16V, tahun operasi 1981, umur 25 tahun,
daya terpasang 2500 kW, per Nopember 2006 daya mampu 1750 kW, derating 30
o/o
e) Bearing temperatur tinggi, (indikator
bearing temp. Trip), I spD :
SPD-4 PLTD Sungai raya-Pontianak, merek SWD 16 TM 410 No. seri : 3674, putaran
600
rPffi, tahun operasi t987, umur 19 tahun, daya terpasang 8800 kW, per
Oktober 2006 daya
mampu 7000 kW, derating 20,5
o/o
crankshaft telah di undersize, walaupun kondisi lain dan
operasi menunjukan normal, pembebanan
dikurangi, (9 spD)
- sPD-1 PLTD Siantan-pontianalg
merek swD 9TM 410 No. seri :
telah digrinding undersize pada
crankpin No. 2
=
us 4 mm,
No.6=Us 6mm,
- sPD-z PLTD Siantan-pontianalg
merek swD
gTM
410 No. seri :
telah digrinding undersize pada
crankpin No. 3
=
us 6 mm,
- sPD-3 PLTD siantan-Pontianak, merek swD
grM
410 No. seri :
telah digrinding undersize pada
crankpin No. 3= us 6 ffiffi,
semua parameter
I
t
3305, crankshaftnya
No.B
=
Us 4 mm dan
3304, crankshaftnya
3306, crank-shaftnya
27
/4r
PT PLN (PERSERO) UTBANG No. : 36
"
LIT. 2006
- SPD-4 PLTD Siantan-Pontianak, merek SWD
gTM
410 No. seri : 3648, Main bearing
cap No,7 telah dioversize (OS)
=
1 mm.
- SPD-5 PLTD Siantan-Pontianak, merek Sulzer tz*t 40148 No. seri:91943930
crankshaftnya telah digrinding undersize pada
Main
journal
No, 1, 2,3,4,5,6 masing-
masing Us
=
2mm dan pada
crankpin No. 1& 3
=
Us 3 ffiffi, No. 2
=
Us.1,2 mm, No.4
&5
=
Us2 mm &No. 6
=
Us. 5 mm.
- SPD-6 PLTD Siantan - Pontiana( merek Sulzer LZZr| 40148 No. seri:91943954
crankshaftnya telah digrinding undersize pada pada Crankpin No. L, 2, 3, 5, & 6
=
Us
0,4 mm, No. 4
=
Us.5,0 ffiffi,
- SPD-I PLTD Siantan-Pontianak, merek SWD 16 TM No. seri: 3655 crankshaftnya telah
digrinding undersize pada Main
journal
No. 4, Us
=
4 mm.
- SPD-2 PLTD Siantan - Pontianak, merek SWD 16 TM No. seri: 3664 crankshaftnya telah
digrinding undersize pada pada
Crankpin No. 2
=
Us 2,0 mm, No. 7
=
Us 8,0 mm.
- SPD-4 PLTD Tarahan Bandar lampung, merek SWD 16 TM No. seri: 367L
crankshaftnya telah digrinding undersize pada pada Crankpin No. 5
=
Us 3,0 mm,
dengan parallism
0,056 mm (standar 0,04 mm)
g) Kebooran air pada cylinder head dan kebooran gas
buang pada exhaust
manifold, (a SPD) :
- SPD-S dan 6 PLTD Tarahan
-Bandar
Lampung, merek SWD 16 TM No. seri : 3668 dan
3672, putaran
600 rpm, tahun operasi L987, umur 19 tahun, daya terpasang BB00 kW,
per Oktober 2006 daya mampu 6000 kW, derating 31,8
o/o
- SPD-5 dan 7 PLTD Kasang-Jambi, merek Niigata 16V, tahun operasi 1981, umur 25
tahun, daya terpasang 2500 kW, per
Nopember 2006 daya mampu L750 kW, derating 30
o/o.
h) Jam operasi SPD melewati
jam pemeliharaan, (3 SpD) :
- SPD -5 PLTD Siantan Pontiana( merek Sulzer t2 ZV 40l4BS No. seri : 91943930,
putaran 600 rpm, tahun operasi 19B5, umur 11 tahun, daya terpasang 6300 kW, per
OKober 2006 daya mampu 4000 kW, derating 36,5
o/o
28
147
ilF
29
l4t
PT PLN
(PERSERO)
LITBANG No. : 36. LIT , 2006
- SPD -5 PLTD Teluk Betung
-
Bandar Lampung, merek SWD
gTM
410 No. seri : 3442,
putaran 500 rpm, tahun operasi 1978, umur 28 tahun, daya terpasang a000 kW, per
OKober 2006 daya mampu 2800 kW, derating 30
o/o
- SPD -6 PLTD Payo Selincah Jambi, merek Miirlees l(\/ 12 MJ No. seri : 85-03-01,
putaran
600 rpm, tahun operasi L992, umur 14 tahun, daya ter-pasang 5218 kW,per Nopember
2006 daya mampu 3500 kW, derating 33
o/o
5. Analis
Analisa ini didasarkan atas kerangka
identifikasi dan pengelompokan
indikasi
5.7 Sistem air pendingin
mein
pemikiran gambar-z.t3
dan disesuaikan dengan hasil
penyebab
derating, dengan uraian sebagai berikut ini :
Pada tinjauan data sebelumrY?, indikator Jacket Cooler Water Temperatur trip, Lube Oil
Temperatur trip, merupakan indikasi penyebab
derating yang paling
dominan, yaitu
terdapat
pada
13 SPD. Penyebab derating tersebut adalah karena menurunnya kemampuan da6 sistem
air pendingin
mesin.
Bila kemampuan sistem air pendingin
mesin menurun maka kemampuan untuk proses
perpindahan panas
akan menurun, sehingga terjadi overheating.
Menurunnya kemampuan sistem air pendingin
mesin dapat disebabkan oleh beberapa hat,
diantaranya :
- Rendahnya level coolant
- Konduktivitas panas
dalam
jacket
water menurun karena banyak deposit.
- Kerusakan pada
thermostat, sehingga tidak dapat membuka.
- Buruknya aliran udara melalui radiator, mampet karena banyak kotoran
- Motor radiator tidak befungsi dengan baik
- Kebocoran-kebocoran pada
tube cooler radiator
- Pompa air pendingin
tidak berfungsi dengan baik.
Untuk mengetahui komponen peralatan yang
mana penyebab
utamanya, maka harus dilakukan
pemeriksaan,
kemudian dilakukan pemeliharaan
sampai kerja sistem air pendingin
mesin
tersebut dapat optimal kembali.
Komponen peralatan yang
harus diperiksa adalah :
a). Thermostat
Pemeriksaan
kery'a thermostat optimal atau berfungsi normal (thermostat
dapat membuka
untuk mengalirkan air ke radiator)" dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu
dengan
menyentuh pipa
keluaran thermostat ke radiator pada
saat SPD beroperasi. Kondisi pipa
pada
saat itu seharusnya panas
dan thermometer
menunjukan kenaikan temperatur,
menunjukan bahwa thermostat sudah membuka dengan normal.
30/41
b). Kebocoran pada
system pendingin
Kebocoran pada
system pendingin
mesin dapat saja tefiadi diluar maupun didalam mesin
atau pun pada radiator. Untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran tersebut dapat
dilakukan pemeriksaan
visual pada pipa-pipa
saluran air pendingin
diluar mesin dan pada
radiator atau penurunan level air pada
aupansion bnk.
Misalnya sepefti yang
dialami SPD -4
PLTD Siantan, tube cooler sudah kurang optimal
karena dari 700 tube cooler, 17 tube diantaranya disumbat karena bocor. Solusi untuk
menanggulangi tube-tube cooler yang
bocor harus dilakukan re-tubing.
c). Kipas dan motor radiator
- Pemeriksaan terhadap kipas-kipas radiator dan sistem proteksinya,
sehingga
jika
terdapat salah satu kipas radiator yang
trip dapat segera diketahui.
- Melakukan pengukuran
terhadap nilai amper motor-motor radiator untuk memastikan
befungsi normal, bila sudah tidak berfungsi atau tidak normat maka harus segera
diperbaiki atau diganti.
Misalnya sepefti yang dialami SPD 5 dan 6 PLTD Siantan, fungsi radiator kurang optimal,
karena beberapa motor fan radiator tidak berfungsi karena mengalami kerusakan
(terbakar).
Solusi untuk mengatasinya harus segera diperbaiki atau diganti dengan yang
baru.
d). Pompa air
Melakukan pemeriksaan
terhadap :
- Pompa air untuk memastikan befungsi normal,
- Debit air pendingin yang
dialirkan masih normal.
Indikasi kenormalan dapat terukur dari nilai tekanan sirkulasi air pendingin, yang
dilengkapi
dengan system proteksi
untuk memonitor tekanan air pendingin,
sehingga
jika
terjadi
kondisi yang
tidak normal, segera terjadi alarm, untuk emergensi stop.
e). Radiator
Berdasarkan pengalaman
teknisi pemeliharaan
PLTD, penyebab
terjadinya overheating
adalah karena masalah pada radiator.
Memburuknya penyerapan
dan pembuangan panas pada radiator adalah karena sirip-sirip
radiator terhalang dan dilapisi oleh debu dan kotoran-kotoran lainnya. Melakukan
perbersihan pada sirip sirip radiator memang mengalami kesulitan, terlebih menyangkut
kontruksinya yang
berlapis, sulit untuk dibesihkan dan membutuhkan waKu yang cukup
G
3t/41
PT PLN (PERSERO) LITBANG No. : 36. LIT , 2006
lama. Karena kesulitan pembersihan pada
radiator dan
jadwal pemeliharaan agak pende(
maka sering terlewati, sehingga walaupun telah dilakukan penggantian
suku cadang dan
pemeliharaan pada sistem yang lain, SPD tetap mengalami derating. Oleh karena itu
pemeliharaan
dan perawatan pada radiator (sistem pendingin
mesin) harus dilakukan pada
saat pemeliharaan
Major Overhaull dengan waKu yang lebih panjang.
Misalnya sepefti yang dialami SPD 5 dan 6 PLTD Sungai Raya Pontianak, mengalami
kesulitan dalam pelaksanaan pembersihan pada radiator, karena :
- Konstruksi kisi-kisi radiator berlapis, dan pada bagian tegah tidak memungkinkan
dilakukan pembersihan.
- Tufu cooler Lube Oil kotor
- Tube cooler Jacket water kotor.
- Pelaksanaan pembersihan
cooler tidak memungkinkan karena
jika
unit distop maka
system listrik se Pontianak terjadi penambahan pemadaman.
D.
Air pendingin
i). Kuantitas air pendingin
Kuantitas atau banyaknya air yang diperlukan sebagai air pendingin
mesin pada
SpD
sudah teftentu, tergantung pada kapasitas produk$
SPD tersebut. Bila kuantitas air
pendingin
tersebut tidak terpenuhi maka secara tidak langsung akan menpengaruhi
daya mampu yang akan dibangkitkan oleh SpD.
Pada beberapa SPD, terjadinya penurunan
daya mampu adalah karena kuantitas air
pendingin yang
diperlukan pada
system air pendingin,
tidak cukup, diantaranya :
- SPD-4 PLTD Siantan - Pontianak, kuantitas air pendingin pada Raw Waterkurang,
karena sebagai sumber air pendingin yang digunakan pada PLTD tersebut
diambil dan dipompakan dari Sungai Kapuas. Beberapa bulan terakhir sampai
Nopember 2006, terjadi musim kemarau, karena level permukaan
air sungai pada
mulut pipa
isap (intake pipe
)
menurun, maka debit air yang dibutuhkan untuk
keperluan sistem air pendingin
PLTD Siantan berkur:ang.
Solusi mengantisipasi surutnya level sungai kapuas pada musim kemarau untuk
kebutuhan air pendingin pada PLTD Siantan dapat dilakukan dengan
memperpanjang pipa dan menempatkan mulut pipa isap (intake pipe
)
lebih
jauh
dari tepi sungai ( kearah tengah sungai).
3214r
PT PLN
(PERSERO)
LITBANG
No. : 36 , LIT. 2006
-
SPD \, 2, dan 3 merek MAN GBV 4A160 pada PLTD Teluk Betung- Bandar
Lampung.
Ke 3 SPD tersebut menggunakan system air pendingin dengan 1 cooling toweryang
sma. Dengan menggunakan capasitas hanya I cooling tower tersebut, maka air
yang dapat ditampung pada cnling tower, kuantitasnya tidak mencukupi (terbatas)
dan tidak mampu melakukan pendinginan
tehadap Jacket Cooler Water ke tiga SPD
tersebut, sehingga SPD tersebut mengalami derating.
Sebagai solusi sistem air pendingin pada SPD 1, 2 dan 3 PLTD Teluk Betung,
perlu penambahan
coling tower dengan kapasitas yang
sesuai sehingga kuantitas
air yang dapat ditampung oleh cooling tower sebagai pendingin Jacket Cooler
Water pada ke 3 SPD tersebut dapat terpenuhi.
ii) Kualitas air pendingin
Baik atau buruknya system air pendingin mesin pada SPD
juga
tergantung kualitas air
pendingin yang digunakan. Syarat air pendingin
dalam mesin harus memenuhi standar
kualitas sesuai dengan klasifikasi mesinnya.
Beberapa parameter yang berpengaruh terhadap kualitas air pendingin adalah :
- Kandungan yang mempengaruhi derajat keasaman (pH) air, sepefti Sulfat,
Nitrit, Ammonia, chlorida, dsbnya.
- Kandungan kesadahan seperti Calsium(Ca), Magnesium (Mg), dsbnya.
- Kandungan Silika,.
Adanya kandungan ion-ion tersebut dalam air menimbulkan masalah yang merugikan.
Air yang
derajat keasamannya tinggi akan mempercepat proses korosi pada pipa-pipa
system pendinginan,
dan bila tidak diantisipasi maka akan terjadi korosi, penipisan dan
bocor. Sedangkan air yang kandungan kesadahannya tinggi akan menyebabkan kerak
(scale) pada pipa sistem air pendingin,
sehingga semakin lama kerak tersebut semakin
tebal, dan mengakibatkan terjadi overheating karena perpindahan panas tidak optimal.
Disamping itu
juga
kerak yang terbentuk berada pada elemen-elemen radiator akan
menyebabkan penyumbatan sehingga proses pendinginan
oleh radiator tidak optimal.
Oleh karena itu kualitas air pendingin mesin perlu penanganan dan perhatian yang
khusus sehingga dapat menghasilkan air pendingin yang lebih sesuai (standar) mesin.
3314r
secara umum dengan melihat kondisi dan masalah sistem air pendingin yang
digunakan pada
PLTD tersebar, solusi yang paling
tepat untuk menanganinya
adalah
dengan cara pengolahan
air pendingin.
Beberapa metode pengolahan
air pendingin yang
digunakan untuk sistem air pendingin
mesin, diantaranya adalah :
i). Pengolahan air pendingin
dengan metode inhibitur, yaitu penambahan
bahan
kimia kedalam system air pendingin, yang
bertujuan untuk metarutkan kandungan-
kandungan yang
terdapat datam air sehingga tidak menimbulkan
korosi dan tidak
membentuk kerak (scale).
ii)' Pengolahan
air pendingin
dengan metode water treatment plant, yaitu
bertujuan
untuk mengatur keseimbangan
kadar asam dan basa, sehingga tidak bersifat
korosif dan tidak membentuk scale.
Salah satu metode pengolahan
air dengan water treatmenf yang
cocok digunakan
di PLTD adalah metode ion exchanger dengan jenis
water softener,.karena
biaya
investasi dan biaya operasi tidak terlalu besar, pemasangannya
cepat dan mudah
sefta air olahan yang
dihasilkan memenuhi
standar untuk digunakan sebagai air
pendingin pada
mesin-mesin
pLTD.
iii). Pengolahan air sederhana, yaitu
dengan cara membuat bak-bak peng-endapan
sebelum digunakan menjadi air pendingin, yaitu
bertujuan untuk mengendapkan
kandungan kandungan yang
dapat membentuk korosi dan kerak.
Dan untuk mengatasi masalah kerak yang
sudah ada
lterbentuk dapat dilakukan
dengan chemical cleaning terhadap sistem air pendingin
mesin tersebut, yaitu
dengan cara mensirkulasikan bahan kimia tertentu kedalarn system air pendingin
secara kontinyu dalam waKu tertentu. Setelah dilakukan pembersihan
kerak
dengan chemical cleaning terhadap system air pendingin
mesin tersebut, lalu
gunakan
air pendingin
meiin dari hasil olahan.
5.2 Vibrasi dan bising tinggi pada
Turbocharger
Dari tinjauan data pada
Bab-4, terdapat 5 spD yang
mengalami
Turbocharger, sehingga daya mampu spD harus diturunkan. Hal
hal diantaranya adalah sbb :
vibrasi dan bising tinggi pada
ini disebabkan oleh beberapa
34141
- Blade turbin turbocharger banyak yang
mengalami kerusakan, akibat terkena sepihan
exhaust valve yang pecah"
Hal ini dialami oleh SPD 3 PLTD Siantan
pontiana(
dan SpD 5
dan 7 pada PLTD Kasang Jambi.
- Bushing Turbocharger
mengalami over clearance, seperti yang
diatami spD-1 dan 3 PLTD
Teluk betung
Solusi untuk mengantisipasi
dan tindakan perbaikannya
adalah melakukan re-blading pada
blade
turbo yang
mengalami kerusakan (gompal),
atau mengganti dengan turbocharger yang
baru.
Bila hal tersebut dibiarkan maka dapat mengakibatkan
kondisi turbocharger lebih fatal dan
derating SPD akan semakin besar, karena tenaga penggerak
kompressor pengisap
udara akan
semakin kecil. Disamping itu bila blade yang
telah gompal
mengalami retak dan patah
maka
patahannya
dapat membentur blade yang
lain sehingga kondisinya dapat semakin buruk
(parah).
5.3 Pembakaran tidak sempurna
Temperatur gas buang naik dan berwarna kehitaman, exhaust manifold membara dan terjadi
suara detonasi letupan, ini merupakan indikasi derating yang
dialami pada
4 SpD, hal ini
disebabkan karena didalam ruang bakar (Cylinder
Head) terjadi pembakaran
tidak sempurna,
masih ada sisa bahan bakar yang
belum terbakar dan terbuang melalui gas
buang (temperatur
gas
buang tinggi) dan terbakar pada
exhaust manifold.
Beberapa faKor yang
dapat menyebabkan terjadinya pembakaran
tidak sempurna pada ruang
bakar, diantaranya adalah :
- Filter udara kotor, sehingga menghambat udara masuk (Oz) yang
diperlukan untuk
pembakaran,
sehingga terjadi suara detonasi letupan.
- Temperatur udara luar panas
sehingga kerapatan molekul Oksigen merenggang atau
Charge Air Cooler (CAC) tidak optimum.
- Pengabutan bahan bakar pada
nosel kurang baik sehingga tidak semua bahan bakar
terbakar diruang bakar, sisanya yang
tidak terbakar terbuang bersama gas
buang dan
terbakar pada
exhaust manifold mengakibatkan exhaust manifold temperaturnya menjadi
tinggi dan membara.
- Timing penginjeLsian
dari nok pompa
bahan bakar kurang tepat, terjadi penggeseran
/
penundaan penginjeksian
bahan bakar, akhir dari peng-injeksian
terlambat hampir
3sl4r
PT PLN
(PERSERO)
LITBANG No.: 36. LIT" 2006
mendekati pembukaan klep buang, sehingga sebagian bahan bakar tidak ternakar dan ikut
terbuang dan terbakar pada exhaust manifold mengakibatkan asap berwarna hitam.
- Adanya kebocoran air pada cylinder head dan masuk ke ruang bakar sehingga
memperlambat proses pembakaran.
Solusi untuk menanggulangi kejadian temperatur gas buang nai( exhaust manifold membara
dan suara detonasi letupan, dapat dilakukan dengan cara sbb:
- Melaksanakan pemeliharaan
/
pembersihan pada filter udara masuk
- Melaksanakan pemeliharaan pada
sistem Cooler (JC\tr maupun CAC)
- Memperbaiki penyetelan
timing injeksi bahan bakar.
- Memperbaiki pengabutan
bahan bakar dari Noser InjeKor.
- Perbaiki kebocoran udara kompresi ( ring piston)
- Mengantisipasi kebocoran air pada ruang bakar.
5.4 Baring temperatur tinggi
Bila bearing temperatur naik dari kondisi operasi normal dan secara keseluruhan bearing
mengalami hal yang
sama, hal ini dapat disebabklan oleh 2 faftor, yaitu sistem pelumasan
mengalami gangguan
atau Lube Oil Temperatur naik karena menurunnya kemampuan sistem
pendinginan
mesin tersebut.
Tetapi berbeda halnya dengan yang
dialami oleh SPD-4 PLTD Sungai Raya
pontianalg
temperatur bearing No. 3 trip, karena mengalami kenaikan 10
"C
lebih tinggi dari temperatur
bearing lain yang
kondisi dalam keadaan normal (Alarm
BBoC, trip 93
"C),
sehingga beban harus
diturunkan. Hal ini dapat terjadi karena tebal bearing yang
terpasang lebih tebal dari bearing
yang lain, sehingga clearance pada
bearing tersebut terlalu kecil, berada pada batas minimum
clearance, normal clearan ce 0,I7
-
0,ZB mm.
Solusi untuk mengantisipasi dan tindakan perbaikannya,
dilakukan penurunan
beban agar
temperatur bearing No. 3 tidak trip, dan piOa
saat pemeliharaan
dilakukan penggantian
bearing
dengan ukuran yang
sesuai.
tebal bearing yang
terpasang lebih tebal dari bearing yang lain, sehingga clearance pada
bearing tersebut terlalu kecil, berada pada
batas minimum ctearance, normal clearance 0, L7
-
0,28 mm.
-
36141
5.5 Degradasi material
Degradasiadalahpenurunanlpenguran9an@Fnrh|ataumenurunnyakegunaan
(fungsi)
material.
Pada beberapa SPD, pembebanan
terpaksa ffii h btdd material telah mengalami
degradasi,sepertikebocoranairpadaqfir'&H'ffdtre,rockerarmauSdanretak
yang
dialami SPD-5 dan 6 PLTD Tarahan ffi
lrFq}
Crankshaft aus dan exhaust
manifold bocor seperti yang
dialami SPD 5 dgnl f,fDEtghnba.
Terjadinyakebocoranpadapadacylindert}ea4'H'iGldtaustvalve,rockerarm,dan
silinder head yang
seharusnya sudah dgnfi h
@l
tetapi karena spare paft
pengganti
belum tersedia, maka pembebanm pde
S lsus dtrrrunkan.
Terjadinya degradasi pada
exhaust nhE, rfu
A,
fu hea4 camshaft, exhaust
manifold dan pada yang
lain dapat disebatrbr htra !!r+a hal, diantaranya :
-
Keausan.
-
Kelelahan material (Fatique).
-
Thermal cracking stress.
-
Corosion dan
-
Deformasi
Disamping itu, degradasimaterial juga
dipengaruhi deh pola
operasi SpD, bila pola
operasinya
SPD sering start*top atau SPD sering blad< oul rrcka hal ini pun
akan dapat mempercepat
laju degradasi.
Selain penyebab
diatas, kebocoran air pada
Cllinder head dapat
juga
disebabkan karena retak
akibat kesalahan pemasangan,
misalnya :
- Pengikatan baut cylinder head (valve houshing) tidak seimbang.
- Momen ikat baut tidak sesuai dengan instruksi br.rku manual.
Solusi tindakan perbaikan
bila penyebabnya
dqndai materialadalah mengganti denga n spare
partyang
baru dengan spesifikasi yang
sama. Tetapr tila penyebab
kebocoran air pada
elinder
headadalah retak karena kesalahan pemasangan,
rn& sdut' untuk mengantisipasinya adalah:
- Menjaga keseimbangan ikatan baut pengikat
cyfu M
- Besar momen ikatan harus disesuaikan dengm irsfr*i h.ftu manual.
- Mengkalibrasi pressuregaugqjika pengikatan
hrt nul1lunakan hidroulik pressure.
- Menjaga temperatur air pendingin pada
Jcw,
@
rurnal.
3714r
5.6 Undersize Crankshaft
Pada beberapa SPD, bila crankshaftnya (crankpin journal
atau main journal),
telah di grinding
undersize dengan ukuran undersize yang
berbeda-beda, maka pihak
manajemen
pLTD
mengoperasikan SPD dengan pembebanan
selalu lebih rendah dari pembebanan
sebelum
crankshaftnya diundersize, hal ini dilakukan karena ada kekhawatiran terhadap kondisi
crankshaft akan patah.
Berdasarkan buku panduan pemeliharaan
mesin (SPD)
dan Seruice Bulletin: ABC Engineering
PTE Singapore, Grinding Techique Crankshaft, dan New Sulzer Diesel Undersize Bearings and
Reconditioning of Crankshafts, tidak terdapat suatu kalimat yang
menyatakan hubungan antara
pengurangan
diameter crankshaft (undersize)
dengan penurunan
daya mampu yang
dibangkitkan, tetapi karena kekhawatiran tersebut maka pada pembebanan
SpD selalu
dikurangi' Untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, maka perlu
dikaji lebih mendalam
hubungan antara pengurangan
diameter crankshaft (undersize)dengan pengurangan
beban.
5,7 Jam operasi SPD melewati jam pemeliharaan
Berdasarkan buku standar pemeliharaan
PLTD, SPLN No. 20
/
SPLN
I
LgTl,jenis pemeliharaan
SPD telah ditetapkan berdasarkan jam
operasinya, yaitu
:
- Pemeliharaan Top overhaul (To),
setelah
jam
operasi 6000
jam.
- Pemeliharaan Semi Overhaul (SO), setelah
jam
operasi 12000 jam.
- Pemeliharaan Major Overhaul (MO), setelah
jam
operasi 18000 jam.
Pada setiap
jenis pemeliharaan
tersebut sudah pasti
dilakukan pembersihan, penyetelan
dan
penggantian
suku cadang (spare part)
karena telah mengalami degradasr. Bila penggantian
tidak dilakukan maka sPD akan tetap mengalami derating.
Sebagai solusinya dilakukan pemeliharaan
TO, SO, dan MO tepat waktu, dan penggantian
suku
cadang yang
telah mengalami degradasi, sehingga keandalan SPD dan ketersediaan tenaga
listrik tetap terjamin.
38l4L
PT PLN (PERSERO) LITBANG
-
No. : 36, LrT. 2006
6. Kesimpulan Dan Saran
6,7 Kesimpulan
Dari hasil tinjauan data dan analisa, dapat disimpulkan bahwa penyebab derating pada
SpD
adalah :
a) Penurunan kemampuan sistem air pendingin mesin (penyebab yang paling dominan), hal
ini disebabkan oleh salah satu atau beberapa hal, berikut ini :
- Rendahnya level coolant
- KonduKivitas panas dalam
jacket
watermenurun karena banyak deposit.
Kerusakan pada
thermostat, sehingga tidak dapat membuka.
- Buruknya aliran udara melalui radiator, mampet karena banyak kotoran
- Motor radiator tidak berfungsi dengan baik
- Kebocoran-kebocoran pada
tube cooler radiator
- Pompa air pendingin
tidak befungsi dengan baik, dan lain sebagainya
b) Vibrasi dan bising tinggi pada turbocharger karena blade turbo banyak yang rusak (gompal)
akibat benturan serpihan exhaust valve yang pecah
dan bushing turbocharger mengalami
over clearance
c) Pembakaran tidak sempurna, masih ada sisa bahan bakar yang belum terbakar dan
terbuang melalui gas buang (temperatur gas buang tinggi) dan terbakar pada
exhaust
manifold.
d) Clearance bearing terlalu kecil, sehingga menimbulkan temperatur bearing naik.
e) Undersize crankshaft (crankpin journal
dan atau main
journal), yang telah mengalami
undersize dengan ukuran yang berbeda-beda sehingga dikhawatirkan akan patah.
f) Degradasi material, penurunan kemampuan atau fungsi material, sehingga memerlukan
penggantian.
Jam operasi SPD sudah tinggi serta
jam pemeliharaan
terlewati dan ketidak tersediaan
spare part pengganti.
SPD mengalami satu atau lebih penyebab dari pada
butir a sld f atau terjadi secara
simultan.
g.
h)
39141
5.
6.2 Saran
Berdasarkan analisa dan kesimpulan di atas, untuk mengatasi terjadinya derating pada
SpD
perlu
dilakukan hal-hal berikut ini.
1. Pada saat pemeliharaan
Major Overhaull (MO), melakukan pemeliharaan pada sistem air
pendingin
secara komprehensif dan tidak ada yang
terlewatkan.
2. Melakukan pemeliharaan
terhadap tube-tube cooler yang
telah mengalami pengerakan
dengan chemical cleaning atau sejenisnya.
3. Menjaga kualitas air sistem pendinginan
mesin yang
dilengkapi sistem pengolah
air dengan
metode yang
sesuai.
4. Sebelum melakukan pemeliharaan,
disiapkan spare part pengganti
material yang
telah
mengalami dqradasi.
Memisahkan kebutuhan ketersdiaan listrik dan kebutuhan pemeliharaan
mesin sehingga
jadwal
pemeliharaan
TO, SO maupun MO dapat dilakukan tepat waktu, tidak terlewati oleh
jam
operasi mesin (SPD). Sering terjadi karena kebutuhan tenaga listrik kritis,
jam
operasi
mesin melewati
jam pemeliharaan,
sehingga kerusakan mesin menjadi lebih parah
dan
bahkan setelah terjadi gangguan yang fatal baru dilakukan pemeliharaan,
akibatnya wa6u
dan biaya pemeliharaan
menjadi lebih tinggi.
Perlu analisa kekuatan bahan terhadap crankshaft yang
telah dr- undersize untuk
membuKikan apakah crankshaft tersebut masih mampu pada
beban penuh atau tidak.
6.
4Al4L
PLN LITBANG-BIDANG PEMBANGKITAN
No. : 36 . LIT , 2006
7. DAtrAR PUSTAI(A
Kennet R Babb
,
Diesel Engine kruice
,
Reston Publishing Company, Inc. Aprentice
Hall &mpany Reston, Wrgina 2209q fi84,
Eric J. khulz, Died Mrchanics, ftcond Edition, Dirttor of Training Program, Pasific
vocational Institute-Burnaby Gmpus, Burnaby, British &lumbia, lgB3
Ir. Astu Pudjanarsa, Ml Prof. Ir. Djati Nursuhud, MSME, Mmin Konversi Energi, Andi
Yogyakafta; 2006
Prof. Dr. Wiranto, Arismunandar, Koichi Tsuda, Motor Diesel Putaran Tinggi. Cetakan
Kesepuluh, PT Pradnya Paramita, Jakarta; 2004.
5. Drs. Boentarto, Mengatasi Kerusakan Mesin Diesel. Pustaka Pembangunan Swadaya
Nusantara, Jakafta
;
Puspa Swara, 2A04.
Garnida, PLTD dan Permasalahannya, Seminar Pembangkitan Tenaga Listrik Indonesia,
PLN Kantor Pusat,2002
Standar Jam Pemeliharaan PLTD, SPLN No. 20/SPLN/1976.
Seruice Buletin
'
- ABC Enginering PTE Singapore, Grinding Tshique Crankshafr, Waraita Diesel (S)
PTE. LTD, Singapore 2262, 1986.
-
New Sulzer DiereL Seruice Buletin, tJndercize Bearings and Rrconditioning of
Crankshafu, CH 8401 Wntefthur, Swizeiland,IgBo
hhtp://\AMW. Daunbiru. Com
Sulzer Broths Limitd " Maintenance Manual For Sulzer Diesel Engina AV 40 S'
Wnthur.
1.
2.
3.
4.
6.
7.
B.
9.
10.
4Ll4t
PT PLN (PERSERO) LITBANG No. : 36. LIT. 2006
IAMPIRAN.l
DATA PENELITHN
INDIKASI DAN PENYEBAB DERATING PADA SPD
GI
E
(l)
)
tst
q)
o
a
o
v
J4(
(/)(c
ctr
o{
Fg
s-g
(sd
Eb
rbo
ctr
(Bq)
.tr4
bo(
c E.-
96
s-gE
a.
^5
^do
r. E-O
qa.r
=
S F;
Oq
o=aJ
b.=
H'E
.d
\o
-+o
6z
JC
\/ cd
C)'o
L:'N-
iY 6=
93rti
trq.)
co Tt :f,
(n
=
rt)
J-
-A
AtsJ
a
cill il
E c{?
.at
cg O,t
E ZO E
)
FH
O. \O
-v
.=
q
il?
ct !q i:J
It
OB
z
!
\o
rt)
cd
ll
'rJ
co cg
.")
O-t
'7=
u)
al
&-
-v
cs
trtr
l<)
r) o
I
o
J>
3s
L+)
-v,
ol
bo:
bi
.q(l)
Oa
5S
Es
oq)
.o(/l
cl(c
-q)
bI).\. 5
Eb3
.=- o)
5'c! O,
Es
(('(s(B
AJ4 >,
I
(d
z
j
\o
rA
Fa
t{
rJ (

ll c
d
c.r E
-o'a
Zcl
tr
'5.
=
#s
E!
cd5
Jao
I
^
b cF
H E &-r
} EE 8
- b"g P
F bob;
d*!
v=o(!)
::o!:
q
5(]D
i) *
o0*(De
q-ocd
A J
-J- Y(virc
E
Es E
.
tr_ rJ
'=bb{
-'F
-^.LH
s i
s
'E oa "
s-8
trtr oH=
(tt(!A!ue
3
H E Err
14-g F.v*
tl
k
(.)
o

cd
o
+)
F-
ci
z
o.i
cBtr
UE
bO
-r
='
cg^
(l)
;^'
cqx
F
\-/
(Be
F{N
a'6
I
bt)

lr
q)
a
U)
c{
I
-V-^
(v
--
tv-v
c cgc
ho
=c c- tr
(-.l
( c)\C
)ts6
g
v)=
bo
=g
dv
L ta
;
P CO
F ;io
()
2 tr
A. l{=
-lvcE
d E<
F ;rl
Jl
I I
I
o
Cgq)
Ep(1)
ctr caN
=:?
g
x6
c E
dJ
rv)
f bo
(c_v
c
.
=Tl
-Ekc
-:l
c)'A
d0
-'lf,
E
I
c.)
o oo'!
(vd
L?Cg()
::
>. Tt
s r'lJ
o-r=
= *
.E oo
c
-9-5
g qY
eLL
(r3 Q
'C
3 ';
.99
-Vr'E
Cjtred
v-9E
I
I
o
!.
(l)
(.)
o.i
qbo
e OI)
CBL
ca(u
sb0
I
I
OH
*)
(J
=o
-.c
j(.)ri
qrrnN(D
S Ji'=
qi
>\
ai
-y
9i
,FJ
-HL!
E s
=
H.-
.=;b0
=E
=-v,
c cg
;.1 .-
-
E Fv b's
(UHUH
-.c
o.l
*
O
.-
-.<!
9.e.!l H o
)4-o-o 4ar)
tI
QU
aOO
.= rrr v-)
.!
o\ g\o
:{ O.'- A,
-.q
!.-
g-i*
(\ll+-F<
v,\9,-
o.U cB LJ
qo
l--o
L.^v^
t:;d Pts
.Fd]F
?f<l+tr
ctrc
.-A-
u<v<
i
-J
\,
I I
t
cn a"
CG T)
e- bO
G)-
t-
cc c)
).-
i>
0J(n
V
I
a0
cg
L
o
o
s
rn
al
r.)
(\l
ra
at
?n
rf)
f.{
cEA
>r Cl
ct
ri
6
li
lr
a
-
(.l
r{)
?o
F-
(\l

r-
ut
Glc!
V> at
ccd
ng
o)
?
5
$ .<t
s
!+
u)
trgE
!r 6)
Fa.
o
f-S
t--
P
o\6
c.l
v.
N
I\
an
v
F-a
r.--
= o'i
c.l
v
co -=
6
c.i
v
E
a
Fr
&
o
o
la)
o
o
tat
o
o
tat
o
\o
t{
o
CN
C;
z
rat
o
ca
ca
$
O
ca
co
\o
o
ca
ca

$
\o
cn
(u
e
(u
fr
(l)
!i
z
cr
TE
a
a
F
F1
F{
<>
$
\3
a
F
o\
o
F
a
o
.+
z
F
o\
a
F
a
a
v
a
F
o\
o
F
a
O
-+
2
F
oo
a
F
V)
o
z
cl co t$
o
I
-l
F]
rd
o
frl
F{
A\
Ft
F<
F{
V\C
CJ<
zz
3-
!rr
Az
-A AV
FIA
f'l
31
t).
=,
<F_
ds
o0
ZA
;- e.
3r
&
F{
A
-t
F-+
9
JO
A
M
^tV
53
F-'A
V<
rqtr
a2
agR
X3;
ta<<
n( M F-i
a;z
3* <
z>a
dJ8
HEd
T
&
G
&
(l)
)
nr
o
o
q
o
!4
-V
cg
E5
Eli
.ilo
tr.E H
- 'rJ J4
OI) ct cl
Sl
l-,
,.o
gEE
-v.Cg
h.08
E9F

tr'Y
ctl ct .<
.: Bro
ulggg
H"s
-i(t.)q)
l-Ir ,o .o
I
\o
ldg
,.i
2E
^F
t+a-
tr o.l
..i E'3
>)
c.i
T
,'
^
Pn
- ud8
cj
ea$
Z ctE
-Z
E
=
,
r
g:
.g
F .g c.r
-j
.E f;
g;.t
Ss
S?
.v
rcS
EP
Ee
E9.:
O.E F
oo'd *
F
s$
htr6
r.j .!q
P
*-
c!
Lli
si9 0
adoE
EJl
I c'E
.- a bI)
rafgc
gg
.aar(l)
r-L p
.o
q
o
a
D
il
\o
F
'd
^c
ctnH
N
^E
(t, cA
O
4
H 1-.l
t-r
I
^ct;
H
-p
-
Oll
F Z*
F
i -go
.g
*z
d';
.E
FE
ll
b0
6
L
(u
a
u)
6
FI
FxP
tfi (B rf)
-t\o tro\
'fivr*
ai)
-.=r.=
LilU
3!!-E
+-_
qJ-
crl
ri r\ a f \
i\VXV
o-: o) A
E6F5
rl gp
F
O E ri F
-I<-;<
I I
=o
Yrr
'F-
(l)
>h
O.S
-v& '-r
C;)
Eo
ct
.q6
eb
Eo d
SF. H
' .
V._
I
=(t6.:
$bo
V L
) g
:!uN
+
-r.- LA
(.) rr
erP ()
d it
-lJ
LIU))
= bn
GOg
-V
.- rr
cl(hbO
-(J
U
(gta) tr)
co-g\c
!
-'G - f,
!*-*
kg'- r'i
r<!-t+.
()-
5-
Fp f; s-,
-q) -)
o.o
Fo,
E\c
.c.)
-Fl-{F i-
ri cu
-)
cg
!/-iv.-
-;<J<
I
E3
.ir
*
(l)
XE
uJ4
=(l)
But
ti .*
,Cd
Gt 'i
'!- C)
(l)
-L;
-51
(l)
'I
s6;
SF H
' \/.F:
:c
\/(l)
G
(c
bI)
;v
:!vN
* /\.q
3r at1
or<
.P 0-)
-cg\J
L6)
!=
ho
cgc.lY
-v.*
3-:
c;lvrbO
v
I
b0
6
L
(l)
a
s
ra
er)
In
\c
(.)
m
c.il
6A
>E
cEr
6t
l.l
!r
a
t
5
.+
s
r,o
al
b0
c\lG!
>rr)
ct cd
og
L.
(l)
'-
(a
rf)
\o
|.n
eA
ra
EF
tr c)
o
tl
a
co=
v
r/*, q
w
AP
+O.
v
l-)
n.l
=a
FT
a
o

(,
z
o
Fr
&
rc
l'r
n
i-
ri
F
o
F
= a
Fr
&
o
o
\o
o
o
\o
L
c)
a
c;
z
o
c.l
o\
ca
r+
o\
o\
.+
la)
o\
ca
$
o\
o\
q)
a
(l)
tr
)
r-
a
oo
-f,
<>
=f,
N
C\t
tr
q)
N
)
a

-f,
o
.+
N
ol
l.r
(,)
N
a
o
z
t.i
\o
o
C\
I
J
F1
f-1
o
E
a
Fr
f-{
v\4
(r<
zz
coF
\={' F
4Z
ll r-
AV
FIA
42
:!J
iJ .l
LF
'43
(\a
v
ZA
f'1 H
Fr
<E
&
ri
R
F(
a
\o
c>
o
c.l
(u
-o
(,
q
(u
v)

Cg
.o
oo
4'
s
Fr
M
'
e,u
?2
M<
82
-?,/
o
9;?
?
6)z
oD<<
dMF
&s1
z>a
ds3
HFd
GI
F
q)
o
Fr
(l)
o
q
o
g
L
o
o
,t4
bE
9F
-tv
L
osa
E-r-o
&oJ4
qEg
FIU:
b 6a
-! -v
ut
ERF
ohk
- (l)(De
S,ocC
=5.q)
FFIE
ltt
o0
cd
>.
o-
$
a
3i
ll
(d
-f,E
.d
9u
Ad
cB <n
l(s
5E
OCB
.Fr
>r
cc .=
<r cl
Z-
I
l.{

OH
Ycg
LH
(L).=
E
FB
-9 E*
qEE
*1
hL
h b
NEH
UO.b
(l)(t)ts
u
))l+{
FF*.
ltr
ilh
f-
rr Ctl
z6
E'g
trtr
OC
..iE
0a
F., <d
il;o
1F
o'.r
zd
trc
-?o^
goo
$,n
(JF)
I
l-.
o

o*
,v9
:i |<
o.=
L($E
gF5'
.9
E*
ra5'd
v
.!9P
.l l-
I
-!rG)
6g?.
=os Xocd
U(J5
(1)(r)=
5-o:Y
5-=*i
i-i F
|r{
ltr
a0
:.
c
L
q)
n
UA
cl'
E
lrl
U
o
\.,/ ca
ao
.Fca
^=
-F-
o.^
r^'!--
o'i F.
.vl
J
-(J
'U
5 0 r) o
co
-.oo
E\o
F-c\
(l)d.lF
FUF
*---i
!!
L d L
L ;i
;i-u-
fi<
F<
11
t-
u#
o.
( bI)
'dc
s E.$
69
'P
cts ii
-r
iti
!O
EE
E
HE 9
B
g.=
CO cl
':J
5-- i|.i
(t)tabO
M
U
o
\J c-r
hq
tr-U
*
Ed.r
o.'. E .L
.i ir
!
^U
'U
l,/ o r) o
.;ca
Yoo
FJ\O hC\
d.g ciE
bs bs
F< F<
ll
rE(G
Vq)
o-
( bI)
EFsi
+
>'.!
6e
fi
c)
-(E(J
gr
= >w
63(J:
.Y.- s{
0(.)v)bO
I
U
P3"
cao
tr--
.9 .*.*
L; L< 3r
* tr
!
d: F.i
A^.\./
qca
U9^
-]\o
;a
d.F citr
EE EF
#? fli
ll
a0
G
L
Q)
a
s
rn
rf)
f*
GE
>trl
EL
AGI
Fr{
= a
?
ra
F-
ro
Fr
?o
r.-
u0
GI GI
Xor
Gl 6l
a3
)
F
6

e
co
co

.A
-Cl
F)
FA
o
r-tr
aE
5rJ
v
t-- tr
co
-g
O\ {J
\r'
6tl
O\A
\l
Fr
a
Fr
&
e
e
\o
e
e
\o
o
o
\o
tr
c)
a
o
z
rr]
r')
\o
(a
=\0
\o
?a
(a
F.
\o
(a
)
a
+)
(l)
L
(D
F{
a
c{
c
&
q)
o
a
F
Fl
Fi
t
r-
a
Ft
\o
n
F
o
o
r+
|rr
a
Fr
\o
a
F
a
o
rf
\a
a
F
\o
o
F
a
ct
z
tsl ol (a
o
rn
I
F]
F]
14
0
H
n
F{
FI
VV
(J<
z1
-r
E;_
>2
rio
NL
4<
s>
-)J
FJ
dE
(ro
za
-l-
F'
id
Fd
o
F
441
3A
Pv
Fr
?s
\}A
;i
YZ
vo
II]A
at
^
p4s
?dJ
ts?;
*Md
EfrZ
\J<
p
z>o
dt8
HEd
w
(9
()
n.l
c)
o
o
v
EE
(fr
ti !-
(.)o
-z
e
-otr
(l):J
gE
(l).=
Li
ooE s
F.rtC
'tr
cs
Li
cB=^.
()
x
'osC\
cd
-{
cdrd:
E 8.
t-'
qc.l
EV
gFg
F.O
F
(l)O:Y
o-9t
ui
q g
e=
'a_g
.s
I H
.q
.s
'n
#'F
g6
;:*
r
--:-y r<5 eCE
9E i3=H
.E I I ooE
tr
b
--v
x
iIs
: F'-o. i
.-S E L Ft e
g
F
5;Eg;sr
rs3E&s:H
fFI3 HEflE
5E*frEE EE I
'iq
Jo.s
"a_g
s9H
cd 6 .=
(/,
'!-)
+-=
-;g
^86
b* .,
L59!'6
EE
',gsF cs
(l)
o
-'E
l9!
rF!'4xx
E;
j
F=.,9 : E
:EE E
-
HE
s
g
F 3
:;Eg;sr
i
gsE:S&s:Ig
.- c O-. r-
-*
Q c c
E $EI EBA $
;p
:' Uo
g
E:E
S
JEfr8$
EE a
E
u0
6
o
n
U)
6
ir;u
L
!L
f;
.v :Y
-^ O 'JJ
- a-,
AAlv.r
L
Z c-
c!
'- ts,n I
Uls
L(g
!r\Jd.n
()oo x:
-o
oo
y'
L
Ld!.-
L!
.ar; .u6+
F ?-r--
ll
EU
da
6^
LV
v
Jr' L O-
.+Vd).-
P!
c!a
S-
- v?^
a; 3P
J t Otr)
* u,:
\v
^
f \
'-
*-
-oL
=c)
tr cc
!J ra 0J -:
.1
t-v-<-{
ll
a
o
(.)
!r
tn
:O
63
cd o.
OJH
I
- e
I r)
v
V^
cd'5a
A\A
.t
^
*
=
+frLi
.<V
IJv!L
q-)(t{.
<\
v-
v
O o- >U
-o
rL^
HeJ\r,
H rf.)
.^
a-L) o- tr
F:-)-!
-U
_a.) 19 -O -=
Fv|-cS
ll
u0
L
)
a
- !t
e
ro
t\l
(\t
f..)

.+
r+)
(\I
>.tr
Gra
AG!
H=t
a
?
F- tf')
in
t
a
co
f')
b0
cE c!
lra
cE6
oEr
(u
B
ao

t--
F-
=f
ro
E E.
iE
f
q)aO
tr5
F O. S .*.-
,^ Jv
-c
c\ :,
v
fa?
arl
\r/
?.1 tr
\/
D

z
(a
F
'J
F
F
tr
a
Fr
&
|n
ra
L
c)
o
d
z
.+
F-
f.)
.+
F-
t--
s
t--
q)
6)
fr
q)
H
2
cE
u0
a
n:
Ll r-.
rl 63
F{&
.+
F
(n
.+
a
N
?.1
q)
N
o
t+
N
(\rl
ql
s
(a
z
t$
ro
I
F]
0
H
A
-
F
Uv
22
^^<
F
Fi t-{
>2
t.1 O
F.'{F{
O
$
I
Fl
\o
o
e.l
{J
-o
-v
(tr
(d
c6
-l)
bo
(u
=s
'---'' -
iJ
a_
6H
Z2
FF
Jd
ri
n
t-{
all
F.-\
r,r
,J rl
orJ
<)
M?
&=
l)
17
laA
ttl
Al
ef; t
rr'l r-J ' '
7,4,>
*Md
tEZ
z>a
J<n
rr<FlF
3-., F E
w
ra
I
-
&
CB
E
(D
o
Fr
(l)
o
e
o
v
S: H'3H I
-U!
d
S
Oc tr li a
'tu
9J
cEro
-SEo
ct)
=.rv!tt
3"Et :;
:FE;;s 5 E
$;E e:=e E F
=;.!cF
F
g
j.9
ci
E
go
-c
;
aEgfi: E
:
**F;gE E
q
88tr".4*.= . : E
E#g
E5H.g
$ s
E
att
dl L
]:()
N
>r=
=
c.n
=
0():I
(!F
C)
()-
ccd
F(c
ca
o'l
Et
ilB
(l)=
P)
(d!=r
*
lcd
ooai
b m
g
F6t
cd'I 9-$
H.$ ai
Hg
(l)dF{!s
6t sf
F.?
r F
gon
e
.=tr'-u,
FF or
fig
jA
o
".i
g
.oB
DC
r/ (g
rn v)
otr
zE
.! ro
o{
ta)
so^
iIo
()L<
sS
Yc)
g.#
bS;
=6ts
(l)E
E a.+
h tro
l9
A trO
I
b0
CE
L
(l)
a
a
E
'll
u)
o
{.)
cd
L<
(g
a
6d
t-o
t:
oV
ni.
^V
o-
s *
g
Lr '-
'F
Y* t *:
\\
f-'l ,
=V
F u
J^-:o
!val
cs\O Y X
t
0)
gLL
L;-
!-L
*!9-)
,o= 6 :
F-\
F
li
ra
(
.o
o
Rla
trFGi
F(n.E
.Es3.
(,00
a).o ti
c)d
:E 3
RS
Vcdd)
M'q a.
I
a
t-
q)
o
d <\J
=(.) a*
td
-\l
.=
cco
E>
c)
cd-
ES
(I)
9oo
( .=
tr Li
Rl $l
ggbb
()-
c
r< 'E
9.s s
?o"
a. bo
cscoJ
-oN
cs >.';
-
b,r
g
Av
d
i^)
-v br
Lr (J
't .=
:'A
bt
(s'13E
q)
X
j
v-ve
I
a0
CE
tr
)
o
s
\9
al

r+
O\ O\
|nrn
\o \o
6A
>E
cEr
AGI
ti\=r
a
F
rn
\0
..1ri
ll
v
ia
a0
66l
Aut
Gt6
ner
o)
?
(fl
\o
O
cO
\o
rr)

E [- !
E
aL/-
\J
6
N
v
\o5
co=
c\l
v
s=
o'
c.l
N
v
oo=
C\A
v
ra
t4
Fr
&
\o
\o \o \c)
L
(l)
(t)
o
z
$
a.l
I
ca
c.l
c.l
N
1
6
O
c-l
-f,
I
aa
o.
t--
\o
c.)
q)
g
q)
t
O
!l
e
c
e{
L
6
F
a
F
Fl
Fi
oo
-+
$
N
C-l
!
q)
N
)
(n
co
{
.<r
N
c-.l
L.
0)
N
a
oa
\f,
=f,
N
N
(.)
N
(n
w
z
F
\o
n
a
d
z
lri
N .+
Fl
rc
a
H
a()
?z
gR
24
dt
441
rdA
AF{
24
<d
22
#f;
z4
F{ t-{
te
Ed
F
a
o
sZ
trl FJ
atu
o>
OJ
z&o
?<z
a(zl A
Fr
i.33E
U,ijsV
HEU3
z1 xE
-.1
lq r- A
^q('U
:AMF
EHHd
F
sc

o
o
FI
q)
o
a
o
V
hEE
65
c r<=
.iis9
:-i
-y
s
trE E
dHd
=.s s
d'd F
F-q
112(trar
\/-H
*(l)(d
9
o*
&.ga)
>r|-
ctH 3,
(tl ilr.-
>-d
F
3-E
(E*
v
'-ct?)cl
-N
C) 5E
lr{ S cl (rt
bsE
"1565
.E hE
EJO
-.sE H!*
(tl Ir' d
=.s s
d'o I
E-a
L+!
C)
(g
+)
\/HL
tEF
o-
&cic)
>r lr
^e!Gt
oao.
s
*
3-E
(Bx
v
x E 3
}Jl ,q cd Gt
rn
cd
oo
S.v
v .t)
ECB
6E
l<d
th
F.:
cl
.dx
cg
o.
ooE
tri)
5h
-b6
C'' H
cdH
oo bo
{H
A,o
a0
B
ti
q)
n
q)
6
lr'a
L
o)
v)
LU
(
ri
c
tr
Q
O*
(au
L
Q)
(t)
q
lr
CB
cd
!
o
C)
(l);\
I
vtv
Fs s
-
boqaa
CUI-<
cutr(l)
5if
5'Or-
v
q.oa
bo'=g
.
=
Cgr^
=
!u
ct\J

s
F>
-
-.t o-=(t)5'
tr : A H
6 E 69
F tr.l a{H
ltt
b0
CE
L
(l)
a
ao
(.)

(r)

\o
.+
lai
eA
6Q
>E
cl ri
^6t t-'i !r
a
\o
e
rn
.a
bo
cE 6t
).o
6CB
ae.
)

o
-f,
o\
t
00
=l
F S" i:
Fa.-S.+,
F,l
RH
;o
3o\
- v
f-. 5
oo=
O\
O\
v'
c
o.E
6e
-F- v
e
e
o,
r)
z
a
&
HI
F
<|
-l
F
F
lr{
z
n{
&
\o
\c \c
tr
(l)
a
o
z
oa
\o
\o
co
N
tr-
ca
F-
ral
\o
ca
+
q)
e
(9
L
o
13
2
CB
l
L
g
F
a
F
Fl
Fr
&
s
4
F
\c
a
v
I
F
\o
.+
c-.1
J
UA
F
o
z
r/-)
\o
l--
\o
I
tJ
I
rc
o
H
OU
-z
gR
2A
s'j
FF(
441
rdA
Af-
F-
Z
z1
< ao-
22
##
rh<
z4
F-t t-l
fr,a
Hd
Fr
A
\o
o
t
c.l
o
a
u
o
cd
.c:
cg
bo
(u
o
)z
tIJ FJ
a*
o>
c0J
>eo
><z
a(/) A
fr
l)
17 >7
S1
ff33H
?uJ u
HUU?
74,x8
'i-v
!14r-/^
1>vF
FEI rdJ
qAidii
F-
I
G
q)
q)
t-(
)
o
g
o
v
bo
E
o
()
Cg
5c)
i\O
Fc
trtd
o)lr
CS
trc)
F()
.-
3-
6E I
Htr O
(g

(t)
Y
Sqp E
U)
FS F
-3
bo
cag
.=
q)F q
v.rr
6
It
-
oo
E
o
()
al
h
5(l)
ia C)
-Li gl(d
(Drr
d(g
tr(l)
trE
'r l<
Eg I
HH O
G'
^,?)
Y
&s E
.tsF
FS F
-3
il)
k
c?)
9 .=.
s6 E
bo
tr
o
o
O
(
>.
O.
(l)
ut
oCtr
trtr
RI
^v) &s
i:F
tr
ci Gt
c)-^
vlj
I
u0
CE
q)
a
u1
6g
t.r
(B
'i^ b0
:ir
oo
e
vp
!
a)X
lfi L
L)
L-
q
qr=
t*\
_-v I
cc
og l*
:-Elctr
q
F.- I
c
s r$ l;
:=.;.=t4
9 op l.=
,--E-lE
i F$ l^F
r E
\J\ul
1 aE l*
o_c$O
E 5 I
q
()l-=Itr
F >-
l#
gr
'-C
Fq)
Jo
6C
c0(d
tr9
64R
UE.h\
*
tsgu
..t) _
q
e
>163
q,
cd 6.)
M-c-o
I
h0
6
fr
(l)
n
s
6d
\o-E
F-
aa
lIn
lnr
I
t_
l-
/-
*J
ro
r.t
\
$n
\a
G\
n{
oog
O.s
oo
ae
v.
tn
Sa,
?E
G'
ri .<(
a
F
o
e.l
!+
r+
b!
5cc
az u,
cEG!
a3
q)
F
. F !,r
F
g
E E
v
coA
\o
_;
O'. +j
*OO
ce
v
CO-
F.-
=
o"E
oa
a.l
v
t3
a
n(
&
O
rar
L
(l)
(a
ct
z
ari
r/.)
\f,
I tt'-
lo,
IE
I +
f"
I
le
lO-
l-+
6
z
d
2
;
oa
o\
tn
ta,
\f,
\o
.f,
oo
4
i
z
.$
\
aa
O
\
F
a
(I)t
a. I
.r'1,ll
\tr
-
I
- Vl-
6 | ,,)
LIF
lo
g
AlF.r5
| '- ar
lFi(l)
I F.( CO
\o
-+
oc
4
{
z
o
z
c-r
lif
a
F-1
V)
rs
H;
n5
ErA
iz;
rl\
\/-l
1x
ex
F5
16
SZ
F.P
41 H
ca- r.l
.rE
Zv
FFJ
JE
[da
Ar F{
t-{
[r{
< t-l
FA{
a
(,
)z
TTI ;J
qtu
o>
mi
Epao
.B
N 3
JZZ[-
:<<TLI
;FoPq
!ir-...V
lgvF
';ots'
:FF3
-*tU)fu
E
6
&
)
(u
Fr
q)
o
o
g
cq
(a
D
il
.+
d
z
\o
(t)
il
t\
ct
z
H
P.
*
(BF
(Jtr
oo
li
I
(B
(l)
p
(g
=
a
l<
Gt
a
(l)
tr
(c
o-
.,'bO
(B L<
cd
(s
.x (D
E-o
o)
?)t:
(l)o.
J=
cd=
5u
Md8
I
-v
o0
cgc
E
Hca
.'! '(f
rid
cdq
t<
(rlc:
EiS(E
3s F
cg
=
CO(t)O.
troo tr
.SE
H
-! E
E* t
6F :e
Aqr.ij
- tS -' trl
bJ1 6 E
- aAlV
V-
o(do'=
OCOX
E'E.B E
s b"E
d
ll
ca
ct)
lt
\o
ci
z
H
trtr
H
kc!
=t^ .rrt
op
J?il
-) '-
il
:2
EE
AC
s=
'ao
J
c:-tr
citr'=
L .-l .\Y
UE
at
u0
6
L
(u
a
qr)
CE
rc
1-l
lrl
&
cd
bo
(.)
4
A
(.)
F
I
l.$
5t
g*
sa'il
;ss 3 E5
F
s aE EE A
\JE-V
=
E-\z=
? $Si E
s
e
I Ee E F Fg;
E
g'.EE
EEE
o..v'C'l's
:lJ-g
v)
"t/
::
cdo
li ()
bo
-o
)q
J
^
KE
bo .<
.-o
o. cs
b.6
r!
t-(
tt
qbo
(gc(u
E S.N
P
?trn
Ee-Q
P(g)j
-L !
(t) )
4bo
c: d.=
.=.,E
6hi\
-.i
cd Y-(f
v-v
g
I
h0
6
fr
o
o
s
e.l
.<f
'f,
!i|r
t-.
f.)
(.i
Q
>11
c:r
a\ Gl
F{ F{
2
t
ao
at
ro
rn
b0
Gl cl!
V> rn
o3
o
? !+
?o
\0
ri|
o\
r-
S f;o EF
FO,-*)
1.\ JY
ootr
F\-
O\
f'
-OO
al
v
oO
"!
O,.
H
+V)
ce
v
z
!r
a
a

z
a
lrl
ti
F
I
F
F-
!r
a
Fr
&
ra)
li
(l)
(n
ct
z
c.I
.f,
"+
cr)
cf)
\o
r.)
I
rat
iat
o\
q)
6)
L
(9
13
a
c)
5-(
^E
LI
F{(u
nr Fq
$
z
r-
6
tJ
V7

v
.f,
N
C.n
()
\
U)
o
z
ta)
\o
o
oo
I
-l
I
fEl
Art
r-r !l
=z
,-r i-.-'
hrlJ
r. Fr
U;
OJ
4/,
s3
a4
Fr *.*
1i
AZ
fr L_'
i-{ P
11 l-1
rH
Zv
FP
FJ
< r-J
&?.
FCa
a\ F{
Fr
F-{
<Fl
F{F<
a
\o
c)
)
c-l
{J
,.o
a
..Y
o
66
Ri
cs
s
F
tri
b0
ci
A
o
)z
rD'
atu
o>
Fq Fl
z&o
><z
a7l A H
v,44fr
EHflC
HEg3
>ft, xP
F9Ue
EHHd
0)
(l)
,)
a
o
V
IS,E
I
(d
-t'
l-o c'
l.- o.)
-r,
c-r .y
c:
(D
tro0
q6
nv)
o
-o>
'= r'l
CJ
l. vt
F
o-(/) E
aC(9
tr
(aJ4
Ebg
F)
.L
o05
=
91.:
6?;i
v
(:=c
1gs
-)< cd o)
'a
.v'o
-O6cd
*'E
(B-r<
d:v
l:
-r\\
o Ei
A.tl-
c,
b6:
.<E
(,
(st
3>
b
gs
\JO)v
cO5
bH
rcr'F
(l)
(ttr
.v
c).v
(DH
troo
s6
J-J 6
q)
-o>
-!
-Y
)
.VO
'= r't
o)
tr'A
)H
a,ut tr
i-Ed
E C-\l
Gl rr';
- F5
:
bbb
:=(l.)iJ
H:
EHE
JfH
'E.V
.o
3oS
-q'F*
'a; vt
;
(g Fi
tr t\\
o E!
O.'- F-
Zf
^A
\O
.-c
(')
d'o

=>
F iis
\,tl
(D
Y
'o-o
g
OCCB
!
x'd
bo= .v
c=(tl
v9
609
9at
CCd(g
gE$
b0E.=
.EsE
U)L(/)
=5 ots
dI<tr
(l)c)
a.o E
(/)H!
) (l)H
CAtrL-
6)
s'd
c(oc
LI]'d=
^>.
=t
()-c
:CB(d
FOtrC)
.?.(l)(6(t)
vt
Q.'lJ o
rH
-o'?
(D
cStr
-v
(l)J
YCd
troo
c'!*
sg
q.)
-o>
-J
jto
'n la)
fi-
(l)._
8.2
=Ee -di
tskrv
tr cd
-52
d.: q
ooc
J-i 0) +,
crj r* "
lii 5
Jcdc)
'Es5
ccd
-e'F*
tt) F
cd(d-
E
:'i
EJ
Hr-
A bA:
(,) cd'c,
'O cd
(,)
tr
R-t
.Y 6\o
t](rF
cd .V
b'E
.O
Li
"n b0
(g L.i
It
C)o)
Ev)
4>a
tr.v
c.O
E
,rr
(l)
-o';
-v.t;
HL*
C)#c
--8oE
tr.FE
dCgL.
c.t
._r (u
tr ..o
E s-8
rttPa
! cdj4
trtr(d
(Dq
jih
i
'F-v>
P
sd5
-C'Ft'-
'7'a\o
:cd
ts
>,Q
r-'\ H
(,)
F_d.+
z
*9
ESE
H cB.=
o tr()
vsE
-l
oo
PC
6.!
oro
*
-d
.rr (C
-
vCd
Eo.
.t)
cgtr
rO
sBb
Eb0
EE
/
a.b
tr *E
rScP
cC)y
'Fob
0
.g-v
ts
X--:o
5'cti.o
AEE
I
cS.V
F.E
"lJH
bo
(d F{
() (.)
-t5 (,
aa
gr
aO
ki
r.t
(D._
-Orrl
-'= JH
Vtlta
L
.E
E-E
0')+E
tsci
R s.
F-=
Lts-
cs(g=
d'-w
tr-o
-q
?p3
srt

(G
CG)v
E
6E
rI-k
.v(d
'Ei<>
I
c&
'gs
H
--
Exp
ca
A 9*
IJr
j
\O
a
s[-
ca (B!
Svtc
Y ctr'=
b
gb
MEE
u0
G
L
(l)
A
u)
d
lrl
..1
(t)
cC
t<
(l)
o
&q)
rBC
'lj cg
E
l.r
c)
a.
5Ct
.h&
(B
U)
n5
i<L
Ir.{ O
a&
'50
E
b0u.:
ccno)
!

c0()E
- *.F
gu
: a
JO
vv
-a .3
-; O
caco
c
Cg t/1 Cs
-z ooF
. J
: u) 6S
;cn=-va
F-lVC-,
Fv-F-
viu
t:3 fi e E
ttf
u0
L
)
a
.o
o\
(\I
\t
e-l
.+
cJ
.f,
c.l
=f,
al
c.l
$
a
sa
>tr
cEH
c{!
l-l
!.r
a
ia tf-)
af) rtr)
[f,
ra
|n
ot)
cct
>, z)
a3
Q)
'-

(\l
ra
co
(\t
V;
oo
el
rc
o
.l
rn

.J
ro

c.:
rA

c.l
r.)

(.)
a.)

.E E EE
F
&D
e
o
t--
cac
v
F\C
v
l--
ooL
A-=
v
l--
/rS
v
N-
$
v
c'l
-
_rf
v
a..t
a':\ L<
\j'
v
;l
!r
z
z

z
a
Frl
F
J
F
F
13
a
nr
&
\-,
\o
\o
ti
)
a
C;
z
I
cn
I
ia)
oo
I
I
ra)
oo
I
ol
I
tr)
a
I
O'
c..l
I
V-r
I
e..l
ca
I
la)
oo
I
N
I
N
o\
I
$
I
c.l
(l)
a
q)
fr
c)
Itl
z
o
OU
F{ 6)
*a
a
M
a
rq
ID
-l
&z
i=i e.I
Aa
M
a
II]
H
J
&z
=1
C'l
A-
M
a
trl
14
"l
&e
=i
C\
a
M
a
H
Iq
*l
&z
tsi c{
a
M
a
14
Iq
Fl
&z
<r Ctl
z
M
a
14
14
Fl
&z
<r C{
Ad
M
a
Tq
I!
rl
r',e
ii
o.l
a.-
o
z
c.l aa
=f,
!{.)
r-
C
J
f-l
a
Frl
l-{
A
-
t-{
VFE
r ti l:l
va
z<
<1
r-
FO*
F{ t-t
a<
H2
z-
3E
)a
F^
<v
a-
'.{
vo,
7a
F F-{
<r
&*
F4
a
F{
A
-
\o
o
f..l
o
5
u
o.
o
z
b0
Ctr
(E
bo
(.t
rl
ts
o
<z
E<'*
>c)4
5<^<
^a
>v
l)
17
I
(4.
fr3dt
v)i-a
HUEg
zSgt
iHFO
laVF
Ft4rdJ
Q-iF-iiro.
\o
c\l
c.,
.o
(,
o.
o
z
bo
-u
C,
C)
q)
!i
q,)
o
o
g
c.)
N
(t)
*<
q)

ro
cS
o.
(B

.v
(lt
'o

J<
(g
U)
t<
H
(S
u)
g
l:b{
OS
O
N
u)
li
C)
'rt
.o
cs
o.
CB
E
CB
ro
I
J4
(o
v)
!r
,tr
(s
v)
.v
Uol
L)S
.t)
cg
I
s
CC
(l)
L
h0
g
(6
E
(l)
U)
I
cg
bo
'o
a
!
Cd
c$
cd
g
L<
o
P
(s
t<
(l)
O
bo
ti
o
o
Lr
CB
(t)
F
E 6 E()
-a;
I H.r
9 J I CB
tiLb
2 t &s
cd
(n
-{-Yv=
E rs GF
at
? zr-q
:E3 -E 5T
',):
-c
E
a ee (d o
Eii E !,,
;.fttj)C)
*j;
!
e
o
e
6
t3 H .s=
-crstr.od
v,- (C Lr
tr
tr4tr=iD
H cg
L( *S
ii*
3c d
-9.
6Q
gn
E5'
E #$
llt
(D
N
q)
L
q)
T'
CB
a
(6
'tt
(n
J
cg
(t
k
.tr
cC
v)
J4
E'e
rl 6d
td
d (dcdtd
e
-=
lc
R 4
63
;(gbo
(g tt')
-c
Y
-Y
5
X!s(ctd
a)
=
>r-c
a3 F Fb
'7JGrr).Otr
oqE

"-E
H9 E 3
gcc
6 5 o,
V9
0.
,99
sdE
SF cE
-
v) 4
9(d
q
-o5
HT
(s rr
tr
Eg
E E3
o
v 6n
-E
=
X al
cB
sx 9H c
!' *E
-EE
o.S rIg E-g
Itt
u0
q
lr
qJ
a
ar)
d
F(
rt)
(B
L.
(Da
s6
eE
vd
ftr
rdtr
'59
(tltr
-(t (g
3J
i:a$
a
o?
A6
a&
v1
(n
r<
q)
a
o
.V
cd
I
(cc
'u(l)
=tr
(t, (g
OF
pr6
u)o
U)
cd
L
c)
a
o
.v
cU
'o
F
a
($
L
(l)a
3g
vCC
Gtr
'dtr
59
(tltr
rds
5x
tD cg
(t)
OP
A6
a&
Cd
-38.,,'=
2 Ss
q
o
h-v E 6
-o
(!q46!-
,E hO= tr 5
<) q
I r-rd
-
Gl o'
'i-
5-v
X 3
3r E- 5'E
'd
xsr.-'d
eE 4 x ooE
Z
-t.-v!-H
fr E
E-9 H;

rg .q 3
rtt
cx91,5-0=
5
6J
FT; F F'F+
P:rgEci E
;
g
rlt
a
(o
tr
q)
O.
o
,14
G'

I
sb
CD ;:
r-\ E
=c)
CA \=
.{-'| al
.gE- E
cDidcd
cl O
EJ E 6 i.
GtG-
-c
b0,= tr ,-
()
tr
(l)
uE
sg3
gE
3
+;EEs*E
t
B E'E U F:

Cg.E 5
.n
E X:fl3-bI 9.-
5.9 bE E-E H 8f
E:gEE,9E Ss
tlr
bi
c6
L
(l)
a
ci-) ca ca
6q
>rE!
cl
Li
cll
l-l F,i
2.
'a
l.n
tfl
a0
G6
>>a
6r1
Ao.
6'
-
.+
r.)
rs
cf)
|tf
(\t
(.1
rn
en
lA
(\l
rn
(\I
rn
at
IN
,E F" ig
Fo,-S.+.
'rlJv
aa
co
F
z

z
U)
E]
t-
J
F
F
-
Fr
&
V)
|'-
V)
t--.
(/-)
F-
V-r
l--
tr
(l)
a
C;
z
N
N
sf,
v-)
(l)
a
c)
t<
()
-
o0
cq
u)
M
F
Fl
Fi
m
r!
F
o
a
FA
rq
F
IJ
v7
z
F
\o
o
F
a
*l
co
F
(,
2
\o
F-{
z
\o
F
o
z
I
t-{
o
Z
o
z
c.l aa $ tr)
r-
Fl
Frl
V)
rd
l.l
n
t-(
l-(
v
(,
-.
zn
f>
H<
aFi
f-l I
Fr rr
i4
2A
F<
<V
mF\
\J r-r
z>
t- h'
F
{
Fr'r
/,
f-l
a
F
A
Fl
B
<z
o<
E?E
67e3
Hgge
xa=4
HOsls)
AZ ,^t 4
z<69
Hgus
FHfrlFl
0rAv)A
Pf P4f (PERSERO) LITBANG
No. : 36. uT. 2006
LAMPIRAN.I
DATA PENELITIAN
INDIKASI DAN PENYEBAB DERATING PADA SPD
PT PLN (PERSERO} PENELITIAN DAN PENGENIBANGAN
ITETENAG/\LISTRII(AN
Nomor
Tgl.Terbit
Status
Nomor Laporan
7. Identifikasi Umum
Judul / Topik Penelitian
KARTU PELAKSANAAN
PENELITIAN (KPP)
OzL/RD/BKIT/2006
24 AprLL 2W6
SELES AI IDIBATALKAN Tanggal :
ry
Analisa penyebab
satuan Pernbangkit
menurunnya d.aya mampu
(Derating)
Diesel
(spn)
Peminta Jasa
Surat-surat Terkait
ffi
Besar Biaya
Jadwal Pelaksanaan
2. Pelaksanaan
Penanggung
Jawab
Pelaksana
TOR Penelitian No. 02t/PD/ BKrr/2006
: Rp.
'!00.08c.000,
--
: Mei s/d t{ovember 2006
: MBKIT
Paraf : V4 .
Paraf ,#
/
v/arsyun
Ketua llm
Anggota
Ependi Sembiring-,
1. Agus Yogianfo
2.
Priyono HP
3"
Yusuf ST
4.
5.
6.
iul.Agtts
:.i:
!i"
' P'I PLnv
iPEIqSEnO) PIINELI'I'|AN DitN
PENG Eltr tlANsAN K E]'EN..1,CALrS'r'R r tc\ N
.:.
.t'l'
Y
#E'"
ff
i'l.l.J \\jiiirriiir
l)l,N Sektor
lr. .'-t::rij \-'ul:i:.:riiri h I I
lt'- l't'i()rx) I ll', i\.lh.l
Yusup, S'l'
lr4och. Agus Warsuln, S'l'
JADIIAI.
ii,0f,
I'liNAN(;GUN(j
Ji\WAB
ffr--*,-
l'l.i.r
il,i:ti.\tjt{( ))l I I t}1\r\i(;
l..l: il r;\'tli\t
tTlJtl.u t
i
--W"'-/'^/r
Encndif ernbiring
i
KERANGKA ACUAN (T O R) PBNELITIAN
i t, l) t, L l' $ rrJ C Ll'l'l.l nil
I(li'l'tJA
'l'l\l
;\nalisa I'cn,vcltir!.l !ncnuntnnyir daya miltnpu (I)criitinu)
Satuan I)crnl;angkit l)icscl (Sl,l))
Opentli Senrbiring
Nutrrrrr' l'trrtliiitirr :
't-ariggrl
:
LA'I'AIT BELAKANG
Banyak unil pcmbangkit tenaga diesel sering mengatami penurunan claya mampu (derating) yang cukup besar bita dibaldingkan
dengan darya terpasangnya' Dengan menurunnya da-va miunpu SPD mengakibitkan daya-ying lerscdia tidali mencukupi Oitam
rnclayirrri kclxrtrrlran pcnyctli:i;ur tcrraga tistrik.
'fI.JJTIAN
- Mengetahui penyebab derating SpD
- Mcningkatkan daya mampu Spf)
MANTAAT
- lv{eningkatkan keandalan ketersediaan tenaga listrik
DELIVBITABLES
Membcrikan rekomendasi langkah-langkah perbaikan / peningkatan
daya mampu SpD
rJAl\trt\l\lf-LAl\Ul1'An
- Studi litcratrrre
- Penentuan hipotesis
- Survei kondisi SPD, Pcngumpulan data pengusahaan, data teknis dan data operasi serta cvaluas
- I)crcobaan l)oktor Test pada SI)D yang dipilih.
- I'engujian llahan llakar Minyak yang digunakan
- fivaluasi rlan anlisa data doctor lest tJan hasil pcngujian lltlM
- Penyusunan laporan penelitian tahap arval
- Diskusi hasil pcnclitian di ltKll'dan perbaikan
- l)rescntasidi l)l_N Litbang.
- Laporan akhir.
ITEFEITONCE
- l-ileralur,
_
Laporan
pcngusahaan
- opcrasi dan Maintcnancc N..tanuat
- starrtlar-slan<Iar
tcrkait.
I ]NI'I' YANG DITI JNJANG
ANG(IO'l'A
-
l,l':Nlil t't'tr\N
____
l).foko l)rir.setytr