Anda di halaman 1dari 26

Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013

1 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT



STUDI KASUS
Studi Analisa Penyebab Penurunan Daya Mampu (derating)
pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel

Disusun oleh Yuliandra Syarial Nurdin ST MT, Mahasiswa Magister Teknik Mesin ITB PLN
Email ; yuliandra@pln-litbang.co.id, yuliandra1980@gmail.com

I. Pendahuluan
I.1 Latar belakang
Dalam usaha penyediaan tenaga listrik di wilayah Indonesia, pembangkit listrik berbahan
bakar minyak sering menjadi sorotan nasional karena dari segi operasional memerlukan biaya
operasi yang relatif tinggi di bandingkan jenin pembangkit lain, dan kondisi ini didominasi
oleh Unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Sejumlah Satuan Pembangkit Diesel
milik PLN yang tersebar diseluruh wilayah nusantara telah mengalami derating, sehingga
mengakibatkan daya yang tersedia tidak mencukupi untuk melayani kebutuhan penyediaan
tenaga listrik. Pengelolaan PLTD dengan seksama oleh manajemen PT PLN, mutlak
diperlukan agar aset dan performance, keandalan (reliability) dan ketersediaan (availibility)
selalu dapat dipertahankan pada kondisi optimum sehingga biaya operasional tidak semakin
tinggi.
Sehubungan dengan hal tersebut penulis membuat suatu kajian/analisa dalam bentuk
knowledge sharing untuk menganalisa penyebab derating dari PLTD secara sistem sehingga
kedepannya dapat diantisipasi untuk tindakan perbaikannya.
Knowledge sharing ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan kepada pihak manajemen
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), untuk mengantisipasi lebih dini penyebab
terjadinya derating, dan menentukan action plan perbaikan kedepan. Sehingga dapat
mempertahankan dan meningkatkan kinerja unit pembangkit thermal (PLTD. Dan juga
sebagai sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian dalam bidang
ketenagalistrikan.

I.2 Perumusan Masalah dan Metodologi.
Untuk mengetahui penyebab terjadinya derating pada PLTD, akan diidentifikasi dengan
beberapa pertanyaan seperti berikut ini :
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
2 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Komponen apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya derating pada PLTD ?
Pada masing-masing komponen, parameter apa saja yang dapat digunakan sebagai
indikator yang menunjukan indikasi penyebab derating ?

Komponen-komponen penyebab derating pada PLTD banyak sekali, tetapi secara umum
dapat dikelompokan menjadi 3 bagian , yaitu :
1. Energi Awal (bahan bakar).
2. Komponen mekanik (prime mover).
3. Listrik ( generator).

Pada kajian ini, ruang Iingkup yang dianalisa sebagai sumber penyebab derating dibatasi,
hanya pada komponen mekanik mesin itu sendin (prime mover). Selanjutnya untuk meng
identifikasi masalah dan ruang lingkup kajian ini, penyebab terjadinya derating pada PLTD
dapat dirumuskan sebagai berikut ini :

a) Apakah ada pengaruh sistem pembakaran terhadap derating?
b) Apakah ada pengaruh sistem pendingin mesin terhadap derating?
c) Apakah ada pengaruh sistem pengisapan, pembuangan terhadap derating?
d) Apakah ada pengaruh undersize crankshaft terhadap derating?
e) Apakah ada pengaruh degradasi komponen material terhadap derating ?














Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
3 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

II. Kajian Literatur

Sesuai dengan ruang lingkup penelitian, teori yang dikaji adalah teori-teori yang relevan
dengan penyebab derating pada PLTD.
II.1 Terminologi derating
Daya terpasang :
Daya terpasang adalah besarnya kapasitas produksi terbesar (maximum capacity) yang
dapat dibangkitkan oleh PLTD, tanpa dibatasi oleh kondisi mesin dan musim. Daya
terpasang tersebut sesuai dengan yang tertulis pada " name plate " mesin.
Daya mampu :
Daya mampu adalah besarnya kapasitas produksi yang tersedia (availibility capacity) yang
dapat dibangkitkan oleh PLTD, karena kondisi mesin maupun musim. Daya mampu
tersebut biasanya dipikul oleh PLTD pada saat jam pelayanan beban puncak dan daya
kritis.
Derating :
Derating adalah pengurangan produksi atau penurunan daya mampu yang dibangkitkan
oleh PLTD karena kondisi mesin maupun musim, atau selisih antara daya terpasang
dengan daya mampu. Berdasarkan kondisi yang dialami oleh PLTD, derating dapat dibagi
menjadi 2 (dua) macam, yaitu derating sementara dan derating permanen.

II.2 Kesetimbangan energi
Sesuai dengan hukum termodinamika pertama (kekekalan energi), energi tidak dapat
diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat berubah dari satu bentuk kebentuk
energi yang lain. Terdapat suatu kesetimbangan antara energi masukan dan keluaran. Energi
yang dimiliki oleh bahan bakar di dalam ruang bakar mesin selain menghasilkan daya mesin
juga menghasilkan energi panas dan energi yang dibuang melalui gas buang,
lihat rumus di bawah ini :


Dimana : E
BB
= Energi bahan bakar
W = Kerja mekanik mein
A = Panas yang diserap oleh sistem pendingin
E
GB
= Energi gas buang
Berdasarkan analisa empiris heat balance pada mesin diesel, komposisi energi mulai dari
energi yang dihasilkan oleh bahan bakar dapat diuraikan menjadi :
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
4 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

1) Kerja Mekanik (41%).
2) Kerugian karena gas buang (30%).
3) Kerugian karena pendinginan air (21%).
4) Kerugian karena pendinginan minyak pelumas (oli) (5%)),
5) Kerugian karena radiasi (3%).








Gambar 2.1 Diagram Sankey untuk balance energi pada mesin diesel
Apabila daya mampu yang dibangkitkan suatu PLTD menurun (derating) hal tersebut sudah
pasti disebabkan karena penurunan kerja mekanik. Bila terjadi penurunan kerja mekanaik,
maka akan diiringi dengan peningkatan kerugian. Dengan demikian maka komponen
peralatan yang menyebabkan peningkatan kerugian adalah merupakan penyebab menurunnya
kerja mekanik atau penyebab terjadinya derating pada PLTD. Secara umum bagan konversi
energi sebuah mesin-diesel dapat dilihat pada gambar berikut :













Gambar 2.2 Aliran energi pada mesin diesel
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
5 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Pada PLTD, bahan bakar diumpankan ke dalam ruang bakar dan bercampur dengan udara
sehingga terbakar, selanjutnya terjadi perubahan energi kimia menjadi energi panas. Energi
panas yang terjadi tidak dapat semua digunakan untuk memutar poros engkol karena terdapat
kerugian gas buang, pendinginan dan radiasi. Energi yang tersisa yang dikonversi menjadi
tenaga sebut tenaga indikatif (indikatif horse power,IHP). Tenaga inilah yang menggerakan
piston dan akan mengalami kerugian dalam mentrasmisikannya karena gesekan, pemompaan,
dan lain-lain. Jumlah semua kerugian tersebut dikonversikan ketenaga dan disebut tenaga
gesek (friction horse power, FHP). Energi yang tersisa adalah energi mekanis yang berguna,
yang disebut energi efektif (brake horse power, BHP).

Efisiensi Mesin
Bila unjuk kerja mesin diindikasikan dengan istilah efisiensi (), dan ada lima macam
efisiensi yang dapat didefenisikan sebagai berikut :
l. Efisiensi termal indikatif (indicated thermal efficiency), adalah perbandingan energi daya
indikatif terhadap energi bahan bakar.

)


2. Efisiensi mekanis (mechanical efficiency) adalah perbandingan daya efektif (daya yang
dihasilkan) terhadap daya indikasi (daya yang mengerakan piston)


dan daya gesekan (friction horse pwer) :
fhp= ihp - bhp

3. Efisiensi termal brake (brake thermal efficiency), adalah efisiensi total yaitu perbandingan
energi dalam daya brake terhadap energi bahan bakar.

)

Dan


Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
6 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

4. Efisiensi Volumetris
Keluaran mesin dibatasi oleh jumlah maksimum udara yang dapat diambil selama langkah
isap karena hanya sejumlah tertentu bahan bakar yang dapat terbakar secara efektif dengan
jumlah udara yang tersisa. Efisiensi volumetris adalah petunjuk kemampuan mesin dalam
menghisap udara dan didefinisikan sebagai perbandingan udara aktual yang terhisap pada
kondisi atmosfir terhadap volume langkah mesin. Efisiensi volumetrik dapat dihitung
berdasarkan mass atau volume udara.




5. Efisiensi relatif atau perbandingan efisiensi adalah perbandingan efisiensi termal siklus
actual terhadap siklus ideal.





II.3 Sistem bahan bakar
Sistem bahan bakar pada gambar 2.3, merupakan rangkaian komponen, tangki, filter, pompa
supply, pompa injektor dan pipa saluran untuk dapat menyemprotkan bahan bakar ke ruang
bakar dengan waktu (timing) dan jumlah yang tepat.












Gambar 2.3 Aliran sistem bahan bakar pada PLTD
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
7 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT














Gambar 2.4 Aliran sistem bahan bakar pada PLTD

Komponen - komponen sistem bahan bakar :
Tangki bahan bakar berfungsi untuk menampung bahan bakar yang akan digunakan
untuk proses pembakaran dalam mesin.
Filter berfungsi untuk menyaring atau membersihkan bahan bakar dari kotoran-kotoran
sebelum digunakan untuk proses pembakaran.
Power supply berfungsi untuk menyemprotkan bahan bakar dari tangki penyimpan ke
tangki harian atau langsung ke pompa injeksi melalui filter.
Pompa injeksi berfungsi untuk memompakan dan menaikkan tekanan bahan bakar ke
injektor (20 s/d. 30 kpsi). Parameter tekanan yang kurang tinggi akan mempengaruhi
jumlah bahan bakar yang masuk kedalam silinder, hal ini menyebabkan kualitas
pembakaran menjadi kurang sempurna. Biasanya ditandai dengan tekanan pembakaran
yang lemah jika dibandingkan silinder lainnya. Fungsi lain dari pompa injeksi bahan
bakar adalah sebagai pendingin dalam ruang bakar, volume bahan bakar yang kurang
dapat menyebabkan temperatur mesin tinggi.

Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
8 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Prinsip kerja pompa injeksi jenis Bosch sesuai gambar 2.5 ;
Saat plunyer melangkah turun, bahan bakar masuk ke ruang atas plunyer.
Plunyer melangkah naik, menutup lubang masuk dan bypass mulai penyemprotan.
Plunyer terus melangkah naik, bahan baker diatas plunyer bertekanan tinggi mernbuka
katup penutup plunyer (livery valve) melalui pipa tekanan tinggi, bahan bakar
menyemprot keruang bakar melalui injector.
Ketika alur (helix) pada plunyer bertemu dengan tubang bypass, tekanan diatas plunyer
hilang karena bahan bakar dibocorkan lewat bypass. Katup penyalur kembali tertutup
rapat karena ada pegas, sehingga bahan baker yang ada didalam pipa saluran ke injector
tidak bisa kembali ke pompa injeksi.










Gambar 2.5 Pompa injeksi Bosch

Injektor : berfungsi sebagai alat injeksi dan pengabutan bahan bakar dalam silinder.
Kualitas pengabutan yang kurang baik menyebabkan proses pembakaran yang terjadi
tidak sempurna. Hal ini biasanya ditandai dengan temperatur exhaust yang tinggi, karena
delay time menjadi lebih panjang, ada kemungkinan bahan bakar terbakar pada akhir
langkah buang, sehingga bahan bakar terbakar disaluran gas buang. Prinsip kerjanya
Injektor yaitu sbb :
1) Kekuatan/tenaga pegas F menekan jarum (needle) sehingga mentup ternpat dudukan
jarum di nozzle. Bila pompa injeksi bekerja, tekanan bahan bakar (p) akan naik pada
ruang nozzle dan mengangkat jarum keatas.
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
9 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

2) Jarum terangkat keatas sewaktu ada tekanan bahan bakar (p) selama waktu tertentu.
3) Setelah tekanan (p) turun, berarti proses injeksi bahan bakar selesai, maka jarum
bergerak kebawah untuk menutup.

Injection valve, terdiri dari ;
Sebuah nozzle (4) dan sebuah nozzle holder (1) dengan pegas beban untuk needle (5)
diikat pada bagian bawah oleh tutup (cupment) (6).
Tenaga pegas (7) dibebankan pada jarum lewat push rod (8). Dimana pengaturan
beban tekanan pegas tersebut diatur oleh regulating screw(9).
Pipa penghubung aliran bahan bakar (2) ditahan atau dirapatkan oreh grand (3) untuk
menjaga dari kemungkinan bocor.
Pendingin mengalir kedalam dan keluar injector rewat lubang pendingin yang ada di
nozzle dan nozzle holder, untuk menjaga supaya tepat (presisi) maka dipakai dowel
pin (10).








Gambar 2.6 Fuel injection valve

Ruang bakar
Ruang bakar terdiri dari cylinder liner, piston dan cylinder head. Cylinder liner
berpenampang lingkaran, di dalamnya terdapat piston (torak) yang dapat bergerak translasi
secara bolak balik dengan leluasa, sedangkan pada cylinder head terdapat katup isap dan
katub buang serta perlengkapan penyemprot bahan bakar (injector). Kerapatan gas dalam
silinder dijamin oleh cincin torak yang bergerak translasi sesuai dengan gerakan torak itu
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
10 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

sendiri. Hal tersebut merupakan syarat utama untuk menjamin berlangsungnya proses
pembakaran dengan sebaik baiknya.
Proses pembakaran pada ruang bakar mesin diesel 4 langkah mengikuti langkah-langkah
berikut :
Prinsip kerja mesin diesel 4 langkah, bila gerakan piston telah mencapai 4 (empat) kali, maka
putaran pena engkol terjadi 2 (dua) kali dan menghasilkan 1(satu) kali kerja [3].

Langkah-1 :yaitu langkah pemasukan, pada langkah ini kedua katub masuk membuka dan
katub buang tertutup. Udara mengalir kedalam silinder.
Langkah-2 :yaitu langkah kompresi, pada langkah ini kedua katub masuk menutup, piston
bergerak dari TMB ke TMA menekan udara yang ada dalam silinder. Sesaat
sebelum piston mencapai TMA, bahan bakar diinjeksikan.
Langkah-3 :yaitu langkah ekspansi, pada langkah ini karena bahan bakar yang
diinjeksikan kedalam silinder yang bertekanan tinggi maka terjadi pembakaran
bahan bakar dan berekspansi menekan piston untuk melakukan kerja sampai
piston mencapai TMB, pada langkah ini kedua katub tertutub.
Langkah-4 :yaitu langkah buang, ketika piston hampir mencapai TMB, katub buang
terbuka dan katub masuk tetap tertutup. Ketika piston bergerak menuju TMA
& gas sisa pembakaran terbuang keluar ruang bakar. Akhir langkah ini adalah
ketika piston mencapai TMA. Siklus kemudian berulang lagi.

Kualitas Pembakaran
Kualitas pembakaran sangat tergantung pada timing penyemprotan, tekanan bahan bakar dan
suplai udara untuk keperluan pembakaran.
a) Timing Penyemprotan Bahan Bakar
Gambar 2.7 menunjukan profil pembakaran dalam ruang bakar pada beberapa sudut
penyemprotan .
Jika sudut penyemprotan terlalu cepat akan menyebabkan parameter laju kenaikan
tekanan pembakaran semakin cepat dan semakin tinggi tekanan pembakaran dalam
silinder.
Jika timing penyemprotan terlambat, maka waktu yang dibutuhkan bahan bakar untuk
terbakar menjadi sempit, bahan bakar dapat terbakar pada knalpot atau saluran exhaust.
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
11 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Hal ini sering terjadi sehingga menyebabkan pipa exhaust membara karena tinggi
temperatur gas buang, sering sekali menjadi penyebab terjadinya derating pada PLTD.








Gambar 2.7 Profil tekanan pembakaran pada berbagai sudut penyemprotan

b) Timing Buka Tutup Katup ; ada 2 jenis katup pada setiap silinder, intake dan exhaust.
Intake adalah sebagai saluran masuk udara segar, sedangkan exhaust sebagai saluran
keluar gas buang hasil pembakaran.






Gambar 2.8 Timing buka tutup katup

Pada mesin 4 langkah terdapat 2 kali posisi piston pada Top Death Centre (TDC), atau lebih
dikenal dengan posisi TMA.
Pertama ; top pembakaran, yaitu pada saat katup intake dan exhaust sama-sama tertutup.
Kedua ; Top overlap, yaitu pada saat katup intake dan exhaust sama-sama terbuka. Pada
saat top overlap dikenal sebagai proses pembilasan. Proses ini sangat penting untuk
mendinginkan temperatur dinding silinder, memang ada akibat yang harus ditanggung
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
12 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

bahwa adanya aliran udara yang terbuang, sehingga ada kemungkinan mesin kekurangan
udara segar untuk proses pembakaran.

Untuk mendeteksi timing buka tutup katup tersebut dengan tepat dapat dilakukan pengukuran
vibrasi pada silinder head. Pada hasil pengukuran vibrasi, waktu (timing buka tutup katup)
akan dipetakan terhadap sudut crankshaft. Setiap kali katup menutup maka ada spike
(lonjakan) pada grafik vibrasi akibat ketukan katup.






Gambar 2.9 Pengukuran vibrasi untuk mendeteksi timing buka tutup katup

II.3 Sistem pengisapan pembuangan dan Turbocharger
Pada setiap mesin, lubang isap dan buang terdapat pada cylinder head. Pada mesin-mesin
yang bersilinder banyak, lubang-lubang isap dan buang dihubungkan satu sama lain, berturut-
turut oleh Intake manifold dan Exhaust Manifold .
Kesempurnaan pembakaran bahan bakar di dalam ruang bakar sangat tergantung pada suplai
udara pembakaran. Pada mesin diesel, laju aliran udara (tekanan dan volume) dapat
ditingkatkan dengan pemasangan turbin yang digerakan oleh gas buang. Turbin tersebut
berfungsi untuk mengurangi kerugian gas buang, karena dimanfaatkan untuk menambah laju
aliran udara kompresor yang masuk ruang bakar sehingga bahan bakar akan terbakar lebih
banyak dan efisien serta menghasilkan tenaga atau daya yang lebih besar, prosesnya disebut
turbocharging dan pesawatnya disebut turbocharger. Dengan turbocharger tersebut 8-10%
dari jumlah kalor pembakaran bahan bakar gas buang dapat diselamatkan .

II.4 Sistem Pendingin Mesin
Tujuan pendinginan pada mesin adalah untuk memperpanjang umur mesin, daya tahan,
kondisi dan operasi mesin, terutama pada bagian-bagian mesin yang mengalami temperatur
tinggi akibat panas pembakaran dan gesekan gesekan pada bagian-bagian yang bergerak dan
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
13 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

saling bersinggungan. Pada bagian atas silinder (cylinder head) merupakan bagian yang
terpanas dan sebagian panas gas pembakaran itu dipindahkan secara langsung ke fluida
pendinginnya. Sedangkan untuk bagian bawah silinder, perpindahan panas ke fluida terjadi
secara tidak langsung melalui torak dan cincin-cincin torak. Jika pendinginan tidak dapat
dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka temperatur dari setiap bagian selinder akan naik.
Keadaan tersebut akan mengakibatkan kerusakan dinding ruang bakar karena terjadinya
tegangan termal, kerusakan katup-katup, puncak torak dan kemacetan cincin torak.
Berdasarkan media pendinginnya, pendinginan mesin dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
bagian, yaitu :
1) Pendinginan dengan pelumasan, dimaksudkan untuk mendinginkan bagian-bagian mesin
yang bersentuhan langsung, saling bergesekan, bergerak dan saling bersinggungan.
2) Pendinginan dengan air, dimaksudkan untuk mendinginkan bagian-bagian mesin yang
tidak bersentuhan langsung dengan bagian mesin yang bergerak, dinding cylinder liner,
cylinder head, injector, katup isap dan buang.
Pada mesin diesel, sistem air pendingin secara umum dapat dibagi menjadi 2(dua) bagian,
yaitu :
1. Raw water
Berfungsi untuk mendinginkan udara pembakaran dan minyak pelumasan (oli mesin).



Gambar 2.10 Sirkulasi pendingin raw water
2. Jacket water
Berfungsi untuk mendinginkan bagian-bagian yang mengalami temperatur tinggi. Namun
pada mesin New sulzer Jacket water digunakan juga sebagai udara pembakaran.







Gambar 2.11 Sirkulasi pendingin jacket water
Radiator Pump Intercooler Oil cooler
Expansion
Tank
Makeup
Water Tank
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
14 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Komponen-komponen sistem pendingin air :
1) Thermostat
Dilengkapi peralatan Heat Control Valve yang berfungsi untuk mengatur aliran air
pendingin ketika mengalami perubahan temperatur. Prinsip kerja thermostat :
Pada saat mesin mulai dijalankan, thermostat kondisi tertutup (temperatur air
pendingin mesin masih rendah). Sirkulasi air pendingin mesin sebagai berikut : Mesin
water manifold - Thermostat - Water pump - intercooler - Mesin.
Setelah temperatur air pendingin naik (temperatur tertentu), thermostat mulai
membuka. Sirkulasi air pendingin menjadi: Mesin Water manifold Thermostat-
Radiator Water pump- interooler- Mesin.
2) Charge Air Cooler (CAC)
Komponen yang befungsi untuk mendinginkan udara pembakaran.
3) Cooling Water Pump
Berfungsi untuk memompakan air pendingin mesin ke bagian-bagian mesin yang
memerlukan pendinginan.
4) Radiator
Merupakan alat penukar panas yang berfungsi untuk mendinginkan air pendingin mesin.
















Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
15 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

III. Analisa dan Pembahasan

Untuk memudahkan menganalisa penyebab derating pada PLTD, dibuat paradigma jalur atau
kerangka pemikiran seperti gambar 2.13 berikut ini :





























Temperatur gas buang naik
Exhaust manifold membara
Terjadi detonasi letupan
JCW Temperatur Trip
Lube oil temperatur trip
Kondisi air pendingin
Bearing temperatur trip
Vibrasi & Bising pada turbocharger
Crankpin journal dan atau main
journal telah digringding undersize
Kebocoran air pada silinder head
Jam operasi telah melewati jam
pemeliharaan
Umur > 10 tahun
Pembakaran Tidak
Sempurna
Sistem air pendingin
Turbocharger
Undersize
Crankshaft
Degradasi Material
DERATING
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
16 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Hipotesis ;
Penyebab derating pada PLTD diduga dengan beberapa hipotesis, berikut ini antara lain ;
1) Sistem air pendingin mesin kurang optimal.
2) Sistem pembakaran tidak sempurna.
3) Sistem pengisapan, pembuangan dan furfuharger
4) Undersize Crankshaft.
5) Kondisi material karena degradasi.
6) Poin 1 s/d. 5 secara simultan dapat berpengaruh terhadap derating.

Analisa ini didasarkan atas kerangka pemikiran gambar dan disesuaikan dengan hasil
identifikasi dan pengelompokan indikasi penyebab derating, dengan uraian sebagai berikut
ini :
a) Sistem air pendingin mesin
Penyebab derating tersebut adalah karena menurunnya kemampuan dari sistem air pendingin
mesin. Bila kemampuan sistem air pendingin mesin menurun maka kemampuan untuk proses
perpindahan panas akan menurun, sehingga terjadi overheating. Menurunnya kemampuan
sistem air pendingin mesin dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
Rendahnya level coolant.
Konduktivitas panas dalam jacket water menurun karena banyak deposit.
Kerusakan pada thermostat, sehingga tidak dapat membuka.
Buruknya aliran udara melalui radiator, mampet karena banyak kotoran
Motor radiator tidak befungsi dengan baik
Kebocoran-kebocoran pada tube cooler radiator
Pompa air pendingin tidak berfungsi dengan baik.
Untuk mengetahui komponen peralatan yang mana penyebab utamanya, maka harus
dilakukan pemeriksaan, kemudian dilakukan pemeliharaan sampai kerja sistem air pendingin
mesin tersebut dapat optimal kembali.
Komponen peralatan yang harus diperiksa adalah :
a). Thermostat
Kerja thermostat berfungsi normal apabila thermostat dapat membuka untuk mengalirkan air
ke radiator, dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu dengan menyentuh pipa keluaran
thermostat ke radiator pada saat PLTD beroperasi. Kondisi pipa pada saat itu seharusnya
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
17 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

panas dan thermometer menunjukkan kenaikan temperatur, menunjukan bahwa thermostat
sudah membuka dengan normal.

b). Kebocoran pada sistem pendingin
Kebocoran pada sistem pendingin mesin dapat saja terjadi diluar maupun didalam mesin atau
pun pada radiator. Untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran tersebut dapat dilakukan
pemeriksaan visual pada pipa-pipa saluran air pendingin diluar mesin dan pada radiator atau
penurunan level air pada expansion tank.
Seperti yang sering kita dapati di lokasi PLTD, tube cooler sudah kurang optimal karena dari
sebagian dari tube telah disumbat karena bocor. Solusi untuk menanggulangi tube-tube cooler
yang bocor harus dilakukan re-tubing.

c). Kipas dan motor radiator
Pemeriksaan terhadap kipas-kipas radiator dan sistem proteksinya, sehingga jika
terdapat salah satu kipas radiator yang trip dapat segera diketahui.
Melakukan pengukuran terhadap nilai ampere motor-motor radiator untuk memastikan
befungsi normal, bila sudah tidak berfungsi atau tidak normal maka harus segera
diperbaiki atau diganti.
Fungsi radiator kurang optimal, karena beberapa motor fan radiator tidak berfungsi karena
mengalami kerusakan (terbakar). Solusi untuk mengatasinya harus segera diperbaiki atau
diganti dengan yang baru.

d). Pompa air
Melakukan pemeriksaan terhadap pompa air untuk memastikan berfungsi normal. Indikasi
kenormalan dapat terukur dari nilai tekanan sirkulasi air pendingin, yang dilengkapi dengan
sistem proteksi untuk memonitor tekanan air pendingin, sehingga jika terjadi kondisi yang
tidak normal, segera terjadi alarm, untuk emergensi stop.

e). Radiator
Berdasarkan pengalaman teknisi pemeliharaan PLTD, penyebab terjadinya overheating
adalah karena masalah pada radiator. Memburuknya penyerapan dan pembuangan panas pada
radiator adalah karena sirip-sirip radiator terhalang dan dilapisi oleh debu dan kotoran-
kotoran lainnya. Melakukan perbersihan pada sirip sirip radiator memang mengalami
kesulitan, terlebih menyangkut kontruksi fin yang berlapis, sulit untuk dibesihkan dan
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
18 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena kesulitan pembersihan pada radiator dan
jadwal pemeliharaan agak pendek, maka sering terlewati, sehingga walaupun telah dilakukan
penggantian suku cadang dan pemeliharaan pada sistem yang lain, PLTD tetap mengalami
derating.

Oleh karena itu pemeliharaan dan perawatan pada radiator (sistem pendingin mesin) harus
dilakukan pada saat pemeliharaan Major Overhaul dengan waktu yang lebih panjang.
Beberapa kesulitan dalam pelaksanaan pembersihan pada radiator antara lain :
Konstruksi kisi-kisi radiator berlapis, dan pada bagian tengah tidak memungkinkan
dilakukan pembersihan.
Tube cooler lube oil kotor.
Tube cooler jacket water kotor.
Pelaksanaan pembersihan cooler tidak memungkinkan karena jika unit distop maka
pada sistem kelistrikan wilayah terjadi pemadaman/penambahan pemadaman.

f). Kuantitas air pendingin
Kuantitas atau banyaknya air yang diperlukan sebagai air pendingin mesin pada PLTD sudah
tertentu, tergantung pada kapasitas produk PLTD tersebut. Bila kuantitas air pendingin
tersebut tidak terpenuhi maka secara tidak langsung akan menpengaruhi daya mampu yang
akan dibangkitkan oleh PLTD.
Pada beberapa PLTD, terjadinya penurunan daya mampu adalah karena kuantitas air
pendingin yang diperlukan pada sistem air pendingin, tidak cukup, diantaranya : kuantitas air
pendingin pada raw water kurang, karena sebagai sumber air pendingin yang digunakan pada
PLTD tersebut diambil dan dipompakan dari Sungai/danau yang rentan terpengaruh oleh
musim kemarau. Level permukaan air sungai pada mulut pipa isap (intake pipe ) menurun,
maka debit air yang dibutuhkan untuk keperluan sistem air pendingin PLTD terganggu.
Solusi mengantisipasi surutnya level sungai pada musim kemarau untuk kebutuhan air
pendingin pada unit PLTD dapat dilakukan dengan memperpanjang pipa dan menempatkan
mulut pipa isap (intake pipe ) lebih jauh dari tepi sungai (kearah tengah sungai).
Ada juga beberapa PLTD tersebut menggunakan sistem air pendingin dengan 1 cooling tower
yang sama. Dengan menggunakan kapasitas hanya 1 (satu) cooling tower tersebut, maka air
yang dapat ditampung pada cooling tower, kuantitasnya tidak mencukupi (terbatas) dan tidak
mampu melakukan pendinginan tehadap Jacket Cooler Water ke tiga PLTD tersebut,
sehingga PLTD tersebut mengalami derating.
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
19 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Sebagai solusi sistem air pendingin pada PLTD tersebut, perlu penambahan cooling tower
dengan kapasitas yang sesuai sehingga kuantitas air yang dapat ditampung oleh cooling tower
sebagai pendingin Jacket Cooler Water pada ke 3 PLTD tersebut dapat terpenuhi.

f). Kualitas air pendingin
Baik atau buruknya sIstem air pendingin mesin pada PLTD juga tergantung kualitas air
pendingin yang digunakan. Syarat air pendingin dalam mesin harus memenuhi standar
kualitas sesuai dengan klasifikasi mesinnya. Beberapa parameter yang berpengaruh terhadap
kualitas air pendingin adalah :
Kandungan yang mempengaruhi derajat keasaman (pH) air, sepefti Sulfat, Nitrit,
Ammonia, chlorida, dsbnya.
Kandungan kesadahan seperti Calsium(Ca), Magnesium (Mg), dsbnya.
Kandungan Silika.
Adanya kandungan ion-ion tersebut dalam air menimbulkan masalah yang merugikan. Air
yang derajat keasamannya tinggi akan mempercepat proses korosi pada pipa-pipa sistem
pendinginan, dan bila tidak diantisipasi maka akan terjadi korosi, penipisan dan bocor.
Sedangkan air yang kandungan kesadahannya tinggi akan menyebabkan kerak (scale) pada
pipa sistem air pendingin, sehingga semakin lama kerak tersebut semakin tebal, dan
mengakibatkan terjadi overheating karena perpindahan panas tidak optimal. Disamping itu
juga kerak yang terbentuk berada pada elemen-elemen radiator akan menyebabkan
penyumbatan sehingga proses pendinginan oleh radiator tidak optimal. Oleh karena itu
kualitas air pendingin mesin perlu penanganan dan perhatian yang khusus sehingga dapat
menghasilkan air pendingin yang lebih sesuai (standar) mesin.
secara umum dengan melihat kondisi dan masalah sistem air pendingin yang digunakan pada
PLTD tersebar, solusi yang paling tepat untuk menanganinya adalah dengan cara pengolahan
air pendingin.
Beberapa metode pengolahan air pendingin yang digunakan untuk sistem air pendingin mesin,
diantaranya adalah :
i). Pengolahan air pendingin dengan metode inhibitur, yaitu penambahan bahan kimia
kedalam system air pendingin, yang bertujuan untuk metarutkan kandungankandungan yang
terdapat dalam air sehingga tidak menimbulkan korosi dan tidak membentuk kerak (scale).
ii)' Pengolahan air pendingin dengan metode water treatment plant, yaitu bertujuan untuk
mengatur keseimbangan kadar asam dan basa, sehingga tidak bersifat korosif dan tidak
membentuk scale.
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
20 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Salah satu metode pengolahan air dengan water treatment yang cocok digunakan di PLTD
adalah metode ion exchanger dengan jenis water softener, karena biaya investasi dan biaya
operasi tidak terlalu besar, pemasangannya cepat dan mudah serta air olahan yang dihasilkan
memenuhi standar untuk digunakan sebagai air pendingin pada mesin-mesin PLTD.
iii). Pengolahan air sederhana, yaitu dengan cara membuat bak-bak pengendapan sebelum
digunakan menjadi air pendingin, yaitu bertujuan untuk mengendapkan kandungan
kandungan yang dapat membentuk korosi dan kerak. Dan untuk mengatasi masalah kerak
yang sudah ada terbentuk dapat dilakukan dengan chemical cleaning terhadap sistem air
pendingin mesin tersebut, yaitu dengan cara mensirkulasikan bahan kimia tertentu kedalarn
system air pendingin secara kontinyu dalam waktu tertentu. Setelah dilakukan pembersihan
kerak dengan chemical cleaning terhadap sistem air pendingin mesin tersebut, lalu gunakan
air pendingin meiin dari hasil olahan.

b) Vibrasi dan bising tinggi pada Turbocharger
PLTD sering mengalami gangguan vibrasi dan bising tinggi pada turbocharger, sehingga
daya mampu PLTD harus diturunkan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya
adalah sbb :
Blade turbin turbocharger banyak yang mengalami kerusakan, akibat terkena sepihan
exhaust valve yang pecah.
Bushing turbocharger mengalami over clearance.
Solusi untuk mengantisipasi dan tindakan perbaikannya adalah melakukan reblading pada
blade turbo yang mengalami kerusakan (gompal), atau mengganti dengan turbocharger yang
baru. Bila hal tersebut dibiarkan maka dapat mengakibatkan kondisi turbocharger lebih fatal
dan derating PLTD akan semakin besar, karena tenaga penggerak kompressor pengisap udara
akan semakin kecil. Disamping itu bila blade yang telah gompal mengalami retak dan patah
maka patahannya dapat membentur blade yang lain sehingga kondisinya dapat semakin buruk
(parah).

c) Pembakaran tidak sempurna
Temperatur gas buang naik dan berwarna kehitaman, exhaust manifold membara dan terjadi
suara detonasi letupan, ini merupakan indikasi derating yang dialami pada unit PLTD, hal ini
disebabkan karena didalam ruang bakar (Cylinder Head) terjadi pembakaran tidak sempurna,
masih ada sisa bahan bakar yang belum terbakar dan terbuang melalui gas buang (temperatur
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
21 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

gas buang tinggi) dan terbakar pada exhaust manifold. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya pembakaran tidak sempurna pada ruang bakar, diantaranya adalah :
Filter udara kotor, sehingga menghambat udara masuk (O
2
) yang diperlukan untuk
pembakaran, sehingga terjadi suara detonasi letupan.
Temperatur udara luar panas sehingga kerapatan molekul oksigen merenggang atau
Charge Air Cooler (CAC) tidak optimum.
Pengabutan bahan bakar pada nozzle kurang baik sehingga tidak semua bahan bakar
terbakar diruang bakar, sisanya yang tidak terbakar terbuang bersama gas buang dan
terbakar pada exhaust manifold mengakibatkan exhaust manifold temperaturnya
menjadi tinggi dan membara.
Timing penginjeksian dari nok pompa bahan bakar kurang tepat, terjadi penggeseran /
penundaan penginjeksian bahan bakar, akhir dari peng-injeksian terlambat hampir
mendekati pembukaan exhaust valve, sehingga sebagian bahan bakar tidak terbakar
dan ikut terbuang dan terbakar pada exhaust manifold mengakibatkan asap berwarna
hitam.
Adanya kebocoran air pada cylinder head dan masuk ke ruang bakar sehingga
memperlambat proses pembakaran.
Solusi untuk menanggulangi kejadian temperatur gas buang naik exhaust manifold membara
dan suara detonasi letupan, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Melaksanakan pemeliharaan / pembersihan pada filter udara masuk.
Melaksanakan pemeliharaan pada sistem Cooler.
Memperbaiki penyetelan timing injeksi bahan bakar.
Memperbaiki pengabutan bahan bakar dari Nozzle Injector.
Perbaiki kebocoran udara kompresi ( ring piston)
Mengantisipasi kebocoran air pada ruang bakar.

d) Bearing temperatur tinggi
Bila bearing temperatur naik dari kondisi operasi normal dan secara keseluruhan bearing
mengalami hal yang sama, hal ini dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu sistem pelumasan
mengalami gangguan atau Lube Oil Temperatur naik karena menurunnya kemampuan sistem
pendinginan mesin tersebut.
Dapat juga terjadi karena tebal bearing yang terpasang lebih tebal dari bearing yang lain,
sehingga clearance pada bearing tersebut terlalu kecil, berada pada batas minimum/normal
clearance. Solusi untuk mengantisipasi dan tindakan perbaikannya adalah dilakukan
Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
22 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

penurunan beban agar temperatur bearing tersebut tidak trip, dan pada saat pemeliharaan
dilakukan penggantian bearing dengan ukuran yang sesuai.

e) Degradasi material
Degradasi adalah pengurangan atau menurunnya kegunaan (fungsi) material. Pada beberapa
PLTD, pembebanan terpaksa dibatasi karena kondisi material telah mengalami degradasi,
seperti kebocoran air pada cylinder head, exhaust valve, rocker arm aus dan retak yang
dialami PLTD. Terjadinya kebocoran pada cylinder head, disebabkan oleh exhaust valve,
rocker arm, dan silinder head yang seharusnya sudah diganti karena degradasi tetapi karena
spare part pengganti belum tersedia, maka pembebanan pada PLTD harus diturunkan.
Terjadinya degradasi pada exhaust valve, rocker arm, silinder head, camshaft, exhaust
manifold dan pada komponen yang lain dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya :
Keausan.
Kelelahan material (fatique).
Thermal cracking stress.
Corosion.
Deformasi.
Disamping itu, degradasi material juga dipengaruhi deh pola operasi PLTD, bila pola
operasinya PLTD sering start-stop atau PLTD sering black out, maka hal ini pun akan dapat
mempercepat laju degradasi.
Selain penyebab diatas, kebocoran air pada silinder head dapat juga disebabkan karena retak
akibat kesalahan pemasangan, misalnya :
Pengikatan baut cylinder head (valve houshing) tidak seimbang.
Momen ikat baut tidak sesuai dengan instruksi buku manual.
Solusi tindakan perbaikan bila penyebabnya degradasi material adalah mengganti dengan
sparepart yang baru dengan spesifikasi yang sama. Tetapi bila penyebab kebocoran air pada
silinder head adalah retak karena kesalahan pemasangan, maka solusi untuk
mengantisipasinya adalah:
Menjaga keseimbangan ikatan baut pengikat cylinder head.
Besar momen ikatan harus disesuaikan dengm instruksi buku manual.
Mengkalibrasi pressure gauge jika pengikatan baut menggunakan hidroulik pressure.
Menjaga temperatur air pendingin pada JCW, tetap normal.


Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
23 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

f) Undersize Crankshaft
Pada beberapa PLTD, bila crankshaftnya (crankpin journal atau main journal), telah di
grinding undersize dengan ukuran undersize yang berbeda-beda, maka pihak manajemen
PLTD mengoperasikan PLTD dengan pembebanan selalu lebih rendah dari pembebanan
sebelum crankshaft di undersize, hal ini dilakukan karena ada kekhawatiran terhadap kondisi
crankshaft akan patah. Berdasarkan buku panduan pemeliharaan mesin (PLTD) dan Service
bulletin : ABC Engineering PTE Singapore, Grinding Techique Crankshaft, dan New Sulzer
Diesel Undersize Bearings and Reconditioning of Crankshafts, tidak terdapat suatu kalimat
yang menyatakan hubungan antara pengurangan diameter crankshaft (undersize) dengan
penurunan daya mampu yang dibangkitkan, tetapi karena kekhawatiran tersebut maka pada
pembebanan PLTD selalu dikurangi untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, maka perlu
dikaji lebih mendalam hubungan antara pengurangan diameter crankshaft (undersize) dengan
pengurangan beban.

g) Jam operasi PLTD melewati jam pemeliharaan
Berdasarkan buku standar pemeliharaan PLTD, SPLN No.20/SPLN/1976, jenis pemeliharaan
PLTD telah ditetapkan berdasarkan jam operasinya, yaitu :
Pemeliharaan Top Overhaul (TO), setelah jam operasi 6000 jam.
Pemeliharaan Semi Overhaul (SO), setelah jam operasi 12000 jam.
Pemeliharaan Major Overhaul (MO), setelah jam operasi 18000 jam.
Pada setiap jenis pemeliharaan tersebut sudah pasti dilakukan pembersihan, penyetelan dan
penggantian suku cadang (spare part) karena telah mengalami degradasr. Bila penggantian
tidak dilakukan maka PLTD akan tetap mengalami derating. Sebagai solusinya dilakukan
pemeliharaan TO, SO, dan MO tepat waktu, dan penggantian suku cadang yang telah
mengalami degradasi, sehingga keandalan PLTD dan ketersediaan tenaga listrik tetap
terjamin.








Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
24 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

IV Kesimpulan Dan Saran

Dari hasil tinjauan data dan analisa, dapat disimpulkan bahwa penyebab derating pada PLTD
adalah :
a) Penurunan kemampuan sistem air pendingin mesin (penyebab yang paling dominan), hal
ini disebabkan oleh salah satu atau beberapa hal, berikut ini :
Rendahnya level coolant.
Konduktivitas panas dalam jacket water menurun karena banyak deposit.
Kerusakan pada thermostat, sehingga tidak dapat membuka.
Buruknya aliran udara melalui radiator, mampet karena banyak kotoran.
Motor radiator tidak berfungsi dengan baik.
Kebocoran-kebocoran pada tube cooler radiator.
Pompa air pendingin tidak befungsi dengan baik, dan lain sebagainya.

b) Vibrasi dan bising tinggi pada turbocharger karena blade turbo banyak yang rusak
(gompal) akibat benturan serpihan exhaust valve yang pecah dan bushing turbocharger
mengalami over clearance.

c) Pembakaran tidak sempurna, masih ada sisa bahan bakar yang belum terbakar dan
terbuang melalui gas buang (temperatur gas buang tinggi) dan terbakar pada exhaust
manifold.

d) Clearance bearing terlalu kecil, sehingga menimbulkan temperatur bearing naik.

e) Undersize crankshaft (crankpin journal dan atau main journal), yang telah mengalami
undersize dengan ukuran yang berbeda-beda sehingga dikhawatirkan akan patah.

f) Degradasi material, penurunan kemampuan atau fungsi material, sehingga memerlukan
penggantian.

g) Jam operasi PLTD sudah tinggi serta jam pemeliharaan terlewati dan ketidak-tersediaan
sparepart pengganti. PLTD mengalami satu atau lebih penyebab dari pada butir (a) s/d (f)
atau terjadi secara simultan.

Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
25 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

Saran
Berdasarkan analisa dan kesimpulan di atas, untuk mengatasi terjadinya derating pada PLTD
perlu dilakukan hal-hal berikut ini.
a) Pada saat pemeliharaan Major Overhaul (MO), melakukan pemeliharaan pada sistem air
pendingin secara komprehensif dan tidak ada yang terlewatkan.
b) Melakukan pemeliharaan terhadap tube-tube cooler yang telah mengalami pengerakan
dengan chemical cleaning atau sejenisnya.
c) Menjaga kualitas air sistem pendinginan mesin yang dilengkapi sistem pengolah air
dengan metode yang sesuai.
d) Sebelum melakukan pemeliharaan, disiapkan spare part pengganti material yang telah
mengalami degradasi.
e) Memisahkan kebutuhan ketersediaan listrik dan kebutuhan pemeliharaan mesin sehingga
jadwal pemeliharaan TO, SO maupun MO dapat dilakukan tepat waktu, tidak terlewati
oleh jam operasi mesin (PLTD). Sering terjadi karena kebutuhan tenaga listrik kritis, jam
operasi mesin melewati jam pemeliharaan, sehingga kerusakan mesin menjadi lebih
parah dan bahkan setelah terjadi gangguan yang fatal baru dilakukan pemeliharaan,
akibatnya waktu dan biaya pemeliharaan menjadi lebih tinggi.
f) Perlu analisa kekuatan bahan terhadap crankshaft yang telah di undersize untuk
membuktikan apakah crankshaft tersebut masih mampu pada beban penuh atau tidak.












Studi Kasus Tugas Belajar Semester II - 2013
26 Yuliandra Syahrial Nurdin ST MT

DAFTAR PUSTAKA

Ir. Astu Pudjanarsa, MT, Prof. Ir. Djati Nursuhud, MSME, Mesin Konversi Energi,
Andi Yogyakarta; 2006.
Prof. Dr. Wiranto, Arismunandar, Koichi Tsuda, Motor Diesel Putaran Tinggi. Cetakan
Kesepuluh, PT Pradnya Paramita, Jakarta; 2004.
Drs. Boentarto, Mengatasi Kerusakan Mesin Diesel. Pustaka Pembangunan Swadaya
Nusantara, Jakarta ; Puspa Swara, 2004.
Garnida, PLTD dan Permasalahannya, Seminar Pembangkitan Tenaga Listrik Indonesia,
PLN Kantor Pusat, 2002.
Standar Jam Pemeliharaan PLTD, SPLN No. 20/SPLN/1976.
Service Buletin : ABC Enginering PTE Singapore, Grinding Tshique Crankshafr,
Wartsila Diesel (S) PTE. LTD, Singapore 2262, 1986.
Service Buletin : New Sulzer Diesel Service Buletin, undersize Bearings and
Reconditioning of Crankshaft, CH 8401 Wintefthur, Swizerland,1986.