Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Diferensiasi jenis kelamin adalah suatu proses rumit yang melibatkan banyak gen,
termasuk sebagian yang bersifat otosom. Kunci untuk dimorfisme seksual adalah
kromosom Y yang mengandung gen penentu testis yang dinamai gen SRY (sex
determining region onY) di lengan pendeknya (Yp11). Protein produk dari gen ini
adalah suatu faktor transkripsi yang memicu jenjang gen gen di hilir yang
menentukan nasib seorang organ seksual rudimenter. Protein SRY adalah testis-
determining factor; di bawah pengaruhnya, terjadi perkembangan ke arah pria; jika
tidak ada, yang berkembang adalah jenis kelamin wanita.
Testis merupakan organ kelamin laki-laki tempat spermatozoa dan hormone laki-
laki dibentuk. Testosteron dehasilkan oleh testis, berkembang di dalam abdomen
sewaktu janin, dan turun melalui saluran inguinal kiri dan kanan masuk ke dalam
skrotum menjelang akhir kehamilan.
Normalnya testis terbentuk pada rongga perut bayi dan turun ke dalam skrotum
seiring dengan pertumbuhan bayi di dalam kandungan ibu. Testis biasanya turun
secara lengkap pada usia 8 bulan kehamilan. Namun pada kasus undesensus, testis
tidak turun sepenuhnya hingga ke ruang skrotum. Penanganan dapat dilakukan secara
terapi hormonal atau terapi bedah untuk mengoreksi posisi abnormal dari undesensus
testis. Komplikasi yang bisa timbul akibat keterlambatan terapi antaranya adalah
infertilitas dan timbulnya keganasan.




2

Gambar 1, A. Sistem Reproduksi Pria. B. Struktur Interna Testis dan hubungan testis ke epididimis.
(Sumber:Guyton dan Hall, 2006)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Organ Kelamin Pria



















3


Testis (Internal)
Testis adalah struktur mirip telur dengan ukuran kira-kira panjangnya 5 cm dan
memiliki diameter sebesar 3 cm. Kedua testis berada dalam disebuah rongga yang disebut
skrotum.
Sebuah kapsul yang kuat, berwarna putih dan terdiri dari jaringan ikat membungkus
tiap testis. Jaringan ikat di sepanjang batas kapsul bagian posterior menebal dan memanjang
masuk ke dalam testis, membentuk septa tipis yang membagi testis ke dalam sekitar 250
lobulus. Pada setiap lobulus berisi satu hingga empat gulungan tubulus seminiferus yang
berbelit satu sama lain.
(5)

Testis terdiri atas 900 lilitan tubulus seminiferus, yang masing-masing mempunyai
panjang rata-rata lebih dari meter, dan merupakan tempat pembentukan sperma. Sperma
kemudian dialirkan ke dalam epididimis, suatu tubulus lain yang juga berbentuk lilitan
dengan panjang sekitar 6 meter. Epididimis bermuara ke dalam vas deferens, yang membesar
ke dalam ampula vas deferens tepat sebelum vas deferens memasuki korpus kelenjar prostat.
Dua vesika seminalis, yang masing-masing terletak di sebelah prostat, bermuara ke
dalam ujung ampula prostat, dan isi dari ampula dan vesika seminalis masuk ke dalam duktus
ejakulatorius terus melalui korpus kelenjar prostat dan kemudian masuk ke uretra pars
interna. Duktus prostatikus juga bermuara dari kelenjar prostat ke dalam duktus ejakulatorius
dan dari tempat ini, bermuara ke dalam uretra pars prostatika.
Akhirnya, uretra merupakan rantai penghubung terakhir dari testis ke dunia luar.
Uretra disuplai dengan mukus yang berasal dari sejumlah besar kelenjar uretra kecil yang
terletak di sepanjang dan bahkan lebih jauh lagi dari kelenjar bulbouretralis(kelenjar
Cowper) bilateral yang terletak di dekat asal uretra.
(1)

Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam
skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan. Testis terletak menggantung
pada urat-urat spermatic di dalam skrotum. Sepasang kelenjar yang masing-masing sebesar
telur ayam tersimpan di dalam skrotum masing-masing di tunika albugenia testis. Di
belakang testis, selaput ini agak menebal sehingga membentuk suatu bagian yang disebut
mediastinum testis.
Testis memiliki 2 fungsi yaitu :
4

1. Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di tubulus seminifeus
2. Menghasilkan hormone testosterone, dilakukan oleh sel interstial
(8)

Epididimis (Internal)
Epididimis adalah sebuah struktur berbentuk seperti pipa dengan panjang sekitar 6
meter. Masing-masing epididimis terhubung dengan duktus yang ada di dalam testis. Dimulai
dari bagian atas testis, lalu turun di sepanjang permukaan belakang testis dan kemudian
berlanjut ke atas yang selanjutnya disebut sebagai duktus deferens.
Sperma yang belum matang ketika mencapai epididimis berada dalam keadaan
nonmotil. Kontraksi peristaltik yang teratur selanjutnya menggerakan sel ini melewati
epididimis, dan akhirnya sel menjadi matang. Mengikuti dari proses pematangan ini, sel
sperma dapat bergerak secara independen dan sudah bisah melakukan fertilisasi. Walau
begitu, mereka biasanya tidak akan berenang sampai dengan waktu ejakulasi.
(5)

Saluran ini dikelilingi oleh jariran ikat, spermatozoa melalui duktuli eferentis merupakan
bagia dari kaput epididimis. Duktus eferentis panjangnya 20 cm, berbelok-belok dan
membentuk kerucut kecil dan bermuara ke duktus epididimis tempat spermatozoa disimpan,
masuk ke dalam vas deferens. Fungsinya sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma
sebelum diejakulasi, dan memproduksi semen.
Semen terdiri dari secret epididimis, vesika seminalis dan prostat serta mengandung
spermatozoa yang dikeluarkan setiap ejakulasi. Spermatozoa bergerak dalam semen,
lingkungan cairan alkalis melindungi dari keasaman.
(8)


Vas Deferens (Internal)
Vas deferens merupakan saluran berdinding tebal dengan panjag kurang lebih 18 inci
(45 cm), yang menyalurkan sperma matang dari epididymis ke ductus ejaculatorius dan
urethra. Vas deferens berasal dari ujung bawah atau cauda epididymis dan berjalan di dalam
canalis inguinalis. Vas deferens keluar dari anulus inguinalis profundus dan berjalan di
sekitar pinggir lateral epigastrica inferior. Kemudian vas deferen berjalan ke bawah dan
belakang pada dinding lateral pelvis dan menyilang ureter pada regio spina ischiadica. Vas
deferens kemudian berjalan ke medial dan bawah pada facies posterior vesicae. Bagian
terminal vas deferens melebar membentuk ampulla ductus deferentis. Ujung bawah
5

ampulla menyempit dan bergabung dengan ductus vesicula seminalis membentuk ductus
ejaculatorius.
(8)



Gambar 2, Bagian-bagian traktus genitalis pria dari bagian anterior, (Sumber: Snell, 2006)
Vesicula Seminalis (Internal)
Vesica seminalis merupakan dua buah organ yang berlobus dengan panjang kurang lebih
2 inci (5 cm) dan terletak pada facies posterior vesicae. Ujung atasnya terletak agak
berjauhan dan ujung bawahnya saling berdekatan. Pada sisi medial masing-masing vesicula
seminalis terdapatbagian terminal ductus deferens. Di posterior, vesicula seminalis
berbatasan dengan rectum. Ke inferior, masing-masing vesicula seminalis menyempit dan
bersatu dengan ductus deferens sisi yang sama untuk membentuk duktus ejaculatorius
(Gambar 2).
Masing-masing vesica seminalis terdiri atas saluran melengkung yang tertanam di dalam
jaringan ikat.
A. Ductus Ejaculatorius
Pada kedua sisi terbentuk dari pertemun pembesaran (ampulla) di bagian ujung ductus
deferen dan ductus dari vesicula seminalis
(1)
. Masing-masing ductussejaculatorius
6

panjangnya kurang dari 1 inci. Ductus ejaculatorius menembus facies posteior prostatae dan
bermuara ke urethra pars prostatica, dekat pinggir utriculus prostaticus.
(2)



B. Prostat
Prostata merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra pars
prostatica. Prostata mempunyai panjang kurang lebih 1 inci (3 cm ) dan terletak di antara
collum vesicae di atas dan diaphragma urogenitale di bawah.
Prostata dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar capsula terdapat selubung fibrosa, yang
merupakan bagian lapisan viscera fascia pelvis. Prostata yang berbentuk kerucut mempunyai
basis prostatae yang terletak di superior dan berhadapan dengan collum vesicae; dan apex
prostatae yang terletak di inferior dan berhadapan dengan diaphragma urogenitale. Kedua
ductus ejaculatorius menembus bagian atas fecies posterior prostatae untuk bermuara ke
urethra pars prostatica pada pinggir lateral utriculus prostaticus.
(8)

Urethra (Internal)
Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan
bagi sperma atau menghasilkan cairan alkalis pada cairab seminalis berguna untuk
melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra dan vagma. Cairan ini
merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari
vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.
Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar yang terbagi
atas empat lobus yaitu :
1. Lobus posterior
2. Lobus lateral
3. Lobus anterior
4. Lobus medial
d. Bulbouretralis
Kelenjar bulbo uretralis terletak di sebelah bawah dari kelenjar prostat panjangnya 2-5 cm.
Fungsinya hampir sama dengan kelenjar prostat.

7



Gambar 3, Uretra, (Sumber:www.IvyRose.co.uk)

Urethra merentang dari kandung kemih sampai ke ujung penis dan terdiri dari tiga
bagian, yaitu:
1. Urethra prostatica merentang mulai dari bagian dasar kandung kemih, menembus
prostata dan menerima sekresi dari kelenjar prostata.
2. Urethra membranosa panjangnya memcapai 1 cm sampai 2 cm. Bagian ini dikelilingi
sfingter urethra external.
3. Urethra penis (kavernous, berspons) dikelilingi oleh jaringanerektil berspons (korpus
spongiosum). Bagian ini membesar ke dalam fosa navicularis sebelum berakhir pada
mulut urethra external dalam glans penis.
(7)

Skrotum (Eksternal)
Skrotum adalah kantong kulit dan jaringan subkutan yang menggantung pada regio
bawah abdomen ke penis. Sebuah septum medial membagi skrotum menjadi 2 ruangan.
Masing-masing bagian memiliki membran serosa yang membungkus testis dan
memudahkannya untuk bergerak semudah mungkin di dalam skrotum. Skrotum melindungi
dan sekaligus membantu regulasi suhu testis. Faktor ini sangat penting dalam pembentukan
sel reproduksi.
8

Terpapar dengan suhu yang rendah akan merangsang serat otot polos pada dinding
skrotum untuk berkontraksi, mengerutkan kulit skrotum yang menyebabkan testis bergerak
dengan mudah ke dalam rongga pelvis dimana ia dapat menyerap panas. Apabila terpapar
suhu hangat maka akan merangsang serat otot polos untuk berelaksasi dan skrotum akan
menggantung secara lebih longgar, hal ini akan menyediakan keadaan 3
0
C lebih rendah dari
temperatur tubuh di mana hal ini merupakan keadaan yang kondusif untuk produksi
sperma.
(5)

Skrotum menonjol keluar dari bagian bawah dinding anterior abdomen. Skrotum berisi
testis, apididymis, dan ujung bawah funiculus spermatikus.
Dinding scrotum mempunyai lapisan yaitu:
1. Cutis
Cutis scrotum tipis, berkerut, berpigmen, dan membentuk suatu kantong tunggal.
Sedikit peninggian di garis tengah menunjukkan garis persatuan kedua pembengkakan
labioscrotalis.
2. Fascia superfisialis
Fascia superfisialis melanjukan diri sebagai panniculus adiposus dan stratum
membranosa dinding anterior abdomen; akan tetapi panniculus adiposus diganti oleh otot
polos yang dinamakan muskulus dartos.
3. Fasciae spermaticae
Fasciae spermaticae terletak di bawah fascia superfisialis dan berasal dari tiga lapisan
dinding anterior abdomen pada masing-masing sisi. Fascia spermatica eksterna berasal
dari aponeurosis muskulus obliquus eksternus abdominis; fascia cremasterica berasal
dari musculus obliquus internus abdominis; dan fascia spermatica interna berasal dari
fascia transversalis.
4. Tunica vaginalis
Tunica vaginalis terletak di dalam fasciae spermaticae dan meliputi permukaan
anterior, media, dan lateralis masing-masing testis. Tunica vaginalis merupakan bagian
bawah processus vaginalis, dan biasanya sesaat sebelum lahir menutup dan memisahkan
9

diri dari bagian atas processus vaginalis dan cavitas peritonealis. Dengan demikian tunica
vaginalis merupakan kantong tertutup, diinvaginasi dari belakang oleh testis.
(8)

Penis (Eksternal)
Penis adalah organ berbentuk silindris yang membawa urine dan semen melalui uretra
ke dunia luar. Pada saat ereksi, ia akan membesar dan mengeras memungkinkan ia untuk
dimasukkan ke dalam vagina ketika melakukan hubungan seksual. Korpus atau batangnya
terdiri dari tiga kolom jaringan erektil-satu pasang terletak di bagian corpora cavernosa, dan
yang satunya lagi berada di depan, tepatnya pada corpus spongiosum. Sebuah kapsul jaringan
ikat padat membungkus tiap kolom. Kulit, sebuah lapisan tipis dari jaringan subkutan dan
sebuah lapisan jaringan ikat membungkus penis.
Corpus spongiosum, bagian yang menjadi tempat lewatnya uretra, membesar di
bagian distalnya dan membentuk glans penis yang sensitif dan mirip kerucut. Glans menutupi
ujung dari corpora cavernosa dan tempat dari orifisium uretra eksterna. Kulit dari glans
sangatlah tipis dan tidak berambut dan berisi reseptor sensorik untuk rangsangan seksual.
Lipatan kulit longgar yang disebut kulup dimulai dari bagian posterior glans dan melebar ke
depan untuk menutupi glans sebagai pembungkusnya. Sebuah prosedur bedah untuk
melepaskan kulup ini disebut dengan sirkumsisi.
(5)



Gambar 4, Organ reproduksi pria, (Sumber: Shier, David, dkk, 2012)
10




B. Embriologi Genitalia Pria
A. Testis
Jika mudigah secara genetik adalah pria, sel gerinativum primordial membawa
kompleks kromosom XY. Di bawah pengaruh gen SRY di kromosom Y, yang
mengode testis determiting factor, korda seks primitive terus berproliferasi dan
menembus dalam ke medula untuk membentuk testis atau korda medularis. Ke arah
hilus kelenjar, korda terurai menjadi janin untai-untai halus sel yang kemudian
membentuk tubulus rete testis. Pada perkembangan lebih lanjut, terbentuk suatu
lapisan jaringn ikat fibrosa padat, tunika albuginea yang memisahkan korda testis dari
epitel permukaan.
Gambar 5, Pengaruh sel germativum primordial pada gonad indiferen, (Sadler, 2006)
11

Pada bulan ke empat, korda testis menjadi berbentuk tapal kuda, dan ujung-
ujungnya bersambung dengan ujung-ujung rete testis. Korda testis sekarang terdiri
dari sel germinativum primitif dan sel sustentakular serotoli yang bersal dari epitel
permukaan kelenjar.
Sel interstisial leydig yang berasal dari mesenkim asli gonadal ridge, terletak antara
korda-koda testis. Sel-sel ini mulai berkembang sesegera setelah dimulainya
diferensiasi korda-korda ini. Pada minggu ke delapan kehamilan, sel leydig mulai
menghasilkan testosteron, dan testis mampu mempengaruhi diferensiasi seksual
duktus genitalis dan genitalia eksterna.
Korda testis tetap soild sampai pubertas, saat korda ini memperoleh sebuah lumen
sehingga membentuk tubulus semineferus. Jika telah mengalami rekanalisis, tubulus
seminiferus menyatu dengan tubulus rete testis yang selanjutnya akan masuk ke
duktuli eferentes.

Duktuli eferentes ini adalah sebagian dari tubulus-tubulus ekskretotik system
mesonefros yang tersisa. Saluran-saluran ini menghubngkan rete testis dan duktus
mesonefrikus atau wollfi yang menjadi duktus deferens.
(6)

B. Duktus Genitalis pada pria
Gambar 6, A. Potongan melintang testis pada minggu ke delapan, B. Testis dan Duktus Genitalis pada bulan 4, (Sumber:
Sadler, 2006)
12

Seiring dengan regresi mesonefros, beberapa saluran ekskresi, tubulus epigenitalis,
membentuk kontak dengan korda rete testis dan akhirnya membentuk duktus eferens
testis. Tubulus ekskretorik di sepanjang kutub kaudal testis, tubulus paragenitalis
tidak bergabung dengan korda rete testis. Sisa dari saluran ini secara ke seluruh di
kenal sebagai paradidimis.
Kecuali di bagian paling kranialnya, apendiks epididimis, duktus mesonefrikus
menetap dan mwmbwntuk saluran-saluran genital utama. Tetapi di bawah muara
duktus eferens, duktus mesonefrikus memanjang dan menjadi sangat berkolok-kelok,
membentuk ( duktus duktus ) epididimis. Dari ekor epididimis ke tonjolan tunas
vesikula seminalis, dukus mesonefrikus memperoleh lapisan otot tebal duktus deften.
Region duktu setelah vesikula seminalis adalah duktus ejakulatorius. Duktus
paramesonefrikus pada pria mengalami degnerasi kecuali sebagian kecil dari ujung
kranilanya, apendiks testis.
(6)

C. Genitalia ekterna
1. Stadium indiferen
Pada minggu ketiga perkembangan, sel-sel mesenkim yang berasal dari region gais
primitive ( primitive streak ) berimegrasi mengeliling membrane kloaklis untuk
Gambar 7, Pengaruh kelenjar seks pada diferensiasi kelamin lebih lanjut,
(Sumber:Sadler, 2006)
13

membentuk tuberkulum genital. Di sebelah kaudal, lipatan dibagi menjadi lpatan
uretra di sebelah anterior dan lipatan anus di posterior.
Sementara itu, pasangan elevasi lain, penebalan genital( genital swelling), mulai
tampak di kaudal sisi lipatan uretra. Penebalan ini kemudian di bentuk penebalan
skrotum pada pria dan labia mayor pada wanita. Namun, pada akhir minggu keenam,
kedua jenis kelamin mustahil dibedakan.
2. Genitalia eksterna pada pria
Perkembangan genitalia ekterna pada pria berada dibawah pengaruh berbagai
androgen yang disekresikan oleh testis dan ditandai oleh pemanjangan cepat
tuberkulum genitale yang disebut phallus (penis). Selama pemanjangan ini, phallus
menarik lipatan uretra kea rah depan sehingga lipatan lipatan tersebut membentuk
dining lateral dari alur uretra (urethral groove). Alur ini berjalan di sepanjang aspek
kaudal phallus yang telah memanjang tetapi tidak mencapai bagian paling distal,
glans. Lapisan epitel alur yang berasal dari endoderm, membentuk lempeng uretra.
Pada akhir bulan ketiga, kedua lipatan uretra menutupi lempeng uretra, membentuk
uretra penis. Memanjang hingga ke ujung phallus. Bagian paling distal uretra
terbentuk selama bulan keempat, saat sel-sel ektoderm dari ujung glans penis
menembus ke arah dalam dan membentuk suatu korda epitel pendek. Korda ini
kemudian memperoleh lumen sehingga terbentuklah Ostium uretra eksternum.
Gambar 8, A,B. stadium indeferen genitalia eksterna; A. sekitar 4 minggu; B. sekitar 6
minggu, C. Pertumbuhan berkelanjutan tubernakulum genital dan memanjangnya lipatan
uretra yang belum mulai menyatu, (Sadler, 2006)
14

Penebalan genitale yang pada pria dikenal sebagai penebalan skrotum, timbul di
regio inguinal. Pada perkembangan selanjutnya, kedua penebalan ini bergerak ke
arah kaudal, dan masing-masing penebalan kemudian membentuk separuh skrotum.
Keduanya dipisahkan oleh septum skrotum.



BAB III
PEMBAHASAN

1. Skenario
LBM II
Buah Zakar Tidak Teraba

Gambar 9, A. perkembangan genitalia eksterna pria pada 10 minggu; B. potongan melintang phallus
selama pembentukan uretra penis; C. perkembangan bagian glandular dari uretra penis, (Sumber:Sadler,
2006)
15

Seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berumur 2 tahun ke Puskesmas
dengan keluhan akhir-akhir ini buah zakarnya tidak teraba. Ibu pasien menanyakan
pada dokter yang memeriksa apakah keadaan ini berbahaya atau tidak apa-apa ?

2. Terminologi
a. Testis : Testis adalah struktur mirip telur dengan ukuran kira-kira panjangnya 5
cm dan memiliki diameter sebesar 3 cm. Kedua testis berada dalam disebuah
rongga yang disebut skrotum.
(1)


3. Permasalahan
a. Mengapa buah zakar (testis) tidak teraba?
b. Bagaimana proses fisiologis turunnya testis?
c. Apa dampak dari kelainan dalam skenario tersebut?

4. Pembahasan
a. Mengapa buah zakar (testis) tidak teraba?
Pada umumnya testis turun pada skrotum secara sempurna pada akhir tahun
pertama. Kegagalan testis turun tetapi masih pada jalur normalnya disebut UDT.
Testis dapat berada sepanjang jalur penurunan. Kadang setelah melewati canalis
inguinalis testis menyimpang dari jalur yang seharusnya, dan menempati lokasi
abnormal. Hal ini disebut testis ektopik. Testis bisa terletak di interstitial
(superfisial dari m. obliquus abdominis externus) di paha sisi medial, dorsal penis
atau kontralateralnya. Diduga disebabkan oleh bagian gubernakulum yang
melewati lokasi abnormal, dan testis kemudian mengikutinya.
(6)

Kelainan pada penurunan testis :
Pada masa janin, testis berada di rongga abdomen dan beberapa saat sebelum
bayi dilahirkan, testis mengalami desensus testikulorum atau turun ke dalam
kantung skrotum. Diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan
testis ke dalam skrotum, antara lain: (1) adanya tarikan dari gubernakulum testis
dan refleks dari otot kremaster, (2) perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan
pertumbuhan badan, dan (3) dorongan dari tekanan intraabdominal.
Oleh karena sesuatu hal, proses desensus testikulorum tidak berjalan dengan
baik sehingga testis tidak berada di dalam kantong skrotum. Dalam hal ini
16

mungkin testis tidak mampu mencapai skrotum tetapi masih berada pada jalurnya
yang normal, keadaan ini disebut kriptorkismus, atau pada proses desensus, testis
tersesat (keluar) dari jalurnya yang normal, keadaan ini disebut sebagai testis
ektopik.
Testis yang belum turun ke kantung skrotum dan masih berada dijalurnya
mungkin terletak di kanalis inguinalis atau di rongga abdomen yaitu terletak di
antara fossa renalis dan anulus inguinalis internus. Testis ektopik mungkin berada
di perineal, di luar kanalis inguinalis yaitu diantara aponeurosis obligus eksternus
dan jaringan subkutan, suprapubik, atau di regio femoral.
Kelainan penurunan testis ini dapat terjadi karena adanya kelainan pada (1)
gubernakulum testis, (2) kelainan intrinsik testis, atau (3) defisiensi hormon
gonadotropin yang memacu proses desensus testis.
1. Undenscended testis (UDT) atau cryptorchidism
17

Undenscended testis (UDT) atau cryptorchidism adalah kelainan genitalia
kongenital tersering pada anak laki-laki. Insidensnya 3 6% pada bayi laki-laki
yang lahir cukup bulan dan meningkat menjadi 30% pada bayi prematur. Dua
pertiga kasus mengalami UDT unilateral dan UDT bilateral. Setelah 100 tahun
penelitian mengenai UDT, masih terdapat beberapa aspek yang menjadi
kontroversial. Faktor predisposisi terjadinya UDT adalah prematuritas, berat bayi
baru lahir yang rendah, kecil untuk masa kehamilan, kembar dan pemberian
estrogen pada trimester pertama. UDT dapat kembali turun spontan ke testis
sekitar 70 77% pada usia 3 bulan. Penatalaksanaan yang terlambat pada UDT
akan menimbulkan efek pada testis di kemudian hari. UDT meningkatkan risiko
infertilitas dan berhubungan dengan risiko tumor sel germinal yang meningkat 3
10 kali. Atrofi testis terjadi pada usia 5 7 tahun, akan tetapi perubahan morfologi
dimulai pada usia 1 2 tahun. Risiko kerusakan histologi testis juga berhubungan
dengan letak abnormal testis. Pada awal pubertas, lebih dari 90% testis kehilangan
sel germinalnya pada kasus intraabdomen, sedangkan pada kasus testis inguinal
dan preskrotal, penurunan sel geminal mencapai 41% dan 20%.
2. Testis Ektopik
Testis ektopik atau maldesensus berjalan melalui kanalis inguinalis dan keluar
dari cincin inguinalis superficialis, kemudian mengikuti jalan yang abnormal.
Testis ektopik dapat ditemukan di kantung inguinalis superficialis, perineal,
femoral, dan pubik. Sebagian besar testis ektopik mudah diraba.
(4)

Gambar 10, : Letak testis maldesensus. Gambar di sebelah kanan adalah beberapa letak testis
kriptorkismus yaitu 1. Testis retraktil, 2. Inguinal, dan 3. Abdominal, sedangkan gambar di sebelah
kiri menunjukkan testis ektopik, antara lain: 4. Inguinal superfisial
18


Faktor yang mempengaruhi testis tidak teraba :
a. Abnormal gubernakulum testis
Punurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang
besar akan mendilatis jalan testis, kontraksi,involusi, dean traksi serta telah fiksasi
pada skrotum akan menempatkan testis dalam kantong skrotum. Ketika testis telah
berada di kantong skrotum guberkulum akan diresorbsi. Bila struktur ini tidak
terbentuk atau terbentuk abnormal akan menyebabkan maldesensus.
b. Defek intristik testis
Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini
membuat testis tidak sensitif terhadap hormon gonadotropin teori ini merupakan
penjelasan terbaik pada kasus kriptokismus unilateral juga untuk menerangkan
mengapa pada pasien dengan kriptokismus bilateral menjadi steril ketika
diberikan tetapi difinitif pada umur yang optimum. Banyak kasus kriptorkismus
yang secara histology normal saat lahir, tetapi testisnya menjadi atrofi / digenesis
pada akhir usia 1 tahun dan jumlah dan jumlah sel germinalnya sangat berkurang
pada akhir usia 2 tahun.
c. Defisiensi stimulasi hormonal/endokrin
Hormone gonadotropin maternal yang inadequate menyebabkan desensus
inkompet. Hal ini memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi prematur
ketika perkembangan gonadropin maternal tetap dlam kadar rendah sampai 2
minggu terakhir kehamilan. Tetapi teori ini sulit diterapkan pada kriptorkismus
unilateral. Tingginya kriptorkismus pada premature diduga terjadi karena tidak
adequatnya HCG menstimulasi pelepasan testosterone masa fetus akibat dari
imaturnya sel leydig dan imaturnya aksis hypothalamus-hipofisis-testis.
Dilaporkan suatu percobaan menunjukkan desensus testis tidak terjadi pada
mamalia yang hipofisenya telah diangkat.
Rasfer et al (1986) memperlihatkan penurunan testis dimediasi oleh androgen
yang diatur oleh gonadotropin pituitary. Proses ini memicu kadar dihidrotesteron
yang cukup tinggi, dengan hasil testis mempunyai akses yang bebas ke skrotum.
Toppari dan kaleva menyebut defek dari aksis hypothalamus-pituitary-gonadal
akan mempengaruhi turunyya testis. Hormone utama yang mengatur testis adalah
LH dan FSH yang diproduksi oleh sel basofilik di pituitary anterior yang diatur
19

oleh LHRH. FSH akan mempengaruhi sel sertoli, epitel tubulus seminiferus.
Kadar FSH naik pada kelainan testis.
(2)

b. Bagaimana proses fisiologis turunnya testis?
Menjelang akhir bulan kedua, mesenterium urogenital melekatkan testis dan
mesonefros ke dinding abdomen posterior. Dengan berdegenerasinya mesonefros,
perlekatan tersebut berfungsi sebagai mesenterium bagi gonad. Dari arah kaudal,
mesenterium tersebut menjadi ligamentum dan dikenal sebagi ligamentum
genitale kaudal. Dari kutub kaudal testis juga terbentuk pemadatan yang kaya
matriks ekstrasel, gubrnakulum.
Sebelum testis turun, pita mesenkim in berakhir di regio inguinal antara
muskulus oblikus internus abdominis dan muskulus oblikus eksternus abdominis
yang sedang berdiferensiasi. Kemudian, sewaktu testis mulai turun ke arah cincin
inguinal, terbentuk bagian ekstra-abdomen dari gubernakulum yang tumbuh di
regio inguinal ke arah penebalan skrotum. Ketika testis mulai kanalis inguinalis,
bagian ekstra-abdomen ini bersentuhan dengan dasar skrotum.
Faktor faktor yang mengendalikan turunnya testis belum sepenuhnya
diketahui. Namun, tampaknya bahwa pertumbuhan keluar bagian ekstra-abdomen
dari gubernakulum menimbulkan migrasi intraabdomen, bahwa peningkatan
tekanan intra abdomen akibat pertumbuhan organ menyebabkan testis bergerak
melalui kanalis inguinalis, dan bahwa regresi bagian ekstra-abdomen dan
gubernakulum menuntaskan pergerakan testis ke dalam skrotum. Pada keadaan
normal, testis mencapai daerah inguinal pada usia kehamilan sekitar 12 minggu,
bermigrasi melalui kanalis inguinalis pada 28 minggu, dan mencapai skrotum
pada 33 minggu.
Proses ini dipengaruhi oleh hormon, termasuk androgen dan MIS. Selama
penurunan tersebut, aliran darah ke testis berjalan dari aorta dipertahankan, dan
pembuluh darah testis berjalan dari posisi awalnya di daerah lumbal ke testis di
skrotum.
Peritoneum rongga abdomen, tanpa dipengaruhi oleh penurunan testis,
membentuk suatu evaginasi di kedua sisi garis tengah ke dalam dinding abdomen
ventral. Evaginasi ini, prosesus vaginalis, mengikutiu perjalanan gubernakulum
20

testis ke dalamm penebalan skrotum. Karena itu prosesus vaginalis, disertai
bagian otot dan faswia dinding tubuh, membentuk kanalis inguinalis.
Testis turun melalui cincin inguinal dan melewati tepi os pubis dan terdapat di
skrotum saat lahir. Testis kemudian ditutupi oleh lipatan refleks prosesus
vaginalis. Lapisan peritoneum yang menutupi testis adalah lapisan viseral tunika
vaginalis,sisa dari kantong peritoneum membentuk lapisan parietal tunika
vaginalis.
Saluran sempit yang menghalangi lumen prosesus vaginalis dengan rongga
peritoneum mengalami obliterasi saat lahir atau segera sesudahnya.
Selain ditutupi oleh lapisan peritoneum yang berasal dari prosesus vaginalis, testis
juga diselubungi oleh lapisan-lapisan yang berasal dari dinding abdomen anterior
yang dilewatinya.
Karena itu, fasia transversalis membentuk sperma spermatika interna,
nuskulus oblikus internus abdominis menghasilkan fasia kremasterika dan
muskulus kremaster, dan muskulus oblikuus eksternus abdominis membentuk
fasia spermatika eksterna. Muskulus transversus abdominis tidak ikut membentuk
lapisan, karena otot inimelengkung di regio ini dan tidak menutupi jalur migrasi.
(6)

c. Apa dampak dari kelainan dalam skenario tersebut?
Akibat dari tidak turunnya testis akan mengakibatkan kriptokidisme atau
Undescendcus testis, suatu keadaan di mana kegagalan salah satu atau kedua testis
untuk berdesenden ke dalam kantong skortal yang nantinya berdampak pada
kemandulan ( infertilitas ) karena suhu inti tubuh terlalu tinggi untuk produksi
normal sperma.
Testis yang belum turun ke kantung skrotum dan masih berada di jalurnya
mungkin terletak di kanalis inguinalis atau di rongga abdomen, yaitu terletak
diantara fossa renalis dan annulus inguinalis internus. Testis ektopik mungkin
berada diperineal, di luar kanalis inguinalis yaitu diantara aponeurosis oblikus
eksternus dan jaringan subkutan, suprapubik, atau di regio femoral.
UDT dapat kembali turun spontan ke testis sekitar 70 77% pada usia bulan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan testis ke dalam skrotum, antara
lain: (1) adanya tarikan dari gubernakulum testis (suatu pemadatan mesenkim
yang kaya akan matriks ekstraseluler) dan refleks dari otot kremaster, (2)
21

perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan pertumbuhan badan, dan (3)
dorongan dari tekanan intraabdominal.
Alasan utama dilakukan terapi adalah meningkatnya risiko infertilitas,
meningkatnya risiko keganasan testis, meningkatnya risiko torsio testis, reisiko
trauma testis terhadap tulang pubis dan faktor psikologis terhadap kantong
skrotum yang kosong.
(7)

Penatalaksanaan yang terlambat pada UDT akan menimbulkan efek pada testis
di kemudian hari. UDT meningkatkan risiko infertilitas dan berhubungan dengan
risiko tumor sel germinal yang meningkat 3 10 kali. Atrofi testis terjadi pada
usia 5 7 tahun, akan tetapi perubahan morfologi dimulai pada usia 1 2 tahun.
Risiko kerusakan histologi testis juga berhubungan dengan letak abnormal testis.
Pada awal pubertas, lebih dari 90% testis kehilangan sel germinalnya pada kasus
intraabdomen, sedangkan pada kasus testis inguinal dan preskrotal, penurunan sel
geminal mencapai 41% dan 20%.
(3)

a. Risiko Keganasan
Teradapat hubungan yang erat antara UDT dan keganasan testis. Insiden
keganasan testis sebesar 1-6 pada setiap 500 laki-laki UDT di Amerika. Risiko
terjadinya keganasan testis yang tidak turun pada anak dengan UDT dilaporkan
berkisar 10-20 kali dibandingkan pada anak dengan testis normal. Makin tinggi
lokasi UDT makin tinggi risiko keganasannya, testis abdominal mempunyai risiko
menjadi ganas 4x lebih besar dibanding testis inguinal.
Orchiopexi sendiri tidak akan mengurangi risiko terjadinya keganasan, tetapi
akan lebih mudah melakukan deteksi dini keganasan pada penderita yang telah
dilakukan orchiopexy.
b. Infertilitas
Penderita UDT bilateral mengalami penurunan fertilitas yang lebih berat
dibandingkan penderita UDT unilateral, dan apalagi dibandingkan dengan
populasi normal. Penderita UDT bilateral mempunyai risiko infertilitas 6x lebih
besar dibandingkan populasi normal (38% infertil pada UDT bilateral
dibandingkan 6% infertil pada populasi normal), sedangkan pada UDT unilateral
berisiko hanya 2x lebih besar.
Komplikasi infertilitas ini berkaitan dengan terjadinya degenerasi pada UDT.
Biopsi pada anak-anak dan binatang coba UDT menunjukkan adanya penurunan
volume testis, jumlah germ cells dan spermatogonia dibandingkan dengan testis
22

yang normal. Biopsi testis pada anak dengan UDT unilateral yang dilakukan
sebelum umur 1 tahun menunjukkan gambaran yang tidak berbeda bermakna
dengan testis yang normal.
Perubahan gambaran histologis yang bermakna mulai tampak setelah umur 1
tahun, semakin memburuk dengan bertambahnya umur. Tidak seperti risiko
keganasan, penurunan testis lebih dini akan mencegah proses degenerasi lebih
lanjut.
(3)





BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Penentuan jenis kelamin dimulai dari tahap fertilisasi dimana jenis kelamin laki-laki
ditentukan oleh adanya SRY ( Sex Determining Region on Y). Dengan adanya SRY dan MIS
maka ductus mullerian akan mengilang dan ductus wolfii akan berkembang. Anatomi
genetalia maskulina terdiri dari genetalia interna, genetalia externa, dan glandula accesorius.
Genetalia interna terdiri dari testis dan ductus, genetalia externa terdiri dari penis dan
scrotum.
Normalnya, testis akan berada di dalam skrotum pada minggu ke-33. Penurunan testis
terjadi karena berbagai faktor . Kelainan pada penurunan ini dapat berupa testis ektopik dan
kriptorkidismus.
Kriptorkidisme, suatu keadaan di mana kegagalan salah satu atau kedua testis untuk
berdesenden ke dalam kantong skortal yang nantinya berdampak pada kemandulan (
infertilitas ) karena suhu inti tubuh terlalu tinggi untuk produksi normal sperma.



23












DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton dan Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC (hlm. 1048)
2. Hull, David dan Derek I. Johnston.2008. Dasar-dasar pediatri-edisi 3. Jakarta :
EGC (hlm : 185-192)
3. (Purnomo, Basuki B. Dasar-Dasar Urologi. Edisi 2. Jakarta: Sagung Seto)
(hlm.137-140)
4. Purnomo, Basuki B. 2011. DasarDasar Urologi, Edisi Ketiga. Jakarta: Sagung
Seto (hlm. 228-231)
5. Shier, David, dkk. 2012. Holes Essentials Human Anatomy and Physiology, 11th
Ed. New York:McGraw-Hill (hlm. 506, 512)
6. Sadler ,T.W. 2010. Langman Embriologi Kedokteran, Edisi 12.Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC (hlm. 284-292, 298- 299, )
7. Sloane, Ethel.2004.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula.Jakarta:EGC (hlm. 347,
350)
8. Snell, Richard S..2006.Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, Edisi
6.Jakarta:EGC (hlm. 167-169, 349-352)

24