Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pelaporan keuangan perusahaan dan pengungkapan perusahaan yang ada
dalam konteks yang dinamis, terus berubah sejalan dengan dunia bisnis. Perusahaan
diuntungkan jika mereka lincah dalam beradaptasi dengan struktur perusahaan dan
mengembangkan atau memanfaatkan instrumen keuangan yang inovatif dan canggih.
Di tengah perkembangan dunia bisnis berdiri profesi akuntansi yang perlu untuk
menjamin pelaporan lanjutan dan integritas laporan keuangan.
Seperti disebutkan sebelumnya, nilai dan manfaat dari pelaporan keuangan terletak,
dengan cara yang hampir eksklusif, dalam kegunaannya kepada pengguna. Analis
mencoba mengetahui atau memprediksi laba atau arus kas memerlukan informasi
yang berbeda dari manajer dalam meninjau alokasi dan pemanfaatan aset. Investor
mencoba untuk menggunakan langkah-langkah yang relatif baru seperti nilai tambah
ekonomis. Keragaman pengguna mempersulit tugas mengintip ke masa depan.
Hal ini sangat penting bagi kita yang terlibat dalam bisnis pengungkapan
keuangan. Jika kita tidak mengembangkan sistem dan mekanisme seperti itu, kita
menghadapi risiko sebagai profesional pengungkapan yang terpinggirkan, secara
mekanis melakukan hal yang sama kita lakukan sebelumnya karena kita tidak
mampu, atau tidak mampu melakukan apa pun dan menghasilkan produk yang
semakin kurang berguna dan kurang berharga. Akibatnya, kita akan merugikan
orang-orang yang mengandalkan kita sebagai peserta di pasar keuangan, manajemen,
regulator, dan lain-lain yang harus membuat keputusan berdasarkan informasi
keuangan. Berkenaan dengan pasar modal: jika kita tidak tinggal di perbatasan, akan
ada arus informasi yang lebih buruk terhadap investor, yang menyebabkan
ketidakpastian yang lebih besar dan volatilitas harga, biaya modal yang lebih tinggi.
2

Sehingga kita harus mengembangkan kerangka analisis yang cukup dinamis dan
dapat diandalkan untuk mengantisipasi dan merespon perubahan dalam konsep bisnis
perusahaan, hubungan perusahaan itu, antara lain, investor, pelanggan, dan pemasok
dan alat, terutama alat keuangan, bisnis yang memanfaatkan.

1.2 Maksud dan Tujuan
Mata ajaran Pelaporan dan Akuntansi Keuangan ini bertujuan untuk
meningkatkan penguasaan terhadap prinsip akuntansi yang diterima umum di
Indonesia, terutama Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan,
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Interpretasi Standar Akuntansi
Keuangan (ISAK) dan standar acuan lain yang diterbitkan badan otoritatif yang
berwenang serta peraturan perundangan yang relevan sehubungan penyusunan
laporan keuangan dalam rangka akuntansi keuangan. Di samping itu juga akan
diberikan pemahaman International Financial Reporting Standards (IFRS) /
International Accounting Standards (IAS) dan standar akuntansi keuangan yang
berlaku di negara lain yang relevan dalam era globalisasi.











3

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur
pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan
keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite
Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi
Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standar
akuntansi yang ada seperti: IAS, IFRS, ETAP, GAAP. Selain itu ada juga PSAK
syariah dan juga SAP. Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar
akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan,
memudahkan auditor serta memudahkan pembaca laporan keuangan untuk
menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda.
SAK terdiri dari:
1. PSAK-I FRS
PSAK-IFRS diterapkan secara utuh pada tahun 2012. Proses konvergensi
IFRS ini melalui tahap adopsi pada tahun 2008-2010 kemudian tahun 2011
memasuki tahap persiapan akhir dan tahap implementasi pada tahun 2012.
Pada PSAK ini wajib diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas publik
seperti : emiten, perusahaan publik, perbankan, asuransi, dan BUMN. Tujuan
dari PSAK ini adalah memberikan informasi yang relevan bagi pengguna
laporan keuangan.
Indonesia mengadopsi IFRS karena Indonesia merupakan bagian dari IFAC
yang harus mematuhi SMO (Statement Membership Obligation) yang
menjadikan IFRS sebagai accounting standard. Selain itu konvergensi IFRS
adalah kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 Forum.
4


2. SAK-ETAP
SAK ETAP adalah standar akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik. ETAP yaitu Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas
publik yang signifikan serta menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan
umum bagi pengguna eksternal. SAK ETAP menggunakan acuan IFRS untuk
Small Medium Enterprises. SAK ETAP diterbitkan pada tahun 2009 dan
berlaku efektif tanggal 1 Januari 2011. SAK ini diterapkan secara retrospektif
namun jika tidak praktis dapat diterapkan secara prospektif yang berarti
mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP. SAK ETAP
mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi
pos-pos sesuai SAK ETAP. Selain itu juga menerapkan pengukuran aset dan
kewajiban yang diakui SAK ETAP.
Manfaat SAK ETAP yaitu perusahaan kecil dan menangah dapat menyusun
laporan keuangannya sendiri juga dapat diaudit dan mendapatkan opini audit,
sehingga perusahaan dapat menggunakan laporan keuangannya untuk
mendapatkan dana untuk pengembangan usahanya.

3. PSAK Syariah
PSAK Syariah digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik
entitas lembaga syariah maupun lembaga non syariah. Dalam PSAK Syariah
ini pengembangan dilakukan dengan model PSAK umum namun psak ini
berbasis syariah dengan acuan fatwa MUI. PSAK Syariah berada dalam
PSAK 100-106 yang terdiri dari :
1) Kerangka Konseptual
2) Penyajian Laporan Keuangan Syariah
3) Akuntansi Murabahah
5

4) Musyarakah
5) Mudharabah
6) Salam
7) Istishna

4. SAP
SAP adalah Standar Akuntansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Komite
Standar Akuntansi Pemerintahan. SAP ini ditetapkan sebagai PP (Peraturan
Pemerintah) yang diterapkan untuk entitas pemerintah dalam menyusun
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD).
SAP diterapkan dengan PP Nomor 71 Tahun 2010 tanggal 22 Oktober 2010
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (PP SAP). Penyusunan SAP melalui
tahapan-tahapan seperti :
1) Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar
2) Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP
3) Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja
4) Penulisan draf SAP oleh Kelompok Kerja
5) Pembahasan Draf oleh Komite Kerja
6) Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan
7) Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft)
8) Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearing) dan Dengar Pendapat
Publik (Public Hearings)
9) Pembahasan Tanggapan dan Masukan Terhadap Draf Publikasian
10) Finalisasi Standar
Jadi SAP disusun untuk instalasi kepemerintahan baik pusat maupun daerah
dalam rangka menyusun laporan keuangan pemerintahan. Dan diharapkan
6

dengan adanya SAP maka akan ada transparansi, partisipasi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara sehingga dapat mewujudkan pemerintahan yang
baik.

2.2 PENGEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI STRUKTUR DAN
PROSES
Berikut adalah perkembangan standar akuntansi Indonesia mulai dari awal
sampai dengan saat ini yang menuju konvergensi dengan IFRS:
1. Pada periode 1973-1984, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) telah
membentuk Komite Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia untuk
menetapkan standar-standar akuntansi, yang kemudian dikenal dengan
Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).
2. Pada periode 1984-1994, komite PAI melakukan revisi secara mendasar
PAI 1973 dan kemudian menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia 1984
(PAI 1984). Menjelang akhir 1994, Komite standar akuntansi memulai
suatu revisi besar atas prinsip-prinsip akuntansi Indonesia dengan
mengumumkan pernyataan-pernyataan standar akuntansi tambahan dan
menerbitkan interpretasi atas standar tersebut. Revisi tersebut
menghasilkan 35 pernyataan standar akuntansi keuangan, yang sebagian
besar harmonis dengan IAS yang dikeluarkan oleh IASB.
3. Pada periode 1994-2004, ada perubahan kiblat dari US GAAP ke IFRS,
hal ini ditunjukkan sejak tahun 1994, telah menjadi kebijakan dari Komite
Standar Akuntansi Keuangan untuk menggunakan International
Accounting Standards sebagai dasar untuk membangun standar akuntansi
keuangan Indonesia. Dan pada tahun 1995, IAI melakukan revisi besar
untuk menerapkan standar-standar akuntansi baru, yang kebanyakan
7

konsisten dengan IAS. Beberapa standar diadopsi dari US GAAP dan
lainnya dibuat sendiri.
4. Pada periode 2006-2008, merupakan konvergensi IFRS Tahap 1. Sejak
tahun 1995 sampai tahun 2010, buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
terus direvisi secara berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan
maupun penambahan standar baru. Proses revisi dilakukan sebanyak
enam kali yakni pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1999, 1 April 2002,
1 Oktober 2004, 1 Juni 2006, 1 September 2007, dan versi 1 Juli 2009.
Pada tahun 2006 dalam kongres IAI X di Jakarta ditetapkan bahwa
konvergensi penuh IFRS akan diselesaikan pada tahun 2008. Target
ketika itu adalah taat penuh dengan semua standar IFRS pada tahun 2008.
Namun dalam perjalanannya ternyata tidak mudah. Sampai akhir tahun
2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari
total 33 standar. Hingga kemudian pada tahun 2012, IFRS telah
dikonvergensi penuh oleh pemerintah Indonesia melalui IAI.

2.3 KUALITAS STANDAR AKUNTANSI
FASB (Financial Accounting Standards Board), dalam laporannya yang
berjudul International Accounting Standard Setting : A Vision for The Future,
meyakini bahwa perlu adanya satu set standar akuntansi yang digunakan di seluruh
dunia baik untuk pelaporan keuangan dalam negeri maupun lintas negara. Tanpa
menyebutkan bahwa metode yang dilakukan untuk mendapatkan satu standar yang
sama untuk seluruh dunia ini sebagai standardisasi, FASB juga tidak menyatakan
secara eksplisit bahwa usaha ini merupakan usaha harmonisasi. FASB memandang
bahwa suatu standar akuntansi internasional harus:
8

1. Memiliki kualitas tinggi dengan menyediakan informasi yang berguna bagi
investor, kreditur, dan pembuat keputusan lainnya dalam mengambil
keputusan serupa mengenai alokasi sumber daya dalam perekonomian, dan
2. Membuat berbagai standar akuntansi di berbagai negara menjadi convergent
atau semirip mungkin.

Di satu sisi FASB menginginkan adanya standardisasi standar akuntansi
namun tidak mengingkari bahwa proses menuju standardisasi tersebut harus melalui
proses harmonisasi yang lebih terarah menuju standardisasi.
Standar akuntansi yang memiliki kualitas tinggi (high-quality) adalah suatu standar
akuntansi yang tidak bias, dan menghasilkan suatu informasi yang relevan dan dapat
dipercaya yang berguna bagi pengambilan keputusan oleh para investor, kreditur dan
pihak-pihak yang mengambil keputusan serupa. Standar tersebut harus:
1. Konsisten dengan kerangka konseptual yang mendasarinya
2. Menghindari atau meminimumkan adanya prosedur akuntansi alternatif, baik
implisit maupun eksplisit dengan mengingat faktor comparability
da consistency.
3. Jelas dan komprehensif, sehingga standar tersebut dapat dimengerti oleh
pembuat laporan keuangan, auditor yang memeriksa laporan keuangan
berdasarkan standar tersebut, oleh pihak-pihak yang berwenang
mengharuskan pemakaian standar tersebut serta para pengguna informasi
yang dihasilkan berdasarkan standar tersebut.
FASB melihat perlunya dibentuk tiga organisasi yang akan menentukan standar
akuntansi internasional di masa depan, yaitu:
1. I nternational Standard Setter (I SS)
Organisasi ini menetapkan, mengembangkan dan mengumumkan secara resmi
standar akuntansi internasional. ISS memiliki delapan fungsi, yaitu:
9

a. Leadership
b. Innovation
c. Relevance
d. Responsiveness
e. Objectivity
f. Acceptability and credibility
g. Understandability
h. Accountability

Karakteristik ISS yang penting adalah:
a. independen dalam pengambilan keputusan.
b. menjalankan proses penetapan standar yang cukup dengan berhubungan dengan
pihak luar yang akan menggunakan standar tersebut.
c. memiliki staf yang cukup.
d. memiliki pendanaan yang independen.
e. diawasi secara independen.

2. I nternational I nterpretation Committee (I I C)
Organisasi ini dibentuk untuk menyampaikan pendapat atas penerapan standar
akuntansi internasional agar didapat penafsiran dan penerapan yang konsisten. IIC
akan membimbing para pemakai standar dan jika perlu menerbitkan semacam buku
panduan sebagai pelengkap standar yang sudah diterbitkan.

3. I nternational Professional Group (I PG)
Organisasi ini terdiri dari para akuntan profesional dari berbagai organisasi
profesional di berbagai negara. Kegiatan IPG yang utama adalah memudahkan
penerapan standar dengan cara memastikan adanya kepatuhan (compliance) terhadap
10

standar, penyebaran standar yang cukup sampai pada tingkat nasional dan
memberikan pengajaran kepada para pemakai tentang penerapan standar akuntansi
internasional yang tepat. FASB menganggap bahwa bagaimanapun caranya suatu
organisasi penentu standar akuntansi internasional dibentuk, struktur organisasi
tersebut harus bisa memungkinkan kedelapan fungsi di atas berjalan baik. Struktur
organisasi juga harus memasukkan kelima karakteristik di atas agar bisa
mengembangkan standar akuntansi internasional yang berkualitas tinggi.

2.4 CONVERGENCE OF INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING
STANDARDS AND PRACTICES
Dalam SMO (Statement of Member Obligations) part 2, (yang merupakan
sebuah rencana yang berisi program pengadopsian dan jadwal implementasi IFRS
yang wajib dibuat oleh setiap anggota IFAC) pemerintah Indonesia melalui IAI telah
memutuskan konvergensi atau pengadopsian secara penuh IFRS (International
Financial Reporting Standards) pada tahun 2012. Dimana tujuan dari konvergensi ini
adalah agar informasi keuangan yang dihasilkan dapat diperbandingkan,
mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan hubungan baik dengan
pelanggan, supplier, investor dan kreditor. Indonesia sebagai negara yang terus
berkembang dan banyaknya transaksi internasional yang dilakukan mengharuskan
Indonesia untuk melakukan konvergensi terhadap IFRS.
Dengan dibuatnya satu standar akuntansi yang sama dan digunakan oleh seluruh
negara akan semakin mendorong investor untuk masuk dalam pasar modal seluruh
dunia, hal ini dikarenakan mutu dari laporan keuangan yang dihasilkan memiliki
kredibilitas tinggi, pengungkapan yang lebih luas, informasi keuangan yang relevan
dan akurat serta dapat diperbandingkan dan satu lagi yang sangat penting adalah
dapat berterima secara internasional dan mudah untuk dipahami.
11

Dalam prosesnya terdapat beberapa kendala dan manfaat dalam melakukan
konvergensi ke IFRS ini. Adapun kendala konvergensi IFRS ke dalam PSAK, antara
lain:
a. Dewan standar akuntansi yang kurang sumber daya.
b. IFRS berganti terlalu cepat sehingga ketika masih dalam proses adopsi satu
standar IFRS dilakukan, pihak IASB sudah dalam proses mengganti IFRS
tersebut.
c. Kendala bahasa, karena setiap standar IFRS harus diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dan seringkali ini tidaklah mudah.
d. Infrastruktur profesi akuntansi yang belum siap.
e. Kesiapan perguruan tinggi dan akuntan pendidik untuk berganti acuan ke IFRS.
f. Support pemerintah terhadap issue konvergensi.

Sedangkan manfaat dari konvergensi IFRS adalah:
a. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan Standar Akuntansi
Keuangan yang dikenal secara internasional.
b. Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi.
c. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar
modal secara global.
d. Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.
e. Meningkatkan kualitas laporan keuangan, dengan antara lain, mengurangi
kesempatan untuk melakukan earning management.

Sejak 1 Januari 2012, Indonesia telah mengadopsi seluruh IFRS, kecuali IFRS 1
First-time Adoption of International Financial Reporting Standards, IAS 41
Agriculture, IFRC 15 Agreements for the Construction of Real Estate (yang telah
diadopsi menjadi ISAK 21: Perjanjian Konstruksi Real Estat) ditunda masa
12

pemberlakuannya sampai waktu yang akan ditentukan. Selain itu, sampai dengan 1
Desember 2012 telah diterbitkan 40 PSAK, 20 ISAK, dan 11 PPSAK. Pencapaian
lain di tahun 2012, telah dilakukannya revisi atas beberapa PSAK, yaitu: PSAK 38:
Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali, PSAK 28: Akuntansi Kontrak Asuransi
Kerugian, dan PSAK 36: Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa. Selain itu, dilakukan
annual improvement atas PSAK 60: Instrumen Keuangan dan Pengungkapan.
Untuk program kerja di 2013, DSAK telah dan akan melakukan beberapa hal.
Mencoba mengimplementasikan annual improvement atas SAK yang berbasis IFRS 1
Januari 2009 menjadi IFRS yang berlaku efektif 1 Januari 2013, melakukan adopsi
IFRS yang dikeluarkan setelah 1 Januari 2009, yaitu: IFRS 10 Consolidated Financial
Statement, IFRS 11 Joint Arrangements, IFRS 12 Disclosure of Interest in Other
Entities, IFRS 13 Fair Value Measurement, IFRIC 18 Transfer Of Assets From
Customers, dan IFRIC 19 Extinguishing Financial Liabilities with Equity.
Selain itu, DSAK juga tengah menyusun SAK Nirlaba dan panduan akuntansi untuk
usaha mikro, melakukan kodifikasi standar pelaporan keuangan, partisipasi aktif
dalam working group Organisasi Internasional Pasar Modal (AOSSG), memberikan
masukan secara langsung ke IASB atas ED-IFRS, kajian pilar kedua di antara SAK
dan SAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik), dan membawa isu-isu
implementasi IFRS di Indonesia ke forum regional dan global.

2.5 Kegunaaan Laporan Keuangan dan Pengungkapan Perusahaan
Pelaporan keuangan perusahaan dan pengungkapan perusahaan yang ada
dalam konteks yang dinamis, terus berubah sejalan dengan dunia bisnis. Perusahaan
diuntungkan jika mereka lincah dalam beradaptasi dengan struktur perusahaan dan
mengembangkan atau memanfaatkan instrumen keuangan yang inovatif dan canggih.
Di tengah perkembangan dunia bisnis berdiri profesi akuntansi yang perlu untuk
menjamin pelaporan lanjutan dan integritas laporan keuangan.
13

Seperti disebutkan sebelumnya, nilai dan manfaat dari pelaporan keuangan terletak,
dengan cara yang hampir eksklusif, dalam kegunaannya kepada pengguna. Analis
mencoba mengetahui atau memprediksi laba atau arus kas memerlukan informasi
yang berbeda dari manajer dalam meninjau alokasi dan pemanfaatan aset. Investor
mencoba untuk menggunakan langkah-langkah yang relatif baru seperti nilai tambah
ekonomis. Keragaman pengguna mempersulit tugas mengintip ke masa depan.
Hal ini sangat penting bagi kita yang terlibat dalam bisnis pengungkapan
keuangan. Jika kita tidak mengembangkan sistem dan mekanisme seperti itu, kita
menghadapi risiko sebagai profesional pengungkapan yang terpinggirkan, secara
mekanis melakukan hal yang sama kita lakukan sebelumnya karena kita tidak
mampu, atau tidak mampu melakukan apa pun dan menghasilkan produk yang
semakin kurang berguna dan kurang berharga. Akibatnya, kita akan merugikan
orang-orang yang mengandalkan kita sebagai peserta di pasar keuangan, manajemen,
regulator, dan lain-lain yang harus membuat keputusan berdasarkan informasi
keuangan. Berkenaan dengan pasar modal: jika kita tidak tinggal di perbatasan, akan
ada arus informasi yang lebih buruk terhadap investor, yang menyebabkan
ketidakpastian yang lebih besar dan volatilitas harga, biaya modal yang lebih tinggi.
Sehingga kita harus mengembangkan kerangka analisis yang cukup dinamis dan
dapat diandalkan untuk mengantisipasi dan merespon perubahan dalam konsep bisnis
perusahaan, hubungan perusahaan itu, antara lain, investor, pelanggan, dan pemasok
dan alat, terutama alat keuangan, bisnis yang memanfaatkan.
Terdapat empat isu akuntansi dan pengungkapan yang luas yang mungkin sangat
penting untuk masa depan pelaporan keuangan:
1. Pengakuan dan Pengukuran
Sebagian besar aset yang "berwujud" dan dengan pengecualian tertentu diakui
pada nilai wajar saat ini. Tentu saja, nilai tercatat beberapa aset seperti tanah atau
sumber daya alam (misalnya, kayu, tambang, minyak dan gas) bisa secara signifikan
14

tidak sinkron dengan nilai saat ini, tetapi gagasan penilaian triwulanan atau tahunan
dipandang tidak praktis. Demikian pula, mengukur nilai aset menggunakan indeks
perubahan spesifik aset kategori harga atau nilai pasar jika diketahui ide yang telah
direview di masa lalu dan hal tersebut perlu digali lagi, dan masih dipandang tidak
praktis. Keprihatinan yang kemudian timbul, adalah bahwa ada sejumlah besar
pengukuran aset yang buruk melalui akuntansi biaya historis dan, yang lebih penting,
bahwa kita memiliki seluruh kategori aset yang tidak diakui sama sekali.
2. Ketepatan waktu Pelaporan Keuangan
Percepatan peristiwa yang mempengaruhi perusahaan secara signifikan telah
mulai membuat sistem audit tahunan kami dan laporan triwulanan agak usang.
Laporan tahunan dan kuartalan bahkan tidak menangkap dan mengkomunikasikan
perkembangan materi dalam waktu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan informasi
pasar. Siklus produk telah diperpendek dan produk perusahaan secara keseluruhan
menjadi usang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Pengembangan sistem
yang memenuhi kebutuhan akan informasi keuangan yang tepat waktu sangat
diperlukan dalam hal ini. Dengan kata lain, dalam menilai masa depan akuntansi
harus menurunkan biaya modal dengan mengurangi risiko dan menuntut
pengembalian. Itu dilakukan, sebagian, dengan meningkatkan aliran informasi yang
relevan ke pasar pada waktu yang tepat.

3. Konsep Perusahaan
Revolusi informasi bergerak ke dataran tinggi baru di mana bisnis dapat
beroperasi, misalnya di perusahaan-perusahaan virtual jauh lebih fleksibel, cepat, dan
dengan kelincahan yang lebih besar daripada sebelumnya. Dan perubahan ini,
menemukan kebebasan baru, bukan satu tahap, tetapi jenis. Pelaporan keuangan
harus diperiksa pada tingkat konseptual dan perubahan yang diperlukan dalam
15

pelaporan tersebut untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi dalam bisnis yang
mungkin terjadi di dasar pelaporan keuangan itu sendiri.

4. Informasi Saluran Distribusi
Untuk memastikan kegunaan lanjutan pelaporan keuangan dan pengungkapan,
kita harus mengakui bahwa saluran distribusi saat ini dan metode diseminasi dan
analisis memiliki banyak hubungannya dengan apa yang dilaporkan sesuai konsep
dasar yang ditentukan GAAP. Di masa depan, pengguna akhir jelas akan memiliki
akses ke analisis dan database elektronik yang akan membuat informasi ini sangat
berguna dan tepat waktu kepada mereka - jika disediakan. Satu bayangan dari sebuah
dunia di mana informasi ini dapat diberikan melalui akses on-line langsung untuk
memilih bagian-bagian dari sistem informasi manajemen perusahaan, sehingga
memungkinkan pengguna akhir untuk mengambil dan menganalisis data untuk
keperluan internal mereka sendiri dan tiba pada keputusan lebih dekat disesuaikan
dengan kebutuhan masing-masing.





16


BAB III
KESIMPULAN

Pelaporan keuangan perusahaan dan pengungkapan perusahaan yang ada
dalam konteks yang dinamis, terus berubah sejalan dengan dunia bisnis. Kondisi
demikian menuntut perusahaan agar mampu beradaptasi dengan struktur perusahaan,
pemanfaatan, dan pengembangan instrumen yang canggih. Para analis mencoba
mengetahui atau memprediksi laba atau arus kas yang memerlukan informasi berbeda
dari manajer dalam meninjau alokasi dan pemanfaatan aset. Investor mencoba untuk
menggunakan langkah-langkah yang relatif baru seperti nilai tambah ekonomis.
Keragaman pengguna mempersulit tugas mengintip ke masa depan. Hal ini sangat
penting bagi kita yang terlibat dalam bisnis pengungkapan keuangan. Jika kita tidak
mengembangkan sistem dan mekanisme yang inovatif dan canggih, maka kita akan
menghadapi risiko sebagai profesional pengungkapan yang terpinggirkan, secara
mekanis melakukan hal yang sama kita lakukan sebelumnya karena kita tidak
mampu, atau tidak mampu melakukan apa pun dan menghasilkan produk yang
semakin kurang berguna dan kurang berharga. Akibatnya, kita akan merugikan
orang-orang yang mengandalkan kita sebagai peserta di pasar keuangan, manajemen,
regulator, dan lain-lain yang harus membuat keputusan berdasarkan informasi
keuangan.