Anda di halaman 1dari 39

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit tuberculosis paru di Indonesia masih menjadi masalah
kesehatan yang cukup besar. Dari pandangan dunia internasional, Indonesia
merupakan "Hospital Area" sebagai negara penyumbang kasus tuberkulosis
terbesar setelah India dan Cina. Terbukti dari hasil survey kesehatan rumah
tangga tahun 1995 secara nasional, menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis
merupakan penyebab kematian nomor (3) tiga setelah penyakit kardiovasculer
dan saluran pernafasan pada semua kelompok usia dan nomor (1) satu dari
golongan penyakit infeksi. Kepatuhan meminum obat dan mematuhi program
pengobatan merupakan faktor penentu yang dapat menimbulkan kegagalan
program eliminasi di Indonesia. Namun hubungan faktor predisposisi dengan
kepatuhan minum obat penderita TB Paru dengan masih belum jelas (Depkes
RI, 2006).
Dan rata rata sekitar 1 orang per menit, 384 orang per hari atau 140
ribu orang per tahun meninggal dunia di Indonesia karena penyakit TBC. 582 ribu
kasus baru ditemukan per tahun. 75 % penderita termasuk dalam kelompok usia
produktif (Mediakom, Desember 2006) Pada tahun 2004, di seluruh dunia
tercatat 9 juta penderita TBC, 2 juta diantaranya meninggal dunia. Total
penderita TBC di India, Cina dan Indonesia mencapai 50 % dari jumlah penderita
TBC di seluruh dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai
penderita tuberculosis terbanyak nomor tiga diseluruh dunia setelah India dan
Cina.

2
Strategi upaya eradiksi TBC sejak tahun 1995 menerapkan DOTS,
mengikuti ketetapan WHO tahun 1994, obat obatan DOTS gratis diberikan
pada pasien di seluruh sarana pelayanan kesehatan di Indonesia yang telah
menerapkan strategi DOTS. Meningkatkan angka temuan kasus (Case Detection
Rate / CDR) atau jumlah penderita TBC menular yang berhasil ditemukan untuk
kemudian dapat menjalani pengobatan. Memperluas akses, menurunkan
penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian TBC melalui pengobatan
yang teratur dan berdisiplin. Menguatkan kemampuan surveilans, pemantauan
dan evaluasi, meningkatkan kemampuan pengelolaan obat dan logistik.
Pemberian informasi tentang TBC kepada masyarakat sehingga lebih banyak
penduduk memahami informasi tentang pencegahan dan pengobatan TBC. Obat
tuberculosis diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis dan dosis
yang diberikan dalam waktu 6-8 bulan (Depkes RI, 2002).
Berbagai upaya tersebut ternyata tidak berhasil mendorong terhadap
upaya pemberantasan TBC. Panjangnya proses pengobatan TBC menimbulkan
rasa bosan pada penderita tuberculosis atas ketidakpraktisan pengobatan, dan
dapat memicu drop out penderita tuberculosis dalam proses pengobatan. Banyak
faktor yang menyebabkan seorang penderita tuberculosis drop out dalam proses
pengobatan, baik disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Drop out
pada proses pengobatan tidak hanya berpengaruh terhadap diri pasien tetapi
juga meningkatkan resiko penularan TBC. Drop out ini sering terjadi pada pasien
dari keluarga dengan pendapatan rendah. Hal ini terjadi karena pasien dengan
pendapatan rendah cenderung lebih mengedepankan kebutuhan pemenuhan
primer bagi keluarga dan kurang memperhatikan pemenuhan kebutuhan
pengobatan pada penderita TBC. Sedangkan pada pasien TBC yang berstatus
sebagai kepala keluarga cenderung untuk bekerja di luar lingkungannya agar
dapat bekerja, karena sulit bagi pribadi atau perusahaan untuk menerima

3
seseorang yang mengidap TBC untuk bekerja sehingga mendorong pasien untuk
bekerja di luar ingkungan yang mengenalnya. Kondisi inilah yang mendorong
pasien drop out dalam proses pengobatan.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melaksanakan
penelitian dengan judul Hubungan Klasifikasi Pendapatan dengan Kejadian
Pasien Drop out TBC di Kota Malang

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan maka
rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimanakah klasifikasi pendapatan pasien TBC di Kota Malang ?
2. Bagaimanakah kejadian drop out pada pasien TBC di Kota Malang ?
3. Apakah ada hubungan antara klasifikasi pendapatan dengan kejadian pasien
drop out TBC di Kota Malang

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara klasifikasi pendapatan dengan kejadian
pasien drop out TBC di Kota Malang.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendapatan pasien TBC di Kota Malang.
2. Mengidentifikasi kejadian drop out pada pasien TBC di Kota Malang.
3. Mengidentifikasi korelasi antara tingkat pendapatan dengan kejadian
pasien drop out TBC di Kota Malang.



4
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai masukan dan informasi tentang hubungan antara tingkat
pendapatan dengan kejadian pasien drop out TBC di Kota Malang, serta
sebagai bentuk implementasi pengetahuan tentang metode penelitian.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pengobatan
TBC khususnya terkait hubungan antara tingkat pendapatan dengan
kejadian pasien drop out TBC di Kota Malang
1.4.3 Bagi Pelayanan Kesehatan
Sebagai pemicu petugas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan terutama yang ditujukan bagi penderita TB
Paru sehingga tidak didapatkan lagi penderita TB yang drop out dari
pengobatan.
1.4.4 Bagi Responden
Sebagai informasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat bagi
penderita TB Paru guna mendukung proses pengobatan responden untuk
mencapai kesembuhan.


5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tingkat Pendapatan
2.1.1 Pengertian
Pendapatan dalam ilmu ekonomi didefinisikan sebagai hasil berupa
uang atau hal materi lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau
jasa manusia bebas (Kottler, 2011).
Sedangkan pendapatan rumah tangga adalah total pendapatan dari
setiap anggota rumah tangga dalam bentuk uang atau natura yang
diperoleh baik sebagai gaji atau upah usaha rumah tangga atau sumber
lain. Kondisi seseorang dapat diukur dengan menggunakan konsep
pendapatan yang menunjukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh
seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (Samuelson
dan Nordhaus, 2002).
Pendapatan adalah penerimaan bersih seseorang, baik berupa uang
kontan maupun natura. Pendapatan atau juga disebut juga income dari
seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor
produksi yang dimilikinya pada sektor produksi. Dan sektor produksi ini
membeli faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input
proses produksi dengan harga yang berlaku dipasar faktor produksi. Harga
faktor produksi dipasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-
barang dipasar barang) ditentukan oleh tarik menarik, antara penawaran
dan permintaan. Secara singkat pendapatan seorang warga masyarakat
ditentukan oleh :

6
1. Jumlah faktor-faktor produksi yang ia miliki yang bersumber pada :
a. Hasil-hasil tabungannya di tahun-tahun yang lalu
b. Warisan atau pemberian
2. Harga per unit dari masing-masing faktor produksi. Harga-harga ini
ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan di pasar faktor
produksi.
2.1.2 Klasifikasi Pendapatan
Klasifikasi pendapatan per kapita menurut World Bank adalah Low
Income dengan tingkat pendapatan sebesar $ 975 pertahun atau
dibawahnya, Lower-middle-income adalah dengan tingkat pendapatan
antara $ 976 - $ 3.855 pertahun, Upper-middle-income dengan tingkat
pendapatan antara $ 3,856 - $ 11.906 pertahun dan High income dengan
tingkat pendapatan $ 11, 907 atau lebih (World Bank, 2012).
Klasifikasi pendapatan berdasarkan Upah Minimum Kota atau
Kabupaten (UMK) dengan mengacu pada klasifikasi Rendah jika
pendapatan keluarga kurang dari UMK, Cukup jika pendapatan sama
dengan UMK sampai dengan 2 kali UMK, Sedang jika pendapatan
keluarga 2 kali UMK sampai dengan 3 kali UMK dan Tinggi jika pendapatan
keluarga lebih dari 3 kali UMK (Hermawan, 2010). Mengacu pada UMK
Kota Malang Tahun 2013 adalah Rp 1.340.300, maka klasifikasi
pendapatan yang dapat digunakan adalah :
1. Rendah jika pendapatan keluarga < Rp 1.340.300
2. Cukup jika pendapatan keluarga antara Rp 1.340.300 sampai dengan
Rp. 2.680.600.

7
3. Sedang jika pendapatan keluarga antara lebih dari Rp. 2.680.600
sampai dengan Rp. 4.020.900
4. Tinggi jika pendapatan keluarga lebih dari 4.020.900
2.1.3 Dampak Pendapatan Terhadap Akses Pelayanan Kesehatan
Menurut UNDP (2001), akses terhadap pelayanan kesehatan dan
pelayanan dasar lainnya sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan
sebuah keluarga. Keluarga yang memiliki pendapatan tinggi cenderung
lebih mudah dalam mengakses sarana pelayanan kesehatan, namun
sebaliknya keluara yang memiliki tingkat pendapatan rendah akan kesulitan
dalam mengakses pelayanan kesehatan maupun pelayanan dasar lainnya.
Peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat senantiasa dilakukan
pemerintah dari waktu ke waktu. Yang terbaru, adalah program Jaminan
Kesehatan Semesta diharapkan dapat meningkatkan taraf kesehatan
masyarakat secara merata pada 2014 mendatang (Mukti, 2013). Upaya
yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan akses
pelayanan kesehatan karena kendala biaya adalah dengan meluncurkan
berbagai program jaring pengaman social, mulai dari Jaminan Kesehatan
Masyarakat (Jamkesmas), Jaminan Pembiayaan Persalinan (Jampersal)
maupun berbagai program kesehatan untuk mendukung eradiksi penyakit,
misalnyanya TBC dan Kusta. Menurut Erawatyningsih dkk. (2009),
penderita TB paru yang paling banyak terserang adalah masyarakat yang
berpenghasilan rendah, sehingga dalam pengobatan TB paru selain
penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, mereka
masih harus mengeluarkan biaya transport untuk berobat di Puskesmas.
Hal ini yang menyebabkan penderita tidak patuh dalam pengobatan.

8
2.2 Konsep Tuberculosis
2.2.2 Pengertian
Tuberculosis (TBC) adalah suatu penyakit infeksi yang menular,
disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis (GERDUNAS-TBC,
2002:1).
Tuberculosis adalah penyakit menular yang sebagian besar disebabkan
oleh kuman mycobaterium tuberculosis. Kuman tersebut biasanya masuk
kedalam tubuh manusia melalui udara pernafasan kedalam paru. Kemudian
kuman tersebut menyebar dari paru ke bagian tubuh yang lainnya, melalui
sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, melalui saluran nafas (bronchus)
atau penyebaran langsung ke bagian bagian tubuh lainnya. Penyakit
tuberculosis dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik diparu maupun
diluar paru (Dirjen PPM dan PL Depkes 6 Januari 2002).
Kuman tuberculosis terbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu
tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai
basil tahan asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari secara
langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan
lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant tertidur lama selama
beberapa tahun (Depkes, RI, 2002:9).

2.2.3 Tanda dan Gejala TBC
1. Penemuan penderita tuberculosis
Penemuan penderita tuberculosis pada orang dewasa dapat
dilakukan dengan cara possive promotive case finding, artinya penjaringan
tersangka penderita yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan
dengan meningatkan penyuluhan tuberculois kepada masyarakat. Bila

9
ditemukan penderita tuberculosis paru dengan sputum, maka semua orang
yang kontak serumah dengan penderita harus diperiksa. Apabila ada gejala
gejal suspek tuberculosis maka harus diperiksa dahaknya. Bila
ditemukan penderita tuberculosis anak maka dicari sumber penularannya.
Sedangkan penemuan penderita tuberculosis pada anak merupakan
hal yang sulit. Sebagian besar diagnosis tuberculosis anak didasarkan atas
gambaran klinis, gambaran radiologi dan uji tuberkulin.
2. Diagnosa Tuberculosis
a) Diagnosa tuberculosis pada orang dewasa berdasarkan atas
pemeriksaan mikroskopis dahak. Gejala tersangka tuberculosis adalah :
(1) Gejala utama : batuk terus menerus dan berdahak selama 3
minggu atau lebih.
(2) Gejala lain :
2.3.4.1 Dahak bercampur darah
2.3.4.2 Batuk darah
2.3.4.3 Sesak napas dan rasa nyeri dada
2.3.4.4 Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat
malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih
dari sebulan.
Untuk memastikan diagnosis tuberculosis harus dilakukan
pemeriksaan dahak SPS secara mikroskopis langsung.
Bila dua dari tiga spesimen tersebut hasilnya, diagnosis
tuberculosis sudah dapat ditegakkan.

10
b) Diagnosis tuberculosis pada anak sulit, sehingga sebagian besar
didasarkan pada beberapa kriteria dibawah ini :
(1) Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita tuberclosis
(2) Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah
imunisasi BCG.
(3) Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam satu
bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik (foilure
to thrive).
(4) Sakit dan demam lama dan berulang, tanpa sebab yang jelas
(5) Batuk batuk lebih dari 3 minggu
(6) Skrofuloderma
(7) Conjungtivitis fliktenularis

2.2.4 Cara Penularan Kuman Tuberculosis
Sumber penularan adalah penderita tubreculosis. Pada waktu batuk
atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Doplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau kuman
tersebut hirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman tuberculosis masuk
kedalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman tersebut dapat menyebar
dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem
saluran limfe, saluran nafas atau penyebaran langsung kebagian bagian
tubuh lainnya.
2.2.5 Resiko Penularan
Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection =
ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %. Pada

11
daerah dengan ARTI sebesar 1%, berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk,
10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi
tidak akan menjadi penderita tuberculosis, hanya sekitar 10 % hari yang
terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberculosis.
Dari keterangan tersebut diatas, dapat diperkirakan bahwa pada daerah
dengan ARTI 1%, maka diantara 10.000 penduduk rata rata terjadi 100
(seratus) penderita tuberculosis setiap tahun, dimana 10 penderita.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seorang menjadi penderita
tuberculosis adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya karena gizi
buruk atau HIV / AIDS.
2.2.6 Riwayat terjadinya Tuberculosis
1. Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan
kuman tuberculosis. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya,
sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan
terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi
dimulai saat kuman tuberculosis berhasil berkembang biak dengan cara
pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan didalam paru.
Saluran limfe akan membawa kuman tuberculosis ke kelenjar limfe di
sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara
terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-
6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan
reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya
kuman yang masuk dan besarnya responden daya tahan tubuh (imunisasi

12
seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat
menghentikan perkembangan kuman tuberculosis. Meskipun demikian,
ada beberapa kuman yang akan menetap sebagai kuman persister atau
dormant (tidur). Kadang kadang daya tahan tubuh tidak mampu
menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan,
yang bersangkutan akan menjadi penderita tuberculosis. Masa inkubasi,
yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit,
diperkirakan sekitar 6 bulan.
2. Tuberculosis pasca primer
Tuberculosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa
bulan atas tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan
tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas
dari tuberculosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan
terjadinya kavitas atau efusi pleura.
2.2.7 Perjalanan Alamiah Tuberculosi yang tidak diobati
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita tuberculosis
akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi,
dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO, 1996).


13
2.2.8 Pengaruh Infeksi HIV
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh
seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti
tuberculosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat,
maka jumlah penderita tuberculosis akan meningkat, dengan demikian
penularan tuberculosis di masyarakat akan meningkat pula.
2.2.9 Komplikasi Tuberculosis
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita tuberculosis stadium
lanjut yaitu :
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemia atau tersumbatnya
jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial
3. Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Pneumothorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan : kolaps
spontan karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal
dan sebagainya.
6. Insufisiensi kardio pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency)
Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah
sakit. Penderita TBC paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh
masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini sering kali dikelirukan
dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini pengobatan dengan OAT tidak

14
diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan
berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.

2.3 Gejala Putus Obat
2.3.1 Pengertian Drop out / Gejala Putus Asa
Menurut Halim (1999) Kegagalan (Drop out) adalah terjadinya
kemunduran selama masa penyembuhan (saat penderita masih menerima
pengobatan tuberculosis) terutama kemunduran bakteriologik. Dep kes (1993)
Drop out adalah penderita yang tidak mengambil obat selama 2 bulan berturu-
turut atau lebih selama masa pengobatan selesai. Reviono (1999)
mengungkapkan bahwa keadaan drop out pada masa pengobatan terjadi pada
dua bulan pertama pengobatan sampai pengobatan lanjutan, kejadian berhenti
berobat yang terjadi pada fase awal dua bulan pertama pengobatan. Menurut
Haryanto (2002) kegagalan dalam pengobatan (Drop out) dikarenakan
rendahnya tingkat pendidikan memberikan konstribusi yang besar bagi
rendahnya tingkat pemahaman pada penderita mengenai penyakitnya.
2.3.2 Epidiomologi Drop out TBC
2.3.2.1 Epidemiologi Drop out TBC di Indonesia
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan
beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus
adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi insidensi
berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat
TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Indonesia
merupakan negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV
yang tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV dinyatakan

15
sebagai epidemic terkonsentrasi (a concentrated epidemic), dengan
perkecualian di provinsi Papua yang prevalensi HIVnya sudah
mencapai 2,5% (generalized epidemic). Secara nasional, angka
estimasi prevalensi HIV pada populasi dewasa adalah 0,2%.
Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan sebagai daerah prioritas
untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di
Indonesia sekitar 190.000-400.000. Estimasi nasional prevalensi
HIV pada pasien TB baru adalah 2.8%. Angka MDR-TB
diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus TB baru (lebih rendah
dari estimasi di tingkat regional sebesar 4%) dan 20% dari kasus TB
dengan pengobatan ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300
kasus MDR TB setiap tahunnya.
Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia
merupakan Negara pertama diantara High Burden Country (HBC) di
wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target
global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada
tahun 2006. Pada tahun 2009, tercatat sejumlah sejumlah 294.732
kasus TB telah ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010) dan
lebih dari 169.213 diantaranya terdeteksi BTA+. Dengan demikian,
Case Notification Rate untuk TB BTA+ adalah 73 per 100.000 (Case
Detection Rate 73%). Rerata pencapaian angka keberhasilan
pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar 90% dan pada
kohort tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global
tersebut merupakan tonggak pencapaian program pengendalian TB
nasional yang utama.

16
2.3.2.2 Epidemiologi Drop out TBC di Kota Malang
Pada tahun 2012 jumlah penderita TBC adalah 365 orang
dengan jumlah penderita baru (BTA+ baru) sebanyak 137 orang.
Pada tahun 2012 terdapat 12 pasien TBC yang drop out dalam
pengobatan.
2.3.3 Respon Awal Pasien Terhadap Pengobatan TBC
Obat anti-Tuberkulosis (OAT) bisa menyebabkan efek samping seperti
hepatotoksisitas. OAT menyebabkan enzim-enzim hepar meningkat pada
serum kebanyakan pasien. Contohnya elevasi aspartate aminotransferase
(AST atau SGOT) dan alanine amninotransferase (ALT atau SGPT).
Peningkatan tahap SGOT/SGPT terjadi pada kurang dari 2 minggu yang
pertama biasanya selepas penggunaan isoniazid. Pemeriksaan SGOT/SGPT
diperiksa 2 kali seminggu tiap minggu sampai tahapnya meningkat kemudian
periksa tiap minggu sehingga tahapnya kembali normal. Pemberian OAT
dihentikan jika tahap SGOT/SGPT meningkat > 10 kali di atas tahap normal
(Leung,2008).
2.3.4 Faktor Penyebab Dari Gejala Putus Obat
2.3.4.1 Daerah Tempat Tinggal
Kondisi tempat tinggal mempengaruhi persepsi seseorang terhadap
suatu penyakit. Daerah tempat tinggal yang memiliki budaya hidup
sehat yang rendah cenderung mengabaikan suatu penyakit,
khususnya penyakit menular seperti halnya TBC. Menurut penelitian
yang dilaksanakan oleh Irawati (2011), menunjukkan bahwa
masyarakat yang tinggal di daerah kumuh cenderung tidak patuh
dalam melakukan pengobatan TBC, apabila pasien telah mampu
bekerja namun masih dalam proses pengobatan pasien biasanya

17
mulai tidak patuh dalam melakukan pengobatan.
2.3.4.2 Usia
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat kelahiran sampai
saat ulang tahun ( Nursalam, 2001). Menurut Niven (2008), harapan
hidup seseorang merupakan faktor motivasi yang penting dalam
meningkatkan kepatuhan seseorang dalam melaksanakan
pengobatan. Seorang yang berusia muda memiliki harapan hidup yang
lebih tinggi sehingga memiliki motivasi yang tinggi dalam proses
pengobatan termasuk dalam proses pengobatan TBC.
2.3.4.3 Pendidikan
Pendidikan adalah usaha yang dijalankan oleh seseorang atau
kelompok yang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok
orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup yang lebih
tinggi dalam arti mental ( Sudirman N, 1987). Penyakit TBC dapat
menyerang pada semua orang karena penyebaran Mycobacterium
tuberculosis melalui udara dalam bentuk droplet atau percikan dahak.
Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin luas pengetahuannya
sehingga dapat atau cara penularan dan pencegatan penyakitdari TBC
(Dinkes Prop Jatim, 2003)
2.3.4.4 Ekonomi
Sosial ekonomi dapat menggambarkan tingkat kehidupan seseorang
didalam masyarakat. Tingkat ekonomi dapat ditinjau dari kualitas
keluarga yaitu suatu kondisi keluarga yang mencakup aspek
pendidikan, kesehatan ekonomi dan budaya, kemandirian keluarga
serta nilai agama merupakan dasar untuk mencapai keluarga
sejahtera. Menurut Hendar dan Kusnaedi (2002) ekonomi adalah

18
suatu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Ada 3
tingkatan ekonomi yaitu :
a) Ekonomi rendah
Adalah suatu kebutuhan yang mencakup kebutuhan primer saja
yaitu : sandang, pangan dan papan
b) Ekonomi sedang
Adalah suatu kebutuhan yang mencakup kebutuhan primer dan
skunder
c) Ekonomi tinggi
Suatu kebutuhan yang mencakup kebutuhan primer, skunder dan
tersier.
2.3.4.5 Akses Menuju Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan penelitian Senewe (1997), penyuluhan kesehatan,
kunjungan rumah, mutu obat dan jarak mempunyai hubungan yang
bermakna dengan kepatuhan berobat penderita TB Paru. Akses
menuju pelayanan kesehatan disini bukan hanya permasalahan jarak
namun juga permasalahan biaya. Kemudahan masyarakat dalam
mengakses pelayanan kesehatan primer dalam garda terdepan dalam
program eradiksi TBC adalah Puskesmas akan memudahkan
masyarakat dalam memperoleh dukungan pelayanan kesehatan baik
dukungan instrumental yaitu obat MDT maupun dukungan
informasional.
2.3.4.6 Fasilitas Kesehatan
Kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh petugas
terhadap penderita tidak mempengaruhi ketidakpatuhan berobat pada
penderita TB paru. Hal ini disebabkan karena petugas kesehatan
memberikan perhatian khusus serta memberikan informasi yang jelas

19
sehingga dapat menyebabkan baiknya hubungan dengan setiap
penderita TB paru yang datang ke Puskesmas (Erawatyningsih, 2009).
Berdasarkan penelitian Wahab (2002), faktor yang lebih dominan
berpengaruh terhadap keberhasilan program penanggulangan adalah
sikap petugas, tipe pengobatan dan penghasilan. Penelitian Eliska
(2005) menunjukkan bahwa faktor pelayanan kesehatan yaitu
penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan kepatuhan berobat
penderita TB Paru, semakin intensif pemberian penyuluhan dan
pengawasan kepada pasien dapat meningkatkan keberhasilan
pengobatan yang dilaksanakan.
2.3.4.7 Persepsi Keparahan Penyakit
Tingkat keberhasilan pengobatan merupakan salah satu acuan
bagi pasien untuk patuh dalam melaksanakan pengobatan. Pasien
yang merasa bahwa penyaktnya sudah sangat parah dan tidak bisa
disembuhkan cenderung mengabaikan proses pengobatan dan lebih
memilih untuk menunggu kematian.
2.3.4.8 Tingkat Pengetahuan
Faktor tingkat pengetahuan penderita terhadap hasil
penyuluhan dan tanggapan yang diberikan penderita setelah
mendapatkan penyuluhan dari petugas kesehatan yang diberikan
penderita terhadap apa yang telah diketahui tentang penyakitnya
(penyakit TBC paru yang diantaranya) dan tingkat pengetahuan
dipengaruhi oleh faktor, seperti tingkat pendidikan, sikap penderita
sendiri terhadap penyakitnya. (Reviono,1999). Dengan tingkat
pengetahuan yang dimiliki seseorang akan dapat menambah wawasan
mengenai kesehatan, pengetahuan kesehatan akan berpengaruh
kepada perilaku sebagai hasil jangka menengan dari pendidikan
kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh kepada

20
meningkatnya indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran
pendidikan kesehatan (Notoatmodjo, 2003)
2.3.4.9 Dukungan Keluarga
Pasien TBC perlu mendapatkan pengawasan langsung agar
meminum obat secara teratur sampai sembuh. Orang yang
mengawasi penderita TBC dikenal dengan istilah pengawas menelan
obat (PMO). PMO sebaiknya orang yang disegani dan dekat dengan
pasien TBC diutamakan keluarga. Sebagai PMO bertanggung jawab
untuk memastikan pasien TBC meminum obat sesuai anjuran
petugas puskesmas atau UPK hingga pasien mencapai
kesembuhannya (Hendrawati, 2008).
2.3.4.10 Pengawas Minum Obat ( P M O )
Adalah salah satu komponen DOTS ( Directly Observed Treatment,
Shortcourse Chemotherapy ) adalah pengobatan paduan OAT
jangka pendek dengan pengawasan langsung dalam program
pemberantasan TBC adalah pengawas minum obat, untuk menjamin
keteraturan pengobatan penderita Tuberculosis.
Salah satu dari komponen DOTS pengobatan panduan OAT jangka
pendek dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan
pengobatan diperlukan seorang PMO. Dalam memilih PMO petugas
kesehatan sebaiknya dipilih dari anggota keluarga yang memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
1) Persyaratan PMO
a) Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh
petugas kesehatan maupun penderita, selain itu harus
disegani dan dihormati oleh penderita.

21
b) Seseorang yang dekat dengan penderita.
c) Bersedia membantu penderita dengan sukarela.
d) Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-
sama dengan penderita.
2) Siapa Yang Bisa Jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya Bidan
di Desa, Perawat, Pakarnya, Sanitarian, Juru Immunisasi, dan
Lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang
memungkinkan,PMO dapat berasal darikader kesehatan, guru,
anggota PPTI,PKK, atau tokoh masyarakat lainya dan
diutamakan anggota keluarga.
3) Tugas Seorang PMO
a) Mengatasi penderita TBC agar menelan obat secara teratur
sampai selesai pengobatan.
b) Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat
teratur.
c) Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada
waktu-waktu yang telah ditentukan.
d) Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TBC
yang mempunyai gejala-gejala tersangka TBC untuk segera
memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan.
4) Informasi Penting Yang Perlu Difahami PMO Untuk Disampaikan
a) TBC bukan penyakit keturunan atau kutukan
b) TBC dapat disembuhkan dengan berobat teratur,
c) Tata laksana pengobatan pada tahap insentif dan lanjutan,

22
d) Pentingnya berobat secara teratur, karena itu pengobatan
perlu diawasi,
e) Efek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan bila
efek samping tersebut
2.3.4.11 Penyakit Penyerta
Penyakit penyerta mendorong pasien merasa penyakitnya
semakin sulit untuk diobati dan membiarkan penyakit dideritanya
anpa melakukan pengobatan, hal ini banyak diumpai pada pasien
TBC yang juga menderita HIV.
2.3.4.12 Efek Samping Obat
Faktor efek samping obat, menurut Sulianti (2004) faktor efek
samping obat adalah efek obat yang diakibatkan setelah penderita
minum obat. Setiap orang mempunyai daya tahan tubuh yang
berbeda, sehingga ada penderita yang biasa saja setelah minum
obat, ada yang rentan sehingga terjadi efek samping obat. Dimana
efek samping obat pada penderita TBC Paru diantaranya: kulit
berwarna kuning, air seni berwarna gelap
2.3.4.13 Jenis Obat
Kenyataan lain bahwa penyakit TB Paru sulit dibasmi karena obat
yang diberikan harus beberapa macam sekaligus serta
pengobatannya makan waktu yang lama, setidaknya enam bulan. Hal
ini menyebabkan penderita putus berobat (Dinkes SU, 2005).

2.3.5 Prinsip Pengobatan
2.3.5.1 Prinsip Pengobatan
Obat tuberculosis diberikan dalam bentuk kombinasi dari
beberapa jenis, dala jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan,

23
supaya semua kuman (termasuk kuman persister) dapat dibunuh dosis
tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal,
sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila paduan obat yang
digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan),
kuman TBC akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisten).
Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu
dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed
Treatment) oleh seorang pengawas menelan obat (PMO). Pengobatan
TBC diberikan dalam dua paket yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan.
Pengawasan ketat dalam tahap intensif sangat penting untuk mencegah
terjadinya kekebalan obat, sedangkan pada tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
2.3.5.2 Pengobatan Pada Tuberculosis
a. Pengobatan tuberculosis pada orang Dewasa
1) Isoniasid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90%
populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat
ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif,
yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian yang
dianjurkan 5 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermitten
3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg / kg BB.
2) Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi dormant
(persister) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasi. Dosis 10 mg /

24
kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun
intermitten 3 kali seminggu.
3) Pirasinamid (Z)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada di dalam
sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg /
kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermitten 3 kali seminggu
diberikan dengan dosis 35 mg / kg BB.
4) Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis harian yang dianjurkan 15 mg / kg BB
sedangkan untuk pengobatan intermitten 3 kali seminggu
digunakan dosis yang sama. Penderita berumur sampai 60 tahun
dosisnya 0,75 gr / hari, sedangkan untuk berumur 60 tahun atau
lebih diberikan 0,50 gr / hari.
5) Etambutol (E)
Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15
mg / kg BB sedangkan untuk pengobatan intermitten 3 kali
seminggu digunakan dosis 30 mg / kg BB.
b. Pengobatan Tuberculosis pada anak
Prinsip dasar pengobatan TBC pada anak tidak berbeda dengan
pada orang dewasa, tetapi ada beberapa hal yang memerlukan
perhatian :
1) Pemberian obat baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan
diberikan setiap hari.
2) Dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak (anak
yang berat badannya kurang dari 5 kg harus dirujuk).

25
Sebagai pengobatan pencegahan pada anak, semua anak yang
tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA
positif beresiko lebih besar untuk terinfeksi. Infeksi pada anak ini,
dapat berlanjut menjadi penyakit tuberculosis. Sebagian menjadi
penyakit yang lebih serius (misalnya meningitis dan milier) yang
dapat menimbulkan kematian.
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah
atau kontak erat dengan penderita TBC, perlu untuk dilakukan
pemeriksaan :
1) Bila anak mempunyai gejala gejala seperti TBC harus
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sesuai dengan alur deteksi
dini TBC pada anak.
2) Bila anak balita tidak mempunyai gejala gejala seperti TBC,
harus diberi pengobatan pencegahan dengan Isoniasid (INH)
dengan dosis 5 mg per kg berat badan perhari selama 6
bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi
BCG, perlu diberi BCG setelah pengobatan pencegahan
dengan INH selesai.
c. Pengobatan tuberculosis pada keadaan khusus
1) Wanita hamil
Pada prinsipnya pengobatan TBC pada wanita hamil berbeda
dengan pengobatan TBC pada umumnya. Semua jenis obat OAT
aman untuk wanita hamil, kecuali streptomisin. Streptomisin tidak
dapat dipakai pada wanita hamil karena bersifat permanent
ototoxic dan dapat menembus barier placenta. Keadaan ini akan

26
mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan
keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan
dilahirkannya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa
keberhasilan pengobatan sangat penting artinya supaya proses
kelahiran berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkannya
terhindar dari kemungkinan tertular TBC.
2) Ibu menyusui dan bayinya
Pada prinsipnya pengobatan TBC pada ibu menyusui tidak
berbeda dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT
aman, ibu dan bayi juga tidak perlu dipisahkan. Pengobatan
pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi sesuai dengan
berat badannya.
3) Penderita TBC dengan infeksi HIV / AIDS
Prosedur pengobatan sama seperti penderita TBC lainnya.
Karena obat TBC pada penderita HIV / AIDS sama efektifnya.
4) Penderita TBC dengan hepatitis akut
Menunggu sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan,
tapi pada keadaan dimana pengobatan TBC sangat diperlukan,
penderita dapat diberi streptomisin dan etambutor maksimal 3
bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan
rifampisin dan isoniasid selama 6 bulan.
5) Penderita TBC dengan gangguan ginjal
Sama dengan penderita yang lain, hanya saja dosis streptomisin
dan eambutor harus sesuai faal ginjal dengan pengawasan

27
fungsi ginjal, karena streptomisin dan etambutol diekskresi
melalui ginjal.
6) Penderita TBC dengan Diabetes Mellitus
Rifampisin mengurangi efektifitas obat anti diabetes (sulfonil
urea) sehingga doissnya perlu ditingkatkan, sedangkan
etambutol mempunyai komplikasi dengan mata jika digunakan
disini.
2.3.5.3 Efek Samping Obat Anti Tuberculosis
Sebagian besar penderita TBC dapat menyelesaikan pengobatan
tanpa efek samping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek
samping. Oleh karena itu pemantauan kemungkinan terjadinya efek
samping sangat penting dilakukan selama pengobatan.
Pemantauan efek samping obat dilakukan dengan cara :
1. Menjelaskan kepada penderita tanda tanda efek samping
2. Menanyakan adanya gejala efek samping pada waktu penderita
mengambil OAT.
Efek samping OAT
1. Efek samping berat yaitu efek samping dapat menjadi sakit serius.
Dalam kasus ini maka pemberian OAT harus dihentikan dan
penderita harus segera dirujuk ke UPK spesialistik.
2. Efek samping ringan yaitu hanya menyebabkan sedikit perasaan
yang tidak enak. Gejala gejala ini sering dapat ditanggulangi
dengan obat obat simptomatik atau obat sederhana, tetapi
kadang kadang menetap untuk beberapa waktu selama
pengobatan. Dalam hal ini pemberian OAT dapat diteruskan.

28
2.3.5.4 Hasil Pengobatan dan Tindak Lanjut
Hasil pengobatan seorang penderita dapat dikategorikan
sebagai : sembuh, pengobatan lengkap, meninggal, pindah (Transfer
Out), Defaulter (lalai) / DO dan gagal.
1. Sembuh
Penderita dinyatakan sembuh bila penderita telah menyelesaikan
pengobatannya secara lengkap, dan pemeriksaan ulang dahak
(follow up) paling sedikit 2 (dua) kali berturut turut hasilnya
negatif (yaitu pada AP dan / atau sebulan sebelum AP, dan pada
satu pemeriksaan follow up sebelumnya).
Tindak lanjut : Penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali
supaya memeriksakan diri dengan mengikuti prosedur tetap.
2. Pengobatan lengkap
Adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatannya
secara lengkap tapi tidak ada hasil, pemeriksaan ulang dahak 2
kali berturut turut negatif.
Tindak lanjut : Penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali
supaya memeriksakan diri dengan mengikuti prosedur tetap.
3. Meninggal
Adalah penderita yang dalam masa pengobatan diketahui
meninggal karena sebab apapun.
4. Pindah
Adalah penderita yang pindah berobat ke daerah Kabupaten /
Kota lain Tindak lanjut : Penderita yang ingin pindah, dibuatkan

29
surat pindah dan bersama sisa obat dikirim ke UPK yang baru.
Lalu hasil pengobatan dikirim kembali ke UPK asal.
5. Defaulter atau DO (lalai)
Adalah penderita yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut
turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. Tindakan
lanjut : lacak penderita tersebut dan beri penyuluhan mengenai
pentingnya berobat secara teratur. Apabila penderita akan
melanjutkan pengobatan, lakukan pemeriksaan dahak. Bila positif,
mulai pengobatan dari awal dan bila negatif sisa pengobatan
dilanjutkan.
6. Gagal
1) Penderita TBC paru yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum
akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan.
Tindak lanjut : Berikan pengobatan mulai dari awal
2) Penderita TBC negatif yang hasil pemeriksaan dahaknya
pada akhir bulan ke 2 menjadi positif.
Tindak lanjut : Berikan pengobatan mulai dari awal.
2.3.5.5 Tatalaksana Penderita Berobat Tidak Teratur
Seorang penderita kadang kadang berhenti minum obat sebelum
masa pengobatan selesai. Hal ini dapat terjadi karena penderita belum
memahami bahwa obat harus ditelan seluruhnya dalam waktu yang
telah ditetapkan. Petugas kesehatan harus mengusahakan agar
penderita yang tidak patuh berobat tersebut kembali ke UPK.
Pengobatan yang diberikan tergantung tipe penderita, lamanya

30
pengobatan sebelumnya, lamanya tidak patuh berobat, dan bagaimana
hasil pemeriksaan dahak sewaktu dia kembali berobat.
2.3.6 Dampak dari Kejadian Droup Out
2.3.6.1 Penderita tetap Hidup
Kegagalan dalam proses pegobatan TBC berdampak negatif pada
kesehatan masyarakat dan keberhasilan pencapaian program,
karena masih memberi peluang terjadinya penularan penyakit TB
Paru kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Selain itu
memungkinkan terjadinya resistensi kuman TB Paru terhadap Obat
Anti Tuberkulosis (OAT), sehingga menambah penyebarluasan
penyakit TB Paru, meningkatkan kesakitan dan kematian akibat TB
Paru (Amiruddin, 2006).
2.3.6.2 Penderita meninggal
Kematian memberikan dampak sosial dan psikologis bagi keluarga
yang ditinggalkan, khususnya yang meninggal adalah pencari nafkah
keluarga. Munculnya tekanan ekonomi bagi keluarga yang
ditinggalkan oleh pasien TB yang berstatus sebagai pencari nafkah
sering dijumpai pada kasus kematian yang diakibatkan oleh
kegagalan proses pengobatan TBC.
31

BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual











Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Hubungan Klasifikasi Pendapatan
dengan Kejadian Pasien Drop out TBC di Kota Malang

Faktor penyebabseorang pasien TBC putus obat antara lain adalah
daerah tempat tinggal, usia, status ekonomi, pendidikan, akses menuju
pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan, presepsi keparahan penyakit,
tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, Pengawas Minum Obat (PMO),
penyakit penyerta, efek samping obat dan jenis obat. Dalam penelitian ini
difokuskan pada status ekonomi, dengan indikator klasifikasi pendapatan
keluarga dari penderita TBC. Pendapatan keluarga akan membatasi
kemampuan kelarga dalam mengakses pelayanan primer yang berarti
dapat mendorong terhadap terjadinya drop out karena ketidak mampuan
keluarga dalam menyediakan obat dan informasi tentang pengobatan.
Faktor yang Mempengaruhi
Gejala Putus Obat :
1. Daerah tempat tinggal
2. Usia

3. Status ekonomi

4. Pendidikan
5. Akses menuju pelayanan
kesehatan
6. Fasilitas kesehatan
7. Presepsi keparahan
penyakit
8. Tingkat pengetahuan
9. Dukungan keluarga
10. Pengawas Minum Obat
(PMO)
11. Penyakit Penyerta
12. Efek Samping Obat
13. Jenis Obat
Tingkat
Pendapatan
Gejala Putus Obat
(Drop Out)
Pemenuhan
Kebutuhan Obat

32
3.2 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah semakin rendah tingkat
pendapatan keluarga, semakin tinggi resiko drop out pada pasien TBC di
Kota Malang.


33

BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian
case control yaitu studi analitik yang menganalisis hubungan kausal dengan
menggunakan logika terbalik, yaitu menentukan penyakit (outcome) terlebih
dahulu kemudian mengidentifikasi penyebab (faktor risiko) (Notoatmodjo,
2008). Dalam penelitian ini desainnya adalah sebagai berikut :
Pendapat Rendah
Tidak Drop Out
Pendapatan Tinggi
Pendapat Rendah
Drop Out
Pendapatan Tinggi
Gambar 4.1 Desain Penelitian
4.2 Populasi Sampel dan Sampling
4.2.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien TBC di Kota
Malang.
4.2.2 Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian
pasien TBC di Kota Malang.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah :
n =



34
Keterangan :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d = Taraf signifikan dalam penelitian ini digunakan 0,05
Kriteria sampel yang dipilih adalah :
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Bersedia menjadi responden
2) Pasien yang sedang dalam proses pengobatan
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Pasien yang menjalani pengobatan kurang dari 2 bulan
2) Pasien yang berpindah domisili.
4.2.3 Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan adalah metode purposive
sampling yaitu pengambilan sampel sesuai dengan kriteria peneliti.

4.3 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini variabel penelitian yang digunakan adalah :
1. Variabel Independen (X)
Klasifikasi pendapatan keluarga.
2. Variabel Dependen (Y)
Kejadian gejala putus obat.



35
4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2013 di Kota Malang.

4.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengukur klasifikasi pendapatan
adalah kuesioner. Sedangkan untuk mengukur kejadian drop out menggunaka
kartu kontrol pengobatan TBC.

4.6 Definisi Operasional
Tabel 4.1. Definisi Operasional Hubungan Klasifikasi Pendapatan dengan
Kejadian Pasien Drop out TBC di Kota Malang
Variabel
Definisi
Operasional
Parameter Instrument Skala Hasil Ukur

1.Variabel
Independent

Klasifikasi
pendapatan
keluarga





Adalah
pemberian
kategori pada
pendapatan
yang telah
diperoleh
keluarga
dalam 1 bulan
dalam satuan
rupiah




Jumlah
pendapatan
seluruh anggota
keluarga




Kuesioner












Ordinal






1. Rendah jika
pendapatan
keluarga < Rp
1.340.300
2. Cukup jika
pendapatan
keluarga
antara Rp
1.340.300
sampai
dengan Rp.
2.680.600.
3. Sedang jika
pendapatan
keluarga
antara lebih
dari Rp.
2.680.600
sampai
dengan Rp.
4.020.900

36
Variabel
Definisi
Operasional
Parameter Instrument Skala Hasil Ukur
4. Tinggi jika
pendapatan
keluarga lebih
dari 4.020.900


2.Variabel
Dependen
Kejadian
Drop Out
Pasien TBC




Adalah apabila
pasien yang
diteliti sudah
tidak
mengkonsumsi
obat secara
teratur dalam 2
bulan terakhir



Konsumsi Obat
2 Bulan Terakhir


Kartu
Kontrol
Pengobatan
TBC


Nominal


1. Drop Out
2. Tidak Drop
Out


4.7 Prosedur Pengumpulan Data
Setelah peneliti mendapatkan persetujuan dari institusi PSIK Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya dan pimpinan lokasi penelitian, kemudian
peneliti mengadakan pendekatan kepada responden. Responden diberi
penjelasan tentang tujuan penelitian, kemudian meminta responden untuk
mengisi lembar persetujuan.
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan
melakukan pengukuran variabel dependen dan independen.
4.8 Analisa Data
Setelah data terkumpul, maka dilakukan pengolahan data melalui
tahapan Editing, Coding, Skoring, dan Tabulating.
1. Editing
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengedit data, yaitu :

37
a. Kelengkapan dan kesempurnaan data
b. Data sudah cukup jelas tulisannya untuk dapat dibaca atau tidak
c. Semua catatan dapat dibaca atau tidak
d. Jawaban yang kurang jelas pada lembar kuesioner maka responden
diminta untuk mengisi kembali.
2. Coding
Pada saat penelitian, peneliti memberikan kode berupa angka yaitu :
a. Klasifikasi Pendapatan
1) Rendah Kode 1
2) Cukup Kode 2
3) Sedang Kode 3
4) Tinggi Kode 4
b. Kejadian Drop Out
1) Drop Out Kode 1
2) Tidak Drop Out Kode 2
3. Scoring
Memberikan skor terhadap item yang perlu diskor, lalu memberikan
kode terhadap item yang tidak diskor.
4. Tabulating
Membuat tabulasi termasuk kerja memproses data. Membuat tabulasi
tidak lain adalah memasukkan data kedalam tabel dan mengatur angka
sehingga dapat diukur atau dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori.

38
Setelah data terkumpul dianalisa secara deskriptif, dengan
pengkategorian untuk klasifikasi pendapatan sebagai berikut :
1. Rendah jika pendapatan keluarga < Rp 1.340.300
2. Cukup jika pendapatan keluarga antara Rp 1.340.300 sampai dengan Rp.
2.680.600.
3. Sedang jika pendapatan keluarga antara lebih dari Rp. 2.680.600 sampai
dengan Rp. 4.020.900
4. Tinggi jika pendapatan keluarga lebih dari 4.020.900
Sedangkan klasifikasi kejadian drop out adalah sebagai berikut :
1. Drop Out jika pasien mengkonsumsi obat secara tidak teratur dalam 2
bulan terakhir
2. Tidak Drop Out jika pasien mengkonsumsi obat secara teratur dalam 2
bulan terakhir.
Teknik analisa data yang digunakan untuk menguji hubungan dua
variabel dalam skala nominal dan skala ordinal menurut sugiyono (2010)
menggunakan uji chi square dengan = 0,05 dan untuk mangetahui kuat
tidaknya hubungan dengan menggunakan uji koefisien kontingensi. Mencari
nilai Chi Kuadrat dengan menggunakan rumus :
fh
fh fo
2
2
) (

Keterangan :
fo : frekuensi yang diperoleh berdasarkan data
fh : frekuensi harapan
: nilai chi-square

39
Untuk mengetahui hubungan klasifikasi pendapatan dengan kejadian
pasien drop out TBC di Kota Malang, dengan tingkat signifikansi < 0,05. Bila
< 0,05 maka H1 diterima Ho ditolak, dan bila > 0,05 maka H1 ditolak dan Ho
diterima.