Anda di halaman 1dari 10

Efek mineral trioxide aggregate dan formokresol pada pulpa vital setelah

pulpotomi pada gigi molar sulung: Penelitian in vitro


Abstrak
Latar belakang: Mempertahankan vitalitas pulpa merupakan hal yang sepenuhnya penting
bagi fungsi fisiologis normal gigi dan proses fisiologis eksfoliasi gigi yang terkena penyakit
atau trauma. Pulpotomi memberikan tujuan ini menggunakan berbagai medikamen yang
diaplikasikan langsung pada pulpa vital. Tujuan: tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengevaluasi secara klinis dan radiografis efek mineral trioxide aggregate (MTA) dan
formokresol (FC) sebagai dressing pulpa setelah pengeluaran pulpa koronal (pulpotomi) pada
gigi molar sulung secara prospektif selama periode 1 tahun. Bahan dan Metode: 33 anak
sehat, berusia antara 5 dan 8 tahun, yang membutuhkan perawatan pulpa dipilih setelah
pemeriksaan klinis dan radiografi. Jumlah 50 molar sulung rahang atas dan bawah dirawat
menggunakan teknik pulpotomi konvensional. Gigi dibagi menjadi dua kelompok dengan
jumlah sama. Pada grup A, formokresol digunakan sebagai bahan dressing pulpa, dan di grup
B, MTA digunakan sebelum restorasi menggunakan crown stainless steel. Penelitian yang
dilakukan merupakan penelitian retrospektif. Gigi yang dirawat diperiksa postoperatif setelah
1, 3, 6 dan 12 bulan. Hasil pengamatannya dimasukkan dalam tabel dan dianalisa statistik.
Hasil: Secara klinis, kedua kelompok menunjukkan 100% keberhasilan pada 1, 3, 6, dan 12
bulan. Pada bulan ketiga, tingkat keberhasilan radiografi formokresol dan MTA masing-
masing yaitu 92% dan 96%, dan pada 6 dan 12 bulan tingkat keberhasilan radiografi
formokresol dan MTA masing-masing 88% dan 96%. Kesimpulan: MTA menunjukkan
tingkat keberhasilan lebih tinggi daripada formokresol dan dapat menjadi bahan yang
menguntungkan untuk pulpotomi molar sulung yang pulpanya dibahayakan oleh terpaparnya
karies atau gangguan mekanis.
Kata kunci: Formokresol, Mineral Trioxide Aggregate, molar sulung, pulpotomi
Pendahuluan
Tujuan utama dalam kedokteran gigi anak yaitu menjaga gigi-geligi sulung dalam keadaan
utuh sampai gigi permanen pengganti erupsi. Gigi sulung penting bagi pemeliharaan panjang
lengkung, pengunyahan, fungsi bicara dan estetik serta mencegah kebiasaan oral yang
abnormal. Penyakit pulpa dan trauma pulpa dapat menyebabkan hilangnya vitalitas gigi. Ini
tidak berarti bahwa gigi harus dicabut; ini dapat bertahan di rongga mulut dalam keadaan
fungsional dengan perawatan yang tepat. Ini dapat dicapai melalui beragam prosedur yang
meliputi pulp capping indirect, pulp capping direct, pulpotomi, pulpektomi, dan apeksifikasi.
Pulpotomi merupakan prosedur yang dilakukan pada gigi dengan lesi karies dalam yang
dekat dengan pulpa, dimana pulpa koronal dikeluarkan untuk menjaga vitalitas pulpa
radikular. Sejumlah besar bahan seperti formokresol, glutaraldehida, ferric sulfat, zinc oxide
eugenol dan kalsium hidroksida telah digunakan selama beberapa tahun untuk pulpotomi.
Formokresol merupakan medikamen pulpotomi yang banyak digunakan pada gigi sulung
dalam 60 tahun terakhir. Perhatian meningkat mengenai toksisitas dan potensial
karsinogenitas formokresol pada manusia. Penelitian menunjukkan pemakaian sistemik
formokresol dari gigi yang dipulpotomi dan juga menunjukkan bahwa formokresol
menghasilkan kelainan pada gigi pengganti. Teknik alternatif dan bahan terapi pulpa telah
diajukan untuk menjaga sebagian vitalitas pulpa. Ini meliputi glutaraldehida, electrosurgery,
laser freeze-dried bone, bone morphogenic protein, osteogenic protein dan mineral trioxide
aggregate (MTA).
Pada saat ini, dengan pengenalan bahan baru, yang tidak hanya biokompatibel tapi juga
bioinduktif, penekanan telah berubah dari hanya pemeliharaan menjadi regenerasi. MTA
menarik perhatian dalam bidang endodontik dengan kemampuan penutupannya yang sangat
baik, biokompatibilitas, dan kemampuannya membentuk jembatan dentin, serta regenerasi
sementum dan ligamen periodontal. MTA memiliki kemampuan untuk merangsang pelepasan
sitokin dari sel tulang, yang menunjukkan bahwa ini dengan aktif membantu pembentukan
jaringan keras. Telah dibuktikan juga bahwa MTA memiliki sifat antimikroba yang mirip
dengan zinc oxide eugenol (ZOE) dan tidak memiliki efek sitotoksik. MTA telah diajukan
sebagai medikamen potensial untuk prosedur pulpotomi, capping pulpa yang mengalami
pulpitis reversibel, apeksifikasi, perbaikan perforasi akar dan perbaikan kelainan resorptif.
Karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memeriksa secara klinis dan
radiografi efek MTA sebagai dressing pulpa setelah pengeluaran pulpa koronal pada gigi
molar sulung dan dibandingkan dengan gigi yang dirawat dengan formokresol.
Bahan dan Metode
Kemungkinan ketidaknyamanan dan keuntungan prosedur dijelaskan secara keseluruhan pada
orang tua pasien dan persetujuan tertulis diperoleh sebelum perawatan. Izin etis untuk
melakukan penelitian diperoleh dari lembaga dewan peninjau. Anak normal, sehat dan
kooperatif untuk penelitian dipilih dari pasien yang datang ke Department of Pedodontics dan
Preventive Dentistry, I.T.S. Centre of Dental Studies and Research. Ghaziabad, Uttar
Pradesh, India. Penelitian dimulai pada Oktober 2007 dan selesai pada Juli 2009. Total 50
gigi molar sulung rahang atas dan bawah dipilih dari 33 anak yang membutuhkan terapi pulpa
dan berusia antara 5 dan 8 tahun, yang dipilih setelah pemeriksaan klinis dan radiografi.
Kriteria pemilihan gigi yang dimasukkan dalam penelitian ditunjukkan pada Tabel 1. Gigi
molar sulung dirawat dengan teknik pulpotomi konvensional. Gigi dibagi ke dalam dua
kelompok: pada Kelompok A, formokresol (Pharmadent Remedies PVT. Ltd., Gundlav,
India) digunakan sebagai bahan dressing pulpa dan MTA abu-abu (Proroot MTA, Dentsply,
Tulsa Dental, tulsa OK, USA) digunakan pada Kelompok B. Kasus yang masuk dalam
kriteria eksklusi dikeluarkan dan tidak masuk dalam penelitian. Pada kasus anak yang
membutuhkan pulpotomi padea dua gigi molar, gigi kedua dimasukkan ke kelompok
alternatif. Gigi yang dirawat diperiksa postoperatif setelah 1, 3, 6 dan 12 bulan.
Tabel 1: Kriteria pemilihan gigi yang dimasukkan ke dalam penelitian
Kriteria inklusi
Gigi molar sulung tak bergejala dengan lesi karies dalam
Terbukanya pulpa vital akibat karies
Tidak ada bukti klinis dan radiografi inflamasi pulpa dan degenerasi pulpa, seperti perdarahan
dari saluran akar, pembengkakan atau sinus tract, resorpsi internal, kerusakan tulang inter-
radikular, tidak ada kerusakan tulang periapikal dan tidak ada radiolusensi di daerah furkasi
Pulpa harus tidak mengalami inflamasi, dan tidak ada rasa sakit pada perkusi
Kriteria eksklusi
Perdarahan pulpa saat pengambilan pulpa
Gigi non-vital
Prosedur pulpotomi konvensional dilakukan tahap demi tahap dalam satu kali kunjungan
menggunakan anestesi lokal dan mengisolasi gigi dengan rubber dam. Setelah pembuangan
karies dengan round bur, akses koronal diperoleh menggunakan #330 high speed bur dengan
semprotan air untuk membuka ruang pulpa. Pembuangan atap ruang pulpa dilakukan dengan
menghubungkan tanduk pulpa dengan bur ujung tumpul. Pulpa koronal dieksisi sampai
orifice saluran akar dapat dilihat, tanpa tersisa jaringan pulpa di dasar pulpa, menggunakan
Hu-friedy sharp spoon excavator. Setelah pulpa diambil, ruang pulpa diirigasi dengan saline
untuk membersihkan debris dentin. Setelah irigasi, cotton pellet steril yang dibasahi saline
diaplikasikan selama 5 menit di daerah pulpa yang diambil untuk memperoleh hemostasis.
Setelah teknik standar selesai, gigi pada kelompok A dirawat dengan cotton pellet steril yang
dibasahi dengan formokresol yang diperas dua kali, yang ditempatkan di atas pulpa radikular
selama 5 menit dan kemudian dikeluarkan. Campuran tebal pasta zinc oxide eugenol
ditempatkan di atas jaringan perbaikan formokresol. Bahan tambal intermediat (IRM)
ditempatkan di atas lapisan zinc oxide eugenol pada kunjungan ini. Dalam waktu 1 minggu,
gigi direstorasi dengan stainless steel crown.
Pada kelompok B, sisa jaringan pulpa ditutupi dengan pasta MTA, yang diperoleh dengan
mencampur bubuk MTA dengan akuades yang disediakan oleh pabrik dengan perbandingan
3:1 (bubuk:cairan), yang ditempatkan di atas daerah tersebut dengan instrumen plastis.
Selanjutnya, campuran ditekan ke arah daerah pulpa dengan coton pellet basah. Cotton pellet
basah ditempatkan di ruang pulpa dan kavitas ditutupi dengan bahan tambal intermediat.
Pada tahap kedua (setelah 1 hari), pasien dipanggil kembali, cotton pellet dikeluarkan dan
kavitas direstorasi sementara dengan bahan tambal intermediat. Dalam waktu 1 minggu, gigi
direstorasi dengan stainless steel crown. Pada kedua kelompok, foto radiografi periapikal
diambil langsung setelah penempatan tambalan sementara.
Anak dipanggil kembali untuk pemeriksaan klinis dan radiografi postoperatif setelah 1, 3, 6,
dan 12 bulan. Foto radiografi periapikal diambil untuk semua molar yang dirawat kecuali
pada 1 bulan postoperatif. Anak diperiksa secara klinis pada saat follow-up mengenai tanda
dan gejala seperti rasa sakit, pembengkakan dan sinus/fistula serta secara radiografi untuk
melihat perubahan periapikal, radiolusensi furkasi dan resorpsi internal.
Perawatan dianggap gagal jika terdapat satu atau lebih tanda dan gejala yang disebutkan di
atas, tapi kalsifikasi pulpa tidak dianggap gagal.
Semua data dimasukkan ke dalam MS Excel dan dianalisa dengan software Epi-Info 2002
untuk menilai tingkat keberhasilan perawatan dengan MTA dan formokresol selama 12
bulan. Perbedaan antara efek kedua bahan dianalisa statistik menggunakan Fishers exact test
dan P < 0,05 dianggap signifikan secara statistik.
Hasil
Semua 50 gigi pada 33 anak tersedia untuk analisis tingkat keberhasilan/kegagalan. Rentang
usia subjek dari 5 sampai 8 tahun, dengan rata-rata (SD) usia 6,04 (+0,84) tahun pada
kelomok formokresol dan 6,44 (1,12) tahun pada kelompok MTA. Distribusi gigi
berdasarkan jenis gigi dan bahan yang digunakan ditunjukkan pada Tabel 2.
Total 12 molar satu sulung dan 38 molar 2 sulung dirawat dengan teknik pulpotomi
konvensional. Anak dari kedua kelompok dievaluasi selama 12 bulan postoperatif. Evaluasi
follow-up menunjukkan 100% keberhasilan berdasarkan tanda dan gejala klinis pada kedua
kelompok. Tidak ada dari gigi-gigi pada kedua kelompok yang menunjukkan patologi klinis
pada akhir bulan ke-12 saat diamati oleh peneliti yang sama. Fishers exact test tidak
dibutuhkan untuk tanda klinis karena tidak ada sampel yang menunjukkan tanda klinis
kegagalan, yang memberikan 100% keberhasilan perawatan.
Evaluasi radiografi pada follow-up 3, 6, dan 12 bulan pada kedua kelompok ditunjukkan pada
Tabel 3. Kasus yang menunjukkan radiolusensi furkasi dan resorpsi internal pada pulpotomi
formokresol dan dianggap gagal ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2. Kasus yang menunjukkan
resorpsi internal pulpotomi MTA ditunjukkan pada Gambar 3. Namun, kedua kelompok tidak
menunjukkan pernubahan periapikal pada interval tersebut. Kalsifikasi pulpa ditemukan pada
tiga kasus gigi yang dirawat MTA (Kelompok B) dan tidak dianggap sebagai kegagalan. Dari
25 gigi yang dirawat pada kedua kelompok, 22 pada Kelompok A dan 24 pada Kelompok B
tidak menunjukkan perubahan radiografi, yang memberikan masing-masing 88% dan 96%
tingkat keberhasilan.
Analisis statistik dilakukan menggunakan Fishers exact test mengenai temuan radiografi
pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok setelah 12
bulan evaluasi radiografi (P = 0,61).
Diskusi
Tujuan terapi pulpa pada pasien anak yaitu keberhasilan perawatan gigi yang melibatkan
pulpa dan untuk menjaga gigi dalam keadaan sehat sehingga dapat memenuhi tugasnya
sebagai komponen gigi-geligi sulung dan permanen muda yang bermanfaat.
Laporan ini bertujuan untuk memeriksa tingkat keberhasilan secara klinis dan radiografi
pulpotomi dengan MTA, bahan dengan bukti keberhasilan pada banyak prosedur endodontik.
Beberapa penelitian in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa MTA mencegah microleakage,
biokompatibel, dan membantu regenerasi jaringan asli jika ditempatkan berkontak dengan
pulpa atau jaringan periradikular. Formokresol dipilih karena masih dianggap sebagai
standar emas dalam kedokteran gigi anak, mungkin karena penggunaannya yang mudah
dan keberhasilan klinis yang sangat baik. Perkiraan dosis yang berhubungan dengan satu
prosedur pulpotomi yaitu, 1:5 cairan formokresol ditempatkan pada cotton pellet no.4 yang
telah diperas sampai kering, kira-kira 0,02-0,10 mg.
Anak dari usia 5 sampai 8 tahun dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi untuk
penelitian, tanpa membedakan jenis kelamin. Kelompok usia ini dipilih dengan pertimbangan
kurangnya kooperatif pasien pada anak usia kurang dari 5 tahun serta resorpsi akar fisiologis
(> akar) pada usia diatas 8 tahun. Molar satu dan dua sulung dari kedua rahang
dimasukkan dalam penelitian ini. Secara klinis, tingkat keberhasilannya 100% pada kedua
kelompok pada periode pengamatan. Hasil ini sama dengan hasil beberapa penelitian
sebelumnya.
Keberhasilan klinis pulpotomi formokresol dalam penelitian ini dapat dihubungkan dengan
pemilihan kasus dengan benar, standar asepsis yang tinggi, protokol teknik yang sesuai serta
penggunaan medikamen yang tepat. Selain itu, kerja gemisidal dan bakterisidal formokresol,
dan juga kualitas perlekatannya mungkin berperan dalam keberhasilan ini. Keberhasilan
klinis MTA dalam penelitian ini dapat dianggap karena faktor yang disebutkan di atas dan
juga kemampuan penutupannya yang sangat baik, biokompatibilitas, alkalinitas, serta
kemampuan regenerasi jaringan keras. Efek MTA pada jaringan pulpa yang telah diambil
tampaknya menunjukkan bahwa bahan ini menjaga jaringan pulpa dan membantu regenerasi
jaringan keras.
Secara radiografi pada Kelompok A, saat bulan ketiga tampak resorpsi internal dan
perubahan pada furkasi pada satu gigi serta perubahan pada furkasi saja pada satu gigi. Pada
follow-up 6 bulan, tampak perubahan pada furkasi pada satu gigi lain, mirip dengan hasil
pada penelitian sebelumnya.
Resorpsi internal merupakan hasil aktivitas odontoklas dan menunjukkan bahwa gigi tersebut
menyimpan beberapa derajat vitalitas dan fungi seiring waktu. Walaupun penyebab resorpsi
internal tidak diketahui, terdapat spekulasi bahwa apapun faktor yang menimbulkannya,
menyebabkan perubahan vaskular pada pulpa yang melibatkan inflamasi dan pembentukan
jaringan granulasi. Alasan terjadi resorpsi internal setelah pulpotomi dipercaya merupakan
efek iritasi medikamen yang terdapat dalam pasta. Penelitian sebelumnya ZOE sebagai bahan
pulpotomi atau sebagai basis untuk pulpotomi menunjukkan bahwa Zoe dapat menyebabkan
inflamasi pulpa, dengan resiko terjadinya resorpsi internal. Smith,dkk menyatakan bahwa
resorpsi internal berhubungan dengan eugenol. ZOE, saat digunakan sebagai basis pada
pulpotomi, berkontak dengan lingkungan sangat perfuse pulpa dan mengalami hidrolisis zinc
eugenol yang memisahkan eugenol dan zinc hidroxide. Eugenol ini mengalami kontak
langsung dengan jaringan vital dan menyebabkan respon inflamasi sedang sampai parah,
mengakibatkan inflamasi kronis dan nekrosis. Namun, ini tidak menjelaskan resorpsi internal
pada penelitian ini karena pasta ZOE ditempatkan sebagai sub-base pada jaringan perbaikan
formokresol. Cotes,dkk menyatakan bahwa jika jaringan pulpa diberikan formokresol, ini
tidak akan terpengaruh dengan eugenol, serta Smith,dkk juga menyatakan bahwa aplikasi
formokresol pada pulpa berperan sebagai penghalang terhadap eugenol.
Pada penelitian ini, lebih cenderung bahwa resorpsi internal merupakan akibat dari inflamasi
kronik yang tidak terdiagnosa yang muncul dalam pulpa radikular setelah pulpotomi daripada
akibat terpaparnya pulpa radikular oleh eugenol. Karena itu, penyembuhan jaringan pulpa
menjadi normal terhambat, menyebabkan tertundanya penyelesaian teknik. Peningkatan
waktu prosedur menyebabkan sejumlah inflamasi dalam jaringan pulpa yang dapat
mengakibatkan respon berlebihan dalam bentuk resorpsi internal. Namun, karena progres
aktivitas tersebut terbatas, respon seperti ini tidak dapat dianggap sebagai kegagalan prosedur
pada tingkat mikro.
Alasan lain yang memungkinkan mengenai resorpsi internal yaitu efek fiksatif formokresol
dan pH iritatifnya.
Perubahan furkasi dapat tampak akibat adanya sisa-sisa mikro pulpa bahkan setelah
pengeluaran jaringan pulpa koronal. Terjadinya perubahan tersebut dapat tergantung pada
konsentrasi medikamen dan waktu aplikasi formokresol.
Pada kelompok MTA, satu gigi menunjukkan resorpsi internal pada bulan ke-3, yang tidak
berlanjut dalam periode 9 bulan kemudian. Ini kemungkinan merupakan hasil inflamasi
kronik yang tak terdiagnosa yang terdapat dalam pulpa radikular setelah pulpotomi. Temuan
yang mirip tampak pada durasi 25-38 bulan dalam dua kasus pada penelitian Jabbarifar,dkk.
Karena MTA mengandung bahan tinggi alkalin, tidak menutup kemungkinan adanya respon
berlebihan pulpa. Hal ini diketahui dari beberapa penelitian bahwa kalsium hidroksida yang
ditempatkan pada pulpa gigi sulung bereaksi dan dengan menghasilkan resorpsi internal.
Resorpsi internal dapat terjadi akibat stimulasi berlebihan pulpa gigi sulung dengan kalsium
hidroksida yang tinggi alkalin. Stimulasi berlebih yang dipicu oleh alkalinitas tinggi dapat
menyebabkan metaplasia dalam jaringan pulpa, mengakibatkan pembentukan odontoklas.
Walaupun MTA tidak mengandung kalsium hidroksida, ini memiliki kalsium oksida yang
membentuk kalsium hidroksida jika dicampur dengan air. Menurut Holland,dkk, reaksi
kalsium dari kalsium hidroksida dengan karbondioksida dari jaringan pulpa menghasilkan
kristal kalsit. Kristal kalsit ini menarik fibronektin, yang bertanggung jawab untuk adhesi dan
diferensiasi selular. Karena itu, kami percaya bahwa mekanisme kerja MTA mirip dengan
kalsium hidroksida.
Pada penelitian ini, di kelompok B, tampak resorpsi internal saat durasi 3 bulan dan tidak
berlanjut ke perforasi akar dan perubahan tulang. Karena itu, resorpsi internal ini dapat
diabaikan sebagai alasan sejumlah besar inflamasi pada saat pulpotomi.
Kalsifikasi pulpa ditemukan pada tiga kasus dalam kelompok B dan tidak dianggap gagal,
tapi merupakan akibat aktivitas odontoblas, dan dapat menunjukkan bahwa gigi tersebut
menyimpan beberapa derajat vitalitas dan fungsi seiring waktu.
Pada penelitian ini, tingkat keberhasilan radiografi formokresol dan MTA masing-masing
88% dan 96% pada follow-up 12 bulan. Namun, perbedaan dalam tingkat keberhasilan ini
tidak signifikan secara statistik (P = 0,061) seperti dilaporkan pada penelitian sebelumnya.
Mumifikasi pulpa yang dipicu formokresol hanya merawat gejalanya, tapi tidak memiliki
kemampuan menyembuhkan. Tujuan pulpotomi formokresol hanya secara klinis yaitu
menjaga gigi dalam kondisi asimptomatik sampai tanggalnya gigi secara normal. Tampak
bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa tujuannya bukan lagi mumifikasi sempurna.
Dinyatakan dalam istilah modern, dasar pemikiran pulpotomi formokresol yaitu memperbaiki
jaringan radikular sementara memungkinkan pemulihan sel dan kemungkinan penggantian
dengan jaringan perbaikan. Gigi yang dirawat dengan formokresol menunjukkan tanggalnya
gigi sulung yang lebih awal. Dilaporkan pula kasus kista dentigerous dan nekrosis tulang
krestal yang berhubungan dengan penggunaan formokresol dalam pulpotomi.
Formokresol baru-baru ini menjadi tinjauan kritis dan 3 hal mengenai bahan ini harus berada
di bawah inspeksi langsung: pertama toksisitas lokal, kedua efek bahan secara sistemik dan
terakhir efek mutagen dan karsinogen.
MTA tampak memenuhi persyaratan untuk menjadi bahan pulp capping. Keuntungan MTA
mungkin berhubungan dengan kemampuan penutupannya untuk mencegah penetrasi bakteri
dan juga tingkat biokompatibilitasnya yang tinggi. Ini merangsang pembentukan jembatan
dentin dan mencegah kebocoran mikro. MTA merupakan bahan dengan teknik sensitif dan
membutuhkan sekitar 4 jam untuk mengeras saat berkontak dengan lingkungan lembab.
Bahan ini mengeras dengan lambat, tapi waktu pengerasan lambat ini mencegah pengerutan
saat mengeras.
Evaluasi histologi jaringan pulpa pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa MTA
menghasilkan pembentukan jembatan dentin yang lebih tebal, dengan inflamasi, hiperemi,
dan nekrosis pulpa lebih sedikit dibandingkan dengan kalsium hidroksida. MTA juga memicu
jembatan dentin lebih cepat daripada kalsium hidroksida pada daerah pulpa setelah
pulpotomi. MTA menunjukkan arsitektur pulpa yang paling mirip dengan pulpa normal
dengan menjaga lapisan odontoblas.
Keuntungan klinis penting MTA dibandingkan formokresol yaitu lebih sedikit waktu yang
dibutuhkan untuk prosedur, sementara formokresol membutuhkan aplikasi 3-5 menit sebelum
cotton pellet dikeluarkan. Sementara pada MTA, ruang pulpa diisi dengan bahan tambal
intermediat segera setelah aplikasi bahan dressing. Selain itu, saat pengeluaran cotton pellet
yang dibasahi formokresol, terdapat kemungkinan serat kapas tertinggal pada bekuan darah,
menyebabkan perdarahan terjadi kembali. Ini tidak terjadi pada MTA karena diaplikasi
langsung tanpa cotton pellet.
Salah satu faktor yang membatasi penggunaan rutin MTA merupakan harga bahan yang
mahal, walaupun tingkat keberhasilan tinggi dilaporkan dengan pemakaian MTA, akses ulang
saluran akar pada kasus indikasi terapi pulpa lebih lanjut tidak memungkinkan untuk
kalsifikasi pulpa.
Kesimpulan
MTA menunjukkan keberhasilan klinis dan radiografi sebagai bahan dressing setelah
pulpotomi pada gigi sulung setelah periode evaluasi jangka pendek dan memiliki potensi
menjanjikan untuk menjadi pengganti formokresol pada gigi sulung.
Walaupun formokresol merupakan pusat banyak kontroversi dalam 20 tahun terakhir, ini
masih digunakan dalam prosedur pulpotomi. Namun, MTA tampaknya memiliki potensi
menjanjikan yang lebih besar untuk menjadi pengganti formokresol pada gigi sulung kecuali
faktor harga dan sensitivitas teknik. Penelitian histologis lebih lanjut menggunakan jumlah
sampel lebih besar dan periode pengamatan lebih lama harus dilakukan di masa akan datang.
Gambar 1. Foto radiografi preoperatif dan postoperatif molar dua bawah sulung yang
dirawat dengan pulpotomi formokresol menunjukkan resorpsi internal dan radiolusensi
furkasi. (a) foto radiografi preoperatif; (b) foto radiografi yang diambil 3 bulan postoperatif
menunjukkan gambaran kegagalan pulpotomi; (c) Foto radiografi yang diambil 6 bulan
postoperatif menunjukkan gambaran kegagalan pulpotomi; (d) foto radiografi yang diambil
12 bulan postoperatif menunjukkan gambaran kegagalan dalam pulpotomi.
Gambar 2. Foto radiografi preoperatif dan postoperatif molar dua bawah sulung yang
dirawat dengan pulpotomi formokresol menunjukkan radiolusensi furkasi. (a) foto radiografi
preoperatif; (b) foto radiografi yang diambil segera setelah pulpotomi formokresol dan
direstorasi dengan stainless steel crown; (c) foto radiografi yang diambil 6 bulan postoperatif
menunjukkan gambaran kegagalan pulpotomi; (d) foto radiografi yang diambil 12 bulan
postoperatif menunjukkan gambaran kegagalan pulpotomi.
Gambar 3. Foto radiografi preoperatif dan postoperatif molar dua bawah sulung yang dirawat
dengan pulpotomi MTA menunjukkan resorpsi internal. (a) foto radiografi preoperatif; (b)
Foto radiografi postoperatif yang diambil segera setelah pulpotomi MTA dan direstorasi
dengan stainless steel crown; (c) Foto radiografi yang diambil 3 bulan postoperatif
menunjukkan gambaran kegagalan pulpotomi; (d) Foto radiografi yang diambil 6 bulan
postoperatif menunjukkan gambaran kegagalan pulpotomi.
Tabel 2. Distribusi gigi yang diperiksa berdasarkan jenis bahan
Tabel 3. Pemeriksaan tanda radiografi pada bulan ke-3, 6, dan 12
Tanda radiologi:
Resorpsi internal
Radiolusensi furkasi
Perubahan periapikal

Referensi:
Teknik sensitif: membutuhkan ketelitian yang tinggi dan dilakukan dengan hati-hati
Bahan tambal intermediat:
http://www.free-ed.net/sweethaven/medtech/dental/dentmat/lessonMain.asp?iNum=fra0206

Anda mungkin juga menyukai