Anda di halaman 1dari 4

Sementoblastoma Multipel: Laporan Kasus Langka

Sementoblastoma jinak merupakan tumor odontogenik ektomesenkim yang berasal dari akar
gigi dan memiliki karakteristik terbentuknya jaringan seperti sementum. Laki-laki berusia 60
tahun dirujuk pada kami mengeluhkan rasa sakit pada rahang kanannya. Pasien menjalani TC
dental scan pada rahang bawah, yang menandai adanya unilocular neoformation bulat,
berbatas jelas yang tampak radioopak dengan tepi radiolusen, salah satu tumor berkontak
dekat dengan akar molar dua bawah kanan. Pemeriksaan mikroskop dengan sampel lebih
besar, pada bagian tengah terdapat mineralized acellular trabeculae dari basofil jaringan
seperti sementum, tidak ada pembuluh darah, melekat pada akar gigi, sementara secara
perifer diamati adanya daerah vaskularisasi tulang yang mengelilingi, yang kadang dikelilingi
oleh lingkaran tipis sementoblas bercampur dengan jaringan fibrous dan elemen inflamasi.
Lesi didiagnosa sebagai sementoblastoma. Lesi kedua tampak secara radiografi dan histologis
mirip dengan sementoblastoma, tapi tidak menunjukan hubungan dengan akar gigi. Setelah
tinjauan dengan teliti literatur, ditentukan diagnosis sementoblastoma residual. Gambaran
klinikopatologis, perawatan, dan prognosis tumor langka ini didiskusikan disini untuk para
dokter gigi.
Pendahuluan
Sementoblastoma jinak merupakan lesi langka di dalam rongga mulut, saat ini
diklasifikasikan oleh World Health Organization (WHO 2005) sebagai tumor odontogenik
ektomesenkim yang berasal dari akar gigi dan memiliki karakteristik pembentukan jaringan
mirip sementum. Ini biasanya muncul dari molar satu permanen di regio rahang bawah tapi
dapat juga berhubungan dengan beberapa gigi, gigi sulung, atau molar impaksi. Ras
kaukasian dan jenis kelamin laki-laki merupakan yang paling sering terkena daripada ras kulit
hitam dan jenis kelamin perempuan (perbandingan 2:1), dengan rentang usia yang besar dan
insidensi tertinggi antara dekade kedua dan ketiga kehidupan. Secara klinis, lesi tampak
dalam bentuk nodular, konsistensi keras-elastik yang menyebabkan pembengkakan di daerah
alveolar ridge. Parestesi bibir bawah atau temuan patologis pada rahang jarang ditemukan.
Temuan radiologi menunjukkan massa radioopak berbatas jelas dikelilingi oleh lingkaran
radiolusen tipis jaringan nonmineralisasi, yang berhubungan dekat dengan akar gigi yang
terlibat. Resorpsi akar gigi, kehilangan batas umum dengan rusaknya ligamen periodontal
merupakan gambaran klinis dan radiologi yang sering ditemukan. Kami menunjukkan kasus
langka sementoblastoma multipel: sementoblastoma klasik dengan sambungan langsung
dengan akar gigi (sementoma) dan sementoblastoma residual terlokalisir pada daerah tak
bergigi post-ekstraksi.
Laporan Kasus
Laki-laki berusia 60 tahun yang dirujuk pada kami mengeluhkan rasa sakit pada rahang
sebelah kanannya. Pemeriksaan riwayat medis pasien menunjukkan kesehatan umum baik,
tidak ada penyakit sistemik, dan memiliki kebiasaan merokok (10 rokok/hari). Pemeriksaan
klinis menunjukkan kebersihan mulut yang berlainan, biotip periodontal yang tebal dan datar,
maloklusi kelas II dengan kehilangan dalam ukuran vertikal, beberapa gigi hilang di daerah
14, 15, 15, 35, 36, 37, 45, 46, adanya pembengkakan konsistensi elastis, keras dan crepitus
pada palpasi di daerah yang berhubungan dengan gigi 44, 47 serta di daerah tak bergigi 46,
45. Foto panoramik menunjukkan sisa akar gigi 14, restorasi pada gigi 11, 21, 22, 26, adanya
lesi radioopak unilokular dekat apeks akar gigi 16 sementara pada rahang bawah
menunjukkan radiolusensi karies pada mahkota gigi 47 dan lesi lain menyebar ke badan
mandibula. Secara khusus, di daerah lesi ini terdapat: tiga lesi radioopak bulat unilokular
dengan radiolusen di sekitar lesi di dekat daerah tak bergigi 36, 46 serta berkontak dengan
akar gigi 47, yang tampilannya menunjukkan pembentukan tumor (Gambar 1); lesi radiolusen
bulat dengan pinggiran sekitar lesi radioopak pada apeks akar gigi 44 yang tampilannya
seperti kista radikular yang berasal dari endodontik. Tes vitalitas termal dengan chlor ethyl
pada gigi 44 dan 47 negatif.
Rencana perawatan awal meliputi implementasi terapi penyebab (motivasi kebersihan mulut,
probeing periodontal, scaling, dan root planing), ekstraksi sisa akar 14, perawatan endodontik
gigi 44 untuk menghilangkan lesi radiolusen periapikal serta perawatan endodontik gigi 47
untuk menyembuhkan pulpitis akut. Setelah 2 bulan, gejala akut mereda,dan untuk analisa
lesi yang tampak di foto panoramik dengan lebih baik, pasien menjalani TC dental scan pada
mandibula (Gambar 2), yang menekankan adanya tiga gambaran radioopak pembentukan
tumor unilocular bulat berbata jelas dengan tepi radiolusen, salah satunya berdekatan dengan
akar molar dua kanan bawah.
Perawatan bedah meliputi enukleasi dua lesi pada rahang sebelah kanan, yang berhubungan
dengan rasa sakit akut dilakukan dalam anestesi lokal dengan flap full-thickness,
pengambilan tulang menggunakan instrumen rotary, enukleasi lesi yang berhubungan dengan
daerah tak bergigi 46 serta enukleasi di daerah 47 bersama dengan giginya (Gambar 3) karena
lesi yang melekat dari akar ke gigi tidak memungkinkan dilakukan metode yang lebih
konservatif yaitu apisektomi. Akhirnya, setelah pembersihan rongga residual, flap dijahit
dengan jahitan kontinyu menggunakan ethicon 3-0.
Spesimen dikirim ke patologi bedah untuk diagnosis akhir. Kedua lesi diperiksa menyeluruh
(Gambar 4) dan kedua sampel secara makroskopik tampak nodular, konsistensi keras-elastis,
warna putih keabu-abuan berukuran 2x1 cm dan 1x1 cm, yang paling besar melekat pada
gigi. Sampel jaringan dimasukkan dalam formalin 10%, dekalsifikasi dengan formic acid,
kemudian diproses dan dimasukkan dalam parafin, dengan bagian yang dipotong 3-4 mikron.
Tiap bagian diwarnai dengan haematoxylin-eosin. Pemeriksaan mikroskopik sampel lebih
besar meliputi: pada bagian tengah, terdapat jaringan mineralized acellular trabeculae dari
basofil jaringan seperti sementum, tidak ada pembuluh darah, serta melekat pada akar gigi,
sementara dari perifer tampak daerah yang dikelilingi osteoid vaskularisasi, kadang dilapisi
dengan lingkaran tipis sementoblas bercampur dengan jaringan fibrous dan elemen inflamasi.
Lesi terbesar yang terhubung dengan akar gigi didiagnosa sebagai sementoblastoma (Gambar
5). Lesi kedua tampak secara radiologi dan histologi mirip dengan sementoblastoma, tapi
tidak menunjukkan hubungan dekat dengan akar gigi yang terlibat, sehingga memunculkan
diagnosa banding antara osteoblastoma dan sementoblastoma residual karena kedua lesi dapat
muncul dalam daerah tak bergigi setelah ekstraksi. Karena itu, setelah tinjauan teliti dan
mempertimbangkan data epidemiologi dan klinis, ditetapkan diagnosis residual
sementoblastoma daripada osteoblastoma. Gambaran klinikopatologi, perawatan, dan
prognosis didiskusikan. Ini dalam persetujuan umum dengan pengamatan dari literatur ilmiah
internasional, yang menyatakan bahwa jika sementoblastoma dirawat dengan benar, ini tidak
akan muncul lagi. Follow up setelah satu tahun pada kedua tumor tidak terdapat rekurensi.
Gambaran lesi yang ada pada daerah tersebut tidak berubah (Gambar 6). Walaupun tumor ini
jarang terjadi, dokter gigi harus sadar mengenai gambaran klinis dan radiografi yang berperan
dalam diagnosa dan perawatan lebih awal.
Diskusi
Lokasi dan gambaran histologis sementoblastoma junak sangat mirip dengan osteoblastoma.
Osteoblastoma merupakan tumor jinak langka yang berasal dari tulang, yang terdapat
lingkaran osteoblas mengelilingi trabekula membentuk lesi berbatas jelas, biasanya diameter
lebih besar dari 2 cm. Tumor ini mengenai pasien muda; pada 90% kasus laki-laki berusia
kurang dari 30 tahun dan daerah yang sering terkena yaitu rahang bawah; lebih banyak pada
badan mandibula daripada bagian tengah atau prosesus koronoid. Secara radiografi tampak
lesi berbatas jelas dengan pola bercampur, lytic dan sklerotik, yang menunjukkan derajat
mineralisasi matirks yang berbeda. Dianggap bahwa kedua lesi ini merupakan manifestasi
proses yang sama dan penggunaan istilah yang satu daripada yang lain semata-mata karena
aktivitas akademis. Benar, menurut literatur terbaru, perbedaannya yaitu fakta bahwa
osteoblastoma tidak melebur pada akar gigi seperti pada kasus sementoblastoma yang sering
melibatkan ligamen periodontal. Peneliti lain seperti Slootweg mengklasifikasikan sebagai
osteoblastoma pada lesi yang berhubungan dengan saluran akar tapi tidak bergabung
dengannya. Pada kasus ini, lesi kedua memberikan masalah lebih lanjut dalam diagnosis
banding; faktanya tidak mungkin menilai hubungan dengan akar gigi karena tumor timbul di
daerah tak bergigi setelah ekstraksi. Sementoblastoma jinak juga harus dibedakan dari proses
nonneoplastik seperti osteoid osteoma yang walaupun mudah dibedakan dari gambaran
mikroskopik, yang menunjukkan trabekula tebal osteoid di bagian tengah daripada bagian
perifer. Setelah evaluasi daerah tumor, usia pasien, dan jarang terjadinya penyakit dalam
literatur hubungan sinkron sementoblastoma dan osteoblastoma, kami memilih diagnosis
sementoblastoma multipel.
Gambar 1. Foto panoramik awal menunjukkan adanya tiga lesi radioopak bulat unilokular
dengan tepi radiolusen, salah satunya berdekatan dengan akar molar dua kanan bawah.
Gambar 2. TC Dental scan pada rahang bawah
Gambar 3. Perawatan bedah meliputi enukleasi semua lesi di daerah 47 bersama dengan
giginya pada rahang sebelah kanan dan lesi yang berhubungan dengan daerah tak bergigi 46.
Gambar 4. Secara makroskopik dua sampel tampak nodular, konsistensi keras-elastik, yang
paling besar melekat pada gigi.
Gambar 5. ((a) dan (b)) H&E(4x\10x) sementoblastoma terhubung dekat dengan akar gigi;
((c) dan (d)) H&E 20x. Sementoblastoma dan sementoblastoma residual menunjukkan
gambaran histologis yang sama: mineralized acellular trabeculae dari basofil jaringan seperti
sementum, tidak ada pembuluh darah, melekat pada akar gigi.
Gambar 6. Follow-up setelah satu tahun pada kedua tumor tidak terdapat rekurensi.

Anda mungkin juga menyukai