Anda di halaman 1dari 6

Kehilangan gigi traumatik insisivus sentral rahang atas yang dirawat dengan

ortodontik tanpa ekstraksi


Laporan kasus ini menunjukkan perawatan ortodontik perempuan yang kehilangan gigi
insisivus sentral rahang atasnya akibat trauma. Pasien memiliki profil cekung, hubungan
kelas I molar pada sisi kanan dan kelas II molar pada sisi kiri, dengan sedikit retrusi rahang
atas, edge-to-edge anterior, dan crossbite posterior. Karena itu, perawatan terdiri dari rapid
palatal expansion untuk memperluas rahang atas pada arah transversal bersama dengan
reverse headgear untuk meningkatkan hubungan insisivus. Mahkota kaninus kiri diubah
supaya menyerupai insisivus lateral kiri, dan veneer porselen dipasang untuk membuat
insisivus lateral kiri menyerupai insisivus sentral kiri. Laporan kasus ini menunjukkan
bagaimana perawatan ortodontik saja dapat digunakan untuk merawat insisivus sentral yang
hilang, tanpa bridge atau implan.
Kehilangan traumatik gigi insisivus rahang atas saat usia remaja aktif merupakan keadaan
klinis yang serius dan menantang. Karena frekuensi trauma gigi pada bayi dan anak-anak,
gigi yang terkena trauma dengan prognosis jangka panjang yang beragam menjadi masalah
saat merencanakan perawatan ortodontik. Dokter ortodontik sering dilibatkan dalam
penanganan pasien seperti ini karena maloklusi yang mengikutinya seperti pergeseran
midline, crossbite anterior akibat kehilangan ruang, atau erupsi ektopik gigi tetangga.
Cara perawatan lain seperti reimplantasi gigi avulsi, autotransplantasi, pemasangan bridge
atau implan saat dewasa, serta penggantian insisivus lateral pada sisi yang sama untuk
menjadi insisivus sentral setelah penutupan ruang. Pilihan solusi yang tepat untuk kehilangan
gigi insisivus sentral tergantung pada karakteristik khusus tiap keadaan. Namun, keberhasilan
reimplantasi tergantung pada keadaan akar gigi, kemampuan untuk melakukan perawatan
endodontik, dan lamanya gigi berada di luar soket alveolar. Beberapa remaja dengan akar
yang belum sempurna tidak boleh direstorasi.
Laporan kasus ini menunjukkan perawatan ortodontik pasien yang mengalami kehilangan
gigi insisivus sentral rahang atas akibat trauma; perawatan selesai tanpa memasang bridge
atau implan.
DIAGNOSIS DAN PENYEBAB
Pasien perempuan ini gigi insisivus sentral kiri atasnya tercabut saat dia berusia 8 tahun.
Walaupun gigi tersebut ditemukan pada saat itu, pasien tidak datang ke dokter gigi untuk
merawat trauma. Pada usia 14 tahun, dia khawatir mengenai tampilan estetik gigi dan profil
wajahnya, sehingga menginginkan perawatan ortodontik. Pada usia ini, semua gigi permanen
telah erupsi, dan ruang tak bergigi telah menutup sempurna.
Tampak depan, wajahnya seimbang dan simetris. Profil wajahnya cekung, dengan sedikit
retrusi rahang atas dan proporsi vertikal normal. Tidak ada tanda dan gejala kelainan sendi
temporomandibula.
Secara intraoral, pasien memiliki hubungan molar dan premolar Angle kelas I pada sisi kanan
dan hubungan molar dan premolar Angle kelas II pada sisi kiri. Dia memiliki edge-to edge
anterior dan crossbite posterior yang digabungkan dengan palatal transversion serta crossbite
pada insisivus lateral kanan atas.
Midline gigi rahang atas menyimpang 2,0 mm ke kiri berhubungan dengan midline wajah
karena insisivus sentral yang hilang. Midline gigi rahang bawah hampir sama dengan midline
wajah. Pasien mengalami crowding ringan pada rahang atas dan bawah (Gambar 1-3).
TUJUAN PERAWATAN
Tujuan utama perawatan yaitu mengembalikan tampilan normal gigi anterior rahang atas dan
membentuk oklusi yang dapat diterima walaupun gigi insisivus sentral tidak ada. Tujuan
penting lainnya yaitu protraksi dan ekspansi rahang atas untuk mengoreksi defisiensi maksila
dan crossbite posterior. Hubungan overbite yang ideal juga diinginkan untuk menentukan
dengan segera anterior guidance. Tujuan tambahan yaitu menghilangkan crowding dan
mengoreksi midline gigi rahang atas.
PERAWATAN ALTERNATIF
Berdasarkan tujuan, 2 pilihan perawatan diajukan. Pilihan pertama terdiri dari meningkatkan
panjang lengkung rahang dan pembukaan ruang untuk insisivus sentral yang hilang bersama
dengan restorasi ruang dengan bridge atau implan. Pilihan kedua terdiri dati perawatan
ortopedi dan ortodontik, meliputi rapid palatal expansion untuk mengekspansi rahang atas ke
arah transversal, serta reverse headgear untuk mengoreksi retrognasi maksila dan crossbite
anterior. Insisivus lateral kiri dapat diubah menjadi insisivus sentral, dan kaninus kiri dapat
menggantikan insisivus lateral; tidak dibutuhkan bridge atau implan. Pilihan ini tampaknya
yang paling masuk akal.
Pilihan pembukaan ruang tak bergigi untuk bridge akan sulit karena inklinasi gigi anterior
dan pola skeletal vertikal pasien. Selain itu, ini akan memperpanjang waktu perawatan.
Mempertimbangkan semua faktor ini, kami mendiskusikan pilihan perawatan dengan orang
tua pasien kemudian memutuskan akan melakukan pilihan kedua.
TAHAPAN PERAWATAN
Perawatan dimulai dengan rapid palatal expansion dan reverse headgear untuk protraksi
rahang atas ke bawah dan ke atas serta mengekspansi secara transversal. Sementara itu,
bracket 0,022 x 0,028 dipasang pada gigi rahang bawah (Gambar 4). Reverse headgear
dipakai 12 sampai 14 jam pada malam hari, dengan tekanan 1 kg, dan elastis kelas III
digunakan pada siang hari.
Setelah 5 bulan, gigi rahang atas dipasang bracket karena overjet yang cukup telah tercapai.
Penyusunan awal dilakukan dengan kawat nickel-titanium, diikuti dengan pembuatan ruang
untuk memperoleh ruang bagi koreksi midline dan restorasi insisivus lateral kiri atass yang
akan menggantikan insisivus sentral. Mahkota kaninus kiri atas diubah supaya menyerupai
insisivus lateral dengan reshaping secara hati-hati. Vertical intermaxillary elastic digunakan
selama 8 minggu untuk memperoleh interdigitasi gigi yang memuaskan. Perawatan aktif
selesai dalam 23 bulan; piranti dikeluarkan, dan retainer Hawley dipasang sebagai retensi.
HASIL PERAWATAN
Saat tersenyum, tampilan jumlah gigi yang ideal tercapai. Tepi gingiva anterior disamakan,
dan veneer porselen digunakan untuk menambah insisivus lateral atas dan mengubahnya
menjadi insisivus sentral. Kaninus kiri atas di-reshape dan diubah menjadi insisivus lateral
(Gambar 5-8).
Secara intraoral, panjang lengkung rahang dan defisiensi lebar hilang pada rahang atas,
diperoleh susunan gigi yang memuaskan, dan overbite dan overjet berhasil diperbaiki.
Hubungan molar kelas I pada sisi kanan dipertahankan, dan hubungan kaninus kelas II
diperoleh pada sisi kiri. Tonjolan pada bibir atas pasien sangat meningkat. Pasien dan
keluarganya puas dengan hasil akhir.
DISKUSI
Artikel ini menunjukkan strategi perawatan ortodontik tanpa bridge atau implan untuk pasien
yang mengalami avulsi insisivus sentral atas. Pasien masih anak-anak saat gigi tercabut dan
tidak pergi ke dokter gigi pada saat iut. Beberapa tahun kemudian, saat dia ingin memulai
perawatan ortodontik, ruang tak bergigi hampir menutup seluruhnya. Ini dapat
menguntungkan saat tidak menempatkan sesuatu pada daerah tak bergigi. Pilihan ini
memungkinkan insisivus lateral dan insisivus sentral kontralateralnya bergeser dan bergerak
bodily satu sama lain dan menutup ruang tersebut. Keuntungan besar yaitu gigi yang erupsi
akan bergeser bodily pada anak dalam pertumbuhan dan membawa tulang alveolar pula.
Ruang tak bergigi akan menutup dengan sempurna pada saat gigi lainnya erupsi. Pada
keadaan ini, pilihan yang lebih baik untuk mengatasi insisivus sentral atas yang hilang yaitu
mengganti insisivus lateral menjadi insisivus sentral pada rencana oklusal akhir.
Saat insisivus lateral menjadi pengganti insisivus sentral atas yang hilang, beberapa tahap
yang penting akan memastikan hasil estetik. Pertama, tepi gingiva gigi anterior atas harus
diatur dengan tepat. Saat insisivus lateral menggantikan insisivus sentral, maka kaninus
menjadi pengganti insisivus lateral.
Pada keadaan ini, dokter ortodontik harus mengabaikan tepi insisal gigi ini sebagai pedoman
posisi akhir gigi. Saat perawatan ortodontik, kaninus atas harus diekstrusi untuk
menggerakkan tepi gingivanya ke arah insisal untuk mengikuti posisi tepi gingiva insisivus
lateral pada umumnya. Insisivus lateral harus diintrusi secara signifikan sehingga tepi gingiva
sesuai dengan insisivus sentral tetangganya dan membuat ilusi tinggi gingiva anterior normal.
Keuntungan tambahan intrusi insisivus lateral yaitu membantu dalam restorasi gigi ini
menjadi bentuk insisivus sentral. Karena insisivus lateral harus diberikan overkontur besar,
jenis restorasi ini akan lebih mudah bagi dokter gigi dalam merestorasi gigi yang panjang
daripada pendek. Selain itu, saat insisivus lateral diganti menjadi insisivus sentral, restorasi
sementara harus memiliki bentuk permukaan mesial yang sesuai dengan insisivus sentral
tetangganya. Profil tampilan insisivus sentral atas biasanya datar pada permukaan mesial.
Dokter ortodontik harus menggerakkan insisivus lateral sedekat mungkin dengan insisivus
sentral untuk memungkinkan dokter gigi mengkontur restorasi dengan baik.
Saat dokter gigi harus membuat keputusan mengenai pasien dengan insisivus sentral yang
avulsi traumatik, terdapat beberapa pilihan untuk mengganti gigi yang hilang. Pilihan yang
biasa digunakan memiliki keuntungan dan kerugian. Metode yang paling konservatif untuk
mengangani avulsi insisivus sentral yaitu reimplantasi sesegera mungkin. Keuntungan
terbesar reimplantasi yang berhasil yaitu pemeliharaan tulang alveolar. Namun, jika gigi yang
diimplan mengalami ankylosis, jelas ini tidak akan erupsi dan dapat membuat kelain tulang
alveolar yang signifikan. Diskrepansi vertikal bahkan akan membesar jika pasien memiliki
sisa pertumbuhan.
Kedua, jika gigi avulsi tidak dalam keadaan baik untuk reimplantasi, autotransplantasi dapat
menjadi pilihan. Namun, pasien harus memiliki defisiensi panjang lengkung rahang, dan
pembentukan akar premolar harus tumbuh antara setengah sampai dua pertiga. Teknik
ekstraksi dan reimplan akan dan mahkota tanpa merusak jaringan sekitar akar sulit dan
membutuhkan pengalaman, dengan teknik yang sulit.
Ketiga, jika reimplantasi dan autotransplantasi tidak memungkinkan, solusi umum untuk
menjaga daerah tak bergigi yaitu membuat protesa sebagian sementara dengan gigi plastik
saat kanak-kanak dan remaja, dan memasang bridge atau implan saat dewasa. Ini akan
meningkatkan estetik, kemampuan bicara dan fungsi. Namun, pemasangan protesa lepasan
sementara pada daerah tak bergigi saat transisi dari gigi bercampur ke gigi permanen
sepertinya tidak disarankan karena tanpa gigi yang bertumbuh di daerah tersebut, ridge
alveolar akan menyempit dan sulit untuk dikembalikan di masa datang dengan bridge atau
implan. Lebih lanjut, reimplantasi dan autotransplantasi tidak dapat diperkirakan, dan gigi
yang direplantasi memiliki prognosis jangka panjang yang beragam dan dapat muncul
masalah saat dimulainya terapi ortodontik.
Pada pasien muda, jika tidak ada yang ditempatkan di daerah tak bergigi, apa yang akan
terjadi? Dalam laporan ini kami memperoleh hasil memuaskan pada pasien yang mengalami
avulsi insisivus central atas tapi tidak merawat sampai setelah ruang tak bergigi telah
menutup. Berdasarkan hasil ini, kami mengajukan bahwa satu strategi yaitu tidak ada
perawatan setelah trauma, tunggu penutupan spontan ruang tak bergigi, dan gunakan terapi
ortodontik untuk membuat posisi gigi yang tepat untuk restorasi saat dewasa.
KESIMPULAN
Hasil klinis merestorasi insisivus lateral menjadi insisivus sentral pada pasien kami
memuaskan. Pasien senang dengan hasil perawatan, walaupun morfologi mahkota insisivus
lateral yang dikontur ulang tidak sama persis dengan insisivus lateral di kontralateral.
Tampilan tepi gingiva hampir ideal. Laporan ini menunjukkan metode merawat insisivus
sentral atas yang hilang tanpa mengganti gigi dengan bridge atau implan.
Gambar 1. Foto fasial dan intraoral sebelum perawatan
Gambar 2. Model gigi sebelum perawatan
Gambar 3. Sefalometri lateral, tracing, dan foto panoramik sebelum perawatan
Gambar 4. Foto intraoral ekspansi dan protraksi facemask dalam proses
Gambar 5. Foto fasial dan intraoral setelah perawatan
Gambar 6. Model gigi setelah perawatan
Gambar 7. Sefalometri lateral, tracing, dan foto panoramik setelah perawatan
Gambar 8. Tracing sebelum dan setelah perawatan

Anda mungkin juga menyukai