Anda di halaman 1dari 27

The Rocks Cycle : Siklus Batuan : Daur Batuan

Assalamu'alaikum...!!!

Bagaimana kabarnya kawan, semoga baik-baik saja yaaa. Melanjutkan dari beberapa
postingan sebelumnya, bahwa kita telah mempelajari tentang tektonik lempeng dan melihat
sisi-sisi bumi dari berbagai sudut, pada kesempatan kali ini saya memposting tentang
'Siklus Batuan'. Ini artinya kita sudah lebih mendalami dalam mempelajari ilmu geologi ini.
Karena dasarnya adalah mineral dan batuan.

Batuan merupakan suatu zat padat alami yang tersusun oleh satu atau lebih mineral, dan
kadang-kadang oleh material non-kristalin. Kebanyakan batuan merupakan heterogen
(terbentuk dari beberapa jenis mineral), dan hanya beberapa yang merupakan homogen
(disusun oleh satu mineral atau monomineral). Tekstur dari batuan akan memperlihatkan
karakteristik komponen penyusun batuan, sedangkan struktur batuan akan memperlihatkan
proses pembentukannya (dekat atau jauh dari permukaan.

Batuan kristalin terbentuk dari tiga proses (fisika-kimia) dasar, yaitu kristalisasi dari suatu
larutan panas (magma), presipitasi dari larutan, serta rekristalisasi dari suatu bentuk
padatan. Proses-proses tersebut akan menghasilkan tipe atau produk akhir dari batuan
sesuai dengan kondisi atau tahapan pembentukannya, dan kadang-kadang muncul sebagai
suatu produk residual. Berdasarkan proses pembentukannya batuan dapat dikelompokkan
sebagai batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.

Nah, sebelum kita lebih mendalami tentang masing-masing jenis batuan, alangkah baiknya
kita memahami daur batuan (Rock Cycle)lebih dahulu. Pada siklus batuan ini kita akan
mengetahui bahwasanya asal dari batuan adalah magma dan bisa kembali menjadi magma
lagi.

Secara alami semua batuan bisa berubah menjadi batuan lain seperti yang terlihat pada
Gambar berikut ini...

Gambar di atas merupakan skema siklus batuan di alam,

Keterangan dari gambar di atas adalah :
1. Magma membeku membentuk batuan beku pada kerak bagian dalam.

2. Kerak dalam lalu terangkat ---> di permukaan bumi.

3. Aktivitas atmosfir akan merubah batuan menjadi lapuk, tererosi, tertransportasi dan
diendapkan menjadi sedimen.

4. Karena beban dan konsolidasi serta penyemenan, sedimen berubah menjadi batuan
sedimen yang kompak dan keras.

5. a. Batuan sedimen dapat terangkat ke permukaan bumi.
b. Atau mengalami proses metamorfosa menjadi batuan metamorf.
c. Batuan sedimen juga bisa tenggelam (penunjaman) dan meleleh menjadi magma
baru (mantel)

6. a. Batuan metamorf dapat terangkat ke permukaan bumi.
b. Atau tenggelam menjadi magma baru (mantel).

7. Batuan beku juga dapat mengalami metamorfosa menjadi batuan metamorf.


* Kalau di atas cuma gambar, di bawah ini ada ilustrasinya dalam bentuk flash, silahkan
diklik tiap batuan yang terlihat untuk melihat detail proses-proses yang dialami...



Sekian dulu postingan saya kali ini, semoga dapat bermanfaat yaaa, jangan lupa tinggalkan
tanggapan atau sarannya, dan bila berkenan untuk meng-klik iklan 1 X saja yaaa.... Terima
kasih telah berkunjung

Salam Geologi...!!!




ROCK CYCLE / SIKLUS BATUAN
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis
batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan
metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah menjadi
batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah
menjadi batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami
pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau pecahan-
pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau
meleleh menjadi magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut siklus batuan
atau ROCK CYCLE.
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab
pelapukan tersebut ada 3 macam:
1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat
batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan
menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian
yang lebih kecil lagi.
2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya
larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis
batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah hujan asam yang sangat mempengaruhi terjadinya
pelapukan secara kimia.
3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan kimia, salah satu
pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan
yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini
mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang
lebih kecil lagi.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi
bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya
tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui
beberapa cara:
1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke
permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah.
2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut
dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan
sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini.
3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya
seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu
memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya.
Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga
glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini
yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan
secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diikuti pecahan
yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang
sering kita lihat di batuan sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan
yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat
pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan
sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi.
Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen
seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu
membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan
sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi
batuan sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping
dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu
akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami
proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.
Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah tinggi.
Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah mineral yang
dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang
ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang
terjadi tergantung dari:
1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.
2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk.
3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang
ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu
yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma
yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan
mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi
yaitu di mantle bumi. Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul
dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi untuk
membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik.
Kadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi melalui
rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus
permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic
eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari
magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu apung) adalah
salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi
magma yang ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses
pendinginan yang sangat cepat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak
mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas yang terkandung dalam
batuan atau yang sering disebut gas bubble.
Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering membentuk
magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan magma yang
terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif dalam dan tidak
mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan
yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif.
Batuan beku intrusif dapat tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang
tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di Sierra Nevada USA yang merupakan batholit
granit yang sangat besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat
proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan cirri-ciri
berikut:
1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses
pendinginan yang sangat lambat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai
banyak waktu untuk dapat berkembang.
2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan angular interlocking.
Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Terjadinya proses-proses
ini menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.
Referensi :






Berdasarkan proses terjadinya, batuan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
1) Batuan beku (Igneous rock)
Batuan beku atau Igneous Rock berasal dari bahasa latin Inis yang artinya api (fire). Batuan beku
adalah batuan hasil pembentukan cairan magma, baik di dalam maupun di atas permukaan bumi,
sehingga tekstur yang terbentuk sangat tergantung pada kondisi pembekuannya.
Magma panas yang bergerak dari dalam bumi ke permukaan, makin lama makin dingin dan akhirnya
membeku. Batuan beku yang tidak mencapai permukaan bumi disebut batuan beku dalam atau batuan
intrusi ataubatuan plutonis. Proses pembekuan batuan plutonis berlangsung lambat, sehingga
menghasilkan bentuk kristal-krital besar yang sering disebut pula tekstur phaneritis.
Sementara itu, ada pula pembentukan batuan setelah mencapai permukaan bumi, yang disebut batuan beku
luar(batuan ekstrusi atau batuan vulkanis).
Batuan ini cepat sekali membeku, sehingga jenis kristalnya besar, bersifat halus, dan sulit dilihat
dengan mata. Batuan dengan mineral halus disebut tekstur aphanitis.
Dengan demikian, batuan beku dibedakan atas:
a) batuan beku dalam atau plutonik;
b) batuan beku korok atau porfirik;
c) batuan beku luar (lelehan atau epusif).
Batuan plutonik adalah batuan yang terbentuknya berada jauh di dalam bumi (15 - 50 km).
Karena letak pembentukannya dekat dengan astenosfer, maka pendinginan batuannya pun
berjalan sangat lambat. Akibatnya, bentuk batuan yang dihasilkannya besar-besar dan memiliki
kristal-kristal sempurna dengan bentuk tekstur holokristalin (semua komposisi disusun oleh
kristal sempurna).
Ciri-ciri batuan plutonik pada umumnya secara mudah dapat dilihat dari ukuran butirnya, beberapa sifat atau
ciri-ciri batuan plutonik adalah sebagai berikut.
a) Umumnya berbutir lebih kasar dibandingkan batuan ekstrusi.
b) Jarang memperlihatkan struktur visikular (mengandung lubang-lubang
benda gas).
c) Batuan dapat merubah batuan yang berbatasan pada semua sisinya.
Berdasarkan ukurannya (diameter), batuan plutonik dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu plutonik
tabular danplutonik masif.
Batuan beku plutonik tabular berukuran relatif kecil dan letaknya agak dekat ke permukaan
bumi. Ada dua macam batuan beku plutonik, yaitu Sill dan Dike. Sill merupakan batuan plutonik
tabular yang jika dilihat dari posisinya bersifat concordant selaras dengan lapisan batuan
sekitarnya. Letaknya bisa mendatar, miring atau tegak sesuai arah lapisan.
Sedangkan Dike merupakan batuan plutonik tabular yang jika dilihat dari posisinya
bersifat discordant atau memotong lapisan batuan sekitarnya. Hal ini terjadi karena dorongan
magma ketika memasuki lapisan batuan itu cukup kuat, sehingga batuan sulit sekali untuk
dihancurkan.
Batuan beku yang berupa plutonik masif berukuran lebih besar daripada plutonik tabular dan letaknya agak
dalam. Plutonik masif terbagi atas lakolit dan batolit. Berdasarkan posisinya selalu concordant atau
selaras dengan lapisan batuan di sekitarnya, karena ketika memasuki lapisan tersebut mengalir
secara perlahan-lahan lewat retakan-retakan lapisan batuan. Secara umum lakolit dapat
ditemukan di bawah suatu bentuk lahan dome (bentuk kubah).
Ukurannya relatif kecil bila dibandingkan dengan batolit. Batolit banyak dijumpai di bagian
dalam dan posisinya discordant dengan lapisan di sekitarnya. Ukurannya sangat besar, sehingga
dasarnya sulit diketahui lagi. Permukaan Batolit yang tersingkap (outcrop) minimal 100 km2,
pada umumnya bertekstur granitis.
Batuan korok atau gang, terbentuk di antara batuan dalam dan batuan leleran dalam korok-korok
atau gang-gang. Batuan yang terbentuk adalah batuan gang atau batuan korok yag disebut
jugabatuan hypoabisik. Itulah sebabnya batuan ini terdiri atas kristal besar, kristal kecil, dan
bahkan ada yang tidak mengkristal, misalnya bahan amorf.
Contohnya: granit fosfir.
Batuan beku luar, yaitu batuan beku yang terjadi di atas permukaan atau kulit bumi. Proses terjadinya diawali
dari magma yang keluar sampai ke permukaan bumi, kemudian terpengaruh oleh berbagai faktor yang ada di
permukaan bumi, misalnya temperatur udara, air dan angin. sehingga temperatur dari magma tersebut akan
turun cepat sekali, maka ketika magma tersebut membeku hanya terbentuk kristal-kristal kecil, dan sebagian
ada yang sama sekali tidak mempunyai kristal (amorf). Contoh batuan beku luar yang terdiri dari kristal-
kristal kecil misalnya andesit danriolit, sedangkan contoh yang tak mempunyai kristal atau amorf,
misalnya batu apung dan batu kaca.
Ciri-ciri batuan beku luar (vulkanik), antara lain sebagai berikut:
a) Pada umumnya mempunyai butir kristal yang halus, bahkan amorf.
b) Sebagian memperlihatkan struktur visikular artinya sebagian dari batuan beku luar memperlihatkan adanya
lubang-lubang bekas materi gas yang terperangkap.
c) Kristal mineral batuannya menunjukan tekstur aphanitis (kristal yang halus dan amorf).
Untuk membedakan batuan beku dengan batuan lainnya terdapat tiga ciri utama, yaitu:
a) tidak mungkin mengandung fosil;
b) teksturnya padat, mampat serta strukturnya homogen dengan bidang permukaan ke semua arah sama;
c) susunan sesuai dengan pembentukannya.











Materi Geografi Kelas X - Vulkanisme
Vulkanisme

Vulkanisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar
mencapai permukaan bumi melalui retakan dalam kerak bumi
Kata Vulkan berasal dari Vulcano, suatu kawah gunung api di Kepulauan Lipari
di lepas pantai Italia. Juga berkaitan dengan nama Dewa Api Bangsa Yunani
Vulcanus




Penampang Gunung Api

Istilah-istilah Vulkanisme
Vulkanologi adalah ilmu kebumian yang mempelajari gunung api
Kawah adalah lubang pada tubuh gunung api sebagai tempat
keluarnya magma. Kawah yang cukup besar disebut kaldera. Bila kaldera terisi air yang
cukup banyak maka akan terbentuk danau kawah atau danau vulkanik. Kawah dan
kaldera yang ada di Indonesia, antara lain: Kawah Takubanperahu (Jawa Barat),
Kawah Gunung Tengger (Jawa Tengah), dan Kaldera Gunung Batur (Bali).
Magma

Magma adalah meteri kental yang terbentuk di dalam kerak bumi atau di selimut
batuan bagian atas. Merupakan persenyawaan yang sangat kompleks dari berbagai
unsur, terutama berupa Silikat, air, dan gas-gas.Mungkin seluruhnya berupa cair atau
mungkin juga kental
Magma dapat dibedakan berdasarkan perbedaan susunan mineral yang
dikandung. Kandungan tersebut meliputi Magma Masam (Asam) dan Magma Basa
Magma Masam (Asam) atau dikenal juga sebagai Magma Silika adalah magma
yang banyak mengandung mineral-mineral Silikat dan Feldspar, cukup banyak Natrium
dan Kalium, kurang mineral Besi dan Magnesium.Umumnya mineral-mineralnya kurang
berat. Kandungan gasnya tinggi, dan lebih kental. Biasanya menghasilkan ledakan
dahsyat kerena tekanan gasnya besar. Magma tipe ini menghasilkan tipe gunung api
komposit atau strato dan gunung api maar
Magma Basa, magma tergolong Basa (Mafic) adalah magma yang banyak
mengandung mineral-mineral Besi dan Magnesium serta Kalsium, tetapi kurang mineral
Silikat. Kandungan gasnya rendah dengan kekentalan rendah (encer). Biasanya letusan
dari magma ini tidak begitu hebat, erupsinya bersifat effusif/ meleleh. Tipe gunung api
yang dihasilkan oleh tipe Magma Basaltik adalah tipe gunung api perisai
Menurut Bemmelen magma akan mengalami peristiwa hipodifferensiasi/
pemisahan magma, dimana magma yang bersifat asam akan bergerak keatas karena
lebih ringan, sedangkan yang bersifat basa dibagian bawah. Gerakan pemisahan
magma di dalam dapur magma tersebut akan menimbulkan gaya keatas, mendobrak
batuan penyusun kerak bumi dan bila ada kesempatan akan muncul ke permukaan
lewat celah-celah retakan atau lewat pipa gunung api

Meterial Hasil Aktivitas Vulkanisme

Sesuai wujudnya, ada 3 jenis bahan yang dikeluarkan tenaga vulkanisme, yaitu
benda padat, cair, dan gas.
a. Benda Padat
Material vulkanik yang padat disebut efflata atau piroklastik. Ukuran efflata mulai dari
yang paling halus sampai yang kasar atau besar berturut-turut adalah debu, pasir, lapili
(batu sebesar kerikil), batu-batuan besar (bom), dan batu apung
b. Benda Cair
Bahan cair yang dikeluarkan oleh tenaga vulkanisme terdiri dari 3 macam, yaitu lava,
lahar panas, dan lahar dingin
Lava adalah aliran magma dipermukaan bumi yang menutup permukaan
disekitarnya
Lahar panas adalah aliran lumpur panas yang merupakan campuran lava
dengan air
Lahar dingin yaitu batu, pasir, dan debu di puncak gunung, jika hujan lebat
maka air hujan itu akan bercampur dengan debu dan pasir yang merupakan
bubur kental. Cairan ini mengalir dengan deras kebawah melalui lereng dan
jurang dan menyapu bersih semua yang dilaluinya
c. Benda gas (Ekshalasi)
Terdiri atas :
Solfatar (Belerang), yaitu gas Hidrogen Sulfida (H
2
S) yang keluar dari
lubang
Fumarol, yaitu tempat yang mengeluarkan uap air panas
Mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan gas asam arang (CO
2
)

Erupsi (Ekstrusi Magma)

Ekstrusi magma adalah suatu kegiatan penerobosan magma ke permukaan
bumi. Salah satu contohnya adalah letusan gunung api (erupsi)
Berdasarkan banyaknya celah pada permukaan bumi waktu magma keluar,
erupsi dibedakan menjadi :
- Erupsi Linier (Erupsi Belahan)
Gerakan magma menuju permukaan bumi melalui celah-celah atau retakanretakan,
magma yang dikeluarkan dari gunung api tersebut bersifat sangat encer dan menutupi
wilayah yang sangat luas
- Erupsi Sentral
Yaitu jika lava keluar melalui terusan kepundan yang berbentuk pipa yang relatif kecil
dan sempit. Akibatnya meterial vulkanik yang dihasilkan berbentuk kerucut vulkanik.
Tipe ini menghasilkan tiga bentuk gunung api, yaitu gunung api perisai, gunung api
maar, dan gunung api strato
Erupsi sentral dibagi menjadi 3 macam yaitu:
- Erupsi Effusif/ aliran, terjadi pada gunung api perisai
- Erupsi Eksplosif/ ledakan, terjadi pada gunung api maar
- Erupsi Campuran (aliran dan ledakan), terjadi pada gunung api strato

Tiga bentuk gunung api hasil erupsi sentral
- Gunung Api Perisai
Gunung api ini terbentuk oleh aliran magma cair encer, sehingga pada waktu magma
keluar dari lubang kepundan, meleleh kesemua arah dalam jumlah besar dari satu
kawah besar/ kawah pusat dan menutupi daerah yang luas yang relatif tipis. Sehingga
bentuk gunung yang terbentuk mempunyai alas yang sangat luas dibandingkan dengan
tingginya. Sifat magmanya basa dengan kentalan rendah dan kurang mengandung gas.
Karena itu erupsinya lemah, keluarnya ke permukaan bumi secara effusif/ meleleh.
Akibatnya lereng gunung api ini landai (2-10) tingginya tidak terlalu tinggi dibanding
diameternya, dan permukaan lereng halus. Contohnya adalah gunung api di Kepulauan
Hawaii


- Gunung Api Kerucut
Gunung api ini dibangun oleh materi erupsi yang kebanyakan berupa piroklastik.
Magmanya bersifat masam, lebih kental dan banyak mengandung gas sehingga
erupsinya eksplosif/ meledak. Materi-meteri piroklastik itu akan diendapkan sedikit demi
sedikit sampai terbentuk suatu kerucut gunung api. Kadang-kadang bahan erupsinya
berganti-ganti antara piroklastik dan lava sehingga kelihatannya berlapis-lapis. Gunung
api demikian disebut Composite Cone atau kerucut campuran. Jadi bentuknya juga
seperti kerucut dengan lereng curam (10-35) kebanyakan gunung api di Indonesia
termasuk dalam gunung api kerucut


- Gunung Api Maar
Bentuk gunung yang tergolong Maar terbentuk kerena terjadi letusan eksplosif sebuah
dapur magma yang relatif kecil dan dangkal, sehingga dengan satu kali erupsi saja
habislah aktivitasnya. Bentuk gunung ini biasanya melingkar, disamping itu erupsi
berupa gas sehingga di sekitar lubang kepundan habis terkikis oleh gas, dan biasanya
meninggalkan lubang besar seperti kubangan. Erupsinya lemah dan sangat berbahaya
karena gas-gas beracun yang dikeluarkan. Biasanya pada pertama kalinya terjadi
ledakan dahsyat dan menghempaskan sebagian besar tubuh gunung, selanjutnya
aktivitas gas lebih dominan. Contohnyya dijumpai Gunung Lamongan


Kuat atau lemahnya gunung api tergantung dari tekanan gas, kedalaman dapur
magma, luasnya sumber/ dapur magma dan sifat magma (cair/ kental)
Menurut aktivitasnya, gunung api dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
Gunung aktif, yaitu gunung api yang masih bekerja yang kawahnya selalu
mengeluarkan asap, gempa, dan letusan. Misalnya Gunung Merapi
Gunung Mati, yaitu gunung api yang sejak tahun 1600 sudah tidak
meletus lagi, misalnya Gunung Patuha, Gunung Sumbing
Gunung istirahat, yaitu gunung api yang sewaktu-waktu meletus dan
kemudian istirahat kembali, misalnya Gunung Ciremai, Gunung Kelud

Tipe Letusan Gunung Api
Letusan gunung api adalah suatu ketampakan gejala vulkanisme kearah permukaan/
suatu aspek kimia pemindahan tenaga kearah permukaan. Tipe letusan gunung api
dibedakan berdasarkan bentuk dan lokasi kegiatan serta lokasi pusat kegiatan

a. Berdasarkan bentuk dan lokasi pusat kegiatan
Letusan pusat yaitu erupsi yang melalui pipa kepundan gunung api
Letusan celah yaitu erupsi yang tidak melalui lubang kepundan gunung api
melainkan meleleh keluar lewat retakan-retakan kerak bumi. Contoh: Plateau Pekka
di India, dan Plateau Columbia, AS

b. Berdasarkan lokasi pusat kegiatan menurut Rittman (1962)
Letusan pusat, lubang kepundan merupakan saluran utama bagi peletusan
Leleran samping, terbentuk apabila magma yang membentuk Sill menerobos
kepermukaan lereng gunung api
Korok melingkar, terjadi ketika pipa kepundan tersumbat oleh magma yang
membeku didalamnya, sehingga menghalangi keluarnya magma dan magma
mencari jalan lain menerobos magma mencari jalan lain, menerobos batuan yang
lebih lemah dan terbentuklan lubang kepundan yang baru
- Letusan diluar pusat, terjadi dibagian kaki gunung api dengan sistem saluran magma
tersendiri yang tidak ada kaitannyan dengan lubang kepundan utama

Escher membuat klasifikasi letusan gunung api yang didasarkan pada besarnya
tekanan gas, derajat kecairan magma, dan kedalaman dapur magma sehingga
melahirkan tipe-tipe letusan gunung api

No. Tipe Gunung Tekanan Gas
Derajat Kecairan
Magma
Kedalaman
Dapur Magma
1. Tipe Hawai Rendah Cair Dangkal
2. Tipe Stromboli Sedang Cair Agak dalam
3.
Tipe Vulkano
a. Vulkano lemah
b. Vulkano kuat
Sedang
Sedang
Tinggi
Agak cair
Kurang Cair
Kental
Agak dalam
Agak dalam
Dalam
4. Tipe Merapi Rendah Cair kental Dangkal
5. Tipe Pelee Tinggi Kental Dalam
6. Tipe St. Vincent Sedang Kental Dangkal
7. Tipe Perret/ Plinian Tinggi Cair Sangat Dalam

Sumber : Geografi Kelas X, Samadi 2002, Yudhistira
Mengkaji Ilmu Geografi, Sugiyanto, Danang Endarto 2008, Platinum



Instruksi Magma

Yaitu proses penerobosan magma ke dalam litosfer tetapi tidak mampu
mencapai permukaan bumi. Intrusi magma menghasilkan bentukan-bentukan sebagai
berikut.
- Batolit, yaitu magma yang membeku di dalam dapur magma
- Lakolit, yaitu batuan beku yang terbentuk dari resapan magma dan membeku diantara
dua lapisan batuan erbentuk lensa cembung
- Sill/ keeping intrusi, batuan beku yang terbentuk diantara dua lapisan batuan,
berbentuk pipih dan melebar
- Gang/ dike, yaitu magma yang memotong lapisan batuan dengan arah tegak/ miring,
berbentuk pipih dan melebar
- Apofisa, yaitu batuan beku yang bercabang-cabang banyak (seperti menjari)
- Diatrema, yaitu batuan pengisi pipa letusan, berbentuk silinder mulai dari dapur magma
sampai kepermukaan bumi
- Lapolith, yaitu batuan beku yang mendesak lapisan di atas dan di bawahnya menjadi
bentuk bikonveks
- Pacolith, yaitu jenis batuan beku yang mendesak lapisan di bawahnya sehingga
membentuk suatu bentukan lenssa datar-cembung


Gejala-Gejala Gunung Api Akan Meletus


- Terjadinya getaran bumi
- Suhu disekitar kawah naik
- Sumber air tiba-tiba kurang atau kering
- Terdengar suara gemuruh
- Binatang di puncak turun ke lereng
- Pohon-pohon di sekitar kawah mengering

Gejala Pascavulkanik/ Post Vulkanik

Gejala pascavulkanik merupakan gejala yang masih terdapat dari sisa aktivitas
vulkanisme pada gunung api mati/ gunung api beristirahat. Gejala tersebut antara lain:
- Adanya sumber air panas
- Adanya sumber air mineral
- Geyser (mata air yang memancarkan air panas secara periodik)
- Sumber gas
- Fumarol ( uap air panas)
- Solfatar (gas Hidrogen Sulfida)

Pengaruh vulkanisme terhadap kehidupan

Pengaruh vulkanisme yang menguntungkan
- Gunung api merupakan daerah penangkapan hujan
- Abu vulkanik bersifat menyuburkan tanah pertanian
- Hancuran bahan vulkanis mengandung unsur hara.
- Menghasilkan bahan galian, seperti belerang, perak dan lain-lain
- Hutan di daerah gunung api berfungsi menahan erosi serta menyimpan air hujan
Pengaruh vulkanisme yang merugikan
- Letusan gunung api merusak lahan pertanian
- Hujan abu merusak semua yang dilaluinya
- Lahar panas bersifat merusak kehidupan
- Awan panas merusak kehidupan
- Lahar dingin mendangkalkan sungai
- Gas beracun mematikan manusia
- Gelombang pasang
Usaha-usaha mengurangi bahaya gunung berapi
Membuat terowongan-terowongan air pada kepundan yang berdanau.
Mendirikan pos-pos pengamatan di sekitar gunung berapi.
Mengungsikan penduduk yang bertempat tinggal di lereng-lereng gunung
berapi yang akan meletus.
Membuat dam-dam penampungan di daerah aliran lahar.











MENGENAL MAGMA DAN TIPLOGI LETUSAN
Magma
Magma merupakan larutan silikat pijar yang panas mengandung sulfide, oksida, dan volatile (gas),
sumber magma terletak jauh di bawah bumi, pada lapsan mantel, yaitu pada kedalaman 1200-2900 km,
dari sumbernya itu kemudian magma mengalir dan berkumpul pada suatu tempat yang dikenal sebagai
dapu magma, yang terletak pada kedalaman lebih dari 60 km. Suhu magma berkisar antara 10300-
11600C, sifatnya yang sangat panas dan cair menyebabkan magma memiliki tekanan hidrostatis yang
sangat kuat sehingga terus bergerak menerobos untuk berusaha ke luar ke atas permukaan bumi.
Magmatisma adalah peristiwa penerobosan magma melalui rekahan dan celah-celah pada litosfer yang
tidak sampai ke permukaan bumi, peristiwa ini menyebabkan magma membeku di dalam bumi
membenutuk batuan plutonik, proses tesebut disebut intrusi, dan batuan yang terbentuk disebut batuan
intrusi.
Apabila penerobosan magma sampai ke luar permukaan bumi, maka prosesnya dinamakan ekstrusi,
sedangkan cara keluar magma seperti ini dinamakan erupsi dan pristiwanya dinamakan vulkanisma.
Terdapat dua macam magma, yaitu magma Asam (granitis) dan magma basa (basaltis), magma granitis
yang bersifat asam mengandung silica lebih dari 65 %, berbeda dengan magma basaltis, kandungan
silikanya kurang dari 55%, sifat fisik magma basaltis lebih encer.
Apabila temperature magma turun maka akan terjadi kristalisasi, yaitu proses terbentuknya mineral-
mineral penyusun batuan beku. Jenis-jenis batuan beku yang dihasilkan dari kristalisasi magma
diantaranya:
1. Batuan Beku dalam : Granit, Diorit, Gabro, dan Ultra basa
2. Batuan Beku luar : Riolit, Andesit, dan Basalt
Berdasarkan ruang pembekuan magmanya, batuan beku dapat dibedakan menjadi : batolit, Sill, Dike,
Lakolit, lavolit, hypabisa, dan batuan ekstrusif.

Tipologi Letusan
Karakteristik letusan Gunung api ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya : Viskositas (kekentalan
magma), tekanan magma, kedalaman dapur magma, dan bahan yang dikeluarkannya. Berdasarkan
karakteristik tersebut, dihasilkan bermacam-macam tipe letusan, yaitu :
1. Tipe Hawaii, letusan gas yang ringan pada permukaan magma di kepundan, yang disebut letusan air
mancur, contohnya letusan gunung api kepulauan Hawaii seperti kilavea dan Macina loa.
2. Tipe Stromboli, kekentalan magma sama dengan tipe Hawaii, hanya dapur magma lebih dalam dan
tekanan gas yang lebih tinggi. Tipe ini menunjukan letusan gas yang tidak kuat namun terus menerus,
dan banyak melemparkan eflata, contohnya Vesuvius dan stromboli (gunung api laut di lepas pantai Itali)
3. Tipe Vulkano, dengan magma cair kental dan dapur magma yang bervariasi dari dangkal sampai
dalam, sehingga tekananya sedang sampai tinggi, tipe ini merupakan tipe gunung api pada umumnya,
dalam perkembangannya hamper semua gunung api strato melalui tipe ini. Letusannya terdiri atas
hembusan gas magmatik dengan bom, lapili, dan abu vulkanik, di atas hasil letusan ini terbentuk awan
kol bunga, sementara dari lubang kepundannya ke luar leleran lava. Contohnya : gunung bromo, Raung,
Semeru, dsb.
4. Tipe Perret, kekentalannya sama dengan tipe vulkano, tetapi dengan magma yang sangat dalam dan
tekanan gas yang sangat tinggi, ciri utamanya ialah letusan tiang (fase) gas yang sangat tinggi dan
dihiasi awan kol bunga diujungnya, contoh letusan Krakatau 1883.
5. Tipe Merapi, St. Vincent, dan Mt. Pelee, ketiganya merupakan ciri letusan dengan magma yang kental.
Ciri utamanya ialah sumbat lava yang menutupi lubang kepundan. Hal ini tejadi karena magma kental
segera membeku pada saat mencapai permukaan gunung api, akibatnya letusan yang terjadi berupa
awan pijar yang bersuhu tinggi dan diikuti lawinanya.




penggunaan reaksi bowen

PENGGUNAAN DERET REAKSI BOWEN
DALAM PENENTUAN SIFAT DAN MINERAL PENYUSUN BATUAN
NOVIAN FAJAR TRI UTOMO
MAHASISWA TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UGM
Jalan Grafika 2 Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Abstrak
Penulis mengambil judul Penggunaan Deret Reaksi Bowen Dalam Penentuan Sifat Dan Mineral Penyusun Batuan karena secara
jelas bahwa suatu batuan tersusun dari beberapa mineral, sehingga penulis berusaha memanfaatkan deret ini dalam penggunaannya untuk
mempermudah dalam mempelajari batuan. Dilihat dari isinya Deret Reaksi Bowen adalah urut - urutan pembentukan mineral - mineral yang
terbentuk dari hasil pendinginan magma dan perbedaan kandungan magma, dengan asumsi dasar bahwa semua magma berasal dari magma
induk yang bersifat basa. Deret ini di namakan Deret Reaksi Bowen karena deret ini disusun oleh seorang peneliti yang bernama Norman L.
Bowen. Dari dalam deret Bowen ini ada informasi yang cukup penting dalam proses terbentuknya mineral, yaitu perbedaan sifat mineral yang
terbentuk pada suhu tinggi dan suhu yang rendah, sifat mineral yang dihasilkan bersifat basa, intermediet dan asam, dan mineral yang memiliki
resistensi rendah maupun tinggi. Semua hal tersebut sebenarnya hanya dipengaruhi oleh satu hal saja, yaitu temperatur atau suhu pada saat
mineral tersebut terkristalkan. Di dalam magma tersebut mengandung beberapa material, ada yang bersifat mudah menguap (volatile) misalnya
air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain yang menyebabkan magma dapat bergerak, dan ada yang bersifat non-volatile atau non-
gas yang kedua material tersebut merupakan zat pembentuk mineral yang biasanya dijumpai dalam batuan beku. Deret ini terbagi menjadi 2
proses yaitu deret kontinyu dan diskontinyu. Mineral yang terbentuk pada deret kontinyu yaitu anortite, bytownite, labradorite, andesine,
oligoklas dan albite. Untuk mineral yang terbetuk pada deret diskontinyu yaitu olivine, pyroxene, amphibole, dan biotite. Jika kedua deret
tersebut telah berakhir selanjutnya akan terbentuk Othoclase Potassium Feldspar , Muscovite, Quartz. Dengan mengaplikasikan deret Bowen
dalam proses pendiskripsian batuan, maka untuk mengidentifikasi sifat dan mineral penyusun suatu batuan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Deret reaksi Bowen ini dapat digunakan untuk membantu pendiskripsian terutama pada batuan beku, akan tetapi dapat juga digunakan dalam
pendiskripsian batuan sedimen maupun metamorf meskipun dalam penggunaanya hanya sebagian dari batuan tersebut dan juga cukup sulit.
Pada batuan sedimen deret bowen dapat diterapkan pada proses pembentukan batuan sedimen yang bertekstur klastik. Karena batu sedimen
yang bertekstur klastik terbenuk dari hasil sisa pelapukan dari batuan yang telah ada dan terlitifikasi kembali, sehingga ini berhubungan dengan
resistensi mineral penyusunnya yang pada deret bowen mineral yang memiliki resistensi tinggi adalah mineral yang terbentk pada suhu yang
ckup rendah. Sedangkan pada batuan metamorf yang berhubungan dengan deret reaksi Bowen adalah pada pembentukan batuan metamorf yang
terbentuk dari batuan dasar batuan beku dan batuan sedimen. Untuk batuan beku yang mengalami proses metamorfisme misalnya batu gneiss,
yang memiliki kandungan sama dengan batu granite pada batuan beku. Kemudian batuan metamorf yang terbentuk dari hasil metamorfisme
yang berasal dari batuan dasar batuan sedimen yang memiliki tekstur klastik misalnya batupasir. Batupasir mengalami metamorfisme yang
kemudian membentuk batu quartzite yang memiliki mineral penyusun sama denggan batupasir atau batu asalnya.



Isi

Pada tahun 1929 1930 Norman L. Bowen melakukan penelitian dan menemukan bahwa mineral mineral terbentuk dari magma
yang mengkristal karena suhu magma yang menurun (kristalisasi fraksional). Kecepatan pendinginan dan suhu yang akan menentukan ciri dan
sifat mineral yang akan terbentuk. Dengan kecepatan pendinginan yang lambat, maka akan terbentuk mineral yang bentuk dan ukuran kristalnya
lebih besar dari pada mineral yang terbentuk dari magma yang mendingin secara cepat. Dengan penemuan tersebut Norman L. Bowen membuat
suatu deret reaksi pembentukan mineral yang dinamakan Deret Reaksi Bowen. Deret Reaksi Bowen berisi tentang urut urutan pembentukan
mineral yang terbentuk dari hasil pendinginan magma dan perbedaan kandungan magma, dengan asumsi dasar bahwa semua magma berasal dari
magma induk yang bersifat basa. Terbentuknya mineral ini biasanya terjadi pada batuan beku. Hal ini terbentuk pada batuan beku karena batuan
ini terbentuk dari hasil pembekuan magma secara langsung.

Di dalam magma tersebut mengandung beberapa material, ada yang bersifat mudah menguap (volatile) misalnya air, CO2, chlorine,
fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain yang menyebabkan magma dapat bergerak, dan ada yang bersifat non-volatile atau non-gas yang kedua
material tersebut merupakan zat pembentuk mineral yang biasanya dijumpai dalam batuan beku.

Dari dalam deret Bowen ini ada informasi yang cukup penting dalam proses terbentuknya mineral. Yang pertama adalah suhu. Ketika
magma suhunya menurun karena perjalanannya ke permukaan bumi, maka mineral mineral pada saat itu akan terbentuk. Peristiwa terbentuknya
mineral mineral tersebut disebut dengan reaksi penghabluran. Yang kedua yaitu sifat mineral yang terbentuk. Mineral yang terbentuk pertama
kali merupakan mineral mineral yang bersifat basa (mafic), yang mengandung tersusun dari unsur unsur magnesium,
ferrum dan calcium. Misalnya olivine dan pyroxene. Kemudian setelah itu terbentuk mineral mineral yang bersifat intermediet,
misalnya hornblende dan biotite. Selanjutnya yang terbentuk terakhir merupakan mineral mineral yang bersifat asam (felsic), yang tersusun
oleh unsur unsur silica danalumina, misalnya muskovite dan quartz.

Selanjutnya dari deret Bowen ini juga dapat memberi informasi bahwa semakin rendah suhu pembentukannya atau semakin ke bawah
dari deret reaksi ini maka mineral yang terbentuk memiliki resistensi yang semakin tinggi. Semua hal tersebut sebenarnya hanya disebabkan
karena perbedaan suhu pada saat terbentuknya mineral dari magma yang mendingin.

Deret ini terbagi menjadi 2 proses yaitu deret diskontinyu dan kontinyu. Dalam deret diskontinyu, mineral terbentuk dari satu mineral
yang berubah ke mineral yang lain dengan melakukan reaksi terhadap sisa larutan magma pada rentang suhu tertentu. Deret ini dibangun dari
mineral ferro magnesian sillicates. Diawali dengan pembentukan mineralolivine yang merupakan satu satunya mineral yang stabil pada atau
di bawah 1800
o
C. Apabila olivine dilanjutkan bereaksi dengan larutan sisa magma maka akan membentuk pyroxene pada suhu sekitar
1100
o
C. Jika suhu menurun lagi sekitar 900
o
C maka kemudian akan terbentuk amphibole. Deret diskontinyu akan berakhir jika biotite telah
mengkristal yaitu pada suhu 600
o
C. Hal ini terjadi karena semua ferrum dan magnesium dalam larutan magma telah habis dipergunakan untuk
membentuk mineral. Bila pendinginan yang terjadi terlalu cepat maka mineral yang telah ada tidak akan bereaksi seluruhnya dengan sisa magma
sehingga akan terbentuk rim (selubung) yang tersusun dari mineral yang terbentuk setelahnya, misal olivin dengan rimpyroxene. Mineral yang
terbetuk pada deret diskontinyu yaitu olivine, pyroxene, amphibole, dan biotite.

Dalam deret kontinyu, mineral yang terbentuk pertama kali akan berperan dalam pembentukan mineral selanjutnya. Deret ini disusun
dari mineral feldspar plagioclase. Misalnya plagioclase kaya calcium akan terbentuk terlebih dahulu, baru kemudian plagioclase itu akan
bereaksi dengan sisa larutan magma bersamaan dengan turunnya suhu berlanjut reaksi dengan peningkatan bertahap dalam pembentukan natrium
yang mengandung feldspar sampai titik kesetimbangan tercapai pada suhu sekitar 900
o
C. Saat magma mendingin dan calcium kehabisan
ion, feldspar didominasi oleh pembentukansodium feldspar hingga suhu sekitar 600
0
C feldspar dengan hampir
100% sodium terbentuk sehingga terbentuk plagioclaseyang kaya sodium. Demikian seterusnya reaksi ini berlangsung sampai
semua calcium dan sodium habis bereaksi. Karena mineral awal bereaksi secara terus menerus maka plagioclase terus ikut bereaksi hingga
akhirnya pun habis. Oleh karena ituplagioclase yang kaya calcium sangat sulit di temukan di alam bebas. Akan tetapi jika pendinginan terlalu
cepat, makaplagioclase yang terbentuk akan banyak mengandung calcium yang dikelilingi plagioclase kaya sodium. Mineral yang terbentuk pada
deret ini yaitu anortite, bytownite, labradorite, andesine, oligoklas dan albite.

Jika kedua deret tersebut telah berakhir dan seluruh ferrum, magnesium, sodium dan calcium telah habis, maka yang tersisa
tinggal potassium, alumina dan silica. Semua unsur yang tersisa tersebut akan bergabung membentuk Othoclase Potassium Feldspar . Dan akan
terbentuk muscovite apabila tekanan air cukup tinggi. Sisanya, larutan magma yang sebagian besar mengandung silica dan oksigen akan
membentuk quartz.

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, baik proses maupun ciri pembentukan mineral pada deret reaksi Bowen, kita
dapat mengetahui bagaimana suatu mineral terbentuk dan bersifat apakah mineral itu. Sehingga setelah mempelajari dan memahami deret
tersebut kita dapat mengaplkasikanya dalam penentuan sifat dan material penyusun suatu batuan. Misalnya secara jelas kita dapat mengetahui
dari sifat fisik batuan yaitu dari warna batuan.
Dalam proses terbentuknya mineral penyusun suatu batuan, maka jenis batuan yang sangat jelas berhubungan dengan proses deret
reksi Bowen ini adalah batuan beku. Batuan ini tersbentuk dari pembekuan magma secara langsung seperti halnya pada pembentukan mineral
yang telah dibahas oleh Norman L. Bowen. Jika diliat dari warna batuan beku, apabila warna batuan tersebut cerah maka batuan tersebut banyak
mengandung mineral mineral felsic dan batuan tersebut tesusun dari mineral yang bersifat asam. Misalnya pada batu granite dan diorite, batu
ini tersusun dari mineral mineral asam yaituquartz, plagioclase, orthoclase, dan biotite. Sebaliknya, jika suatu batuan memiliki warna yang
gelap maka batuan tersebut tersusun dari mineral mineral mafic dan jelas bahwa batuan tersebut tersusun dari mineral yang bersifat basa.
Misalnya padagabbro dan basalt, yang tersusun dari olivine, pyroxene, Ca plagioclase dan hornblende. Akan tetapi jika suatu batuan memiliki
warna abu abu biasanya tersusun dari mineral yang bersifat intermedier, misalnya pada diorite dan andesite.
Deret reaksi Bowen selain digunakan untuk pendiskripsian batuan beku, deret ini juga dapat digunakan dalam pendiskripsian batuan
sedimen maupun batuan metamorf. Meskipun dalam pendiskripsian batuan sedimen dan metamorf ini hanya sebagian saja dan juga agak terlalu
sulit.
Untuk batuan sedimen deret ini dapat digunakan untuk batuan sedimen yang berstekstur klastik saja, karena batuan sedimen yang
bertekstur klastik ini tersusun dari material material yang berbentuk butiran yang merupakan hasil pelapukan dari batuan yang sebelumnya telah
terbentuk. Jadi secara rasional kita dapat menarik kesimpulan bahwa mineral yang menyusun batuan sedimen klastik ini merupakan mineral
mineral sisa pelapukan yang telah tertransportasi ke daerah cekungan sedimen yang kemudian mengalami litifikasi membentuk batuan sedimen
klastik ini. Jadi batuan ini tersusun dari mineral yang memiliki resistensi tinggi. Dapat kita ketahui dari deret reaksi bowen bahwa mineral yang
memiliki resistensi tinggi merupakan mineral mineral yang terbentuk terakhir kali pada suhu yang relatif rendah atau dalam deret bowen berada
di bagian bawah. Mineral yang seperti ini contohnya adalah quartz. Contoh batuan sedimen klastik yaitu batupasir. Batu ini terbentuk dari
mineral quartz, yang merupakan mineral yang memiliki resistensi tinggi. Sehingga mineral ini tidak hancur hingga berukuran lempung ataupun
lanau. Yang kemudian terlitifikasi menjadi batupasir. Deret reaksi bowen ini tidak dapat berlaku jika digunakan pada batuan sedimen non klastik.
Hal ini disebabkan karena batuan sedimen non klastik ini terbentuk dari mineral mineral yang terbentuk secara kimiawi maupun biologis bukan
berasal dari magma yang membeku seperti yang dijelaskan oleh Norman L. Bowen.
Untuk batuan metamorf deret ini pun juga dapat digunakan dalam pendiskripsian batuan tersebut. Dari pengertian batuan metamorf
terlebih dahulu kita tahu bahwa batuan tersebut terbentuk dari hasil proses metamorfisme dari batuan yang telah ada
sebelumnya. Proses metamorfisme sendiri memiliki arti proses perubahan suatu jenis batuan ke jenis yang lain tanpa melalui fase cair atau
berupa magma karena adanya suhu dan tekanan yang sangat tinggi. Hal ini terjadi karena proses tekanan dan suhu tersebut berlangsung tidak
menerus atau kontinyu sehingga ketika batuan berfase padat akan berubah ke fase cair proses tekanan dan suhu menghilang atau berkurang.

Jika kita hubungkan proses pembentukan batuan metamorf dengan deret reaksi yang telah di buat oleh bapak Bowen, maka aka nada
hubungannya. Yang pertama yaitu batuan metamorf yang terbentuk dari ubahan batuan beku. Padahal kita tahu batuan beku sangat berhubungan
dengan deret reaksi Bowen ini. Disinilah hubungannya. Secara jelas dan nyata kita dapat melihat sebuah sampel batuan metamorf
misalnya gneiss. Batu ini merupakan ubahan dari batuan beku yaitu granite,batu ini memiliki struktur foliasi gneissic. Batu ini bisa memiliki
struktur foliasi karena adanya tekanan yang tinggi pada saat proses metamorfisme pembentukannya. Jadi kita dapat dengan mudah mendiskripsi
batuan ini. Tinggal kita analogkan mineral penyusun batu granite dengan gneiss. Maka mineral penyusunnya pun dapat kita ketahui.

Selanjutnya jika kita hubungkan batuan metamorf dengan batuan sedimen yang bertekstur klastik. Di atas telah dijelaskan bagaimana
terbentuknya batuan sedimen klastik dan bagaimana hubungan antara batuan sedimen klastik tersebut dengan penggunaan deret reaksi Bowen.
Untuk lebih jelasnya dapat kita ketahui pada batuan metamorf yang bertekstur non foliasi hornfelsic. Contohnya yaitu quartzite. Batu ini
terbentuk dari hasil ubahan batusedimen klastik yaitu batupasir yang telah mengalami metamorfisme. Kita telah mengethui bahwa mineral
penyusun batupasir merupakan mineral quartz, sehingga secara jelas kita dapat mengetahui mineral yang menyusun batu metamorf tersebut
dengan cara menganalogkannya. Maka batu quartzite merupakan batu yang mengandung mineral quartz.







Daftar Pustaka
Dosen dan Staff Assisten Laboratorium Bahan Galian. 2007. Buku Panduan Praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Yogyakarta : Universitas
Gadjah
Mada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi Laboratorium Bahan Galian
http://apitnoparagon.wordpress.com/2010/01/21/deret-reaksi-bowen-bowens-reaction-series/
http://densowestliferz.wordpress.com/tag/mining/page/3/
http://geoenviron.blogspot.com/2011/11/bowens-reaction-series.html