Anda di halaman 1dari 3

Tafsir Al-Quran, Surat Al-Maidah Ayat 51-54

Minggu, 2012 Desember 09 00:36


22972 Views
Font Size
Print
SHARE
Tweet itDigg itGoogle
Ayat ke 51

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian
yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (5: 51)

Sejak awal mempelajari tafsir, itu berarti kita telah mempelajari ayat-ayat yang cukup banyak
yang berhubungan dengan masalah sosial dan politik Islam. Hal ini mengindikasikan begitu
komprehensifnya al-Quran dalam mengatur kehidupan manusia, serta menjamin kebahagian
mereka di dunia maupun di akhirat. Dalam ayat ini Allah Swt menyinggung salah satu hal
terpenting dalam kehidupan manusia. Disebutkan, orang-orang Mukmin tidak boleh
menjadikan orang-orang Kafir sebagai rujukan atau pemimpin mereka. Karena setiap kali
kalian menampakkan simpati kepada mereka, ternyata mereka justru semakin tidak
menyukai kalian. Mereka hanya suka pada golongan mereka sendiri. Lanjutan ayat ini
mengatakan, menerima kepemimpinan orang-orang Kafir sekecil apapun dapat memasukkan
orang ke dalam golongan Kafir dan menghidupkan jiwa kekafiran dan kemunafikan di dalam
hatinya. Hal ini merupakan kezaliman terbesar mengenai kebenaran bagi diri dan
masyarakat

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam hubungan politik luar negeri negara Islam, segala bentuk hubungan yang dapat
membuat orang-orang Kafir menjadi penguasa kaum Muslimin adalah terlarang.
2. Diterimanya kepemimpinan orang-orang Kafir dapat mengeluarkan manusia dari
kepemimpinan Tuhan serta dijauhkan dari hidayah Allah.
3. Kehidupan yang tentram, damai dan rukun dengan Ahlul Kitab merupakan pesan Islam
dan yang dilarang adalah menerima dominasi orang Kafir.

Ayat ke 52-53

Artinya:
Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang
munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut
akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada
Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi
menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (5: 52)

Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: "Inikah orang-orang yang bersumpah
sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?"
Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (5:
53)

Dengan adanya larangan Allah Swt terhadap segala bentuk persahabatan dan hubungan
yang menyebabkan orang-orang Kafir berkuasa, ayat ini menjelaskan adanya sekelompok
orang yang imannya lemah atau munafik. Mereka berlomba-lomba untuk menjalin
persahabatan dan memperoleh dukungan orang-orang Kafir. Al-Quran mengatakan, suatu
saat dimana Islam memegang kendali kekuasaan dan memperoleh kemenangan, berkat
pertolongan gaib Allah, maka yang menjalin hubungan dengan orang-orang Kafir karena rasa
takut akan menyesali perbuatan mereka. Segala apa yang mereka
sembunyikan pasti terbongkar. Saat itulah orang-orang Mukmin yang sebenarnya dengan
keheranan mengatakan, orang-orang yang mengaku secara lisan telah beriman, bahkan
bersumpah atas pengakuannya itu dengan serius, mengapa sekarang mereka kehilangan
segala sesuatu, bahkan seluruh pekerjaan mereka hancur lebur dan musnah.

Dari dua ayat tadi terdapat empat pelajaran yang dapat dipetik:
1. Suka bersahabat dengan orang-orang Kafir dan meminta dukungan mereka merupakan
tanda-tanda munafik dan lemah iman.
2. Iman yang lemah merupakan penyebab rasa takut terhadap kekuatan-kekuatan musuh
dan menjadi penyebab takluknya mereka dihadapan musuh tersebut.
3. Kekuatan politik, kemampuan ekonomi, keberhasilan dalam melaksanakan undang-
undang, semua itu ditangan Allah Swt dan akan diberikan kepada mereka yang beriman
teguh.
4. Akhir dari perbuatan nifak adalah terhapusnya amal ibadah, terhina dan menanggung
malu.

Ayat ke 54

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa
yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (5:
54)

Setelah ayat-ayat sebelumnya, dimana orang-orang Mukmin dilarang menerima segala
bentuk dominasi orang-orang Kafir, ayat ini juga memberi peringatan kepada Mukminin agar
berhati-hati. Karena perkara ini dapat menyebabkan keluarnya kalian dari agama yang hak,
yakni menjadi kafir dan murtad. Maka dari itu hendaknya kalian mengerti bahwa apabila
kalian bergerak menuju orang-orang Kafir hanya untuk mencari keselamatan dari mereka,
atau berharap bisa mendapatkan bantuan mereka di saat-saat krisis, ketahuilah agama
Allah tetap tidak akan hancur. Karena masih ada orang-orang Mukmin dengan jiwa yang
dipenuhi iman dan kecintaan kepada Allah. Mereka tak pernah gentar menghadapi mara
bahaya.

Yang menarik dalam ayat ini ialah Allah Swt menyifati orang-orang Mukmin dengan
mengatakan, meskipun mereka sangat tegas dan keras terhadap musuh, tetapi terhadap
sesama mereka sangat lemah lembut dan bersahabat. Dalam riwayat disebutkan bahwa
sewaku turunnya ayat ini Nabi Muhammad Saw memegang pundak Salman al-Farisi dan
mengatakan, kelompok orang-orang yang disebut dalam ayat ini adalah engkau dan kaummu
dari negeri Persia.

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:
1. Bahaya murtad dan kembali kepada agama senantiasa mengancam setiap orang mukmin,
maka dari itu berhati-hatilah dan hendaknya memikirkan akibat perbuatan kalian.
2. Murtad adalah akibat dari kekosongan makrifat dan kecintaan kepada Allah Swt dan
agama yang hak ini. Agama yang tidak dibangun dengan dasar akidah yang benar dan
kokoh, senantiasa terancam bahaya.
3. Allah Swt tidak memerlukan kita dan bantuan kita. Karena selalu ada orang-orang yang
siap memperjuangkan agama Allah dan menjaganya.
4. Sikap kaum Muslimin terhadap sesamanya ialah cinta kasih dan lemah lembut, namun
terhadap musuh-musuh Islam, mereka sangat keras dan tegas. Karenanya, lemah lembut
atau sikap keras tidak bisa menjadi sikap yang mutlak.
5. Kemuliaan yang diberikan oleh Allah tidak semata-mata terbatas pada kekayaan dan
kedudukan. Kecintaan Allah, jihad fi sabilillah, tegas dalam urusan agama juga merupakan
manifestasi dari anugerah dan kelembutan Allah Swt. (IRIB Indonesia)