Anda di halaman 1dari 3

Contoh :

Sebuah perusahaan memproduksi Mesin Cuci dan menyalurkannya melalui dua


saluran distribusi yakni perusahaan yang berada di Malang (Q1) dan perusahaan yang berada
di Surabaya (Q2). Diperkirakan profit margin yang diperoleh dari masing-masing saluran
distribusi tersebut adalah Rp 25,00 dan Rp 20,00. digunakan dua marketing mix yakni
personal selling dan advertensi. Diperkirakan personal selling tersebut akan menghabiskan
waktu sebanyak 5.000 jam untuk masa 6 bulan yang akan datang, dan anggaran biaya
advertensi yang tersedia untuk masa 6 bulan yang akan datang Rp 16.000,00. Berdasarkan
data masa lalu; setiap satu unit penjualan memerlukan kontak dengan konsumen sebesar 0,75
jam untuk saluran Q1 dan 0,50 jam untuk saluran Q2. Sedangkan untuk advertensi
memerlukan Rp 2,00 untuk saluran Q1 dan Rp 4,00 untuk saluran Q2. Penjualan yang
diharapkan masing-masing penyalur minimal 3.000 unit.

Diminta :
Tentukan kombinasi marketing mix optimal untuk mencapai laba optimal. Untuk
mengerjakan pertanyaan di atas maka dibutuhkan langkah-langkah penyelesaian adalah
sebagai berikt:
a. Menentukan fungsi tujuan, dalam hal ini adalah laba optimal dari masing-masing saluran
dengan berbagai kombinasi marketing mix yang dinyatakan sebagai fungsi laba (profit).
b. Menentukan persamaan fungsi pembatas (kendala) yakni batasan variabel marketing mix
dan juga batasan harapan permintaan masing-masing sauran.
c. Menggabungkan persamaan-persamaan pada langkah a dan b, maka akan diperoleh satu
daerah kemungkinan pencapaian laba optimum yang dibatasi oleh perpotongan garis-
garis dari persamaan langkah b. Daerah ini disebut daerah kemungkinan (feasible
poygron/feasible set).
d. Menggabungkan antara persamaan fungsi tujuan (langkah a) dengan titik-titik potong dan
feasible polygon akan dapat ditemukan kombinasi marketing mix yang akan mencapai
laba optimal.
Langkah-langkah tersebut jika ditunjukkan dalam perhitungan adalah:
a. Persamaan fungsi tujuan
Profit = 25 Q1 + 20 Q2
b. Persamaan fungsi pembatas
1. Personal selling
0,75 Q1 + 0,50 Q2 <= 5.000
2. Advertensi
2 Q1 = 4 Q2 <= 16.000
3. Permintaan
Q1 >= 3.000
Q2 >= 3.000
c. Langkah berikutnya adalah menggambarkan garis-garis fungsi pembatas dan mencari
titik-titik perpotongannya, dimana akan ditemukan daerah kemungkinan yakni seperti
yang disajikan di bawah ini.

Q2 Q1 = 3.000

16.000
0,75 Q1 + 0,50 Q2 = 5.000

8.000
7.000

3.000 Q2 = 3000
2 Q1 + 4 Q2 = 14.000
3.000 8.000 14.000 Q1


Keterangan :
ABCD Daerah kemungkinan
Titik A (3.000, 3.000)
Titik B (6.500, 3.000)
Titik C (6.000, 4.000)
Titik D (3.000, 5.500)
d. Menggabungkan antara persamaan fungsi tujuan (fungsi profit) dengan titik-titik potong
dari daerah kemungkinan yakni titik A, B, C, dan D.
Profit = 25 Q1 + 20 Q2
Titik A profit 25 (3.000) + 20 (3.000) = 135.000
Titik B profit 25 (6.500) + 20 (3.000) = 222.500
Titik C profit 25 (6.000) + 20 (4.000) = 230.000
Titik D profit 25 (3.000) + 20 (5.500) = 185.000
Dari perhitungan di atas tampak bahwa pada titik C tercapai laba yang paling tinggi
yakni sebesar Rp 230.000,00. Dengan demikian perusahaan ini akan menyalurkan lewat Q1
sebesar 6.000 unit dengan program personal selling 4.500 jam (6.000 x 0,75) dan program
advertensi dengan biaya sebesar Rp 12.000,00 (6.000 x Rp 2,00) serta melalui saluran Q2
sebesar 4.000 unit dengan program personal selling 2.000 jam (4.000 x 0,50) dan advertensi
dengan biaya Rp 16.000,00 (4.000 x Rp 4,00).
Dengan kata lain kombinasi marketing mix optimal untuk mencapai laba optimal Rp
230.000,00 adalah:
a. Saluran distribusi Q1, dengan
Personal selling selama 4.500 jam
Advertensi dengan biaya Rp 12.000,00
b. Saluran distribusi Q2, dengan
Personal selling selama 2.000 jam
Advertnesi dengan biaya Rp 16.000,00
Sebagai catatan adalah bahwa metode ini menggunakan beberapa asumsi dan
kebanyakan dari asumsi tersebut adalah tidak realistik. Oleh karena itu, juga dikenal beberapa
metode lain diantaranya ialah metode eksponensial.
Perlu diingat juga bahwa metode yang digunakan dalam contoh tersebut di atas
disebut metode grafik yang hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan dengan
dua saluran distribusi metode tersebut tidak dapat digunakan lagi, melainkan menggunakan
metode simpleks.