Anda di halaman 1dari 10

Perusahaan multinasional atau PMN adalah perusahaan yang berusaha di

banyak negara;perusahaan ini biasanya sangat besar. Perusahaan seperti ini memiliki kantor-kantor,
pabrik atau kantor cabang di banyak negara. Mereka biasanya memiliki sebuah kantor pusat di mana
mereka mengkoordinasimanajemen global. Perusahaan multinasional yaitu suatu perusahaan yang
berbasis di satu negara (negara induk) akan tetapi pesusahaan itu memiliki kegiatan produksi
ataupun pemasaran cabang di negara negara lain (negara cabang). Di beberapa dekade
akhir abad ke-20, transformasi pesat dunia industri mengambil bentuknya yang baru. Kemajuan
mencolok ilmu dan teknologi, sebagai mesin penggerak suatu masyarakat, dunia mendapatkan
pengaruhnya dari berbagai sudut. Perekonomian adalah salah satu bidang yang mengalami berbagai
perubahan mencolok di masa-masa tersebut. Yang pasti, munculnya berbagai perusahaan
multinasional, hingga batas tertentu, membuka peluang bagi globalisasi. Pengalaman pertumbuhan
ekonomi pada abad kesembilan belas di Negara-negara maju banyak bersumber dari dari pergerakan
modal internasional yang cukup deras pada waktu itu. Mobiltas faktor-faktor produksi yang terjadi
antar Negara mencapai titik puncaknya dengan hadirnya perusahaan-perusahaan multinasional.
Mungkin perkembangan yang terpenting dalam hubungan-hubungan ekonomi internasional selama
dua dasawarsa terakhir ini adalah lonjakan mengagumkan kekuatan dan pengaruh perusahaan-
perusahaan raksasa multinasional. Merekalah penyalur utama aneka factor produksi, mulai dari
modal, tenaga kerja dan teknologi produksi, semuanya dalam skala besar-besaran, dari satu Negara
ke Negara lainnya.
Dalam operasinya ke berbagai Negara-negara dunia ketiga, mereka menjalankan berbagai
macam operasi bisnis yang inovatif dan kompleks sehingga tidak bias lagi kita pahami hanya dengan
perangkat teori-teori perdagangan yang sederhana, apalagi mengenai distribusi keuntungannya.
Perusahaan-perusahaan raksasa, seperti IBM, Ford, Exxon, Philips, Hitachi, British Petroleum,
Renault, Volkswagen, dan Coca-Cola, telah sedemikan rupa mendunia dalam operasinya sehingga
kalkulasi atas distribusi keuntungan-keuntungan yang dihasilkan oleh produksi internasional itu
kepada penduduk setempat dan pihak asing menjadi semakin sulit dilakukan
Arus sumber-sumber keuangan internasional dapat terwujud dalam dua bentuk. Yang pertama
adalahpenanaman modal asing yang dilakukan oleh pihak swasta (private
foreign investment) dan investasi portofolio, terutama berupa penanaman modal asing langsung
(PMI). Penanaman modal seperti ini juga dapat disebut Foreign Direct Investment (FDI). FDI (Foreign
Direct Investment) atau investasi langsung luar negeri adalah salah satu ciri penting dari sistem
ekonomi yang kian mengglobal. Ia bermula saat sebuah perusahaan dari satu negara menanamkan
modalnya dalam jangka panjang ke sebuah perusahaan di negara lain. Dengan cara ini perusahaan
yang ada di negara asal (biasa disebut home country) bisa mengendalikan perusahaan yang ada di
negara tujuan investasi (biasa disebut host country) baik sebagian atau seluruhnya. Caranya
dengan si penanam modal membeli perusahaan di luar negeri yang sudah ada atau menyediakan
modal untuk membangun perusahaan baru di sana atau membeli sahamnya sekurangnya 10%.
Biasanya, FDI terkait dengan investasi aset-aset produktif, misalnya pembelian atau
konstruksi sebuah pabrik, pembelian tanah, peralatan atau bangunan; atau konstruksi peralatan atau
bangunan yang baru yang dilakukan oleh perusahaan asing. Penanaman kembali modal
(reinvestment) dari pendapatan perusahaan dan penyediaan pinjaman jangka pendek dan panjang
antara perusahaan induk dan perusahaan anak atau afiliasinya juga dikategorikan sebagai investasi
langsung. Kini mulai muncul corak-corak baru dalam FDI seperti pemberian lisensi atas penggunaan
teknologi tinggi. Sebagian besar FDI ini merupakan kepemilikan penuh atau hampir penuh dari
sebuah perusahaan. Termasuk juga perusahaan-perusahaan yang dimiliki bersama (joint ventures)
dan aliansi strategis dengan perusahaan-perusahaan lokal. Joint ventures yang melibatkan tiga pihak
atau lebih biasanya disebut sindikasi (atau syndicates) dan biasanya dibentuk untuk proyek tertentu
seperti konstruksi skala luas atau proyek pekerjaan umum yang melibatkan dan membutuhkan
berbagai jenis keahlian dan sumberdaya.
Multinational Corporations atau MNC adalah perusahaan yang beroperasi di dua atau lebih
negara. MNC menjadi fenomena yang dominan dalam hubungan internasional saat ini terkait dengan
adanya globalisasi perdagangan dan perkembangan perekonomian dunia. Dalam hal perkembangan
perekonomian domestik suatu negara, MNC memiliki pengaruh yang signifikan sebab keberadaan
MNC pada suatu negara menjadi salah satu penyumbang pajak tertinggi bagi pendapatan suatu
negara sekaligus bagi perkembangan ekonominya. MNC adalah bentuk korporasi baru yang tidak
dapat di hindari sebagai sebuah konsekuensi logis dari adanya globalisasi itu sendiri. MNC
merupakan wujud dari perdagangan modern dimana profit merupakan orientasi utama dari
keberadaan setiap MNC di suatu negara.
Ciri ciri perusahaan multinasional antara lain :
1. Lingkup kegiatan income generating (perolehan pendapatan) perusahaan multinasional melampau
batas- batas Negara.
2. Perdagangan dalam perusahaan multinasional kebanyakan terjadi di dalam lingkup perusahaan itu
sendiri, walaupun antarnegara.
3. Control terhadap pemakaian teknologi dan modal sangat diutamakan mengingat kedua factor
tersebut merupakan keuntungan kompetitif perusahaan multinasional.
4. Pengembangan system managemen dan distribusi yang melintasi batas-batas Negara, terutama
system modal ventura, lisensi dan franchise.
Karakter Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional biasanya memiliki ciri ciri :
1. Membentuk cabang cabang di luar negeri
2. Visi dan strategi yang digunakan untuk memproduksi suatu barang bersifat global (mendunia),
jadi perusaan tersebut membuat atau menghasilkan barang yang dapat digunakan di semua
negara.
3. Lebih cenderung memilih kegiatan bisnis tertentu, umumnya manufaktur.
4. Menempatkan cabang pada negara negara maju.
Kehadiran anak perusahaan bagi negara cabang banyak memberikan keuntungan untuk
negara tersebut diantaranya pemberian pajak untuk perusahaan tersebut yang cukup besar. Tidak
hanya itu, dengan adanya suatu anak perusahaan dinegara lain, berarti sedikit membantu membuka
peluang kerja bagi penduduk yang belum kerja dinegara tersebut.
Bekerja di Perusahaan Multinasional
Terbukanya perusahaan multinasional disambut baik dengan penduduk negara tersebut, karena
perusahaan muktinasional memiliki banayak keuntungan di bandingkan dengan perusahaan lainnya,
di antaranya sebagai berikut :
1. Jaringan kerja yang luas
Perusahaan multinasional mempunyai jaringan pekerjaan yang luas, perusahaan tersebut tidak
hanya berkembang pada satu negara saja, akan tetapi banyak. Oleh sebab itu, peluang untuk ke luar
negeri besar untuk pelatihan ataupun penambahan pekerja dinegara lainnya
2. Pendapatan yang lebih tinggi
Hal ini yang membuat banyak orang memilih perusahaan multinasional, karena perusahaan
multinasional menawarkan gaji yang lebih tinggi di bandingkan dengan perusahaan lainnya. Tidak
hanya gaji, perusahaan ini pun memiliki fasilitas yang lebih di bandingkan dengan perusahaan swasta
ataupun nasional lainnya.
3. Deskiripsi pekerjaan lebih jelas
Dekskripsi pekerjaan yang diberikan perusahaan multinasioanal lebih jelas atau tidak tumpang
tindih sehingga kita merasa nyaman dalam pekerjaan kita

Persyaratan Agar di Terima di Perusahaan Multinasioanal
Persyaratan umum sebenarnya sama dengan perusahaan lainnya yakni kemampuan teknis sesuai
bidangnya maupun kompetensi pendukung yang dimiliki dari seorang calon karyawan. Bedanya,
perusahaan multinasional juga akan melihat kompetensi non teknis sebagai bagian penting dalam
proses perekrutan karena akan menentukan apakah seseorang akan sesuai di organisasi tersebut
dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Terkait penguasaan bahasa asing, pada
perusahaan multinasional akan menjadi nilai tambah dan hampir menjadi sesuatu yang wajib
meskipun nantinya keahlian berbahasa bisa terus diasah ketika sudah bekerja.

Bagaimana proses seleksi yang dilakukan?
Proses seleksi tentu saja relatif lebih ketat dan persaingan antar kandidat juga cukup berat. Hal bisa
dimaklumi karena yang mendaftar juga merupakan orang-orang terbaik dari berbagai perguruan
tinggi bergengsi dalam dan luar negeri. Walaupun demikian, lulusan Indonesia memiliki kualitas yang
baik dan tak jarang memenangkan persaingan dibandingkan kandidat yang pernah kuliah di luar
negeri. Salah satu proses seleksi yang ada adalah Focus Group Discussion di mana para kandidat
diberi sebuah persoalan dan diminta untuk menyelesaikan dengan interaksi antar individu dalam
sebuah grup.

Apa saja yang harus dipersiapkan oleh seorang mahasiswa agar siap melamar di
perusahaan multinasional?
Pertama tentu saja harus menguasai bidang ilmu yang dipelajari dengan baik. Jika kuliah di Teknik
Mesin, kuasailah bidang tersebut dengan baik. Jika kuliah di Ekonomi, kuasai pula bidang tersebut
dengan baik. Selain pengetahuan yang sesuai dengan jurusan yang dijalani, seorang mahasiswa
harus memanfaatkan waktu untuk belajar hal-hal lain seperti kemampuan berkomunikasi,
menyampaikan sebuah ide atau pendapat, menganalisa sebuah permasalahan, menggunakan
common sense untuk mengatasi persoalan, memiliki energi dan komitmen yang kuat dalam bekerja,
serta memiliki kedewasaan yang matang secara pribadi, kemampuan berorganisasi baik memimpin
maupun dipimpin. Jika kualitas diri seperti itu dimiliki dan secara fungsional bidang yang dipelajari
juga dikuasai dengan baik, maka akan banyak perusahaan yang mencari.
Perusahaan-Perusahaan Multinasiona
Perusahaan Multinasional telah memainkan peranan yang sangat penting dalam menjalankan
kebijakan dan aturan baik di tingkat national maupun internasional. Di negara-negara berkembang,
hampir setiap aspek dari kehidupan komunitas telah terkena dampak dari operasi Perusahaan
Multinasional. Perusahaan multinasional atau PMN adalah perusahaan yang berusaha di banyak
negara; perusahaan ini biasanya sangat besar. Perusahaan seperti ini memiliki kantor-kantor, pabrik
atau kantor cabang di banyak negara. Mereka biasanya memiliki sebuah kantor pusat di mana
mereka mengkoordinasi manajemen global. Perusahaan multinasional yang sangat besar memiliki
dana yang melewati dana banyak negara. Mereka dapat memiliki pengaruh kuat dalam politik global,
karena pengaruh ekonomi mereka yang sangat besar bagai para politisi, dan juga sumber finansial
yang sangat berkecukupan untuk relasi masyarakat dan melobi politik. Karena jangkauan
internasional dan mobilitas PMN, wilayah dalam negara, dan Negara sendiri, harus berkompetisi agar
perusahaan ini dapat menempatkan fasilitas mereka (dengan begitu juga pajak pendapatan,
lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi lainnya) di wilayah tersebut. Untuk dapat berkompetisi, negara-
negara dan distrik politik regional seringkali menawarkan insentif kepada PMN, seperti potongan
pajak, bantuan pemerintah atau infrastruktur yang lebih baik atau standar pekerja dan lingkungan
yang memadai.
Perusahaan multinasional pada dasarnya adalah sebuah perusahaan raksasa yang
menjalankan, memiliki serta mengendalikan operasi bisnis atau kegiatan-kegiatan usahanya di lebih
dari satu Negara. Perusahaan multinasional ini umumnya berupa perusahaan yang dikelola oleh lebih
dari sebuah negara, dan oleh karena kekuatan ekonominya yang besar, ia mampu mempengaruhi
kebijakan-kebijakan perekonomian suatu negara dengan sangat luas.
Dari sudut pandang sejarah, model perusahaan seperti ini mulai bermunculan sejak dekade
50. perusahaan-perusahaan multinasional, terutama di AS, semakin aktif di beberapa bidang, setelah
terpengaruh oleh kondisi perekonomian di zaman itu. Dengan memanfaatkan sistem transportasi dan
komunikasi internasional yang semakin modern, demikian pula karena adanya celah antara
hubungan Eropa dan Jepang, perusahaan-perusahaan ini menemukan peluang untuk menjual
produk-produk mereka ke luar batas-batas AS. Tak lama kemudian, perusahaan-perusahaan Eropa
mengikuti jejak langkah mereka ini, sehingga menjadi semakin luaslah keberadaan perusahaan-
perusahaan multinasional ini.
Perusahaan multinasional atau PMN adalah perusahaan yang berusaha di banyak negara;
perusahaan ini biasanya sangat besar. Perusahaan seperti ini memiliki kantor-kantor, pabrik
atau kantor cabang di banyak negara. Mereka biasanya memiliki sebuah kantor pusat di mana
mereka mengkoordinasi manajemen global. Perusahaan multinasional yang sangat besar memiliki
dana yang melewati dana banyak negara. Mereka dapat memiliki pengaruh kuat dalam politik global,
karena pengaruh ekonomi mereka yang sangat besar bagai para politisi, dan juga sumber finansial
yang sangat berkecukupan untuk relasi masyarakat dan melobi politik. Karena jangkauan
internasional dan mobilitas PMN, wilayah dalam negara, dan Negara sendiri, harus berkompetisi agar
perusahaan ini dapat menempatkan fasilitas mereka (dengan begitu juga pajak pendapatan,
lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi lainnya) di wilayah tersebut. Untuk dapat berkompetisi, negara-
negara dan distrik politik regional seringkali menawarkan insentif kepada PMN, seperti potongan
pajak, bantuan pemerintah atau infrastruktur yang lebih baik atau standar pekerja dan lingkungan
yang memadai.
Terdapat dua karakteristik pokok dari perusahaan multinasional, yakni ukuran mereka yang
sangat besar dan kenyataan bahwa operasi bisnis mereka yang tersebar ke seluruh dunia itu
cenderung dikelola secara terpusat oleh para pemimpinnya di kantor pusatnya yang berkedudukan di
Negara asal. Ukuran mereka yang sedemikian besar tentu memberikan kekuatan ekonomi (dan
terkadang juga kekuatan politik) yang sangat besar, sehingga mereka merupakan kekuatan utama
(sekitar 40%) yang menyebabkan berlangsungnya globalisasi perdagangan duniua secara pesat.
Dengan kekuatan yang begitu besar, merekalah yang sebenarnya seringkali mendominasi aneka
komoditi dagang di Negara-negara berkembang (tembakau, mie, bubur gandum instant, dsb).
Dari gambaran ini, maka bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kekuatan ekonomi (dan
terkadang politik) yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaa multinasional tersebut, apalagi jika
dibandingkan dengan pemerintahan di Negara-negara berkembang di mana mereka menjalankan
bisnisnya. Kekuatan mereka ini juga ditunjang lagi oleh posisi oligopolitik yang mereka genggam
dalam perekonomian domestic atau bahkan internasional pada sektor atau jenis-jenis produk yang
mereka jalankan.
Berikut adalah beberapa jenis perusahaan Multinasional:
1. DUNKIN DONUTS
2. LEVIS JEAN
3. EPSON
4. KFC
5. LG
6. BLACKBERRY

D. Dampak perusahaan multinasional
Dewasa ini kehadiran perusahaan-perusahaan multinasional di bidang ekonomi dan politik
dunia, terasa sangat mencolok. Perusahaan-perusahaan multinasional yang menancapkan kukunya
juga tentu saja memberikan implikasi kepada, saya sebut sebagai, Negara yang diekspansinya, baik
dampak positif maupun dampak negatifnya. Dampak positif pertama yang paling sering disebut-
sebut sebagai sumbangan positif penanaman modal asing ini adalah, peranannya dalam mengisi
kekosongan atau kekurangan sumber daya antara tingkat investasi yang ditargetkan dengan jumlah
actual tabungan domestik yang dapat dimobilisasikan. Dampak positif kedua adalah, dengan
memungut pajak atas keuntungan perusahaan multinasional dan ikut serta secara financial dalam
kegiatan-kegiatan mereka di dalam negeri, pemerintah Negara-negara berkembang berharap bahwa
mereka akan dapat turut memobilisasikan sumber-sumber financial dalam rangka membiayai proyek-
proyek pembangunan secara lebih baik.
Dampak positif ketiga adalah, perusahaan multinasional tersebut tidak hanya akan
menyediakan sumber-sumber financial dan pabrik-pabrik baru saja kepada Negara-negara miskin
yang bertindak sebagai tuan rumah, akan tetapi mereka juga menyediakan suatu paket sumber
daya yang dibutuhkan bagi proses pembangunan secara keseluruhan, termasuk juga pengalaman
dan kecakapan manajerial, kemampuan kewirausahaan, yang pada akhirnya nanti dapat
dimanifestasikan dan diajarkan kepada pengusaha-pengusaha domestic
Dampak positif keempat adalah, perusahaan multinasional juga berguna untuk mendidik para
manajer local agar mengetahui strategi dalam rangka membuat relasi dengan bank-bank luar negeri,
mencari alternative pasokan sumber daya, serta memperluas jaringan-jaringan pemasaran sampai ke
tingkat internasional.Dampak positif kelima adalah, perusahaan multinasional akan membawa
pengetahuan dan teknologi yang tentu saja dinilai sangat maju dan maju oleh Negara berkembang
mengenai proses produksi sekaligus memperkenalkan mesin-mesin dan peralatan modern kepada
Negara-negara dun ia ketiga.
Selain dampak positif yang telah dikatakan diatas, tentu saja dalam pelaksanaan kegiatan
ekonominya, perusahaan multinasional juga mempunyai dampak negatif yang terjadi pada Negara
tamu. Pada umumnya pasar yang menjadi sasaran pemasaran perusahaan multinasional ini memang
adalah Negara-negara yang notabenenya adalah Negara-negara yang sedang berkembang atau
Negara-negara dunia ketiga. Hal ini mereka lakukan karena Negara-negara dunia ketiga ini dinilai
belum mempunyai perlindungan yang baik atau belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk
menolak kekuatan daripada perusahaan-perusahaan raksasa multinasional ini sehingga bukan tidak
mungkin mereka bisa melakukan intervensi terhadap pemerintahan yang dilangsungkan oleh Negara
yang bersangkutan, atau dengan kata lain Negara-negara ini menghadapi dilema di mana
sebagian besar negara terlalu lemah untuk menerapkan prinsip aturan hukum, dan juga
perusahaan-perusahaan raksasa ini sangat kuat menjalankan kepentingan ekonomi untuk
keuntungan mereka sendiri.
Kemudian kita juga harus menyadari bahwa perusahaan-perusahaan mutinasional ini tidak
tertarik untuk menunjang usaha pembangunan suatu Negara. Perhatian mereka hanya tertuju
kepada upaya maksimalisasi keuntungan atau tingkat hasil financial atas setiap sen modal yang
mereka tanamkan. Perusahaan-perusahaan multi nasional ini senantiasa mencari peluang ekonomi
yang paling menguntungkan, dan mereka tidak bisa diharapkan untuk memberi perhatiam kepada
soal-soal kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan lonjakan pengangguran. Pada umumnya,
perusahaan-perusahaan multinasional hanya sedikit memperkerjakan tenaga-tenaga setempat.
Operasi mereka cenderung terpusat di sector modern yang mampu menghasilkan keuntungan yang
maksimal yaitu di daerah perkotaan.
Selain tidak bisa diharapkan untuk ikut membantu mengatasi masalah ketenagakerjaan di
Negara tuan rumah, mereka bahkan seringkali memberi pengaruh negative terhadap tingkat upah
rata-rata, karena mereka biasanya memberikan gaji dan aneka tunjangan kesejahteraan yang
jauh lebih tinggi ketimbang gaji gaji rata-rata kepada para karyawannya, baik itu yang berasal
dari Negara setempat atau yang didatangkan dari Negara-negara lain. Di atas telah dikatakan
bahwa keuatan mereka juga ditunjang oleh posisi oligopolitik yang mereka genggam dalam
perekonomian domestik atau bahkan internasional pada sektor atau jenis-jenis produk yang mereka
geluti. Hal ini bertolak berlakang dari keyataan bahwa mereka cenderung beroperasi di pasar-pasar
yang dikuasai oleh beberapa penjual dan pembeli saja. Situasi seperti ini memberi mereka
kemampuan serta kesempatan yang sangat besar untuk secara sepihak menentukan harga-harga
dan laba yang mereka kehendaki, bersekongkol dengan perusahaan lainnya dalam membagi daerah
operasinya serta sekaligus untuk mencegah atau membatasi masuknya perusahaan-perusahaan
baru yang nantinya dikhawatirkan akan menjadi saingan mereka.
Hal-hal tersebut mereka upayakan dengan menggunakan kekuatan yang mereka miliki dalam
penguasaan teknologi-teknologi baru yang paling canggih dan efisien, keahlian-keahlian khusus,
diferensiasi produk, serta berbagai kegiatan periklanan secara gencar dan besar-besaran untuk
mempengaruhi, kalau perlu mengubah, selera dan minat konsumen. Kemudian walaupun dampak-
dampak awal (berjangka awal) dari penanaman modal perusahaan multinasional memang dapat
memperbaiki posisi devisa Negara yang menerima mereka (Negara tuan rumah), tetapi dalam jangka
panjang dampak-dampaknya justru negatif, yakni dapat mengurangi penghasilan devisa itu, baik
dari sisi neraca transaksi berjalan maupun neraca modal.Neraca transaksi berjalan bisa
memburuk karena adanya impor besar-besaran atas barang-barang setengah jadi dan barang modal
oleh perusahaan multinasional itu, dan hal tersebut masih diperburuk lagi oleh adanya pengiriman
kembali keuntungan hasil bunga, royalty, dan biaya-biaya jasa manajemen ke Negara asalnya. Jadi
praktis pihak Negara tuan rumah tidak memperoleh bagian keuntungan yang adil dan wajar.
Selain itu perusahaan-perusahaan multinasional berpotensi besar untuk merusak
perekonomian tuan rumah dengan cara menekan timbulnya semangat bisnis para usahawan
local, dan menggunakan tingkat penguasaan pengetahuan teknologi mereka yang superior, jaringan
hubungan luar negeri yang luas dan tertata baik, keahlian dan agresivitas di bidang periklanan, serta
penguasaan atas berbagai berbagai jenis jasa pelengkap lainnya untuk mendorong keluar setiap
perusahaan local yang cukup potensial yang dianggap mengganggu atau mengancam dalam kancah
persaingan, dan sekaligus untuk menghalangi munculnya perusahaan-perusahaan baru yang
berpotensi untuk menjadi saingan mereka. Perusahaan-perusahaan multinasional juga sering
menggunakan kekuatan ekonomi mereka untuk mempengaruhi, menyuap, dan memanipulasi
berbagai kebijakan pemerintah di Negara tuan rumah ke arah yang tidak menguntungkan bagi
pembangunannya.
C.Dampak Negatif Perusahaan Multinasional
Alasan utama banyaknya negara berhati-hati sebelum mengizinkan operasi suatu perusahaan
multinasional di negaranya adalah dampak-dampak negatif yang mungkin ditimbulkannya. Salvatore
paling tidak menyebutkan 6 dampak ini di dalam bukunya,
Terhadap negara asal
1. Hilangnya sejumlah lapangan kerja domestik. Ini karena perusahaan multinasional mengalihkan
sebagian modal dan aktivitas bisnisnya ke luar negeri.
2. Ekspor teknologi, yang oleh sebagian pengamat, secara perlahan-lahan akan melunturkan
prioritas teknologi negara asal dan pada akhirnya mengancam perekonomian negara
bersangkutan.
3. Kecenderungan praktik pengalihan harga sehingga mengurangi pemasukan perpajakan
4. Mempengaruhi kebijakan moneter domestik.
Terhadap negara tuan rumah:
1. Keengganan cabang perusahaan multinasional untuk mengekspor suatu produk karena negara
tersebut bukan mitra dagang negara asalanya.
2. Mempengaruhi kebijakan moneter negara yang bersangkutan.
3. Budaya konsumsi yang dibawa perusahaan tersebut bisa mengubah budaya konsumsi
konsumen local dan pada akhirnya mematikan unit-unit usaha tradisional.
Dan tentu saja dampak-dampak lainnya masih banyak mengingat masalah ini adalah masalah yang
kompleks. Mulai dari politik yang mempengaruhinya, belum lagi bidang lainnya yang mempengaruhi
dan dipengaruhi baik di bidang sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya.
D.Penanggulangan Dampak negatif Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional, seperti halnya perusahaan komersial lainnya akan tetap dan selalu
bersifat profit oriented. Disini akan timbul suatu masalah dalam kaitannya dengan penanggulangan
dampak negative perusahaan multinasional. Program-program penanggulangan dampak negative,
bisa dicontohkan asuransi kesehatan pegawai, pajak lingkungan hidup (di luar negeri), jamsostek,
reservasi lingkungan, akan dianggap sebagai suatu inefisiensi karena sifat profit orientednya tadi,
dimana perusahaan berusaha mencari keuntungan yang sebesar-besarnya sebagai bentuk
pertanggungjawabannya terhadap shareholder. Sehingga tidak akan tercapai titik temu antara tujuan
perusahaan dengan tujuan masyarakat. Disinilah pemerintah mengambil peranannya. Namun, tidak
selamanya hal ini bisa dilakukan oleh pemerintah apalagi pemerintah yang korup. Demi peningkatan
usaha penanggulangan dampak negatif MNC, harus dicari akar masalah dari hambatan atas
penanggulangan ini. Ekonom dan peraih nobel, Joseph E stiglitz dalam bukunya Making Globalization
Works (2006) mengemukan 4 dilema yang dialami perusahaan sehingga mereka sebenarnya tidak
mau melakukan usaha penanggulangan dampak negatif atas aktivitas yang mereka lakukan.
1. Sifatnya yang profit oriented, sebagaimana penjelasannya di atas.
2. Kompetisi. Ini mengakibatkan perusahaan harus melakukan operasi seefisien mungkin dengan
cara menghasilkan untung yang sebesar-besarnya dan menekan biaya dalam waktu singkat agar
dapat tetap survive. Dalam kondisi seperti ini, tentu perusahaan akan menghindari segala biaya
yang tidak esensial bagi operasi seperti, misalkan biaya pembangunan rumah sakit bagi warga
sekitar.
3. Kekuatan ekonomi dan politik, mengingat kekuatan peusahaan multinasional yang luar biasa
secara ekonomi dan politik, perusahaan semacam ini bisa saja membeli negara-negara yang
memang sedang membutuhkan modal dari mereka. Contohnya Freeport di Papua dan Exxon di
Aceh. Dilema akan terjadi karena semakin perusahaan ini berperan dalam pembangunan sosial
ekonomi semakin pembangunan ditentukan oleh praktik-praktik untuk memenuhi interest dari
perusahaan tersebut. Misalnya Freeport memang membangun rumah-rumah sakit,jalan sekolah,
tetapi warga sekitar tetap mengeluh. Mereka mengeluh karena kenyataannya fasilitas-fasilitas
tersebut untuk melayani kepentingan pegawai dan staf perusahaan saja.
4. Kolusi perusahaan-pemerintah. Perusahaan bisa melakukan lobi-lobi kepada para birokrat, baik
daerah maupun pusat untuk membuat undang-undang yang memenuhi interest dan kebutuhan
mereka. Tidak jarang biaya untuk melakukan lobi-lobi ini melebihi biaya investasi lainnya.
Perusahaan perminyakan seringkali mengurangi biaya kompensasi dan konservasi alam dengan
cara menyuap pejabat publik. Lagipula kebijakan tersebut adalah banyak dipengaruhi pejabat
publik dan perusahaan saja, tetapi minim partisipasi masyarakat sehingga tidak jarang
mengabaikan hak-hak publik. Contoh yang bagus adalah kasus Freeport di Indonesia, Dalam 20
tahun berikutnya, proses pemakaian tanah yang tidak transparandan pemindahan paksa
komunitas lokalberlanjut pada 1995, anggota-anggota masyarakat memahami untuk pertama
kalinya bahwa, menurut sumber-sumber pemerintah, mereka telah menyerahkan tanah-tanah
ulayat di wilayah Timika (hampir 1 juta hektar) kepada pemerintah untuk penempatan
transmigrasi, termasuk kota Timika dan lokasi Freeport yang baru, Kuala Kencana. (Aderito de
Jesus Soares, jurnal LIBERTASAUN V/2005)
Dari akar masalah di atas paling tidak bisa dirumuskan 3 pendekatan dalam menanggulangi masalah
di atas sebagai berikut:
1. Pendekatan hukum. Dilema perusahaan akan profit oriented dapat dicegah melalui legislasi,
dimana peraturan perundang-undangan yang mengikat semua pihak akan menempatkan
perusahaan pada standar yang sama. Perusahaan yang berbisnis dengan standar tinggi pasti
akan menyambut baik hal ini. Perusahaan yang berbisnis dengan standar tinggi, dalam
menjalankan praktiknya akan memperhatikan etika berbisnis (code of conduct). Peraturan dan
legislasi akan melindungi perusahaan tersebut terhadap kompetisi yang tidak fair dari
perusahaan yang tidak memenuhi standar yang sama. Pentingnya peraturan dan hukum ini,
seperti dikatakan oleh stiglitz, tanpa tekanan peraturan pemerintah dan masyarakat, korporasi
enggan melindungi dampak lingkungan secara memadai. Sejatinya mereka memiliki motivasi
untuk merusak lingkungan hidup jika hal tersebut dapat menyelamatkan uang mereka
2. Pendekatan sosial dan etika. Pendekatan lainnya untuk menjamin pertanggungjawaban publik
perusahaan multinasional ialah melalui berbagai macam tekanan sosial dan etik masyarakat.
Paling tidak ada 4 kelompok yang dapat mengadakan presure antara lain, konsumen, investor,
pekerja dan LSM. Menurut Wegner-Tsukamoto, kelompok ini dapat menciptakan apa yang
disebut ethical capital yang artinya nilai yang merasuki empat kelompok tadi untuk melakukan
gerakan moral secara aktif. Contoh nyatanya adalah boikot yang dilakukan Gandhi, tentu saja
diikuti pengikutnya, atas perusahaan kapas kolonialis Inggris di India, kemudian boikot partai
solidaritas buruh di Glasgow atas perusahaan galangan kapal. Kemudian, contoh dari LSM yang
memberikan tekanan adalah yang sering didengar tentang kampanye blood diamond di Sierra
atau Dirty Oil di Nigeria yang cukup efektif menarik perhatian dunia sehingga perusahaan
multinasional yang bersangkutan tidak bisa seenaknya sendiri. Kasus di Indonesia yang terkenal
adalah kasus Freeport di mana LSM bentukan masyarakat/ suku lokal bernama LEMASA
(Lembaga Masyaraka Adat Komoro) mengajukan gugatannya di pengadilan New Orleans, kota
dimana kantor pusat Freeport berada.
3. Rahmad Paul, master pada Conflict Transformation di Center for Justice and Peacebuilding
Eastern Mennonite University, US menyarankan pendekatan melalui transformasi konflik. Konflik
itu seperti pedang bermata dua, di satu sisi bisa menghambat tetapi jika dikelola dengan baik
dapat menjadikannya sesuatu yang konstruktif. Kalau dinamika konflik dikelola secara tepat akan
berdampak pada perubahan sosial yang transformative dan significant bagi kepentingan rakyat
banyak. Negosiasi dan mediasi konflik merupakan cara pendekatan yang berprinsip pada
nonkekerasan dan dialog untuk mengakomodasi kepentingan semua pihak yang bertikai. Para
pihak yang berkonflikperlu duduk bersama dan setara di meja perundingan negosiasi guna
mencari titik temu dan menjembatani perbedaan persepsi dan kepentingan dan secara bersama-
sama membangun consensus yang membangun dan mengakomodasi semua pihak.

Adapun Nopirin, Ph.D dalam bukunya ekonomi internasional jilid 3 mengungkapkan
setidaknya ada 5 cara dalam hal pengaturan perusahaan multinasional demi penghindaran
efek buruk yang mungkin terjadi:

1. Pengaturan tentang masuknya MNC. Pengaturan meliputi penilaian tentang kemungkinan efek
suatu perusahaan multinasional di masa yang akan datang terhadap politik dan ekonomi negara
yang bersangkutan. Jika penilaian ini menunjukkan kemungkinan yang sangat buruk atau dengan
kata lain kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya, maka perusahaan multinasional
tersebut ditolak kehadirannya.
2. Penentuan sektor-sektor tertentu yang sudah tertutup untuk investasi asing atau penentuan
pemilikan, sehingga memberi peluang pada wiraswasta local untuk ikut melakukan kegiatan atau
mengambil keputusan.
3. Negara penerima dapat mengatur kegiatan perusahaan multinasional dengan cara membatasi
bahan yang diimpor, penentuan harga produk, pengaturan tentang kredit, pemilikan serta
pengaturan tentang efeknya terhadap lingkungan.
4. Negara penerima melakukan pengaturan tentang keuntungan yang boleh dikirimkan kembali ke
negara induk.
5. Negara penerima dapat melakukan nasionalisasi perusahaan multinasional. Biasanya ini adalah
tindakan terakhir yang dilakukan suatu negara dan harus dipertimbangkan secara hati-hati
karena hal ini dapat melenyapkan minat investor untuk berinvestasi di masa-masa yang akan
datang.
Pada kenyataannya, memang suatu negara tidak akan membiarkan perusahaan multinasional untuk
sertamerta masuk dan beroperasi di wilayahnya. Akan banyak terdapat pembatasan-pembatasan.
Negara Kanada misalnya, saat ini menerapkan tingkat pajak yang lebih tinggi terhadap anak atau
cabang perusahaan asing, termasuk perusahaan patungan, dengan jumlah saham yang dikuasai
warga Kanada kurang dari 25%. India secara ketat membatasi sector-sektor industry yang boleh
menerima penanaman modal asing secara langsung. Beberapa negara berkembang bahkan tidak
memperbolehkan perusahaan yang sahamnya dikuasai 100% oleh pihak asing.