Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH GEOLOGI KUARTER

Aspek Geologi Kuarter dan Kaitannya terhadap Bencana Alam


di Indonesia






Disusun oleh :


Bagus Dwi Hermanto
11.110.1071


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2014
Aspek Geologi Kuarter dan Kaitannya terhadap Bencana Alam di Indonesia
Geologi Kuarter merupakan salah satu disiplin ilmu kebumian yang
mempelajari proses - proses geologi yang sudah, sedang dan akan berlangsung
selama kurun waktu Kuarter. Dengan demikian slogan yang menyatakan The
present is the key to the future menjadi sangat familier di kalangan ahli kebumian
khususnya yang menggeluti Ilmu geologi Kuarter.
Objek penelitian dari disiplin ilmu Geologi Kuarter ini adalah bagian terluar
dari bumi dimana kita hidup di atasnya. Karena itu geologi Kuarter sangat terkait
dengan kehidupan manusia. Endapan Kuarter menutupi hampir 80 % wilayah
Indonesia, dimana di atasnya terdapat kota-kota besar dan penting dan merupakan
penghasil beras utama. Endapan Kuarter tersebut dihasilkan oleh proses-proses
alam yang sangat kompleks berupa interaksi antara lithosfer, hydrosfer, atmosfer
dan biosfer
Zaman Kuarter
Zaman ini yang dimulai sejak sekitar 18.000.000 tahun yang lalu. Zaman
Kuarter terdiri dari kala Plistosen dan Kala Holosen. Kala Plistosen mulai sekitar
1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian
diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang.
1. Kala Pleistosen
Kala Plistosen, yang artinya sebagian besar (pleistos) kehidupan sama
dengan yang hidup sekarang. Kala ini berlangsung sejak 1,8 hingga 0,01 juta
tahun lalu. Fosil kala ini paling banyak diperagakan, yang antara lain: fosil
gajah (Stegodon trigonocephalus MARTIN), kerbau (Bulbalus palaeokerabau
FALCONER) dari Bumiayu (Banyumas); banteng (Bibos sp.) dari Rembang
dan harimau (Felis sp.) dari Watualang (Ngawi) yang berbentuk fragmen;
serta fosil manusia purba Homo erectus dari Sangiran (Solo). pada zaman ini
terjadi empat kali zaman es atau zaman glasial. Di permulaan zaman kwarter,
muncul zaman es pertama suhu bumi menurun dan gletser menutupi sebagian
besar daratan Asia, akibatnya banyak air laut yang terambil, permukaan laut
menjadi turun. Sebagian laut Jawa kering dan timbullah Paparan Sunda yang
menghubungkan benua Asia, Malaya, Sumatera, Kalimantan dan Jawa.Iklim
cikal bakal kerajaan Banjar saat itu adalah tropis, dengan musim kering
menimbulkan padang-padang rumput dan jenis-jenis burung yang berpindah
dari daratan Asia. Musim kering ini disusul musim hujan yang membawa
akibat munculnya hutan-hutan lebat di benua Kalimantan.
Hujan lebat di masa pluvial menyebabkan banyaknya muncul sungai-sungai.
Walaupun Paparan Sunda ini kemudian tenggelam kembali, tetapi sungai-
sungai di daerah Kahayan, Barito, Sampit, sungai-sungai di Lampung, sungai-
sungai di Jawa bagian utara adalah cabang sungai besar di Laut Jawa yang
bermuara di sebelah utara Bali dulunya. Melalui periode glasial I dengan
timbulnya Paparan Sunda menjadi jembatan yang memungkinkan terjadinya
migrasi manusia dan hewan dari daratan Asia ke banua Banjar.
Zaman permulaan plestosin tengah berjalan seiring dengan glasiasi kedua
daratan Asia, permukaan air laut turun sedalam 125 meter; sehingga Paparan
Sunda mencapai luas wilayah yang sangat besar dan sekali lagi Jawa,
Kalimantan dan Sumatera bersatu dengan daratan Malaya dan Asia, kembali
terjadi migrasi berbagai macam hewan yang akhirnya dikenal dengan istilah
fauna Sino Malayu, selain migrasi manusia tentunya. Setelah ribuan tahun
berjalan es menghilang lagi dan lautan kembali memisahkan pulau-pulau ini.
Setelah itu daratan ini akan mengalami dua kali lagi zaman glasial, sampai
keadaan seperti sekarang. Ciri ciri kala pleitosen:
a. Berlangsung sekitar 18.000.000 tahun yang lalu.
b. Mulai muncul kehidupan.
c. Silih bergantinya zaman Glasial dan Interglasial.
Zaman glasial adalah zaman meluasnya lapisan es di kutub utara dan
daerah yang jauh dari kutub mengalami hujan lebat. Permukaan air laut
turun dan naiknya daratan.
Zaman Interglasial adalah zaman zaman antara zaman glasial. Temperatur
naik sehingga lapisan di kutub utara mencair.
d. Hanya hewan berbulu tebal yang mampu bertahan dan hewan berbulu tipis
pindah ke daerah tropis.
e. Terjadi perpindahan manusia purba dari Asia ke Indonesia.
2. Kala Holosen
Holosen adalah kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung mulai
sekitar 10.000 tahun radiokarbon, atau kurang lebih 11.430 130 tahun
kalender yang lalu (antara 9560 hingga 9300 SM). Holosen adalah kala
keempat dan terakhir dari periode Neozoikum. Namanya berasal dari bahasa
Yunani ("holos") yang berarti keseluruhan dan ("kai-ne") yang
berarti baru atau terakhir. Kala ini kadang disebut juga sebagai "Kala
Alluvium". Kala Holosen atau alluvium, yaitu kala manusia merajai dunia,
yang baru mulai 0,01 juta (10 ribu) tahun silam. Dari kala ini diperagakan
sejarah budaya manusia Zaman Paleolitikum (Zaman Batu purba) sampai
Zaman Neolitikum (Zaman Batu baru) yang ditemukan di Punung (Pacitan,
Jawa Timur) dan Dago (Bandung, Jawa Barat). Ciri ciri kala holosen:
a. Sebagian besar es di kutub lenyap dan permukaan air laut naik.
b. Daerah-daerah dataran rendah tergenang air dan menjadi laut transgresi
dan munculah pulau-pulau di Nusantara.
c. Hewan-hewan besar seperti mastodon, mammoth, sabre-tooth, glyptodon,
badak berbulu, dan giant sloth mulai menghilang.
Di Indonesia, khususnya di Jawa, dan di tempat-tempat lain di dunia ini batas
bawah Plistosen atau zaman Kuarter masih menimbulkan banyak problem yang
menarik, batas antara Pliosen dan Plistosen masih merupakan problem yang perlu
diteliti lebih lanjut. Secara mendunia Kala Plistosen dipisahkan dari Kala Pliosen
berdasarkan atas beberapa fenomena, salah satunya adalah perubahan iklim.
Pembentukan es yang sangat luas di daerah kutub pada awal Plistosen sebagai
bukti adanya perubahan iklim secara mencolok secara mendunia pada kedua batas
kala tersebut. Akibat dari pembentukan es tersebut, maka air laut di daerah tropik
turun sehingga daratan-daratan di Kawasan Barat Indonesia menyatu dan
menyambung ke Benua Asia. Peristiwa ini sangat penting peranannya dalam
migrasi fauna (termasuk manusia) dari Asia ke Kawasan Barat Indonesia. Pulau
Jawa sendiri selama 5-3 juta tahun yang lalu tumbuh secara perlahan-lahan dari
barat ke timur akibat menurunnya muka air laut. Pada saat ini Jawa adalah
sebuah pulau, namun pada masa-masa lalu tidak selamanya Jawa itu selalu sebuah
pulau. Bagaimana kalau muka air laut turun sekitar 40-50 m, maka kita akan
melihat bahwa di selatan masih tetap berupa lautan dengan kedalaman sekitar
1000 m, tetapi di utara, Laut Jawa akan kering dan Jawa akan terhubungkan
dengan Kalimantan dan Sumatera menjadi satu dengan daratan Asia. Pada masa
yang lalu penurunan muka air laut terjadi berkali-kali sehingga memungkinkan
terjadinya migrasi mammalian dan manusia purba. Perkembangan-perkembangan
evolusi manusia dan tumbuhan pada zaman Kuarter pun menjadi sangat menarik.
Dikemukakan oleh Fauzie bahwa kaitannya dengan migrasi hewan darat dari
Asia ke Indonesia, baru diketahui sekitar dua juta tahun yang lalu atau awal Kala
Plistosen. Pada waktu itu Indonesia mulai didatangi oleh hewan darat dari Asia,
karena Indonesia waktu itu sudah hampir seperti sekarang dan daratan Sunda
merupakan daratan Asia. Kedatangan mereka pun tidaklah sekali, tetapi berulang
kali dengan keluarga hewan yang beraneka.
Perubahan iklim yang terjadi pada batas Kala Pliosen dan Plistosen sangat
mempengaruhi kehidupan yang ada pada waktu itu, baik fauna maupun floranya
antara lain menyebabkan pula adanya perubahan lingkungan sehingga
mengakibatkan migrasi dan pemisahan komunitas hewan dan tumbuhan. Hal ini
yang mempengaruhi adanya migrasi vertebrata, seperti yang telah selama ini kita
kenal, yaitu migrasi vertebrata dari dataran Asia ke Indonesia melalui Paparan
Sunda. Namun demikian teori land bridge masih diperdebatkan ketika melintas
Selat Lombok, yang mempunyai kedalaman lebih dari 1000 meter, ke Kepulauan
Sunda kecil, walaupun di sana dijumpai fosil Stegodon (gajah purba).
Geologi Kuarter menjadi penting untuk diteliti karena proses geologi yang
terjadi sangat dinamis, dan dapat kita saksikan secara langsung seperti peristiwa
gempa bumi dan tsunami, longsor amblesan, banjir dan lain-lainnya yang secara
langsung dapat merusak hasil-hasil pembangunan(Natural Disaster). Salah satu
contoh fenomena geologi yang terjadi baru baru ini seperti peristiwa gempa bumi
dahsyat dan tsunami di Aceh 26 Desember 2004 dengan kekuatan 9.3 SR, Gempa
bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 dengan kekuatan 6.2 SR, dan Gempa bumi di
Padang Sumatera Barat 30 Sept 2009 dengan kekuatan 7.6 SR dan meletusnya
Gunung Merapi yang menelan ratusan ribu korban manusia serta kerugian harta
benda. Rangkaian bencana gempa bumi tersebut mengingatkan kita bahwa daerah
kita ini adalah daerah yang berpotensi untuk dilanda bencana geologi. Tingginya
tingkat kerentanan bencana geologi di wilayah persada tanah air Indonesia adalah
merupakan konsekuensi dari letak geografis Indonesia yang diapit oleh tiga
lempeng benua yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Paisfik dan Lempeng
Eurasia. Lempeng Indo-Australia bergerak ke timur dengan kecepatan 7,7
cm/tahun, Lempeng Pasifik bergerak ke baratlaut dengan kecepatan 10,2 cm/tahun
dan Lempeng Eurasi relatif stabil. Akibat pergerakan tersebut terjadilah benturan
antar lempeng yang dapat mengakibatkan terbentuknya cekungan sedimen,
terjadinya gempabumi, munculnya gunung api dan terbentuknya mineralisasi.
Bencana geologi ini menjadi sangat universal sifatnya karena kejadiannya
dapat menimpa seluruh muka bumi dan khususnya di Indonesia, dimana kondisi
dan tataan geologi dan tektoniknya memunjang terjadinya bencana geologi.
Lingkungan geologi Kuarter adalah salah satu produk dari proses geologi yang
sifatnya sangat dinamis, yang dengan kata lain dapat mengalami perubahan dalam
waktu yang relative singkat. Perubahan tersebut dapat terjadi secara alamiah dan
dapat pula terjadi oleh akibat dari aktivitas manusia. Ada beberapa peristiwa
geologi penting yang terjadi pada zaman Kuarter:
1. Manusia muncul dalam zaman Kuarter yang mencakup 2.6 juta tahun yang
lalu.
2. Manusia hidup di lingkungan geologi Kuarter ( batuan, endapan, bentang
alam) yang sangat penting bagi tata guna tanah dan pertanian.
3. Geologi Kuarter sangat dinamis
4. Perubahan muka laut
5. Perubahan Iklim (Pemanasan Global)
6. Pergerakan lempeng yang sangat aktif
7. Kegiatan Vulkanisme
8. Gempabumi
9. Longsor, sedimentasi, abrasi pantai
10. Banjir
11. Terdapat bahan galian golongan C (pasir, kerikil, lempung, gamping, trass dll)
12. Terdapat sumber daya mineral seperti emas, intan, illimenit, monasit (placer
deposits) serta terjadinya laterisasi seperti bauxite, nikel dll.
Material penyusun Kuarter dibentuk oleh sediment lepas (unconsodilated
sediments) yang rentan terhadap perubahan daya dukung. Dilain pihak wilayah ini
merupakan lahan yang subur sehingga pemukiman penduduk berkembang dengan
sangat pesatnya. Konsekuensinya fungsi lahan mengalami perubahan, serta
terganggunya keseimbanan lingkunga, yang disebabkan oleh:
1. Ledakan pertumbuhan penduduk dan industry
2. Hilangnya / menyusut/ berkurangnya lahan pertanian subur
3. Pengembangan wilayah yang tidak terkontrol
4. Perusakan Ekosistim
5. Cadangan dan mutu air bersih yang semakin menurun
6. Potensi Sumberdaya mineral
7. Terdapat bahan galian golongan C (pasir, kerikil, lempung, gamping, trass dll)
Terdapat sumber daya mineral seperti emas, intan, illimenit, monasit (placer
deposits) serta terjadinya laterisasi seperti bauxite, nikel dll.
Proses proses alam yang mempengaruhi kondisi Geologi Kuarter sangat
komplek sifatnya Interaksi antara biosfer, hydrosfer, biosfer dan litosfer,
menyebabkan tataan geologi Kuarter di Indonesia menjadi sangat komplek.

Gambar 1. Interaksi proses alam yang mempengaruhi kondisi geologi pada Zaman
Kuarter

Produk dan proses geolgi yang terjadi seperti aktivitas tektonik, muntahan
material gunung api, efek goncangan gempabumi, sedimentasi, abrasi dan erosi
dapat menyebabkan terjadinya perubahan fungsi lahan yang konsekuensinya
dapat pula merusak lingkungan. Selain itu proses dan produk geologi juga sangat
mempengaruhi dinamika pembentukan bentang alam dimana manusia tinggal di
atasnya.
Proses proses geologi tersebut di atas, merupakan salah satu kendala didalam
melaksanakan pengembangan wilayah. Oleh karena itu para akhli geologi Kuarter
ditantang di dalam menganalisis proses proses geologi di atas sehingga mendapat
peluang untuk dapat menyajikan informasi yang lengkap dan rinci untuk dapat
digunakan menghindar dari kerugian material dan korban jiwa.
Sebaliknya proses geologi di atas selain dapat menimbulkan efek negative
terhadap kehidupan manusia, proses geologi tersebut dapat pula berdampak positif
terhadap kehidupan manusia. Keterdapatan endapan plaser berupa emas, timah,
intan, biji besi, dan lain lain yang tersebar di beberapa wilayah sangat besar
potensinya di Indonesia merupakan tantangan yang menarik untuk diinventarisai
baik jumlah potensi cadangannya, lokasinya dan kendalanya.
Selain itu mineral bijih seperi bauksit, nikel sebagai hasil proses pelapukan
juga merupakan topik yang sangat menarik untuk dikaji. Karena wilayah Indoesia
mempunyai iklim yang sangat dinamis dengan kondisi geologinya yang
sedemikian kompleks, sehingga pembentukan mineral biji tersebut sangat
berpotensi di Indonesia. Endapan bahan galian golongan c, juga merupakan
komediti industri yang sekarang ini semakin dibutuhkan .
Faktor tersebut di atas mempelihatkan hubungan yang sangat erat antara
kegiatan/aktivitas manusia dan lingkungan geologi Kuarter. Oleh karena itu studi
geologi Kuarter khususnya yang mencakup genesa dan produk sangat terkait
dengan pembentukan lingkungan dan kehidupan manusia. Faktor di atas dapat kita
kategorikan sebagai faktor eksternal yaitu proses yng bersal dari luar bumi
antarlain termasuk di dalamnya perubahan iklim dan lain lain.
Faktor internal dapat juga menggangu kesetimbangan lingkungan. Faktor
internal yang dimaksud yaitu kegiatan vulkanik, tektonik, dan keterdapatan
sumber daya mineral dan energi. Berdasarkan uraian singkat di atas maka kajian
Geologi Kuarter di fokuskan ke dalam empat pokok utama penelitian yaitu:
1. Geodinamika Kuarter, mencakup kebencanaan (Gempa bumi) khususnya di
fokuskan kepada indentifikasi sesar aktif, serta mengetahui kinematika genesa
dari sesar tersebut, selain itu produk tektonik tersebut mengakibatkan
terjadinya deformasi landform dampaknya dapat menjadi kendala terhadap
pengembangan wilayah.
2. Lingkungan Geologi Kuarter, mengkaji kerusakan atau perubahan fungsi
lahan akibat dari percepatan pembangunan yang tidak diimbangi dengan
perencanaan yang matang.
3. Sumber Daya Mineral, mencakup penelitian terhadap sumber daya geologi
lainnya, seperti emas, intan dan lain nya.
4. Geosience, merupakan aspek penting dalam mengembangkan keilmuan
Geologi Kuarter, seperti mengungkapkan proses proses geologi Kuarter
yang sedang dan akan berlangsung dimasa mendatang, serta memecahkan
masalah batas antara plio-plistosen (Kuarter) yang sampai saat ini belum dapat
ditentukan.
Oleh karena itu metoda penelitian aspek-aspek kebumian bidang geologi
Kuarter dan lingkungan adalah mengindentifikasi berbagai fenomena geologi
yang mengindikasikan kemungkinan potensi sumberdaya alam, dan daya dukung
endapan Kuarter dan lingkungan serta kebencanaan. Beberapa sasaran yang dapat
dicapai dalam studi geologi Kuarter adalah:
1. Dinamika pembentukan endapan Kuarter serta perubahannya yang berdampak
terhadap bentuk bentang alam serta dinamika perubahan geologi lingkungan
baik yang dipengaruhi oleh alam maupun oleh aktivitas manusia.
2. Sebaran endapan Kuarter dan aspek geologi linngkungan potensi mineral
sekunder, gambut, air tanah dan bahan galian lainnya.
3. Karakteristik fisik endapan Kuarter dan geologi lingkungan yang
mengindikasikan daya dukung fisik lahan permukaan dan bawqah permukaan
4. Prakiraan kemungkinan proses dan perubahan fisik lahan dan lingkungan
geologi yang akan timbul dimasa yang akan datang