Anda di halaman 1dari 7

PETA KONSEP BAB I

ANALISIS WACANA KRITIS

























Studi Bahasa Kritis : Apa,
Mengapa dan Untuk Apa
Bahasa dalam Masyarakat
Kontemporer
Latar Belakang Lahirnya Pentingnya Studi
Bahasa Kritis
Transformasi Realitas dan
Ideologi
Bahasa dan Praktik Sosial
Macam-Macam Kuasa
Relasi Kuasa dan
Politik
Relasi Kuasa dan kelas
Sosial
Transformasi
Leksikal
Transdormasi
Gramatikal
Meliputi
Terdiri dari
Meliputi
Perubahan pada cara-
cara tempat kekuatan
dan kontrol sosial
Perubahan praktik
praktik bahasa
Kompetensi praktik
bahasa demi
pencapaian tujuan
Meliputi
STUDI KRITIS : APA, MENGAPA DAN UNTUK APA

1. Latar Belakang
Pada pendahuluan, dihadirkan berbagai situasi dan kondisi yang melatarbelakangi
kelahiran studi bahasa kritis. Tentu saja, tidak mungkin studi bahasa kritis lahir dari
kevakuman sosial. Ada belakang sejarah sosial dan lingual yang telah memaksa lahirnya
sebuah kajian bahasa berlabel kritis. Munculnya kesadaran bahwa tanpa studi bahasa
kritis berbagai wacana tidak mudah untuk diungkap. Munculnya kesadaran bahwa
masyarakat sebagai konsumen wacana haruslah diberi pencerahan tentang keberadaan
mereka yang terjajah secara lingual. Penjajah yang bersifat halus ini memang sering
membuat masyarakat tidak pernah merasakan bahwa ia berada dalam situasi terjajah,
bahkan dijajah. Jika tidak diberikan pencerahan dan pemahaman kepada si terjajah
maka dalam jangka panjang kita telah menanamkan sebuah keburukan dalam kehidupan
masyarakat.

2. Bahasa dalam masayarakat kontemporer
Ketidakjelasan kondisi saat ini akibat dari perubahan yang beralih begitu cepat,
mengakibatkan kesulitan membedakan mana yang hitam dan mana yang putih. Kita
pun tidak dapat membedakan mana yang kiri dan mana yang kanan, era yang
mencampuradukkan tinggi dan rendah dan sebagainya. Dalam perubahan yang
berlangsung semakin cepat itu semakin disadari betapa pentingnya peranan bahasa.
Menurut Fairclough (1995:3-4), saat ini ada 3 karakteristik perubahan sosial yang begitu
hebat, yaitu;
i. Perubahan pada cara-cara tempat kekuasaan dan kontrol sosial digunakan. Jika
pada era sebelumnya, kekuatan dan kontrol dilakukan secara fisik maka kini
kekuatan dan kontrol dilakukan melalui bahasa. Era masyarakat kontemporer
adalah era teknologi informasi, sebuah era yang menjadikan bahasa sebagai
panglima. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang bersifat implisit. Dengan
penggunaan bahasa tersebut publik merasa tidak tertekan dan dengan senang hati
ikut mendukung.
ii. Perubahan praktik-praktik bahasa pada era kontemporer sangat terlihat. Pekerjaan
dan profesionalisme menuntut manusia masa kini untuk menguasai bahasa. Mutu
komunikasi dilihat sebagai mutu pelayanan.
iii. Bahasa dirancang untuk tujuan-tujuan tertentu. Kompetensi bahasa bukanlah apa-
apa tanpa tujuan-tujuan tertentu. Pada zaman Yunani, mazhab Sofisme
mendayagunakan fitur-fitur bahasa sedemikian rupa untuk memperoleh
keuntungan sosial, politik, dan ekonomi. Hal tersebut juga terus terjadi hingga saat
ini bahkan semakin canggih karena didukung penggunaan media dan teknologi.
Sentuhan teknologi memberi ketepatan dan kesempurnaan efek bahasa, dan itu
dinamakan dengan teknologisasi bahasa.


3. Bahasa sebagai praktik sosial
Penggunaan bahasa yang nyata selalu terkait dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak
terpisahkan dari interaksi sosial dan akan memperoleh maknanya dalam interaksi sosial
itu. Beberapa pakar seperti Thorne, Kramane, dan Henley (1983), misalnya merumuskan
bahwa kuasa adalah wujud relasi yang muncul ketika seseorang dibandingkan dengan
anggota lainnya yang terlibat dalam interaksi sosial (Hayashi & Hayashi, 1995:199).
Relasi-relasi kekuasaan itu tampak dalam penggunaan bahasa.
Istilah kuasa adalah konsep yang sungguh-sungguh abstrak, tetapi secara tidak terbatas
sangat mempengaruhi kehidupan manusia sehari-hari. Kuasa menurut Fowler (1985:61)
adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam suatu institusi dalam mengendalikan
dan mengontrol perilaku dan kehidupan material orang lain. Dalam hal ini terdapat pihak
yang menguasai dan dikuasai. Menurut Fairclough (1995:1), hal itu bermakna dua,
yaitu;
i. Ketidaksimetrisan relasi antar partisipan dalam peristiwa wacana.
ii. Ketidaksamaan kapasitas atau kemampuan dalam mengontrol bagaimana teks
diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi dalam konteks budaya tertentu.
Gumperz (1982:6-7) mengklaim bahwa penggunaan kode lingual (linguistic code) yang
berbeda menciptakan dan menjaga batas-batas kuasa, status, peran secara halus serta
spesialisasi pekerjaan yang membuat efektif untuk melaksanaan kekuasaan, bahasa yang
digunakan untuk mengendalikan dan menjaga sumber-sumber sosial , bahkan
memperoleh sumber-sumber sosial seseorang. Menguasai bahasa berarti menguasai
sumber-sumber sosial itu. Gagal menguasai bahasa berarti gagal dalam menguasai
sumber-sumber tersebut.

A. Relasi kuasa dan kelas Sosial
Pandangan tentang kuasa di atas memberikan pemahaman adanya sebuah kelas sosia
dan status sosial pada partisipan yang terlibat. Penguasa berarti partisipan yang
memiliki kelas dan status sosial yang lebih tinggi daripada terkuasai yang memiliki
kelas dan status sosial yang relatif lebih rendah. Penguasa memiliki kemungkinan lebih
banyak memilih bahasa daripada yang terkuasai. Perbedaan kekuasaan mengakibatkan
perbedaan di dalam karakteristik bahasa yang dipilihnya, baik di dalam fonologi,
gramatikal maupun leksikal.
Rumus umum kekuasaan yang memiliki relasi timbal balik yang tidak simetris atau
sejajar ditawarkan Fowler (1985:61) sebagai berikut:
X lebih berkuasa daripada Y atau X memiliki kekuasaan di atas Y
Contoh relasi yang diberikan Fowler sebagai berikut;
Penguasa Yang Dikuasai
Redaktur surat kabar pembaca
Redaktur televisi penonton
Laki-laki Perempuan
Dosen Mahasiswa
Dokter Pasien
Ketidaksimetrisan relasi ini didominasi oleh adanya ketimpangan relasi antarpelaku
daripada adanya kesetaraan, kesamaan, atau keadilan. Satu catatan kritis dikemukakan
bahwa relasi timbal balik kekuasaan itu tidak alamiah dan tidak objektif, relasi itu
adalah artifisial, realitas antarsubjek yang dikonstruksi secara sosial (Fowler, 1985:61)
Bahasa adalah mekanisme utama dalam proses konstruksi sosial. Bahasa digunakan
sebagai instrument konsolidasi dan manipulasi konsep-konsep serta relasi timbal balik
untuk menjalankan kekuasaan dan kontrol itu. Menurut Fairclough (1989:22), pandangan
bahasa sebagai praktik sosial mengimplikasikan tiga hal yaitu;
i. Bahasa bagian dari masyarakat bukan di luar masyarakat
ii. Bahasa adalah sebuah produk sosial
iii. Bahasa adalah sebuah proses yang dikondisikan secara sosial oleh bagian masyarakat
lainnya yang non linguistik.
Penggunaan bahasa untuk praksis sosial, menurut Fairclough (1995:2) dilakukan dengan
pilihan-pilihan : kata, metafora, gramatikal, presuposisi, dan implikatur percakapan,
konvensi kesantunan (politeness), sistem gilir tutur (turn taking), struktur generik, dan
gaya tuturan.
B. Relasi kuasa dan politik
Persoalan hubungan bahasa dan kuasa selalu terkait erat dengan politik. Hal ini sesuai
dengan rumusan Saidel (1985:44), seorang pakar kajian kritis kebahasaan, yang
menyatakan bahwa inti dari wacana politik, sejak adanya teori dan praktik politik dan
pembicaraan politik utamanya adalah melihat keberadaan kekuasaan. Sebaliknya
menurut Wareng (1999:11) satu cara kita untuk melihat bagaimana kekuasaan itu bekerja
di masayarakat adalah melalui politik.
Menurut Habermas, bahasa dipercaya sebagai alat untuk tujuan dominasi dan kekuasaan
(Latif & Ibrahim, 1996:15). Bahasa dapat membuat orang lain hitam atau putih, atau
yang lainnya. Begitu kuatnya pengaruh bahasa, Baudrillard dengan tegas menyatakan
monopoly sesungguhnya bukan penguasaan teknis semata, tetapi juga penguasaan
percakapan (Latif &Ibrahim : 1995:15). Bahasa memiliki kekuatan yang maha dahsayat
untuk mengontrol perilaku individu, komunitas, atau masyarakat. Seseorag yang terampil
dalam mendayagunakan dan merekayasa kekuatam bahasa akan memiliki peluang untuk
menggerakkan orang lain.
Bahasa bukan hanya sekedar alat komunikasi antara individu satu dengan lainnya, antara
masyarakat satu dengan masyarakat lainnya, lebih dari itu bahasa sering digunakan untuk
menunjukkan adanya kekuatan-kekuatan tertentu, baik oleh perseorangan, komunitas,
masyarakat, lembaga atau organisasi kemasyarakatan, pemegang kekuasaan, dan
sebagainya. Bahasa bukan sebagai alat komunikasi yang netral, tetapi bahasa menjadi
sesuatu yang tidak pernah netral lagi.


C. Macam-macam Kuasa
Dalam kajiannya tentang bahasa, kekuasaan, dan emansipasi di Afrika Selatan, de
Kadt mengklasifikasikan kekuasaan lingual ke dalam dua tipe, meskipun
batasannya tidak terlalu jelas.

i. Kekuasaan Pragmatis adalah melihat siapa yang berbicara, apa kepada siapa,
didalam situasi apa, dengan kode lingual yang bagaimana.
ii. Kekuasaan Simbolis adalah bahasa merupakan sebuah interpretif dan
melibatkan penghargaan dan prestise . Contoh penggunaan serapa bahasa
Inggris di dalam bahasa Jepang.
Handy membagi kekuasaan ke dalam lima prinsip, yaitu;
i. Kekuasaan fisik, adalah kekuasaan yang dimiliki orang karena fisik yang
dimilikinya.
ii. Kekuasaan sumber daya adalah kekuasaan yang berasal dari pengendalian
sumber daya yang bernilai, misalnya ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.
iii. Kekuasaan posisional adalah kekuasaan yang dimiliki karena posisi
seseorang di dalam masyarakat.
iv. Kekuasaan kepakaran adalah kekuasaan yang dimiliki karena kepandaian
atau keintelektualan seseorang.

4. Transformasi Realitas dan Ideologi

Transformasi adalah istilah yang lebih dahulu dikemukakan oleh pakar linguistik
generatif, Noam Chomsky, yang memiliki arti perubahan dari struktur batin (deep
structure) ke dalam struktru lahir (surface struktur).
Dalam kajian dengan perspektif berbeda, yakni studi bahasa kritis, transformasi dimaknai
sebagai perubahan bentuk dari sebuah fakta yang sama menjadi deskripsi, narasi, berita,
dan pilihan bahasa yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari berita dari sumber yang
sama namun ditulis oleh tiga wartawan akan menghasilkan tiga macam judul dan ulasan
yang berbeda pula. Mereka bertarung melalui proses interpretasi, (re)organisasi dan
pengolahan lagi (reworking) bentuk-bentuk kebahasaan. Jika demikian, bahasa telah
menjadi instrument cara pandang dan perspektif. Bahasa telah menjadi instrument
ideologi.

Semakin disadarinya penggunaan bahasa sebagai pilihan-pilihan. Bahasa lebih banyak
dipahami sebagai sumber (source), daripada hanya sebagai kaidah (rule). Maka penghasil
teks akan selalu akan mengedepankan kepentingan tertentu, baik secara sadar maupun
bawah sadar.

A. Transformasi Leksikal
Transformasi leksikal adalah implementasi ide-ide ke dalam berbagai pilihan kata
tertentu. Contoh;
i. Demonstran
ii. Pengunjuk rasa
iii. Pengacau
iv. Pejuang hak asasi, dll

B. Transformasi Gramatikal
Transformasi gramatikal akan lebih kompleks karena melibatkan aspek sintaksis.
Bagaimana menata subjek, objek, predikat, termasuk juga objek pelengkap. Menambah
atau menghilangkan subjek, predikat, objek, dan sebagainya. Hal ini sangat penting
dalam transformasi gramatikal. Contoh;
i. Polisi menghadapi demonstran
ii. Demonstran menghadapi polisi

5. Pentingnya Studi Bahasa Kritis

Kajian bahasa kritis adalah kajian bahasa yang menggunakan cara-cara pandang kritis
agar kita dapat megungkap sebenarnya dan senyata-nyatanya kecenderungan penggunaan
bahasa atau wacana dalam masyarakat kontemporer ini.

Menurut Fairclough (1995:9-12), paling tidak ada lima asumsi studi bahasa kritis untuk
titik tolak kepentingan analisis.
i. Bahasa atau diistilahkan wacana membentuk dan dibentuk masyarakat
ii. Wacana membantu menentukan dan mengubah pengetahuan dan bojeknya,
hubungan sosial dan identitas sosial.
iii. Wacana dibentuk oleh hubungan-hubungan kemampuan dan ditanamkan dengan
ideologi.
iv. Wacana berperan di ujung tanduk dalam perjuangan kekuasaan.
v. Wacana menunjukkan bagaimana sebuah masyarakat dan wacana saling
membentuk.